Risale-i NurSinar-Sinar

Saudara-saudaraku yang Aziz, setia, tidak tergoyahkan, teguh, penuh pengorbanan, lagi menepati janji setia!

Sinar-Sinar · hlm. 700

Kalian mengetahui bahwa para ahli di Ankara tidak dapat mengingkari karamah-karamah dan isyarat-isyarat gaib yang berkaitan dengan Risale-i Nur. Hanya saja, dengan keliru mereka mengira bahwa aku turut mempunyai bagian di dalam karamah-karamah itu, lalu mereka mengajukan keberatan berupa kritik ringan, “Hal-hal semacam ini semestinya tidak dituliskan di dalam kitab; karamah tidak ditampakkan.” Terhadap kritik itu, di dalam nota pembelaanku aku telah menjawab mereka demikian:

Semua itu bukan milikku, dan memiliki karamah-karamah itu bukanlah kedudukanku. Sebaliknya, semua itu adalah tetesan-tetesan dan kilau-kilau cahaya dari mukjizat maknawi Al-Qur'an, yang di dalam Risale-i Nur, tafsir hakiki Al-Qur'an, mengambil bentuk karamah, dan termasuk jenis karunia Ilahi untuk menguatkan kekuatan maknawi para muridnya. Adapun karunia, menampakkannya adalah sebuah syukur; hal itu boleh, bahkan diterima.

Sekarang, karena sebuah sebab yang penting, aku akan menerangkan jawaban itu sedikit. Sebab telah ditanyakan: mengapa aku menampakkannya, mengapa pada poin ini aku menumpuk sedemikian banyak penegasan, dan mengapa selama beberapa bulan ini aku melangkah demikian jauh di dalam masalah ini sehingga sebagian besar surat memandang kepada karamah itu?

Jawaban: Pada saat khidmah keimanan Risale-i Nur di zaman ini menuntut ratusan ribu orang yang memperbaiki sebagai imbangan bagi ribuan orang yang merusak; pada saat ada kebutuhan agar bersamaku sekurang-kurangnya terdapat ratusan penulis dan pembantu; pada saat bukan menjauh dan tidak bersentuhan, melainkan justru bangsa dan para pemegang pemerintahan wajib menolong dan bersentuhan dengan penghargaan serta dorongan; dan pada saat wajib bagi ahli iman untuk mengutamakan khidmah keimanan itu di atas segala kesibukan dan manfaat hidup yang fana, karena khidmah itu memandang kepada hidup yang kekal — dengan mengambil diriku sendiri sebagai contoh, aku berkata:

Bersamaan dengan dilarangnya aku dari segala sesuatu, dari pergaulan, dan dari para pembantu, orang-orang yang memusuhi kami dengan segenap kekuatan mereka mematahkan kekuatan maknawi sahabat-sahabatku, mendinginkan hati mereka dariku dan dari Risale-i Nur, menimpakan ke atas kepala seorang malang yang tua, sakit, lemah, asing, lagi tidak berkeluarga sepertiku sebuah tugas yang mestinya dipikul oleh ribuan orang, dan membuatku terpaksa menarik diri dari pergaulan serta percampuran dengan manusia di dalam pengasingan dan tekanan ini laksana sebuah penyakit jasmani; juga dengan menakut-nakuti orang banyak melalui cara yang sedemikian berpengaruh sehingga kekuatan maknawi pun patah — dengan segi-segi dan sebab-sebab itulah,

di luar kehendakku, hal-hal semacam ini dituliskan kepadaku, karena hikmah untuk menimbulkan pengerahan maknawi di sekitar Risale-i Nur dengan menerangkan karunia-karunia Ilahi yang menjadi sebab menguatnya kekuatan maknawi para murid Risale-i Nur terhadap seluruh penghalang itu, dan karena hikmah untuk menunjukkan bahwa Risale-i Nur dengan sendirinya, seorang diri — tanpa membutuhkan orang lain — sekuat satu pasukan tentara.

Jika tidak demikian, maka — mustahil! — menjual diri kami, membuat diri kami disukai, memuji diri sendiri, dan memamerkan diri berarti merusak rahasia ikhlas yang menjadi salah satu asas penting Risale-i Nur. Insya Allah, sebagaimana Risale-i Nur dengan sendirinya membela dirinya dan menunjukkan nilainya dengan sempurna, ia pun akan membela kami secara maknawi dan menjadi wasilah bagi diampuninya segala kekurangan kami.

Kepada seluruh saudara dan saudariku, terutama kepada setiap orang dari golongan anak-anak suci yang doanya makbul lagi diberkahi dan dari jemaah orang-orang tua yang terhormat, kami sampaikan ribuan salam dan doa, kami ucapkan selamat atas Ramadan mereka yang mulia, dan kami memohon doa mereka.