SEBUAH UNGKAPAN MAKSUD
Sinar-Sinar · hlm. 752
Hendaklah dimaklumi bahwa dengan menerangkan nilai dan pentingnya Risale-i Nur, aku hendak memaklumkan hakikat-hakikat Al-Qur'an dan rukun-rukun iman, hendak mengajak orang-orang yang imannya menjadi lemah kepada hakikat-hakikat itu, serta hendak memperlihatkan kekuatan dan kebenarannya. Bukan — mustahil dan sekali-kali tidak! — untuk membuat orang menyukai diriku dan nafsu ammarahku yang dari segi mana pun tidak kusukai, dan bukan pula untuk memuji keduanya.
Lagi pula, aku tidak memuji Risale-i Nur dari sisi bahwa secara lahir ia adalah karyaku. Melainkan aku menerangkan keistimewaannya semata-mata dari sisi bahwa ia adalah sebuah tafsir Al-Qur'an, seorang penerjemah hakiki yang terilhami dari Al-Qur'an, serta hujah-hujah iman dan penyerunya. Bahkan, sebagaimana sebagian risalah kutulis di luar kehendakku, demikian pula dalam menyebutkan pentingnya Risale-i Nur aku berada dalam kedudukan tanpa kehendak.
Tidak ada lagi keraguan padaku bahwa karamah Jaljalutiyah ini diberikan oleh inayah Ilahi sebagai balasan yang disegerakan, sebagai tanda diterimanya amal, dan sebagai sumber dorongan atas besarnya kesukaran yang kutanggung dalam menulis Risalah Sinar Ketujuh yang oleh Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu diberi nama Ayatul Kubra. Dalam rangka menyebut nikmat Allah, aku pun menuliskannya sebagai Sinar Kedelapan. Kalau tidak, aku hendak menuliskan burhan-burhan yang mengandung mukjizat dari sebuah ayat penting mengenai kebangkitan.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ