Risale-i NurSinar-Sinar

SURAT YANG DITULIS HÜSREV KEPADA USTAZNYA BERKENAAN DENGAN PERSOALAN KESEPULUH

Sinar-Sinar · hlm. 311

Ustazku yang sangat tercinta, Tuanku!

Segala syukur yang tak terhingga bagi Allah, kami telah menerima "Bunga Emirdağ" yang mendapat nama Persoalan Kesepuluh dari Buah Denizli — yang meringankan derita perpisahan selama dua bulan dan penderitaan karena terputusnya surat-menyurat, yang menganugerahkan hayat yang segar kepada hati kami, yang menghadiahkan angin sepoi yang baru lagi jernih kepada jiwa kami, yang memerinci keindahan pengulangan di dalam ayat-ayat Al-Qur'an yang penuh jalal dan izzah, penuh rahmat dan kasih sayang, yang menjelaskan keperluan dan pentingnya hikmah pengulangan itu, dan yang merupakan sebuah pembelaan yang menakjubkan bagi Risale-i Nur. Sungguh benar, setiap kali kami mencium bunga yang sangat layak mendapat penghargaan dan pujian ini, kerinduan di dalam jiwa kami pun semakin meninggi. Sebagaimana Sembilan Persoalan dari Buah itu telah memperlihatkan keindahannya dengan menjadi sebab yang besar bagi pembebasan kami sebagai imbalan dari kesulitan penjara selama sembilan bulan, demikian pula Persoalan Kesepuluh yang berupa bunga itu memperlihatkan keindahannya sekadar itu pula, dengan memperlihatkan keajaiban-keajaiban di dalam i'jaz Al-Qur'an yang penuh keringkasan.

Ya, Ustazku tercinta, sebagaimana kelembutan dan keindahan yang luar biasa pada bunga mawar sama sekali tidak memperlihatkan duri-duri pada pohonnya kepada pandangan mata, demikian pula bunga nurani ini telah menjadikan kesulitan penjara selama sembilan bulan itu tidak berarti sama sekali bagi kami, dalam bentuk yang membuat kami melupakannya.

Bunga nurani ini, yang ditulis sedemikian rupa sehingga orang tidak pernah merasa cukup menelaahnya dan yang membuat akal terheran-heran, dari sekian banyak keindahan yang dikandungnya, terutama telah menampilkan ketinggian Al-Qur'an yang bernilai seharga dunia — dengan memperlihatkan secara sempurna nilai dari pengulangan itu — sebagai jawaban atas penghinaan berupa upaya merendahkan Al-Qur'an di mata manusia melalui terjemahannya.

Al-Qur'an Al-Mu'jizul-Bayân — yang kesegarannya, seakan-akan baru saja diturunkan, telah terbukti melalui berpegangnya para pengikutnya kepadanya dengan keteguhan yang luar biasa di setiap abad dan melalui tunduk patuhnya mereka secara sempurna kepada perintah dan larangannya — di sepanjang segala abad memiliki ancaman-ancaman yang keras, dahsyat, lagi berulang terhadap orang-orang zalim, dan memiliki penghargaan yang berulang lagi penuh kasih dan rahmat terhadap orang-orang yang dizalimi; maka bahwa di dalam ancamannya yang khususnya menghadap kepada abad kita ini ia sejak enam tujuh tahun terus-menerus membuat orang-orang zalimnya menjerit dan meratap dalam keadaan yang belum pernah ada bandingannya, dengan sebuah neraka samawi yang seakan-akan menyerupai satu contoh dari huru-hara terbesar; dan bahwa yang berada di barisan terdepan dari sekalian orang yang dizalimi di abad ini adalah murid-murid Risale-i Nur; dan bahwa ia sungguh-sungguh menjadikan murid-murid ini pun memperoleh keselamatan yang sangat besar, baik umum maupun khusus, seperti keselamatan yang diberikan kepada para nabi dari umat-umat terdahulu; dan bahwa ia memperlihatkan orang-orang tak beragama yang menjadi penentang mereka ditampar dengan azab neraka; dan juga bahwa bunga itu disempurnakan dengan diberi penutup berupa dua catatan kaki yang indah lagi lembut — semua itu telah mendorong murid kalian yang fakir ini, Hüsrev, kepada kegembiraan yang demikian besar dan kepada syukur yang tak berkesudahan, sehingga sebagaimana telah aku sampaikan kepada Ustazku tercinta, aku pun telah berkali-kali mengatakan kepada saudara-saudaraku bahwa sepanjang umurku aku belum pernah merasakan kesenangan dan kegembiraan seperti yang diberikan oleh bunga yang indah ini.

Semoga Allah selama-lamanya rida kepada Ustaz kami tercinta, yang di atas bahunya yang lemah lagi tidak kuat memikul telah ditimpakan beban yang teramat berat lagi sangat besar. Dan semoga Dia meringankan beban kalian serta membuat wajah kalian tersenyum sampai selama-lamanya, âmin!

Ya, Ustazku tercinta, kami rida selama-lamanya kepada Allah, kepada Al-Qur'an, kepada Sang Kekasih Yang Mulia صلى الله عليه وسلم, kepada Risale-i Nur, dan kepada Ustaz kami tercinta yang menjadi penyeru Al-Qur'an. Dan dari segi mana pun kami tidak menyesal telah menisbatkan diri kami kepada kalian. Di dalam hati kami pun tidak ada niat untuk berbuat keburukan walau sebesar zarah. Kami hanya menghendaki Allah dan rida-Nya. Seiring berlalunya hari, di dalam rida-Nya, kami memusatkan di dalam hati kami kerinduan untuk berjumpa dengan Allah (wishâl). Kami mempersembahkan syukur yang tak terhingga lagi tak berbatas kepada Allah, yang tanpa kami kehendaki telah mengumumkan bahwa memaafkan orang-orang yang berbuat jahat kepada kami tanpa kecuali dengan menyerahkan urusan mereka kepada Allah, dan sebaliknya berbuat baik kepada setiap orang — termasuk kepada orang-orang zalim yang menzalimi kami — adalah syiar Islam yang tertanam di dalam hati murid-murid Risale-i Nur.