Risale-i NurSinar-Sinar

Sinar Pertama

Sinar-Sinar · hlm. 705

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ وَ بِه۪ نَسْتَع۪ينُ

Inilah jawaban ajaib yang seketika terlintas di hati terhadap dua pertanyaan yang menakjubkan.

Pertanyaan Pertama: Dikatakan: “Wirid-wirid dan hal-hal suci yang dibaca seperti Al-Fatihah, Yasin, dan khatam Al-Qur'an, kadang-kadang dihadiahkan kepada manusia yang tak terhingga jumlahnya, baik yang telah wafat maupun yang masih hidup. Padahal satu hadiah kecil semacam itu sampai kepada orang yang tak terhingga di dalam satu saat, dan kepada masing-masing mereka jatuh hadiah yang sama — hal ini berada di luar jangkauan akal.”

Jawaban: Sebagaimana Sang Fâthir Yang Hakîm telah menjadikan unsur udara sebagai ladang dan perantara bagi tersebarnya kata-kata laksana kilat dan bagi berlipat gandanya kata-kata itu, serta melalui perantaraan radio menyampaikan azan Muhammad صلى الله عليه وسلم yang dikumandangkan di satu menara ke seluruh tempat dan kepada seluruh manusia pada saat yang sama, demikian pula agar satu bacaan Al-Fatihah, misalnya, sampai pada saat yang sama kepada seluruh ahli iman yang telah wafat, dengan kudrat-Nya yang tak terhingga dan hikmah-Nya yang tidak berujung Dia telah membentangkan dan menebarkan di dalam alam maknawi, di dalam udara maknawi, banyak sekali listrik maknawi dan radio maknawi; Dia mempekerjakan dan menjalankan semua itu pada telepon-telepon nirkabel yang fitri.

Sebagaimana pula, jika sebuah lampu menyala, ke dalam ribuan cermin yang berhadapan dengannya masuklah satu lampu yang utuh pada masing-masingnya. Persis demikian pula, jika satu Yasin Syarif dibaca lalu dihadiahkan kepada jutaan ruh, kepada masing-masing mereka jatuh satu Yasin Syarif yang utuh.

Pertanyaan Kedua: Dengan keras dan dengan nada memerintah dikatakan: “Tentang diterimanya Risale-i Nur, dari tokoh-tokoh seperti Sayidina Ali radiyallahu anhu dan Al-Gaus Al-A'zham radiyallahu anhu

engkau menunjukkan saksi-saksi dari kasidah-kasidah mereka. Padahal yang sesungguhnya berhak berbicara adalah Al-Qur'an. Risale-i Nur adalah tafsir hakiki Al-Qur'an, penerjemah bagi hakikatnya, dan burhan bagi persoalan-persoalannya. Adapun Al-Qur'an tidaklah seperti ucapan-ucapan lain yang berkulit dan bertulang, yang kesadarannya khusus lagi sebagian. Melainkan Al-Qur'an, dengan seluruh isyarat dan bagian-bagiannya, adalah kesadaran itu sendiri; ia tidak berkulit; tidak ada padanya bagian-bagian yang berlebih lagi tidak perlu. Ia adalah penerjemah alam gaib. Ucapan tentang Sözler (Kelimat-Kelimat) adalah miliknya; mari kita lihat, apa yang ia katakan?”

Jawaban: Karena Risale-i Nur secara langsung merupakan burhan Al-Qur'an yang nyata, tafsirnya yang kuat, sekilau cahaya i'jaz maknawinya yang cemerlang, setetes dari lautan itu, seberkas sinar dari matahari itu, serta terjemahan maknawi yang mendapat ilham dan limpahan karunia dari tambang ilmu hakikat itu — dan karena menerangkan nilai serta pentingnya Risale-i Nur beralih kepada kehormatan Al-Qur'an, kepada perhitungannya, dan kepada pujian baginya — maka sudah pasti menerangkan keistimewaan Risale-i Nur itu dituntut oleh haq, diminta oleh hakikat, dan diizinkan oleh Al-Qur'an. Bagian seorang penerjemah sepertiku hanyalah syukur. Dari segi mana pun ia tidak mempunyai hak untuk bermegah diri, memuji diri, dan sombong, dan tidak mungkin ia mempunyainya.

Isyarat ayat-ayat yang akan datang harus dipandang dengan sudut pandang ini. Jika tidak, aku tidak akan menghalalkan hakku kepada orang-orang yang menuduhku hanya melihat diri sendiri.

Terhadap pertanyaan yang sangat penting ini, di dalam dua tiga jam, sekaligus terlihat secara ringkas dari kejauhan isyarat-isyarat kepada Risale-i Nur dari ayat-ayat masyhur Al-Qur'an, yaitu tiga puluh tiga ayat sebanyak bilangan Sözler, baik dengan maknanya maupun dengan jifir. Terlihat pula secara samar-samar bahwa tiga puluh tiga ayat itu, dengan cara yang berbeda-beda, secara sepakat menunjukkan Risale-i Nur melalui ramz-ramznya.

Peringatan: Pertama-tama, perlu diperhatikan peringatan yang disebutkan pada awal ayat kedua puluh empat. Tempat peringatan itu sebenarnya di awal. Namun karena ia terlintas di sana, ia pun masuk ke tempat itu.

Peringatan kedua: Isyarat-isyarat yang muncul melalui tawafuk, jika tidak bersandar kepada kaitan-kaitan maknawi, kecil sekali nilainya. Namun jika kaitan maknawinya kuat, lalu hal itu berkedudukan sebagai salah satu anggota dan sebagai masadak (satuan nyata yang dituju maknanya) baginya, serta memiliki kelayakan yang luar biasa, maka pada waktu itu tawafuk menjadi penting. Dan ia menjadi sebuah tanda bahwa kalam itu memang memaksudkan hal tersebut. Dan ia memperlihatkan hal itu — berkedudukan sebagai ramz, atau isyarat, atau petunjuk — bahwa anggota tersebut secara khusus tercakup di dalamnya.

Maka isyarat dan tawafuk ayat-ayat Al-Qur'an yang akan datang kepada Risale-i Nur, pada umumnya bersandar kepada kaitan maknawi yang kuat. Benar, ayat-ayat masyhur yang akan datang ini secara sepakat memandang secara jifir kepada penghujung abad ketiga belas

dan kepada awal abad keempat belas, serta mengisyaratkan kepada sebuah hakikat atas nama Al-Qur'an dan iman. Dan ia mengabarkan tentang sebuah “Nur” yang menjadi sumber penghiburan. Dan ia memberikan kabar gembira tentang sebuah burhan Qur'ani yang akan melenyapkan syubhat-syubhat yang datang dari fitnah yang menyesatkan pada zaman itu.

Dan yang menjadi tempat tampaknya isyarat-isyarat dan ramz-ramz itu secara sempurna, serta yang akan menunaikan tugas-tugas itu sebagaimana mestinya, tentulah sebuah tafsir Qur'ani seperti Risale-i Nur. Padahal, karena keunggulan Risale-i Nur pada poin yang telah disebutkan ini tidak diragukan lagi oleh orang-orang yang membacanya, hal itu menunjukkan bahwa ayat-ayat tersebut memandang dan mengisyaratkan secara khusus kepada Risale-i Nur.