SEBUAH PERANGAI BEDÎÜZZAMAN YANG MEMBUAT AKAL TERCENGANG
Sinar-Sinar · hlm. 513
(Diterbitkan di dalam majalah Ehl-i Sünnet edisi bertanggal 15 Oktober 1948. Ini adalah artikel seorang pengacara, pemilik surat kabar Ehl-i Sünnet.)
Ketika aku tertawan dalam keadaan terluka di kedudukan Bitlis pada Perang Dunia Pertama, Bedîüzzaman pun jatuh sebagai tawanan pada hari itu. Ia dikirim ke Siberia dan berada di kamp tawanan yang terbesar. Adapun aku berada di Pulau Nargin, Baku. Pada suatu hari, kepada Nikola Nikolaviç yang datang untuk memeriksa para tawanan dan yang ketika berkeliling kamp melewati hadapan Bedîüzzaman, ia sama sekali tidak memberi arti
penting dan tidak beranjak dari tempatnya. Hal itu menarik perhatian panglima tertinggi. Dengan suatu alasan ia kembali melewati hadapannya. Bedîüzzaman tetap tidak beranjak. Pada kali yang ketiga, ia berhenti di hadapannya, lalu melalui perantaraan juru bahasa terjadilah percakapan berikut di antara mereka:
—Tidakkah Tuan mengenal saya?
—Ya, saya mengenal. Nikola Nikolaviç, paman Tsar. Panglima Tertinggi Front Kaukasus.
—Kalau begitu, mengapa Tuan menghina saya?
—Tidak, maafkanlah saya; saya tidak menghina Tuan. Saya mengerjakan apa yang diperintahkan oleh hal-hal yang saya sucikan.
—Apa gerangan yang diperintahkan oleh hal-hal yang disucikan itu?
—Saya seorang ulama Muslim. Di dalam hati saya ada iman. Orang yang pada dirinya ada iman lebih utama daripada orang yang tidak memiliki iman. Seandainya saya berdiri untuknya, tentulah saya telah berlaku tidak hormat kepada hal-hal yang saya sucikan. Karena itulah saya tidak berdiri.
—Kalau demikian, dengan mengatakan saya tidak beriman, ia telah menghina pribadi saya, tentara saya, bangsa saya, dan juga Tsar. Segera periksalah ia di hadapan sidang Mahkamah Militer.
Atas perintah ini Mahkamah Militer pun dibentuk. Para perwira Turki, Jerman, dan Austria yang berada di markas, seorang demi seorang memohon kepada Bedîüzzaman dan mendesaknya agar meminta maaf kepada panglima tertinggi. Jawaban yang diberikannya adalah ini:
—Saya hendak berpindah ke negeri akhirat dan sampai ke hadapan Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Saya memerlukan sebuah paspor. Saya tidak dapat berbuat yang bertentangan dengan iman saya.
Terhadap hal itu tak seorang pun bersuara; mereka menanti hasilnya. Pemeriksaan pun selesai. Mereka menjatuhkan putusan hukuman mati atas pasal penghinaan terhadap Tsar Rusia dan tentara Rusia. Kepada perwira yang memimpin satu regu tentara yang datang untuk melaksanakan putusan itu, dengan wajah yang sangat berseri ia berkata: "Izinkanlah saya menunaikan tugas saya selama lima belas menit." Lalu, ketika ia berwudu dan sedang mengerjakan salat dua rakaat, Nikola Nikolaviç datang dan berkata kepadanya:
—Maafkanlah saya! Saya menyangka bahwa Tuan melakukan perbuatan itu untuk menghina saya. Saya pun memperlakukan Tuan menurut undang-undang. Akan tetapi, kini saya memahami bahwa perbuatan Tuan itu Tuan ambil dari iman Tuan, dan Tuan menjalankan perintah-perintah dari hal-hal yang Tuan sucikan. Putusan atas Tuan telah dibatalkan;
karena salahat (kesalihan) agama Tuan, Tuan layak dipuji; saya telah mengganggu Tuan, berulang kali saya memohon, maafkanlah saya.
Keteguhan agama dan perangai yang tinggi ini — yang layak menjadi teladan bagi seluruh kaum Muslimin — dituturkan oleh seorang kapten, salah seorang teman mereka, berdasarkan apa yang disaksikannya sendiri. Setiap kali mendengarnya, tanpa kuasa menahan diri, mataku pun penuh dengan air mata.