RAMZ KEDUA
Sinar-Sinar · hlm. 756
Kepada Risalah Sinar Ketujuh — yang memperlihatkan hakikat terbesar dan tafsir terbesar dari تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوَاتُ السَّبْعُ وَالْاَرْضُ وَ مَنْ ف۪يهِنَّ وَ اِنْ مِنْ شَىْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪, yaitu Al-Ayatul Kubra dari Al-Qur'an, dan yang merupakan sebuah hadiah ilham dari Ramadan yang mulia — Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu, setelah memberikan isyarat kepada Mektubat, lalu di dalam isyarat kepada Lem'alar sambil memandang kepada Sinar-Sinar, berkata: وَ بِالْاٰيَةِ الْكُبْرٰى اَمِنّ۪ى مِنَ الْفَجَتْ; beliau memberikan isyarat melalui apa yang di dalam ilmu balagah disebut "mustatba'atut-tarâkîb" dan "ma'ârîdul-kalâm", yakni melalui ikutan makna lahir dan dari balik tabirnya, menurut kekuatan berbilang karinah. Dan kepada risalah yang menakjubkan lagi tinggi itu — yang merupakan hujah terbesar bagi tauhid, sebuah tanda terbesar bagi Al-Ayatul Kubra, dan sebuah tafsir teragung baginya — beliau memberikan nama "Ayatul Kubra". Dan dengan nama itu beliau memaklumkan sekaligus memberitakan, baik keagungan Ayatul Kubra yang menjadi sumbernya, maupun kekuatan luar biasa dari Sinar Ketujuh ini yang merupakan burhan teragung bagi keesaan dan tauhid.
Barang siapa memiliki keraguan terhadap kelayakan risalah ini bagi perhatian yang begitu besar dari Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu, hendaklah ia datang dan membaca risalah itu sekali saja. Jika ia tidak berkata, "Ya, memang layak," biarlah ia mencemoohku!
Ya, pada setiap abad Al-Qur'an memiliki banyak sekali pahlawan dan benteng maknawi yang menangkis dan menghadapi keberatan-keberatan kaum tak beragama yang selama seribu tahun disiapkan dengan penuh dendam untuk melawan Al-Qur'an, syubhat-syubhat para filsuf kafir yang menumpuk lalu kini menemukan jalan dan menyebar, serta serangan-serangan orang-orang Yahudi yang keras kepala yang memendam dendam akibat pukulan-pukulan dahsyat Al-Qur'an dan sebagian orang Kristen yang angkuh. Kini kebutuhan itu telah naik dari satu dua menjadi seratus. Sedangkan para pembela telah turun dari seratus menjadi dua tiga.
Lagi pula, karena mempelajari hakikat-hakikat iman dari ilmu kalam dan dari madrasah memerlukan waktu yang sangat panjang, pada zaman ini pintu itu pun telah tertutup. Maka Risale-i Nur yang mengajarkan hakikat-hakikat yang paling dalam dengan cepat sekaligus dengan cara yang dapat dipahami setiap orang, tentulah layak menerima perhatian Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu ini.
Lagi pula, Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu pada tingkatan kesepuluh dari hitungannya, sebagai surah kesepuluh dan dengan memandang kepada kiamat serta Lailatul Bara'ah, berkata: وَبِسُورَةِ الدُّخَانِ ف۪يهَا سِرًّا قَدْ اُحْكِمَتْ; maka dengan makna isyarinya, di samping memberikan isyarat kepada Risalah Kebangkitan yang bernama dan berada pada tingkatan Kelimat Kesepuluh, beliau juga memberitakan secara ima dan ramz — melalui poin tentang duhan yang merupakan salah satu tanda kebangkitan dan kiamat, melalui poin tentang pemisahan dan pembagian segala urusan secara penuh hikmah pada Lailatul Bara'ah setiap tahun, serta melalui karinah-karinah yang lain — betapa luar biasa pentingnya risalah itu, betapa sangat kukuhnya ia, dan bahwa ia berkedudukan sebagai sebuah pelita Lailatul Bara'ah yang melenyapkan kelam berasap pada zaman itu.
Ya, Kelimat Kesepuluh telah menolak sebuah bala yang sangat besar. Pada masa kebebasan berpikir yang tanpa batas dan pada masa guncangan Perang Dunia, ketika orang-orang munafik yang mengingkari kebangkitan menemukan peluang lalu mulai menampakkan pikiran-pikiran beracun mereka di banyak tempat, Kelimat Kesepuluh terbit dan dicetak. Seribu naskahnya tersebar ke sekitar. Setiap orang yang melihatnya membacanya dengan kerinduan yang sempurna dan dengan penuh rasa ingin tahu. Ia benar-benar mematahkan pikiran-pikiran kafir kaum zindik dan membungkam mereka. Ia membuktikan kelayakannya menerima penghargaan Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu ini. Barang siapa memiliki keraguan, hendaklah ia datang dan membacanya dengan saksama, lalu melihat betapa kuatnya ia sebagai burhan bagi kebangkitan.
Lagi pula, Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu menyebut Surah An-Nur sebagai surah kesembilan belas dengan bait بِسِرِّ حَوَام۪يمِ الْكِتَابِ جَم۪يعِهَا عَلَيْكَ بِفَضْلِ النُّورِ يَا نُورُ اُقْسِمَتْ, lalu dengan mengulang lafaz nur beliau mengisyaratkan kepada Kelimat Kesembilan Belas yang sangat ringkas dan kepada Surat Kesembilan Belas yang sangat sempurna; kemudian, sebagai isyarat halus bahwa tingkatan surat-surat, yakni Surat Keempat Belas, tetap kurang, beliau menyebut Surah An-Nur sekali lagi pada urutan kelima belas — maka beliau memberikan kabar dengan cara yang sangat halus lagi teliti. Dan beliau memberitahukan bahwa dua risalah itu adalah cahaya-cahaya besar dari Risale-i Nur. Ya, Kelimat Kesembilan Belas yang membahas kerasulan Muhammad صلى الله عليه وسلم, dan juga Surat Kesembilan Belas yang mengandung karamah lagi luar biasa dari tiga segi, sungguh benar keduanya masing-masing merupakan cahaya Risale-i Nur yang paling gemilang.
Dan berhubung dengan dibebaskannya Aisyah as-Siddiqah radiyallahu anha dari tuduhan, kata ganti pada kalimat مَثَلُ نُورِه۪ di dalam ayat An-Nur — menurut salah satu dari tiga segi — kembali kepada Muhammad صلى الله عليه وسلم; karena itu Surah An-Nur sangat berkaitan dengan diri Muhammad صلى الله عليه وسلم, sehingga dengan surah itu beliau mengisyaratkan kepada kerasulan Muhammad
صلى الله عليه وسلم — yakni kepada dua risalah yang membuktikannya — dengan dua lafaz nur, bahkan dengan tiga kata nur; dan beliau mengisyaratkan pula kepada Risalah Mikraj yang persis sama membuktikan kerasulan Ahmad صلى الله عليه وسلم.
Aku mengakui: aku telah lupa bahwa Surat Keempat Belas masih kurang. Ketika Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu mengulang surah yang sama itu dua kali, barulah aku teringat, dan aku pun kagum akan ketelitian di dalam isyarat-isyarat beliau. Akan tetapi, pengulangan itu hanya terhitung untuk Kalimat dan Surat Kesembilan Belas; ia tidak terhitung bagi yang sesudahnya.