Risale-i NurSinar-Sinar

Saudara-saudaraku yang Aziz lagi setia!

Sinar-Sinar · hlm. 296

Ketika membaca Al-Qur'an Al-Mu'jizul-Bayân pada bulan Ramadan yang mulia, setiap kali datang salah satu dari tiga puluh tiga ayat yang isyarat-isyaratnya kepada Risale-i Nur telah dijelaskan di dalam Sinar Pertama, aku memperhatikan bahwa halaman, lembaran, dan kisah ayat itu pun sedikit banyak tertuju kepada Risale-i Nur dan para muridnya dari sisi mengambil pelajaran dari kisah. Terutama Ayatun Nur dari Surah An-Nur: sebagaimana ia menunjuk kepada Risale-i Nur dengan sepuluh jari, demikian pula Ayat Zhulumat yang berada di belakangnya tertuju tepat kepada para penentangnya dan memberikan bagian yang lebih banyak. Seakan-akan maqam itu

keluar dari sifat juz'i lalu memperoleh sifat kulli yang menyeluruh; dan aku merasakan bahwa di abad ini satu individu yang sempurna dari yang kulli itu adalah Risale-i Nur beserta para muridnya.

Ya, seruan Al-Qur'an — yang datang dari kedudukan yang luas berupa rububiyah Sang Mutakallim Azali yang meliputi segala sesuatu; dari kedudukan yang luas milik pribadi yang menjadi lawan bicara atas nama jenis manusia, bahkan atas nama seluruh kainat; dari kedudukan yang amat lapang berupa pemberian bimbingan kepada seluruh bani Adam di sepanjang segala abad; dan dari kedudukan yang luas berupa penjelasan yang sangat tinggi lagi meliputi segalanya tentang hukum-hukum Ilahi yang berkenaan dengan dunia dan akhirat, bumi dan langit-langit, azali dan abadi, serta rububiyah Sang Khâliq seluruh kainat dan pengaturan seluruh makhluk — dari sisi keluasan, ketinggian, dan cakupan yang diambilnya dari kedudukan-kedudukan itu, seruan tersebut memperlihatkan i'jaz dan cakupan yang sedemikian tinggi sehingga tingkatannya yang lahiriah lagi sederhana — yang membelai pemahaman sederhana lapisan awam, yaitu golongan yang paling banyak jumlahnya di antara para penerima pelajaran Al-Qur'an — pun menjadikan lapisan yang paling tinggi turut mendapat bagian secara penuh.

Seakan-akan ia bukanlah sekadar satu pelajaran dari sebuah kisah dan bukan pula sekadar satu ibrah dari sebuah cerita sejarah, melainkan turun kembali dalam keadaan segar seraya menyeru setiap abad dan setiap lapisan sebagai satuan-satuan dari sebuah kaidah menyeluruh. Dan terutama, dengan berulang kali mengucapkan اَلظَّالِم۪ينَ اَلظَّالِم۪ينَ, penjelasannya yang keras tentang ancaman-ancaman serta musibah dari langit dan dari bumi yang menjadi hukuman atas kezaliman mereka membuat kezaliman-kezaliman abad ini yang tiada bandingnya dipandang melalui azab-azab yang menimpa kaum Ad, Tsamud, dan Firaun; dan ia menghibur ahli iman yang dizalimi dengan keselamatan para nabi seperti Ibrahim (as) dan Musa (as).

Ya, seluruh masa yang telah lalu serta kurun-kurun dan abad-abad yang telah mati — yang dalam pandangan lalai dan sesat merupakan negeri liar lagi mengerikan tempat segala sesuatu lenyap sama sekali dan sebuah pekuburan yang pedih lagi telah hancur binasa — diperlihatkan oleh Al-Qur'an Al-Mu'jizul-Bayân kepada setiap abad dan setiap lapisan dalam rupa lembaran-lembaran ibrah yang hidup, sebuah alam ajaib yang seluruhnya berjiwa lagi bernyawa, dan sebuah negeri Rabbani yang ada serta berhubungan dengan kita; laksana layar-layar bioskop, kadang ia membawa kita kepada masa-masa itu dan kadang mendatangkan masa-masa itu ke sisi kita, lalu memberi pelajaran dengan i'jaz yang tinggi. Dan dengan i'jaz yang sama pula, Al-Qur'an Yang Mahaagung ini menjadikan kainat ini — yang dalam pandangan sesat merupakan tempat liar tak terhingga yang beku, porak-poranda, lagi mati, yang berguling-guling di dalam perpisahan dan akan lenyap — sebagai sebuah kitab Shamadani, sebuah kota Rahmani, dan sebuah balai pameran karya seni Rabbani; ia menghidupkan benda-benda mati itu, membuat masing-masing berbicara satu sama lain dalam rupa pengemban tugas dan berlari menolong satu sama lain, lalu memberikan pelajaran-pelajaran hikmah yang hakiki, bercahaya, dan penuh zauk kepada jenis manusia, jin, dan malaikat. Maka Al-Qur'an Yang Mahaagung ini sudah pasti — dengan adanya sepuluh, seratus, kadang seribu, bahkan ribuan pahala pada setiap hurufnya; dengan tidak mampunya seluruh jin dan manusia mendatangkan yang semisal dengannya sekalipun mereka semua berkumpul;

dengan berbicaranya ia secara tepat pada tempatnya bersama seluruh bani Adam dan bersama kainat; dengan tertulisnya ia setiap masa dengan penuh zauk di dalam hati jutaan penghafal; dengan tidak membosankannya ia meskipun banyak diulang dan berulang-ulang; dengan tertanamnya ia secara sempurna di dalam kepala anak-anak yang masih halus lagi sederhana meskipun ia memiliki banyak tempat dan kalimat yang mirip lagi mudah tertukar; dan dengan terasa nikmatnya ia laksana air zamzam di telinga orang-orang yang sakit, orang-orang yang mudah tersentuh oleh sedikit kata, dan orang-orang yang sedang menghadapi sakaratulmaut — meraih keistimewaan-keistimewaan suci semacam itu, dan ia memenangkan kebahagiaan dua alam bagi para muridnya.

Dan dengan rahasia menjaga sepenuhnya tingkatan ummi juru bicaranya — tanpa memberi peluang sedikit pun kepada sikap memaksakan diri, kepura-puraan yang dibuat-buat, dan pamer — demi menjaga kelancaran fitrinya dan datangnya ia langsung dari langit, serta dengan hikmah membelai pemahaman sederhana lapisan awam yang paling banyak jumlahnya melalui penurunan tingkat ungkapan, Al-Qur'an paling banyak membuka lembaran-lembaran yang paling nyata lagi jelas seperti langit dan bumi, lalu mengajarkan mukjizat-mukjizat kudrat-Nya yang luar biasa dan baris-baris hikmah-Nya yang sarat makna di balik hal-hal yang tampak biasa itu; maka di dalam kelembutan bimbingan itu ia memperlihatkan sebuah i'jaz yang indah.

Dan dengan rahasia memberitahukan bahwa ia juga merupakan kitab doa, dakwah, zikir, dan tauhid yang menuntut pengulangan, Al-Qur'an — melalui pengulangannya yang indah lagi manis — memahamkan banyak makna yang berbeda-beda di dalam satu kalimat dan satu kisah kepada lapisan-lapisan pendengar yang berbeda-beda. Dan dengan rahasia memberitahukan bahwa di dalam sebuah peristiwa juz'i lagi biasa pun, hal-hal yang paling kecil dan paling tidak penting sekalipun berada di dalam pandangan rahmat-Nya serta di dalam lingkaran pengaturan dan kehendak-Nya, Al-Qur'an memandang penting bahkan peristiwa-peristiwa juz'i para sahabat di dalam penegakan Islam dan penyusunan syariat; maka dari sisi terdapatnya kaidah-kaidah menyeluruh di dalamnya, dan dari sisi bahwa peristiwa-peristiwa juz'i itu — yang berkedudukan sebagai benih — memberikan buah-buah yang sangat penting di dalam penegakan Islam dan syariat yang bersifat umum, ia memperlihatkan pula semacam i'jaz.

Ya, karena kebutuhan itu berulang dan karena pengulangan itu memang diperlukan — Al-Qur'an selama dua puluh tahun memberi pelajaran kepada berbagai lapisan sebagai jawaban atas amat banyak pertanyaan yang berulang; ia akan mencabik-cabik kainat yang mahabesar ini, mengubah bentuknya pada hari kiamat, mengangkat dunia lalu menegakkan akhirat yang mahaagung sebagai gantinya; ia akan membuktikan bahwa seluruh perkara juz'i dan kulli, dari zarah hingga bintang-bintang, berada di dalam genggaman dan tasarruf satu Zat semata; dan ia akan memperlihatkan murka Ilahi serta kemarahan Rabbani — atas nama hasil penciptaan kainat — terhadap kezaliman-kezaliman jenis manusia yang membuat kainat, bumi, langit-langit, dan unsur-unsur menjadi geram lagi murka — maka di dalam penegakan sebuah perombakan yang tak terhingga menakjubkan, tiada berhingga dahsyat, lagi mahaluas itu, mengulang — dengan kekuatan ribuan kesimpulan —

sebagian kalimatnya dan sebagian ayat yang merupakan hasil dari dalil-dalil yang tak terhingga, bukanlah suatu cacat, melainkan sebuah i'jaz yang sangat kuat, sebuah balagah yang sangat tinggi, serta kekuatan ungkapan dan kefasihan yang sangat sesuai dengan tuntutan keadaan.

Misalnya, kalimat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِٔ yang meskipun hanya satu ayat namun berulang seratus empat belas kali, sebagaimana dijelaskan di dalam Lem'a Keempat Belas dari Risale-i Nur, adalah sebuah hakikat yang mengikat arasy dengan bumi, yang menerangi kainat, dan yang setiap saat dibutuhkan oleh setiap orang; sehingga sekalipun ia diulang jutaan kali, ia tetap dibutuhkan. Bukan hanya setiap hari seperti roti, melainkan setiap saat seperti udara dan cahaya, ia dibutuhkan dan dirindukan.

Dan misalnya pula, ayat اِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَز۪يزُ الرَّح۪يمُ yang diulang delapan kali di dalam Surah طٰسٓمٓ: ayat yang berkekuatan ribuan hakikat itu diulang-ulang — demi hasil penciptaan kainat dan atas nama rububiyah-Nya yang menyeluruh — untuk memberi pelajaran bahwa izzah Rabbani menuntut azab bagi kaum-kaum yang zalim itu, sedangkan rahimiyah Ilahi menuntut keselamatan para nabi, yakni tentang keselamatan para nabi dan azab kaum-kaum mereka yang dikisahkan di dalam surah itu. Maka sekalipun ia diulang ribuan kali, kebutuhan dan kerinduan kepadanya tetap ada; dan ia adalah sebuah balagah tinggi yang penuh i'jaz lagi ringkas.

Dan misalnya pula, ayat فَبِاَىِّ اٰلَٓاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ yang diulang di dalam Surah Ar-Rahman dan ayat وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّب۪ينَ di dalam Surah Al-Mursalat: kedua ayat ini meneriakkan dengan nada ancaman kepada abad-abad, kepada bumi, dan kepada langit-langit — kekufuran dan pengingkaran nikmat serta kezaliman jin dan jenis manusia yang membuat kainat murka, yang membangkitkan kemarahan bumi dan langit-langit, yang merusak hasil-hasil penciptaan alam, dan yang membalas keagungan kerajaan Ilahi dengan pengingkaran serta penghinaan, dan juga pelanggaran mereka terhadap hak-hak seluruh makhluk. Maka sekalipun kedua ayat itu diulang ribuan kali di dalam sebuah pelajaran umum yang berkaitan dengan ribuan hakikat semacam itu dan berkekuatan ribuan persoalan, ia tetap diperlukan; dan ia adalah sebuah i'jaz yang penuh jalal serta sebuah keringkasan balagah yang penuh jamal.

Dan misalnya pula, di dalam munajat Nabi صلى الله عليه وسلم yang bernama Jausyan al-Kabir — yang merupakan semacam munajat hakiki lagi sempurna bagi Al-Qur'an dan semacam saripati yang keluar dari Al-Qur'an — sebanyak seratus kali diulang kalimat

سُبْحَانَكَ يَا لَا اِلٰهَ اِلَّا اَنْتَ الْاَمَانُ الْاَمَانُ خَلِّصْنَا وَ اَجِرْنَا وَ نَجِّنَا مِنَ النَّارِ — karena di dalam pengulangan kalimat itu terdapat hakikat terbesar bagi seluruh kainat, yaitu tauhid; dan tugas terpenting dari tiga tugas mahabesar makhluk terhadap rububiyah-Nya, yaitu tasbih dan taqdis; dan persoalan paling dahsyat bagi jenis manusia, yaitu terlepas dari sengsara abadi; serta hasil yang paling diperlukan dari ubudiyah dan kelemahan manusia — maka sekalipun ia diulang ribuan kali, itu masih sedikit.

Maka — sebagaimana perkara-perkara yang pengulangannya menjadi sunah di dalam sebagian ibadah, seperti tasbih di dalam salat — pengulangan-pengulangan Al-Qur'an bersandar kepada dasar-dasar yang kukuh semacam ini. Bahkan kadang, di dalam satu halaman saja, dari sisi tuntutan kedudukan, kebutuhan untuk memahamkan, dan balagah penjelasan, ia mengungkapkan hakikat tauhid dua puluh kali, baik secara terang-terangan maupun secara tersirat. Hal itu bukan menimbulkan bosan, melainkan memberikan kekuatan, semangat, dan rasa manis. Di dalam Risale-i Nur telah dijelaskan beserta hujah-hujahnya betapa pengulangan-pengulangan Al-Qur'an itu tepat pada tempatnya, sesuai, dan diterima menurut balagah.

Rahasia hikmah dari berbedanya surah-surah Makkiyah dan surah-surah Madaniyah di dalam Al-Qur'an Al-Mu'jizul-Bayân — dari sisi balagah, dari segi i'jaz, serta dari sisi perincian dan peringkasan — adalah sebagai berikut:

Karena di Mekah yang menjadi lawan bicara dan penentang pada barisan pertama adalah kaum musyrik Quraisy dan orang-orang ummi, dan karena diperlukan gaya tutur yang tinggi lagi kuat menurut balagah, sebuah peringkasan yang ringkas, meyakinkan, lagi menumbuhkan kemantapan hati, serta diperlukan pula pengulangan demi pengukuhan, maka pada umumnya surah-surah Makkiyah mengungkapkan dan mengulangi rukun-rukun iman serta tingkatan-tingkatan tauhid dengan keringkasan yang sangat kuat, tinggi, lagi penuh i'jaz; ia membuktikan permulaan dan tempat kembali, yaitu Allah dan akhirat — bukan hanya di dalam satu halaman, satu ayat, satu kalimat, atau satu kata, melainkan kadang di dalam satu huruf serta di dalam bentuk-bentuk susunan seperti mendahulukan dan mengakhirkan, memakrifatkan dan menakirahkan, serta membuang dan menyebutkan — dan ia membuktikannya sedemikian kuat sehingga para imam jenius ilmu balagah menyambutnya dengan takjub.

Risale-i Nur — terutama Kelimat Kedua Puluh Lima beserta lampiran-lampirannya yang membuktikan secara ringkas empat puluh segi i'jaz Al-Qur'an, dan tafsir Isyaratul I'jaz dari Risale-i Nur berbahasa Arab yang menjelaskan serta membuktikan segi i'jaz di dalam susunan katanya dengan cara yang menakjubkan — telah memperlihatkan secara nyata bahwa di dalam surah-surah dan ayat-ayat Makkiyah terdapat gaya balagah yang paling tinggi dan i'jaz keringkasan yang paling tinggi.

Adapun yang menjadi lawan bicara dan penentang surah-surah dan ayat-ayat Madaniyah pada barisan pertama adalah ahli kitab seperti Yahudi dan Nasrani yang membenarkan Allah; maka karena tuntutan balagah dan bimbingan, serta karena keharusan sesuai dengan kedudukan dan

keadaan, yang perlu dijelaskan di hadapan ahli kitab dengan gaya yang sederhana, gamblang, lagi terperinci bukanlah pokok-pokok agama yang tinggi dan rukun-rukun iman, melainkan juz'iyat yang menjadi sumber dan sebab bagi syariat, hukum-hukum, perincian, dan kaidah-kaidah menyeluruh yang menjadi sumber perbedaan pendapat. Maka di dalam surah-surah dan ayat-ayat Madaniyah itu, pada umumnya di tengah penjelasan yang terperinci, jelas, dan bergaya sederhana, dengan cara pemaparan yang tiada bandingnya lagi khas milik Al-Qur'an, tiba-tiba di dalam peristiwa juz'i yang bersifat perincian itu disebutkan sebuah kesimpulan pemungkas yang tinggi lagi kuat, sebuah penutup, sebuah hujah, serta sebuah kalimat tauhid, kalimat asma, dan kalimat ukhrawi yang menjadikan peristiwa syariat yang juz'i itu bersifat menyeluruh dan menjamin pengamalannya dengan iman kepada Allah. Ia menerangi maqam itu, meninggikannya, dan menjadikannya menyeluruh.

Risale-i Nur telah membuktikan — bahkan kepada orang-orang yang paling keras kepala — betapa tinggi balagah, keistimewaan, kefasihan, dan nukta yang terkandung di dalam fazlakah (kesimpulan penutup) dan penutup-penutup yang menyatakan tauhid atau akhirat, yang pada umumnya datang di akhir ayat-ayat, seperti اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَىْءٍ قَد۪يرٌ ٭ اِنَّ اللّٰهَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَل۪يمٌ ٭ وَهُوَ الْعَز۪يزُ الرَّح۪يمُ ٭ وَهُوَ الْعَز۪يزُ الْحَك۪يمُ; yaitu di dalam Nur Kedua dari Syu'lah Kedua Kelimat Kedua Puluh Lima, ia menjelaskan sepuluh di antara sekian banyak nukta dan keistimewaan fazlakah serta penutup itu, lalu menetapkan bahwa di dalam saripati-saripati itu terdapat sebuah mukjizat terbesar.

Ya, di tengah penjelasan tentang rincian-rincian syariat dan hukum-hukum kemasyarakatan itu, Al-Qur'an sekonyong-konyong mengangkat pandangan orang yang diajak bicara ke poin-poin yang paling tinggi dan menyeluruh; ia mengubah gaya bahasa yang sederhana menjadi gaya bahasa yang tinggi dan mengubah pelajaran syariat menjadi pelajaran tauhid; lalu memperlihatkan bahwa Al-Qur'an sekaligus merupakan kitab syariat, hukum, dan hikmah, sekaligus pula kitab akidah, iman, zikir, pikir, doa, dan dakwah; dan dengan mengajarkan banyak maksud bimbingan dan maksud Qurani pada setiap maqam (kedudukan pembicaraan), ia menampakkan sebuah kefasihan yang cemerlang lagi menakjubkan, yang berbeda dari corak balagah ayat-ayat Makkiyah.

Terkadang dengan dua kata saja — misalnya رَبُّ الْعَالَم۪ينَ dan رَبُّكَ — Al-Qur'an memberitahukan ahadiyah dengan ungkapan رَبُّكَ dan wâhidiyah dengan ungkapan رَبُّ الْعَالَم۪ينَ. Ia menyatakan wâhidiyah di dalam ahadiyah. Bahkan di dalam satu kalimat, sebagaimana ia melihat sebutir zarah pada biji mata lalu menempatkannya di sana, demikian pula dengan ayat yang sama dan dengan palu yang sama ia menempatkan matahari pada biji mata langit dan menjadikan langit sebuah mata.

Misalnya, sesudah ayat خَلَقَ السَّمٰوَاتِ وَ الْاَرْضَ menyusul ayat يُولِجُ الَّيْلَ فِى النَّهَارِ وَ يُولِجُ النَّهَارَ فِى الَّيْلِ, lalu setelah itu Al-Qur'an berfirman: وَ هُوَ عَل۪يمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ. Yakni ia berkata: "Di dalam keagungan penciptaan bumi dan langit-langit, Dia mengetahui pula segala yang terlintas di dalam hati dan mengaturnya." Dengan penjelasan yang bercorak demikian, percakapan yang sederhana lagi juz'i itu — yang memperhatikan tingkatan ummi dan pemahaman orang awam — berubah menjadi sebuah dialog yang tinggi, memikat, menyeluruh, dan membimbing.

Sebuah Pertanyaan Penting: Terkadang sebuah hakikat tidak tampak oleh pandangan yang dangkal, dan pada sebagian maqam kaitan antara sebuah peristiwa kecil lagi biasa dengan penjelasan sebuah fazlakah tauhid yang tinggi atau sebuah kaidah menyeluruh tidak diketahui; maka disangkalah ada kekurangan di sana. Misalnya, di dalam kisah "pengambilan saudara Nabi Yusuf alaihissalam dengan sebuah siasat" disebutkan sebuah kaidah yang amat tinggi, yaitu وَفَوْقَ كُلِّ ذ۪ى عِلْمٍ عَل۪يمٌ; kaitannya dari segi balagah tidak tampak. Apa rahasia dan hikmahnya?

Jawaban: Kebanyakan surah panjang dan surah pertengahan — yang masing-masing merupakan Al-Qur'an kecil — serta banyak halaman dan maqam di dalamnya tidak hanya memuat dua tiga maksud; bahkan hakikat Al-Qur'an memuat banyak kitab dan pelajaran yang berbeda-beda: ia sekaligus kitab zikir, iman, dan pikir, sekaligus pula kitab syariat, hikmah, dan bimbingan; sehingga ia menyatakan meliputinya rububiyah Ilahi atas segala sesuatu serta tajalli-Nya yang agung. Maka Al-Qur'an, yang merupakan semacam bacaan atas kitab besar kainat, sudah pasti pada setiap maqam — bahkan terkadang di dalam satu halaman — mengejar banyak maksud dan memberi pelajaran tentang makrifatullah, tentang tingkatan-tingkatan tauhid, dan tentang hakikat-hakikat iman. Dari sisi inilah, pada maqam yang lain ia membuka sebuah pelajaran lain dengan kaitan yang secara lahir tampak lemah; lalu kaitan yang lemah itu disusul dan digabungi oleh kaitan-kaitan yang sangat kuat, sehingga ia menjadi sangat sesuai dengan maqam itu dan tingkatan balagahnya pun meninggi.

Sebuah Pertanyaan Kedua: Apa hikmahnya Al-Qur'an membuktikan dan menampilkan akhirat, tauhid, serta pahala dan hukuman bagi manusia ribuan kali — secara sarih, secara tersirat, dan secara isyarat — lalu mengajarkannya di dalam setiap surah, setiap halaman, dan setiap maqam?

Jawaban: Di dalam lingkaran imkân, di dalam perubahan-perubahan besar yang berkaitan dengan riwayat perjalanan kainat, dan pada makhluk yang memikul amanah terbesar serta khilafah di bumi di atas pundaknya, yakni jenis

manusia — dari sisi mengajarkan persoalan-persoalan yang paling agung di antara persoalan-persoalan yang paling penting, paling besar, dan paling dahsyat mengenai tugas mereka yang menjadi sebab celaka abadi atau kebahagiaan abadi; melenyapkan keraguan yang tidak terhingga; serta mematahkan pengingkaran dan sikap keras kepala yang teramat sengit — sudah pasti, demi membuat mereka membenarkan perubahan-perubahan besar yang dahsyat itu dan demi membuat mereka menerima persoalan-persoalan yang sebesar keagungan perubahan itu, yang paling mutlak diperlukan dan paling mendesak bagi manusia, seandainya Al-Qur'an menyuruh mereka memandang kepadanya bukan ribuan kali, melainkan jutaan kali, itu pun tetap bukan pemborosan; sebab pembahasan-pembahasan itu dibaca berulang jutaan kali di dalam Al-Qur'an, tidak menimbulkan bosan, dan kebutuhan kepadanya tidak pernah terputus.

Misalnya, hakikat kabar gembira tentang kebahagiaan abadi yang ditunjukkan oleh ayat اِنَّ الَّذ۪ينَ اٰمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْر۪ى مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهَارُ ٭ خَالِد۪ينَ ف۪يهَٓا اَبَدًا — karena ia menyelamatkan manusia yang malang, dunianya, dan seluruh kekasihnya dari hukuman mati abadi yang ditimpakan oleh hakikat kematian yang setiap menit memperlihatkan diri kepadanya, lalu memberinya sebuah kerajaan yang kekal selamanya — seandainya diulang miliaran kali dan diberi arti penting sebesar kainat, ia tetap bukan pemborosan dan tidak jatuh nilainya.

Maka Al-Qur'an Al-Mu'jizul-Bayân, yang mengajarkan persoalan-persoalan tak terhingga berharga semacam ini dan yang berusaha meyakinkan, menanamkan iman, serta membuktikan tegaknya perubahan-perubahan besar yang dahsyat, yang mengubah kainat laksana sebuah rumah dan merombak bentuknya — sudah pasti, menarik perhatian kepada persoalan-persoalan itu ribuan kali, secara sarih, secara tersirat, dan secara isyarat, bukanlah pemborosan; bahkan dengan itu ia memperbarui karunianya yang berkedudukan sebagai kebutuhan pokok, seperti roti, obat, udara, dan cahaya.

Dan misalnya pula, hikmah Al-Qur'an menyebutkan ayat-ayat ancaman seperti اِنَّ الْكَافِر۪ينَ ف۪ى نَارِ جَهَنَّمَ dan اَلظَّالِم۪ينَ لَهُمْ عَذَابٌ اَل۪يمٌ dengan sangat keras, dengan murka, dengan kekuatan yang amat besar, dan dengan pengulangan ialah — sebagaimana telah dibuktikan secara pasti di dalam Risale-i Nur — bahwa kekufuran manusia merupakan pelanggaran atas hak kainat dan hak sebagian besar makhluk, yang sedemikian rupa hingga membuat langit-langit dan bumi marah, membangkitkan murka unsur-unsur, lalu menampar orang-orang zalim itu dengan berbagai topan. Dan dengan sarihnya ayat اِذَٓا اُلْقُوا ف۪يهَا سَمِعُوا لَهَا شَه۪يقًا وَهِىَ تَفُورُ ٭ تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ, neraka Jahanam demikian murka kepada para pengingkar yang zalim itu sehingga hampir hancur berkeping-keping karena amarahnya.

Maka terhadap kejahatan menyeluruh dan pelanggaran tak terhingga semacam ini — bukan dengan memandang kepada kecil dan tidak berartinya manusia, melainkan dengan memandang kepada besarnya kejahatannya yang zalim dan dahsyatnya pelanggarannya yang kafir — seandainya Sang Sultan kainat, dengan hikmah memperlihatkan betapa penting hak-hak rakyat-Nya dan betapa tidak terhingga buruknya kekufuran serta kezaliman para pengingkar itu, mengulang kejahatan itu beserta hukumannya di dalam firman-Nya dengan murka dan keras bukan seribu kali, melainkan jutaan dan miliaran kali, itu pun tetap bukan pemborosan dan bukan kekurangan; sebab sejak seribu tahun ratusan juta manusia membacanya setiap hari tanpa bosan, dengan penuh kerinduan dan dengan kebutuhan.

Ya, setiap hari dan setiap waktu, bagi setiap orang satu alam berlalu dan pintu sebuah alam yang baru terbuka baginya; maka untuk menerangi setiap alamnya yang fana itu, dengan kebutuhan dan kerinduan ia mengulang kalimat ٔلَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ ribuan kali dan menjadikan sebuah ٔلَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُٔ sebagai lampu bagi setiap tabir dan alam yang silih berganti itu. Demikian pula, agar ia tidak menggelapkan tabir-tabir yang majemuk lagi fana itu beserta kainat-kainat berjalan yang senantiasa diperbarui, agar ia tidak memburukkan bentuk-bentuk yang terpantul pada cermin kehidupannya, dan agar ia tidak mengubah keadaan-keadaan yang singgah sebentar itu — yang sebenarnya dapat menjadi saksi yang menguntungkannya — menjadi saksi yang memberatkannya; maka dengan hikmah agar setiap kali membaca Al-Qur'an ia teringat kepada hukuman atas kejahatan-kejahatan itu dan kepada ancaman Sang Sultan Azali yang keras lagi mematahkan sikap keras kepala, lalu berusaha melepaskan diri dari pembangkangan nafsu, Al-Qur'an mengulangnya dengan cara yang sungguh menakjubkan. Dan dari menyangka bahwa ancaman-ancaman Al-Qur'an yang disampaikan dengan kekuatan, kekerasan, dan pengulangan sedemikian rupa itu tidak berdasar hakikat, setan pun lari. Lalu Al-Qur'an memperlihatkan bahwa azab neraka Jahanam bagi para pengingkar yang tidak mendengarkannya adalah keadilan itu sendiri.

Dan misalnya pula, pengulangan kisah Nabi Musa alaihissalam yang berkali-kali — kisah yang seperti tongkat Musa mengandung banyak hikmah dan faedah — beserta kisah para nabi yang lain, berlangsung dengan hikmah bahwa kenabian seluruh para nabi dijadikan hujah bagi kebenaran kerasulan Ahmad صلى الله عليه وسلم, sehingga siapa yang tidak dapat mengingkari mereka semua tidak akan dapat mengingkari kerasulan beliau dari segi hakikat; dan karena tidak setiap orang mampu serta sempat membaca seluruh Al-Qur'an pada setiap waktu, kisah-kisah itu diulang sebagaimana rukun-rukun iman yang penting, demi menjadikan setiap surah panjang dan surah pertengahan berkedudukan sebagai Al-Qur'an kecil. Maka hal itu bukanlah pemborosan, melainkan sebuah balagah yang menakjubkan, sekaligus pelajaran bahwa peristiwa Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah peristiwa terbesar seluruh bani Adam dan persoalan teragung kainat.

Ya, rukun yang disetarakan dengan rukun ٔلَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُٔ karena ia memberikan maqam terbesar kepada diri Ahmad صلى الله عليه وسلم di dalam Al-Qur'an dan karena ia mencakup empat rukun iman, yakni

ٔمُحَمَّدٌ رَسُولُ اللّٰهِٔ, serta kerasulan Muhammad صلى الله عليه وسلم, adalah hakikat terbesar kainat; diri Ahmad صلى الله عليه وسلم adalah yang termulia di antara seluruh makhluk; dan pribadi maknawi menyeluruh beliau serta maqam sucinya, yang disebut hakikat Muhammad صلى الله عليه وسلم, adalah matahari yang paling cemerlang bagi dua alam. Banyak sekali hujah dan tanda atas hal itu dan atas kelayakan beliau bagi maqam yang luar biasa ini telah dibuktikan secara pasti di dalam Risale-i Nur. Satu dari seribu di antaranya ialah:

Dengan kaidah اَلسَّبَبُ كَالْفَاعِلِ, seluruh kebaikan yang dikerjakan oleh segenap umatnya di segala zaman masuk pula semisalnya ke dalam buku catatan kebaikan beliau; beliau menerangi seluruh hakikat kainat dengan cahaya yang beliau bawa, sehingga bukan hanya jin, manusia, malaikat, dan makhluk hidup, melainkan seluruh kainat, langit-langit, dan bumi pun berutang budi kepadanya; dan — sebagaimana disaksikan oleh diterimanya doa tumbuhan dengan lisan istidad (potensi bawaan) dan doa hewan dengan lisan kebutuhan fitri secara nyata di depan mata kita — jutaan, bahkan miliaran orang saleh dari umatnya, yang doa fitri lagi tak tertolak dari mereka diterima, setiap hari mempersembahkan doa rahmat kepada beliau dengan nama salawat dan salam serta menghadiahkan hasil maknawi mereka pertama-tama kepada beliau; dan karena setiap huruf dari tiga ratus ribu huruf Al-Qur'an yang dibaca oleh seluruh umat membuahkan sepuluh pahala, hingga seratus, hingga seribu kebaikan dan buah, maka dari sisi bacaan Al-Qur'an saja pun cahaya yang tidak terhingga masuk ke dalam buku catatan amal beliau. Dari semua sisi inilah Allâmul-Ghuyûb telah mengetahui dan melihat bahwa hakikat Muhammad صلى الله عليه وسلم, yang merupakan pribadi maknawi beliau, kelak akan berkedudukan sebagai sebatang pohon Tuba surga; maka sesuai dengan maqam itu Dia memberikan arti penting yang amat agung kepadanya di dalam Al-Qur'an-Nya, dan di dalam firman-Nya Dia menjadikan tunduk kepada beliau, mengikuti sunnah beliau, serta memperoleh syafaat beliau sebagai persoalan manusia yang paling penting; dan sesekali Dia menampilkan sisi kemanusiaan beliau dan keadaan manusiawi beliau pada awal mula, yang merupakan sebutir benih dari pohon Tuba yang agung itu.

Maka karena hakikat-hakikat Al-Qur'an yang diulang-ulang itu bernilai sedemikian rupa, fitrah yang lurus bersaksi bahwa di dalam pengulangannya terdapat sebuah mukjizat maknawi yang kuat lagi luas. Kecuali jika seseorang tertimpa penyakit hati dan penyakit hati nurani akibat wabah paham materialis; maka ia masuk ke dalam kaidah قَدْ يُنْكِرُ الْمَرْءُ ضَوْءَ الشَّمْسِ مِنْ رَمَدٍ ٭ وَ يُنْكِرُ الْفَمُ طَعْمَ الْمَاءِ مِنْ سَقَمٍ.