Risale-i NurSinar-Sinar

RAMZ KEEMPAT

Sinar-Sinar · hlm. 763

Setelah mengabarkan tentang Sirajunnur, Imam Ali radiyallahu anhu kembali menghitung tiga puluh tiga — dan dari satu segi tiga puluh dua — asma berbahasa Suryani; dan ketika itu, sebagaimana beliau memberikan isyarat yang kuat kepada Risalah Mukjizat-Mukjizat Al-Qur'an yang merupakan risalah Risale-i Nur yang paling kuat lagi paling berharga, dan kepada Kelimat Ketiga Puluh Dua, demikian pula beliau memandang kepada risalah-risalah yang lain secara ramzi, atau secara isyarat halus, atau secara petunjuk tersamar. Ya, Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu, seraya memandang kepada Risale-i Nur dan menyisipkan nama-nama Suryani, berkata:

تُقَادُ سِرَاجُ النُّورِ سِرًّا بَيَانَةً ٭ تُقَادُ سِرَاجُ السُّرْجِ سِرًّا تَنَوَّرَتْ بِنُورِ جَلَالٍ بَازِخٍ وَ شَرَنْطَخٍ ٭ بِقُدُّوسِ بَرْكُوتٍ بِهِ النَّارُ اُخْمِدَتْ بِيَاهٍ وَيَا يُوهٍ نَمُوهٍ اَصَالِيًا ٭ بِطَمْطَامٍ مِهْرَاشٍ لِنَارِ الْعِدَاسَمَتْ بِهَالٍ اَه۪يلٍ شَلْعٍ شَلْعُوبٍ شَالِعٍ ٭ طَهِىٍّ طَهُوبٍ طَيْطَهُوبٍ طَيَطَّهَتْ اَنُوخٍ بِيَمْلُوخٍ وَ اَبْرُوخٍ اُقْسِمَتْ ٭ بِتَمْل۪يخِ اٰيَاتٍ شَمُوخٍ تَشَمَّخَتْ اَبَاذ۪يخَ بَيْذُوخٍ وَ ذَيْمُوخٍ بَعْدَهَا ٭ خَمَارُوخٍ يَشْرُوخٍ بِشَرْخٍ تَشَمَّخَتْ بِبَلْخٍ وَ سِمْيَانٍ وَ بَازُوخٍ بَعْدَهَا ٭ {(Catatan kaki): Ia memandang kepada Kelimat Kedua Puluh Sembilan yang masyhur tentang kebangkitan, lalu kepada Mikraj dan lampirannya tentang terbelahnya bulan.} بِذَيْمُوخٍ اَشْمُوخٍ بِهِ الْكَوْنُ عُمِّرَتْ بِشَلْمَخَتٍ اِقْبَلْ دُعَائ۪ى — demikianlah beliau mengakhirinya dengan doa.

Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu, pada mulanya mengabarkan Risale-i Nur secara terang dengan nama Sirajunnur dan Sirajus-Suruj; beliau menampakkannya dengan jelas pada tingkatan pertama, lalu menghitungnya satu per satu, dan ketika sampai pada bilangan kedua puluh lima beliau berkata بِتَمْل۪يخِ اٰيَاتٍ شَمُوخٍ تَشَمَّخَتْ. Dengan itu beliau mengisyaratkan kepada Risalah Mukjizat-Mukjizat Al-Qur'an yang bernama Kelimat Kedua Puluh Lima — risalah Risale-i Nur yang paling masyhur lagi paling gemilang — yang menerangkan i'jaz ayat-ayat Al-Qur'an dan membuktikan dalam tujuh segi menyeluruh bahwa Al-Qur'an adalah mukjizat dari empat puluh segi.

Sebab, disebutkannya Sirajunnur pada tingkatan pertama di awal, lalu adanya — di dalam bait بِتَمْل۪يخِ اٰيَاتٍ — kata اٰيَاتٍ, dan juga disebutkannya ia pada tingkatan kedua puluh lima, semuanya merupakan petunjuk yang kuat bahwa ia memandang dengan makna majasi kepada Kelimat Kedua Puluh Lima yang menyebutkan banyak sekali ayat serta menerangkan i'jaz dan rahasia-rahasianya. Dan ketika menghitung surah-surah pun, kembali pada tingkatan kedua

puluh lima beliau mengubah ungkapannya lalu seolah-olah memulai kembali dari awal dengan berkata بِحَقِّ تَبَارَكَ, seraya memperlihatkan pentingnya Kelimat Kedua Puluh Lima yang paling mubarak lagi paling penuh berkah di antara Risale-i Nur.

Kemudian pada tingkatan kedua puluh enam dan kedua puluh tujuh ia berkata: اَبَاذ۪يخَ بَيْذُوخٍ وَ ذَيْمُوخٍ بَعْدَهَا. Kemudian pada tingkatan ketiga puluh dan ketiga puluh satu ia berkata: بِبَلْخٍ وَ سِمْيَانٍ وَ بَازُوخٍ بَعْدَهَا, seraya kembali mengubah ungkapannya dan menyebutkan kata بَعْدَهَا. Dengan karinah yang sangat jelas lagi kuat, ia memberikan isyarat yang kuat — seolah-olah memperlihatkannya dengan kata بَعْدَهَا — kepada lampiran Kelimat Kedua Puluh Tujuh yang membahas ijtihad, yaitu lampirannya mengenai para sahabat yang sangat penting lagi sangat berharga, dan kepada lampiran Kelimat Ketiga Puluh Satu yang membahas mikraj, yaitu lampirannya yang penting mengenai terbelahnya bulan yang sangat dibutuhkan itu.

Aku mengakui bahwa aku telah melupakan kedua lampiran itu; dengan peringatan dari Imam Ali radiyallahu anhu inilah aku teringat kembali. Tentang terbelahnya bulan telah aku tulis sebelumnya. Kini, pada saat ini juga, aku teringat kepada lampiran mengenai para sahabat.

Maka, karena di dalam ilmu balagah dan ilmu bayan sebuah makna majasi dapat dimaksudkan hanya dengan satu karinah saja, dan karena jika dengan satu kaitan saja terdapat isyarat kepada suatu mafhum, mafhum itu diterima sebagai sebuah makna isyari — maka sudah pasti, dengan mengesampingkan karinah-karinah dan tanda-tanda yang jelas lagi banyak itu, cukuplah bahwa hanya pada kedua tempat inilah — tepat pada kedudukan tempat kedua lampiran itu berada — ia menyebutkan kata بَعْدَهَا yang bermakna “lampiran” secara berulang seraya mengubah ungkapannya; dan hal itu merupakan karinah yang sempurna bahwa Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu hendak mengungkapkan pula sebuah makna majasi lagi isyari selain makna hakikinya.

Kemudian pada tingkatan kedua puluh sembilan, dengan gaya yang penuh wibawa, ia berkata: خَمَارُوخٍ يَشْرُوخٍ بِشَرْخٍ تَشَمَّخَتْ. Dengan mengulang kata تَشَمَّخَتْ yang telah disebut pada tingkatan kedua puluh lima dan yang bermakna mengetahui rahasia-rahasia, ia mengisyaratkan dengan karinah yang kuat kepada Kelimat Kedua Puluh Sembilan yang menakjubkan, yang telah kami terangkan sebelumnya.

Kemudian pada tingkatan ketiga puluh dua, untuk sekali lagi menarik perhatian dengan kuat kepada Kelimat Ketiga Puluh Dua — risalah yang menghimpun banyak hakikat, yang telah ia isyaratkan dengan penuh perhatian di dalam penyebutan surah-surah — ia berkata: ذَيْمُوخٍ اَشْمُوخٍ بِهِ الْكَوْنُ عُمِّرَتْ, dan di dalam satu

naskah tertulis بِهِ الْكَوْنُ عُطِّرَتْ. Yakni: dengan tajalli nama Al-'Adl dan nama Al-Hakam, dengan keadilan dan timbangan-Nya, serta dengan keteraturan dan hikmah-Nya, dunia diperbaiki dan terselamatkan dari kehancuran. Menurut naskah yang kedua, dengan wangi harum kedua nama itu dan dengan aneka aromanya yang sangat sedap, dunia pun mendapatkan wangi-wangian yang indah. Ia menyebarkan wangi harum seperti kedai penjual minyak wangi.

Maka ia menunjuk kepada Kelimat Ketiga Puluh Dua yang berkedudukan sebagai cermin yang gemilang dan tafsir bagi nama Al-'Adl dan nama Al-Hakam, lalu mengungkapkannya dalam bentuk makna majasi. Dengan pengulangan kata ذَيْمُوخٍ, ia memberi isyarat halus bahwa meskipun Sözler berjumlah tiga puluh tiga, satu tingkatannya terdiri atas surat-surat, dan bahwa Kelimat Ketiga Puluh Dua adalah tingkatannya yang terakhir.

Karena aku tidak sepenuhnya mengetahui makna kata-kata Suryani itu, dan karena Imam Al-Ghazali radiyallahu anhu pun tidak menjelaskannya secara lengkap, maka untuk sementara aku tinggalkan isyarat-isyarat Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu kepada risalah-risalah lain melalui kata-kata tersebut.