Risale-i NurSinar-Sinar

AYAT KEDUA PULUH DELAPAN

Sinar-Sinar · hlm. 744

Di dalam Surah At-Taubah, kalimat نُورَ اللّٰهِ بِاَفْوَاهِهِمْ وَيَاْبَى اللّٰهُ اِلَٓا اَنْ يُتِمَّ نُورَهُ pada ayat يُر۪يدُونَ اَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللّٰهِ بِاَفْوَاهِهِمْ وَيَاْبَى اللّٰهُ اِلَٓا اَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ — beserta kaitan maknawinya yang kuat lagi halus — dengan memandang bahwa "lam-lam" yang bertasydid masing-masing dihitung satu "lam" dan "mim" yang bertasydid dihitung dua "mim" karena ia berasal dari kata aslinya, berjumlah seribu tiga ratus dua puluh empat (1324). Padahal orang-orang zalim Eropa menyusun rencana makar yang dahsyat dengan niat memadamkan cahaya negara Islam, dan menghadapi hal itu orang-orang Turki yang bersemangat cinta bangsa berusaha menggagalkan rencana tersebut dengan mengumumkan kebebasan pada tahun dua puluh empat; namun sayang sekali, enam tujuh tahun kemudian, sebagai akibat Perang Dunia, dengan niat makar yang sama mereka kembali hendak menjalankan pikiran-pikiran kafir mereka di dalam Perjanjian Sevr melalui syarat-syarat yang teramat berat lagi merugikan Al-Qur'an;

maka untuk menggagalkan rencana mereka itu, orang-orang Turki yang mencintai bangsanya berusaha membalas dengan mengumumkan republik. Dengan tawafuk yang tepat sekali kepada tarikh itu, yaitu seribu tiga ratus dua puluh empat, terus ke tiga puluh empat, terus ke lima puluh empat, tampaklah dengan jelas bahwa di tengah kekacauan itu, di antara orang-orang yang berusaha menjaga cahaya Al-Qur'an, penulis Risale-i Nur berjuang membalas pada tahun dua puluh empat (1324), mukadimah-mukadimah Risale-i Nur pada tahun tiga puluh empat (1334), serta bagian-bagian Risale-i Nur yang bercahaya beserta murid-muridnya yang rela berkorban pada tahun lima puluh empat (1354). Bahkan mereka membuat sebagian ahli siasat yang tidak mengetahui hakikat keadaan menjadi panik; dan karena mereka menunaikan tugas penerangan dengan sempurna menghadapi makar pemadaman ini, hal itu merupakan tanda yang kuat bahwa mereka menjadi pusat perhatian dari sisi makna isyari ayat ini. Kini, kebanyakan keadaan di kalangan kaum muslimin yang bertentangan dengan cahaya Al-Qur'an adalah akibat buruk dari makar-makar itu dan dari perjanjian-perjanjian yang bengis seperti Perjanjian Sevr.

Jika "mim" yang bertasydid juga dihitung satu seperti "lam-lam" yang bertasydid, maka pada waktu itu jumlahnya seribu dua ratus delapan puluh empat (1284). Pada tarikh itu orang-orang kafir Eropa berniat memadamkan cahaya negara Islam; sepuluh tahun kemudian mereka menghasut Rusia, lalu dengan perang Rusia yang penuh kesialan pada tahun sembilan puluh tiga (1293) mereka menjadikan awan yang sementara sebagai tabir bagi cahaya alam Islam yang gemilang. Namun dalam hal ini, karena yang melenyapkan gelapnya awan itu adalah murid-murid Mevlana Halid qaddasallahu sirrahu yang menempati kedudukan murid-murid Risale-i Nur, maka dari segi ini ayat tersebut meletakkan jarinya secara ramzi di atas kepala mereka.

Kini terlintas di hati: jika "lam-lam" yang bertasydid dan "mim" dihitung dua-dua, maka orang-orang yang akan melenyapkan gelap itu satu abad setelah ini bisa jadi adalah murid-murid Sayidina Mahdi. Bagaimanapun juga... Ayat yang bercahaya ini memiliki banyak sekali nukta yang bercahaya. Dengan rahasia اَلْقَطْرَةُ تَدُلُّ عَلَى الْبَحْرِ kami mencukupkan sampai di sini.