Saudara-saudaraku yang aziz lagi siddik!
Sinar-Sinar · hlm. 295
Memang, persoalan ini menjadi kacau dan tidak indah karena keadaanku yang berantakan. Namun di bawah ungkapan yang kacau itu aku mengetahui dengan pasti adanya satu macam i'jaz yang sangat berharga. Sayang sekali, aku tidak mampu mengungkapkannya. Betapapun redup ungkapannya, karena ia berkaitan dengan Al-Qur'an, ia adalah ibadah tafakur sekaligus kerang bagi sebuah permata yang suci, tinggi, dan berkilau. Maka hendaklah yang dipandang bukan pakaiannya yang koyak, melainkan berlian yang ada di tangannya.
Lagi pula, aku menuliskannya dalam keadaan sangat sakit, porak-poranda, dan tanpa makanan; dalam satu dua hari di bulan Ramadan; karena terpaksa, dengan sangat ringkas lagi pendek, seraya menyisipkan ke dalam satu kalimat banyak sekali hakikat dan berbagai hujah. Maafkanlah kekurangannya. {(Catatan kaki): Ia adalah sekuntum bunga kecil yang bercahaya dari Emirdağ dan dari Ramadan yang mulia ini, sebagai Persoalan Kesepuluh bagi buah Penjara Denizli. Dengan menjelaskan salah satu hikmah dari pengulangan-pengulangan Al-Qur'an, ia melenyapkan waham-waham busuk lagi beracun dari orang-orang yang sesat.}