Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Surat Kedua Puluh Sembilan

Surat-Surat · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

Surat Kedua Puluh Sembilan

Surat Kedua Puluh Sembilan terdiri dari sembilan bagian.

BAGIAN INI ADALAH BAGIAN PERTAMA

Sembilan butir hikmah.

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻭَ ﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻰْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪

Saudaraku yang mulia serta sangat benar, dan kawanku yang amat sungguh-sungguh dalam khidmah Al-Qur'an!

Dalam surat kali ini, engkau meminta jawaban mengenai persoalan penting yang waktu serta keadaanku tidak memungkinkan.

Saudaraku, tahun ini, elhamdülillah, para penulis risalah amat bertambah. Perbaikan kedua datang kepadaku. Dari pagi sampai petang aku sibuk dengan cepat. Pekerjaan-pekerjaan amat pentingku juga tertunda, dan aku memandang tugas ini lebih besar. Terutama pada Syakban serta Ramadan, hati lebih mempunyai bagian daripada akal, dan ruh bergerak. Kami menangguhkan persoalan agung ini sampai waktu lain; ketika ilham datang ke hati melalui Rahmat Allah سُبْحَانَهُ, ia akan ditulis kepada kalian secara bertahap. Untuk sekarang aku akan menjelaskan tiga butir hikmah {(Catatan kaki):

Kemudian dilengkapi menjadi sembilan butir hikmah.}:

BUTIR HIKMAH PERTAMA

Pemikiran yang dinyatakan dengan berkata, "Rahasia Al-Qur'an Al-Hakîm tidak diketahui; para mufasir tidak memahami hakikatnya," mempunyai dua wajah, dan mereka yang mengatakannya terbagi dua kelompok.

Pertama:

Orang yang berpegang pada kebenaran serta mengkaji. Mereka berkata, "Al-Qur'an merupakan khazanah yang tidak berakhir serta tidak habis. Setiap abad, bersama berserah serta mengakui nas-nas dan ketentuan-ketentuannya yang jelas, juga mengambil bagian dari hakikat tersembunyinya sebagai pelengkap, dan tidak mengusik bagian orang lain yang tetap tersembunyi."

Ya, maksudnya, semakin waktu berlalu semakin banyak hakikat Al-Qur'an Al-Hakîm terbuka. Ia bukan menimbulkan keraguan terhadap hakikat-hakikat lahiriah Al-Qur'an yang dijelaskan salaf saleh—hâşâ ve kellâ. Sebab, iman kepada semua itu diperlukan. Semuanya nas, pasti, pokok, serta dasar.

Melalui Firman ﻋَﺮَﺑِﻰٌّ ﻣُﺒ۪ﻴﻦٌ, Al-Qur'an memberitahukan bahwa maknanya jelas. Dari awal sampai akhir, sapaan Ilahi berputar pada makna-makna tersebut, menguatkan, serta membawanya pada derajat amat jelas. Tidak mengakui makna yang ditegaskan nas itu menghasilkan—hâşâ sümme hâşâ—mendustakan Allah سُبْحَانَهُ serta merendahkan pemahaman Rasul ﷺ.

Jadi, makna-makna yang ditegaskan nas diambil secara berantai dari sumber kerasulan. Bahkan, Ibnu Jarir Ath-Thabari menyampaikan seluruh makna Al-Qur'an secara berantai melalui sanad mu'an'an (rantai periwayatan) sampai sumber kerasulan, serta menulis tafsir penting dan besarnya dengan cara itu.

Kelompok Kedua:

Kawan yang tidak berakal, yang hendak memperbaiki sesuatu tetapi justru merusaknya; atau musuh berakal setan, yang ingin menentang hukum-hukum Islam serta hakikat iman. Ia ingin menemukan jalan dalam surah-surah bertembok Al-Qur'an Al-Hakîm, yang menurut ungkapanmu masing-masing seperti benteng baja. Untuk menimbulkan keraguan terhadap hakikat iman serta Al-Qur'an—hâşâ—orang-orang seperti ini menyebarkan perkataan semacam itu.

BUTIR HIKMAH KEDUA

Allah سُبْحَانَهُ bersumpah demi banyak hal dalam Al-Qur'an. Dalam sumpah-sumpah Al-Qur'an terdapat butir hikmah serta rahasia yang amat besar.

Misalnya, sumpah dalam

ﻭَﺍﻟﺸَّﻤْﺲِ ﻭَﺿُﺤٰﻴﻬَﺎ

mengisyaratkan dasar perumpamaan megah dalam Kalimat Kesebelas. Ia memperlihatkan alam semesta sebagai istana serta kota.

Melalui sumpah dalam

ﻳٰﺲٓ ٭ ﻭَﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢِ,

ia juga mengingatkan kesucian mukjizat-mukjizat Al-Qur'an serta bahwa ia berada pada derajat kehormatan yang layak dijadikan sumpah.

Sumpah dalam

ﻭَ ﺍﻟﻨَّﺠْﻢِ ﺍِﺫَﺍ ﻫَﻮٰﻯ ٭ فَلَٓا ﺍُﻗْﺴِﻢُ ﺑِﻤَﻮَﺍﻗِﻊِ ﺍﻟﻨُّﺠُﻮﻡِ ٭ ﻭَﺍِﻧَّﻪُ ﻟَﻘَﺴَﻢٌ ﻟَﻮْ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ ﻋَﻈ۪ﻴﻢٌ

mengisyaratkan bahwa jatuhnya bintang-bintang menjadi tanda jin serta setan diputus dari berita gaib agar tidak menimbulkan keraguan terhadap wahyu. Bersama itu, melalui sumpah tersebut ia mengingatkan keagungan Kudrat serta kesempurnaan Hikmah dalam menempatkan bintang-bintang dengan keagungan dahsyat serta keteraturan sempurna pada tempat mereka, dan memutar planet-planet dengan cara menakjubkan.

Dalam sumpah

ﻭَﺍﻟﺬَّﺍﺭِﻳَﺎﺕِ ٭ وَالْمُرْسَلَاتِ,

untuk mengingatkan hikmah-hikmah penting dalam gelombang serta pengelolaan udara, perhatian ditarik melalui sumpah demi malaikat yang ditugasi angin. Unsur-unsur yang dianggap kebetulan menjalankan hikmah-hikmah amat halus serta tugas-tugas penting, dan demikian seterusnya... Setiap tempat mempunyai butir hikmah serta manfaatnya sendiri.

Karena waktu tidak memungkinkan, kami hanya akan mengisyaratkan secara ringkas satu butir hikmah dari banyak butir hikmah sumpah

ﻭَ ﺍﻟﺘّ۪ﻴﻦِ ﻭَ ﺍﻟﺰَّﻳْﺘُﻮﻥِ.

Yaitu:

Melalui sumpah demi tin serta zaitun, Allah سُبْحَانَهُ mengingatkan keagungan Kudrat, kesempurnaan Rahmat, serta nikmat-nikmat besar⁠-⁠Nya, lalu memalingkan wajah manusia yang menuju derajat paling rendah dari sisi tersebut. Dia mengisyaratkan bahwa melalui syukur, berpikir, iman, serta amal saleh, manusia dapat memperoleh kemajuan rohani sampai derajat paling tinggi. Sebab tin serta zaitun dikhususkan di antara nikmat ialah kedua buah itu amat diberkahi serta bermanfaat, dan dalam penciptaannya pun terdapat banyak hal yang menjadi sarana perhatian serta nikmat.

Sebagaimana zaitun menjadi dasar terbesar bagi kehidupan bersama, perniagaan, penerangan, serta makanan manusia, penciptaan tin juga menunjukkan mukjizat Kudrat luar biasa, seperti menyembunyikan serta memuat perangkat pohon tin besar dalam benih sekecil zarah. Melalui sumpah, Dia mengingatkan nikmat Ilahi dalam makanan, manfaat, daya tahannya yang berbeda dari kebanyakan buah, serta manfaat-manfaat lainnya. Sebagai balasannya, Dia memberikan pelajaran untuk mengangkat manusia kepada iman serta amal saleh dan tidak membiarkannya jatuh ke derajat paling rendah.

BUTIR HIKMAH KETIGA

Huruf-huruf terpisah pada awal surah merupakan sandi Ilahi. Melalui huruf-huruf itu, Dia memberikan beberapa isyarat gaib kepada hamba khusus⁠-⁠Nya ﷺ. Kunci sandi itu ada pada hamba khusus tersebut ﷺ serta pada para pewarisnya. Karena Al-Qur'an Al-Hakîm menyapa setiap masa serta setiap kelompok, ia dapat mempunyai segi dan makna yang amat beragam, yang memuat bagian setiap golongan pada setiap abad. Adapun salaf saleh, bagian paling murni milik merekalah yang mereka jelaskan. Wali serta pengkaji yang saksama menemukan dalam huruf-huruf itu isyarat banyak urusan gaib mengenai perjalanan rohani. Dalam tafsir İşaratü'l-İ'caz, pada awal Surah Al-Baqarah, kita sedikit membahasnya dari segi mukjizat balagah; silakan dirujuk.

BUTIR HIKMAH KEEMPAT

Kalimat Kedua Puluh Lima telah meneguhkan bahwa terjemahan hakiki Al-Qur'an Al-Hakîm tidak mungkin. Gaya ungkap yang luhur dalam mukjizat rohaninya pun tidak dapat diterjemahkan. Menjelaskan serta membuat orang memahami cita rasa dan hakikat yang berasal dari gaya ungkap luhur dalam mukjizat rohaninya amat sulit. Namun, untuk menunjukkan jalan, kami akan mengisyaratkan satu-dua segi. Yaitu:

Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya, melalui ayat-ayat seperti

ﻭَﻣِﻦْ ﺍٰﻳَﺎﺗِﻪ۪ ﺧَﻠْﻖُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافُ ﺍَﻟْﺴِﻨَﺘِﻜُﻢْ ﻭَ ﺍَﻟْﻮَﺍﻧِﻜُﻢْ ٭ ﻭَﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕُ ﻣَﻄْﻮِﻳَّﺎﺕٌ ﺑِﻴَﻤ۪ﻴﻨِﻪ۪ ٭ ﻳَﺨْﻠُﻘُﻜُﻢْ ﻓ۪ﻰ ﺑُﻄُﻮﻥِ ﺍُﻣَّﻬَﺎﺗِﻜُﻢْ ﺧَﻠْﻘًﺎ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِ ﺧَﻠْﻖٍ ﻓ۪ﻰ ﻇُﻠُﻤَﺎﺕٍ ثَلَاثٍ ٭ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضَ ﻓ۪ﻰ ﺳِﺘَّﺔِ ﺍَﻳَّﺎﻡٍ ٭ ﻳَﺤُﻮﻝُ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﻤَﺮْﺀِ ﻭَﻗَﻠْﺒِﻪ۪ ٭ لَا ﻳَﻌْﺰُﺏُ ﻋَﻨْﻪُ ﻣِﺜْﻘَﺎﻝُ ﺫَﺭَّﺓٍ ٭ ﻳُﻮﻟِﺞُ ﺍﻟَّﻴْﻞَ ﻓِﻰ ﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ ﻭَﻳُﻮﻟِﺞُ ﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭَ ﻓِﻰ ﺍﻟَّﻴْﻞِ ﻭَ ﻫُﻮَ ﻋَﻠ۪ﻴﻢٌ ﺑِﺬَﺍﺕِ ﺍﻟﺼُّﺪُﻭﺭِ,

menggambarkan serta memperlihatkan hakikat penciptaan kepada khayalan dalam gaya ungkap yang begitu luar biasa dan luhur, serta cakupan menyeluruh yang bersifat mukjizat, sehingga:

Ia menyatakan: "Sang Pembuat seluruh alam, yaitu ahli yang mengerjakan alam semesta ini, sedang bekerja. Dengan palu yang dipakai⁠-⁠Nya untuk memakukan matahari dan bulan pada tempatnya, pada saat yang sama Dia menempatkan zarah-zarah pada tempatnya, misalnya di dalam pupil mata makhluk hidup. Dengan ukuran dan alat maknawi yang dipakai⁠-⁠Nya untuk menata dan membentangkan langit, pada saat yang sama, dengan tatanan yang sama, Dia membentangkan, membuat, mengatur, dan menempatkan selaput-selaput mata. Dengan palu maknawi dari Kudrat⁠-⁠Nya yang dipakai oleh Sang Pembuat Dzul-Jalâl untuk memakukan bintang-bintang di langit, dengan palu maknawi yang sama Dia mengukir pada tempatnya titik-titik tanda pengenal yang tak terhingga pada wajah manusia, serta indra lahir dan batinnya."

Jadi, Sang Pembuat Dzul-Jalâl sedang bekerja... Untuk memperlihatkan pekerjaan⁠-⁠Nya kepada mata dan telinga sekaligus, melalui ayat-ayat Al-Qur'an Dia memukulkan sebuah palu pada zarah. Melalui kata lain dalam ayat yang sama, Dia memukulkan palu itu pada matahari, seakan-akan memakukannya pada pusatnya. Dengan gaya ungkap yang luhur, Dia menunjukkan Wâhidiyah tepat di dalam Ahadiyah; Keagungan yang paling tinggi di dalam Keindahan yang paling tinggi; Kebesaran yang paling tinggi di dalam Yang Paling Tersembunyi; Keluasan yang paling besar di dalam Ketelitian yang paling cermat; Kemegahan yang paling tinggi di dalam Rahmat yang paling besar; dan Jarak yang paling jauh di dalam Kedekatan yang paling dekat. Dia menyatakan, menegaskan, dan memperlihatkan bahwa berkumpulnya hal-hal yang berlawanan, yang dianggap mustahil bahkan pada tingkat yang paling berjauhan, hadir dalam suatu bentuk yang mencapai derajat niscaya.

Cara menyatakan dan gaya ungkap inilah yang membuat para sastrawan paling luar biasa tunduk penuh kagum kepada balagahnya.

Misalnya, melalui ayat

ﻭَﻣِﻦْ ﺍٰﻳَﺎﺗِﻪ۪ٓ ﺍَﻥْ ﺗَﻘُﻮﻡَ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀُ وَالْاَرْضُ ﺑِﺎَﻣْﺮِﻩ۪ ﺛُﻢَّ ﺍِﺫَﺍ ﺩَﻋَﺎﻛُﻢْ ﺩَﻋْﻮَﺓً ﻣِﻦَ الْاَرْضِ ﺍِﺫَٓﺍ ﺍَﻧْﺘُﻢْ ﺗَﺨْﺮُﺟُﻮﻥَ,

dengan gaya ungkap yang luhur, Dia memperlihatkan kemegahan kerajaan Rububiyah⁠-⁠Nya. Demikianlah:

"Langit dan bumi bagaikan dua barak yang patuh dan dua pusat pasukan yang teratur. Dengan satu Perintah atau suatu isyarat seperti tiupan terompet, segala yang berbaring di balik tirai sirna dan belum ada di kedua barak itu menjawab Perintah tersebut dengan sangat cepat dan patuh: 'Lebbeyk!' Lalu mereka keluar menuju medan kebangkitan dan ujian."

Demikianlah, dengan gaya ungkap luhur yang bermukjizat, ayat itu menyatakan kebangkitan dan kiamat. Di dalam pernyataannya itu, ia juga mengisyaratkan suatu dalil yang meyakinkan:

Sebagaimana terlihat dengan mata, benih-benih yang tersembunyi di dalam bumi dan seakan-akan sudah mati, serta tetes-tetes air yang terpencar dan tersembunyi dalam keadaan belum tampak di ruang langit dan lapisan udara, dikumpulkan dengan sangat teratur dan cepat. Setiap musim semi, semuanya keluar menuju medan percobaan dan ujian. Biji-bijian di bumi dan tetes-tetes air di langit senantiasa tampil seperti contoh mahsyar. Demikian pula, kebangkitan yang terbesar akan muncul dengan mudah. Karena kalian melihat yang ini, kalian tidak dapat mengingkari yang itu. Dan seterusnya... Dari ayat-ayat ini, kalian dapat membandingkan tingkat balagah dalam ayat-ayat lainnya.

Apakah terjemahan yang sesungguhnya dari ayat-ayat dengan gaya semacam ini mungkin dibuat? Tentu tidak! Paling-paling, perlu diberikan makna umum yang singkat, atau ditulis lima hingga enam baris tafsir untuk setiap kalimat dalam ayat itu.

BUTIR HIKMAH KELIMA

Misalnya, ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ merupakan satu kalimat Al-Qur'an. Maknanya yang paling singkat, sebagaimana dituntut oleh kaidah ilmu nahwu dan bayan, ialah:

ﻛُﻞُّ ﻓَﺮْﺩٍ ﻣِﻦْ ﺍَﻓْﺮَﺍﺩِ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪِ ﻣِﻦْ ﺍَﻯِّ ﺣَﺎﻣِﺪٍ ﺻَﺪَﺭَ ﻭَﻋَﻠٰﻰ ﺍَﻯِّ ﻣَﺤْﻤُﻮﺩٍ ﻭَﻗَﻊَ ﻣِﻦَ الْاَزَلِ ﺍِﻟَﻰ الْاَبَدِ ﺧَﺎﺹٌّ ﻭَﻣُﺴْﺘَﺤِﻖٌّ ﻟِﻠﺬَّﺍﺕِ ﺍﻟْﻮَﺍﺟِﺐِ ﺍﻟْﻮُﺟُﻮﺩِ ﺍﻟْﻤُﺴَﻤّٰﻰ ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ

Yakni, "Segala puji dan sanjungan, dari siapa pun datangnya dan kepada siapa pun ditujukan, sejak azali hingga selama-lamanya, khusus bagi dan layak diberikan kepada Zat Wâjibul Wujûd, yang disebut Allah سُبْحَانَهُ."

Ungkapan "segala puji" berasal dari "el-i istiğrak". Batasan "dari siapa pun datangnya" diperoleh karena "hamd" adalah masdar dan pelakunya tidak disebutkan; dalam konteks semacam ini, hal tersebut menyatakan makna umum. Objeknya juga tidak disebutkan. Dalam konteks pembicaraan ini, hal tersebut kembali menyatakan makna menyeluruh dan umum, sehingga memberikan batasan "kepada siapa pun ditujukan". Batasan "sejak azali hingga selama-lamanya" diperoleh dari kaidah peralihan kalimat verbal menjadi kalimat nominal. Karena peralihan itu menunjukkan sifat tetap dan terus berlangsung, ia menyatakan makna tersebut. Makna "khusus bagi dan berhak atasnya" dinyatakan oleh "lâm-ı cer" dalam "lillah", sebab "lâm" itu menyatakan pengkhususan dan hak. Adapun batasan "Zat Wâjibul Wujûd": karena niscaya ada merupakan sifat yang tak mungkin terpisah dari Sifat Allah سُبْحَانَهُ sebagai Yang Disembah, serta merupakan sebutan untuk memandang Zat Dzul-Jalâl, maka lafaz Allah سُبْحَانَهُ, karena mencakup Asma dan Sifat-sifat lainnya serta merupakan Ismul A'zham, menunjukkan makna itu melalui makna yang melekat padanya. Dengan cara yang sama, lafaz tersebut juga menunjukkan sebutan "Wâjibul Wujûd" melalui makna yang melekat padanya itu.

Jika makna lahir yang paling singkat dari kalimat ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ, yang disepakati oleh para ahli bahasa Arab, saja demikian, bagaimana kalimat itu dapat diterjemahkan ke dalam bahasa lain dengan mukjizat dan daya ungkap yang sama?

Di antara bahasa-bahasa dunia, selain bahasa Arab hanya ada satu bahasa yang termasuk bahasa nahwu. Itu pun tidak pernah dapat menyamai keluasan bahasa Arab. Kata-kata Al-Qur'an muncul secara bermukjizat melalui bahasa nahwu yang luas dan bermukjizat itu, dalam Ilmu yang meliputi segala sesuatu, Yang Mengetahui dan Menghendaki semua seginya sekaligus. Bagaimana kata-kata terjemahan dari sejumlah orang yang pikirannya terbatas, kesadarannya sempit, pemikirannya kacau, dan hatinya gelap, melalui bahasa-bahasa lain yang membentuk kata dengan penggabungan dan perubahan bentuk, dapat menggantikan kata-kata suci tersebut?

Bahkan, dapat kukatakan dan mungkin dapat kubuktikan bahwa setiap huruf Al-Qur'an menjadi seperti khazanah hakikat. Terkadang, satu huruf saja mengajarkan hakikat sebanyak satu halaman.

BUTIR HIKMAH KEENAM

Untuk menerangi makna ini, akan kuceritakan suatu keadaan bercahaya yang pernah kualami sendiri dan suatu gambaran khayal yang mengandung hakikat. Demikianlah:

Pada suatu waktu, aku memikirkan huruf nun yang menyatakan pembicara bersama yang lain dalam

ﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﻌْﺒُﺪُ ﻭَ ﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﺴْﺘَﻌ۪ﻴﻦُ.

Hatiku mencari sebab peralihan dari bentuk pembicara tunggal ke bentuk ﻧَﻌْﺒُﺪُ. Tiba-tiba, keutamaan dan rahasia berjemaah dalam salat tersingkap dari nun tersebut. Kulihat bahwa:

Aku ikut bersama jemaah di Masjid Bayezid tempat aku sedang salat. Kulihat setiap orang di dalamnya menjadi seperti pemberi syafaat bagiku, serta menjadi saksi dan penguat bagi ketetapan dan pernyataan yang kuungkapkan dalam bacaanku. Aku pun memperoleh keberanian untuk mempersembahkan ubudiyahku yang kurang sempurna ke hadirat Allah سُبْحَانَهُ, di tengah ibadah jemaah yang besar dan banyak itu.

Tiba-tiba, satu tirai lagi terbuka. Yakni, semua masjid di Istanbul saling terhubung. Kota itu menjadi seperti Masjid Bayezid tersebut. Tiba-tiba, secara maknawi kurasakan bahwa aku memperoleh bagian dari doa dan pengakuan mereka.

Dalam keadaan itu, kulihat pula diriku berada di tengah saf-saf melingkar di sekitar Ka'bah yang mulia, dalam masjid seluas permukaan bumi. Aku mengucapkan

ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ.

Aku mempunyai begitu banyak pemberi syafaat. Mereka mengucapkan dan membenarkan setiap perkataan yang kuucapkan dalam salat dengan kata-kata yang persis sama. Karena tirai ini telah terbuka dalam khayal, Ka'bah yang mulia menjadi seperti mihrab. Aku memanfaatkan kesempatan ini, menjadikan saf-saf itu sebagai saksi, dan menyerahkan ungkapan iman

ﺍَﺷْﻬَﺪُ ﺍَﻥْ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَ ﺍَﺷْﻬَﺪُ ﺍَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ

yang kuucapkan dalam tahiyat kepada Hajar Aswad yang diberkahi. Ketika aku mengatakan bahwa kutinggalkan ungkapan itu sebagai amanat, tiba-tiba terbuka suatu keadaan lagi. Kulihat bahwa jemaah yang kuikuti terbagi menjadi tiga lingkaran:

Lingkaran Pertama:

Jemaah agung dari orang-orang beriman dan yang mengesakan Allah سُبْحَانَهُ di muka bumi.

Lingkaran Kedua:

Kulihat diriku berada dalam suatu jemaah yang mencakup segala yang ada, dalam salat yang amat besar dan tasbih yang amat agung. Setiap kelompok sibuk dengan doa dan tasbihnya masing-masing. Pengabdian yang terlihat, yang disebut "tugas segala sesuatu", merupakan sebutan bagi ubudiyah mereka. Dalam keadaan itu, aku mengucapkan "Allahu ekber", menundukkan kepala karena takjub, dan memandang diriku:

Di dalam lingkaran ketiga, kulihat sebuah alam kecil yang mengagumkan: kecil secara lahir dan sifat, tetapi besar secara hakikat, tugas, dan jumlah. Kulihat suatu jemaah yang terdiri atas kelompok-kelompok, mulai dari zarah-zarah tubuhku hingga indra lahirku, semuanya sibuk menunaikan tugas ubudiyah dan syukur. Dalam lingkaran ini, latifah dari Rabb di dalam hatiku mengucapkan

ﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﻌْﺒُﺪُ ﻭَ ﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﺴْﺘَﻌ۪ﻴﻦُ

atas nama jemaah tersebut. Sebagaimana dalam kedua jemaah sebelumnya, lisanku telah mengucapkannya dengan meniatkan kedua jemaah agung itu.

Kesimpulannya,

nun dalam ﻧَﻌْﺒُﺪُ mengisyaratkan ketiga jemaah tersebut.

Ketika aku berada dalam keadaan ini, tiba-tiba pribadi rohani Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, yang menerangkan dan menyampaikan Al-Qur'an Al-Hakîm, hadir dalam gambaran dengan segenap kemegahannya di mimbar maknawinya yang disebut Madinah yang bercahaya. Seperti semua orang, secara maknawi aku pun mendengar seruan

ﻳَٓﺎ ﺍَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺍﻋْﺒُﺪُﻭﺍ ﺭَﺑَّﻜُﻢْ

dari beliau. Aku membayangkan bahwa setiap orang dalam ketiga jemaah tersebut, sepertiku, menjawab dengan ﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﻌْﺒُﺪُ. Berdasarkan kaidah

ﺍِﺫَﺍ ﺛَﺒَﺖَ ﺍﻟﺸَّﻰْﺀُ ﺛَﺒَﺖَ ﺑِﻠَﻮَﺍﺯِﻣِﻪ۪,

tampaklah dalam pikiran suatu hakikat berikut:

Rabb seluruh alam menjadikan manusia sebagai pihak yang disapa, dan berbicara dengan seluruh makhluk. Rasul Yang Paling Mulia ﷺ ini menyampaikan seruan kemuliaan tersebut kepada umat manusia, bahkan kepada semua makhluk yang berjiwa dan sadar. Maka, seluruh masa lalu dan masa depan menjadi seperti masa kini. Seluruh umat manusia berada dalam satu majelis, sebagai suatu jemaah dengan saf-saf yang berbeda, dan seruan itu ditujukan kepada mereka dalam keadaan tersebut.

Pada saat itu, kulihat setiap ayat Al-Qur'an dalam daya ungkap, gaya yang luhur, ungkapan yang kukuh, dan balagah yang diperolehnya dari kedudukan yang amat megah dan luas; dari pihak yang disapa yang amat banyak, beragam, dan penting; dari Yang Berfirman sejak azali, Pemilik Kebesaran dan Keagungan yang tak terhingga; serta dari Penjelas⁠-⁠Nya yang luhur ﷺ, yang memiliki kedudukan amat tinggi sebagai yang dicintai⁠-⁠Nya. Kulihat setiap ayat itu berada di dalam cahaya mukjizat yang terang, bahkan amat terang.

Pada saat itu, bukan hanya seluruh Al-Qur'an; satu surah, satu ayat, bahkan setiap katanya menjadi seperti satu mukjizat tersendiri. Aku mengucapkan

ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻋَﻠٰﻰ ﻧُﻮﺭِ الْا۪يمَانِ ﻭَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ.

Sebagaimana aku masuk ke dalam gambaran khayal yang merupakan hakikat itu melalui nun dalam ﻧَﻌْﺒُﺪُ, melalui nun itu pula aku keluar. Aku mengerti bahwa bukan hanya ayat dan kata Al-Qur'an, bahkan sejumlah hurufnya, seperti Nun-u Na'büdü, juga merupakan kunci-kunci bercahaya bagi hakikat-hakikat penting.

Sesudah hati dan khayal keluar dari Nun-u Na'büdü tersebut, akal muncul di hadapan keduanya dan berkata: "Aku juga ingin mendapat bagian. Aku tidak dapat terbang seperti kalian. Kakiku adalah dalil dan hujah. Jalan menuju Sang Khâliq, Ma'bûd dan Yang Dimintai Pertolongan dalam ﻧَﻌْﺒُﺪُ dan ﻧَﺴْﺘَﻌ۪ﻴﻦُ itu, perlu ditunjukkan agar aku dapat ikut bersama kalian."

Pada saat itu, terlintas dalam hati: Katakanlah kepada akal yang kebingungan itu:

Pandanglah segala yang ada di alam semesta. Baik makhluk hidup maupun benda yang tak bernyawa, semuanya memiliki ubudiyah berupa tugas yang mereka jalankan dengan patuh dan teratur secara sempurna. Sekalipun sebagian tidak sadar dan tidak memiliki rasa, mereka menunaikan tugas seolah-olah sangat sadar, menyukai keteraturan, dan penuh ubudiyah. Jadi, ada Sang Ma'bûd Yang Hakiki dan Sang Pemberi Perintah Mutlak, yang mengarahkan serta menugaskan mereka untuk beribadah.

Pandanglah pula segala yang ada, khususnya makhluk hidup. Masing-masing memiliki kebutuhan yang sangat banyak dan beragam, serta sangat banyak keperluan yang berbeda untuk hidup dan terus bertahan. Tangan mereka tidak mampu menjangkau dan daya mereka tidak mampu memenuhi bahkan yang paling kecil. Namun, keperluan mereka yang tak terhingga itu diberikan kepada mereka secara teratur, dari tempat yang tak mereka duga dan pada waktu yang tepat. Hal ini terlihat dengan mata.

Keadaan segala yang ada yang serba membutuhkan serta kebutuhan mereka yang tak terhingga ini, serta bantuan gaib yang luar biasa dan pertolongan dari Ar-Rahmân ini, menunjukkan dengan amat jelas bahwa mereka memiliki Pelindung dan Ar-Râziq, yaitu Sang Ghaniyy Mutlak, Sang Karîm Mutlak, dan Sang Qadîr Mutlak. Segala sesuatu dan setiap makhluk hidup meminta pertolongan serta mengharapkan bantuan dari⁠-⁠Nya. Secara maknawi, semuanya mengucapkan

ﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﺴْﺘَﻌ۪ﻴﻦُ.

Pada saat itu, akal berkata, "Âmennâ ve saddaknâ."

BUTIR HIKMAH KETUJUH

Lalu, ketika dalam keadaan itu aku mengucapkan

ﺍِﻫْﺪِﻧَﺎ ﺍﻟﺼِّﺮَﺍﻁَ ﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻘ۪ﻴﻢَ ٭ ﺻِﺮَﺍﻁَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍَﻧْﻌَﻤْﺖَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ,

kulihat dalam rombongan umat manusia yang telah berpindah ke masa lalu, rombongan para nabi, siddiq, syuhada, wali, dan orang-orang saleh yang sangat bercahaya dan terang. Mereka menghalau gelapnya masa depan dan berjalan di jalan raya besar yang lurus menuju hidup selama-lamanya. Ungkapan ini menunjukkan jalan kepadaku untuk bergabung dengan rombongan itu, bahkan membuatku bergabung dengannya.

Tiba-tiba, aku mengucapkan fesübhanallah. Orang yang memiliki kesadaran walau sebesar zarah semestinya mengetahui betapa besar kerugian dan kehancuran jika ia tidak bergabung dengan rombongan agung bercahaya ini, yang menerangi gelapnya masa depan dan berjalan dengan sepenuhnya selamat. Dari mana orang yang menyimpang dari rombongan agung itu dengan mengadakan bidah dapat memperoleh cahaya? Jalan mana yang dapat ditempuhnya?

Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, pembimbing kita, telah menyatakan:

ﻛُﻞُّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ضَلَالَةٌ ﻭَﻛُﻞُّ ضَلَالَةٍ ﻓِﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ.

Di hadapan pernyataan yang tegas ini, manfaat apa yang ditemukan dan fatwa apa yang diberikan oleh sejumlah orang malang yang layak disebut ulama buruk, sehingga mereka menentang hal-hal yang sudah jelas dalam syiar Islam secara sia-sia dan merugikan, serta menganggapnya boleh diubah? Paling-paling, kesadaran sesaat yang timbul dari suatu kilasan makna sesaat telah menipu ulama buruk tersebut.

Misalnya, jika kulit seekor hewan atau sebuah buah dikupas, untuk sementara tampak sesuatu yang indah. Namun, dalam waktu singkat, daging yang indah dan buah yang bagus itu menghitam dan membusuk di bawah kulit yang liar, berkarat, tebal, dan muncul kemudian tersebut.

Demikian pula, ungkapan-ungkapan Nabi ﷺ dan Allah سُبْحَانَهُ dalam syiar Islam bagaikan lapisan kulit yang hidup dan mendatangkan pahala. Dengan mengupasnya, cahaya dalam makna-maknanya untuk sementara tampak agak telanjang. Namun, seperti buah yang terpisah dari kulitnya, ruh makna-makna yang diberkahi itu terbang pergi, meninggalkan kulit manusiawinya dalam hati dan pikiran yang gelap. Cahaya terbang pergi, asapnya tertinggal. Bagaimanapun...

BUTIR HIKMAH KEDELAPAN

Perlu dijelaskan suatu kaidah hakikat mengenai hal ini. Demikianlah:

Sebagaimana terdapat dua macam hak, yakni hak pribadi dan hak umum yang dianggap sebagai sejenis hak Allah سُبْحَانَهُ, demikian pula dalam persoalan syariat, sebagian berkaitan dengan pribadi dan sebagian berkaitan dengan masyarakat secara keseluruhan. Yang kedua ini disebut syiar Islam. Karena syiar ini berkaitan dengan masyarakat secara keseluruhan, semua orang mempunyai bagian di dalamnya. Tanpa persetujuan semuanya, mengusiknya berarti melanggar hak mereka semua.

Bahkan bagian paling kecil dari syiar tersebut, suatu persoalan yang termasuk sunah, dipandang amat penting seperti persoalan yang paling besar. Ia berkaitan langsung dengan seluruh dunia Islam. Orang-orang yang berusaha memutus, merusak, dan mengubah rantai bercahaya yang menjadi pegangan seluruh tokoh besar Islam sejak Zaman Kebahagiaan hingga sekarang, serta yang membantu mereka, hendaklah memikirkan betapa mengerikan kesalahan mereka. Jika mereka memiliki kesadaran walau sebesar zarah, hendaklah mereka gemetar!..

BUTIR HIKMAH KESEMBILAN

Sebagian persoalan syariat disebut taabbudi. Ia tidak bergantung pada pertimbangan akal, melainkan dilakukan karena diperintahkan. Dasar penyebabnya ialah Perintah.

Sebagian disebut ma'qul al-ma'na. Yakni, ada hikmah dan manfaat yang menjadi alasan untuk memilih penetapan hukum tersebut, tetapi bukan sebab dan dasar penyebabnya. Sebab dasar penyebab yang sesungguhnya ialah Perintah dan Larangan Allah سُبْحَانَهُ.

Bagian syiar yang bersifat taabbudi tidak dapat diubah karena hikmah atau manfaat. Sifat taabbudinya lebih diutamakan; ia tidak boleh diusik. Sekalipun datang seratus ribu manfaat, semuanya tidak dapat mengubahnya. Demikian pula, tidak boleh dikatakan, "Manfaat syiar hanyalah manfaat yang sudah diketahui." Memahaminya demikian merupakan kesalahan. Manfaat-manfaat itu mungkin hanya satu manfaat di antara sekian banyak hikmahnya.

Misalnya, seseorang berkata, "Hikmah azan ialah memanggil kaum Muslim untuk salat. Maka, menembakkan sepucuk senapan sudah cukup." Padahal, orang bodoh itu tidak mengetahui bahwa hal tersebut hanyalah satu manfaat di antara ribuan manfaat azan. Sekalipun bunyi senapan memberikan manfaat itu, bagaimana ia dapat menggantikan azan yang, atas nama umat manusia atau penduduk kota itu, menjadi sarana untuk menyatakan tauhid dan memperlihatkan ubudiyah di hadapan Rububiyah Allah سُبْحَانَهُ? Itulah hasil terbesar dari alam semesta diciptakan dan hasil dari manusia diciptakan.

Kesimpulannya,

neraka bukan sesuatu yang sia-sia. Ada banyak perbuatan yang berseru dengan segenap tenaganya, "Hidup neraka!" Surga pun tidak murah; ia menuntut harga yang penting.

لَا ﻳَﺴْﺘَﻮ۪ٓﻯ ﺍَﺻْﺤَﺎﺏُ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻭَﺍَﺻْﺤَﺎﺏُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﺍَﺻْﺤَﺎﺏُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻔَٓﺎﺋِﺰُﻭﻥَ ﺍﻟﺦ

BAGIAN KEDUA, YANG MERUPAKAN RISALAH KEDUA

Mengenai Ramadan yang mulia

Karena pada akhir bagian pertama telah dibicarakan sedikit tentang syiar Islam, dalam bagian kedua ini akan disebutkan sejumlah hikmah Ramadan yang mulia, yang merupakan syiar paling terang dan megah.

Bagian Kedua ini terdiri atas sembilan butir hikmah yang menerangkan sembilan hikmah di antara begitu banyak hikmah Ramadan yang mulia.

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﺷَﻬْﺮُ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺍﻟَّﺬ۪ٓﻯ ﺍُﻧْﺰِﻝَ ﻓ۪ﻴﻪِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥُ ﻫُﺪًﻯ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ﻭَ ﺑَﻴِّﻨَﺎﺕٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻬُﺪٰﻯ ﻭَ ﺍﻟْﻔُﺮْﻗَﺎﻥِ

BUTIR HIKMAH PERTAMA

Puasa pada Ramadan yang mulia termasuk yang paling utama di antara lima rukun Islam. Ia juga termasuk syiar Islam yang paling agung.

Puasa pada Ramadan yang mulia mempunyai banyak hikmah yang berkaitan dengan Rububiyah Allah سُبْحَانَهُ, kehidupan sosial manusia, kehidupan pribadinya, pendidikan nafsunya, dan syukur atas nikmat-nikmat Allah سُبْحَانَهُ.

Salah satu dari banyak hikmah puasa dari segi Rububiyah Allah سُبْحَانَهُ ialah:

Allah سُبْحَانَهُ menciptakan permukaan bumi seperti suatu hidangan nikmat dan menyusun segala jenis nikmat di atas hidangan itu dengan cara

ﻣِﻦْ ﺣَﻴْﺚُ لَا ﻳَﺤْﺘَﺴِﺐُ.

Melalui keadaan itu, Dia menyatakan Rububiyah⁠-⁠Nya yang sempurna, serta Kasih dan Sayang⁠-⁠Nya sebagai Ar-Rahmân dan Ar-Rahîm. Di balik tirai lalai dan dalam lingkup sebab-sebab, manusia tidak dapat melihat dengan utuh hakikat yang dinyatakan oleh keadaan tersebut, bahkan terkadang melupakannya.

Pada Ramadan yang mulia, ahli iman tiba-tiba menjadi seperti pasukan yang teratur. Seolah-olah diundang ke perjamuan Sang Sultan Azali, menjelang petang mereka menunjukkan sikap ubudiyah, seperti sedang menunggu perintah, "Silakan!" Dengan ubudiyah yang luas, agung, dan teratur, mereka menjawab Kasih Ar-Rahmân yang penuh belas kasih, megah, dan meliputi semuanya itu. Apakah orang-orang yang tidak ikut dalam ubudiyah yang luhur dan kehormatan karunia semacam ini layak disebut manusia?