Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Sinar Ketujuh

Sinar-Sinar · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

Sinar Ketujuh

Âyetü'l-Kübra (Tanda Terbesar)

Peringatan penting serta penjelasan maksud

Tidak setiap orang memahami setiap persoalan dalam risalah penting ini. Namun, ia pun tidak akan kehilangan bagiannya. Seseorang yang memasuki kebun besar tidak dapat menjangkau seluruh buah dalam kebun tersebut dengan tangannya. Namun, sebanyak yang dapat ia raih sudah cukup. Kebun itu bukan hanya untuk dirinya; mereka yang memiliki tangan lebih panjang pun mempunyai bagian.

Terdapat lima sebab yang menyulitkan pemahaman risalah ini:

PERTAMA:

Aku menulis apa yang kusaksikan sendiri sesuai pemahamanku serta untuk diriku sendiri. Aku tidak menulisnya menurut pemahaman serta cara orang lain menerima sesuatu, sebagaimana kitab-kitab lain ditulis.

KEDUA:

Karena tauhid hakiki ditulis dalam bentuk yang paling agung melalui manifestasi Ismul A'zham, persoalan-persoalannya sangat luas serta mendalam, dan terkadang sangat panjang. Karena itu, tidak setiap orang dapat mencakupnya sekaligus.

KETIGA:

Karena setiap persoalan merupakan hakikat yang besar serta panjang, agar tidak memecah hakikat tersebut, terkadang satu halaman atau satu lembar menjadi satu kalimat. Banyak premis berada dalam satu dalil.

KEEMPAT:

Karena masing-masing dari kebanyakan persoalannya memiliki sangat banyak dalil serta hujah, terkadang sepuluh atau dua puluh dalil dijadikan satu bukti; karena itu, persoalannya menjadi panjang, dan pemahaman yang terbatas tidak dapat menangkapnya.

KELIMA:

Meskipun melalui limpahan Ramadan aku menerima cahaya risalah ini, ia ditulis dengan tergesa-gesa pada waktu keadaanku kacau dari beberapa segi, dan tubuhku terguncang oleh beberapa penyakit; cukup digunakan naskah awalnya. Selain itu, ketika menulis, aku merasakan bahwa hal itu tidak berlangsung melalui kehendak serta pilihanku sendiri. Karena itu, aku tidak menganggap sesuai untuk menyusun atau memperbaikinya menurut pikiranku sendiri; sehingga risalah ini mengambil keadaan yang sedikit menyulitkan pemahaman. Banyak pula bagian berbahasa Arab yang masuk di dalamnya. Bahkan, karena Bagian Pertama seluruhnya berbahasa Arab, bagian itu dikeluarkan dan ditulis tersendiri.

Bersama kelima sebab yang menimbulkan kekurangan serta kesulitan itu, risalah ini memiliki arti penting sedemikian rupa sehingga Imam Ali (ra), dalam karamah gaibnya, memberinya nama "Âyet-i Kübra" serta "Asa-yı Musa" (Tongkat Musa). Di antara risalah-risalah Risale-i Nur, beliau memandangnya secara khusus serta menarik perhatian kepadanya. (Ya, peristiwa Denizli membenarkan sepenuhnya berita Imam Ali (ra) mengenai Âyetü'l-Kübra. Sebab, pencetakan rahasia risalah ini menjadi salah satu sebab kami dipenjarakan; dan kemenangan hakikatnya yang suci serta sangat kuat menjadi sebab penting pembebasan serta keselamatan kami. Hal itu juga memperlihatkan karamah gaib Imam Ali (ra) kepada mata, serta membuktikan diterimanya doa beliau mengenai kami,

ﻭَ بِالْاٰيَةِ ﺍﻟْﻜُﺒْﺮٰﻯ ﺍَﻣِﻨّ۪ﻰ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻔَﺠَﺖْ.)

Risalah Âyetü'l-Kübra ini, tafsir hakiki dari "El-Âyetü'l-Kübra", ialah kitab "Sinar Ketujuh" yang, menurut ungkapan Imam (ra), bernama "Asa-yı Musa".

Sinar Ketujuh ini terdiri atas pendahuluan serta dua bagian. Pendahuluannya menjelaskan empat persoalan penting; Bagian Pertama menjelaskan bagian berbahasa Arab dari tafsir Âyet-i Kübra; dan Bagian Kedua menjelaskan bukti-bukti, terjemahan, serta maknanya.

Pendahuluan berikut, meskipun dijelaskan lebih dari yang diperlukan, menjadi agak panjang tanpa pilihan sendiri. Berarti, ada kebutuhan sehingga ia dibuat ditulis demikian. Mungkin pula, sebagian orang memandang uraian yang panjang ini sebagai singkat.

Bedîüzzaman Said Nursî

PENDAHULUAN

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻭَﻣَﺎ ﺧَﻠَﻘْﺖُ ﺍﻟْﺠِﻦَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا ﻟِﻴَﻌْﺒُﺪُﻭﻥِ

Melalui rahasia ayat yang agung ini, Hikmah serta tujuan manusia dikirim ke dunia ialah mengenal Khâliq kainat, beriman kepada⁠-⁠Nya, serta beribadah kepada⁠-⁠Nya. Tugas fitrah serta kewajiban yang dipikul manusia ialah makrifatullah dan iman kepada Allah سُبْحَانَهُ, juga membenarkan Wujud serta Keesaan⁠-⁠Nya dengan pengakuan serta keyakinan pasti.

Ya, bagi manusia malang yang secara fitri menginginkan kehidupan yang terus berlangsung serta hidup abadi, dan yang memiliki harapan tak terbatas serta derita tiada akhir, tentu segala sesuatu dan berbagai kesempurnaan selain iman kepada Allah سُبْحَانَهُ serta makrifatullah—dasar utama dan kunci kehidupan abadi itu—beserta sarana-sarananya, berada pada tingkat yang lebih rendah jika dibandingkan dengan manusia tersebut. Bahkan, kebanyakannya tidak memiliki nilai.

Karena hakikat ini telah dibuktikan melalui bukti-bukti yang kuat dalam Risale-i Nur, kami menyerahkannya kepada Risale-i Nur. Kami hanya akan menjelaskan, dalam empat persoalan, dua bahaya yang pada abad ini mengguncang serta menimbulkan keraguan terhadap keyakinan iman tersebut.

Jalan keselamatan dari bahaya pertama

Terdiri atas dua persoalan.

PERSOALAN PERTAMA:

Sebagaimana telah dibuktikan secara terperinci dalam Lem'a Ketiga Belas dari Surat Ketiga Puluh Satu, dalam persoalan-persoalan umum, penolakan tidak memiliki nilai serta sangat sedikit kekuatan di hadapan bukti.

Misalnya, dalam persoalan melihat hilal pada awal Ramadan yang mulia, jika dua saksi dari kalangan awam membuktikan adanya hilal, sedangkan ribuan tokoh terkemuka serta orang berilmu menolaknya dengan berkata, "Kami tidak melihatnya," penolakan mereka tidak memiliki nilai maupun kekuatan. Sebab, ketika membuktikan sesuatu, terdapat saling menguatkan, saling menopang, serta ijmak. Dalam penolakan, tidak ada perbedaan antara satu ataupun seribu orang; masing-masing tetap sendiri serta terpisah.

Sebab, orang yang membuktikan memandang kenyataan di luar dirinya serta menetapkan sesuai nafsul-amr (kenyataan itu sendiri). Misalnya, sebagaimana contoh kita, jika seseorang berkata, "Di langit terdapat bulan," sahabatnya yang lain menunjukkan dengan jari ke arah yang sama; keduanya bersatu serta menjadi kuat.

Dalam penolakan serta pengingkaran, seseorang tidak memandang dan tidak dapat memandang nafsul-amr. Sebab, "Penolakan yang tidak bersifat khusus serta tidak mengarah kepada tempat tertentu tidak dapat dibuktikan," merupakan kaidah yang terkenal. Misalnya, jika aku membuktikan bahwa sesuatu ada di dunia, dan engkau berkata, "Tidak ada di dunia," untuk membuktikan penolakanmu—yakni bahwa sesuatu yang mudah kubuktikan melalui satu isyarat itu tidak ada—engkau harus mencari, menelusuri, serta memperlihatkan seluruh dunia, bahkan melihat setiap sisi masa lalu. Barulah engkau dapat berkata, "Tidak ada; tidak pernah terjadi."

Orang yang menolak serta mengingkari tidak memandang nafsul-amr; mereka menetapkan dengan memandang diri, akal, serta mata mereka sendiri. Karena itu, tentu mereka tidak dapat saling menguatkan maupun menopang. Sebab, tabir serta penyebab yang menghalangi mereka melihat dan mengetahui berbeda-beda. Setiap orang dapat berkata, "Aku tidak melihatnya; ia tidak ada di dekatku serta dalam keyakinanku." Namun, ia tidak dapat berkata, "Dalam kenyataan ia tidak ada." Jika mengatakannya, terutama dalam persoalan iman yang berkaitan dengan seluruh kainat, hal itu menjadi dusta sebesar dunia, yang tidak dapat dikatakan benar maupun dibenarkan.

Kesimpulannya,

ketika sesuatu dibuktikan, hasilnya satu dan tunggal; terdapat saling menopang. Dalam penolakan, hasilnya bukan satu, melainkan banyak. Hasil-hasil itu menjadi banyak seiring beragamnya batasan seperti "di dekatku serta dalam pandanganku" ataupun "dalam keyakinanku", sesuai setiap orang; sehingga tidak lagi terdapat saling menopang.

Dari segi hakikat ini, banyaknya orang kafir serta pengingkar yang menentang iman, meskipun tampak berjumlah besar, tidak memiliki nilai. Padahal, hal itu tidak semestinya memberikan sedikit pun keraguan kepada keyakinan serta iman seorang mukmin. Namun, pada abad ini, penolakan serta pengingkaran para filsuf Eropa menimbulkan keraguan pada sebagian pengagumnya yang malang, menghapus keyakinan mereka, serta menghancurkan kebahagiaan abadi mereka. Hal itu mengubah kematian serta ajal, yang setiap hari menimpa tiga puluh ribu manusia, dari makna pembebastugasan menjadi pemusnahan abadi. Kubur yang pintunya tidak tertutup terus mengingatkan pengingkar itu akan pemusnahannya, lalu meracuni kehidupannya yang nikmat dengan derita menyakitkan. Pahamilah betapa besar nikmat iman, serta bahwa iman merupakan kehidupan bagi kehidupan!

PERSOALAN KEDUA:

Dalam persoalan suatu ilmu atau seni yang diperdebatkan, perkataan orang-orang di luar ilmu serta seni itu tidak memiliki bobot, betapa pun besar, berilmu, serta mahir mereka; penetapan mereka tidak menjadi hujah, serta mereka tidak dianggap termasuk dalam ijmak para ahli ilmu tersebut.

Misalnya, pendapat seorang insinyur terkemuka dalam mengenali serta mengobati suatu penyakit tidak memiliki bobot yang sama dengan pendapat seorang dokter biasa. Terutama, perkataan pengingkaran seorang filsuf terbesar, yang banyak tenggelam dalam materi, semakin jauh dari yang maknawi, menjadi tumpul serta kasar terhadap cahaya, dan membatasi akalnya pada matanya, tidak diperhitungkan serta tidak memiliki nilai dalam persoalan maknawi.

Dalam persoalan tauhid, kesucian, serta maknawi yang disepakati ratusan ribu orang yang menempuh hakikat, seperti Syekh Jailani (ks)—yang, meskipun berada di bumi, menyaksikan Arasy Agung, memiliki kejeniusaan suci yang menakjubkan, selama sembilan puluh tahun maju serta bekerja dalam hal maknawi, dan menyingkap hakikat-hakikat iman melalui ilmulyaqin, ainulyaqin, bahkan haqqulyaqin—seberapa bernilai perkataan para filsuf yang tenggelam dalam perincian materi yang paling terpencar serta bagian paling kecil dari kemajemukan, menjadi linglung, dan terbenam? Tidakkah penolakan serta keberatan mereka menjadi redup seperti suara nyamuk di hadapan gemuruh petir?

Hakikat kekufuran yang menentang serta melawan hakikat-hakikat Islam ialah pengingkaran, ketidaktahuan, serta penolakan. Meskipun dari segi rupa tampak sebagai bukti dan bersifat wujud, maknanya ialah keadaan tidak ada serta penolakan.

Adapun iman merupakan ilmu, bersifat wujud, memberi bukti, serta merupakan penetapan. Setiap persoalannya yang berbentuk penolakan pun merupakan gelar serta tabir suatu hakikat yang positif.

Jika orang-orang kafir yang melawan iman berusaha, dengan kesulitan besar, membuktikan serta menerima keyakinan penolakan mereka dalam bentuk menetapkan dan membenarkan bahwa sesuatu itu tidak ada, kekufuran tersebut dari satu segi dapat dianggap sebagai ilmu yang salah serta penetapan yang keliru. Namun, jika hanya berupa tidak menerima, mengingkari, serta tidak membenarkan, yang sangat mudah dilakukan, itu merupakan ketidaktahuan mutlak serta tidak adanya penetapan.

Kesimpulannya,

keyakinan kufur terdiri atas dua jenis:

PERTAMA:

Tidak mengarah kepada hakikat-hakikat Islam. Ia merupakan pembenaran yang salah, keyakinan yang batil, menerima sesuatu secara keliru, serta penetapan yang zalim, yang khusus baginya. Jenis ini berada di luar pembahasan kami. Ia tidak mencampuri kami, dan kami pun tidak mencampurinya.

KEDUA:

Menentang serta melawan hakikat-hakikat iman. Ini pun terdiri atas dua jenis:

Pertama:

Tidak menerima. Ia hanya tidak membenarkan bukti. Ini merupakan ketidaktahuan serta tidak adanya penetapan, dan mudah dilakukan. Ini juga berada di luar pembahasan kami.

Kedua:

Menetapkan bahwa sesuatu itu tidak ada. Yakni, membenarkan dalam hati bahwa ia tidak ada. Jenis ini merupakan penetapan, keyakinan, serta komitmen. Demi komitmen itu, ia juga wajib membuktikan penolakannya.

Penolakan pun terdiri atas dua jenis:

PERTAMA:

Berkata, "Tidak ada di tempat tertentu serta dari segi khusus." Jenis ini dapat dibuktikan. Jenis ini juga berada di luar pembahasan kami.

JENIS KEDUA:

Menolak serta mengingkari persoalan-persoalan iman yang suci, umum, serta meliputi segala, yang berkaitan dengan dunia, kainat, akhirat, serta berbagai abad. Sebagaimana telah kami jelaskan dalam persoalan pertama, penolakan ini tidak dapat dibuktikan dari segi apa pun. Untuk membuktikan penolakan seperti itu, diperlukan pandangan yang meliputi kainat, melihat akhirat, serta menyaksikan setiap sisi waktu yang tiada batas.

Bahaya kedua serta jalan keselamatan

Ini pun terdiri atas dua persoalan:

PERTAMA:

Dari segi Keagungan, Kebesaran, serta sifat tiada akhir, akal yang menyempit karena tenggelam dalam kelalaian, maksiat, ataupun materi, tidak dapat mencakup persoalan-persoalan yang agung; sehingga, dengan kesombongan ilmu, mereka menyimpang menuju pengingkaran serta penolakan. Ya, karena tidak dapat memuat persoalan-persoalan iman yang sangat luas, mendalam, serta meliputi segala dalam akal mereka yang secara maknawi terhimpit dan mengering, serta hati mereka yang rusak serta mati dalam hal maknawi, mereka melemparkan diri ke dalam kekufuran serta kesesatan, lalu tenggelam.

Jika dapat memandang dengan saksama bagian dalam kekufuran serta hakikat kesesatan mereka sendiri, mereka akan melihat bahwa di bawah serta di dalam kekufuran itu terdapat hal-hal yang mustahil, tidak mungkin, serta tidak dapat terjadi pada kadar seratus tingkat, jika dibandingkan dengan Keagungan dalam iman, yang masuk akal, layak, serta diperlukan.

Risale-i Nur telah membuktikan hakikat ini melalui ratusan ukuran serta perbandingan, dengan kepastian setingkat "Dua kali dua sama dengan empat." Misalnya, orang yang tidak dapat menerima keniscayaan Wujud Allah سُبْحَانَهُ, Keazalian⁠-⁠Nya, serta Sifat-Sifat⁠-⁠Nya yang meliputi segala, karena Keagungan semua itu, hanya dapat meyakini kekufurannya dengan memberikan keniscayaan wujud, keazalian, serta sifat-sifat keilahian itu kepada wujud-wujud tak terbatas, bahkan zarah-zarah yang tiada akhir. Atau, seperti kaum sofis yang bodoh, ia harus mengingkari serta menolak dirinya sendiri maupun wujud kainat, lalu mengundurkan diri dari akal.

Demikian pula, seluruh hakikat iman serta Islam bersandar pada Keagungan yang merupakan sifat serta tuntutannya sendiri, menyelamatkan manusia dari hal-hal mustahil yang dahsyat, takhayul-takhayul liar, serta ketidaktahuan-ketidaktahuan gelap dari kekufuran yang menentangnya; lalu menetap dalam hati yang bersih serta akal yang lurus, dengan pengakuan dan penyerahan yang sempurna.

Ya, pengumuman Keagungan serta Kebesaran Allah سُبْحَانَهُ setiap waktu melalui banyak ucapan

ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﻛْﺒَﺮُ ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﻛْﺒَﺮُ ٭ ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﻛْﺒَﺮُ ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﻛْﺒَﺮُ

dalam kebanyakan syiar Islam, seperti azan serta salat; Firman hadis qudsi

ﺍَﻟْﻌَﻈَﻤَﺔُ ﺍِﺯَﺍﺭ۪ﻯ ﻭَ ﺍﻟْﻜِﺒْﺮِﻳَﺎﺀُ ﺭِﺩَﺍﺋ۪ﻰ;

dan ungkapan munajat Ahmad ﷺ yang sangat penuh makrifat dalam bagian kedelapan puluh enam munajat "Cevşenü'l-Kebir",

ﻳَﺎ ﻣَﻦْ لَا ﻣُﻠْﻚَ اِلَّا ﻣُﻠْﻜَﻪُ ٭ ﻳَﺎ ﻣَﻦْ لَا ﻳُﺤْﺼِﻰ ﺍﻟْﻌِﺒَﺎﺩُ ﺛَﻨَﺎﺋَﻪُ ٭ ﻳَﺎ ﻣَﻦْ لَا ﺗَﺼِﻒُ الْخَلَائِقُ جَلَالَهُ ٭ ﻳَﺎ ﻣَﻦْ لَا ﺗَﻨَﺎﻝُ الْاَوْهَامُ ﻛُﻨْﻬَﻪُ ٭ ﻳَﺎ ﻣَﻦْ لَا ﻳُﺪْﺭِﻙُ الْاَبْصَارُ ﻛَﻤَﺎﻟَﻪُ ٭ ﻳَﺎ ﻣَﻦْ لَا ﻳَﺒْﻠُﻎُ الْاَفْهَامُ ﺻِﻔَﺎﺗَﻪُ ٭ ﻳَﺎ ﻣَﻦْ لَا ﻳَﻨَﺎﻝُ الْاَفْكَارُ ﻛِﺒْﺮِﻳَﺎﺋَﻪُ ٭ ﻳَﺎ ﻣَﻦْ لَا ﻳُﺤْﺴِﻦُ الْاِنْسَانُ ﻧُﻌُﻮﺗَﻪُ ٭ ﻳَﺎ ﻣَﻦْ لَا ﻳَﺮُﺩُّ ﺍﻟْﻌِﺒَﺎﺩُ ﻗَﻀَﺎﺋَﻪُ ٭ ﻳَﺎ ﻣَﻦْ ﻇَﻬَﺮَ ﻓ۪ﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﺍٰﻳَﺎﺗُﻪُ ٭ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﻳَﺎ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍَﻧْﺖَ الْاَمَانُ الْاَمَانُ ﻧَﺠِّﻨَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ,

menunjukkan bahwa Keagungan serta Kebesaran merupakan tabir yang diperlukan.

Âyetü'l-Kübra

Apa yang disaksikan seorang musafir yang bertanya kepada kainat mengenai Khâliq kainat itu.

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﺗُﺴَﺒِّﺢُ ﻟَﻪُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕُ ﺍﻟﺴَّﺒْﻊُ وَالْاَرْضُ ﻭَﻣَﻦْ ﻓ۪ﻴﻬِﻦَّ ﻭَ ﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻰْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪ ﻭَﻟٰﻜِﻦْ لَا ﺗَﻔْﻘَﻬُﻮﻥَ ﺗَﺴْﺒ۪ﻴﺤَﻬُﻢْ ﺍِﻧَّﻪُ ﻛَﺎﻥَ ﺣَﻠ۪ﻴﻤًﺎ ﻏَﻔُﻮﺭًﺍ

Banyak ayat Al-Qur'an, seperti ayat yang sangat agung ini, menyebut langit paling awal untuk memperkenalkan Khâliq kainat. Langit merupakan halaman tauhid yang paling terang, yang setiap waktu dipandang dengan kekaguman terbesar serta dikaji dengan nikmat oleh setiap orang. Karena itu, sesuai untuk memulai darinya.

Ya, setiap tamu yang datang ke negeri serta rumah tamu dunia ini, ketika membuka mata dan memandang, sangat ingin mengetahui serta mengenal Pemilik rumah tamu yang indah ini, Penulis kitab besar ini, serta Sultan negeri megah ini. Rumah tamu ini merupakan tempat perjamuan yang sangat murah hati, tempat pameran yang sangat penuh seni, perkemahan serta tempat latihan yang sangat megah, tempat perjalanan serta menyaksikan pemandangan yang sangat menakjubkan dan membangkitkan semangat, juga tempat kajian yang sangat bermakna serta penuh hikmah. Paling awal, tampak wajah indah langit yang ditulis dengan lapisan cahaya. Langit berkata, "Pandanglah aku; aku akan memperkenalkan kepadamu Yang engkau cari!" Musafir itu pun memandang dan melihat:

Manifestasi Rububiyah menahan ratusan ribu benda langit—sebagian di antaranya seribu kali lebih besar daripada bumi kita, dan sebagian benda besar itu tujuh puluh tingkat lebih cepat daripada peluru meriam—tanpa tiang serta tanpa menjatuhkannya; menjalankan mereka bersama dengan kecepatan yang melampaui batas tanpa saling bertabrakan; terus menyalakan lampu-lampu tak terbatas itu tanpa minyak serta tanpa memadamkannya; mengelola massa-massa yang besar tanpa akhir itu tanpa menimbulkan suara maupun kekacauan; serta mempekerjakan makhluk-makhluk yang sangat besar tersebut dalam tugas-tugasnya tanpa membuat mereka sedikit pun memberontak, seperti tugas matahari serta bulan. Pada jarak yang tiada akhir, yang tidak termuat dalam angka-angka perhitungan pada lingkaran kedua kutub, Rububiyah itu mengelola mereka bersama, tanpa kekurangan, pada waktu yang sama, dengan Daya yang sama, cara yang sama, cap fitrah yang sama, serta bentuk yang sama; membuat benda-benda yang membawa daya sangat besar serta melampaui batas itu menaati Hukum⁠-⁠Nya tanpa melampaui batas; membuatnya dibersihkan dengan sangat terang dan indah tanpa memberi tempat bagi sampah seperti puing-puing kerumunan yang tiada akhir itu untuk mengotori wajah langit; menjalankannya dengan manuver seperti manuver pasukan yang teratur; serta, dengan memutar bumi, memperlihatkan kepada makhluk-makhluk penyaksi⁠-⁠Nya bentuk nyata serta bayangan dari manuver megah itu dalam rupa lain, setiap malam dan setiap tahun, seperti adegan-adegan bioskop. Dalam kegiatan Rububiyah itu terlihat hakikat yang terdiri atas Penundukan, Pengaturan, Pemutaran, Penataan, Pembersihan, serta Pemberian tugas. Dengan Keagungan serta Cakupan ini, hakikat tersebut bersaksi dengan menyaksikan langsung bahwa Wujud Khâliq langit niscaya, bahwa Dia Esa, serta bahwa Adanya Dia lebih nyata daripada adanya langit. Dengan makna ini, pada anak tangga pertama Bagian Pertama diucapkan

لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍﻟْﻮَﺍﺟِﺐُ ﺍﻟْﻮُﺟُﻮﺩِ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺩَﻝَّ ﻋَﻠٰﻰ ﻭُﺟُﻮﺏِ ﻭُﺟُﻮﺩِﻩ۪ ﻓ۪ﻰ ﻭَﺣْﺪَﺗِﻪِ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕُ ﺑِﺠَﻤ۪ﻴﻊِ ﻣَﺎ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﺑِﺸَﻬَﺎﺩَﺓِ ﻋَﻈَﻤَﺔِ ﺍِﺣَﺎﻃَﺔِ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ ﺍﻟﺘَّﺴْﺨ۪ﻴﺮِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﺪْﺑ۪ﻴﺮِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﺪْﻭ۪ﻳﺮِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﻨْﻈ۪ﻴﻢِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﻨْﻈ۪ﻴﻒِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﻮْﻇ۪ﻴﻒِ ﺍﻟْﻮَﺍﺳِﻌَﺔِ ﺍﻟْﻤُﻜَﻤَّﻠَﺔِ ﺑِﺎﻟْﻤُﺸَﺎﻫَﺪَﺓِ.

Kemudian, ruang yang disebut angkasa langit, tempat berhimpunnya keajaiban, berbicara dengan gemuruh serta berseru kepada musafir dan tamu yang datang ke dunia itu, "Pandanglah aku! Melalui diriku, engkau dapat mengetahui serta menemukan Yang engkau cari dengan penuh keingintahuan dan Yang mengirimmu ke sini." Tamu itu memandang wajahnya yang masam, tetapi penuh belas kasih; mendengarkan gemuruhnya yang dahsyat, tetapi membawa kabar gembira, dan melihat:

Awan yang ditahan menggantung di antara bumi serta langit menyirami kebun bumi dengan cara yang sangat penuh hikmah dan kasih sayang, membawa air kehidupan kepada para penghuni bumi, meredakan panas—yakni kedahsyatan api kehidupan—serta datang menolong setiap tempat sesuai kebutuhan. Selain menjalankan banyak tugas seperti itu, awan besar yang tiba-tiba memenuhi angkasa pun bersembunyi seperti pasukan teratur yang muncul dan menghilang sesuai perintah-perintah yang mendesak; seluruh bagiannya pergi beristirahat, dan tidak terlihat bekasnya sama sekali. Kemudian, begitu menerima Perintah "Ke tugas hujan, maju!", dalam satu jam, bahkan beberapa menit, ia berkumpul dan memenuhi angkasa, lalu berdiri seolah-olah menunggu perintah seorang komandan.

Kemudian musafir itu memandang angin di angkasa dan melihat: udara digunakan untuk begitu banyak tugas dengan cara yang sangat penuh hikmah serta kemurahan hati. Seolah-olah setiap zarah udara yang tidak hidup serta tidak memiliki kesadaran itu mendengar serta mengetahui Perintah yang datang dari Sultan kainat ini; tanpa meninggalkan satu pun, ia melaksanakan serta menunaikannya dengan teratur melalui Kekuatan Komandan itu. Melalui Pengelolaan Yang Gaib, udara digunakan dengan penuh Kesadaran, Ilmu, serta Pemeliharaan Kehidupan untuk banyak tugas dan khidmah yang menyeluruh, seperti memberikan napas kepada seluruh penghuni bumi; mengangkut zat-zat seperti panas, cahaya, serta listrik, juga suara, yang diperlukan makhluk hidup; dan menjadi sarana penyerbukan tumbuhan.

Kemudian ia memandang hujan dan melihat: dalam tetes-tetes yang lembut, jernih, serta manis, yang dikirim dari keadaan tidak ada serta dari khazanah Rahmat yang gaib itu, terdapat begitu banyak hadiah dari Ar-Rahmân serta tugas, sehingga hujan memiliki makna seolah-olah Rahmat menjadi nyata dalam rupa tetes-tetes yang mengalir dari khazanah Rabb. Karena itu, hujan diberi nama "rahmat".

Kemudian ia memandang kilat serta mendengarkan guruh, dan melihat bahwa keduanya dipekerjakan dalam khidmah yang sangat menakjubkan serta ganjil.

Lalu ia menarik pandangannya, beralih kepada akalnya, dan berkata kepada dirinya: awan yang tidak hidup serta tidak memiliki kesadaran, seperti kapas yang dicabik ini, tentu tidak mengetahui kita, tidak datang berlari menolong kita dengan belas kasih atas kemauannya sendiri, serta tidak muncul maupun bersembunyi tanpa perintah. Sebaliknya, ia bergerak melalui Perintah Komandan Yang Sangat Qadîr serta Rahîm, sehingga bersembunyi tanpa meninggalkan bekas dan muncul seketika untuk mulai bekerja. Melalui Firman serta Kekuatan Sultan Yang Sangat Aktif, Mahaluhur, Penuh Manifestasi, serta Megah, dari waktu ke waktu ia memenuhi dan mengosongkan alam angkasa; menjadikannya papan untuk terus menulis dengan Hikmah serta menghapus ketika tugas selesai, lembar penghapusan serta penetapan, juga gambaran kebangkitan serta kiamat. Melalui Pengaturan Penguasa Yang Mengelola—yang penuh Lutf dan Kebaikan, sangat Mulia, serta Penuh Pemeliharaan Rabb—ia menaiki angin dan memuat khazanah hujan seperti gunung, lalu mencapai tempat-tempat yang membutuhkan. Seolah-olah merasa iba serta menangis untuk mereka, melalui air matanya ia membuat mereka tersenyum dengan bunga; mendinginkan api matahari yang kuat; memercikkan air ke kebun-kebun mereka seperti spons; serta mencuci dan membersihkan wajah bumi.

Musafir yang penuh keingintahuan itu juga berkata kepada akalnya: ratusan ribu pekerjaan, anugerah, serta pertolongan yang penuh hikmah, kasih sayang, dan seni muncul melalui tabir serta rupa lahiriah udara ini—yang tidak hidup, tanpa jiwa, tanpa kesadaran, terus bergolak, tidak menetap, penuh badai dan kegaduhan, tidak mantap, serta tanpa tujuan. Semua itu membuktikan dengan jelas bahwa angin yang rajin serta pelayan yang lincah ini tidak memiliki gerakan apa pun atas kemauannya sendiri; sebaliknya, ia bergerak melalui Perintah Atasan Yang Sangat Qadîr serta Alîm, Sangat Hakîm serta Karîm.

Seolah-olah setiap zarahnya, seperti prajurit yang mengetahui setiap pekerjaan serta memahami dan mendengar setiap Perintah Atasan itu, mendengar dan menaati setiap Perintah Rabb yang berlangsung dalam udara. Aku melihat: selain khidmah umum serta menyeluruh seperti membantu seluruh hewan bernapas dan hidup; membantu penyerbukan, pertumbuhan, serta penyampaian zat-zat yang diperlukan kehidupan tumbuhan; menggerakkan dan mengelola awan; gerak serta perjalanan kapal tanpa api; terutama menyampaikan suara, dan terutama percakapan melalui telepon serta telegraf tanpa kabel dan radio; zarah-zarah udara, yang hanya terdiri atas dua zat sederhana seperti nitrogen serta oksigen, meskipun saling serupa, digunakan dengan Hikmah⁠-⁠Nya serta keteraturan sempurna dalam ratusan ribu ragam Seni Rabb pada permukaan bumi.

Ia berkata serta menetapkan: sesuai pernyataan tegas ayat

ﻭَﺗَﺼْﺮ۪ﻳﻒِ ﺍﻟﺮِّﻳَﺎﺡِ ﻭَﺍﻟﺴَّﺤَﺎﺏِ ﺍﻟْﻤُﺴَﺨَّﺮِ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀِ وَالْاَرْضِ,

Yang mengarahkan angin dan menggunakannya dalam khidmah Rabb yang tiada batas, menundukkan awan serta mempekerjakannya dalam tugas-tugas Ar-Rahmân yang tiada batas, dan menciptakan udara dalam rupa tersebut, hanyalah Rabb Dzul-Jalâl wal-Ikrâm, Wâjibul Wujûd, Yang Qadîr atas segala sesuatu serta Alîm atas segala sesuatu.

Kemudian ia memandang hujan dan melihat: di dalamnya terdapat manfaat sebanyak butirnya, Manifestasi Rahmat Ar-Rahmân sebanyak tetesnya, serta hikmah sebanyak perciknya. Tetes-tetes yang manis, lembut, serta penuh berkah itu diciptakan dengan begitu teratur dan indah; terutama hujan es yang datang pada musim panas dikirim serta turun dengan ukuran dan keteraturan demikian, sehingga angin kencang yang bergolak dalam badai serta membenturkan benda-benda besar tidak merusak keseimbangan maupun keteraturannya, serta tidak membenturkan dan menggabungkan tetes-tetesnya menjadi massa yang berbahaya. Air ini, yang tersusun dari dua zat sederhana, tak hidup, serta tanpa kesadaran—hidrogen dan oksigen—dipekerjakan dalam ratusan ribu khidmah serta karya seni yang penuh hikmah, kesadaran, dan keragaman, seperti berbagai pekerjaan penuh hikmah tersebut, terutama dalam makhluk hidup. Berarti, hujan yang merupakan Rahmat itu sendiri yang menjadi nyata dalam rupa ini hanya dibuat dalam khazanah Rahmat yang gaib dari Ar-Rahmân Yang Rahîm; dan melalui turunnya, ia menafsirkan ayat

ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﻳُﻨَﺰِّﻝُ ﺍﻟْﻐَﻴْﺚَ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِ ﻣَﺎ ﻗَﻨَﻄُﻮﺍ ﻭَﻳَﻨْﺸُﺮُ ﺭَﺣْﻤَﺘَﻪُ

secara nyata.

Kemudian ia mendengarkan guruh serta memandang kilat. Ia melihat bahwa, selain menafsirkan secara nyata ayat

ﻭَﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺍﻟﺮَّﻋْﺪُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪

serta

ﻳَﻜَﺎﺩُ ﺳَﻨَﺎ ﺑَﺮْﻗِﻪ۪ ﻳَﺬْﻫَﺐُ بِالْاَبْصَارِ

dengan tepat, kedua peristiwa angkasa yang menakjubkan ini memberitakan datangnya hujan serta memberikan kabar gembira kepada yang membutuhkan.

Ya, melalui keadaan yang penuh hikmah serta menakjubkan—seperti tiba-tiba membuat angkasa berbicara dari tidak ada dengan gemuruh yang luar biasa; memenuhi angkasa gelap dengan cahaya melalui terang dan api yang luar biasa; serta menyalakan awan-awan seperti kapas sebesar gunung, yang bagaikan pompa hujan es, salju, dan air—keduanya memukul kepala manusia lalai yang tertunduk seperti palu, dan mengingatkan, "Angkatlah kepalamu! Pandang pekerjaan luar biasa Zat Yang Aktif serta Berkuasa, yang ingin memperkenalkan Diri⁠-⁠Nya! Sebagaimana engkau tidak dibiarkan tanpa pengawasan, peristiwa-peristiwa ini pun tidak dapat terjadi tanpa pengawasan. Masing-masing dibuat berlari mengejar tugas yang penuh hikmah. Semuanya dipekerjakan oleh Sang Pengatur Yang Hakîm."

Musafir yang penuh keingintahuan ini pun mendengar kesaksian yang luhur serta nyata dari hakikat yang terdiri atas Penundukan awan, Pengarahan angin, Penurunan hujan, serta Pengaturan peristiwa-peristiwa angkasa, lalu berkata, "Âmentü billah". Ungkapan

لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍﻟْﻮَﺍﺟِﺐُ ﺍﻟْﻮُﺟُﻮﺩِ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺩَﻝَّ ﻋَﻠٰﻰ ﻭُﺟُﻮﺏِ ﻭُﺟُﻮﺩِﻩِ ﺍﻟْﺠَﻮُّ ﺑِﺠَﻤ۪ﻴﻊِ ﻣَﺎ ﻓ۪ﻴﻪِ ﺑِﺸَﻬَﺎﺩَﺓِ ﻋَﻈَﻤَﺔِ ﺍِﺣَﺎﻃَﺔِ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ ﺍﻟﺘَّﺴْﺨ۪ﻴﺮِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﺼْﺮ۪ﻳﻒِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﻨْﺰ۪ﻳﻞِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﺪْﺑ۪ﻴﺮِ ﺍﻟْﻮَﺍﺳِﻌَﺔِ ﺍﻟْﻤُﻜَﻤَّﻠَﺔِ ﺑِﺎﻟْﻤُﺸَﺎﻫَﺪَﺓِ

pada tingkatan kedua Bagian Pertama mengungkapkan apa yang disaksikan musafir tersebut mengenai angkasa. (Peringatan: Aku ingin menjelaskan sedikit tiga puluh tiga tingkatan tauhid yang terdapat dalam Bagian Pertama. Namun, karena keadaan sekarang serta kondisiku tidak memungkinkan, aku terpaksa mencukupkan diri dengan bukti-buktinya yang sangat ringkas serta terjemahan maknanya. Karena tiga puluh tiga tingkatan ini, beserta dalilnya, telah dijelaskan dengan cara yang berbeda-beda dalam tiga puluh, bahkan seratus risalah Risale-i Nur—sebagian tingkatan dalam setiap risalah—perinciannya diserahkan kepada risalah-risalah tersebut.)

Kemudian bola bumi berkata melalui bahasa keadaan kepada tamu yang bertafakur serta telah terbiasa dengan perjalanan pikiran itu, "Apa yang engkau cari sambil berkelana di langit, ruang, serta udara? Datanglah; aku akan memperkenalkan kepadamu Yang engkau cari. Pandang tugas-tugas yang kujalankan dan bacalah halaman-halamanku!" Ia pun memandang dan melihat:

Seperti darwis Mevlevi yang diliputi tarikan, bumi, melalui dua gerakannya, menggambar lingkaran yang menjadi sarana munculnya hari, tahun, serta musim di sekeliling medan Kebangkitan Agung. Bumi juga merupakan kapal Rabb yang megah serta ditundukkan, yang memuat seratus ribu jenis makhluk hidup bersama seluruh perbekalan dan kebutuhannya, membawa mereka berkelana di lautan ruang dengan keseimbangan serta keteraturan sempurna, dan melakukan perjalanan mengelilingi matahari.

Kemudian ia memandang halaman-halaman bumi dan melihat bahwa setiap halaman dalam bab-babnya memperkenalkan Rabb bumi melalui ribuan tanda. Karena tidak memiliki waktu untuk membaca seluruhnya, ia hanya memandang satu halaman: penciptaan serta pengelolaan makhluk hidup pada musim semi. Ia menyaksikan:

Rupa individu-individu tak terbatas dari seratus ribu jenis dibuka dari bahan sederhana dengan sangat teratur, dan mereka dipelihara dengan penuh kasih. Dengan cara yang sangat bermukjizat, benih sebagian dari mereka diberi sayap-sayap kecil, lalu disebarkan dengan diterbangkan. Mereka dikelola dengan sangat teratur, diberi perbekalan serta makanan dengan penuh kasih sayang; dan rezeki yang tak terbatas, beragam, lezat, serta manis ditumbuhkan bagi mereka dengan penuh kasih dan Pemberian Rezeki, dari keadaan tidak ada, tanah kering, serta akar-akar seperti tulang, benih, dan tetes air, yang saling serupa serta hanya sedikit berbeda. Seperti gerbong, setiap musim semi dimuati seratus ribu jenis makanan serta keperluan dari khazanah gaib dengan keteraturan sempurna, lalu dikirim kepada makhluk hidup.

Terutama, pengiriman susu yang terkemas bagi anak-anak makhluk dalam paket-paket perbekalan tersebut, serta pompa-pompa kecil susu manis yang tergantung pada dada ibu mereka yang penuh kasih, terlihat dalam kasih sayang, Rahmat, serta Hikmah sedemikian rupa sehingga membuktikan dengan jelas bahwa hal itu merupakan Manifestasi Rahmat dan Kebaikan Ar-Rahmân Yang Rahîm dengan penuh Kasih Sayang serta Pemeliharaan.

Kesimpulannya,

halaman kehidupan musim semi ini, dengan memperlihatkan seratus ribu contoh serta perumpamaan Kebangkitan Agung, menafsirkan ayat

ﻓَﺎﻧْﻈُﺮْ ﺍِﻟٰٓﻰ ﺍٰﺛَﺎﺭِ ﺭَﺣْﻤَﺖِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻛَﻴْﻒَ ﻳُﺤْﻴِﻰ الْاَرْضَ ﺑَﻌْﺪَ ﻣَﻮْﺗِﻬَﺎ ﺍِﻥَّ ﺫٰﻟِﻚَ ﻟَﻤُﺤْﻴِﻰ ﺍﻟْﻤَﻮْﺗٰﻰ ﻭَﻫُﻮَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ

secara nyata dengan sangat terang; ayat ini pun mengungkapkan makna-makna halaman tersebut dengan cara yang bermukjizat. Ia memahami bahwa bumi, bersama seluruh halamannya, mengucapkan

لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّاهُوَ

dengan daya yang sebanding dengan kebesarannya.

Melalui kesaksian ringkas satu segi dari dua puluh segi satu halaman di antara lebih dari dua puluh halaman besar bola bumi, juga untuk mewakili apa yang disaksikan musafir tersebut pada halaman-halaman dari segi lainnya dan mengungkapkan apa yang disaksikannya itu pada tingkatan ketiga Bagian Pertama diucapkan demikian:

لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍﻟْﻮَﺍﺟِﺐُ ﺍﻟْﻮُﺟُﻮﺩِ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺩَﻝَّ ﻋَﻠٰﻰ ﻭُﺟُﻮﺏِ ﻭُﺟُﻮﺩِﻩ۪ ﻓ۪ﻰ ﻭَﺣْﺪَﺗِﻪِ الْاَرْضُ ﺑِﺠَﻤ۪ﻴﻊِ ﻣَﺎ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﻭَ ﻣَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺑِﺸَﻬَﺎﺩَﺓِ ﻋَﻈَﻤَﺔِ ﺍِﺣَﺎﻃَﺔِ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ ﺍﻟﺘَّﺴْﺨ۪ﻴﺮِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﺪْﺑ۪ﻴﺮِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﺮْﺑِﻴَﺔِ ﻭَ ﺍﻟْﻔَﺘَّﺎﺣِﻴَّﺔِ ﻭَ ﺗَﻮْﺯ۪ﻳﻊِ ﺍﻟْﺒُﺬُﻭﺭِ ﻭَ ﺍﻟْﻤُﺤَﺎﻓَﻈَﺔِ ﻭَ الْاِدَارَةِ ﻭَ الْاِعَاشَةِ ﻟِﺠَﻤ۪ﻴﻊِ ﺫَﻭِﻯ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓِ ﻭَ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﺎﻧِﻴَّﺔِ ﻭَ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻤِﻴَّﺔِ ﺍﻟْﻌَﺎﻣَّﺔِ ﺍﻟﺸَّﺎﻣِﻠَﺔِ ﺍﻟْﻤُﻜَﻤَّﻠَﺔِ ﺑِﺎﻟْﻤُﺸَﺎﻫَﺪَﺓِ

Setiap kali membaca suatu halaman, iman musafir yang bertafakur itu, kunci kebahagiaan, menjadi lebih kuat; makrifatnya, kunci kemajuan maknawi, bertambah; dan hakikat iman kepada Allah سُبْحَانَهُ, dasar serta tambang seluruh kesempurnaan, tersingkap satu tingkat lagi serta memberinya banyak kesenangan dan nikmat maknawi. Karena semuanya sangat menggugah keingintahuannya, meskipun telah mendengarkan pelajaran sempurna serta pasti dari langit, angkasa, dan bumi, ia terus mengucapkan ﻫَﻞْ ﻣِﻦْ ﻣَﺰ۪ﻳﺪٍ. Kemudian ia mendengar zikir laut-laut serta sungai-sungai besar dalam gemuruh dan gejolak yang memikat, juga suara-suara mereka yang sendu serta nikmat. Melalui bahasa keadaan serta bahasa ucapan, mereka berkata, "Pandanglah kami pula; bacalah kami pula!" Ia pun memandang dan melihat:

Laut-laut, yang terus bergolak seperti hidup, dan yang fitrahnya menyebar, tumpah, serta meluas, mengelilingi bumi. Meskipun dibuat berlari sangat cepat bersama bumi dalam lingkaran sejarak dua puluh lima ribu tahun selama satu tahun, laut-laut itu tidak menyebar, tidak tumpah, serta tidak melampaui batas tanah di dekatnya. Berarti, melalui Perintah serta Kekuatan Zat Yang Sangat Berkuasa dan Agung, mereka berhenti, berjalan, serta dipelihara.

Kemudian ia memandang bagian dalam laut dan melihat: selain permata-permatanya yang sangat indah, berhias, serta teratur, pemberian makanan serta pengelolaan ribuan macam hewan, kelahiran serta kematian mereka begitu teratur; perbekalan serta jatah makanan mereka dari pasir sederhana dan air asin begitu sempurna, sehingga membuktikan dengan jelas bahwa semuanya berlangsung melalui Pengelolaan serta Pemberian Makanan dari Sang Qadîr Dzul-Jalâl serta Sang Rahîm Dzul-Jamâl.

Kemudian tamu itu memandang sungai-sungai dan melihat: manfaat, tugas, pemasukan, serta pengeluaran mereka begitu penuh hikmah dan kasih sayang sehingga membuktikan dengan jelas bahwa seluruh sungai, mata air, aliran air, serta sungai besar keluar dan mengalir dari khazanah Rahmat Ar-Rahmân Dzul-Jalâl wal-Ikrâm. Bahkan, penyimpanan serta pengeluarannya begitu luar biasa sehingga diriwayatkan, "Empat sungai datang dari surga." Yakni, karena berada jauh di atas sebab-sebab lahiriah, maknanya ialah bahwa sungai-sungai itu mengalir dari khazanah surga maknawi, serta hanya dari limpahan sumber gaib yang tidak habis.

Misalnya, Sungai Nil yang diberkahi, yang mengubah padang pasir Mesir menjadi surga, terus mengalir dari gunung yang disebut "Cebel-i Kamer" di arah selatan, seperti laut kecil yang tidak habis. Jika pengeluarannya selama enam bulan dikumpulkan dan dibekukan dalam bentuk gunung, ia akan lebih besar daripada gunung tersebut. Padahal, tempat serta ruang penyimpanan yang diperuntukkan bagi Sungai Nil dalam gunung itu tidak mencapai seperenamnya. Pemasukannya ialah hujan yang sangat sedikit turun di wilayah panas tersebut, serta hanya sedikit mencapai tempat penyimpanan karena segera diserap tanah yang kehausan; tentu hujan itu tidak dapat menjaga keseimbangan yang luas tersebut. Karena itu, riwayat bahwa Sungai Nil yang diberkahi itu keluar dari surga gaib yang melampaui kebiasaan bumi mengungkapkan hakikat yang sangat bermakna serta indah.

Ia melihat seperseribu hakikat serta kesaksian laut dan sungai yang seluas laut. Ia memahami bahwa semuanya, melalui ijmak, mengucapkan

لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّاهُوَ

dengan daya yang sebanding dengan kebesaran laut, serta menunjukkan saksi bagi kesaksian itu sebanyak makhluk laut. Dengan maksud meniatkan serta mengungkapkan seluruh kesaksian laut dan sungai, pada tingkatan keempat Bagian Pertama diucapkan

لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍﻟْﻮَﺍﺟِﺐُ ﺍﻟْﻮُﺟُﻮﺩِ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺩَﻝَّ ﻋَﻠٰﻰ ﻭُﺟُﻮﺏِ ﻭُﺟُﻮﺩِﻩ۪ ﻓ۪ﻰ ﻭَﺣْﺪَﺗِﻪ۪ ﺟَﻤ۪ﻴﻊُ ﺍﻟْﺒِﺤَﺎﺭِ ﻭَ الْاَنْهَارِ ﺑِﺠَﻤ۪ﻴﻊِ ﻣَﺎ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﺑِﺸَﻬَﺎﺩَﺓِ ﻋَﻈَﻤَﺔِ ﺍِﺣَﺎﻃَﺔِ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ ﺍﻟﺘَّﺴْﺨ۪ﻴﺮِ ﻭَ ﺍﻟْﻤُﺤَﺎﻓَﻈَﺔِ ﻭَ الْاِدِّخَارِ ﻭَ الْاِدَارَةِ ﺍﻟْﻮَﺍﺳِﻌَﺔِ ﺍﻟْﻤُﻨْﺘَﻈَﻤَﺔِ ﺑِﺎﻟْﻤُﺸَﺎﻫَﺪَﺓِ.

Kemudian gunung serta padang memanggil musafir yang sedang melakukan perjalanan pikiran itu dan berkata, "Bacalah pula halaman-halaman kami!" Ia pun memandang dan melihat:

Tugas-tugas menyeluruh serta khidmah umum gunung begitu agung dan penuh hikmah sehingga membuat akal terheran. Misalnya, gunung-gunung keluar dari bumi melalui Perintah Rabb. Dengan munculnya, gunung-gunung itu menenangkan gejolak, amarah, serta rasa geram di dalam bumi yang berasal dari perubahan-perubahan dalamnya. Melalui semburan serta lubang gunung itu, bumi bernapas, terbebas dari guncangan yang berbahaya serta gempa yang merusak, dan tidak mengganggu ketenteraman para penghuninya dalam tugas perputarannya.

Berarti, sebagaimana tiang kapal dipasang untuk melindunginya dari guncangan serta menjaga keseimbangannya; demikian pula, melalui banyak ayat seperti

ﻭَ ﺍﻟْﺠِﺒَﺎﻝَ ﺍَﻭْﺗَﺎﺩًﺍ ٭ ﻭَﺍَﻟْﻘَﻴْﻨَﺎ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﺭَﻭَﺍﺳِﻰَ ٭ ﻭَﺍﻟْﺠِﺒَﺎﻝَ ﺍَﺭْﺳٰﻴﻬَﺎ,

Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya menyatakan bahwa gunung merupakan tiang-tiang berisi khazanah bagi kapal bumi, dengan makna tersebut.

Misalnya pula, dalam gunung, segala jenis sumber, air, mineral, bahan, serta obat yang diperlukan makhluk hidup disimpan, disiapkan, dan ditumpuk dengan Hikmah, Pengaturan, Kemurahan Hati, serta Kehati-hatian demikian; ia memahami bahwa semuanya membuktikan dengan jelas bahwa gunung merupakan khazanah, gudang, serta pelayan Sang Qadîr yang Kudrat⁠-⁠Nya tiada akhir, dan Sang Hakîm yang Hikmah⁠-⁠Nya tiada akhir.

Dengan membandingkan tugas serta Hikmah lain dari padang dan gunung, yang sebesar gunung, dengan kedua permata ini, ia melihat kesaksian yang mereka berikan serta tauhid

لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّاهُوَ

yang mereka ucapkan melalui seluruh Hikmah mereka, terutama dari segi penyimpanan persediaan untuk kebutuhan mendatang. Ia melihat kesaksian itu dengan daya serta keteguhan gunung, juga keluasan serta kebesaran padang, lalu berkata, "Âmentü billah".

Untuk mengungkapkan makna ini, pada tingkatan kelima Bagian Pertama diucapkan

لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍﻟْﻮَﺍﺟِﺐُ ﺍﻟْﻮُﺟُﻮﺩِ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺩَﻝَّ ﻋَﻠٰﻰ ﻭُﺟُﻮﺏِ ﻭُﺟُﻮﺩِﻩ۪ ﺟَﻤ۪ﻴﻊُ ﺍﻟْﺠِﺒَﺎﻝِ ﻭَ ﺍﻟﺼَّﺤَﺎﺭٰﻯ ﺑِﺠَﻤ۪ﻴﻊِ ﻣَﺎ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﻭَ ﻣَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺑِﺸَﻬَﺎﺩَﺓِ ﻋَﻈَﻤَﺔِ ﺍِﺣَﺎﻃَﺔِ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ الْاِدِّخَارِ ﻭَ الْاِدَارَةِ ﻭَ ﻧَﺸْﺮِ ﺍﻟْﺒُﺬُﻭﺭِ ﻭَ ﺍﻟْﻤُﺤَﺎﻓَﻈَﺔِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﺪْﺑ۪ﻴﺮِ الْاِحْتِيَاطِيَّةِ ﺍﻟﺮَّﺑَّﺎﻧِﻴَّﺔِ ﺍﻟْﻮَﺍﺳِﻌَﺔِ ﺍﻟْﻌَﺎﻣَّﺔِ ﺍﻟْﻤُﻨْﺘَﻈَﻤَﺔِ ﺍﻟْﻤُﻜَﻤَّﻠَﺔِ ﺑِﺎﻟْﻤُﺸَﺎﻫَﺪَﺓِ.

Kemudian, ketika musafir itu berkelana dengan pikirannya di gunung serta padang, pintu alam pepohonan dan tumbuhan terbuka bagi pikirannya. Mereka memanggilnya masuk dan berkata, "Datanglah, berkelanalah pula dalam lingkup kami, dan bacalah tulisan-tulisan kami!" Ia pun masuk dan melihat:

Mereka membentuk majelis tahlil serta tauhid yang sangat megah dan berhias, juga lingkaran zikir serta syukur. Dari bahasa keadaan mereka, ia memahami bahwa seluruh jenis pohon serta tumbuhan, melalui ijmak, seolah-olah bersama mengucapkan

ٔلَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ.

Sebab, ia melihat tiga hakikat besar yang menyeluruh, yang menunjukkan serta bersaksi bahwa seluruh pohon dan tumbuhan yang berbuah memberikan kesaksian dengan tasbih serta mengucapkan

لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّاهُوَ,

melalui lidah daun-daunnya yang terukur serta fasih, ungkapan bunga-bunganya yang berhias serta kuat, dan kata-kata buahnya yang teratur serta penuh balagah: