Yang Memandang kepada Risale-i Nur
Sinar-Sinar · hlm. 709
Kalimat Pertamanya: مَثَلُ نُورِه۪ كَمِشْكٰوةٍ ف۪يهَا مِصْبَاحٌ. Yakni perumpamaan cahaya Ilahi, atau cahaya Qur'ani, atau cahaya Muhammadi صلى الله عليه وسلم, ialah مِشْكٰوةٍ ف۪يهَا مِصْبَاحٌ ini. Kedudukan jifirnya sembilan ratus sembilan puluh
delapan (998), sehingga persis sama dengan Risaletü'n-Nur — dengan memandang bahwa nun bertasydid dihitung dua nun — lalu dengan tawafuk yang tepat sekali ia mengisyaratkan kepadanya.
Kalimat Keduanya: اَلزُّجَاجَةُ كَاَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّىٌّ يُوقَدُ. Sebagaimana telah diterangkan secara terperinci di dalam Lem'a Kedua Puluh Delapan, Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu di dalam Kasidah Jaljalutiyah-nya, dengan memandang kepada Risalei'n-Nur pada derajat yang hampir terang-terangan dan dengan mengisyaratkan kepadanya, berkata: اَقِدْ كَوْكَب۪ى بِالْاِسْمِ نُورًا Aku menduga bahwa isyarat Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu ini terilhami dari ramz kalimat Nuriyah ini. Kedudukan kalimat ayat ini berjumlah lima ratus empat puluh enam (546); maka sebagaimana ia mengisyaratkan dari sisi tawafuk kepada bilangan Risale-i Nur, yaitu lima ratus empat puluh delapan (548), dengan dua perbedaan yang sangat kecil lagi mengandung rahasia, demikian pula ia memandang dengan tepat melalui makna ramzinya.
Kalimat Ketiganya: مِنْ شَجَرَةٍ. Jika ة pada مِنْ شَجَرَةٍ dihitung sebagai ه seperti pada tempat-tempat waqaf, maka jumlahnya lima ratus sembilan puluh delapan (598), sehingga tepat sekali bertawafuk dengan bilangan Resaili'n-Nur dan Risalei'n-Nur, yaitu lima ratus sembilan puluh delapan; dan sekaligus, dengan tawafuk ramzi yang hanya berbeda satu angka lagi mengandung rahasia dari bilangan مِنْ فُرْقَانٍ حَك۪يمٍ, ia memasukkan Resaili'n-Nur ke dalam anggota-anggotanya, sekaligus memperlihatkan bahwa pohon yang diberkahi bagi Risalei'n-Nur ialah Al-Furqân Al-Hakîm. Adapun jika ة pada مِنْ شَجَرَةٍ tetap sebagai ت, maka kedudukan jifirnya menjadi sembilan ratus sembilan puluh tiga (993); lalu dengan lima perbedaan kecil lagi mengandung rahasia yang tidak merusak tawafuk, ia bertawafuk dengan bilangan Risaletü'n-Nur, yaitu sembilan ratus sembilan puluh delapan (998), dan berdasarkan kesesuaian maknanya pula ia mengisyaratkan kepadanya.
Kalimat Keempatnya: نُورٌ عَلٰى نُورٍ يَهْدِى اللّٰهُ لِنُورِه۪; jumlahnya sembilan ratus sembilan puluh sembilan (999), sehingga dengan satu perbedaan yang mengandung rahasia ia bertawafuk dengan bilangan Risaletü'n-Nur, yaitu sembilan ratus sembilan puluh delapan (998); lalu berdasarkan kaitan maknanya yang kuat ia memberikan ramz pada derajat isyarat.
Kalimat Kelimanya: kalimat مَنْ يَشَٓاءُ bertawafuk, dengan perbedaan yang sangat kecil, dengan nama penulis Risaletü'n-Nur beserta sebuah gelar yang masyhur baginya; maka ia memandang sebagaimana maknanya pun memandang. Jika damir yang tersembunyi pada يَشَٓاءُ ditampakkan, ia menjadi مَنْ يَشَٓائُهُ. Maka tawafuknya menjadi tepat sekali.
Sebagaimana ayat ini memandang kepada Risalei'n-Nur dengan namanya, demikian pula ia memandang secara ramzi, dengan tawafuk yang tepat sekali, kepada tarikh penulisan dan penyempurnaannya: kalimat كَمِشْكٰوةٍ ف۪يهَا مِصْبَاحٌ اَلْمِصْبَاحُ ف۪ى زُجَاجَةٍ — karena tanwin pada كَمِشْكٰوةٍ bukan tempat waqaf sehingga dihitung nun, dan karena ف۪ى زُجَاجَةٍ merupakan tempat waqaf sehingga ة menjadi ه — berjumlah seribu tiga ratus empat puluh sembilan (1349); maka dengan tawafuk yang tepat sekali ia mengisyaratkan kepada tarikh seribu tiga ratus empat puluh sembilan, yaitu masa ditulisnya dan masa disempurnakannya bagian-bagian Resaili'n-Nur yang paling bercahaya.
Lagi pula, kalimat اَلْمِصْبَاحُ ف۪ى زُجَاجَةٍ اَلزُّجَاجَةُ كَاَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّىٌّ berjumlah seribu tiga ratus empat puluh lima (1345), sehingga bertawafuk dengan tepat sekali dengan tarikh tersebarnya, termasyhurnya, dan bersinarnya Resaili'n-Nur. Sebab ر bertasydid dihitung dua ر, ن bertasydid dihitung dua ن, ز bertasydid menurut asalnya dihitung satu ل dan satu ز; sedangkan زُجَاجَة yang pertama, karena merupakan tempat waqaf, dihitung ه; adapun yang kedua, karena bukan tempat waqaf, dihitung ت. Jika ز bertasydid dihitung dua ز, maka jumlahnya menjadi seribu tiga ratus dua puluh dua (1322), yang juga bertawafuk dengan tepat sekali dengan tarikh yang sama ketika penulis Risalei'n-Nur memulai mukadimah-mukadimah Nuriyah.
Lagi pula, kalimat مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ — dengan memandang bahwa ta yang pertama tetap ت, sedangkan ت yang kedua, karena merupakan tempat waqaf, menjadi ه, dan tanwin pada شَجَرَةٍ dihitung ن — berjumlah seribu tiga ratus sebelas (1311); maka dengan tawafuk yang tepat sekali ia memandang secara ramzi kepada tarikh yang sama itu, yaitu ketika penulis Resaili'n-Nur mulai mengajarkan ilmu-ilmu bahasa Arab yang menjadi anak tangga menuju Al-Qur'an, yaitu pohon suci lagi diberkahi bagi Risaletü'n-Nur. Maka kesepakatan tawafuk-tawafuk Qur'ani yang sedemikian bermakna lagi berbilang ini bukan sekadar sebuah tanda dan sebuah isyarat, melainkan sebuah petunjuk yang kuat. Bahkan, bersama listrik, ia merupakan penyebutan yang terang-terangan atas Resaili'n-Nur melalui kaitan maknawinya.
Salah satu segi lembut dari kaitan maknawi ayat ini ialah demikian: sebagaimana ia mengisyaratkan secara menakjubkan, dari jenis kabar gaib, baik kepada listrik maupun kepada Risalei'n-Nur, demikian pula ia memperlihatkan dengan sangat indah munculnya keduanya, masa disempurnakannya keduanya setelah masa munculnya, serta keadaan keduanya yang menyalahi kebiasaan.
Misalnya, kalimat زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَ لَا غَرْبِيَّةٍ berkata: “Sebagaimana barang berharga berupa listrik itu bukanlah barang yang didatangkan dari timur ataupun dari barat, melainkan ia turun dari atas, di ruang udara, dari perbendaharaan rahmat, dari arah langit-langit. Ia adalah milik setiap tempat. Tidak perlu mencarinya dari tempat lain.” — demikianlah ia berkata.
Demikian pula Resaili'n-Nur yang merupakan listrik maknawi: ia bukanlah barang yang datang dari pengetahuan dan ilmu-ilmu timur, bukan pula dari filsafat dan ilmu-ilmu barat, dan bukan pula cahaya yang dikutip dari keduanya. Melainkan ia dikutip dari tingkatan arasy Al-Qur'an yang samawi, yang tinggi di atas timur dan barat.
Lagi pula, misalnya, kalimat يَكَادُ زَيْتُهَا يُض۪ٓىءُ وَ لَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُورٌ, dengan makna ramzinya, berkata: Pada abad ketiga belas dan keempat belas, lampu-lampu samawi menyala tanpa api, bersinar tanpa disentuh api. Zamannya sudah dekat, yakni dekat dengan tarikh seribu dua ratus delapan puluh (1280).
Maka sebagaimana dengan kalimat ini ia menerangkan secara ramzi keadaan listrik yang menyalahi kebiasaan serta kedatangannya, demikian pula Resaili'n-Nur yang merupakan listrik maknawi: meskipun ia merupakan ilmu yang sangat tinggi lagi mendalam, setiap orang menurut derajatnya dapat memahami ilmu-ilmu yang tinggi itu tanpa memerlukan beban menuntut ilmu, tanpa perlu bersusah payah menekuni pelajaran, tanpa perlu belajar dari ustaz-ustaz lain, dan tanpa perlu mengutip dari mulut para pengajar, bahkan tanpa memerlukan api kesusahan; ia mengambil manfaat dengan sendirinya, lalu dapat menjadi seorang alim ahli tahkik.
Lagi pula ia mengisyaratkan bahwa penulis Resaili'n-Nur pun menyala tanpa api; tanpa memerlukan beban belajar dan kesusahan pelajaran, ia bercahaya dengan sendirinya lalu menjadi seorang alim.
Benar, tiga isyarat menakjubkan dari kalimat ini, sebagaimana ia benar mengenai listrik dan Resaili'n-Nur, demikian pula ia merupakan hakikat itu sendiri mengenai penulisnya. Orang-orang yang membaca Tarihçe-i Hayat (Riwayat Hidup)-nya dan orang-orang sekampungnya mengetahui bahwa kitab-kitab yang menurut metode madrasah dibaca setelah kitab “Izhar” dengan menempuh pelajaran selama lima belas tahun, telah dipelajari oleh penulis Resaili'n-Nur hanya di dalam tiga bulan.
Lagi pula, sebagaimana kalimat ini memiliki isyarat yang kuat lagi lembut dari sisi kaitan maknawi, demikian pula dengan tawafuk jifir dan abjadnya ia mengabarkan secara ramzi, baik dekatnya masa munculnya listrik maupun tampilnya Resaili'n-Nur ke
permukaan, dan juga kelahiran penulisnya. Ia memperlihatkan lagi sekilau cahaya i'jaz. Yaitu demikian:
Kedudukan يَكَادُ زَيْتُهَا يُض۪ٓىءُ ialah seribu dua ratus tujuh puluh sembilan (1279); adapun bagian وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُورٌ, dengan memandang bahwa dua tanwin dihitung dua “nun”, berjumlah seribu dua ratus delapan puluh empat (1284). Maka sebagaimana ia mengisyaratkan secara makna, melalui kalimat suci يَكَادُ, kepada dekatnya listrik menyebar merata, kepada dekatnya Resaili'n-Nur, dan kepada kelahiran penulisnya empat belas tahun kemudian, demikian pula dengan jifir ia mengisyaratkan melalui tawafuk yang tepat sekali dengan tarikh yang sama itu.
Sudah dimaklumi bahwa tali-tali yang lemah lagi tipis, semakin ia berhimpun semakin kuat, lalu menjadi seutas tambang yang tidak akan putus. Berdasarkan rahasia ini, isyarat-isyarat ayat ini saling memberi kekuatan dan saling menguatkan. Sekalipun tawafuknya tidak sempurna, ia berkedudukan sebagai tawafuk yang sempurna, dan isyaratnya naik sampai ke derajat petunjuk.
Perhatian: Aku menerangkan isyarat-isyarat ayat nuriyah ini bukan demi listrik dan bukan pula demi Resaili'n-Nur. Melainkan aku ingin memperlihatkan sekilau cahaya dari salah satu cabang i'jaz maknawi ayat ini.
Kesimpulannya: Sebagaimana ayat suci ini dengan makna sarihnya mengajarkan cahaya Ilahi, cahaya Qur'ani, dan cahaya Muhammadi صلى الله عليه وسلم, demikian pula dengan makna isyarinya — sebagaimana ia memandang kepada setiap abad — ia pun memandang kepada akhir abad ketiga belas dan awal abad keempat belas, bahkan membuat orang memandang ke sana dengan saksama. Dan karena pada akhir dan awal kedua abad itu yang paling menarik pandangan, yang paling kuat kaitan maknawinya, dan yang paling banyak mendapati seluruh kalimat ayat ini bersesuaian lagi cocok dengannya ialah listrik dan Resaili'n-Nur, maka hal itu memberikan kepadaku keyakinan yang pasti bahwa ayat ini memandang secara langsung kepada keduanya dengan makna ramzi; karena itu tanpa ragu aku menuliskan keyakinanku. Jika aku keliru, aku memohon kepada Arhamur-Râhimîn agar Dia mengampuni dengan rahmat-Nya.
Orang-orang yang ingin memahami betapa Resaili'n-Nur layak menerima perhatian ayat ini, risalah mana pun yang mereka perhatikan dengan saksama, niscaya mereka akan memahaminya. Sekurang-kurangnya, jika ia memperhatikan dengan saksama Risalah Enam Nukta mengenai enam asma Ilahi yang bernama Lem'a Ketiga Puluh — salah satu buah Penjara Eskişehir — atau sekurang-kurangnya Nukta Kelima dan Keenam dari Lem'a itu mengenai ism Al-Hayy dan Al-Qayyûm, sudah pasti ia akan membenarkannya.