KALIMAT KESEMBILAN
ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮُ
Yakni, seluruh kebaikan berada di tangan-Nya, seluruh amal baik dalam kitab-Nya, serta seluruh anugerah dalam khazanah-Nya. Karena itu, siapa yang meminta kebaikan harus memintanya dari-Nya; siapa yang menginginkan kebajikan harus memohon kepada-Nya...
Untuk menunjukkan hakikat kata ini dengan pasti, kami mengisyaratkan tanda-tanda serta kilau-kilau dari satu dalil luas di antara dalil-dalil Ilmu Ilahi yang tak terhitung demikian, dan berkata:
Sang Pembuat yang mengelola serta menciptakan melalui tindakan yang terlihat dalam kainat ini mempunyai Ilmu yang meliputi segalanya. Ilmu itu merupakan sifat Zat-Nya yang tidak terpisahkan serta wajib; mustahil Ilmu itu terpisah. Sebagaimana tidak mungkin matahari ada tetapi cahayanya tidak ada, ribuan kali lebih tidak mungkin Ilmu terpisah dari Zat yang menciptakan makhluk-makhluk teratur ini. Sebagaimana Ilmu yang meliputi segalanya ini tidak terpisahkan dari Zat itu, dari segi hubungannya dengan segala sesuatu, Ilmu itu juga pasti meliputi semuanya. Yakni, tidak satu pun dapat tersembunyi dari Ilmu itu. Sebagaimana benda-benda di muka bumi yang menghadap matahari tanpa tabir tidak mungkin tidak melihat matahari, seribu kali lebih tidak mungkin, bahkan mustahil, benda-benda bersembunyi dari cahaya Ilmu Al-Alîm Dzul-Jalâl itu. Sebab, mereka hadir di hadapan-Nya. Yakni, segala sesuatu berada dalam lingkup Pandangan-Nya, menghadap-Nya, berada dalam lingkup apa yang disaksikan-Nya, serta Ilmu-Nya menjangkau segala sesuatu. Meskipun benda bercahaya seperti matahari tanpa kehidupan ini, manusia tidak berdaya ini, serta sinar-X tanpa kesadaran ini bersifat baru, tidak sempurna, serta memperoleh sifatnya dari luar, jika cahaya mereka dapat melihat serta menembus segala yang dihadapinya, tentu tidak satu pun dapat tersembunyi ataupun berada di luar cahaya Ilmu Azali yang wajib ada, meliputi segalanya, serta melekat pada Zat-Nya sendiri.
Ada tanda-tanda serta bukti-bukti kainat yang tak terhitung, yang mengisyaratkan hakikat ini. Di antaranya:
Seluruh hikmah yang terlihat pada seluruh makhluk mengisyaratkan Ilmu itu. Sebab, bertindak dengan hikmah berlangsung melalui ilmu.
Seluruh inayah serta hiasan juga mengisyaratkan Ilmu itu. Dia yang bertindak dengan perhatian serta karunia tentu mengetahui dan melakukannya dengan pengetahuan.
Seluruh makhluk yang teratur, yang masing-masing berada dalam keseimbangan, serta seluruh susunan yang seimbang dan terukur, yang masing-masing berada dalam keteraturan, juga mengisyaratkan Ilmu yang meliputi segalanya itu. Sebab, bertindak dengan teratur berlangsung melalui ilmu. Dia yang membuat karya indah dengan ukuran serta timbangan tentu melakukannya dengan bersandar pada ilmu yang kuat.
Ukuran-ukuran teratur yang terlihat pada seluruh makhluk, bentuk-bentuk yang diukur sesuai Hikmah serta manfaat, dan keadaan serta susunan yang berbuah, seakan-akan diatur dengan kaidah Qada serta jangka Takdir, menunjukkan Ilmu yang meliputi segalanya. Ya, memberi bentuk teratur yang berbeda kepada benda-benda, serta memberi kepada setiap sesuatu bentuk khusus yang sesuai dengan manfaat bagi kehidupannya dan wujudnya, berlangsung melalui Ilmu yang meliputi segalanya; tidak dapat dengan cara lain.
Memberikan rezeki kepada seluruh makhluk hidup, dengan cara yang sesuai bagi masing-masing, pada waktu yang tepat serta di tempat yang tidak mereka duga, juga berlangsung melalui Ilmu yang meliputi segalanya. Sebab, Dia yang mengirim rezeki harus mengetahui serta mengenal mereka yang membutuhkan rezeki, mengetahui waktunya, memahami kebutuhannya, kemudian dapat memberikan rezekinya dengan cara yang sesuai.
Ajal serta kematian seluruh makhluk hidup, yang di balik sebutan tidak diketahui terikat pada hukum penentuan, juga menunjukkan Ilmu yang meliputi segalanya. Sebab, meskipun secara lahiriah waktu ajal tertentu bagi setiap anggota suatu kelompok tidak terlihat, ajal anggota-anggota kelompok itu ditentukan dalam rentang waktu terbatas di antara dua batas. Pada saat ajal itu, hasil, buah, serta benih yang akan meneruskan tugas makhluk tersebut di belakangnya dijaga lalu diubah menjadi kehidupan segar; hal ini juga menunjukkan Ilmu yang meliputi segalanya itu.
Anugerah Rahmat yang mencakup seluruh makhluk dengan cara yang sesuai bagi setiap makhluk juga menunjukkan Ilmu yang meliputi segalanya dalam Rahmat yang luas. Sebab, misalnya, Dia yang memberikan makanan berupa susu kepada anak-anak makhluk hidup dan membantu tumbuhan bumi yang membutuhkan air melalui hujan tentu mengenal anak-anak itu, mengetahui kebutuhan mereka, melihat tumbuhan itu, serta memahami kebutuhan tumbuhan itu akan hujan, kemudian mengirimkannya. Dan demikian seterusnya... Manifestasi Rahmat-Nya yang penuh Hikmah serta perhatian, yang tak terhitung itu, semuanya menunjukkan Ilmu yang meliputi segalanya.
Perhatian dalam karya segala sesuatu, pemberian bentuk yang penuh seni, serta hiasan yang cakap juga menunjukkan Ilmu yang meliputi segalanya. Sebab, di antara ribuan keadaan yang mungkin, memilih keadaan yang teratur serta berhias, penuh seni serta hikmah, berlangsung melalui ilmu yang mendalam. Cara memilih ini pada seluruh benda menunjukkan Ilmu yang meliputi segalanya.
Kemudahan sempurna dalam menciptakan serta membuat benda-benda dari awal juga menunjukkan Ilmu yang paling sempurna. Sebab, mudahnya pekerjaan serta ringannya suatu keadaan sebanding dengan derajat ilmu dan kecakapan. Semakin banyak mengetahui, semakin mudah melakukannya.
Berdasarkan rahasia ini, kita memandang segala yang ada, yang masing-masing merupakan mukjizat karya, dan melihat bahwa mereka diciptakan dengan kemudahan yang menimbulkan rasa takjub, secara mudah, tanpa beban, tanpa kegaduhan, dalam waktu singkat, tetapi dengan cara yang menampilkan mukjizat. Jadi, ada Ilmu yang tiada batas sehingga mereka dibuat dengan kemudahan yang tiada batas. Dan demikian seterusnya...
Seperti tanda-tanda tersebut, ada ribuan tanda yang benar bahwa Zat yang mengelola kainat ini mempunyai Ilmu yang meliputi segalanya. Dia mengetahui segala sesuatu bersama seluruh urusannya, kemudian membuatnya.
Karena Sang Pemilik kainat ini mempunyai Ilmu seperti itu, tentu Dia melihat manusia serta amal-amal mereka, mengetahui apa yang pantas dan layak mereka peroleh, serta memperlakukan dan akan memperlakukan mereka sesuai tuntutan Hikmah dan Rahmat.
Wahai manusia! Gunakan akalmu, perhatikan! Ketahuilah dan sadarlah, Zat seperti apa yang mengetahui serta memandangmu!..
Jika dikatakan:
Ilmu saja tidak cukup; Kehendak juga diperlukan. Jika tidak ada Kehendak, bukankah Ilmu tidak mencukupi?
Jawaban:
Sebagaimana seluruh makhluk menunjukkan serta bersaksi bagi Ilmu yang meliputi segalanya, mereka juga menunjukkan Kehendak menyeluruh Sang Pemilik Ilmu itu. Yaitu:
Setiap sesuatu, terutama setiap makhluk hidup, diberi ciri tersendiri yang amat teratur melalui satu kemungkinan tertentu di antara amat banyak kemungkinan yang kacau, melalui satu jalan yang berbuah di antara amat banyak jalan yang tidak berbuah, ketika masih belum pasti di antara amat banyak kemungkinan. Hal ini menunjukkan Kehendak yang menyeluruh dari segi-segi tak terhitung.
Sebab, di antara kemungkinan serta peluang tak terhitung yang meliputi wujud setiap sesuatu, di antara jalan-jalan yang tidak menghasilkan buah, dan dari unsur-unsur tanpa kehidupan yang mengalir tanpa keseimbangan seperti banjir bercampur serta seragam, suatu bentuk seimbang dan ciri tersendiri yang teratur diberikan dengan ukuran yang amat teliti, timbangan yang halus, keteraturan yang amat cermat, serta tatanan yang lembut. Hal ini pasti dan dengan jelas, bahkan melalui apa yang disaksikan, menunjukkan bahwa ia merupakan hasil Kehendak yang menyeluruh.
Sebab, memilih satu keadaan di antara keadaan-keadaan tak terhitung berlangsung dengan penentuan khusus, pilihan, maksud, serta kehendak, dan dikhususkan dengan kesengajaan serta keinginan. Tentu penentuan khusus menuntut penentu. Memilih menuntut pemilih. Penentu dan pemilih itu ialah Kehendak.
Misalnya, menciptakan tubuh seperti manusia, yang merupakan mesin dengan ratusan perangkat serta alat berbeda, dari setetes air; menciptakan seekor burung yang mempunyai ratusan anggota tubuh berbeda dari telur sederhana; serta menciptakan sebuah pohon yang terbagi menjadi ratusan bagian berbeda dari benih sederhana, bukan hanya bersaksi bagi Kudrat serta Ilmu. Semua itu juga menunjukkan dengan amat pasti serta wajib adanya Kehendak menyeluruh pada Sang Pembuat mereka. Dengan Kehendak itu Dia mengkhususkan segala sesuatu pada makhluk tersebut, dan dengan Kehendak itu Dia memberikan bentuk tersendiri yang khusus serta mengenakan keadaan tertentu pada setiap bagian, setiap anggota tubuh, serta setiap pecahannya.
Kesimpulannya:
Sebagaimana kemiripan serta cocoknya bagian-bagian penting pada benda-benda, misalnya hewan, dari segi dasar dan hasil, serta tampaknya satu cap Keesaan pada mereka, dengan pasti menunjukkan bahwa Sang Pembuat seluruh hewan itu Esa, Wâhid, Ahad, demikian pula ciri tersendiri setiap hewan serta tanda pembeda berbeda yang penuh hikmah pada wajah mereka menunjukkan bahwa Sang Pembuat mereka Yang Wâhid adalah Pelaku Yang Bebas Memilih serta Yang Berkehendak. Dia melakukan yang dikehendaki-Nya, tidak melakukan yang tidak dikehendaki-Nya, dan bertindak dengan Maksud serta Kehendak.
Karena terdapat tanda serta kesaksian bagi Ilmu Ilahi dan Kehendak Rabb sebanyak jumlah makhluk, bahkan sebanyak jumlah urusan makhluk, tentu tindakan sebagian filsuf yang meniadakan Kehendak Ilahi, sebagian ahli bidah yang mengingkari Takdir, sebagian orang sesat yang mengklaim bahwa Dia tidak mengetahui hal-hal kecil, serta kaum naturalis yang menyandarkan sebagian makhluk kepada alam dan sebab-sebab merupakan dusta yang berlipat sebanyak jumlah makhluk, serta kegilaan sesat yang berlipat sebanyak jumlah urusan makhluk. Sebab, orang yang mendustakan kesaksian benar yang tak terhitung telah melakukan dusta yang tak terhitung.
Dengan membandingkan itu, pahamilah betapa keliru serta bertentangan dengan hakikat jika pada pekerjaan yang terwujud dengan Kehendak Ilahi, seseorang dengan sadar mengatakan "Alami, alami" sebagai ganti "İnşâallah inşâallah"...
KALIMAT KESEPULUH
ﻭَ ﻫُﻮَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ
Yakni, tidak satu pun dapat menjadi berat bagi-Nya. Sebanyak apa pun benda dalam lingkup yang mungkin ada, Dia dapat mengenakan wujud kepadanya dengan amat mudah. Begitu mudah serta ringan bagi-Nya sehingga menurut rahasia
ﺍِﻧَّﻤَٓﺎ ﺍَﻣْﺮُﻩُٓ ﺍِﺫَٓﺍ ﺍَﺭَﺍﺩَ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺍﻟﺦ,
seakan-akan Dia hanya memerintah, lalu ia dibuat.
Sebagaimana seorang pembuat yang amat cakap bekerja dengan amat mudah seperti mesin begitu tangannya menyentuh pekerjaan, untuk mengungkapkan kecepatan serta kecakapannya itu dikatakan, "Pekerjaan serta karya itu begitu tunduk kepadanya sehingga seakan-akan dengan perintah dan sentuhannya, pekerjaan terjadi serta karya terwujud."
Demikian pula, untuk mengisyaratkan betapa segala sesuatu sepenuhnya tunduk serta patuh kepada Kudrat Sang Qadîr Dzul-Jalâl, dan betapa Kudrat itu bekerja tanpa beban serta dengan amat mudah, Dia berfirman
ﺍِﻧَّﻤَٓﺎ ﺍَﻣْﺮُﻩُٓ ﺍِﺫَٓﺍ ﺍَﺭَﺍﺩَ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺍَﻥْ ﻳَﻘُﻮﻝَ ﻟَﻪُ ﻛُﻦْ ﻓَﻴَﻜُﻮﻥُ.
Dari rahasia-rahasia tak terhitung hakikat agung ini, kami akan menjelaskan lima rahasia dalam lima butir hikmah:
PERTAMA:
Dibandingkan dengan Kudrat Ilahi, yang terbesar mudah seperti yang terkecil. Menciptakan seluruh anggota satu jenis tanpa beban serta ringan seperti menciptakan satu individu. Menciptakan surga mudah seperti menciptakan musim semi. Menciptakan musim semi ringan seperti menciptakan satu bunga.
Pada akhir Kalimat Kesepuluh mengenai kebangkitan, serta dalam pembahasan kebangkitan pada penjelasan Dasar Kedua Kalimat Kedua Puluh Sembilan mengenai malaikat, ruh yang kekal, dan kebangkitan, "rahasia bercahaya", "rahasia tembus pandang", "rahasia berhadapan", "rahasia keseimbangan", "rahasia keteraturan", serta "rahasia kepatuhan" telah diteguhkan melalui enam perumpamaan yang menjelaskan serta meneguhkan rahasia ini. Telah ditunjukkan bahwa bagi Kudrat Ilahi, bintang-bintang mudah seperti zarah-zarah; individu-individu tak terhitung diciptakan tanpa beban serta ringan seperti satu individu. Karena keenam rahasia itu telah diteguhkan dalam kedua Kalimat tersebut, kami merujukkan kepadanya serta mencukupkan dengan uraian singkat di sini.
KEDUA:
Dalil pasti serta hujah bersinar bahwa segala sesuatu sama bagi Kudrat Ilahi ialah:
Dalam penciptaan hewan serta tumbuhan, kita melihat dengan mata sendiri bahwa di tengah kemurahan serta jumlah yang tak terhitung, terdapat ketelitian dan keindahan karya yang amat tinggi.
Di tengah keadaan yang amat bercampur serta berbaur, terlihat ciri pembeda serta pemisahan yang amat jelas.
Di tengah jumlah yang amat melimpah serta cakupan yang amat luas, terdapat nilai karya serta keindahan ciptaan yang amat tinggi.
Meskipun dibuat dengan karya yang amat indah serta memerlukan banyak perangkat dan waktu, mereka diciptakan dengan kemudahan serta kecepatan yang amat tinggi. Seakan-akan mukjizat-mukjizat karya itu terwujud sekaligus dan dari tidak ada.
Kegiatan Kudrat yang kita saksikan pada setiap musim di muka bumi ini pasti menunjukkan bahwa bagi Kudrat yang menjadi sumber tindakan-tindakan tersebut, yang terbesar mudah seperti yang terkecil. Individu-individu tak terhitung diciptakan serta diurus dengan ringan seperti satu individu.
KETIGA:
Bagi Kudrat Sang Pembuat Yang Qadîr, yang memerintah melalui pengelolaan serta tindakan yang terlihat dalam kainat ini, keseluruhan terbesar mudah seperti bagian terkecil. Menciptakan suatu himpunan dengan banyak anggota mudah seperti menciptakan satu anggota. Pada satu anggota yang paling biasa pun dapat ditunjukkan nilai karya yang paling tinggi. Rahasia Hikmah hakikat ini berasal dari tiga sumber:
Pertama: Bantuan wâhidiyah.
Kedua: Kemudahan kesatuan.
Ketiga: Tajalli ahadiyah.
Sumber pertama, bantuan wâhidiyah:
Yakni, jika setiap sesuatu serta seluruh benda adalah milik satu Zat, dari segi wâhidiyah Dia dapat menghimpun kekuatan seluruh benda di belakang setiap sesuatu. Seluruh benda juga diurus dengan mudah seperti satu benda. Untuk mendekatkan rahasia ini pada pemahaman melalui perumpamaan, kami berkata:
Misalnya, jika suatu negeri mempunyai satu padisyah, melalui hukum kesatuan kekuasaan itu sang padisyah dapat menghimpun kekuatan rohani satu pasukan di belakang setiap prajurit. Karena dapat melakukannya, satu prajurit itu dapat menawan seorang raja serta memerintah di atas raja tersebut atas nama padisyahnya. Melalui rahasia kesatuan kekuasaan, sang padisyah juga dapat mengurus seluruh pasukan serta seluruh petugasnya seperti mempekerjakan dan mengurus satu prajurit serta satu petugas. Seakan-akan melalui rahasia kesatuan kekuasaan, ia dapat mengirim setiap orang dan segala sesuatu untuk membantu satu individu. Setiap individu juga dapat bersandar pada kekuatan sebesar seluruh individu, yakni memperoleh bantuan darinya.
Jika tali kesatuan kekuasaan itu terlepas dan keadaan berubah menjadi kacau tanpa kendali, ketika itu setiap prajurit segera kehilangan kekuatan yang tak terhitung, jatuh dari kedudukan berpengaruh yang tinggi, lalu menjadi seorang biasa. Mengurus serta mempekerjakan mereka menimbulkan kesulitan sebanyak jumlah individu.
Demikian pula,
ﻭَﻟِﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﻤَﺜَﻞُ الْاَعْلٰى,
karena Sang Pembuat kainat ini Wâhid, Dia menghimpun Asma yang ditujukan kepada seluruh benda untuk setiap sesuatu. Dia menciptakannya dengan karya yang tiada batas serta dalam bentuk berharga. Jika diperlukan, Dia memandang satu sesuatu melalui seluruh benda, membuat seluruh benda memandangnya, memberikan bantuan, serta menjadikannya kuat. Melalui rahasia wâhidiyah itu, Dia juga menciptakan, mengelola, serta mengurus seluruh benda seperti satu benda.
Melalui rahasia bantuan wâhidiyah ini, dalam kainat terlihat sifat yang amat tinggi serta luhur dalam karya dan nilai, di tengah jumlah yang amat melimpah serta harga yang amat murah.
Sumber kedua, kemudahan kesatuan:
Yakni, pekerjaan yang berlangsung melalui satu pusat, satu tangan, serta satu hukum dengan cara kesatuan memberikan kemudahan yang amat besar. Jika dibagikan kepada banyak pusat, banyak hukum, serta banyak tangan, kesulitan timbul.
Misalnya, jika dasar perlengkapan seluruh prajurit satu pasukan dibuat dari satu pusat, dengan satu hukum, serta dengan perintah seorang panglima teragung, hal itu mudah seperti melengkapi satu prajurit. Jika perlengkapan mereka dibuat di pabrik serta pusat yang berbeda-beda, seluruh pabrik militer yang diperlukan untuk melengkapi satu pasukan juga diperlukan untuk perlengkapan satu prajurit. Jadi, jika bersandar pada kesatuan, satu pasukan mudah seperti satu prajurit. Jika tidak ada kesatuan, satu prajurit menimbulkan kesulitan seperti satu pasukan dari segi dasar perlengkapannya.
Pada segi kesatuan, jika bahan kehidupan diberikan kepada buah-buah satu pohon dengan bersandar pada satu pusat, satu hukum, serta satu akar, ribuan buah mudah seperti satu buah. Jika setiap buah dihubungkan kepada pusat yang berbeda serta bahan kehidupannya dikirim dari tempat yang berbeda, setiap buah menimbulkan kesulitan sebesar seluruh pohon. Sebab, bahan kehidupan yang diperlukan seluruh pohon juga diperlukan setiap buah.
Seperti kedua perumpamaan ini,
ﻭَﻟِﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﻤَﺜَﻞُ الْاَعْلٰى,
karena Sang Pembuat kainat ini Wâhid lagi Ahad, Dia bekerja dengan kesatuan. Karena bekerja dengan kesatuan, seluruh benda mudah seperti satu benda. Dia juga dapat menjadikan satu benda sama berharga dengan seluruh benda dari segi karya. Dengan menciptakan individu-individu tak terhitung dalam bentuk amat berharga, melalui bahasa jumlah melimpah yang tak terhitung serta harga murah yang tiada batas ini, Dia menunjukkan Kemurahan mutlak-Nya, menampakkan Kedermawanan-Nya yang tak terhitung, serta Penciptaan-Nya yang tiada batas.
Sumber ketiga, tajalli ahadiyah:
Yakni, karena Sang Pembuat Dzul-Jalâl bukan tubuh serta tidak bersifat jasmani, waktu dan tempat tidak dapat membatasi-Nya. Alam serta tempat tidak dapat turut campur dalam apa yang disaksikan-Nya ataupun Kehadiran-Nya. Perantara-perantara serta benda tidak dapat menarik tabir di depan tindakan-Nya. Perhatian-Nya tidak pecah serta tidak terbagi. Satu sesuatu tidak menghalangi sesuatu yang lain. Dia melakukan tindakan tak terhitung seperti satu tindakan. Karena itu, sebagaimana Dia memuat secara makna satu pohon besar dalam satu benih, Dia juga dapat memuat satu alam dalam satu individu. Seluruh alam berputar seperti satu individu melalui Kudrat-Nya. Sebagaimana kami jelaskan rahasia ini dalam Kalimat-Kalimat lain, kami berkata:
Sebagaimana gambaran matahari, yang pada suatu kadar tidak terikat karena bersifat cahaya, tercermin dalam setiap benda mengilap serta bersinar. Jika ribuan atau jutaan cermin menghadap cahayanya, pada setiap cermin terdapat manifestasi gambarannya sendiri tanpa terbagi, seperti pada satu cermin. Jika cermin itu mempunyai kemampuan, matahari dapat menunjukkan pengaruh-pengaruhnya dalam cermin tersebut dengan keagungannya. Satu sesuatu tidak dapat menghalangi sesuatu yang lain. Matahari masuk dengan mudah ke ribuan cermin seperti ke satu cermin, serta ke ribuan tempat seperti ke satu tempat. Setiap tempat memperoleh manifestasi matahari itu sebesar ribuan tempat.
ﻭَﻟِﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﻤَﺜَﻞُ الْاَعْلٰى
Sang Pembuat Dzul-Jalâl kainat ini mempunyai tajalli dengan seluruh Sifat-Nya yang berupa cahaya serta seluruh Asma-Nya yang bercahaya, melalui rahasia perhatian ahadiyah sedemikian rupa sehingga meskipun Dia tidak berada dalam tempat mana pun, Dia hadir serta melihat di setiap tempat. Perhatian-Nya tidak terbagi. Pada saat yang sama, di setiap tempat, Dia melakukan setiap pekerjaan tanpa beban serta tanpa saling berdesakan.
Melalui rahasia bantuan wâhidiyah, kemudahan kesatuan, serta tajalli ahadiyah ini, ketika seluruh makhluk dinisbatkan kepada Sang Pembuat Yang Esa, seluruh makhluk itu mudah serta ringan seperti satu makhluk. Setiap makhluk juga dapat sama berharga dengan seluruh makhluk dari segi keindahan karya. Sebagaimana adanya rincian karya tak terhitung pada setiap individu, di tengah jumlah makhluk yang melimpah tak terhitung, menunjukkan hakikat ini.
Jika makhluk-makhluk itu tidak langsung dinisbatkan kepada Sang Pembuat Yang Esa, setiap makhluk akan menimbulkan kesulitan sebesar seluruh makhluk, dan nilai seluruh makhluk jatuh serta turun menjadi sebesar satu makhluk. Dalam keadaan itu, tidak satu pun akan terwujud; atau, sekalipun terwujud, ia menjadi tidak berharga serta turun menjadi nihil.
Karena rahasia ini, kaum sofis, yang merupakan para filsuf yang melangkah paling jauh, memalingkan wajah dari jalan haq serta memandang jalan kufur dan kesesatan. Mereka melihat bahwa jalan syirik seratus ribu kali lebih sulit daripada jalan haq serta tauhid, dan amat tidak masuk akal. Karena itu, mereka terpaksa mengingkari bahwa segala sesuatu ada, lalu melepaskan akal mereka.
KEEMPAT:
Bagi Kudrat Zat Yang Qadîr yang mengelola melalui tindakan-tindakan yang terlihat dalam kainat ini, menciptakan surga mudah seperti menciptakan musim semi; menciptakan musim semi mudah seperti menciptakan satu bunga. Keindahan karya serta kelembutan ciptaan satu bunga dapat lembut dan berharga sebesar satu musim semi. Rahasia hakikat ini terdiri dari tiga hal:
Pertama: Sang Pembuat wajib ada serta bebas dari materi.
Kedua: Hakikat Diri-Nya berbeda serta Dia tidak terikat batas.
Ketiga: Dia tidak menempati ruang serta tidak terbagi.
Rahasia Pertama:
Bahwa wajib ada serta bebas dari materi menjadi sebab kemudahan tak terhitung dan keringanan tiada batas merupakan rahasia yang amat mendalam. Kami akan mendekatkannya pada pemahaman melalui perumpamaan. Yaitu:
Tingkatan-tingkatan wujud berbeda, dan alam-alam wujud berlainan. Karena berlainan, satu zarah dari tingkatan wujud yang kukuh dalam wujudnya sebesar satu gunung pada tingkatan wujud yang lebih ringan daripada tingkatan tersebut, serta dapat memuat gunung itu.
Misalnya, daya ingat sebesar biji sesawi dalam kepala, yang berasal dari alam yang disaksikan, memuat wujud sebesar satu perpustakaan dari alam makna. Cermin sebesar kuku dari alam luar memuat satu kota besar dari tingkatan alam rupa dalam wujud. Seandainya cermin dari alam luar serta daya ingat itu mempunyai kesadaran dan daya mencipta, dengan kekuatan wujud luar mereka yang amat kecil, mereka dapat melakukan pengelolaan serta perubahan tak terhitung dalam wujud rohani serta wujud gambaran itu.
Jadi, semakin kukuh wujud, semakin besar kekuatan; sesuatu yang sedikit menjadi seperti sesuatu yang banyak. Terutama, jika setelah mencapai kukuh sepenuhnya, wujud bebas dari materi serta tidak masuk di bawah batas, ketika itu satu manifestasinya yang kecil dapat memutar banyak alam dari tingkatan-tingkatan wujud lain yang ringan.
ﻭَﻟِﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﻤَﺜَﻞُ الْاَعْلٰى
Sang Pembuat Dzul-Jalâl kainat ini adalah Wâjibul Wujûd. Yakni, Wujud-Nya melekat pada Zat-Nya sendiri, azali, abadi; mustahil Dia tidak ada, mustahil Dia sirna; serta merupakan yang paling kukuh, paling mendasar, paling kuat, dan paling sempurna di antara tingkatan-tingkatan wujud. Tingkatan-tingkatan wujud lainnya seperti bayangan yang amat lemah dibandingkan dengan Wujud-Nya. Wujud Yang Wajib Ada begitu kukuh serta hakiki, dan wujud makhluk yang mungkin ada begitu ringan serta lemah, sehingga banyak pengkaji yang saksama seperti Muhyiddin Ibnu Arabi menurunkan tingkatan-tingkatan wujud lain sampai derajat sangkaan dan khayalan, lalu berkata
لَا ﻣَﻮْﺟُﻮﺩَ اِلَّا ﻫُﻮَ.
Yakni, mereka memutuskan bahwa dibandingkan dengan Wujud Yang Wajib Ada, hal-hal lain tidak seharusnya disebut wujud; mereka tidak layak mendapat sebutan wujud.
Dibandingkan dengan Kudrat Wâjibul Wujûd yang wajib ada serta melekat pada Zat-Nya sendiri, wujud makhluk yang baru serta tidak berasal dari dirinya sendiri, serta wujud makhluk yang mungkin ada yang tidak tetap serta tidak kuat, tentu amat mudah dan ringan. Menghidupkan serta mengadili seluruh ruh pada kebangkitan teragung mudah seperti daun, bunga, serta buah yang dihimpun dan disebarkan-Nya dalam satu musim semi, bahkan dalam satu kebun, bahkan pada satu pohon.
Rahasia Kedua:
Bahwa hakikat Diri-Nya berbeda serta Dia tidak terikat batas menjadi sebab kemudahan ialah demikian:
Sang Pembuat kainat tentu bukan dari jenis kainat. Hakikat Diri-Nya tidak menyerupai hakikat apa pun. Karena itu, penghalang serta batas dalam lingkup kainat tidak dapat menghadang-Nya ataupun membatasi tindakan-Nya. Dia dapat mengelola serta memutar seluruh kainat sekaligus. Jika pengelolaan serta tindakan yang terlihat pada wajah kainat diserahkan kepada kainat, hal itu akan menimbulkan kesulitan dan kekacauan sedemikian besar sehingga tidak ada keteraturan yang tersisa, serta tidak satu pun tetap ada, bahkan tidak dapat terwujud.
Misalnya, jika kecakapan karya pada kubah-kubah melengkung diserahkan kepada batu-batu dalam kubah itu, dan pengurusan batalion yang menjadi tugas perwira diserahkan kepada para prajurit, semuanya tidak akan terwujud, atau mengambil keadaan tanpa tatanan di tengah banyak kesulitan serta kekacauan. Namun, jika penataan batu-batu dalam kubah itu diserahkan kepada seorang tukang yang bukan dari jenis batu, dan pengurusan para prajurit dalam batalion diserahkan kepada seorang perwira yang mempunyai sifat perwira dari segi tingkatan, karya menjadi mudah serta pengaturan dan pengurusan menjadi ringan. Sebab, batu-batu serta prajurit-prajurit saling menghalangi; sedangkan tukang serta perwira dapat memandang dan mengurus setiap titik tanpa hambatan.
ﻭَﻟِﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﻤَﺜَﻞُ الْاَعْلٰى
Hakikat Suci Wâjibul Wujûd bukan dari jenis hakikat makhluk yang mungkin ada. Justru seluruh hakikat kainat merupakan sinar Nama Al-Haqq, yang termasuk Asma-Nya Yang Indah bagi Hakikat Diri-Nya itu. Karena Hakikat-Nya yang Suci adalah Wâjibul Wujûd, bebas dari materi, serta berbeda dari seluruh hakikat, Dia tidak mempunyai yang serupa, contoh, ataupun bandingan. Tentu bagi Kudrat Azali Zat Dzul-Jalâl itu, mengurus serta memelihara seluruh kainat mudah seperti satu musim semi, bahkan satu pohon. Menciptakan kebangkitan teragung, negeri akhirat, surga, serta neraka mudah seperti menghidupkan kembali pada musim semi pohon-pohon yang mati pada musim gugur.
Rahasia Ketiga:
Rahasia bahwa tidak menempati ruang serta tidak terbagi menjadi sebab kemudahan yang amat besar ialah demikian:
Karena Sang Pembuat Yang Qadîr suci dari tempat, tentu melalui Kudrat-Nya Dia dianggap hadir di setiap tempat. Karena tidak ada pecah ataupun terbagi, tentu Dia dapat mengarahkan seluruh Asma-Nya kepada setiap sesuatu. Karena Dia hadir di setiap tempat serta mengarahkan perhatian kepada setiap sesuatu, makhluk, perantara-perantara, serta benda tidak menghalangi ataupun menunda tindakan-Nya. Justru, meskipun sama sekali tidak diperlukan, seandainya diperlukan, seperti kawat listrik, cabang pohon, serta pembuluh manusia, benda-benda menjadi sarana kemudahan, perantara sampainya kehidupan, serta sebab cepatnya tindakan. Jauh dari menunda, membatasi, menghalangi, serta mencampuri, justru mereka menjadi sarana memudahkan, mempercepat, serta menyampaikan.
Jadi, dari segi patuh serta tunduk, segala sesuatu menjadi sarana kemudahan bagi pengelolaan Kudrat Sang Qadîr Dzul-Jalâl, meskipun tidak diperlukan, seandainya diperlukan.
Kesimpulannya:
Sang Pembuat Yang Qadîr menciptakan setiap sesuatu dengan cara yang sesuai baginya, tanpa beban, tanpa harus menangani dengan usaha, dengan cepat serta mudah. Dia menciptakan keseluruhan-keseluruhan dengan mudah seperti masing-masing bagian. Dia menciptakan masing-masing bagian dengan karya indah seperti keseluruhan-keseluruhan.
Ya, siapa pun yang menciptakan keseluruhan-keseluruhan, langit, serta bumi, tentu Dia pula yang menciptakan masing-masing bagian dan individu makhluk hidup dalam langit serta bumi; tidak dapat selain Dia. Sebab, bagian-bagian kecil itu merupakan buah, benih, serta contoh kecil dari keseluruhan-keseluruhan tersebut.
Siapa pun yang menciptakan bagian-bagian itu, Dia pula yang menciptakan unsur-unsur yang meliputinya, langit, serta bumi. Sebab, kita melihat bahwa dibandingkan dengan keseluruhan-keseluruhan, setiap bagian merupakan benih serta salinan kecil. Karena itu, unsur-unsur yang menyeluruh, langit, serta bumi harus berada di tangan Zat yang menciptakan bagian-bagian tersebut. Dengan demikian, melalui kaidah Hikmah-Nya serta ukuran Ilmu-Nya, Dia dapat memuat inti, makna, serta contoh makhluk-makhluk yang menyeluruh dan meliputi itu dalam bagian-bagian yang merupakan contoh kecil tersebut.
Ya, dari segi keajaiban karya serta ciptaan, bagian-bagian tidak tertinggal dari keseluruhan; bunga-bunga tidak lebih rendah daripada bintang-bintang; benih-benih tidak berada di bawah pohon-pohon. Bahkan, pohon rohani yang merupakan ukiran Takdir dalam benih lebih menakjubkan daripada pohon bertubuh yang merupakan tenunan Kudrat dalam kebun. Penciptaan manusia juga lebih menakjubkan daripada penciptaan alam.
Sebagaimana jika Al-Qur'an hikmah ditulis dengan zarah eter di atas satu zarah yang tidak terbagi, ia dapat lebih penting dari segi nilai daripada Al-Qur'an keagungan yang ditulis dengan bintang-bintang pada wajah langit, demikian pula ada banyak bagian kecil yang melampaui keseluruhan dari segi mukjizat karya.