Ziya
Sinar-Sinar · hlm. 420
Yang keempat: Mahmud. Kepadanya kubacakan persoalan pemuda dan salat dari Risalah Buah, lalu aku berkata, "Jangan berjudi, dirikanlah salat." Ia menerimanya. Namun kenakalannya menang; ia tidak salat dan malah berjudi. Tiba-tiba ia mendapat tamparan kemarahan. Dalam tiga empat kali permainan ia selalu kalah; padahal keadaannya miskin, ia menyerahkan empat puluh lira, jasnya, dan celananya kepada judi, dan akalnya belum juga kembali kepadanya.
Ya, benar demikian.