Risale-i NurSinar-Sinar

RAMZ KETIGA

Sinar-Sinar · hlm. 759

Dengan bait-bait تُقَادُ سِرَاجُ النُّورِ سِرًّا بَيَانَةً ٭ تُقَادُ سِرَاجُ السُّرْجِ سِرًّا تَنَوَّرَتْ بِنُورِ جَلَالٍ بَازِخٍ وَ شَرَنْطَخٍ ٭ بِقُدُّوسِ بَرْكُوتٍ بِهِ النَّارُ اُخْمِدَتْ yang telah diterangkan dan dibuktikan di dalam Lem'a Kedua Puluh Delapan, beliau mengabarkan tiga keadaan penting Risale-i Nur. Karena isyarat bait-bait ini kepada Risale-i Nur — dengan cara yang hampir terang, baik dari sisi jifir maupun dari sisi makna — telah diuraikan di dalam Lem'a Kedelapan Belas, maka di sini hanya akan dijelaskan tiga rahasia yang tidak disebutkan di sana dan yang menarik perhatian Imam Ali radiyallahu anhu:

Yang Pertama: Risale-i Nur, yang di tengah kaum Muslimin sesungguhnya layak diarak dan dipamerkan di tangan para penyeru, sayang sekali terpaksa tersebar dan menyembunyikan diri di balik tabir yang sangat rahasia. Sebagai isyarat kepada hal itu, Imam Ali radiyallahu anhu dua kali — dengan kata سِرًّا بَيَانَةً dan سِرًّا تَنَوَّرَتْ, yakni dengan kata سِرًّا — mengabarkan bahwa ia hanya dapat tersebar secara sembunyi-sembunyi. Beliau mengabarkannya dengan penuh rasa heran.

Yang Kedua: Karena Risale-i Nur muncul dengan pancaran Ismul A'zham serta dengan tajalli asma Ar-Rahîm dan Al-Hakîm, maka keistimewaannya yang membedakannya berjalan di atas asas-asas berikut: jalal dan kebesaran yang dikutip dari اَللّٰهُ اَكْبَرُٔ; rahmat dan kasih sayang yang dilimpahkan dari بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ; serta hikmah dan keteraturan yang diambil dari وَ هُوَ الْعَز۪يزُ الْحَك۪يمُ. Ruh dan kehidupannya adalah semua itu. Sebagai ganti cinta yang membara pada masyrab-masyrab lain, di dalam masyrab Risale-i Nur yang ada adalah kasih sayang yang penuh kerinduan dan kecintaan yang penuh belas kasih.

Sebagaimana Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu telah mengabarkan secara terang tarikh penulisan Sirajunnur, masa kesempurnaannya, dan namanya yang masyhur

melalui bait تُقَادُ سِرَاجُ النُّورِ; demikian pula dengan bait بِنُورِ جَلَالٍ بَازِخٍ وَ شَرَنْطَخٍ اِلٰى اٰخِرِ beliau mengabarkan asas-asas Sirajunnur. Sebab جَلَالٍ بَازِخٍ berarti izzah, keagungan, jalal, dan kebesaran; شَرَنْطَخٍ dalam bahasa Suryani berarti Ar-Ra'ûf, dan بَرْكُوتٍ berarti Ar-Rahîm.

Jadi, Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu sedang menyifati Sirajunnur. Beliau menerangkan khasiatnya yang istimewa seraya berkata: ia mengambil kehidupan dan cahayanya dari kebesaran, keagungan, belas kasih, dan rahimiyah.

Yang Ketiga: Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu, di dalam bait ini, dengan kalimat بِهِ النَّارُ اُخْمِدَتْ berkata: Pada tahun seribu tiga ratus lima puluh empat (1354), dengan Sirajunnur — yakni dengan cahaya Risale-i Nur — insyaallah api kesesatan yang melampaui batas itu akan padam. Yakni, ia akan membuat api fitnah agama itu berhenti merusak, atau akan mematahkan serangannya yang terus maju.

Seandainya ia adalah tarikh hijriah, maka dua tahun sebelum ini telah berhenti serangan gagasan-gagasan dahsyat yang terus maju dengan memanfaatkan kesempatan untuk memisahkan agama dari dunia sehingga merugikan agama dan Al-Qur'an; dan hal itu sudah pasti karena di hadapan mereka terdapat sebuah bendungan yang kuat. Adapun bendungan itu, dengan banyak sekali tanda dapat dirasakan, adalah hujah-hujah Risale-i Nur yang tajam dan burhan-burhannya yang kuat, yang pada zaman ini tersebar begitu luas. Dan isyarat Alawiyah pada kemungkinan kedua ini pun menguatkannya. {(Catatan kaki): Rahasia "Innâ A'thainâ" pun sebagiannya telah terbukti. Sebab, dari empat rukun Sufyaniyah, yang paling kuat lagi paling dahsyat telah tercabut sama sekali. Ia sedang menderita azab di bawah kubur. Adapun yang terbesar, kaitannya pun telah tercabut secara nyata. Ia menjadi tawanan dan alat komite Mason, lalu sibuk dengan azabnya sendiri. Hanya bayangannya saja yang masih berkuasa. Selain tidak melangkah maju, ia bahkan sebagiannya mundur. Adapun dua orang yang masih tinggal, seandainya mereka mampu, mereka akan berusaha memperbaiki.} Ya, menurut jifir, بِهِ النَّارُ اُخْمِدَتْ: خ enam ratus, ت empat ratus, ر dua ratus, ن yang bertasydid seratus, م empat puluh, د dan tiga alif tujuh, pada بِهِ huruf ب dua, ه lima; jumlahnya menjadi seribu tiga ratus lima puluh empat (1354).

Lillâhil-hamd, Sirajunnur memiliki banyak risalah seperti Al-Ayatul Kubra. Masing-masingnya, yang berkedudukan sebagai sebuah lampu yang kuat, menunjukkan sirat mustaqim dan membuat kabar Imam Ali radiyallahu anhu itu dibenarkan.

Berhubung dengan rahasia ketiga ini, dengan bait yang — persis seperti بِهِ النَّارُ اُخْمِدَتْ — memandang dengan kedudukan jifirnya kepada tarikh seribu tiga ratus lima puluh empat (1354), yang memberikan ramz dan menyebut nama pada dua gelar Said radiyallahu anhu yang dikenal, yang memberikan perintah "Jagalah dirimu!", dan yang memberi petunjuk tersamar bahwa pada tarikh itu ia akan menghadapi berbagai bahaya lebih banyak daripada siapa pun — yaitu bait فَاسْئَلْ لِمَوْلَاكَ الْعَظ۪يمِ الشَّانِ يَا مُدْرِكًا لِذٰلِكَ الزَّمَانِ بِاَنْ يَق۪يكَ شَرَّ تِلْكَ الْفِتْنَةِ وَ شَرَّ كُلِّ كُرْبَةٍ وَ مِحْنَةٍ yang terdapat di akhir "Urjuzah" — beliau berkata: "Wahai Said al-Kurdi! Jika engkau mencapai tarikh seribu tiga ratus lima puluh empat (1354), mintalah dan mohonlah kepada Maulâ-mu Yang Mahaagung agar engkau dijaga dari fitnah dan kejahatan zaman dan abad itu."

Ya, di dalam Lem'a Kedelapan Belas, pada penjelasan Karamah Alawiyah Pertama, telah diterangkan isyarat-isyarat gaib Kasidah Urjuziyah tentang Risale-i Nur dan penulisnya. Telah dibuktikan pula bahwa beliau berbicara dan memberi hiburan kepada seorang murid yang senantiasa sibuk dengan Ismul A'zham dan dengan enam asma masyhur yang beliau sebut Sakinah; dan dengan banyak tanda serta petunjuk telah dibuktikan bahwa murid itu adalah Said. Dan di sana beliau berkata kepada muridnya itu:

اَحْرُفُ عُجْمٍ سُطِّرَتْ تَسْط۪يرًا بِتَّ بِهَا الْاَم۪يرُ وَالْفَق۪يرَا Yakni: huruf asing akan disebarluaskan pada tahun seribu tiga ratus empat puluh delapan (1348); anak-anak dan seisi rumah, para pembesar maupun orang-orang fakir, dengan cara dipaksa, akan berusaha mempelajarinya melalui pelajaran-pelajaran malam.

Ya, kalimat سُطِّرَتْ تَسْط۪يرًا tepat sekali: dua ت delapan ratus, dua س seratus dua puluh, dua ر empat ratus, dua ط delapan belas, satu ى sepuluh; jumlah seluruhnya seribu tiga ratus empat puluh delapan. Pada tarikh yang sama itu pula orang-orang dipaksa mempelajari huruf Latin melalui pelajaran-pelajaran malam.

Kemudian Imam Ali radiyallahu anhu memandang dan berbicara kepada Said radiyallahu anhu yang sibuk dengan Sakinah. Sesudah itu beliau berkata يَا مُدْرِكًا لِذٰلِكَ الزَّمَانِ. Di dua tiga tempat, dengan isyarat yang kuat, beliau berseru kepada muridnya yang beliau beri nama Said radiyallahu anhu: "Berdoalah dengan Sakinah dan berusahalah menjaga dirimu!" Sesudah ya nida terdapat Said dengan berbagai petunjuk dan tanda. Jadi, jadilah ia يَا سَع۪يدُ مُدْرِكًا لِذٰلِكَ الزَّمَانِ. Bait ini, sebagaimana dengan kata مُدْرِكًا memandang kepada gelar "Al-Kurdi" baik

secara lafaz maupun secara jifir. Sebab دركًا tanpa mim adalah kalb dari kata Kürd. {(): Yakni bacaan terbaliknya. (Penerbit)} Adapun mim, ia tepat bersesuaian dengan "lâm" dan "ya".

Demikian pula, selain memberikan isyarat halus kepada gelar beliau yang lain, yaitu Bedîüzzaman, dengan kata "az-zamân", bait itu — dengan kedudukan jifir seribu tiga ratus lima puluh empat (1354) atau seribu tiga ratus lima puluh lima (1355) — sepenuhnya menakwilkan dan mengungkapkan keadaan Said radiyallahu anhu yang sebenarnya, keadaannya yang menyalahi kebiasaan, doanya yang banyak agar dijaga dan dilindungi, serta khalwat dan uzlahnya; sehingga dengan cara yang hampir terang beliau meletakkan jarinya di atas kepala Said untuk menghiburnya di dalam kasidah itu. Dan di sini pun beliau bertepuk tangan untuk Risale-i Nur yang menjadi tempat tampaknya rahasia بِهِ النَّارُ اُخْمِدَتْ.

Ketahuilah bahwa mengenai اَلْقَسَمُ الْجَامِعُ وَالدَّعْوَةُ الشَّر۪يفَةُ وَالْاِسْمُ الْاَعْظَمُ yang menjadi asas dan ruh Jaljalutiyah, Imam Al-Ghazali radiyallahu anhu — Hujjatul Islam, murid Uwaisi Imam Ali radiyallahu anhu yang paling penting lagi paling teliti, dan hujah Islam yang paling masyhur lagi paling gemilang — berkata: "Ketika semua itu turun kepada Nabi صلى الله عليه وسلم melalui wahyu, beliau memerintahkan kepada Imam Ali radiyallahu anhu: Tulislah! Maka Ali pun menuliskannya. Kemudian ia menyusunnya menjadi syair." Imam Al-Ghazali radiyallahu anhu berkata: اِنَّ هٰذِهِ الدَّعْوَةَ الشَّر۪يفَةَ وَ الْوِفْقَ الْعَظ۪يمَ وَ الْقَسَمَ الْجَامِعَ وَ الْاِسْمَ الْاَعْظَمَ وَ السِّرَّ الْمَكْنُونَ الْمُعَظَّمَ بِلَا شَكٍّ كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الدُّنْيَا وَ الْاٰخِرَةِ

Imam Al-Ghazali, dengan mengambil pelajaran dari Imam Nuruddin, telah mensyarahkan baik kata-kata Suryani di dalam Jaljalutiyah ini maupun nilai dan khasiatnya.