Risale-i NurSinar-Sinar

Kesimpulannya:

Sinar-Sinar · hlm. 321

Ketika kainat-kainat wujud dan alam-alam tiada yang tak terhingga saling berbenturan dan membuahkan buah-buah seperti surga dan neraka, dan ketika seluruh alam wujud mengucapkan اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ sedangkan seluruh alam tiada mengucapkan

سُبْحَانَ اللّٰهِ سُبْحَانَ اللّٰهِ, dan ketika dengan hukum perjuangan yang meliputi segalanya para malaikat bergulat dengan setan-setan, kebaikan dengan kejahatan, hingga ilham dengan waswas di sekitar hati, tiba-tiba buah iman kepada malaikat ini pun bersinar, menyelesaikan persoalan itu, dan menerangi kainat yang gelap. Ia memperlihatkan kepada kita satu cahaya dari cahaya-cahaya ayat اَللّٰهُ نُورُ السَّمٰوَاتِ وَالْاَرْضِ dan membuat kita merasakan betapa manis buah ini.

Kepada buah menyeluruh yang kedua telah diisyaratkan oleh Kelimat Kedua Puluh Empat dan Kelimat Kedua Puluh Sembilan — yang memperlihatkan keramat huruf-huruf alif — dan keduanya telah membuktikan keberadaan malaikat serta tugas mereka dengan cara yang cemerlang. Ya, di seluruh penjuru kainat, pada segala sesuatu yang juz'i maupun kulli, pada setiap jenis, terdapat keagungan rububiyah yang penuh kasih di dalam usaha memperkenalkan diri-Nya dan mencintakan diri-Nya; maka sudah pasti dan sudah semestinya keagungan itu, kasih sayang itu, upaya memperkenalkan diri itu, dan upaya mencintakan diri itu disambut dengan sebuah ubudiyah yang luas, meliputi, lagi berkesadaran — sambil bersyukur dan menyucikan Allah. Dan tugas itu, atas nama benda-benda mati yang tidak berkesadaran serta atas nama rukun-rukun kainat yang agung, hanya dapat dilaksanakan oleh malaikat yang tidak terhingga banyaknya; hanya merekalah yang dapat mewakili tindakan-tindakan kerajaan rububiyah itu yang penuh hikmah lagi penuh keagungan di segala penjuru: di tanah maupun di gugusan bintang Tsurayya, di dasar bumi maupun di permukaannya.

Misalnya, penciptaan bumi dan keadaan fitrinya, yang oleh hukum-hukum filsafat yang tak berjiwa ditampilkan begitu gelap dan menakutkan, oleh buah ini ditampilkan dengan cara yang bercahaya lagi akrab: yaitu bahwa bumi berada di atas pundak dua malaikat yang bernama Sevr (Sapi Jantan) dan Hut (Ikan) — yakni di bawah pengawasan keduanya — dan bahwa sebuah materi ukhrawi, sebuah hakikat, yang bernama Sahrah telah didatangkan dari surga untuk menjadi batu dasar yang kekal bagi bumi yang fana ini, yakni sebagai isyarat bahwa kelak sebagiannya akan dipindahkan ke surga yang kekal, lalu dijadikan titik sandaran bagi malaikat Sevr dan Hut. Demikianlah riwayat yang datang dari para nabi terdahulu Bani Israil, dan diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas. Sayang sekali, makna suci ini, yakni perumpamaan tersebut, dengan berlalunya waktu dianggap sebagai hakikat dalam pandangan orang awam, sehingga ia mengambil bentuk yang berada di luar jangkauan akal.

Selama malaikat dapat berjalan di dalam tanah, di dalam batu, dan di pusat bumi sebagaimana mereka berjalan di udara, maka sudah pasti mereka dan bumi tidak membutuhkan batu, ikan, dan sapi jantan yang bersifat jasmani untuk dijadikan tempat berpijak.

Dan misalnya pula, karena bumi bertasbih dengan kepala sebanyak jumlah jenis makhluk yang ada padanya, dengan lidah sebanyak jumlah individu dari jenis-jenis itu, dan dengan tasbih sebanyak jumlah anggota tubuh, daun, dan buah dari individu-individu itu, maka sudah pasti ubudiyah fitri yang agung dan

tidak berkesadaran itu memiliki seorang malaikat yang ditugaskan atasnya — malaikat yang berkepala empat puluh ribu, yang setiap kepalanya berlidah empat puluh ribu, dan yang dengan setiap lidah melakukan empat puluh ribu tasbih — untuk mewakili ubudiyah itu dengan penuh pengetahuan dan kesadaran serta mempersembahkannya ke hadirat Ilahi; dan Sang Pembawa Kabar Yang Benar صلى الله عليه وسلم telah mengabarkan hal itu sebagai hakikat yang sebenar-benarnya.

Adapun Malaikat Jibril alaihissalam, yang menyampaikan dan menampakkan hubungan Rabbani dengan manusia yang merupakan hasil terpenting dari penciptaan kainat; Malaikat Israfil alaihissalam dan Malaikat Izrail alaihissalam, yang hanya mewakili dan mengawasi dengan penuh ubudiyah tindakan-tindakan Ilahi yang khusus milik Sang Khâliq, yaitu menghidupkan, memberi kehidupan, dan melepaskan dari tugas melalui kematian — tindakan yang paling agung lagi paling dahsyat di alam makhluk hidup; dan Malaikat Mikail alaihissalam, yang di samping mengawasi karunia-karunia Rahmani pada rezeki, yaitu rahmat yang paling terhimpun, paling luas, lagi paling nikmat di dalam lingkaran kehidupan, juga mewakili dengan kesadaran syukur-syukur yang tidak berkesadaran: bahwa malaikat-malaikat semacam mereka itu ada dengan hakikat diri yang sungguh menakjubkan, bahwa mereka benar-benar wujud, dan bahwa ruh-ruh itu kekal selamanya — semuanya adalah tuntutan dari kerajaan dan keagungan rububiyah. Wujud mereka dan wujud golongan-golongan khusus dari masing-masing mereka adalah pasti dan tidak diragukan, sepasti wujud kerajaan dan keagungan yang tampak bagaikan matahari di dalam kainat. Perkara-perkara lain yang berkaitan dengan malaikat hendaklah dikiaskan kepada hal-hal ini.

Ya, Sang Qadîr Dzul-Jalâli wal-Jamâl yang menciptakan empat ratus ribu jenis makhluk hidup di bumi, yang bahkan menciptakan makhluk-makhluk bernyawa dalam jumlah yang amat banyak dari materi-materi yang paling hina dan paling busuk, yang meramaikan segala penjuru dengan mereka, yang membuat mereka mengucapkan “Masyaallah, Barakallah, Subhanallah” dengan lidah mereka sendiri terhadap mukjizat-mukjizat seni-Nya, dan yang membuat hewan-hewan kecil itu mengucapkan “Alhamdulillah, Wasy-syukru lillah, Allahu akbar” sebagai balasan atas karunia-karunia rahmat-Nya — Dia sudah pasti, tanpa ragu dan tanpa syak, telah menciptakan penghuni-penghuni dan makhluk-makhluk ruhani yang sepadan dengan langit-langit yang mahaluas, yang tidak pernah durhaka dan senantiasa berada dalam ubudiyah; Dia telah meramaikan langit-langit itu dan tidak membiarkannya kosong. Dan Dia telah mengadakan jenis-jenis malaikat yang jauh lebih banyak lagi lebih beragam daripada golongan-golongan hewan: sebagian dari mereka, dalam bentuk yang amat kecil, menaiki tetes-tetes hujan dan butir-butir salju seraya mengelu-elukan seni dan rahmat Ilahi dengan lidah mereka sendiri; sebagian lagi menaiki bintang-bintang yang beredar dan, di dalam perjalanan mereka menjelajahi ruang angkasa kainat, mengumumkan ubudiyah mereka kepada seluruh alam dengan takbir dan tahlil di hadapan kebesaran, keperkasaan, dan keagungan rububiyah.

Ya, kesepakatan seluruh kitab samawi dan seluruh agama sejak zaman Adam atas wujud malaikat dan ubudiyah mereka, serta penukilan dan periwayatan bahwa percakapan dan dialog dengan malaikat telah terjadi di tengah manusia pada segala abad melalui tawatur yang berlimpah — semua itu, sebagaimana wujud manusia-manusia

Amerika yang tidak kita lihat, membuktikan secara pasti wujud malaikat dan bahwa mereka mempunyai kaitan dengan kita.

Nah, sekarang marilah, pandanglah dan cicipilah buah menyeluruh yang kedua ini dengan cahaya iman; lihatlah bagaimana ia meramaikan dan memperindah kainat dari ujung ke ujung serta mengubahnya menjadi sebuah masjid teragung dan sebuah rumah ibadah yang besar. Dan sebagai lawan dari gambaran sains dan filsafat yang dingin, tanpa kehidupan, gelap, lagi menakutkan, ia memperlihatkan sebuah kainat yang hidup, berkesadaran, bercahaya, akrab, lagi manis; sehingga ia membuat ahli iman mencicipi sekilau cahaya kelezatan hidup yang kekal, bahkan di dunia ini pula, sesuai dengan tingkatan masing-masing.