AYAT KEDUA PULUH SEMBILAN
Sinar-Sinar · hlm. 745
Ia adalah ayat الٓرٰ كِتَابٌ اَنْزَلْنَاهُ اِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ اِلَى النُّورِ بِاِذْنِ رَبِّهِمْ اِلٰى صِرَاطِ الْعَز۪يزِ الْحَم۪يدِ pada permulaan Surah Ibrahim. Pada empat lima kalimat ayat ini terdapat empat lima isyarat halus. Keseluruhannya berkedudukan sebagai sebuah isyarat.
Yang pertama: Kalimat اِلَى النُّورِ بِاِذْنِ رَبِّهِمْ menyatakan bahwa: "Dengan perantaraan Kitab Mubin, manusia keluar dari gelap yang ada pada abad keempat belas, dengan izin Allah,
menuju sebuah cahaya yang datang dari Al-Qur'an." Sebagaimana makna ini, khususnya lafal "nur", bersesuaian dengan Risale-i Nur, demikian pula kedudukan jifirnya — dengan memandang bahwa "nun" yang bertasydid dihitung dua "nun" — berjumlah seribu tiga ratus tiga puluh delapan atau sembilan (1338-1339); maka dengan tawafuknya yang tepat sekali kepada tarikh munculnya tafsir Isyaratul I'jaz di tengah gelap gulita itu — yaitu tafsir yang menjadi Fatihah bagi Risale-i Nur dan yang ditulis di dalam gelapnya Perang Dunia — dan dengan kata "Nur" di dalam ayat itu, ia memandang dengan isyarat halus kepada lafal "Nur" yang ada pada Risale-i Nur.
Yang kedua: Kalimat اِلٰى صِرَاطِ الْعَز۪يزِ الْحَم۪يدِ menerangkan Nur yang disebut pada kalimat sebelumnya seraya berkata: Nur itu adalah jalan yang memperlihatkan keperkasaan Allah dan kelayakan-Nya untuk dipuji. Kedudukan abjad kalimat ini adalah lima ratus empat puluh delapan atau lima puluh (548-550); maka ia bertawafuk dengan tepat sekali dengan bilangan Risale-i Nur, yaitu lima ratus empat puluh delapan, dengan memandang bahwa "nun" yang bertasydid dihitung satu "nun". Jika dua "alif" yang tidak dibaca turut dihitung, ia tetap bertawafuk dengan tepat sekali melalui dua perbedaan yang mengisyaratkan kepada tingkatannya. Ada satu kaitan yang sekaligus menguatkan dan memperhalus isyarat halus ini. Yaitu demikian:
Karena abad yang paling dahsyat bagi alam Islam adalah abad keenam beserta fitnah Hulagu, serta akhir abad ketiga belas dan abad keempat belas beserta fitnah-fitnah Perang Dunia dan akibat-akibatnya, maka kalimat ini dengan kedudukan abjadnya memberi isyarat halus kepada abad keenam; dan seperti kalimat sebelumnya, dengan kata اَلْعَز۪يزِ الْحَم۪يدِ ia memberi isyarat halus kepada abad ini, yaitu kepada masa Sultan Abdülaziz dan Sultan Abdülhamid.
Adapun pada ayat-ayat yang telah lalu, seluruh ayat yang dengan tawafuk mengisyaratkan kepada nama kedua Risale-i Nur itu memberi isyarat halus pula kepada abad yang dahsyat, yaitu abad Hulagu dan Jengis. Bahkan, karena isyarat-isyarat halus ayat-ayat itu tertuju baik kepada abad tersebut maupun kepada abad ini, maka tatkala Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu di dalam Arjuzah-nya dan Al-Gaus Al-A'zham radiyallahu anhu di dalam Kasidah-nya mengisyaratkan kepada Risale-i Nur dengan penuh karamah, keduanya memandang kepada abad itu sekaligus kepada abad ini, lalu memberi isyarat dengan nada murka.
Yang ketiga: Bilangan الظُّلُمَاتِ pada kata مِنَ الظُّلُمَاتِ adalah seribu tiga ratus tujuh puluh dua (1372); maka dengan isyarat halus tentang sampai kapan kezaliman dan gelap gulita abad ini akan berlangsung, serta tentang adanya suatu Nur yang senantiasa berusaha menerangi di tengah gelap gulita itu, ia memandang secara ramzi kepada Risale-i Nur yang menerangi.
Yang keempat: Kalimat لِتُخْرِجَ النَّاسَ berkata: "Pada tahun seribu tiga ratus empat puluh lima (1345) manusia akan dikeluarkan dari berbagai gelap gulita menuju berbagai cahaya dengan sebuah Nur yang datang dari Al-Qur'an." Adapun makna ini, dengan Risale-i Nur yang pada tahun seribu tiga ratus empat puluh lima secara luar biasa
mulai menerangi, tepat sekali bersesuaian dan cocok baik secara jifir maupun secara makna, sehingga ia memberi isyarat halus — bahkan menunjukkan secara ramzi — kepada diterimanya Risale-i Nur.
Yang kelima: Karena kata اِلَيْكَ pada الٓرٰ كِتَابٌ اَنْزَلْنَاهُ اِلَيْكَ khusus memandang kepada Al-Qur'an sehingga ia dikecualikan, maka kedudukan kalimat الٓرٰ كِتَابٌ اَنْزَلْنَاهُ yang bertawafuk tepat sekali dengan nama pertama Risale-i Nur menyatakan secara ramzi bahwa Risale-i Nur adalah tafsir dan makna yang sempurna bagi Kitab yang diturunkan, dan bahwa ia bukanlah sesuatu yang asing darinya. Sebab الٓرٰ berjumlah tiga ratus delapan puluh dua, كِتَابٌ empat ratus dua puluh tiga, اَنْزَلْنَاهُ seratus empat puluh empat, seluruhnya sembilan ratus empat puluh sembilan (949); jika tanwin dihitung "nun", maka sembilan ratus sembilan puluh sembilan (999). Maka dengan satu selisih yang penuh rahasia — yakni untuk menyatakan bahwa ia bukan wahyu — ia bertawafuk dengan bilangan Risale-i Nur, yaitu sembilan ratus empat puluh delapan (948) jika "nun" yang bertasydid dihitung satu "nun", dan sembilan ratus sembilan puluh delapan (998) jika "nun" yang bertasydid dihitung dua "nun"; lalu memberi isyarat halus kepadanya.
Kesimpulannya: Keyakinan bahwa lima isyarat halus dari lima kalimat yang disebutkan di dalam satu ayat ini — dengan memperhatikan hubungan maknawinya — dapat menempati kedudukan sebuah isyarat yang kuat, bahkan sebuah petunjuk yang pasti, itulah yang membuatku menuliskan hal ini. Jika aku keliru, aku menjadikan Kitab Mubin sebagai pemberi syafaat lalu memohon ampunan atas kekuranganku kepada Arhamur-Râhimîn. سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَٓا اِلَّا مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ