Risale-i NurSinar-Sinar

Saudara-saudaraku yang Aziz lagi setia!

Sinar-Sinar · hlm. 692

Empat puluh tahun yang lalu, di Masjid Jami' Umawi di Damaskus, atas desakan para ulama Damaskus, risalah pelajaran berbahasa Arab ini disampaikan kepada jemaah yang besar berjumlah hampir sepuluh ribu orang, yang di dalamnya terdapat seratus ahli ilmu. Hakikat-hakikat yang ada di dalamnya telah dirasakan oleh Said Lama dengan sebuah firasat sebelum terjadinya peristiwa; ia memberikan kabar-kabar gembira dengan kepastian yang sempurna dan mengira bahwa hakikat-hakikat itu akan terlihat dalam waktu yang sangat dekat. Padahal dua Perang Dunia dan penindasan mutlak selama dua puluh lima tahun telah menjadi sebab tertundanya firasat sebelum terjadinya peristiwa itu selama empat puluh tahun; dan sekarang kabar yang mereka sampaikan pada masa itu telah mulai tampak persis demikian di alam Islam. Jadi, pelajaran yang sangat penting ini bukanlah khotbah lama yang zamannya telah berlalu, melainkan secara langsung — sebagai ganti tahun 1327, pada tahun 1371, dan sebagai ganti Masjid Jami' Umawi, di dalam masjid alam Islam — merupakan pelajaran kemasyarakatan dan keislaman yang berisi hakikat lagi segar bagi jemaah berjumlah tiga ratus tujuh puluh juta orang; dengan pandangan demikian, jika kalian memandang layak untuk menyebarkan terjemahannya, sebarkanlah.

Datanglah kesempatan untuk menuliskan di sini sebuah jawaban yang sangat penting bagi sebuah pertanyaan yang sangat penting pula. Sebab empat puluh tahun yang lalu, di dalam pelajaran itu, Said Lama berbicara dengan sebuah firasat sebelum terjadinya peristiwa seolah-olah ia telah melihat pelajaran-pelajaran Risale-i Nur yang menakjubkan beserta pengaruhnya. Karena itu, pertanyaan dan jawaban itu akan kami tuliskan. Yaitu demikian:

Banyak orang telah bertanya dan terus bertanya, baik kepadaku maupun kepada sebagian saudaraku ahli Nur: “Mengapa Risale-i Nur tidak terkalahkan menghadapi sekian banyak penentang, para filsuf yang keras kepala, dan orang-orang yang sesat? Mereka sampai batas tertentu telah membendung tersebarnya jutaan kitab keimanan dan keislaman yang hakiki lagi berharga, dan dengan foya-foya serta kelezatan hidup duniawi mereka menjadikan begitu banyak pemuda dan manusia yang malang terhalang dari hakikat-hakikat keimanan. Padahal, meskipun dengan serangan yang paling keras, perlakuan yang paling kejam, kebohongan yang paling banyak, dan dengan

propaganda yang dilancarkan terhadapnya mereka berusaha mematahkan Risale-i Nur, menakut-nakuti manusia darinya, dan membuat mereka berpaling darinya, apakah hikmah dari tersebarnya Risale-i Nur dengan cara yang tidak pernah terlihat pada satu karya pun — bahkan tersebarnya enam ratus ribu naskah risalahnya yang kebanyakan berupa tulisan tangan, secara sembunyi-sembunyi dengan kerinduan yang penuh — serta dibacanya ia dengan kerinduan yang penuh baik di dalam maupun di luar negeri? Apa sebabnya?” Terhadap banyak pertanyaan dengan makna semacam ini, kami katakan sebagai jawaban:

Risale-i Nur, yang merupakan tafsir hakiki Al-Qur'an Al-Hakîm dengan rahasia kemukjizatannya, sebagaimana ia memperlihatkan sebuah neraka maknawi di dunia ini pada jalan yang sesat, ia pun membuktikan bahwa di dalam iman terdapat sebuah surga maknawi di dunia ini juga. Dan dengan memperlihatkan derita maknawi yang pedih di dalam dosa, di dalam kejahatan, dan di dalam kelezatan yang haram, ia membuktikan bahwa di dalam kebaikan-kebaikan, di dalam perangai-perangai yang indah, dan di dalam mengamalkan hakikat-hakikat syariat terdapat kelezatan-kelezatan maknawi laksana kelezatan surga. Dari segi itulah ia menyelamatkan orang-orang yang berfoya-foya dan orang-orang yang jatuh ke jalan sesat, yaitu mereka yang masih waras akalnya. Karena pada zaman ini ada dua keadaan yang dahsyat:

Yang Pertama: Karena perasaan manusia — yang tidak melihat akibat, yang lebih mengutamakan satu dirham kelezatan yang ada di depan mata daripada satu batman kelezatan di masa depan — mengalahkan akal dan pikiran, maka satu-satunya cara untuk menyelamatkan orang-orang yang berfoya-foya dari foya-foya itu ialah memperlihatkan derita yang ada di dalam kelezatan itu sendiri, lalu mengalahkan perasaannya. Dan dengan isyarat ayat يَسْتَحِبُّونَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا, satu-satunya cara untuk menyelamatkan dari bahaya pada zaman ini — yaitu bahaya bahwa seseorang, meskipun mengetahui nikmat dan kelezatan akhirat yang laksana berlian, lebih mengutamakan pecahan-pecahan kaca duniawi yang akan hancur daripada semuanya, dan meskipun ia ahli iman, karena cinta dunia dan karena rahasia itu ia menjadi pengikut orang-orang yang sesat — ialah dengan memperlihatkan derita-derita laksana azab neraka di dunia ini juga; dan Risale-i Nur menempuh jalan itu.

Jika tidak demikian, di hadapan kekerasan kepala kufur mutlak pada zaman ini, jalan sesat yang datang dari sains, dan kecanduan kepada foya-foya, maka melalui jalan memperkenalkan Allah lalu membuktikan adanya neraka dan dengan azabnya memalingkan manusia dari kejahatan dan dari dosa-dosa, barangkali hanya satu dari sepuluh orang, bahkan satu dari dua puluh orang, yang dapat mengambil pelajaran. Bahkan setelah mengambil pelajaran pun ia masih dapat berkata, “Allah itu Ghafûrur-Rahîm, lagi pula neraka masih sangat jauh,” lalu meneruskan foya-foyanya. Hati dan ruhnya kalah oleh perasaannya.

Maka Risale-i Nur, dengan sebagian besar perbandingannya, memperlihatkan akibat-akibat kekufuran dan kesesatan yang pedih lagi menakutkan di dunia ini; dengan itu ia menimbulkan rasa benci terhadap kelezatan-kelezatan naas lagi tidak halal itu dan terhadap foya-foya, bahkan pada manusia yang paling keras kepala dan paling memuja hawa nafsu, lalu ia mendorong orang-orang yang masih waras akalnya

kepada tobat. Di antara perbandingan itu, perbandingan-perbandingan singkat di dalam Kelimat Keenam, Ketujuh, dan Kedelapan, serta perbandingan panjang di dalam Mauqif Ketiga Kelimat Ketiga Puluh Dua, membuat orang yang paling berfoya-foya dan yang paling jauh berjalan di jalan sesat pun terkejut, dan membuatnya menerima pelajaran itu.

Misalnya, keadaan-keadaan yang aku lihat sebagai hakikat melalui perjalanan khayali di dalam Ayat Nur akan kami isyaratkan dengan sangat singkat. Siapa yang menginginkan perinciannya, hendaklah ia melihat bagian akhir Sikke-i Gaybiye.

Di antaranya: di dalam perjalanan khayali itu, ketika aku melihat alam hewan yang membutuhkan rezeki, aku memandangnya dengan filsafat materialis. Kebutuhan mereka yang tak terhingga dan rasa lapar mereka yang sangat, beserta kelemahan dan keadaan mereka yang tidak berdaya, memperlihatkan alam makhluk hidup itu kepadaku sebagai sesuatu yang sangat memilukan lagi pedih. Karena aku memandang dengan mata orang-orang yang sesat dan lalai, aku pun menjerit. Tiba-tiba, dengan hikmah Al-Qur'an dan dengan teropong iman, aku melihat: nama Ar-Rahmân terbit laksana matahari yang cemerlang di dalam buruj Ar-Razzâq. Ia menyepuh alam makhluk hidup yang lapar lagi malang itu dengan cahaya rahmat.

Kemudian, di dalam alam hewan itu, aku melihat sebuah alam lain yang gelap, menyayat hati, pedih, lagi membangkitkan rasa iba dan belas kasihan pada setiap orang — yaitu alam tempat anak-anak hewan menggelepar di dalam kelemahan, di dalam keadaan tidak berdaya, dan di dalam kebutuhan. Karena aku memandang dengan pandangan orang-orang yang sesat, aku berkata, “Aduhai!” Tiba-tiba iman memberiku sebuah kacamata, lalu aku melihat: nama Ar-Rahîm terbit di dalam buruj kasih sayang. Ia mengubah alam yang pahit itu menjadi alam yang penuh sukacita dan meneranginya dengan cara yang sedemikian indah lagi manis, sehingga air mataku yang keluar karena keluhan, rasa iba, dan kesedihan ia ubah menjadi tetesan yang keluar dari kelezatan sukacita dan syukur.

Kemudian alam manusia tampak kepadaku laksana layar bioskop. Aku memandangnya dengan teropong orang-orang yang sesat. Aku melihat alam itu demikian gelap lagi dahsyat sehingga aku menjerit dari lubuk hatiku yang paling dalam. Aku berkata, “Aduhai!” Sebab manusia — dengan hasrat dan cita-cita mereka yang terentang sampai selama-lamanya; dengan bayangan dan pikiran mereka yang meliputi seluruh kainat; dengan tekad dan bakat fitri mereka yang dengan sangat sungguh-sungguh menginginkan kekal selamanya, kebahagiaan abadi, dan surga; dengan kekuatan-kekuatan fitri mereka yang tidak diberi batas dan dibiarkan lepas; dengan kebutuhan mereka yang menghadap kepada maksud-maksud yang tak terhingga; beserta kelemahan mereka dan keadaan mereka yang tidak berdaya; beserta musibah dan musuh yang tak terhingga banyaknya, yang serangannya mereka hadapi; di dalam umur yang sangat pendek; di bawah kecemasan akan kematian setiap hari dan setiap jam; di dalam kehidupan yang sangat penuh gejolak; di dalam penghidupan yang sangat morat-marit demi bertahan hidup; sambil menanggung bencana lenyap dan berpisah yang terus-menerus, yaitu keadaan yang paling pedih lagi paling dahsyat bagi hati dan hati nurani — mereka memandang kepada kubur dan pekuburan, yang bagi orang-orang yang lalai terlihat dalam rupa pintu gelap gulita

yang kekal selamanya. Aku melihat mereka dilemparkan ke dalam sumur gelap gulita itu satu per satu dan rombongan demi rombongan.

Maka pada saat aku melihat alam manusia ini di dalam gelap gulita itu, ketika hati, ruh, dan akalku beserta seluruh latifah manusiawiku, bahkan seluruh zarah wujudku, sudah siap menangis dengan jeritan, tiba-tiba cahaya yang datang dari Al-Qur'an dan kekuatan iman memecahkan kacamata sesat itu lalu memberikan sebuah mata kepada kepalaku. Aku melihat:

Nama Al-'Âdil milik Allah terbit di dalam buruj Al-Hakîm, nama Ar-Rahmân di dalam buruj Al-Karîm, nama Ar-Rahîm di dalam buruj Al-Ghafûr — yakni di dalam maknanya —, nama Al-Bâ'its di dalam buruj Al-Wârits, nama Al-Muhyî di dalam buruj Al-Muhsin, dan nama Ar-Rabb di dalam buruj Al-Mâlik; semuanya terbit laksana matahari. Sekaligus mereka menerangi dan menggembirakan seluruh alam manusia yang gelap dan yang di dalamnya terdapat banyak alam itu. Mereka membubarkan keadaan-keadaan yang menyerupai neraka, membuka jendela-jendela dari alam akhirat yang bercahaya, lalu menaburkan cahaya ke atas dunia manusia yang morat-marit itu. Sebanyak jumlah zarah kainat aku mengucapkan اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ ، اَلشُّكْرُ لِلّٰهِ. Dan dengan ainul yakin aku melihat serta mengetahui dengan yakin bahwa di dunia ini pun terdapat surga maknawi di dalam iman dan neraka maknawi di dalam kesesatan.

Kemudian tampaklah alam bumi. Di dalam perjalanan khayaliku itu, hukum-hukum ilmiah yang gelap dari filsafat yang tidak tunduk kepada agama memperlihatkan sebuah alam yang dahsyat kepada khayalku. Keadaan jenis manusia yang malang — yang berada di dalam bumi yang bergerak tujuh puluh kali lebih cepat daripada peluru meriam, yang dalam satu tahun mengelilingi jarak dua puluh lima ribu tahun, yang setiap waktu dapat tercerai-berai dan pecah berkeping-keping, yang perutnya penuh gempa, yang sudah sangat tua lagi renta; dan yang di atas kapal yang dahsyat itu mengembara di dalam keluasan kainat yang tak terhingga — tampak kepadaku di dalam gelap gulita yang sangat mencekam. Kepalaku pusing, mataku gelap. Kacamata filsafat itu kubanting ke tanah, kupecahkan. Tiba-tiba aku memandang dengan mata yang telah diterangi oleh hikmah Al-Qur'an dan hikmah iman, lalu aku melihat:

Nama-nama Sang Khâliq bumi dan langit — yaitu Al-Qadîr, Al-'Alîm, Ar-Rabb, Allah, Rabbus-samâwâti wal-ardh, dan Musakhkhirusy-syamsi wal-qamar — terbit laksana matahari di dalam buruj rahmat, keagungan, dan rububiyah. Mereka menerangi alam yang gelap, mencekam, lagi dahsyat itu sedemikian rupa sehingga di dalam keadaan itu, bagi mataku yang beriman, bumi tampak sebagai sebuah kapal pesiar yang sangat teratur, tunduk, sempurna, menyenangkan, lagi aman, yang di dalamnya tersedia rezeki setiap orang; yang telah disiapkan untuk bertamasya, untuk bersenang-senang, dan untuk berniaga; dan yang untuk mengajak makhluk-makhluk bernyawa berkeliling mengitari matahari di dalam negeri rububiyah, serta untuk membawa hasil musim panas, musim semi, dan

musim gugur kepada mereka yang meminta rezeki — bumi itu aku lihat laksana sebuah kapal, sebuah pesawat, dan sebuah kereta api. Sebanyak jumlah zarah bumi aku mengucapkan اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلٰى نِعْمَةِ الْا۪يمَانِ.

Maka dengan mengiaskan kepada hal ini, di dalam Risale-i Nur telah dibuktikan dengan sangat banyak perbandingan bahwa orang-orang yang berfoya-foya lagi sesat menanggung azab di dalam sebuah neraka maknawi di dunia ini juga; dan bahwa ahli iman serta orang-orang saleh, di dunia ini juga, di dalam sebuah surga maknawi, dengan lambung Islam dan lambung kemanusiaan serta dengan tajalli dan manifestasi iman, dapat mengecap kelezatan-kelezatan surga maknawi, bahkan dapat mengambil manfaat sesuai dengan tingkatan iman mereka.

Akan tetapi, arus-arus zaman yang penuh badai ini — yang mematikan perasaan, yang mencerai-beraikan pandangan manusia ke segala ufuk, lagi mencekiknya — telah menimbulkan semacam pening berupa matinya perasaan, sehingga orang-orang yang sesat untuk sementara tidak dapat merasakan azab maknawinya dengan sepenuhnya. Orang-orang yang mendapat hidayah pun ditimpa keadaan lalai, sehingga tidak dapat menghargai kelezatan hakikinya dengan sepenuhnya.

Keadaan dahsyat yang kedua pada abad ini: Pada zaman dahulu, kufur mutlak, jalan-jalan sesat yang datang dari sains, dan sikap keras kepala yang datang dari kekufuran karena membangkang, sangat sedikit jika dibandingkan dengan zaman ini. Karena itu, pelajaran dan hujah para ahli tahkik Islam terdahulu pada masa itu sudah sepenuhnya mencukupi. Mereka dengan cepat melenyapkan kekufuran yang masih diliputi keraguan. Karena iman kepada Allah bersifat umum, dengan memperkenalkan Allah dan dengan mengingatkan azab neraka, banyak orang dapat meninggalkan foya-foya dan jalan sesat.

Adapun sekarang, sebagai ganti satu orang kafir mutlak di dalam satu negeri pada zaman dahulu, kini di dalam satu kota kecil pun dapat dijumpai seratus orang. Dibandingkan dengan orang yang dahulu masuk ke jalan sesat melalui sains dan ilmu lalu menentang hakikat-hakikat iman dengan keras kepala dan dengan membangkang, sekarang jumlahnya seratus derajat lebih banyak. Karena orang-orang keras kepala yang membangkang ini menentang hakikat-hakikat keimanan dengan kesombongan setingkat firaun dan dengan kesesatan mereka yang dahsyat, maka sudah pasti terhadap mereka diperlukan sebuah hakikat suci — yang laksana bom atom akan meremukkan sendi-sendi mereka di dunia ini — agar ia menghentikan serangan mereka dan membawa sebagian dari mereka kepada iman.

Maka syukur yang tak terhingga bagi Allah, bahwa Risale-i Nur — yang merupakan mukjizat maknawi dan kilau-kilau cahaya Al-Qur'an Al-Mu'jizul-Bayân, sebagai obat penawar yang tepat bagi luka zaman ini — dengan sangat banyak perbandingan mematahkan orang-orang keras kepala lagi membangkang yang paling dahsyat dengan pedang berlian Al-Qur'an. Dan ia memperlihatkan hujah-hujah serta dalil-dalil bagi keesaan Allah dan bagi hakikat-hakikat iman sebanyak jumlah zarah kainat, sehingga selama dua puluh lima tahun ia tidak terkalahkan di hadapan serangan-serangan yang paling keras, bahkan ia telah menang dan terus menang.

Ya, Risale-i Nur, dengan perbandingan-perbandingan antara iman dan kekufuran serta perbandingan-perbandingan antara hidayah dan kesesatan, membuktikan hakikat-hakikat yang telah disebutkan itu dengan mata kepala. Misalnya, apabila perbandingan-perbandingan lainnya dikiaskan kepada burhan-burhan dan kilau-kilau cahaya dua maqam Kelimat Kedua Puluh Dua, kepada Mauqif Pertama Kelimat Ketiga Puluh Dua, kepada jendela-jendela Surat Ketiga Puluh Tiga, dan kepada sebelas hujah Asa-yı Musa, lalu diperhatikan dengan saksama, akan dipahami bahwa yang pada zaman ini akan mematahkan dan meremukkan kufur mutlak serta kekerasan kepala kesesatan yang membangkang ialah hakikat Al-Qur'an yang bertajalli di dalam Risale-i Nur.

Insya Allah, sebagaimana di dalam kumpulan Tılsımlar telah dihimpun bagian-bagian yang menyingkap tilsam-tilsam penting agama dan teka-teki penciptaan alam, demikian pula bagian-bagian Nur yang memperlihatkan neraka orang-orang yang sesat di dunia ini juga dan kelezatan-kelezatan surga orang-orang yang mendapat hidayah di dunia ini, serta yang memperlihatkan bahwa iman adalah benih maknawi surga sedangkan kekufuran adalah biji zaqqum neraka, akan dituliskan dalam bentuk yang sangat ringkas sebagai sebuah kumpulan kecil, dan insya Allah akan disebarluaskan.