Risale-i NurSinar-Sinar

Perincian Mengenai Kekeliruan pada Ayat Kedua Puluh Sembilan

Sinar-Sinar · hlm. 748

Dari sebuah kekeliruan kecil aku melihat sebuah isyarat gaib yang kuat. Darinya aku mengetahui bahwa kekeliruan itu ternyata memang untuk hal ini. Yaitu demikian:

Ayat kedua puluh sembilan dari İşarat-ı Kur'aniye yang merupakan Sinar Pertama, yaitu pada permulaan Surah Ibrahim, di dalam الٓرٰ كِتَابٌ اَنْزَلْنَاهُ اِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ اِلَى النُّورِ بِاِذْنِ رَبِّهِمْ, kepada kalimat اِلَى النُّورِ بِاِذْنِ رَبِّهِمْ,

kedudukan jifirnya secara keliru dihitung seribu tiga ratus tiga puluh empat (1334), lalu dikatakan bahwa ia memandang dengan tawafuk kepada tarikh munculnya dan dicetaknya tafsir Isyaratul I'jaz yang merupakan Fatihah bagi Risale-i Nur. Padahal kedudukan huruf-hurufnya yang terlafalkan adalah seribu tiga ratus tiga puluh sembilan (1339), sehingga ia memandang dengan penuh penghargaan — melalui tawafuk — kepada tarikh tersiarnya tafsir itu secara luar biasa dan kepada tarikh ketika naskah-naskah yang dikirimkan oleh Darulhikmah kepada kebanyakan mufti, dari sisi penjagaan dari guncangan berbagai revolusi lahir dan batin yang berulang-ulang, menjadi benteng — sebagaimana ditunjukkan banyak tanda dan diakui para mufti sendiri — serta menjadi pedang intan di tangan kebanyakan mufti. Jika dua "alif" yang tidak dibaca turut dihitung, maka jumlahnya seribu tiga ratus empat puluh satu (1341), sehingga ia memandang dengan tawafuk yang tepat sekali kepada awal mula munculnya Risale-i Nur.

Kekeliruan kecil ini seketika mengingatkan dengan kuat kepada sebuah makna, yaitu: yang memandang kepada Risale-i Nur secara ramzi bukan hanya empat kalimat dari ayat di permulaan Surah Ibrahim alaihissalam itu, melainkan sampai ke akhir halaman pertama itu — dari sisi hubungan-hubungan maknawinya, dengan sebuah makna yang ramzi, dan di antara satuan-satuannya yang sangat banyak — ia memberi isyarat halus kepada Risale-i Nur dengan sebuah kekhususan yang tersembunyi, lalu memandang kepadanya secara ramzi. Untuk saat ini aku belum dapat menerangkan hakikat yang ramzi itu. Hanya sebuah isyarat singkat yang akan diberikan.

Benar, karena ragi dan masyrab Risale-i Nur adalah tafakur dan kasih sayang, maka dengan rahasia tawafuknya yang sempurna pada sisi tafakur dan kasih sayang — yang merupakan masyrab khusus Nabi Ibrahim alaihissalam — surah ini lebih banyak merangkul Risale-i Nur ke dalam pangkuannya. Sebagaimana ayat di permulaannya, dengan empat kalimat, menunjuk kepada sebuah nur yang keluar dari Al-Qur'an dan yang mengeluarkan manusia menuju cahaya dari dalam kelam bertumpuk kelam, dari dalam gelap bertumpuk gelap abad yang paling gelap, demikian pula ia menggambarkan orang-orang yang berada di dalam gelap yang paling pekat dan yang berjalan menentang arus Risale-i Nur. Ayat Ketiga: اَلَّذ۪ينَ يَسْتَحِبُّونَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا عَلَى الْاٰخِرَةِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَب۪يلِ اللّٰهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا اُولٰٓئِكَ ف۪ى ضَلَالٍ بَع۪يدٍ

Ayat ini pun, dengan tiga kalimatnya, dari sisi sebagian hubungan maknawi dan kesesuaian makna, memandang secara isyarat halus baik kepada jalan yang ditempuh Risale-i Nur maupun kepada jalan yang ditempuh orang-orang yang ingkar kepada Allah.

Dan dengan kalimat pertamanya ia berkata: "Orang-orang celaka itu — sebagaimana ditunjukkan oleh bergabungnya sebagian ahli iman kepada mereka padahal iman ada bersama mereka, dan bergabungnya sebagian ahli ilmu kepada mereka padahal mereka mengetahui akhirat dengan sempurna — dengan sadar dan dengan senang hati

lebih mengutamakan kehidupan dunia daripada agama dan akhirat, yakni seperti orang yang telah mengenal dan menemukan intan namun lebih memilih pecahan kaca seharga lima sen daripadanya; mereka dengan keras kepala lebih mengutamakan hidup berfoya-foya daripada perasaan keagamaan, lalu berbangga dengan tidak beragama."

Kalimat ini memiliki kekhususan bagi abad ini. Sebab tidak ada satu abad pun yang memperlihatkan corak semacam ini. Pada abad-abad lain, orang-orang yang sesat itu tidak mengetahui akhirat dan mengingkarinya. Mereka tidak mengenal intan sebagai intan, lalu memilih dunia.

Dan dengan kalimat keduanya, yaitu وَ يَصُدُّونَ عَنْ سَب۪يلِ اللّٰهِ, ia berkata: "Karena orang-orang celaka itu tersesat akibat kecintaan kepada kehidupan dunia dan akibat sikap membangkang, mereka tidak berhenti pada keadaan mereka sendiri, melainkan melampaui batas. Dengan penuh permusuhan terhadap agama yang mereka ketahui dan yang dengannya nenek moyang mereka terikat, mereka hendak mengeringkan sumber-sumbernya, merusak dasar-dasarnya, serta menutup pintu-pintu dan jalan-jalannya."

Dan dengan kalimat ketiganya, yaitu وَ يَبْغُونَهَا عِوَجًا, ia berkata: "Karena mereka tersesat akibat sains dan filsafat, hal itu memberikan kepada mereka sebuah kesombongan yang aneh, sikap ala firaun yang ganjil, dan ananiyah (keakuan) yang dahsyat, sehingga nafsu mereka begitu dimanjakan; maka karena mereka tidak melihat sinar-sinar hukum Ilahi yang mengatur kainat serta kaidah-kaidah hakikat itu di alam manusia sebagai sesuatu yang sesuai dengan hawa nafsu mereka yang rendah dan dengan segala yang mereka syahwatkan, mereka pun hendak menganggapnya bengkok, salah, dan kurang (Mustahil! Mustahil!)."

Maka ayat ini, dengan tiga kalimatnya, sebagaimana secara makna ia memandang secara khusus — di antara satuan-satuannya yang banyak — kepada sebuah golongan sesat yang aneh pada abad ini, dengan tawafuk maknawi yang sempurna dan dengan makna isyarinya, demikian pula dengan tawafuk jifirnya ia menekankan jari kepada kepala mereka. Benar, kedudukan Kelimat pertama, yaitu اَلَّذ۪ينَ يَسْتَحِبُّونَ, adalah seribu tiga ratus dua puluh tujuh (1327); jika "lam" dan "ba" yang bertasydid masing-masing dihitung dua, maka menurut penanggalan Arab menjadi seribu tiga ratus lima puluh sembilan (1359), sehingga ia memperlihatkan masa serangan hebat golongan yang melampaui batas itu lalu memandang dengan tawafuk yang tepat. Adapun kedudukan وَ يَبْغُونَهَا عِوَجًا, dari sisi tanwin dihitung "nun", berjumlah seribu dua ratus sembilan (1209), sehingga ia memandang dengan tawafuk yang tepat sekali kepada tarikh munculnya pikiran dan usaha memasukkan undang-undang asing ke dalam lembaga peradilan sebagai sebuah makar jahat terhadap syariat Islam.

Dan dengan banyak isyarat halus seperti tanda-tanda ini, sebagaimana ayat di permulaan itu — yang isyaratnya kuat — secara lahiriah memandang kepada para penentang Risale-i Nur, demikian pula dengan petunjuk makna kebalikannya ia memandang tepat kepada Risale-i Nur. Bahkan pada ayat keempat ia memuji bahwa Risale-i Nur berbahasa Turki, dan pada ayat kelima

ia memerintahkan, dengan sebuah makna isyari dan ramzi, agar Risale-i Nur datang menolong penduduk wilayah-wilayah timur — yang tidak menguasai bahasa Arab maupun Turki dengan baik dan yang para mursyid serta ulamanya berantakan — dan agar ia menyadarkan serta membimbing mereka dengan mengingatkan peristiwa-peristiwa yang menimpa mereka lebih banyak daripada golongan mana pun, yaitu kejadian-kejadian yang pedih yang di dalam ayat diungkapkan dengan بِاَيَّامِ اللّٰهِ.

Karena untuk saat ini aku belum diizinkan menerangkan isyarat penting yang terakhir ini, maka hanya satu ramzi dari masing-masingnya yang akan diterangkan dengan sangat singkat. Yaitu demikian: Kalimat وَمَٓا اَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ اِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِه۪ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ dari Ayat Keempat — dengan kedudukan jifirnya, dengan karinah isyarat-isyarat ayat di permulaan, dan dengan kaidah bahwa kerasulan dan kenabian pada setiap abad memiliki para pengganti dan wakil dari sisi pewarisan — dari sisi sebuah makna yang ramzi memasukkan Risale-i Nur, yang menunaikan tugas warisan itu dengan sempurna, ke dalam satuan-satuannya dengan sebuah perhatian yang khusus, lalu menghargai bahwa ia berbahasa Turki dan bukan berbahasa Arab yang merupakan lisan Al-Qur'an.

Benar, kedudukannya: jika tanwin pada رَسُولٍ dihitung "nun" dan "lam" yang bertasydid dihitung satu, maka seribu tiga ratus tiga puluh delapan (1338); jika "lam" yang bertasydid dihitung dua dan "ya" yang bertasydid dihitung satu, maka seribu tiga ratus lima puluh delapan (1358); jika keduanya masing-masing dihitung satu, maka seribu tiga ratus dua puluh delapan (1328); jika huruf-huruf bertasydid dihitung dua sedangkan tanwin tidak dihitung, maka seribu tiga ratus delapan belas (1318); dan jika tanwin maupun huruf-huruf bertasydid sama-sama dihitung, maka seribu tiga ratus enam puluh delapan (1368) — sehingga ia memandang secara ramzi dan secara isyarat halus kepada lima masa dan lima keadaan Risale-i Nur. Pada Ayat Kelima: اَنْ اَخْرِجْ قَوْمَكَ مِنَ الظُّلُمَاتِ اِلَى النُّورِ وَذَكِّرْهُمْ بِاَيَّامِ اللّٰهِ

Kedudukan jifir pada kalimat اِلَى النُّورِ وَذَكِّرْهُمْ بِاَيَّامِ اللّٰهِ, dari sisi huruf-huruf bertasydid dihitung masing-masing satu, berjumlah seribu tiga ratus lima puluh satu (1351); maka dengan karinah tawafuk jifir dan kesesuaian maknawi yang tepat sekali kepada tarikh tugas penting Risale-i Nur — yang untuk saat ini aku belum diizinkan menerangkannya — dan kepada tarikh dijunjungnya perintah-perintah Qur'ani ini, serta dengan ramzi hubungan makna berupa mengambil pelajaran dari kisah, ia memandang kepada Risale-i Nur secara isyarat halus.

Masih banyak isyarat gaib yang hendak dituliskan, tetapi izin tidak diberikan, sehingga untuk saat ini ia tertunda.