YANG PERTAMA
Sinar-Sinar · hlm. 753
Setelah fikrah تُقَادُ سِرَاجُ النُّورِ سِرًّا بَيَانَةً yang menyebut Risale-i Nur secara terang-terangan, beliau memohon pertolongan dengan asmaul husna dalam bahasa Suryani dan bermunajat dengan surah-surah Al-Qur'an. Beliau menyebutkannya dengan tepat tiga puluh tiga surah, dengan cara yang demikian menakjubkan lagi sarat makna, sehingga dapat dipahami bahwa beliau hendak memberitahukan pula sebagian rahasia dan berita gaib. Pada suatu masa yang penuh kesempitan, pada waktu yang sama ketika aku menyelesaikan Sinar Ketujuh yang oleh Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu diberi nama Ayatul Kubra — menurut keyakinanku, sebagai balasan dan upah yang disegerakan bagiku — pada malam harinya aku membaca Jaljalutiyah. Tiba-tiba, laksana sebuah peringatan gaib, dikatakan ke dalam hatiku:
Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu sangat sibuk dengan Risale-i Nur. Sebagaimana beliau memberitakan keseluruhannya, demikian pula beliau memberi ramz dan ima pada derajat isyarat kepada risalah-risalahnya yang berharga. Seandainya memberitakan perkara gaib secara terang-terangan itu tidak dilarang oleh hikmah Ilahi — karena hal itu banyak mengandung bahaya sehingga bertentangan dengan hikmah — niscaya beliau akan menyebutkannya dengan terang-terangan. Misalnya, ketika menghitung surah-surah, saat sampai kepada yang kedua puluh lima beliau berkata:
بِحَقِّ تَبَارَكَ ثُمَّ نُونٍ وَ سَائِلٍ وَ بِسُورَةِ التَّهْم۪يزِ وَ الشَّمْسُ كُوِّرَتْ وَ بِالذَّارِيَاتِ ذَرْوًا وَ النَّجْمِ اِذَا هَوٰى وَ بِاِقْتَرَبَتْ لِىَ الْاُمُورُ تَقَرَّبَتْ وَ بِسُوَرِ الْقُرْاٰنِ حِزْبًا وَ اٰيَةً عَدَدَ مَا قَرَاَ الْقَار۪ى وَمَا قَدْ تَنَزَّلَتْ فَاَسْئَلُكَ يَا مَوْلَاىَ بِفَضْلِكَ الَّذ۪ى عَلٰى كُلِّ مَا اَنْزَلْتَ كُتْبًا تَفَضَّلَتْ
Maka di dalam fikrah-fikrah ini, kepada Kelimat Kedua Puluh Sembilan yang termasyhur dengan sebuah karamahnya yang membuat Mahkamah Pidana Berat Eskişehir tercengang dan yang tampak oleh mata di atasnya, serta dengan hujah-hujahnya yang menakjubkan yang membuktikan kiamat dan
kebangkitan, Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu memberikan isyarat kepadanya dengan وَالشَّمْسُ كُوِّرَتْ pada tingkatan kedua puluh sembilan dari surah-surah yang beliau sebut dan hitung. Sebab, Kelimat Kedua Puluh Sembilan itu — dalam bentuk yang tepat sesuai dengan surah اِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ yang memberitakan terjadinya kiamat dengan sangat dahsyat — ketika menerangkan hujah-hujah yang pasti tentang kiamat, hancurnya alam, matinya dunia, kehidupan akhirat, dan dihidupkannya kembali orang-orang mati, menyebutkan pula gambaran dahsyat dari surah ini; maka kesesuaian keduanya, baik pada makna maupun pada tingkatan kedua puluh sembilan, membuktikan isyarat tersebut.
Lagi pula, kepada Risalah Zarah yang bernama Kelimat Ketiga Puluh — yang membungkam kaum materialis yang tenggelam di dalam perubahan-perubahan zarah, dan yang membuktikan dengan cara yang tiada bandingnya perubahan dan gerak zarah beserta tugas dan keteraturannya — Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu memberikan isyarat pada tingkatan ketiga puluh dengan sumpah وَبِالذَّارِيَاتِ ذَرْوًا. Ya, pada isyarat ini, di samping keserupaan lafal dan bentuk antara Surah وَالذَّارِيَاتِ ذَرْوًا dan Risalah Zarah, terdapat pula kaitan dari sisi makna. Sebab, sebagaimana pada awal Surah وَالذَّارِيَات dinyatakan bahwa gelombang-gelombang udara yang disangka terjadi secara kebetulan lagi tanpa keteraturan itu justru sangat penuh hikmah dan memikul tugas menyampaikan perintah-perintah penciptaan dari rububiyah ke segala penjuru, demikian pula Risalah Zarah membuktikan dengan burhan-burhan yang sangat kuat lagi pasti bahwa gerak zarah-zarah yang oleh kaum materialis dianggap kebetulan lagi tanpa keteraturan itu pun sangat penuh hikmah, dan bahwa zarah-zarah itu memikul tugas-tugas yang teratur.
Lagi pula, kepada Risalah Mikraj yang bernama dan berada pada tingkatan Kelimat Ketiga Puluh Satu — yang membuktikan mikraj Muhammad صلى الله عليه وسلم dengan dalil-dalil akal secara sangat masuk akal lagi pasti — Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu memberikan isyarat pada tingkatan ketiga puluh satu dengan cara yang hampir terang-terangan, yaitu dengan kalimat وَ النَّجْمِ اِذَا هَوٰى yang terdapat pada awal Surah وَ النَّجْمِ اِذَا هَوٰى, surah yang dimulai secara terang-terangan dengan mikraj Ahmad صلى الله عليه وسلم serta dengan apa yang beliau saksikan dan percakapkan di Qâba Qausain. Dan dengan meninggalkan Surah وَ الطُّورِ, penyebutan Surah وَ النَّجْمِ setelah وَ الذَّارِيَات semakin menguatkan isyarat ini.
Lagi pula, kepada risalah yang bernama Risalah Terbelahnya Bulan — yang merupakan lampiran Risalah Mikraj dan berada pada akhir tingkatan ketiga puluh satu, yang membuktikan mukjizat terbelahnya bulan dengan dalil-dalil yang kuat terhadap orang-orang yang mengingkarinya — Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu memberikan isyarat yang hampir terang-terangan, dengan mengutip dari Surah اِقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَ انْشَقَّ الْقَمَرُ yang menyebutkan terbelahnya bulan dengan nas yang terang-terangan, melalui fikrah وَ بِاِقْتَرَبَتْ لِىَ الْاُمُورُ تَقَرَّبَتْ yang disebutkan tepat setelah tingkatan ketiga puluh satu.
Sudah dimaklumi bahwa Risale-i Nur pada mulanya adalah tiga puluh tiga Kalimat dan disebut dengan nama Sözler. Akan tetapi, Kelimat Ketiga Puluh Tiga bukanlah risalah yang berdiri sendiri, melainkan terdiri atas tiga puluh tiga Surat dan disebut dengan nama Mektubat. Kemudian, Surat Ketiga Puluh Satu pun bukan risalah yang berdiri sendiri, melainkan tersusun dari tiga puluh satu Lem'a dan masyhur dengan nama Lem'alar. Kemudian, Lem'a Ketiga Puluh Satu pun tidak berdiri sendiri; insyaallah ia akan tersusun dari tiga puluh satu Sinar. Ayatul Kubra adalah Sinar Ketujuh dan risalah ini adalah Sinar Kedelapan darinya. Jadi, penutup Sözler adalah Kelimat Ketiga Puluh Dua. Lagi pula, kepada risalah yang bernama Kelimat Ketiga Puluh Dua — risalah yang menakjubkan lagi mencakup, yang terdiri atas tiga Mauqif, yang oleh para muridnya dipandang berkedudukan sebagai matahari di antara bintang-bintang Risale-i Nur, dan yang dari satu sisi merupakan penutup Sözler serta hasilnya yang mencakup — Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu, untuk memperlihatkan betapa luar biasa pentingnya dan betapa luas cakupannya, memberikan isyarat dengan sumpah yang menyebut banyak surah Al-Qur'an sekaligus pada Tingkatan Ketiga Puluh Dua, yaitu وَ بِسُوَرِ الْقُرْاٰنِ حِزْبًا وَ اٰيَةً, kepada risalah yang mencakup itu yang berada pada Tingkatan Ketiga Puluh Dua.
Adapun Kelimat Ketiga Puluh Tiga dari Risale-i Nur, sebagaimana telah kami terangkan sebelum ini, terdiri atas tiga puluh tiga surat, yaitu tiga puluh tiga kitab yang bernama Mektubat dan lebih dari seratus risalah. Maka Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu, pada tingkatan dan sumpah yang ketiga puluh tiga, untuk memberikan isyarat sekaligus kepada seratus sepuluh kitab dan surat yang merupakan bagian-bagian Kelimat Ketiga Puluh Tiga itu, memberikan isyarat dengan kalam berikut yang bermakna memohon pertolongan dengan seratus sepuluh kitab ringkas yang bernama seratus sepuluh suhuf samawi serta dengan kitab-kitab suci yang besar itu: وَاَسْئَلُكَ يَا مَوْلَاىَ بِفَضْلِكَ الَّذ۪ى عَلٰى كُلِّ مَا اَنْزَلْتَ كُتْبًا تَفَضَّلَتْ
Sudah dimaklumi bahwa di dalam ilmu balagah dan ilmu bayan, apabila terdapat salah satu dari tanda-tanda dan kaitan-kaitan yang mereka sebut karinah untuk menunjukkan makna yang jauh lagi tersembunyi, maka sebuah makna yang jauh serta sebuah mafhum yang tersembunyi lagi isyari, menurut kekuatan karinahnya, akan
diterima seperti makna yang sarih dan lahir. Maka berdasarkan kaidah ini, sebagaimana pada setiap makna isyari ini terdapat berbilang karinah dan tanda, demikian pula kawan-kawannya yang lain menjadi karinah baginya. Fikrah-fikrah yang sarih yang memberitakan keseluruhan Risale-i Nur pun merupakan sebuah karinah yang kuat bagi masing-masingnya.