Selain itu, sebuah contoh kecil dari iman kepada malaikat yang menjadi sebab kebahagiaan duniawi ialah demikian:
Sinar-Sinar · hlm. 317
Yaitu, seorang anak yang tak berdosa, yang mengambil pelajaran iman dari kitab ilmihal, berkata kepada anak lain yang menangis di sisinya dan meratap karena kematian saudaranya yang tak berdosa: "Janganlah menangis, bersyukurlah. Saudaramu telah pergi ke surga bersama para malaikat; di sana ia berjalan-jalan, ia akan lebih bersenang-senang daripada kita, ia akan terbang seperti malaikat, dan dapat menyaksikan segala tempat." — lalu ia pun mengubah tangisan si peratap menjadi senyum dan kegembiraan.
Aku pun, persis seperti anak yang menangis itu, menerima dua kabar kematian yang amat pedih pada musim dingin yang menyayat ini dan dalam keadaanku yang menyakitkan. Yang pertama, keponakanku almarhum Fuad, yang meraih peringkat pertama di sekolah-sekolah tinggi sekaligus menyebarkan hakikat-hakikat Risale-i Nur; yang kedua, saudariku almarhumah, seorang alimah bernama Hanım, yang pergi menunaikan haji lalu wafat di tengah tawaf ketika ia bertawaf dalam keadaan sakratulmaut. Ketika kematian dua kerabatku ini membuatku menangis seperti kematian almarhum Abdurrahman yang ditulis di dalam Risalah Orang Tua, dengan cahaya iman aku melihat secara maknawi dan dengan hati bahwa Fuad yang tak berdosa itu dan Hanım yang salihah itu telah menjadi sahabat para malaikat dan bidadari sebagai ganti manusia, serta telah selamat dari bahaya dan dosa dunia ini. Sebagai ganti kesedihan yang dahsyat itu aku merasakan kegembiraan yang besar, lalu aku mengucapkan selamat kepada mereka berdua, kepada saudaraku Abdülmecid ayah Fuad, dan kepada diriku sendiri, seraya bersyukur kepada Arhamur-Râhimîn. Ini dituliskan dan dicatat di sini dengan niat doa rahmat bagi dua almarhum itu.
Seluruh timbangan dan perbandingan di dalam Risale-i Nur menerangkan buah-buah iman yang menjadi sebab kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Dan buah-buah yang menyeluruh lagi besar itu, dari sisi kebahagiaan hidup serta kelezatan umur yang mereka perlihatkan di dunia ini, memberitakan bahwa iman setiap mukmin akan mendatangkan baginya kebahagiaan abadi, bahkan akan menumbuhkan bulir dan mekar dalam bentuk itu.
Dan dari buah-buahnya yang menyeluruh lagi amat banyak itu, lima buah telah ditulis sebagai buah mikraj di akhir Kelimat Ketiga Puluh Satu, dan lima buah ditulis sebagai contoh di dalam Cabang Kelima dari Kelimat Kedua Puluh Empat. Sebagaimana masing-masing rukun iman memiliki buah yang amat banyak, bahkan tak terhingga, secara tersendiri, demikian pula di antara sekian banyak buah dari keseluruhannya sekaligus, satu buahnya ialah surga yang luas, satunya lagi kebahagiaan abadi, dan satunya lagi — bahkan mungkin yang paling manis — ialah memandang Allah,
demikian telah kami katakan di awal. Dan di dalam perbandingan pada akhir Kelimat Ketiga Puluh Dua, sebagian buah iman yang menjadi sebab kebahagiaan dua negeri telah dijelaskan dengan indah.
Satu dalil bahwa buah-buah berharga dari rukun iman kepada takdir terdapat di dunia ini ialah bahwa مَنْ اٰمَنَ بِالْقَدَرِ اَمِنَ مِنَ الْكَدَرِ telah menjadi peribahasa di lisan orang banyak. Yakni, "Siapa yang beriman kepada takdir, ia selamat dari duka." Di akhir Risalah Takdir, dengan sebuah perumpamaan yang indah tentang masuknya dua orang ke taman sebuah istana yang megah, telah diterangkan satu buahnya yang menyeluruh. Bahkan aku sendiri, dengan ribuan pengalaman di dalam hidupku, telah melihat dan mengetahui bahwa jika tidak ada iman kepada takdir, kebahagiaan hidup duniawi akan musnah. Setiap kali aku memandang dari sisi iman kepada takdir di dalam musibah-musibah yang pedih, kulihat musibah itu menjadi sangat ringan. Dan aku pun heran, bagaimana orang yang tidak beriman kepada takdir dapat hidup.
Salah satu buah menyeluruh dari rukun iman kepada malaikat telah diisyaratkan demikian di dalam Maqam Kedua dari Kelimat Kedua Puluh Dua: Malaikat Izrail alaihissalam bermunajat kepada Allah dan berkata: "Dalam tugas mencabut nyawa, hamba-hamba-Mu akan merajuk kepadaku dan mengeluhkan aku." Sebagai jawaban dikatakan kepadanya: "Aku akan menjadikan penyakit dan musibah sebagai tabir bagi tugasmu, agar keluhan hamba-hamba-Ku tertuju kepadanya, bukan kepadamu."
Persis seperti tabir-tabir ini, tugas Malaikat Izrail alaihissalam pun merupakan sebuah tabir, agar keluhan yang tidak pada tempatnya tidak sampai kepada Allah. Sebab tidak setiap orang dapat melihat sisi hikmah, rahmat, keindahan, dan kemaslahatan di dalam kematian. Ia memandang yang lahir lalu membantah dan mulai mengeluh. Maka dengan hikmah agar keluhan yang tidak pada tempatnya itu tidak sampai kepada Sang Rahîm Mutlak, Malaikat Izrail alaihissalam pun menjadi tabir.
Persis seperti ini pula, tugas seluruh malaikat, bahkan tugas seluruh sebab lahiriah, adalah tabir-tabir bagi keperkasaan rububiyah. Agar pada hal-hal yang keindahannya tidak tampak dan hikmahnya tidak diketahui, keperkasaan serta kesucian kudrat Ilahi dan luasnya liputan rahmat-Nya tetap terjaga dan tidak menjadi sasaran bantahan; dan agar bersentuhannya kudrat dengan hal-hal yang hina, tidak penting, lagi tanpa belas kasihan tidak tampak pada pandangan lahir. Padahal, bahwa tidak ada satu sebab pun yang memiliki pengaruh hakiki dan sedikit pun kemampuan untuk mengadakan, serta bahwa cap-cap tauhid pada segala sesuatu menunjukkan hal itu secara pasti, telah dibuktikan oleh Risale-i Nur dengan dalil-dalilnya yang tak terhingga.
Mencipta dan mengadakan adalah khusus milik-Nya. Sebab-sebab hanyalah sebuah tabir. Makhluk-makhluk berkesadaran seperti malaikat, hanya dengan kehendak bebas mereka, tidak memiliki apa pun di tangan mereka selain sesuatu yang bersifat sebagian,
tanpa penciptaan, yaitu sejenis khidmah fitri dan sejenis ubudiyah amali yang disebut kasb.
Ya, keperkasaan dan keagungan menghendaki agar sebab-sebab menjadi penjaga tabir bagi tangan kudrat dalam pandangan akal.
Tauhid dan ahadiyah menghendaki agar sebab-sebab menarik tangannya dari pengaruh yang hakiki.
Maka sebagaimana para malaikat dan sebab-sebab lahiriah yang dipekerjakan dalam urusan-urusan kebaikan dan urusan yang bersifat wujud menjaga kudrat Rabbani dari cacat dan dari kezaliman pada hal-hal yang keindahannya tidak tampak dan tidak diketahui, sehingga masing-masing menjadi sarana untuk menyucikan Allah dan bertasbih kepada-Nya;
demikian pula, dipakainya setan-setan dari kalangan jin dan manusia serta zat-zat yang berbahaya dalam urusan-urusan kejahatan dan urusan yang bersifat tiada pun berkhidmah untuk menyucikan Ar-Rabb dan bertasbih kepada-Nya, serta untuk menyatakan bahwa Dia bersih dan suci dari segala cacat di dalam kainat, yaitu dengan menyelamatkan kudrat Subhani dari kezaliman, dari bantahan yang tidak pada tempatnya, dan dari menjadi sasaran keluhan. Sebab seluruh cacat datang dari tiada, dari tidak adanya kemampuan, dari perbuatan merusak, dan dari tidak menjalankan tugas — yang semuanya adalah bentuk tiada — serta dari perbuatan-perbuatan yang bersifat tiada, bukan yang bersifat wujud.
Tabir-tabir setani lagi jahat ini menjadi tempat kembali bagi segala cacat itu, lalu dengan menerima bantahan dan keluhan atas dirinya sendiri secara berhak, mereka menjadi sarana untuk menyucikan Allah. Memang, di dalam pekerjaan yang jahat, yang bersifat tiada, dan yang merusak, tidak diperlukan kekuatan dan kekuasaan; dengan sedikit perbuatan dan kekuatan yang kecil, bahkan hanya dengan tidak menjalankan tugas, terkadang banyak hal lenyap dan rusak secara besar-besaran. Para pelaku jahat itu disangka berkuasa. Padahal mereka tidak memiliki pengaruh apa pun selain melenyapkan, dan tidak memiliki kekuatan apa pun di luar kasb yang kecil. Akan tetapi, karena kejahatan-kejahatan itu datang dari tiada, para penjahat itulah pelaku hakikinya. Secara berhak, jika mereka makhluk berkesadaran, mereka menanggung hukuman. Jadi, di dalam keburukan-keburukan, merekalah para pelakunya.
Akan tetapi, karena pada kebaikan-kebaikan, pada segala yang baik, dan pada amal saleh terdapat wujud, maka orang-orang baik itu bukanlah pelaku dan pemberi pengaruh yang hakiki. Mereka hanyalah penerima; mereka menerima limpahan karunia Ilahi, dan pahala mereka pun semata-mata anugerah dari Allah — demikianlah Al-Qur'an Al-Hakîm berfirman: مَٓا اَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ وَمَٓا اَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ