Risalah Nur — Bahasa Indonesia

BUTIR HIKMAH KEDUA

Surat-Surat · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

BUTIR HIKMAH KEDUA

Salah satu dari banyak hikmah puasa pada Ramadan yang diberkahi, dari segi syukur atas nikmat-nikmat Allah سُبْحَانَهُ, ialah:

Sebagaimana dikatakan dalam Kalimat Pertama, makanan yang dibawa seorang pembawa nampan dari dapur raja menuntut suatu harga. Sungguh sangat bodoh jika seseorang memberikan tip kepada pembawa nampan, tetapi menganggap nikmat yang amat berharga itu tidak bernilai dan tidak mengenal orang yang memberikannya. Demikian pula, Allah سُبْحَانَهُ telah menyebarkan jenis-jenis nikmat yang tak terhingga kepada umat manusia di muka bumi. Sebagai harga nikmat-nikmat tersebut, Dia meminta syukur. Sebab-sebab dan para pemilik lahir dari nikmat itu bagaikan pembawa nampan. Kita memberikan suatu harga kepada para pembawa nampan tersebut, merasa berutang budi kepada mereka, bahkan memberikan hormat dan terima kasih yang amat berlebihan, yang tidak layak mereka terima. Padahal, melalui nikmat-nikmat itu, Sang Pemberi Nikmat Yang Hakiki jauh lebih layak disyukuri daripada sebab-sebab tersebut, dengan perbandingan yang tak terhingga.

Bersyukur kepada⁠-⁠Nya dilakukan dengan mengetahui bahwa nikmat-nikmat itu datang langsung dari⁠-⁠Nya, menghargai nilainya, dan merasakan kebutuhan diri terhadapnya.

Puasa pada Ramadan yang mulia merupakan kunci syukur yang sejati, tulus, agung, dan menyeluruh. Sebab pada waktu lain, kebanyakan orang yang tidak terpaksa menahan lapar tidak dapat memahami nilai banyak nikmat ketika mereka tidak merasakan lapar yang sesungguhnya. Orang yang kenyang, terutama jika kaya, tidak memahami betapa besar nikmat dalam sepotong roti kering. Namun, saat berbuka, daya pengecap seorang mukmin bersaksi bahwa roti kering itu merupakan nikmat Allah سُبْحَانَهُ yang amat berharga. Mulai dari raja hingga orang yang paling miskin, semua orang memperoleh syukur maknawi pada Ramadan yang mulia dengan memahami nilai nikmat-nikmat tersebut. Karena dilarang makan pada siang hari, ia juga mengetahui nikmat sebagai nikmat dan bersyukur secara maknawi dengan berkata, "Nikmat-nikmat ini bukan milikku. Aku tidak bebas memakannya. Jadi, semuanya adalah milik dan pemberian Yang Lain. Aku menunggu Perintah⁠-⁠Nya."

Dengan demikian, dari banyak segi puasa menjadi seperti kunci syukur, yang merupakan tugas sejati manusia.

BUTIR HIKMAH KETIGA

Salah satu dari banyak hikmah puasa dari segi kehidupan sosial manusia ialah:

Manusia diciptakan dalam keadaan berbeda-beda dari segi penghidupan. Berdasarkan perbedaan itu, Allah سُبْحَانَهُ mengajak orang-orang kaya untuk membantu orang-orang miskin. Melalui lapar saat berpuasa, orang kaya dapat sepenuhnya merasakan keadaan pedih yang patut dikasihani serta rasa lapar orang miskin. Tanpa puasa, mungkin terdapat banyak orang kaya yang memuja nafsunya sendiri, yang tidak memahami betapa menyakitkan lapar dan kemiskinan, serta betapa orang miskin membutuhkan belas kasih. Dari segi ini, belas kasih manusia kepada sesamanya merupakan salah satu dasar syukur yang sejati. Siapa pun dapat menemukan orang yang dalam suatu segi lebih miskin daripada dirinya. Ia berkewajiban berbelas kasih kepada orang tersebut.

Jika tidak diwajibkan membuat dirinya merasakan lapar, ia tidak dapat memberikan kebaikan dan bantuan yang wajib diberikannya melalui belas kasih. Sekalipun ia melakukannya, hal itu tidak sempurna, sebab ia tidak merasakan keadaan tersebut dalam dirinya sendiri secara nyata.

BUTIR HIKMAH KEEMPAT

Salah satu dari banyak hikmah puasa pada Ramadan yang mulia dari segi pendidikan nafsu ialah:

Nafsu ingin bebas dan leluasa, serta menganggap dirinya demikian. Bahkan, secara fitri ia menginginkan kuasa memelihara dan mengatur yang hanya ada dalam angannya, serta bertindak sesuka hati. Ia tidak ingin memikirkan bahwa dirinya dipelihara dengan nikmat-nikmat yang tak terhingga. Terutama jika ia juga memiliki kekayaan dan kekuasaan di dunia, dan kelalaian turut membantunya, ia menelan nikmat Allah سُبْحَانَهُ seperti hewan, sepenuhnya dengan sikap perampas dan pencuri.

Pada Ramadan yang mulia, nafsu setiap orang, dari yang terkaya hingga yang termiskin, mengerti bahwa dirinya adalah milik yang dikuasai, bukan pemilik; seorang hamba, bukan pihak yang bebas. Ia menyadari bahwa tanpa perintah, ia tidak dapat melakukan bahkan hal yang paling biasa dan mudah, serta tidak dapat mengulurkan tangan kepada air. Maka, kuasa yang dibayangkannya itu patah, ia mengenakan sikap ubudiyah dan mulai bersyukur, yang merupakan tugas sejatinya.

BUTIR HIKMAH KELIMA

Salah satu dari banyak hikmah puasa pada Ramadan yang mulia, dari segi memperbaiki akhlak nafsu dan membuatnya meninggalkan perilaku yang membangkang, ialah:

Karena lalai, nafsu manusia melupakan dirinya sendiri. Ia tidak dapat dan tidak ingin melihat bahwa dalam hakikat dirinya ia tak berdaya tanpa batas, fakir, yakni serba membutuhkan, tanpa akhir, serta memiliki kekurangan yang amat besar. Ia tidak memikirkan betapa lemah dirinya, betapa ia akan lenyap dan menjadi sasaran musibah, serta bahwa dirinya hanya terdiri atas daging dan tulang yang cepat rusak dan tercerai. Seolah-olah memiliki tubuh dari baja, ia menyerbu dunia seperti orang yang tak dapat mati, seakan-akan membayangkan dirinya akan hidup selama-lamanya. Dengan hasrat dan ketamakan yang kuat, serta perhatian dan cinta yang amat besar, ia menerjunkan diri ke dunia. Ia terikat pada setiap hal yang nikmat dan bermanfaat. Ia juga melupakan Sang Khâliq yang memeliharanya dengan Belas Kasih yang sempurna. Ia tidak memikirkan akhir kehidupannya maupun kehidupannya di akhirat, dan berguling-guling dalam akhlak yang buruk.

Puasa pada Ramadan yang mulia membuat orang yang paling lalai dan membangkang merasakan betapa lemah, tak berdaya, dan fakir dirinya. Melalui rasa lapar, ia memikirkan perutnya dan memahami kebutuhan di dalamnya. Ia mengingat betapa rapuh tubuhnya yang lemah. Ia memahami betapa dirinya membutuhkan kasih dan belas kasih. Dengan meninggalkan sikap Firaun dalam nafsunya, ia merasakan keinginan untuk berlindung ke hadirat Allah سُبْحَانَهُ dalam keadaan sepenuhnya tak berdaya dan fakir. Ia bersiap mengetuk pintu Rahmat dengan tangan syukur maknawi, jika kelalaian belum merusak hatinya...

BUTIR HIKMAH KEENAM

Salah satu dari banyak hikmah puasa pada Ramadan yang mulia, dari segi turunnya Al-Qur'an Al-Hakîm dan karena Ramadan yang mulia merupakan masa terpenting turunnya Al-Qur'an Al-Hakîm, ialah:

Karena Al-Qur'an Al-Hakîm diturunkan pada bulan Ramadan, untuk menghadirkan kembali dalam ingatan masa turunnya Al-Qur'an dan menyambut dengan baik seruan dari langit itu, pada Ramadan yang mulia manusia melepaskan diri dari kebutuhan rendah nafsu dan keadaan yang sia-sia. Dengan meninggalkan makan dan minum, ia menyerupai keadaan malaikat. Ia membaca dan mendengarkan Al-Qur'an seolah-olah baru diturunkan, serta mendengarkan seruan-seruan Allah سُبْحَانَهُ di dalamnya seolah-olah pada saat seruan itu diturunkan. Ia memperoleh keadaan suci, seolah-olah mendengar seruan itu dari Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, bahkan dari Jibril, bahkan dari Yang Berfirman sejak azali. Ia juga menjadi penyampai bacaan kepada orang lain agar mereka mendengarnya, serta memperlihatkan sampai taraf tertentu hikmah turunnya Al-Qur'an.

Ya, pada Ramadan yang mulia, dunia Islam seolah-olah menjadi suatu masjid. Suatu masjid yang di sudut-sudutnya jutaan hafiz memperdengarkan Al-Qur'an, seruan dari langit itu, kepada penduduk bumi. Setiap Ramadan memperlihatkan ayat

ﺷَﻬْﺮُ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺍﻟَّﺬ۪ٓﻯ ﺍُﻧْﺰِﻝَ ﻓ۪ﻴﻪِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥُ

dengan cara yang bercahaya dan terang, serta membuktikan bahwa Ramadan adalah bulan Al-Qur'an. Sebagian anggota lain dari jemaah agung itu mendengarkan para hafiz dengan khusyuk, sedangkan yang lain membacanya sendiri. Dalam masjid suci dengan keadaan seperti ini, betapa buruknya mengikuti keinginan nafsu yang rendah dan keluar dari keadaan bercahaya itu dengan makan dan minum; betapa hal itu menjadi sasaran rasa benci maknawi jemaah dalam masjid tersebut. Demikian pula, orang-orang yang menentang mereka yang berpuasa pada Ramadan yang mulia menjadi sasaran rasa benci dan pandangan hina secara maknawi dari seluruh dunia Islam pada tingkat yang sama.

BUTIR HIKMAH KETUJUH

Salah satu dari banyak hikmah puasa Ramadan dari segi keuntungan umat manusia yang datang ke dunia untuk bertani dan berdagang bagi akhirat ialah:

Pada Ramadan yang mulia, pahala amal adalah seribu untuk satu. Berdasarkan pernyataan hadis, setiap huruf Al-Qur'an Al-Hakîm mempunyai sepuluh pahala, dihitung sebagai sepuluh kebaikan, dan mendatangkan sepuluh buah surga. Pada Ramadan yang mulia, setiap huruf mendatangkan seribu, bukan sepuluh; setiap huruf ayat-ayat seperti Ayat Kursi mendatangkan ribuan, dan pada hari Jumat dalam Ramadan yang mulia lebih banyak lagi. Pada Lailatulqadar, setiap huruf dihitung sebagai tiga puluh ribu kebaikan.

Ya, Al-Qur'an Al-Hakîm, yang setiap hurufnya memberikan tiga puluh ribu buah yang kekal, menjadi seperti pohon Tuba yang bercahaya. Ia mendatangkan jutaan buah yang kekal itu kepada orang-orang beriman pada Ramadan yang mulia. Marilah, lihat dan saksikan perdagangan yang suci, berlangsung selama-lamanya, dan menguntungkan ini. Renungkanlah dan pahami betapa tak terhingga kerugian orang-orang yang tidak menghargai nilai huruf-huruf tersebut!

Ramadan yang mulia bagaikan suatu pameran dan pasar yang amat menguntungkan untuk perdagangan akhirat. Ia merupakan tanah yang amat subur bagi hasil akhirat, dan seperti bulan April pada musim semi bagi tumbuh dan berkembangnya amal. Ia merupakan hari raya yang paling terang dan suci bagi parade ubudiyah manusia di hadapan kerajaan Rububiyah Allah سُبْحَانَهُ. Karena itu, manusia diwajibkan berpuasa agar tidak tenggelam dengan lalai dalam kebutuhan hewani nafsu, seperti makan dan minum, serta keinginan yang sia-sia dan memuja hawa nafsu. Seolah-olah untuk sementara ia keluar dari keadaan hewani menuju keadaan malaikat, atau memasuki perdagangan akhirat. Dengan meninggalkan sementara kebutuhan duniawinya, ia menjadi seperti seorang manusia akhirat dan ruh yang tampil dalam tubuh. Melalui puasanya, ia menjadi sejenis cermin bagi Sifat Allah سُبْحَانَهُ Yang Shamad, tempat bergantung segala sesuatu dan Yang Tidak Membutuhkan apa pun.

Ya, Ramadan yang mulia mengandung dan mendatangkan umur yang kekal serta kehidupan panjang yang kekal, di dalam dunia yang akan sirna, umur yang akan berakhir, dan kehidupan yang singkat ini.

Ya, satu Ramadan saja dapat mendatangkan hasil dari umur delapan puluh tahun. Berdasarkan pernyataan Al-Qur'an, Lailatulqadar lebih baik daripada seribu bulan; hal ini merupakan hujah tegas bagi rahasia tersebut.

Ya, Lailatulqadar yang paling bercahaya dalam kehidupan dunia yang gelap ini ialah Ramadan.

Ya, seorang raja, selama masa pemerintahannya, bahkan mungkin setiap tahun, menjadikan sejumlah hari sebagai hari raya, atas nama penobatannya atau suatu pertunjukan megah lain dari kerajaannya. Pada hari tersebut, ia memperlakukan rakyatnya melalui anugerah khusus, kesempatan menghadap tanpa tirai, perhatian istimewa, dan tindakan luar biasa, melampaui lingkup hukum-hukum umum. Ia secara langsung memberikan perhatian khusus kepada rakyatnya yang layak dan setia.

Demikian pula, Raja Dzul-Jalâl dari delapan belas ribu alam, Sang Sultan sejak azali hingga selama-lamanya, telah menurunkan Titah⁠-⁠Nya yang luhur, yang memandang dan tertuju kepada delapan belas ribu alam itu, yaitu Al-Qur'an Al-Hakîm, pada Ramadan yang mulia. Tentu, Hikmah menuntut bahwa Ramadan menjadi seperti hari raya khusus dari Allah سُبْحَانَهُ, pameran Rabb, dan majelis rohani. Karena Ramadan merupakan hari raya itu, tentu puasa akan diperintahkan untuk menarik manusia sampai taraf tertentu dari kesibukan yang rendah dan hewani.

Puasa yang paling sempurna ialah membuat seluruh indra dan perangkat manusia, seperti mata, telinga, hati, khayal, dan pikiran, juga menjalankan sejenis puasa sebagaimana perut. Yakni, menjauhkannya dari hal-hal yang haram dan sia-sia, serta mengarahkannya kepada ubudiyah masing-masing.

Misalnya, membuat lidah berpuasa dengan menjauhkannya dari dusta, gibah, dan ungkapan kasar, serta menyibukkan lidah itu dengan hal-hal seperti membaca Al-Qur'an, zikir, tasbih, selawat, dan istigfar...

Misalnya, mencegah mata memandang yang bukan mahram dan telinga mendengarkan hal-hal buruk, serta menggunakan mata untuk mengambil pelajaran dan telinga untuk mendengarkan perkataan yang benar dan Al-Qur'an. Demikian pula, perangkat-perangkat lainnya dibuat menjalankan sejenis puasa. Perut merupakan pabrik terbesar. Karena itu, jika kesibukannya dihentikan melalui puasa, tempat-tempat kerja kecil lainnya dengan mudah dapat dibuat mengikutinya.

BUTIR HIKMAH KEDELAPAN

Salah satu dari banyak hikmah Ramadan yang mulia dari segi kehidupan pribadi manusia ialah:

Ia merupakan suatu latihan menahan diri secara jasmani dan rohani, seperti obat yang amat penting bagi manusia, serta suatu pola pantang dari segi kedokteran. Selama nafsu manusia bertindak sesuka hati dalam makan dan minum, ia merugikan kehidupan jasmani orang itu dari segi kedokteran. Selain itu, menyerbu apa saja yang dijumpai tanpa membedakan halal dan haram seolah-olah juga meracuni kehidupan rohaninya. Nafsu itu semakin sulit menaati hati dan ruh. Dengan membangkang, ia mengambil kendali ke tangannya sendiri. Manusia tidak lagi dapat menungganginya; justru ia menunggangi manusia.

Melalui puasa pada Ramadan yang mulia, nafsu terbiasa dengan sejenis pantang, berusaha melatih diri, dan belajar menaati perintah. Ia juga tidak mendatangkan penyakit kepada perut yang lemah dan malang dengan mengisinya melalui makan berturut-turut sebelum makanan sebelumnya tercerna. Karena meninggalkan yang halal berdasarkan perintah, ia memperoleh kemampuan untuk menaati perintah dari akal dan syariat agar menjauhi yang haram. Ia berusaha tidak merusak kehidupan rohani.

Sebagian besar manusia sering mengalami lapar. Manusia membutuhkan latihan menahan diri melalui lapar, yang melatih sabar dan daya tahan. Puasa pada Ramadan yang mulia merupakan latihan menahan diri dan melatih sabar serta daya tahan menghadapi lapar selama lima belas jam, atau dua puluh empat jam jika tanpa sahur. Jadi, salah satu obat bagi sikap tidak sabar dan tidak tahan, yang melipatgandakan musibah manusia, ialah puasa.

Pabrik perut itu memiliki banyak pekerja, dan banyak perangkat manusia berkaitan dengannya. Jika nafsu tidak menghentikan kesibukannya untuk sementara pada siang hari selama satu bulan, ia membuat para pekerja pabrik dan perangkat tersebut melupakan ibadah khusus mereka, menyibukkan mereka dengan dirinya, serta menahan mereka di bawah kekuasaannya. Ia juga mengacaukan perangkat manusia lainnya dengan suara gaduh dan asap roda-roda pabrik maknawi tersebut. Ia selalu menarik perhatian mereka kepada dirinya, dan membuat mereka melupakan tugas luhur mereka untuk sementara. Karena itulah, sejak dahulu banyak wali membiasakan diri dengan latihan menahan diri, sedikit makan dan minum, untuk mencapai keadaan yang lebih sempurna.

Namun, melalui puasa Ramadan yang mulia, para pekerja pabrik itu memahami bahwa mereka tidak diciptakan hanya untuk pabrik tersebut. Pada Ramadan yang mulia, perangkat lainnya merasakan nikmat dalam kegembiraan malaikat dan ruhani, sebagai ganti kesenangan rendah pabrik tersebut, serta mengarahkan pandangan ke sana. Karena itulah, pada Ramadan yang mulia, orang-orang beriman memperoleh cahaya, karunia rohani, dan kegembiraan rohani yang berbeda-beda sesuai tingkat mereka. Melalui puasa, daya-daya halus seperti hati, ruh, akal, dan sirr (rahasia batin) banyak berkembang dan memperoleh karunia rohani pada bulan yang diberkahi itu. Sekalipun perut menangis, mereka tertawa dengan polos.

BUTIR HIKMAH KESEMBILAN

Salah satu hikmah puasa Ramadan yang mulia, dari segi langsung mematahkan kuasa memelihara dan mengatur yang dibayangkan nafsu, serta mengenalkan ubudiyahnya dengan memperlihatkan betapa tak berdaya dirinya, ialah:

Nafsu tidak ingin mengenal Rabbnya. Seperti Firaun, ia menginginkan kuasa memelihara dan mengatur bagi dirinya sendiri. Sekalipun diberi berbagai azab, kecenderungan itu tetap ada padanya. Namun, melalui lapar kecenderungan itu patah. Puasa pada Ramadan yang mulia secara langsung menghantam dan mematahkan sisi Firaun dalam nafsu. Ia menunjukkan betapa tak berdaya, lemah, dan fakir nafsu, serta mengenalkannya sebagai hamba.

Dalam riwayat-riwayat hadis disebutkan bahwa:

Allah سُبْحَانَهُ berkata kepada nafsu, "Siapakah Aku, dan siapakah engkau?"

Nafsu menjawab, "Aku adalah aku, dan Engkau adalah Engkau!" Dia memberinya azab, memasukkannya ke neraka, lalu bertanya kembali.

Ia kembali berkata, "Ene ene, ente ente." Apa pun azab yang diberikan kepadanya, ia tidak meninggalkan ananiyah. Lalu, Dia mengazabnya dengan lapar, yakni membiarkannya lapar.

Dia kembali bertanya, "Men ene vema ente?"

Nafsu menjawab:

ﺍَﻧْﺖَ ﺭَﺑِّﻰ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢُ ٭ ﻭَﺍَﻧَﺎ ﻋَﺒْﺪُﻙَ ﺍﻟْﻌَﺎﺟِﺰُ.

Yakni, "Engkau adalah Rabb-ku Yang Rahîm, dan aku adalah hamba⁠-⁠Mu yang tak berdaya."

ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻭَﺳَﻠِّﻢْ ﻋَﻠٰﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ صَلَاةً ﺗَﻜُﻮﻥُ ﻟَﻚَ ﺭِﺿَﺎﺀً ﻭَ ﻟِﺤَﻘِّﻪ۪ ﺍَﺩَﺍﺀً ﺑِﻌَﺪَﺩِ ﺛَﻮَﺍﺏِ ﻗِﺮَﺍﺋَﺔِ ﺣُﺮُﻭﻑِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ ﻓ۪ﻰ ﺷَﻬْﺮِ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَ ﺻَﺤْﺒِﻪ۪ ﻭَ ﺳَﻠِّﻢْ ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺭَﺑِّﻚَ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌِﺰَّﺓِ ﻋَﻤَّﺎ ﻳَﺼِﻔُﻮﻥَ وَسَلَامٌ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤُﺮْﺳَﻠ۪ﻴﻦَ ﻭَ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ

Permohonan Maklum:

Karena bagian kedua ini ditulis dengan cepat dalam empat puluh menit, serta karena aku dan juru tulis yang menulis draf sama-sama sakit, tentu akan terdapat hal-hal yang kacau dan kurang di dalamnya. Kami berharap saudara-saudara kami memandangnya dengan sikap memaklumi. Mereka boleh memperbaiki hal-hal yang dianggap patut diperbaiki.

BAGIAN KETIGA, YANG MERUPAKAN RISALAH KETIGA

Aku mempunyai niat penting untuk menulis suatu mushaf Al-Qur'an Yang Mahaagung dengan cara yang memperlihatkan satu bagian mukjizatnya dalam pola tulisan, di antara dua ratus bagian mukjizat Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya. Halaman-halamannya yang ditentukan melalui tulisan Hâfız Osman, dengan Ayat Mudayanah sebagai ukuran, serta baris-barisnya dengan Surah Al-Ikhlas sebagai satuan pembanding, tetap dipertahankan sambil memperlihatkan pola mukjizat tersebut. Kutulis bagian ini untuk menyampaikan niatku itu kepada saudara-saudaraku dalam khidmah kepada Al-Qur'an, bermusyawarah, meminta pendapat mereka, dan agar mereka mengingatkanku. Aku meminta pertimbangan mereka. Bagian ketiga ini terdiri atas sembilan persoalan.

PERSOALAN PERTAMA

Dalam Kalimat Kedua Puluh Lima yang bernama İ'caz-ı Kur'an, telah dibuktikan dengan dalil-dalil bahwa jenis-jenis mukjizat Al-Qur'an Yang Mahaagung mencapai empat puluh. Sebagian jenisnya diperlihatkan secara terperinci dan sebagian secara ringkas, bahkan di hadapan orang-orang yang keras kepala.

Dalam Isyarat Kedelapan Belas dari Surat Kesembilan Belas, juga dijelaskan bahwa Al-Qur'an memperlihatkan mukjizatnya secara berbeda-beda kepada empat puluh lapisan manusia. Di sana telah dibuktikan bagian mukjizat yang berbeda-beda bagi sepuluh lapisan tersebut. Bagi tiga puluh lapisan lainnya, Al-Qur'an memperlihatkan mukjizatnya secara berbeda kepada para wali dengan kecenderungan rohani yang beragam dan kepada para ahli berbagai ilmu. Iman mereka yang telah diteliti dan diteguhkan menunjukkan bahwa Al-Qur'an adalah Firman Allah سُبْحَانَهُ yang benar, pada tingkat ilmulyaqin, ainulyaqin, dan haqqulyaqin. Jadi, masing-masing telah melihat suatu segi mukjizatnya dengan cara yang berbeda.

Ya, sebagaimana mukjizat yang dipahami seorang wali ahli makrifat berbeda dari keindahan mukjizat yang disaksikan seorang wali ahli cinta, demikian pula kilasan keindahan mukjizat itu berbeda-beda sesuai kecenderungan rohani. Segi mukjizat yang dilihat seorang ahli terkemuka dan seorang imam dalam ilmu dasar-dasar agama berbeda dari segi mukjizat yang dilihat seorang mujtahid dalam cabang-cabang syariat. Dan seterusnya...

Aku tidak mampu memperlihatkan secara terperinci segi-segi mukjizat mereka yang berbeda-beda tersebut. Daya pahamku sempit, tidak mampu meliputinya; pandanganku pendek, tidak mampu melihatnya. Karena itu, hanya sepuluh lapisan yang diterangkan, sedangkan sisanya diisyaratkan secara ringkas. Di antara lapisan-lapisan itu, ada dua lapisan yang dahulu masih dijelaskan dengan sangat kurang dalam Mu'cizat-ı Ahmediye Risalesi, padahal keduanya membutuhkan banyak penjelasan.

Lapisan Pertama:

Orang-orang awam sederhana yang kita sebut "lapisan bertelinga". Mereka hanya mendengarkan Al-Qur'an dengan telinga dan memahami mukjizatnya melalui telinga. Yakni, mereka berkata, "Al-Qur'an yang kudengar ini tidak menyerupai kitab-kitab lain. Ia pasti berada di bawah semuanya atau di atas semuanya. Kemungkinan berada di bawah semuanya tidak dapat dan tidak pernah dinyatakan oleh siapa pun; setan pun tidak dapat mengatakannya. Maka, ia berada di atas semuanya."

Demikianlah, dalam Isyarat Kedelapan Belas hal itu telah ditulis secara begitu ringkas. Kemudian, untuk menjelaskannya, Pembahasan Pertama dari Surat Kedua Puluh Enam, yang bernama "Hüccetü'l-Kur'an Alâ Hizbi'ş-şeytan", menggambarkan dan membuktikan pemahaman lapisan itu terhadap mukjizat.

Lapisan Kedua:

Lapisan bermata. Yakni, dalam Isyarat Kedelapan Belas telah dinyatakan bahwa terdapat suatu tanda mukjizat Al-Qur'an yang dapat terlihat oleh mata, bagi lapisan orang awam sederhana atau kaum materialis yang akalnya turun hingga menjadi sebatas mata. Banyak penjelasan diperlukan untuk menerangi dan membuktikan pernyataan itu. Namun, karena suatu Hikmah penting dari Rabb yang sekarang kami pahami, penjelasan tersebut dahulu tidak diberikan. Hanya beberapa rincian yang amat kecil yang diisyaratkan. Kini, rahasia hikmah itu telah dipahami, dan kami telah yakin sepenuhnya bahwa menundanya lebih utama.

Sekarang, untuk memudahkan lapisan itu memahami dan merasakan nikmatnya, kami meminta dituliskan suatu mushaf Al-Qur'an yang memperlihatkan satu segi di antara empat puluh segi mukjizatnya, yaitu segi yang terlihat oleh mata.

(Karena persoalan-persoalan yang tersisa dalam Bagian Ketiga ini serta Bagian Keempat berkaitan dengan tawafuk, keduanya tidak ditulis di sini; cukup diberikan daftar isi mengenai tawafuk. Hanya satu peringatan dan Butir Hikmah Ketiga yang berkaitan dengan Bagian Keempat yang ditulis.)

Peringatan:

Untuk menerangkan butir hikmah agung dalam lafaz "Resul" ﷺ, telah ditulis seratus enam puluh ayat. Selain memiliki khasiat yang amat besar, ayat-ayat ini saling menegaskan dan melengkapi dari segi makna, sehingga sangat bermakna. Karena itu, ia menjadi suatu rangkaian bacaan Al-Qur'an bagi mereka yang ingin menghafal atau membaca beragam ayat. Demikian pula, dalam penjelasan butir hikmah agung dalam kata "Kur'an", tingkat balagah enam puluh sembilan ayat agung itu sangat luar biasa, dan daya ungkapnya yang kukuh amat luhur. Rangkaian ini juga dianjurkan kepada saudara-saudara sebagai rangkaian bacaan Al-Qur'an yang kedua.

Kata "Kur'an" terdapat dalam tujuh rangkaian Al-Qur'an yang mencakup seluruh kemunculan kata tersebut, kecuali dua yang berada di luar. Karena kedua kata itu bermakna membaca, keadaan keduanya di luar rangkaian justru memperkuat butir hikmah tersebut.

Adapun lafaz "Resul" ﷺ, karena Surah Muhammad ﷺ dan Surah Al-Fath merupakan surah yang paling berkaitan dengan kata itu, kami membatasinya pada rangkaian yang berasal dari kedua surah tersebut. Untuk sementara, lafaz "Resul" ﷺ yang berada di luar belum dimasukkan. Jika waktu memungkinkan, rahasia-rahasia di dalamnya akan ditulis, inşâallah.

BUTIR HIKMAH KETIGA

Terdiri atas empat butir hikmah.

Butir Hikmah Pertama:

Lafaz "Allah" سُبْحَانَهُ disebut dua ribu delapan ratus enam kali dalam seluruh Al-Qur'an. Bersama yang terdapat dalam "Bismillah", lafaz "Rahman" disebut seratus lima puluh sembilan kali; lafaz "Rahîm", dua ratus dua puluh; lafaz "Gafur", enam puluh satu; lafaz "Rab", delapan ratus empat puluh enam; lafaz "Hakîm", delapan puluh enam; lafaz "Alîm", seratus dua puluh enam; lafaz "Kadîr", tiga puluh satu; dan "Hû" dalam "Lâ İlahe İllâ Hû", dua puluh enam kali. {(Catatan kaki):

Jumlah seluruh ayat Al-Qur'an adalah 6666, dan jumlah Asma Allah سُبْحَانَهُ Yang Indah yang disebut pada halaman ini berkaitan dengan angka 6. Hal ini mengisyaratkan suatu rahasia penting. Untuk sementara, hal tersebut belum dibahas.} Ada banyak rahasia dan butir hikmah dalam jumlah lafaz "Allah" سُبْحَانَهُ.

Di antaranya: Jumlah lafaz "Allah" سُبْحَانَهُ, bersama "Rahman", "Rahîm", "Gafur", dan "Hakîm", yang paling banyak disebut sesudah lafaz "Allah" سُبْحَانَهُ dan "Rab", adalah setengah jumlah ayat Al-Qur'an. Jumlah lafaz "Allah" سُبْحَانَهُ, bersama lafaz "Rab" yang disebut sebagai pengganti lafaz "Allah" سُبْحَانَهُ, juga setengahnya. Walaupun lafaz "Rab" disebut delapan ratus empat puluh enam kali, jika diperhatikan, lima ratus lebih disebut sebagai pengganti lafaz "Allah" سُبْحَانَهُ, sedangkan dua ratus lebih tidak demikian.

Jumlah "Allah" سُبْحَانَهُ, "Rahman", "Rahîm", "Alîm", bersama "Hû" dalam "Lâ İlahe İllâ Hû", juga setengahnya. Selisihnya hanya empat. Jika "Hû" diganti dengan "Kadîr", jumlahnya juga setengah dari seluruh ayat. Selisihnya sembilan. Ada banyak butir hikmah dalam keseluruhan lafaz yang menyatakan keagungan Allah سُبْحَانَهُ ini. Untuk sementara, kami mencukupkan diri dengan butir hikmah tersebut.

Butir Hikmah Kedua:

Dari segi surah-surah. Ini pun mempunyai banyak butir hikmah. Ada tawafuk yang menunjukkan suatu tatanan, maksud, dan Kehendak.

Dalam Surah Al-Baqarah, jumlah ayat sama dengan jumlah lafaz yang menyatakan keagungan Allah سُبْحَانَهُ. Selisihnya empat, sebab ada empat lafaz "Hû" sebagai pengganti lafaz "Allah" سُبْحَانَهُ, misalnya "Hû" dalam "Lâ İlahe İllâ Hû". Dengan itu, kecocokannya menjadi lengkap.

Dalam Surah Ali Imran, ayat dan lafaz yang menyatakan keagungan Allah سُبْحَانَهُ juga bertawafuk, jumlahnya sama. Namun, lafaz tersebut berjumlah dua ratus sembilan, sedangkan ayatnya dua ratus. Selisihnya sembilan. Dalam keistimewaan ungkapan dan butir-butir hikmah balagah seperti ini, selisih kecil tidak merugikan; tawafuk yang mendekati sudah cukup.

Jumlah seluruh ayat dalam tiga surah, yakni An-Nisa, Al-Ma'idah, dan Al-An'am, bertawafuk dengan jumlah lafaz yang menyatakan keagungan Allah سُبْحَانَهُ dalam ketiganya. Ayatnya berjumlah empat ratus enam puluh empat, dan lafaz tersebut empat ratus enam puluh satu. Bersama lafaz "Allah" سُبْحَانَهُ dalam "Bismillah", tawafuknya sempurna.

Misalnya, jumlah lafaz yang menyatakan keagungan Allah سُبْحَانَهُ dalam lima surah pertama adalah dua kali jumlah lafaz tersebut dalam Surah Al-A'raf, Al-Anfal, At-Taubah, Yunus, dan Hud. Jadi, lima surah yang terakhir ini adalah setengah dari lima yang pertama. Jumlah lafaz tersebut dalam surah-surah berikutnya, yaitu Yusuf, Ar-Ra'd, Ibrahim, Al-Hijr, dan An-Nahl, adalah setengah dari setengah itu. Kemudian, Surah Al-Isra, Al-Kahfi, Maryam, Taha, Al-Anbiya, dan Al-Hajj {(Catatan kaki):

Suatu rahasia telah tersingkap dalam pembagian menjadi kelompok lima ini. Tanpa diketahui oleh seorang pun dari kami, enam surah tercatat di sini. Kami tidak lagi ragu bahwa yang keenam masuk secara gaib, di luar pilihan kami, agar rahasia penting mengenai separuh ini tidak hilang.} adalah setengah dari setengah dari setengah itu. Kelompok-kelompok lima berikutnya berjalan dengan perbandingan yang kurang lebih sama; hanya ada selisih beberapa pecahan. Selisih semacam itu tidak merugikan dalam konteks pembicaraan seperti ini. Misalnya, satu kelompok berjumlah seratus dua puluh satu, satu kelompok seratus dua puluh lima, satu kelompok seratus lima puluh empat, dan satu kelompok seratus lima puluh sembilan.

Lima surah yang dimulai dari Surah Az-Zukhruf turun menjadi setengah dari setengah dari setengah dari setengah itu. Lima yang dimulai dari Surah An-Najm adalah setengah dari setengah dari setengah dari setengah dari setengah itu, tetapi secara mendekati. Selisih pecahan kecil tidak merugikan dalam konteks pembicaraan semacam ini. Di antara kelompok-kelompok lima surah pendek sesudahnya, tiga kelompok hanya mempunyai masing-masing tiga lafaz yang menyatakan keagungan Allah سُبْحَانَهُ.

Keadaan ini menunjukkan bahwa kebetulan tidak turut campur dalam jumlah lafaz yang menyatakan keagungan Allah سُبْحَانَهُ; jumlahnya ditentukan melalui Hikmah dan tatanan.

Butir Hikmah Ketiga mengenai Lafaz "Allah" سُبْحَانَهُ: Berkaitan dengan perbandingan antarhalaman. Demikianlah:

Jumlah lafaz yang menyatakan keagungan Allah سُبْحَانَهُ pada satu halaman berkaitan dengan sisi kanan halaman itu dan halaman yang berhadapan dengannya, serta terkadang halaman yang berhadapan di sebelah kiri dan sisi belakang halaman yang berhadapan tersebut. Aku telah meneliti tawafuk ini dalam mushaf Al-Qur'an milikku sendiri. Pada sebagian besarnya, kulihat tawafuk dengan perbandingan jumlah yang sangat indah. Aku juga memberikan tanda-tanda pada mushafku. Sering kali jumlahnya sama, dan terkadang setengah atau sepertiga. Keadaannya membuat kita merasakan suatu Hikmah dan tatanan.