YANG PERTAMA:
Sinar-Sinar · hlm. 267
Manusia, berbeda dengan hewan-hewan lain, terkait dengan dunia sebagaimana ia terkait dengan rumahnya sendiri; dan ia berhubungan dengan seluruh umat manusia secara serius lagi fitri, sebagaimana ia berhubungan dengan kerabatnya. Dan sebagaimana ia menginginkan agar tetap tinggal sementara di dunia, ia pun menginginkan — sampai pada derajat cinta yang membara — agar tetap kekal di sebuah negeri yang abadi. Dan sebagaimana ia berusaha memenuhi kebutuhan makanan bagi perutnya, secara fitrah ia terpaksa dan terus berjuang menyediakan hidangan dan makanan yang seluas dunia, bahkan yang membentang sampai ke alam abadi, untuk perut akal, kalbu, ruh, dan sisi insaninya. Dan ia memiliki keinginan serta tuntutan sedemikian rupa sehingga tidak ada satu pun yang dapat memuaskannya selain kebahagiaan abadi.
Bahkan, sebagaimana telah diisyaratkan dalam Kelimat Kesepuluh, suatu ketika, di masa kecilku, aku bertanya kepada daya khayalku: "Diberi umur satu juta tahun dan kerajaan dunia, tetapi sesudah itu jatuh ke dalam tidak ada dan lenyap sama sekali — apakah itu yang
engkau inginkan? Ataukah engkau menginginkan wujud yang kekal, meskipun biasa dan penuh susah payah?" kataku. Aku melihat, ia justru menginginkan yang kedua dan menghela "Ah!" terhadap yang pertama. Ia berkata: "Sekalipun di neraka, aku tetap ingin kekal selamanya."
Maka selama kenikmatan dunia ini tidak memuaskan daya khayal, yang hanyalah salah satu pelayan dari hakikat diri manusia, sudah pasti hakikat diri manusia yang teramat menghimpun itu secara fitrah terkait dengan kekal selamanya. Maka bagi manusia yang — meskipun terikat kepada keinginan dan cita-cita yang tak terhingga itu — modalnya hanyalah kehendak bebas yang teramat kecil dan sifat fakir yang mutlak, iman kepada akhirat adalah khazanah yang demikian kuat, mencukupi, dan memadai; sumber kebahagiaan dan kenikmatan; tempat memohon pertolongan; tempat kembali; serta sumber hiburan terhadap kesedihan dunia yang tak terhingga — sehingga ia adalah buah dan faedah yang, seandainya seseorang mengorbankan hidup dunianya di jalan untuk meraihnya, tetap saja itu murah.