Risale-i NurSinar-Sinar

DUA CATATAN KAKI SEBAGAI PENUTUP BAGI PERSOALAN KESEPULUH INI

Sinar-Sinar · hlm. 308

Yang Pertama: Dua belas tahun yang lalu {(Catatan kaki): Dua belas tahun sebelum risalah ini ditulis. (Penerbit)} aku mendengar bahwa seorang zindik yang paling dahsyat lagi paling keras kepala telah mulai melancarkan makar jahatnya terhadap Al-Qur'an melalui terjemahan, dan ia berkata: "Hendaklah Al-Qur'an diterjemahkan, supaya diketahui barang apa sebenarnya ia." Yakni, ia menjalankan sebuah rencana yang dahsyat agar setiap orang melihat pengulangannya yang dianggap tidak perlu dan agar terjemahannya dibaca sebagai ganti Al-Qur'an.

Akan tetapi hujah-hujah Risale-i Nur yang tidak dapat dipatahkan telah membuktikan secara pasti bahwa terjemahan Al-Qur'an yang hakiki tidaklah mungkin; bahwa tidak ada satu bahasa pun yang sanggup menjaga keistimewaan dan nukta-nukta Al-Qur'an sebagai ganti bahasa Arab yang merupakan bahasa nahwi; dan bahwa terjemahan manusia yang biasa lagi juz'i tidak akan sanggup menggantikan ungkapan-ungkapan kalimat Al-Qur'an yang penuh mukjizat lagi padat memuat banyak makna, yang setiap hurufnya memberikan pahala dari sepuluh hingga seribu, sehingga terjemahan itu tidak boleh dibaca di masjid-masjid sebagai gantinya — maka dengan tersebarnya Risale-i Nur ke segala penjuru, rencana yang dahsyat itu pun menjadi sia-sia. Akan tetapi orang-orang munafik yang berguru kepada zindik itu kembali berusaha, atas nama setan, memadamkan matahari Al-Qur'an dengan tiupan mulut mereka, secara bodoh dan gila seperti anak-anak yang dungu; dan aku menduga bahwa karena hikmah dari usaha mereka itulah Persoalan Kesepuluh ini dituliskan melalui diriku dalam keadaan yang sangat sempit, menyesakkan, lagi penuh kesulitan. Karena aku tidak dapat berjumpa dengan orang lain, aku tidak dapat mengetahui keadaan yang sebenarnya.

Catatan Kaki Kedua: Setelah kami dibebaskan dari Penjara Denizli, aku duduk di lantai atas Hotel Kota yang termasyhur itu. Di hadapanku, di taman-taman yang indah, pohon-pohon poplar yang banyak jumlahnya — baik pohon-pohonnya, dahan-dahannya, maupun daun-daunnya — menari karena sentuhan udara dengan gerakan yang memikat lagi penuh pesona, dalam bentuk yang sangat lembut dan manis, laksana halqah-halqah zikir; dan pemandangan itu menyentuh hatiku yang berduka lagi bersedih karena berpisah dengan saudara-saudaraku dan karena aku tinggal seorang diri. Tiba-tiba musim gugur dan musim dingin terlintas dalam ingatan, dan keadaan lalai pun menguasai diriku. Aku begitu iba kepada pohon-pohon poplar yang lembut itu dan kepada makhluk-makhluk hidup yang tampil berkilau dengan kegembiraan yang sempurna itu, sampai-sampai mataku berlinang air mata. Karena hal itu mengingatkan aku kepada segala yang lenyap dan segala perpisahan yang berada di balik tabir indah kainat

serta membuatku merasakan semuanya, maka duka dari segala perpisahan dan segala yang sirna sepenuh kainat pun berkumpul menimpa kepalaku.

Tiba-tiba cahaya yang dibawa oleh hakikat Muhammad صلى الله عليه وسلم datang menolong. Ia mengubah kesedihan dan kepiluan yang tak terhingga itu menjadi kegembiraan. Bahkan, karena pertolongan dan penghiburan dari cahaya itu — yang dari sejuta limpahan karunianya atas diriku, sebagaimana atas setiap orang dan setiap ahli iman, hanyalah bagian yang menyentuh keadaanku pada saat itu — aku pun menjadi orang yang berutang budi selama-lamanya kepada diri Muhammad صلى الله عليه وسلم. Yaitu demikian:

Pandangan yang lalai itu memperlihatkan makhluk-makhluk lembut lagi mubarak tersebut seolah-olah tanpa tugas, tanpa hasil, muncul hanya dalam satu musim, dan gerakan-gerakannya bukan lahir dari kegembiraan, melainkan seakan-akan bergetar karena lenyap dan berpisah lalu jatuh ke dalam kehampaan; hal itu demikian menyentuh urat-urat di dalam diriku — sebagaimana pada setiap orang — yang menjadi sumber cinta untuk tetap kekal, cinta kepada segala keindahan, cinta kepada wujud, kasih sayang terhadap sesama jenis, dan ikatan kepada kehidupan, sehingga pada saat ia mengubah dunia menjadi neraka maknawi dan mengubah akal menjadi alat penyiksa, cahaya yang dibawa oleh Muhammad صلى الله عليه وسلم sebagai hadiah bagi umat manusia mengangkat tabir itu; lalu ia memperlihatkan bahwa sebagai ganti hukuman mati, lenyap sama sekali, hampa, tanpa tugas, sia-sia, perpisahan, dan fana, setiap pohon poplar itu memiliki hikmah-hikmah dan makna-makna sebanyak jumlah daunnya, serta hasil-hasil dan tugas-tugas yang terbagi menjadi tiga bagian sebagaimana telah dibuktikan di dalam Risale-i Nur:

Hasil bagian pertama: menghadap kepada asma Sang Pembuat Dzul-Jalâl. Misalnya, sebagaimana apabila seorang tukang membuat sebuah mesin yang menakjubkan, setiap orang yang menghargainya berkata kepadanya, "Mâsyâallah, bârakallah," seraya bertepuk tangan. Demikian pula mesin itu sendiri, dengan memperlihatkan secara persis hasil-hasil yang dimaksud darinya, memberi selamat kepada pembuatnya dan bertepuk tangan baginya dengan lisan keadaannya. Setiap makhluk hidup dan segala sesuatu adalah mesin semacam ini; ia bertepuk tangan bagi Pembuatnya dengan ucapan-ucapan selamat.

Adapun hikmah bagian kedua: menghadap kepada pandangan makhluk hidup dan makhluk berkesadaran. Ia menjadi tempat penelaahan yang manis bagi mereka, menjadi kitab-kitab makrifat. Ia meninggalkan makna-maknanya di dalam benak makhluk berkesadaran, dan bentuk-bentuknya di dalam daya ingat mereka, di dalam lembaran-lembaran alam mitsal, serta di dalam buku-buku catatan alam gaib, yakni di dalam lingkaran wujud; sesudah itu ia meninggalkan alam nyata dan menarik diri ke alam gaib. Artinya, ia meninggalkan satu wujud lahiriah, lalu memperoleh banyak wujud maknawi, wujud gaib, dan wujud di dalam ilmu Allah.

Ya, selama Allah ada dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, sudah pasti dari sisi hakikat lenyap sama sekali, hukuman mati, kehampaan, kemusnahan, dan fana tidaklah ada di dalam dunia ahli iman; sedangkan dunia orang-orang kafir yang ingkar penuh dengan lenyap sama sekali, dengan perpisahan, dengan kehampaan, dan dengan fana. Inilah hakikat yang diajarkan oleh peribahasa yang beredar di lisan orang banyak berikut ini: "Bagi siapa yang Allah ada baginya, segala sesuatu pun ada baginya; dan bagi siapa yang Allah tidak ada baginya, segala sesuatu tidak ada baginya, semuanya hampa."

Kesimpulannya: Sebagaimana iman menyelamatkan manusia dari hukuman mati abadi pada saat kematian, demikian pula ia menyelamatkan dunia pribadi setiap orang dari hukuman mati dan dari gelap gulita kehampaan. Adapun kufur, terlebih lagi apabila ia kufur mutlak, ia menghukum mati manusia itu sekaligus dunia pribadinya dengan kematian, lalu melemparkannya ke dalam gelap gulita neraka maknawi. Ia mengubah segala kelezatan hidupnya menjadi racun yang pahit. Hendaklah orang-orang yang lebih mengutamakan kehidupan dunia daripada akhiratnya mendengarkan hal ini baik-baik. Hendaklah mereka datang, lalu mencari satu jalan keluar bagi hal ini atau masuk ke dalam iman. Hendaklah mereka selamat dari kerugian yang dahsyat ini. سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَٓا اِلَّا مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ