Risale-i NurSinar-Sinar

بِاسْمِه۪ سُبْحَانَهُ

Sinar-Sinar · hlm. 702

Saudara kalian yang lemah ini menerangkan, baik kepada sahabat lama yang mengajukan keberatan itu, maupun kepada para pemerhati yang teliti dan kepada kalian, bahwa dengan limpahan karunia Al-Qur'an Al-Mu'jizul-Bayân, Said Baru menyebutkan burhan-burhan tentang hakikat-hakikat keimanan yang sedemikian kuat secara logika dan secara hakikat sehingga bukan hanya ulama kaum Muslimin, bahkan filsuf-filsuf Eropa yang paling keras kepala pun terpaksa menyerah, dan terus-menerus dipaksa menyerah.

Adapun ramz dan isyarat halus Al-Qur'an Al-Mu'jizul-Bayân dari lapisan makna isyari untuk menarik perhatian kepada Risale-i Nur yang di zaman ini menjadi salah satu mukjizat maknawinya — sebagaimana jenis pemberitaan Sayidina Ali radiyallahu anhu dan Al-Gaus Al-A'zham radiyallahu anhu terhadap nilai dan pentingnya Risale-i Nur dengan cara isyari lagi ramzi — hal itu termasuk sifat asali dari i'jaz Al-Qur'an itu sendiri. Dan hal itu merupakan tuntutan balagah lisan gaib itu yang penuh mukjizat.

Benar, di dalam Penjara Eskişehir, pada masa yang dahsyat dan pada saat kami sangat membutuhkan hiburan yang suci, melalui sebuah peringatan maknawi dikatakan: “Engkau mendatangkan saksi dari para wali terdahulu atas diterimanya Risale-i Nur. Padahal, dengan rahasia وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ اِلَّا ف۪ى كِتَابٍ مُب۪ينٍ,

yang paling berhak berbicara di dalam persoalan ini adalah Al-Qur'an. Gerangan, apakah Al-Qur'an menerima Risale-i Nur? Dengan pandangan apakah ia memandangnya?” Aku pun berada di hadapan pertanyaan yang menakjubkan itu.

Aku pun memohon pertolongan dari Al-Qur'an. Tiba-tiba, di dalam waktu satu jam, aku merasakan bahwa dari lapisan-lapisan yang merupakan perincian makna sarih tiga puluh tiga ayat, yaitu dari lapisan makna isyari, Risale-i Nur adalah salah satu satuan yang masuk ke dalam cakupan menyeluruh makna isyari itu; dan bahwa bagi masuknya serta bagi sebab yang mengistimewakannya terdapat masing-masing satu karinah (petunjuk yang menguatkan) yang kuat. Sebagiannya aku lihat dengan penjelasan sampai derajat tertentu, dan sebagiannya lagi aku lihat secara ringkas. Tidak tersisa satu pun keraguan, syubhat, waham, dan waswas di dalam keyakinanku. Lalu dengan niat menguatkan iman ahli iman melalui Risale-i Nur, aku menuliskan keyakinanku yang pasti itu dan aku berikan kepada saudara-saudaraku yang khas dengan syarat dirahasiakan.

Dan di dalam risalah itu kami tidak mengatakan bahwa makna sarih ayat-ayat itu adalah ini, sehingga para ulama berkata ف۪يهِ نَظَرٌ. Kami pun tidak mengatakan bahwa cakupan menyeluruh makna isyari itu adalah ini.

Melainkan kami mengatakan bahwa di bawah makna sarihnya terdapat beberapa lapisan. Salah satu lapisannya ialah makna isyari dan makna ramzi. Dan makna isyari itu bersifat menyeluruh; pada setiap abad ia mempunyai juz'iyat (satuan-satuan terkecil). Risale-i Nur pun, pada abad ini, adalah salah satu satuan di dalam cakupan menyeluruh lapisan makna isyari itu; dan sementara sejak dahulu di kalangan ulama telah ditunjukkan karinah-karinah, bahkan hujah-hujah, dengan kaidah jifir dan kaidah hitungan, bahwa satuan itu memang sengaja menjadi sasaran pandangan dan akan menjalankan tugas yang penting — maka hal ini bukan hanya tidak menyakiti ayat Al-Qur'an atau kejelasannya, bahkan ia berkhidmah kepada i'jaz dan balagahnya.

Isyarat gaib semacam ini tidak boleh dibantah. Siapa yang tidak dapat mengingkari penggalian makna ahli hakikat yang tidak terhitung dan tidak terbatas dari isyarat-isyarat Al-Qur'an yang tak terhingga, ia pun tidak boleh dan tidak dapat mengingkari yang ini.

Adapun orang yang menganggap aneh dan mustahil munculnya karya sepenting ini di tangan orang yang tidak penting sepertiku, lalu mengajukan keberatan semacam itu — seandainya ia memikirkan bahwa penciptaan pohon cemara sebesar gunung dari sebutir biji cemara yang sekecil butir gandum merupakan dalil bagi keagungan dan kudrat Allah, sudah pasti ia akan terpaksa berkata: munculnya karya semacam ini pada orang yang lemah mutlak lagi fakir mutlak seperti kami, di zaman yang kebutuhannya sedemikian mendesak, adalah dalil bagi luasnya rahmat Allah.

Aku meyakinkan kalian dan orang-orang yang mengajukan keberatan, demi kehormatan dan harga diri Risale-i Nur, bahwa isyarat-isyarat ini, serta kabar-kabar tersirat dan ramz-ramz para wali,

senantiasa menggiringku kepada syukur, kepada pujian bagi Allah, dan kepada istigfar atas segala kekuranganku. Bahwa semua itu tidak pernah, walau satu waktu pun dan satu menit pun, memberikan kepada nafsu ammarahku suatu ananiyah dan rasa keakuan yang menjadi sebab bermegah diri dan sombong — hal ini aku buktikan kepada kalian dengan tetesan-tetesan dua puluh tahun hidupku yang berlangsung di depan mata kalian.

Benar, bersamaan dengan hakikat ini, manusia tidak lepas dari kekurangan dan dari sifat lupa. Aku mempunyai banyak kekurangan yang tidak aku ketahui. Bisa jadi pikiranku kacau sehingga di dalam risalah-risalah terjadi beberapa kesalahan. Akan tetapi, keberatan yang sampai melemahkan khidmah keimanan seorang yang malang lagi terzalimi — hanya karena ia menerangkan satu nukta i'jaz demi menguatkan iman saudara-saudaranya — sementara orang yang mengajukannya seolah-olah tidak melihat bagaimana orang-orang yang sesat, dengan takwil-takwil mereka yang rusak, secara memutarbalikkan menyakiti kejelasan ayat-ayat di bawah tirai menggantikan huruf-huruf suci Al-Qur'an dengan terjemahan manusia serta di bawah tulisan baru yang hurufnya kurang: sudah pasti bukan hanya para ahli hakikat, bahkan siapa pun yang di dalam dirinya masih ada rasa insaf sezarah pun tidak akan dapat mengajukan keberatan semacam itu.

Aku menerangkan pula tambahan ini. Di zaman ini, sementara masyrab-masyrab, jalan-jalan yang ditempuh, dan tarekat-tarekat yang sangat kuat lagi berlandaskan hakikat serta mempunyai jutaan orang yang penuh pengorbanan telah jatuh kalah secara lahiriah menghadapi serbuan dahsyat yang menyesatkan ini, maka seorang lelaki setengah ummi sepertiku, yang tidak berkeluarga, yang terus-menerus berada di bawah pengintaian dan di hadapan pos aparat kepolisian, dan yang menghadapi propaganda dahsyat dari berbagai segi serta usaha membuat semua orang lari dariku, bukanlah pemilik Risale-i Nur yang bertahan lebih maju lagi lebih kuat daripada jalan-jalan itu; karya itu tidak mungkin menjadi kepandaiannya, dan ia tidak dapat berbangga dengannya. Melainkan Risale-i Nur secara langsung telah dikaruniakan oleh rahmat Ilahi sebagai semacam mukjizat maknawi Al-Qur'an Al-Hakîm di zaman ini.

Orang itu, bersama ribuan sahabatnya, telah mengulurkan tangan kepada hadiah Al-Qur'an itu. Entah bagaimana, tugas menjadi penerjemah pertama jatuh kepadanya. Dalil bahwa Risale-i Nur bukanlah hasil pikiran, ilmu, dan kecerdasannya ialah: di dalam Risale-i Nur terdapat bagian-bagian sedemikian rupa sehingga ada risalah yang ditulis di dalam enam jam, ada yang di dalam dua jam, ada yang di dalam satu jam, dan ada yang di dalam sepuluh menit. Aku menjamin dengan sumpah bahwa, sekalipun disertai daya ingat Said Lama radiyallahu anhu {(Catatan kaki kecil): Sebagian penyalin menuliskan kata (ra) tentang Said yang malang ini dengan niat berdoa. Aku hendak menghapusnya, lalu terlintas di hati: itu adalah doa yang bermakna “Semoga Allah meridainya”, jangan diusik. Maka aku pun tidak menghapusnya.}, pekerjaan sepuluh menit itu tidak dapat aku lakukan dengan pikiranku di dalam sepuluh jam. Risalah satu jam itu tidak dapat aku hasilkan dengan bakat dan pikiranku di dalam dua hari; dan Kelimat Ketiga Puluh yang ditulis di dalam satu hari,

yaitu risalah yang memakan enam jam — baik aku maupun filsuf-filsuf beragama yang paling teliti tidak akan sanggup melakukan tahkik semacam itu di dalam enam hari; dan begitu seterusnya...

Berarti, sementara kami ini orang yang bangkrut, kami telah menjadi penyeru dan pelayan bagi sebuah toko permata yang sangat kaya. Semoga Allah dengan karunia dan kemurahan-Nya menetapkan kami dan seluruh murid Risale-i Nur di dalam khidmah ini secara tulus lagi ikhlas serta memberikan taufik kepada kami; âmîn bihurmati Sayyidil-mursalîn.