Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Kesimpulannya:

Surat-Surat · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

Kesimpulannya:

Dasar terbesar dari empat dasar jalan ubudiyah serta menjadi yang dicintai, jalan paling luhur dan tinggi, ialah syukur. Keempat dasar itu diungkapkan demikian:

"Dalam jalan mengakui diri tidak berdaya, empat hal diperlukan:

Kelemahan mutlak, fakir mutlak, semangat mutlak, serta syukur mutlak, wahai yang mulia."

ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺍﺟْﻌَﻠْﻨَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﺎﻛِﺮ۪ﻳﻦَ ﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻚَ ﻳَﺎ ﺍَﺭْﺣَﻢَ ﺍﻟﺮَّﺍﺣِﻤ۪ﻴﻦَ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻭَ ﺳَﻠِّﻢْ ﻋَﻠٰﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺳَﻴِّﺪِ ﺍﻟﺸَّﺎﻛِﺮ۪ﻳﻦَ ﻭَ ﺍﻟْﺤَﺎﻣِﺪ۪ﻳﻦَ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَ ﺻَﺤْﺒِﻪ۪ ﺍَﺟْﻤَﻌ۪ﻴﻦَ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ﻭَ ﺍٰﺧِﺮُ ﺩَﻋْﻮٰﻳﻬُﻢْ ﺍَﻥِ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ

PERSOALAN KEENAM YANG MERUPAKAN RISALAH KEENAM

Karena diterbitkan dalam kumpulan Mektubat beraksara Al-Qur'an, ia tidak dimuat di sini.

PERSOALAN KETUJUH YANG MERUPAKAN RISALAH KETUJUH

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻗُﻞْ ﺑِﻔَﻀْﻞِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻭَﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻪ۪ ﻓَﺒِﺬٰﻟِﻚَ ﻓَﻠْﻴَﻔْﺮَﺣُﻮﺍ ﻫُﻮَ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻤَّﺎ ﻳَﺠْﻤَﻌُﻮﻥَ

Persoalan ini terdiri dari tujuh isyarat.

Pertama-tama, sebagai menceritakan nikmat, kami menjelaskan tujuh sebab menampakkan beberapa rahasia Inayah.

Sebab Pertama:

Sebelum serta pada awal Perang Dunia yang dahulu, dalam peristiwa benar aku melihat bahwa aku berada di bawah Gunung Ağrı yang terkenal, yang disebut Gunung Ararat. Tiba-tiba gunung itu meledak dengan dahsyat dan menyebarkan bagian-bagiannya sebesar gunung ke seluruh penjuru dunia. Dalam kedahsyatan itu, aku melihat mendiang ibuku di sisiku. Aku berkata, "Ibu, jangan takut! Ini Perintah Allah سُبْحَانَهُ; Dia Rahîm serta Hakîm." Ketika dalam keadaan itu, tiba-tiba aku melihat tokoh penting berkata kepadaku dengan memerintah, "Jelaskan mukjizat Al-Qur'an."

Aku terbangun dan memahami bahwa akan ada ledakan besar. Setelah ledakan serta perubahan besar itu, dinding-dinding di sekitar Al-Qur'an akan pecah. Al-Qur'an akan langsung membela dirinya sendiri. Al-Qur'an akan diserang, dan mukjizatnya menjadi perisai bajanya. Aku memahami bahwa orang sepertiku akan menjadi calon, serta aku memang calon, yang melampaui batas diriku, untuk menampakkan satu jenis mukjizat tersebut pada masa ini.

Karena penjelasan mukjizat Al-Qur'an pada suatu kadar berlangsung melalui Sözler, tentu menampakkan Inayah dalam khidmah kita, yang tercatat demi mukjizat itu serta merupakan jenis tetesan dan berkahnya, ialah bantuan bagi mukjizat serta harus ditampakkan.

Sebab Kedua:

Karena Al-Qur'an Al-Hakîm merupakan pembimbing, guru, imam, serta pemandu kita dalam setiap adab, ia memuji dirinya sendiri. Dengan mengikuti pelajarannya, kita juga akan memuji tafsirnya.

Dan karena Sözler yang ditulis merupakan sejenis tafsir Al-Qur'an, dan hakikat-hakikat dalam risalah itu milik serta hakikat Al-Qur'an; dan karena Al-Qur'an Al-Hakîm dalam kebanyakan surah, terutama ﺍﻟٰﺮٓ serta ﺣٰﻢٓ, memperlihatkan dirinya sendiri dengan kemegahan sempurna, menyebut kesempurnaannya, serta memuji dirinya dengan puji yang layak baginya, tentu kita wajib menampakkan kilau-kilau mukjizat Al-Qur'an Al-Hakîm yang terpantul dalam Sözler, serta Inayah dari Rabb yang menjadi tanda khidmah itu diterima. Sebab, guru kita melakukan serta mengajarkan demikian.

Sebab Ketiga:

Mengenai Sözler, aku mengatakan bukan untuk merendah, melainkan untuk menjelaskan suatu hakikat: Hakikat serta kesempurnaan dalam Sözler bukan milikku, tetapi milik Al-Qur'an dan menetes darinya. Bahkan, Kalimat Kesepuluh merupakan beberapa titik air yang disarikan dari ratusan ayat Al-Qur'an. Seluruh risalah lainnya juga demikian.

Karena aku mengetahui demikian, dan karena aku fana serta akan pergi, tentu sesuatu dan karya yang akan tetap kekal tidak seharusnya dan tidak boleh diikat kepadaku. Karena orang sesat serta yang melampaui batas mempunyai kebiasaan menggugurkan karya yang tidak sesuai kepentingan mereka dengan menggugurkan pemilik karya, tentu risalah-risalah yang terikat pada bintang-bintang langit Al-Qur'an tidak boleh diikat pada tiang rapuh sepertiku, yang dapat menjadi sasaran banyak bantahan serta kritik dan dapat jatuh.

Menurut kebiasaan orang, keistimewaan suatu karya dicari pada sikap pengarangnya, yang mereka anggap sebagai sumber serta asal karya tersebut. Menurut kebiasaan ini, menganggap hakikat-hakikat luhur serta permata-permata berharga itu milik orang bangkrut sepertiku dan pribadiku, yang tidak dapat memperlihatkan bahkan seperseribunya dalam dirinya, merupakan sikap amat tidak adil terhadap hakikat. Karena itu, aku harus menampakkan bahwa risalah-risalah, sebagai milik Al-Qur'an, bukan milikku sendiri, memperoleh tetesan keistimewaan Al-Qur'an.

Ya, sifat-sifat tandan anggur yang lezat tidak dicari pada rantingnya yang kering. Aku pun seperti ranting kering itu.

Sebab Keempat:

Kadang rendah hati membawa pada sikap tidak mensyukuri nikmat, bahkan menjadi tidak mensyukuri nikmat. Kadang pula menceritakan nikmat menjadi berbangga. Keduanya merugikan. Satu-satunya obat agar tidak timbul kufur nikmat ataupun berbangga ialah mengakui keistimewaan serta kesempurnaan, tetapi tanpa menganggapnya milik sendiri, dan menunjukkannya sebagai hasil pemberian nikmat Sang Pemberi Nikmat Yang Hakiki.

Misalnya, seseorang mengenakan kepadamu pakaian megah yang dihiasi permata serta hiasan, lalu engkau menjadi amat indah melaluinya. Orang-orang berkata kepadamu, "Mâşâallah, engkau amat indah, telah menjadi sangat indah." Jika dengan rendah hati engkau berkata, "Hâşâ!.. Apalah aku, bukan apa-apa. Apa ini, di mana keindahan?" ketika itu engkau tidak mensyukuri nikmat serta tidak menghormati pembuat cakap yang mengenakan pakaian kepadamu. Jika dengan berbangga engkau berkata, "Ya, aku amat indah; di mana ada yang seindah aku, tunjukkan orang sepertiku," ketika itu ia kebanggaan yang sombong.

Untuk selamat dari berbangga serta kufur nikmat, harus dikatakan, "Ya, aku menjadi indah, tetapi keindahan milik pakaian, dan secara tidak langsung milik yang mengenakan pakaian kepadaku; bukan milikku."

Seperti ini, jika suaraku mencapai, aku juga akan berseru kepada seluruh bola bumi: Sözler indah dan merupakan hakikat, tetapi bukan milikku; ia sinar-sinar yang berkilau dari hakikat-hakikat Al-Qur'an Al-Karîm. Melalui kaidah

ﻭَ ﻣَﺎ ﻣَﺪَﺣْﺖُ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﺑِﻤَﻘَﺎﻟَﺘ۪ﻰ ٭ ﻭَ ﻟٰﻜِﻦْ ﻣَﺪَﺣْﺖُ ﻣَﻘَﺎﻟَﺘ۪ﻰ ﺑِﻤُﺤَﻤَّﺪٍ

aku berkata

ﻭَ ﻣَﺎ ﻣَﺪَﺣْﺖُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥَ ﺑِﻜَﻠِﻤَﺎﺗ۪ﻰ ٭ ﻭَ ﻟٰﻜِﻦْ ﻣَﺪَﺣْﺖُ ﻛَﻠِﻤَﺎﺗ۪ﻰ ﺑِﺎﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ.

Yakni, "Aku tidak dapat memperindah atau memperlihatkan dengan indah hakikat mukjizat Al-Qur'an. Justru hakikat-hakikat indah Al-Qur'an juga memperindah serta meluhurkan ungkapan-ungkapanku."

Karena demikian, atas nama keindahan hakikat-hakikat Al-Qur'an, menampakkan keindahan cermin-cerminnya yang bernama Sözler serta Inayah Ilahi yang timbul dari menjadi cermin itu merupakan menceritakan nikmat yang diterima.

Sebab Kelima:

Lama dahulu, aku mendengar dari seorang wali bahwa tokoh itu mengambil dari isyarat-isyarat gaib wali-wali terdahulu dan memperoleh keyakinan, "Dari timur akan muncul cahaya yang mengusir gelap bidah." Aku amat lama menanti serta masih menanti munculnya cahaya seperti itu. Namun, bunga datang pada musim semi. Tanah harus disiapkan bagi bunga-bunga suci seperti itu. Kita memahami bahwa melalui khidmah ini, kita menyiapkan tanah bagi tokoh-tokoh bercahaya tersebut.

Karena tidak berkaitan dengan diri kita, tentu menjelaskan Inayah Ilahi yang berkaitan dengan cahaya-cahaya bernama Sözler tidak dapat menjadi sebab berbangga serta sombong. Justru ia menjadi sebab puji, syukur, serta menceritakan nikmat.

Sebab Keenam:

Inayah dari Rabb, yang menjadi balasan segera serta sarana dorongan bagi khidmah kita kepada Al-Qur'an melalui penulisan Sözler, ialah keberhasilan. Keberhasilan diperlihatkan. Jika melampaui keberhasilan, paling jauh ia menjadi ikram (karunia) dari Allah سُبْحَانَهُ. Memperlihatkan ikram dari Allah سُبْحَانَهُ merupakan syukur rohani. Jika melampaui itu pula, paling jauh ia menjadi karamah Al-Qur'an tanpa pilihan kita turut campur sama sekali. Kita telah menjadi tempatnya. Memperlihatkan karamah seperti ini, yang datang tanpa pilihan serta pengetahuan, tidak merugikan. Jika naik di atas karamah biasa, paling jauh ia menjadi nyala-nyala mukjizat rohani Al-Qur'an.

Karena mukjizat diperlihatkan, tentu memperlihatkan yang membantunya juga tercatat demi mukjizat, sama sekali tidak dapat menjadi sebab berbangga serta sombong, melainkan sebab puji dan syukur.

Sebab Ketujuh:

Delapan puluh persen umat manusia bukan pengkaji yang saksama yang dapat menembus hakikat, mengenalnya sebagai hakikat, serta mengakuinya. Justru berdasarkan rupa dan sangkaan baik, mereka mengakui dengan meniru persoalan-persoalan yang didengar dari orang yang diterima serta dipercaya. Bahkan, mereka melihat hakikat kuat lemah di tangan orang lemah, dan jika melihat persoalan tanpa nilai di tangan orang berharga, mereka menganggapnya berharga.

Berdasarkan itu, agar nilai hakikat-hakikat iman serta Al-Qur'an di tangan orang malang yang lemah dan tanpa nilai sepertiku tidak turun dalam pandangan kebanyakan orang, aku harus mengumumkan:

Tanpa pilihan serta pengetahuan kita, ada Yang mempekerjakan kita dan tanpa kita mengetahui menjalankan kita dalam pekerjaan penting. Dalil kita ialah: Di luar kesadaran serta pilihan, kita memperoleh sebagian Inayah dan kemudahan.

Karena itu, kita harus berseru mengumumkan berbagai Inayah tersebut.

Berdasarkan tujuh sebab sebelumnya, kita akan mengisyaratkan beberapa Inayah menyeluruh dari Rabb.

Isyarat Pertama:

Sebagaimana dijelaskan dalam Butir Hikmah Pertama Persoalan Kedelapan Surat Kedua Puluh Delapan, ia adalah "tawafuk".

Di antaranya, dalam Surat Mu'cizat-ı Ahmediye, dari Isyarat Ketiga sampai Isyarat Kedelapan Belas, pada enam puluh halaman satu salinan seorang penyalin, tanpa disadari atau diketahui, selain dua halaman, di seluruh halaman lain lebih dari dua ratus ungkapan "Resul-i Ekrem aleyhissalâtü vesselâm" ﷺ saling berhadapan dengan keseimbangan sempurna. Siapa yang memperhatikan dua halaman dengan adil akan membenarkan bahwa itu bukan kebetulan. Padahal, kebetulan paling jauh menghasilkan tawafuk pada setengahnya jika dalam satu halaman terdapat banyak kata serupa; ia hanya dapat bertawafuk sepenuhnya pada satu-dua halaman. Dalam keadaan itu, jika pada seluruh halaman ungkapan "Resul-i Ekrem aleyhissalâtü vesselâm" ﷺ, baik dua, tiga, empat, maupun lebih banyak, saling berhadapan dengan keseimbangan sempurna, tentu tidak mungkin kebetulan. Tawafuk yang tidak dapat dirusak oleh delapan penyalin berbeda juga menunjukkan adanya isyarat gaib kuat di dalamnya.

Sebagaimana pada kitab-kitab ahli balagah terdapat derajat-derajat balagah, tetapi balagah dalam Al-Qur'an Al-Hakîm naik ke derajat mukjizat yang tidak dapat dicapai siapa pun, demikian pula tawafuk dalam Surat Kesembilan Belas, cermin mukjizat Ahmad ﷺ; Kalimat Kedua Puluh Lima, penjelas mukjizat Al-Qur'an; serta bagian-bagian Risale-i Nur, sejenis tafsir Al-Qur'an, menunjukkan derajat luar biasa yang melampaui seluruh kitab. Dari itu dipahami bahwa ia merupakan sejenis karamah mukjizat Al-Qur'an serta mukjizat Ahmad ﷺ yang bertajalli dan tercermin pada cermin-cermin itu.

Isyarat Kedua:

Inayah kedua dari Rabb yang berkaitan dengan khidmah Al-Qur'an ialah: Dalam keadaan seperti aku, tanpa pena, dengan kemampuan baca tulis yang terbatas, di negeri asing, tanpa siapa pun, serta dilarang bergaul, Allah سُبْحَانَهُ menganugerahkan saudara-saudara yang kuat, sungguh-sungguh, tulus, penuh semangat, serta rela berkorban, yang pena-penanya masing-masing seperti pedang berlian, sebagai pembantuku. Dia meletakkan tugas Al-Qur'an yang terlalu berat bagi bahuku yang lemah serta tidak berdaya pada bahu-bahu kuat itu. Melalui Kemurahan⁠-⁠Nya yang sempurna, Dia meringankan bebanku.

Jamaah diberkahi itu seperti penerima telegraf tanpa kawat menurut ungkapan Hulusi, serta seperti mesin-mesin yang menyediakan listrik pabrik Nur menurut ungkapan Sabri. Bersama keistimewaan berbeda dan sifat-sifat khusus beragam yang berharga, sebagai sejenis tawafuk gaib—sekali lagi menurut ungkapan Sabri—mereka serupa dalam semangat, usaha, ketekunan, serta kesungguhan. Mereka menyebarkan rahasia-rahasia Al-Qur'an serta cahaya-cahaya iman ke sekeliling dan menyampaikannya ke setiap tempat. Pada masa ketika huruf telah berubah, tidak ada percetakan, setiap orang membutuhkan cahaya iman, serta ada banyak sebab yang akan melemahkan dan mematahkan semangat, khidmah mereka tanpa melemah, dengan semangat serta usaha sepenuhnya, langsung merupakan karamah Al-Qur'an dan Inayah Ilahi yang nyata.

Ya, sebagaimana kewalian mempunyai karamah, niat tulus pun mempunyai karamah. Ketulusan juga mempunyai karamah. Terutama, saling mendukung dengan sungguh-sungguh dan tulus di antara saudara-saudara dalam lingkup persaudaraan demi Allah سُبْحَانَهُ dapat mempunyai banyak karamah. Bahkan, pribadi rohani jamaah seperti ini dapat menjadi seperti wali sempurna serta memperoleh Inayah.

Wahai saudara-saudaraku serta kawan-kawan dalam khidmah Al-Qur'an! Sebagaimana memberikan seluruh kehormatan serta rampasan kepada sersan satu kompi yang menaklukkan benteng merupakan kezaliman dan kekeliruan, kalian juga tidak dapat memberikan kepada orang malang sepertiku Inayah dalam kemenangan yang dicapai melalui kekuatan pribadi rohani kalian serta pena-pena kalian. Tentu dalam jamaah diberkahi seperti ini ada isyarat gaib yang lebih kuat daripada tawafuk gaib. Aku melihatnya, tetapi tidak dapat memperlihatkannya kepada setiap orang serta semua orang.

Isyarat Ketiga:

Bagian-bagian Risale-i Nur meneguhkan seluruh hakikat penting iman serta Al-Qur'an dengan cara bersinar bahkan terhadap orang paling keras kepala. Hal ini merupakan isyarat gaib amat kuat serta Inayah Ilahi. Sebab, di antara hakikat iman serta Al-Qur'an ada yang bahkan Ibnu Sina, yang dianggap jenius terbesar, mengakui tidak mampu memahaminya serta berkata, "Akal tidak dapat menemukan jalan kepadanya!" Risalah Kalimat Kesepuluh memperkenalkan bahkan kepada orang awam serta anak-anak hakikat yang tidak dapat dicapai oleh tokoh itu melalui kejeniusannya.

Untuk memecahkan rahasia Takdir serta pilihan terbatas manusia, seorang alim besar seperti Sa'd At-Taftazani baru menyelesaikannya dalam empat puluh-lima puluh halaman kitab bernama Telvih melalui Mukaddimat-ı İsna Aşer yang terkenal, dan hanya dapat memperkenalkannya kepada orang-orang khusus. Persoalan-persoalan yang sama dijelaskan sepenuhnya dengan cara yang dapat diperkenalkan kepada setiap orang pada dua halaman Pembahasan Kedua Kalimat Kedua Puluh Enam mengenai Takdir. Jika bukan hasil Inayah, apakah itu?

Rahasia yang memecahkan kesulitan serta teka-teki yang menimbulkan rasa takjub—yang membuat seluruh akal heran, tidak dapat disingkap oleh filsafat mana pun, disebut rahasia penciptaan alam serta teka-teki kainat, dan disingkap melalui mukjizat Al-Qur'an Yang Agung—telah disingkap dalam Surat Kedua Puluh Empat, butir hikmah yang berisi petunjuk tersirat pada akhir Kalimat Kedua Puluh Sembilan, serta enam hikmah perubahan zarah dalam Kalimat Ketiga Puluh. Semua itu menyingkap serta menjelaskan rahasia kegiatan kainat yang menimbulkan rasa takjub, teka-teki penciptaan kainat serta akhirnya, dan rahasia hikmah gerak dalam perubahan zarah. Ia nyata dan dapat dipandang.

Sebagaimana Kalimat Keenam Belas serta Kalimat Ketiga Puluh Dua menjelaskan dengan kejelasan sempurna hakikat-hakikat menakjubkan tentang rahasia ahadiyah dan Keesaan dalam Pemeliharaan serta Penguasaan Allah سُبْحَانَهُ tanpa sekutu, serta dekatnya Allah سُبْحَانَهُ tanpa batas dan jauhnya kita tanpa batas, demikian pula fakta bahwa zarah serta planet sama bagi Kudrat Ilahi; menghidupkan seluruh makhluk berjiwa pada kebangkitan teragung mudah bagi Kudrat itu seperti menghidupkan satu jiwa; dan turut campurnya syirik dalam penciptaan kainat jauh dari akal sampai derajat mustahil, ditunjukkan dengan kejelasan sempurna dalam penjelasan Kalimat

ﻭَ ﻫُﻮَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ

pada Surat Kedua Puluh. Penjelasan itu serta tambahannya yang memuat tiga perumpamaan menyingkap rahasia kesatuan yang agung ini.

Dalam hakikat-hakikat iman serta Al-Qur'an juga terdapat keluasan yang tidak dapat diliputi oleh kecerdasan manusia terbesar. Meskipun demikian, pada seseorang sepertiku yang pikirannya kacau, keadaannya tidak teratur, tidak mempunyai kitab untuk dirujuk, serta menulis dengan susah dan cepat, sebagian terbesar hakikat itu muncul bersama rincian-rinciannya. Hal ini langsung merupakan hasil mukjizat rohani Al-Qur'an Al-Hakîm, manifestasi Inayah dari Rabb, serta isyarat gaib yang kuat.

Isyarat Keempat:

Lima puluh-enam puluh risalah {():

Sekarang seratus tiga puluh.} dianugerahkan dengan cara bahwa penulisannya bukan hanya tidak dapat dilakukan oleh manusia sepertiku yang sedikit berpikir, mengikuti apa yang muncul, serta tidak menemukan waktu mengkaji, bahkan tidak melalui usaha serta ketekunan sekelompok pengkaji yang tersusun dari orang-orang dengan kecerdasan besar. Hal ini menunjukkan bahwa semuanya langsung hasil Inayah. Sebab, dalam seluruh risalah ini, seluruh hakikat mendalam diajarkan melalui perumpamaan sampai kepada orang paling awam serta tidak bisa membaca dan menulis. Padahal, mengenai kebanyakan hakikat itu, para ulama besar berkata, "Tidak dapat dijelaskan," dan tidak dapat memperkenalkannya bukan hanya kepada orang awam, tetapi bahkan kepada orang-orang khusus.

Kemudahan serta ringannya penjelasan luar biasa ini, sampai derajat mengajarkan hakikat paling jauh dengan cara paling dekat kepada orang paling awam, berada di tangan pribadi sepertiku yang sejak dahulu terkenal sedikit menguasai bahasa Turki, perkataannya rumit serta kebanyakan tidak dipahami, dan bahkan menyulitkan hakikat yang nyata; karya-karya lamanya membenarkan kemasyhuran buruk itu. Tentu tanpa ragu ia hasil Inayah, tidak dapat menjadi kecakapannya sendiri, serta merupakan manifestasi mukjizat rohani Al-Qur'an Al-Karîm, gambaran dan pantulan perumpamaan-perumpamaan Al-Qur'an.

Isyarat Kelima:

Meskipun risalah-risalah secara umum tersebar amat luas, golongan serta kelompok manusia, dari ulama terbesar sampai orang paling awam, dari wali besar yang mempunyai hati sampai filsuf tanpa agama paling keras kepala, telah melihat serta membacanya, dan sebagian menerima tamparannya. Namun, ia tidak dikritik serta setiap kelompok mengambil manfaat sesuai derajatnya. Hal ini langsung merupakan hasil Inayah dari Rabb serta karamah Al-Qur'an. Demikian pula, risalah-risalah jenis itu, yang baru dapat tercapai melalui banyak kajian dan pencarian, ditulis dengan kecepatan luar biasa serta pada waktu hati tertekan dengan susah yang mengacaukan pemahaman dan pikiranku. Hal ini pun hasil Inayah serta ikram dari Rabb.

Ya, kebanyakan saudara serta seluruh kawan di sisiku dan para penyalin mengetahui bahwa lima bagian Surat Kesembilan Belas ditulis dalam beberapa hari, setiap hari dua-tiga jam, seluruhnya dua belas jam, tanpa merujuk kitab apa pun. Bahkan, bagian keempat, yang amat penting serta menunjukkan segel kenabian nyata pada ungkapan "Resul-i Ekrem aleyhissalâtü vesselâm" ﷺ, ditulis dari ingatan dalam tiga-empat jam di gunung, di bawah hujan. Risalah penting serta halus seperti Kalimat Ketiga Puluh ditulis dalam enam jam di suatu kebun. Kalimat Kedua Puluh Delapan ditulis di kebun Süleyman dalam satu, paling lama dua jam. Kebanyakan risalah seperti itu. Kawan-kawan dekatku mengetahui bahwa sejak dahulu, ketika susah serta hati tertekan, aku tidak dapat menjelaskan hakikat yang paling nyata sekalipun, bahkan tidak mengetahuinya. Terutama jika sakit ditambahkan kepada kesulitan itu, aku lebih terhalang dari mengajar serta menulis. Meskipun demikian, Kalimat-Kalimat serta risalah terpenting ditulis dengan cara tercepat pada waktu aku paling susah dan sakit. Jika bukan langsung Inayah Ilahi, ikram dari Rabb, serta karamah Al-Qur'an, apakah itu?

Kitab mana pun yang membahas hakikat Ilahi serta iman, pasti sebagian persoalannya merugikan sebagian orang. Karena merugikan, tidak setiap persoalan disebarkan kepada setiap orang. Adapun risalah-risalah ini sampai sekarang, meskipun aku telah bertanya kepada banyak orang, tidak memberi kerugian kepada siapa pun seperti pengaruh buruk, reaksi sebaliknya, ataupun kegelisahan pikiran. Kita yakin bahwa hal itu langsung merupakan isyarat gaib serta Inayah dari Rabb.

Isyarat Keenam:

Sekarang telah menjadi pasti bagiku bahwa kebanyakan kehidupanku berlalu di luar pilihan dan dayaku, kesadaran dan pengaturanku, dengan cara serta aliran demikian luar biasa, agar menghasilkan risalah-risalah seperti ini yang akan berkhidmah kepada Al-Qur'an Al-Hakîm. Seakan-akan seluruh kehidupan ilmuku menjadi pendahuluan persiapan, dan menampakkan mukjizat Al-Qur'an melalui Sözler menjadi hasilnya.

Bahkan, selama tujuh tahun pembuangan serta hidupku di negeri asing, aku dipisahkan tanpa sebab dan berlawanan dengan keinginanku, menjalani hidup seorang diri di desa yang berlawanan dengan caraku, serta membenci dan meninggalkan banyak ikatan serta kaidah kehidupan bersama yang sejak dahulu kuakrabi. Tidak lagi ada keraguan bagiku bahwa keadaan ini diberikan langsung agar khidmah Al-Qur'an dijalankan dengan tulus serta murni.

Aku juga yakin bahwa berkali-kali, di bawah tabir kesulitan yang diberikan serta tekanan zalim terhadapku, hal itu dilakukan dengan belas kasih melalui Inayah agar pikiranku terpusat pada rahasia Al-Qur'an serta pandangan tidak tercerai.

Bahkan, meskipun dahulu amat ingin membaca, ruhku diberi larangan serta dorongan menjauhi sepenuhnya membaca kitab-kitab lain. Aku memahami bahwa yang membuatku meninggalkan membaca, yang menjadi sarana penghiburan serta keakraban di negeri asing seperti ini, ialah karena ayat-ayat Al-Qur'an langsung merupakan guru mutlak.

Karya serta risalah yang ditulis, sebagian terbesarnya, dianugerahkan tiba-tiba serta sekaligus berdasarkan kebutuhan yang lahir dari ruhku, tanpa sebab apa pun datang dari luar. Ketika kemudian memperlihatkannya kepada sebagian kawanku, mereka berkata, "Ini obat luka-luka masa ini." Setelah tersebar, dari kebanyakan saudara aku memahami bahwa ia menjadi seperti obat yang tepat bagi derita serta sepenuhnya sesuai kebutuhan masa ini.

Keadaan-keadaan tersebut, perjalanan hidupku, serta kajian-kajian tanpa pilihan yang berbeda dari kebiasaan dalam beragam jenis ilmu, di luar lingkup pilihan serta kesadaranku, tidak menyisakan keraguan padaku bahwa semuanya merupakan Inayah Ilahi yang kuat serta karunia dari Rabb agar berujung pada hasil suci seperti ini.

Isyarat Ketujuh:

Selama khidmah kita ini, dalam lima-enam tahun, tanpa berlebihan kita melihat dengan mata sendiri seratus hasil karunia Ilahi, Inayah dari Rabb, serta karamah Al-Qur'an. Sebagian kita isyaratkan dalam Surat Keenam Belas; sebagian dalam persoalan-persoalan berbeda Pembahasan Keempat Surat Kedua Puluh Enam; serta sebagian kita jelaskan dalam Persoalan Ketiga Surat Kedua Puluh Delapan. Kawan-kawan dekatku mengetahui hal ini. Kawan yang selalu bersamaku, Süleyman Efendi, mengetahui banyak di antaranya. Terutama, dalam menerbitkan serta memperbaiki Sözler dan risalah-risalah, menempatkannya pada tempat masing-masing, membuat draf serta salinan bersih, kita memperoleh kemudahan seperti karamah yang melampaui harapan. Tidak tersisa keraguan bagi kita bahwa ia karamah Al-Qur'an. Contohnya ratusan.

Dalam urusan nafkah pun kita diberi makan dengan begitu penuh kasih sehingga Dia Yang Memiliki Inayah, yang mempekerjakan kita, memberi dengan cara melampaui harapan untuk memenuhi keinginan hati kita yang paling kecil, dan demikian seterusnya...

Keadaan ini merupakan isyarat gaib amat kuat bahwa kita dipekerjakan. Dalam lingkup Rida serta di bawah Inayah, kita dibuat menjalankan khidmah Al-Qur'an.

ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻫٰﺬَﺍ ﻣِﻦْ ﻓَﻀْﻞِ ﺭَﺑّ۪ﻰ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠٰﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ صَلَاةً ﺗَﻜُﻮﻥُ ﻟَﻚَ ﺭِﺿَﺎﺀً ﻭَ ﻟِﺤَﻘِّﻪ۪ ﺍَﺩَﺍﺀً ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَ ﺻَﺤْﺒِﻪ۪ ﻭَ ﺳَﻠِّﻢْ ﺗَﺴْﻠ۪ﻴﻤًﺎ ﻛَﺜ۪ﻴﺮًﺍ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ

Jawaban bagi Pertanyaan Rahasia

Rahasia Inayah ini dahulu ditulis secara rahasia serta ditambahkan pada akhir Kalimat Keempat Belas. Entah bagaimana, kebanyakan penyalin lupa dan tidak menuliskannya. Jadi, tempat yang sesuai serta layak rupanya di sini, sehingga ia tetap tersembunyi.

Engkau bertanya kepadaku:

"Mengapa dalam Sözler yang engkau tulis dari Al-Qur'an ada kekuatan serta pengaruh yang jarang terdapat dalam perkataan para mufasir dan orang yang memperoleh makrifat? Kadang dalam satu baris ada kekuatan sebesar satu halaman; dalam satu halaman terdapat pengaruh sebesar satu kitab?"

Jawaban:

Ini jawaban yang indah. Karena kehormatan milik mukjizat Al-Qur'an dan bukan milikku, aku berkata tanpa gentar: Pada kebanyakannya memang demikian. Sebab, Sözler yang ditulis bukan membayangkan, melainkan mengakui kebenaran; bukan berserah, melainkan iman; bukan makrifat, melainkan bersaksi serta melihat langsung; bukan meniru, melainkan kajian yang saksama; bukan mendukung, melainkan keyakinan yang dipahami; bukan tasawuf, melainkan hakikat; serta bukan pernyataan, melainkan hujah di dalam pernyataan.

Hikmah rahasia ini ialah: Pada zaman dahulu, dasar-dasar iman terjaga dan sikap berserah kuat. Dalam rincian, meskipun makrifat orang-orang yang mengenal Allah سُبْحَانَهُ tanpa dalil, penjelasan mereka diterima serta mencukupi. Namun, pada masa ini, karena kesesatan yang menggunakan ilmu menjangkau dasar serta rukun iman, Zat Dzul-Jalâl Yang Hakîm lagi Rahîm, yang memberikan obat sesuai setiap derita, menganugerahkan kepada tulisan-tulisanku dalam khidmah Al-Qur'an satu nyala dari perumpamaan-perumpamaan Al-Qur'an Al-Karîm, di antara tempat mukjizatnya yang paling bersinar, karena mengasihani diriku yang tidak berdaya dan lemah, fakir serta membutuhkan.

Felillahi'l-hamd, melalui teropong rahasia perumpamaan, hakikat-hakikat paling jauh diperlihatkan amat dekat.

Melalui segi kesatuan rahasia perumpamaan, persoalan-persoalan yang paling tersebar dihimpun.

Melalui tangga rahasia perumpamaan, hakikat-hakikat tertinggi dicapai dengan mudah.

Melalui jendela rahasia perumpamaan, timbul keyakinan iman yang dekat kepada melihat langsung mengenai hakikat gaib serta dasar-dasar Islam. Sebagaimana bersama akal, sangkaan serta khayalan, bahkan nafsu dan hawa nafsu harus berserah, setan pun harus menyerahkan senjata.

Kesimpulannya:

Sebesar apa pun keindahan serta pengaruh dalam tulisanku, ia hanya dari kilau-kilau perumpamaan Al-Qur'an. Bagianku hanya meminta dengan kebutuhan yang amat besar serta memohon dengan rendah hati dalam keadaan amat tidak berdaya. Derita milikku; obat milik Al-Qur'an.