Risale-i NurSinar-Sinar

PERSOALAN KESEBELAS

Sinar-Sinar · hlm. 313

Awal dari Persoalan Kesebelas milik Buah ini: Karena ratusan contoh dari buah-buah yang tak terhingga, baik yang menyeluruh maupun yang juz'i, dari pohon suci keimanan — yang satu buahnya adalah surga, satu lagi kebahagiaan abadi, dan satu lagi memandang Allah — telah diterangkan dan dibuktikan dengan hujah-hujah di dalam Risale-i Nur, maka penjelasannya diserahkan kepada Sirajunnur, dan yang akan diterangkan di sini hanyalah beberapa contoh dari buah-buah yang juz'i lagi khusus milik bagian-bagian dan juz-juz yang juz'i, bukan dari rukun-rukunnya yang menyeluruh.

SALAH SATUNYA: Pada suatu hari, ketika di dalam sebuah doa aku mengucapkan doa yang maknanya, "Ya Rabbi! Demi kehormatan dan syafaat Jibril, Mikail, Israfil, dan Izrail, peliharalah aku dari kejahatan jin dan manusia!" — pada saat aku menyebut nama Izrail yang membuat setiap orang bergetar dan menimbulkan rasa ngeri, aku merasakan sebuah keadaan yang sangat manis, menghibur, lagi menyenangkan. Aku pun berkata, "Alhamdulillah." Aku mulai benar-benar mencintai Izrail. Dari sekian banyak buah milik satu anggota yang juz'i dari rukun iman kepada malaikat ini, kami akan memberikan isyarat yang sangat singkat kepada satu buahnya yang juz'i saja.

SALAH SATUNYA: Harta manusia yang paling berharga dan yang paling ia cemaskan adalah ruhnya. Aku merasakan secara pasti bahwa menyerahkan ruh itu kepada satu tangan yang kuat lagi terpercaya, demi menjaganya dari hilang, dari fana, dan dari keadaan terlantar tanpa penjaga, memberikan kegembiraan yang mendalam. Lalu teringatlah olehku para malaikat yang menulis amal manusia. Aku memandang, dan ternyata mereka pun memiliki banyak buah yang manis, persis seperti buah ini.

SALAH SATUNYA: Setiap manusia berusaha dengan penuh kerinduan menjaga satu ucapan dan satu perbuatannya yang berharga melalui tulisan dan syair, bahkan melalui sinema, agar perbuatan itu tetap kekal. Terlebih lagi apabila perbuatan-perbuatan itu memiliki buah yang kekal di surga, tentu ia akan lebih ingin lagi. Bahwa "Kirâman Kâtibîn" berdiri di atas kedua bahu manusia, lalu memperlihatkan perbuatan-perbuatan itu di dalam pemandangan-pemandangan yang abadi dan memberikan pahala yang terus-menerus kepada pemiliknya — hal itu terasa demikian manis bagiku sehingga tidak dapat aku gambarkan.

Kemudian, di dalam upaya ahli dunia mengasingkan aku dari segala sesuatu di dalam kehidupan bermasyarakat, mereka memisahkan aku dari seluruh kitabku, dari sahabat-sahabatku, dari para pelayanku,

dan dari pekerjaan-pekerjaan yang menghibur; dan bersamaan dengan itu, ketika kesepian perantauan menghimpit diriku dan dunia yang hampa runtuh menimpa kepalaku, salah satu dari sekian banyak buah iman kepada malaikat datang menolongku. Ia meramaikan kainatku dan duniaku, memenuhinya dengan para malaikat dan makhluk-makhluk ruhani, serta membuat alamku tertawa penuh kegembiraan. Dan ia memperlihatkan bahwa dunia orang-orang yang sesat menangis karena sepi, hampa, dan gelap.

Ketika khayalku sedang bergembira karena kelezatan buah ini, ia mengambil dan mencicipi satu buah yang serupa dengan itu dari sekian banyak buah iman kepada seluruh nabi. Tiba-tiba, iman dan pembenaranku kepada mereka — seakan-akan aku telah hidup bersama para nabi di segenap zaman yang telah lalu — menerangi zaman-zaman itu, menjadikan imanku menyeluruh, dan meluaskannya. Dan ia membubuhkan ribuan tanda tangan bagi dakwaan-dakwaan Nabi kita Akhir Zaman صلى الله عليه وسلم yang berkenaan dengan iman, serta membungkam setan-setan.

Tiba-tiba sebuah pertanyaan yang jawaban pastinya terdapat di dalam Lem'a Hikmatul-Isti'âdzah terlintas di dalam hatiku, yaitu:

"Padahal buah-buah manis yang tak terhingga seperti buah-buah ini, berbagai manfaat, hasil-hasil yang amat indah dari kebaikan-kebaikan beserta faedahnya, serta taufik dan inayah Arhamur-Râhimîn yang penuh kasih sayang telah menolong dan memberi kekuatan kepada orang-orang yang mendapat hidayah, mengapa orang-orang yang sesat sering kali menang, dan kadang dua puluh orang dari mereka mencerai-beraikan seratus orang yang mendapat hidayah?" — demikianlah ditanyakan kepadaku secara maknawi. Dan di dalam tafakur ini, terlintaslah dalam ingatan pengerahan besar-besaran Al-Qur'an terhadap tipu daya setan yang amat lemah, serta pengiriman para malaikat dan pertolongan Allah kepada ahli iman. Karena Risale-i Nur telah menjelaskan hikmahnya dengan hujah-hujah yang pasti, kami hanya memberikan isyarat yang amat singkat bagi jawaban pertanyaan itu:

Ya, terkadang, karena seorang gelandangan yang tersembunyi lagi berbahaya berusaha melemparkan api ke sebuah istana, wujud istana itu baru dapat bertahan dengan penjagaan seratus orang — sebagaimana pembangunannya pun memerlukan seratus orang — dan terkadang dengan berlindung kepada negara serta kepada sultan. Sebab wujudnya hanya dapat terjadi dengan adanya seluruh syarat, seluruh rukun, dan seluruh sebab. Akan tetapi, lenyap dan hancurnya istana itu terjadi hanya dengan tidak adanya satu syarat saja; dan sebagaimana ia terbakar lalu musnah oleh sebatang korek api seorang gelandangan, demikian pula setan-setan dari kalangan manusia dan jin menimbulkan kerusakan besar serta kebakaran maknawi yang dahsyat hanya dengan sedikit perbuatan.

Ya, ragi dan dasar dari semua keburukan, dosa, dan kejahatan ialah tiadanya wujud dan perbuatan merusak. Di bawah sesuatu yang secara lahir tampak berwujud, tersembunyilah tiada dan perbuatan merusak.

Maka karena setan-setan dari kalangan jin dan manusia serta para penjahat, dengan bersandar pada titik ini, bertahan dengan kekuatan yang amat lemah menghadapi kekuatan yang tak terhingga, dan setiap waktu memaksa ahli haq dan hakikat untuk berlindung serta berlari kepada hadirat Allah, maka Al-Qur'an melakukan pengerahan besar-besaran demi melindungi mereka. Ia menyerahkan sembilan puluh sembilan asma Ilahi ke tangan mereka. Ia memberikan perintah-perintah yang sangat keras agar mereka teguh menghadapi musuh-musuh itu.

Dari jawaban ini, tiba-tiba tampaklah ujung sebuah hakikat yang amat besar dan dasar sebuah persoalan yang agung lagi dahsyat. Yaitu demikian:

Sebagaimana surga membawa hasil panen seluruh alam wujud dan menumbuhkan benih-benih yang ditanam dunia menjadi bulir-bulir yang kekal selamanya, demikian pula neraka membakar hasil-hasil tiada itu untuk memperlihatkan akibat-akibat yang amat pedih dari alam tiada dan alam kehampaan yang tak terhingga lagi dahsyat; dan pabrik neraka yang dahsyat itu, di antara tugas-tugasnya yang lain, membuat kainat alam wujud dibersihkan dari kotoran-kotoran alam tiada. Untuk sementara ini kami tidak akan membuka pintu persoalan yang dahsyat ini. Insya Allah akan dijelaskan kemudian.

Selain itu, sebagian dari buah iman kepada malaikat dan sebuah contoh yang berkaitan dengan Munkar dan Nakir ialah sebagai berikut:

Dengan mengatakan, "Seperti semua orang, aku pun pasti akan memasukinya," aku masuk ke dalam kuburku secara khayali. Dan ketika di dalam kubur aku diliputi rasa ngeri karena kesepian dan rasa putus asa di dalam pengasingan mutlak, di sebuah kurungan sendirian yang sunyi, tanpa siapa pun, gelap, dingin, lagi sempit, tiba-tiba datanglah dua sahabat yang diberkahi dari golongan Munkar dan Nakir. Mereka mulai bersoal jawab denganku. Hatiku dan kuburku pun melapang, bercahaya, dan menghangat; jendela-jendela terbuka ke alam arwah. Aku pun bergembira dengan segenap jiwaku dan bersyukur atas keadaan yang kini kulihat secara khayali dan kelak di masa depan akan kulihat secara nyata.

Seorang murid madrasah yang mempelajari ilmu saraf dan nahwu wafat, lalu di dalam kubur, menghadapi pertanyaan Munkar dan Nakir, ٔمَنْ رَبُّكَ "Siapakah Rabb-mu?", ia menyangka dirinya berada di madrasah dan menjawab dengan ilmu nahwu, katanya: "

مَنْ adalah mubtada, رَبُّكَ adalah khabarnya; tanyakanlah kepadaku persoalan yang sulit, yang ini mudah." — dengan ucapan itu ia membuat tertawa para malaikat itu, ruh-ruh yang hadir, serta seorang wali penyingkap keadaan kubur yang berada di sana lagi menyaksikan peristiwa itu, dan ia membuat rahmat Ilahi tersenyum, sehingga ia pun selamat dari azab; sebagaimana pula almarhum Hafiz Ali, seorang pahlawan syahid Risale-i Nur, yang wafat di penjara ketika sedang menulis dan membaca Risalah Buah dengan kecintaan yang sempurna, lalu di dalam kubur menjawab malaikat penanya dengan hakikat-hakikat Risalah Buah seperti di dalam mahkamah; demikian pula aku dan para murid Risale-i

Nur, dengan hujah-hujah Risale-i Nur yang cemerlang lagi kuat, kelak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu secara nyata di masa depan dan secara maknawi pada saat ini, lalu menggiring mereka untuk membenarkan, memuji, dan mengucapkan selamat, insya Allah.