PERSOALAN KESEPULUH
Melalui peringatan sebagian kawan, suatu kaidah tentang para pengunjung ingin dijelaskan. Karena itu, uraian ini ditulis.
Ketahuilah: Orang yang mengunjungi kita datang dari segi kehidupan dunia—pintu itu tertutup—atau dari segi kehidupan akhirat. Pada segi itu ada dua pintu. Jika datang dengan menganggap diriku diberkahi serta mempunyai kedudukan, pintu itu pun tertutup. Sebab, aku tidak mengagumi diriku, dan tidak menyukai orang yang mengagumiku. Banyak syukur kepada Allah سُبْحَانَهُ; Dia tidak membuatku mengagumi diri sendiri. Segi kedua semata-mata dari segi aku menjadi penyeru Al-Qur'an Al-Hakîm. Mereka yang masuk melalui pintu ini kuterima ale'r-re'si ve'l-ayn.
Mereka pun ada dalam tiga bentuk: kawan, saudara, atau murid.
Sifat khusus serta syarat kawan ialah: Harus menjadi pendukung sungguh-sungguh Sözler serta khidmah kita mengenai cahaya Al-Qur'an; tidak mendukung sikap tidak adil, bidah, ataupun kesesatan dalam hati; serta berusaha mengambil manfaat bagi dirinya juga.
Sifat khusus serta syarat saudara ialah: Bersama bekerja sungguh-sungguh bagi penerbitan Sözler, menunaikan lima salat wajib serta tidak melakukan tujuh dosa besar.
Sifat khusus serta syarat menjadi murid ialah: Merasakan dan menjaga Sözler seperti harta serta karyanya sendiri, serta mengetahui bahwa tugas kehidupan terpentingnya ialah menerbitkan dan berkhidmah kepadanya.
Ketiga golongan ini berkaitan dengan ketiga pribadiku. Kawan berhubungan denganku sebagai pribadi. Saudara berkaitan dengan pribadiku pada segi sebagai hamba serta ubudiyah. Adapun murid berhubungan dengan pribadiku dari segi menjadi penyeru Al-Qur'an Al-Hakîm serta tugas mengajar.
Pertemuan ini juga mempunyai tiga buah:
Pertama:
Dari segi menyeru, mempelajari permata-permata Al-Qur'an dariku atau dari Sözler, sekalipun hanya satu pelajaran.
Kedua:
Dari segi ibadah, turut mempunyai bagian dalam hasil akhiratku.
Ketiga:
Bersama menghadap hadirat Ilahi dengan mengikat hati, bergandeng tangan dalam khidmah Al-Qur'an Al-Hakîm, serta meminta bantuan dan petunjuk.
Jika ia murid, setiap pagi terus hadir di sisiku melalui namanya, kadang juga melalui gambaran dirinya dalam pikiranku, serta mempunyai bagian.
Jika ia saudara, beberapa kali hadir dalam doa serta hasilku melalui nama khusus dan gambarnya, serta mempunyai bagian. Kemudian aku memasukkannya di antara seluruh saudara dan menyerahkannya kepada Rahmat Ilahi, sehingga ketika pada waktu doa aku berkata "ihvetî ve ihvanî", ia berada di antara mereka. Jika aku tidak mengetahuinya, Rahmat Ilahi mengetahui serta melihatnya.
Jika ia kawan, menunaikan kewajiban serta meninggalkan dosa besar, ia termasuk dalam doaku dari segi seluruh saudara.
Ketiga golongan ini pun harus memasukkanku dalam doa serta hasil rohani mereka.
ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠٰﻰ ﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ ﴾ﺍَﻟْﻤُﺆْﻣِﻦُ ﻟِﻠْﻤُﺆْﻣِﻦِ ﻛَﺎﻟْﺒُﻨْﻴَﺎﻥِ ﺍﻟْﻤَﺮْﺻُﻮﺹِ ﻳَﺸُﺪُّ ﺑَﻌْﻀُﻪُ ﺑَﻌْﻀًﺎ﴿ ﻭَﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَﺻَﺤْﺒِﻪ۪ ﻭَﺳَﻠِّﻢْ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﻫَﺪٰﻳﻨَﺎ ﻟِﻬٰﺬَﺍ ﻭَﻣَﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻟِﻨَﻬْﺘَﺪِﻯَ لَوْلَٓا ﺍَﻥْ ﻫَﺪٰﻳﻨَﺎ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻟَﻘَﺪْ ﺟَٓﺎﺀَﺕْ ﺭُﺳُﻞُ ﺭَﺑِّﻨَﺎ ﺑِﺎﻟْﺤَﻖِّ ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﻳَﺎ ﻣَﻦْ ﺍَﺟَﺎﺏَ ﻧُﻮﺣًﺎ ﻓ۪ﻰ ﻗَﻮْﻣِﻪ۪ ﻭَ ﻳَﺎ ﻣَﻦْ ﻧَﺼَﺮَ ﺍِﺑْﺮَﺍﻫ۪ﻴﻢَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍَﻋْﺪَﺍﺋِﻪ۪ ﻭَ ﻳَﺎ ﻣَﻦْ ﺍَﺭْﺟَﻊَ ﻳُﻮﺳُﻒَ ﺍِﻟٰﻰ ﻳَﻌْﻘُﻮﺏَ ﻭَ ﻳَﺎ ﻣَﻦْ ﻛَﺸَﻒَ ﺍﻟﻀُّﺮَّ ﻋَﻦْ ﺍَﻳُّﻮﺏَ ﻭَ ﻳَﺎ ﻣَﻦْ ﺍَﺟَﺎﺏَ ﺩَﻋْﻮَﺓَ ﺯَﻛَﺮِﻳَّﺎﺀَ ﻭَ ﻳَﺎ ﻣَﻦْ ﺗَﻘَﺒَّﻞَ ﻳُﻮﻧُﺲَ ﺍﺑْﻦَ ﻣَﺘّٰﻰ ﻧَﺴْﺌَﻠُﻚَ ﺑِﺎَﺳْﺮَﺍﺭِ ﺍَﺻْﺤَﺎﺏِ ﻫٰﺬِﻩِ ﺍﻟﺪَّﻋْﻮَﺍﺕِ ﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﺠَﺎﺑَﺎﺕِ ﺍَﻥْ ﺗَﺤْﻔَﻈَﻨ۪ﻰ ﻭَ ﺗَﺤْﻔَﻆَ ﻧَﺎﺷِﺮَ ﻫٰﺬِﻩِ ﺍﻟﺮَّﺳَﺎﺋِﻞِ ﻭَ ﺭُﻓَﻘَﺎﺋِﻬِﻢْ ﻣِﻦْ ﺷَﺮِّ ﺷَﻴَﺎﻃ۪ﻴﻦِ الْاِنْسِ ﻭَ ﺍﻟْﺠِﻦِّ ﻭَ ﺍﻧْﺼُﺮْﻧَﺎ ﻋَﻠٰﻰ ﺍَﻋْﺪَﺍﺋِﻨَﺎ ﻭَ لَا ﺗَﻜِﻠْﻨَﺎ ﺍِﻟٰﻰ ﺍَﻧْﻔُﺴِﻨَﺎ ﻭَ ﺍﻛْﺸِﻒْ ﻛُﺮْﺑَﺘَﻨَﺎ ﻭَ ﻛُﺮْﺑَﺘَﻬُﻢْ ﻭَﺍﺷْﻒِ ﺍَﻣْﺮَﺍﺽَ ﻗُﻠُﻮﺑِﻨَﺎ ﻭَ ﻗُﻠُﻮﺑِﻬِﻢْ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ
Surat Kedua Puluh Tujuh
(Surat ini sangat kaya, terdiri dari surat-surat indah yang merupakan hakikat itu sendiri serta amat lembut, yang ditulis pengarang Risale-i Nur kepada para muridnya; serta surat-surat yang ditulis para murid Risale-i Nur kepada guru mereka dan kadang satu sama lain, yang mengungkapkan limpahan bersinar yang mereka terima dari mempelajari Risale-i Nur. Karena tumbuh menjadi tiga-empat kali ukuran kumpulan ini, ia tidak ditambahkan pada kumpulan ini. Ia diterbitkan tersendiri sebagai Barla, Kastamonu, serta Emirdağı Lâhikaları.)
Surat Kedua Puluh Delapan
Surat ini terdiri dari delapan persoalan.
PERSOALAN PERTAMA YANG MERUPAKAN RISALAH PERTAMA
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﺍِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﻟِﻠﺮُّﺅْﻳَﺎ ﺗَﻌْﺒُﺮُﻭﻥَ
Kedua, sekarang engkau meminta tafsir mimpi lamamu yang tiga hari setelah bertemu denganku tiga tahun lalu telah menemukan tafsir serta penjelasannya. Bukankah sekarang aku berhak berkata demikian terhadap mimpi yang indah, diberkahi, serta membawa kabar gembira itu, yang telah dilalui waktu dan menunjukkan maknanya:
ﻧَﻪ ﺷَﺒَﻢْ ﻧَﻪ ﺷَﺐْ ﭘَﺮَﺳْﺘَﻢْ ﻣَﻦْ ٭ غُلَامِ ﺷَﻤْﺴَﻢْ ﺍَﺯْ ﺷَﻤْﺲْ ﻣ۪ﻰ ﮔُﻮﻳَﻢْ ﺧَﺒَﺮْ ﺍٰﻥْ خَيَالَات۪ى ﻛِﻪ ﺩَﺍﻡِ ﺍَﻭْﻟِﻴَﺎﺳْﺖْ ٭ ﻋَﻜْﺲِ ﻣَﻬْﺮُﻭﻳَﺎﻥِ ﺑُﻮﺳْﺘَﺎﻥِ ﺧُﺪَﺍﺳْﺖْ
Ya, saudaraku, kita telah terbiasa membahas pelajaran hakikat semata bersamamu. Membicarakan mimpi yang pintunya terbuka bagi khayalan dengan cara kajian saksama tidak sepenuhnya sesuai dengan jalan kajian itu. Karena itu, berkenaan dengan peristiwa tidur kecil tersebut, kami akan menjelaskan secara ilmiah serta melalui kaidah enam butir hikmah hakikat tentang tidur, saudara kecil kematian, menurut segi yang diisyaratkan ayat-ayat Al-Qur'an. Pada butir ketujuh akan diberikan tafsir singkat bagi mimpimu.
Pertama:
Sebagaimana satu dasar penting Surah Yusuf ialah mimpi Yusuf, banyak ayat seperti
ﻭَﺟَﻌَﻠْﻨَﺎ ﻧَﻮْﻣَﻜُﻢْ ﺳُﺒَﺎﺗًﺎ
menunjukkan bahwa dalam mimpi serta tidur ada hakikat-hakikat penting yang bertabir.
Kedua:
Ahli hakikat tidak mendukung mencari pertanda melalui Al-Qur'an serta mempercayai mimpi. Sebab, Al-Qur'an Al-Hakîm banyak menghantam orang kafir dengan cara keras. Ketika dalam mencari pertanda itu ungkapan keras bagi orang kafir muncul sebagai pertanda bagi pencarinya, hal itu membuatnya putus asa serta membuat hati kacau.
Mimpi pun, meskipun baik, karena sebagian terlihat berlawanan dengan hakikat, dianggap buruk lalu membuat orang putus asa, mematahkan daya rohani, serta memberi sangkaan buruk. Ada banyak mimpi yang bentuknya dahsyat, merugikan, serta kotor, tetapi tafsir dan maknanya amat indah. Karena tidak setiap orang menemukan hubungan antara bentuk mimpi dengan hakikat maknanya, ia gelisah tanpa perlu, putus asa, serta sedih.
Hanya karena segi inilah, seperti ahli hakikat serta Imam Rabbani, pada awalnya aku berkata
ﻧَﻪ ﺷَﺒَﻢْ ﻧَﻪ ﺷَﺐْ ﭘَﺮَﺳْﺘَﻢْ.
Ketiga:
Menurut hadis sahih, satu bagian dari empat puluh bagian kenabian tampak dalam tidur sebagai mimpi benar. Jadi, mimpi benar adalah haq serta berkaitan dengan tugas-tugas kenabian. Karena persoalan ketiga ini amat penting, panjang, berkaitan dengan kenabian, serta mendalam, kami menangguhkannya sampai waktu lain; untuk sekarang kami tidak membuka pintu itu.
Keempat:
Mimpi ada tiga jenis. Dua di antaranya termasuk ﺍَﺿْﻐَﺎﺙُ اَحْلَامٍ menurut ungkapan Al-Qur'an dan tidak layak ditafsirkan. Sekalipun mempunyai makna, maknanya tidak penting. Karena keadaan tubuh menyimpang, daya khayal membuat susunan serta gambar sesuai penyakit orang tersebut; atau khayalan mengingat peristiwa-peristiwa yang mengguncangkan, yang menimpanya pada siang hari atau sebelumnya, bahkan satu-dua tahun sebelumnya pada waktu yang sama, lalu mengubah, menggambarkan, serta memberinya bentuk lain. Kedua bagian ini adalah ﺍَﺿْﻐَﺎﺙُ اَحْلَامٍ dan tidak layak ditafsirkan.
Bagian ketiga ialah mimpi benar. Ketika perasaan yang terikat pada alam yang disaksikan serta berkeliling di alam tersebut tertutup dan berhenti, latifah dari Rabb dalam hakikat manusia langsung menemukan hubungan kepada alam gaib dan membuka celah. Melalui celah itu, ia memandang peristiwa-peristiwa yang bersiap terjadi serta menjumpai salah satu jenis manifestasi Lauh Mahfuz dan contoh surat-surat Takdir, lalu melihat beberapa peristiwa hakiki. Kadang khayalan mengelola peristiwa itu serta mengenakan pakaian bentuk. Bagian ini mempunyai banyak jenis dan tingkatan. Sebagian terjadi persis seperti terlihat, kadang muncul di bawah tabir tipis, dan kadang dibungkus tabir tebal.
Dalam hadis mulia disebutkan bahwa mimpi-mimpi yang dilihat Rasul Yang Paling Mulia ﷺ pada permulaan wahyu terjadi dengan nyata, terbuka, serta benar seperti terbitnya fajar.
Kelima:
Mimpi benar merupakan tumbuhnya firasat sebelum kejadian secara lebih besar. Rasa sebelum kejadian ada pada setiap orang, sedikit ataupun banyak. Bahkan, ia ada pada hewan juga. Pada suatu waktu, sebagai tambahan terhadap indra lahir dan batin yang dikenal, aku menemukan melalui ilmu dua indra lain pada manusia serta hewan, bernama "sâika" dan "şâika", seperti "sâmia" dan "bâsıra". Orang sesat dan para filsuf secara keliru serta bodoh menyebut indra-indra yang kurang dikenal itu "dorongan alamiah". Hâşâ, bukan dorongan alamiah; justru Takdir Ilahi mengarahkan manusia serta hewan sebagai sejenis ilham fitrah.
Misalnya, ketika sebagian hewan seperti kucing menjadi buta, melalui arahan Takdir itu ia pergi, menemukan tumbuhan yang menjadi obat matanya, mengoleskannya pada mata, lalu sembuh.
Burung pemakan daging seperti elang, yang seperti petugas kesehatan muka bumi serta ditugasi mengangkat bangkai hewan liar, juga diberi tahu adanya bangkai hewan dari jarak sehari perjalanan melalui arahan Takdir itu, ilham firasat sebelum kejadian tersebut, serta dorongan Ilahi itu, lalu menemukannya.
Anak lebah yang baru datang ke dunia pun, ketika berumur satu hari, pergi di udara sejauh sehari perjalanan. Tanpa kehilangan jejaknya di udara, melalui arahan Takdir serta ilham dorongan itu, ia kembali dan masuk ke sarangnya.
Bahkan, setiap orang sering mengalami bahwa ketika membicarakan seseorang, pintu tiba-tiba terbuka dan orang yang sama datang di luar dugaan. Ada pula peribahasa Kurdi,
ﻧَﺎﻑِ ﮔُﺮْﺑ۪ﻴﻨَﻪ پَالَانْدَارْ ﻟ۪ﻰ ﻭَﺭ۪ﻳﻨَﻪ,
yakni, "Ketika membicarakan serigala, siapkan gada dan pukul, sebab serigala datang." Jadi, melalui firasat sebelum kejadian, latifah dari Rabb merasakan secara ringkas kedatangan orang itu. Namun, karena kesadaran akal tidak meliputinya,
ia mendorong orang membicarakannya tanpa sengaja serta tanpa memilih. Orang-orang yang mempunyai firasat kadang menjelaskan bahwa ia datang seperti karamah.
Pada suatu waktu pun, kepekaan jenis ini lebih besar padaku. Aku ingin memasukkan keadaan ini ke dalam kaidah, tetapi tidak dapat menyesuaikan serta melakukannya. Namun, pada orang saleh, terutama wali, firasat sebelum kejadian ini tumbuh lebih besar serta menunjukkan pengaruh seperti karamah.
Bagi seluruh orang awam pun ada sejenis kewalian yang diperoleh, sehingga dalam mimpi benar mereka melihat hal-hal gaib serta masa depan seperti wali. Ya, sebagaimana dari segi mimpi benar tidur seperti suatu derajat kewalian bagi orang awam, bagi semua orang ia juga tempat menonton sinema dari Rabb yang amat indah serta megah. Namun, orang yang berakhlak indah berpikir indah. Orang yang berpikir indah melihat gambaran-gambaran indah. Orang berakhlak buruk melihat gambaran buruk karena berpikir buruk.
Bagi setiap orang, ia juga jendela dalam alam yang disaksikan yang memandang alam gaib. Bagi manusia yang terbatas serta fana, ia juga lapangan yang luas dan bebas, tempat yang memperoleh sejenis hidup kekal, serta tempat menonton masa lalu dan masa depan seperti masa kini. Ia juga tempat istirahat bagi makhluk berjiwa yang tertindas di bawah kewajiban kehidupan serta menanggung kesulitan.
Karena rahasia-rahasia seperti inilah, Al-Qur'an Al-Hakîm melalui ayat-ayat jenis
ﻭَﺟَﻌَﻠْﻨَﺎ ﻧَﻮْﻣَﻜُﻢْ ﺳُﺒَﺎﺗًﺎ
mengajarkan hakikat tidur dengan penuh perhatian.
Keenam dan yang terpenting:
Bagiku, mimpi benar telah mencapai derajat haqqulyaqin dan melalui banyak pengalamanku menjadi dalil pasti bahwa Takdir Ilahi meliputi segala sesuatu.
Ya, mimpi-mimpi ini bagiku, terutama dalam beberapa tahun tersebut, telah mencapai derajat demikian: Aku yakin bahwa misalnya peristiwa paling kecil, tindakan paling remeh, bahkan percakapan paling biasa yang akan menimpaku esok telah ditulis serta ditentukan sebelum datang; dengan melihatnya pada malam hari, aku membacanya dengan mata, bukan dengan lidah. Bukan satu, bukan seratus, melainkan seribu kali, sebagian orang yang kulihat atau persoalan yang kubicarakan pada malam hari tanpa pernah kupikirkan, terjadi persis dengan sedikit tafsir pada siang hari setelah malam itu.
Jadi, peristiwa paling kecil pun tercatat serta ditulis sebelum terjadi. Jadi, tidak ada kebetulan; peristiwa-peristiwa tidak datang tanpa kendali serta bukan tanpa tatanan.
Ketujuh:
Tafsir mimpimu yang membawa kabar gembira, diberkahi, serta indah amat baik bagi Al-Qur'an dan bagi kita. Waktu juga telah serta sedang menafsirkannya, sehingga tidak memerlukan tafsir kita. Sebagian tafsirnya pun telah muncul dengan indah. Jika engkau memperhatikan, engkau memahami. Kami hanya mengisyaratkan satu-dua seginya. Yakni, kami menjelaskan satu hakikat. Peristiwa-peristiwa jenis hakikat mimpi dalam mimpimu merupakan gambaran hakikat tersebut. Yaitu:
Lapangan luas itu ialah alam Islam. Masjid di ujung lapangan ialah provinsi Isparta. Air keruh berlumpur di sekelilingnya ialah rawa kebejatan, kemalasan, serta bidah pada keadaan dan masa ini. Engkau mencapai masjid dengan selamat, tanpa terkena lumpur, serta cepat: Ini mengisyaratkan bahwa sebelum semua orang, engkau menjaga cahaya Al-Qur'an serta tetap kukuh tanpa merusak hatimu. Jamaah kecil dalam masjid ialah para pembawa Sözler seperti Hakkı, Hulusi, Sabri, Süleyman, Rüşdü, Bekir, Mustafa, Ali, Zühdü, Lütfü, Hüsrev, dan Re'fet. Mimbar kecil ialah desa kecil seperti Barla. Suara tinggi mengisyaratkan kekuatan Sözler serta cepatnya penyebarannya. Kedudukan yang dikhususkan bagimu pada baris pertama ialah tempat yang ditinggalkan Abdurrahman bagimu. Isyarat serta hakikat bahwa jamaah itu, seperti penerima alat tanpa kawat, ingin memperdengarkan pelajaran kepada seluruh dunia, inşâallah akan muncul sepenuhnya kemudian. Sekalipun sekarang para anggotanya masing-masing benih kecil, kelak melalui Bantuan Ilahi mereka menjadi pohon-pohon luhur dan pusat telegraf tanpa kawat. Tokoh muda kecil berserban itu calon yang akan masuk ke para penerbit serta murid, yang akan bahu-membahu dengan Hulusi, bahkan mungkin melampauinya. Aku menduga beberapa orang, tetapi tidak dapat memutuskan dengan pasti. Pemuda itu tokoh yang akan tampil dengan kekuatan kewalian. Tafsirkanlah segi-segi lainnya sebagai gantiku.
Karena berbicara panjang dengan kawan sepertimu manis serta baik, aku berbicara panjang dalam persoalan singkat ini, bahkan mungkin berlebihan. Namun, karena memulai dengan niat mengisyaratkan sejenis tafsir ayat-ayat Al-Qur'an tentang tidur, inşâallah sikap berlebihan itu dimaafkan atau tidak dianggap berlebihan.
RISALAH KEDUA YANG MERUPAKAN PERSOALAN KEDUA
Ditulis untuk menghilangkan serta memecahkan perdebatan penting mengenai hadis yang bermakna Nabi Musa aleyhisselâm menampar mata Azrail aleyhisselâm, dan seterusnya.
Di Eğirdir, aku mendengar perdebatan ilmiah. Perdebatan itu keliru, terutama pada masa ini. Bahkan, aku belum mengetahui perdebatan tersebut. Aku juga ditanya. Dalam kitab tepercaya, ditunjukkan kepadaku hadis dengan tanda ﻕ, yang menandai kesepakatan hadis kedua syekh. Ditanyakan, "Apakah ini hadis atau bukan?"
Aku berkata, "Dalam kitab tepercaya seperti ini, harus dipercayai tokoh yang memutuskan adanya kesepakatan hadis kedua syekh. Jadi, ia hadis. Namun, seperti Al-Qur'an, hadis mempunyai sebagian mutasyabihat. Hanya orang-orang khusus yang dapat menemukan maknanya. Bentuk lahiriah hadis ini pun mungkin termasuk bagian mutasyabihat dari kesulitan-kesulitan hadis." Jika aku mengetahui bahwa ia telah menjadi sebab perdebatan, aku tidak akan menjawab demikian singkat, melainkan seperti ini:
Pertama:
Syarat pertama membahas persoalan seperti ini ialah: Membahasnya dapat dibolehkan di antara orang yang mampu, dengan adil, niat menemukan haq, tanpa keras kepala, serta tanpa menyebabkan salah paham.
Dalil bahwa pembahasan itu demi haq ialah: Jika haq tampak melalui tangan lawan, ia tidak sedih, justru puas, sebab mempelajari yang tidak diketahuinya. Jika tampak melalui tangannya sendiri, ia tidak mempelajari hal lebih banyak, bahkan mungkin jatuh dalam sombong.
Kedua:
Jika sebab perdebatan ialah hadis, tingkatan-tingkatan hadis, derajat wahyu tersirat, serta bagian-bagian perkataan Nabi ﷺ harus diketahui. Tidak dibolehkan membahas kesulitan-kesulitan hadis di antara orang awam untuk menampilkan keutamaan, menunjukkan perkataan sendiri benar seperti pengacara, serta mencari dalil dengan mengutamakan ananiyah daripada haq dan sikap adil.
Karena persoalan ini telah dibuka serta diperdebatkan, ia memberi pengaruh buruk dalam pikiran orang awam yang malang. Sebab, mereka tidak dapat memuat hadis mutasyabih seperti ini dalam akal. Jika mengingkari, mereka membuka pintu dahsyat, yakni jalan untuk mengingkari pula hadis-hadis pasti yang tidak termuat dalam akal kecil mereka. Jika berpegang pada makna lahiriah hadis, mengakui serta menyebarkannya demikian, mereka membuka jalan bagi bantahan orang sesat serta perkataan mereka, "Itu takhayul."
Karena perhatian ditarik kepada hadis mutasyabih ini dengan cara yang tidak diperlukan serta merugikan, dan banyak hadis seperti ini telah datang, tentu harus dijelaskan hakikat yang akan menghilangkan keraguan. Baik hadis ini pasti maupun tidak, hakikat itu harus disebutkan.
Dengan mencukupkan pada rincian dalam risalah-risalah yang kami tulis, di antaranya Dua Belas Dasar Cabang Ketiga Kalimat Kedua Puluh Empat, Cabang Keempatnya, serta satu dasar dalam Pendahuluan Surat Kesembilan Belas tentang bagian-bagian wahyu, di sini kami mengisyaratkan hakikat itu secara ringkas. Yaitu:
Malaikat tidak terbatas pada satu rupa seperti manusia; meskipun mempunyai sosok tertentu, ia bersifat menyeluruh. Azrail aleyhisselâm ialah pengawas para malaikat yang ditugasi mencabut ruh.
"Apakah Azrail aleyhisselâm sendiri mencabut ruh setiap orang mati, atau para pembantunya?" Ada tiga jalan pandang dalam hal ini.
Jalan Pandang Pertama:
Azrail aleyhisselâm mencabut ruh setiap orang. Satu pekerjaan tidak menghalangi pekerjaan lain, sebab ia bercahaya. Sesuatu yang bercahaya dapat sendiri hadir serta tercermin di tempat-tempat tak terhitung melalui cermin-cermin tak terhitung. Gambaran yang tercermin dari makhluk bercahaya memiliki sifat khusus makhluk bercahaya tersebut; dianggap dirinya sendiri, bukan yang lain. Sebagaimana gambar matahari pada cermin menunjukkan cahaya serta panas matahari, gambaran makhluk-makhluk rohani seperti malaikat pada cermin-cermin berbeda alam rupa juga diri mereka sendiri serta menunjukkan sifat khusus mereka. Namun, mereka tercermin sesuai kemampuan cermin.
Sebagaimana pada saat Jibril aleyhisselâm terlihat dalam rupa Dihyah di antara sahabat, ia sedang bersujud di ribuan tempat dalam rupa lain serta di hadapan Arasy Yang Agung, dengan sayapnya yang luas dan megah dari timur sampai barat. Di setiap tempat terdapat gambarannya sesuai kemampuan tempat itu; ia berada di ribuan tempat pada satu saat.
Menurut jalan pandang ini, satu gambaran kecil berbentuk manusia dari malaikat maut yang tercermin pada cermin manusia saat mencabut ruh dapat menerima tamparan tokoh ululazmi yang agung serta berwatak keras seperti Nabi Musa aleyhisselâm. Mencabut mata pada bentuk gambarannya, yang seperti pakaian malaikat maut dalam gambaran itu, bukan mustahil, bukan luar biasa, serta bukan tidak masuk akal.
Jalan Pandang Kedua
ialah: Malaikat-malaikat besar seperti Jibril, Mikail, serta Azrail masing-masing seperti pengawas umum, yang mempunyai pembantu dari jenis mereka sendiri serta serupa dengan mereka dalam bentuk kecil. Pembantu-pembantu itu berbeda sesuai jenis makhluk. Yang mencabut ruh orang-orang saleh {(Catatan kaki):
Seorang wali besar yang terkenal di negeri kita dengan gelar "Seyda", ketika sakratulmaut, didatangi malaikat maut yang ditugasi mencabut ruh para wali. Seyda berseru, "Karena aku amat mencintai para murid ilmu, biarlah kelompok khusus yang ditugasi mencabut ruh para murid ilmu mencabut ruhku!" Ia meminta kepada hadirat Ilahi. Mereka yang duduk di sisinya menyaksikan peristiwa ini.} berbeda dari yang mencabut ruh orang-orang yang celaka. Sebagaimana ayat
ﻭَﺍﻟﻨَّﺎﺯِﻋَﺎﺕِ ﻏَﺮْﻗًﺎ ٭ ﻭَﺍﻟﻨَّﺎﺷِﻄَﺎﺕِ ﻧَﺸْﻄًﺎ
mengisyaratkan bahwa "Mereka yang mencabut ruh terdiri dari kelompok-kelompok."
Menurut jalan pandang ini, amat masuk akal bahwa Nabi Musa aleyhisselâm menampar bukan Azrail aleyhisselâm, melainkan tubuh dalam bentuk gambaran salah satu pembantu Azrail, berdasarkan keagungan fitrahnya, keberanian wataknya, serta kedudukannya yang dicintai di sisi Allah سُبْحَانَهُ. {(Catatan kaki):
Bahkan, seorang yang amat berani di negeri kita melihat malaikat maut pada saat sakratulmaut. Ia berkata, "Engkau menangkapku dalam tempat tidur!" Ia bangkit, menaiki kuda, mengambil pedang, serta menantangnya. Ia wafat dengan gagah di atas kuda.}
Jalan Pandang Ketiga:
Sebagaimana dijelaskan dalam Dasar Keempat Kalimat Kedua Puluh Sembilan serta ditunjukkan hadis-hadis mulia, "Ada sebagian malaikat yang mempunyai empat puluh ribu kepala. Pada setiap kepala ada empat puluh ribu lidah. (Jadi, ada pula delapan puluh ribu mata.) Pada setiap lidah ada empat puluh ribu tasbih." Ya, karena malaikat ditugasi sesuai jenis-jenis alam yang disaksikan serta mewakili tasbih jenis-jenis tersebut dalam alam ruh, tentu harus demikian.
Misalnya, bola bumi adalah makhluk yang bertasbih kepada Allah سُبْحَانَهُ. Ia mempunyai jenis-jenis yang seperti kepala, bukan empat puluh ribu, melainkan ratusan ribu. Setiap jenis mempunyai individu-individu yang seperti ratusan ribu lidah, dan demikian seterusnya... Jadi, malaikat yang ditugasi mengurus bola bumi harus mempunyai empat puluh ribu, bahkan ratusan ribu kepala. Pada setiap kepala juga harus ada ratusan ribu lidah, dan demikian seterusnya...
Berdasarkan jalan pandang ini, Azrail aleyhisselâm mempunyai wajah yang mengarah serta mata yang memandang kepada setiap individu. Nabi Musa aleyhisselâm menampar Azrail aleyhisselâm bukan—hâşâ—hakikat asli Azrail aleyhisselâm serta bentuk sejatinya, bukan pula merendahkan ataupun menolak. Justru karena menginginkan tugas kerasulannya lebih lama berlangsung serta tetap ada, ia menampar dan dapat menampar mata yang memperhatikan ajalnya sendiri serta ingin menghalangi khidmahnya...
ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﻋْﻠَﻢُ ﺑِﺎﻟﺼَّﻮَﺍﺏِ ٭ لَا ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﺍﻟْﻐَﻴْﺐَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ٭ ﻗُﻞْ ﺍِﻧَّﻤَﺎ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢُ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻫُﻮَ ﺍﻟَّﺬ۪ٓﻯ ﺍَﻧْﺰَﻝَ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻣِﻨْﻪُ ﺍٰﻳَﺎﺕٌ ﻣُﺤْﻜَﻤَﺎﺕٌ ﻫُﻦَّ ﺍُﻡُّ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻭَﺍُﺧَﺮُ ﻣُﺘَﺸَﺎﺑِﻬَﺎﺕٌ ﻓَﺎَﻣَّﺎ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﻓ۪ﻰ ﻗُﻠُﻮﺑِﻬِﻢْ ﺯَﻳْﻎٌ ﻓَﻴَﺘَّﺒِﻌُﻮﻥَ ﻣَﺎ ﺗَﺸَﺎﺑَﻪَ ﻣِﻨْﻪُ ﺍﺑْﺘِﻐَٓﺎﺀَ ﺍﻟْﻔِﺘْﻨَﺔِ ﻭَﺍﺑْﺘِﻐَٓﺎﺀَ ﺗَﺎْﻭ۪ﻳﻠِﻪ۪ ﻭَﻣَﺎ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﺗَﺎْﻭ۪ﻳﻠَﻪُٓ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﺍﻟﺮَّﺍﺳِﺨُﻮﻥَ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﺍٰﻣَﻨَّﺎ ﺑِﻪ۪ ﻛُﻞٌّ ﻣِﻦْ ﻋِﻨْﺪِ ﺭَﺑّﻨِﺎَ ﻭَﻣَﺎ ﻳَﺬَّﻛَّﺮُ اِلَّٓا ﺍُﻭﻟُﻮﺍ الْاَلْبَابِ
RISALAH KETIGA YANG MERUPAKAN PERSOALAN KETIGA
Persoalan ini merupakan jawaban yang khusus, pribadi, serta rahasia bagi pertanyaan umum yang diajukan kebanyakan dari seluruh saudara-saudaraku melalui bahasa keadaan, dan sebagian melalui bahasa perkataan.
Pertanyaan:
Kepada setiap orang yang datang mengunjungimu, engkau berkata, "Jangan mengharapkan bantuan rohani dari diriku dan jangan menganggap diriku diberkahi. Aku tidak mempunyai kedudukan. Seperti prajurit biasa menyampaikan perintah dari kedudukan marsekal, aku juga menyampaikan perintah dari kedudukan marsekal rohani. Seperti orang bangkrut menjadi penyeru toko berlian serta permata yang amat berharga dan kaya, aku pun penyeru toko suci dan Qur'ani."
Padahal, bahasa keadaan mereka berkata, "Sebagaimana akal kita membutuhkan ilmu, hati kita juga menginginkan limpahan, ruh kita menginginkan cahaya, dan demikian seterusnya, kita menginginkan banyak hal dari banyak segi. Kita datang mengunjungimu dengan menganggapmu orang yang akan memenuhi kebutuhan kita. Kita membutuhkan seseorang yang memiliki kewalian, mampu memberi bantuan rohani, serta memiliki sifat-sifat sempurna lebih daripada seorang alim. Jika keadaan sebenarnya seperti yang engkau katakan, kita telah salah datang mengunjungimu."
Jawaban:
Dengarkan lima pokok, kemudian pikirkan. Apakah kunjungan kalian sia-sia atau bermanfaat? Ketika itu, putuskanlah.
Pokok Pertama:
Sebagaimana seorang pelayan biasa serta prajurit malang seorang padisyah memberikan hadiah kerajaan dan tanda kehormatannya kepada para jenderal serta pasya atas nama padisyah, lalu membuat mereka merasa berutang budi. Jika para jenderal serta marsekal berkata, "Mengapa kita merendahkan diri serta mengambil anugerah dan tanda kehormatan dari tangan prajurit biasa ini?" itu kebodohan yang sombong. Jika prajurit itu, di luar tugasnya, tidak berdiri menghormati marsekal dan memandang dirinya lebih tinggi, itu kebodohan yang dungu.
Jika salah seorang jenderal yang puas itu, dengan rasa terima kasih, merendah serta datang sebagai tamu ke gubuk kecil prajurit, yang tidak menemukan selain roti kering, agar prajurit tersebut tidak malu, padisyah yang melihat dan mengetahui keadaan itu tentu mengirim hidangan dari dapur kerajaan kepada tamu terhormat pelayannya yang setia, agar prajuritnya tidak malu.
Demikian pula, betapa biasa pun pengkhidmah setia Al-Qur'an Al-Hakîm, atas nama Al-Qur'an ia menyampaikan perintah-perintahnya kepada manusia terbesar tanpa gentar. Ia menjual berlian-berlian luhur Al-Qur'an kepada orang yang ruhnya paling kaya dengan bangga serta tanpa merasa membutuhkan mereka, bukan dengan memohon dan menghinakan diri. Betapa besar pun mereka, mereka tidak dapat berlaku sombong kepada pengkhidmah biasa itu ketika ia menjalankan tugas. Pengkhidmah itu pun tidak dapat menemukan sebab sombong ketika mereka meminta kepadanya, ataupun melampaui batas dirinya.
Jika sebagian pelanggan khazanah suci itu memandang pengkhidmah malang tersebut sebagai wali serta menganggapnya besar, tentu sifat belas kasih suci hakikat Al-Qur'an menuntut agar mereka dibantu dari khazanah khusus Ilahi dan diberi bantuan rohani serta limpahan, tanpa pengetahuan atau campur tangan pengkhidmah itu, agar ia tidak malu.
Pokok Kedua:
Imam Rabbani, pembaru milenium kedua, Ahmad Al-Faruqi r.a. berkata, "Terbukanya serta jelasnya satu persoalan hakikat iman lebih utama dalam pandanganku daripada ribuan cita rasa rohani serta karamah. Tujuan dan hasil seluruh tarekat juga ialah terbukanya serta jelasnya hakikat-hakikat iman." Karena tokoh utama tarekat seperti ini memutuskan demikian, tentu Sözler, yang menjelaskan hakikat-hakikat iman dengan kejelasan sempurna serta menetes dari rahasia Al-Qur'an, dapat memberikan hasil-hasil yang diinginkan dari kewalian.
Pokok Ketiga:
Sebelas tahun lalu, tamparan-tamparan dahsyat turun pada kepala Said Lama yang lalai. Ia memikirkan pernyataan ٔﺍَﻟْﻤَﻮْﺕُ ﺣَﻖٌّٔ, melihat dirinya dalam lumpur rawa, meminta bantuan, mencari jalan, serta menyelidiki penyelamat. Ia melihat jalan-jalan berbeda dan tetap bimbang. Melalui kitab Fütuhu'l-Gayb karya Syekh Abdul Qadir Jailani r.a., Ghauts Yang Agung, ia mencari pertanda. Dalam pertanda itu muncul
ﺍَﻧْﺖَ ﻓ۪ﻰ ﺩَﺍﺭِ ﺍﻟْﺤِﻜْﻤَﺔِ ﻓَﺎﻃْﻠُﺐْ ﻃَﺒ۪ﻴﺒًﺎ ﻳُﺪَﺍﻭ۪ﻯ ﻗَﻠْﺒَﻚَ.
Menakjubkan bahwa pada saat itu aku menjadi anggota Dârülhikmeti'l-İslâmiye. Seakan-akan aku dokter yang berusaha mengobati luka-luka kaum Muslim. Padahal, akulah yang paling sakit. Orang sakit harus terlebih dahulu memperhatikan dirinya sendiri, kemudian dapat memperhatikan orang-orang sakit.
Syekh yang mulia itu berkata kepadaku, "Engkau sendiri sakit; carilah dokter bagi dirimu!" Aku berkata, "Jadilah dokterku!" Aku mengambil kitab itu dan membacanya seperti menyapaku, dengan menganggap diriku orang yang diajak bicara. Namun, kitabnya amat keras dan mematahkan kesombonganku dengan dahsyat. Ia melakukan operasi bedah keras pada nafsuku. Aku tidak mampu menanggungnya; dengan menganggap diriku yang diajak bicara, aku membaca sampai setengahnya, lalu tidak mampu menuntaskannya. Aku meletakkan kitab itu dalam lemari. Namun kemudian, pedih yang berasal dari operasi penyembuhan pergi dan kenikmatan datang. Aku membaca kitab guru pertamaku itu sampai selesai serta mengambil banyak manfaat. Aku juga mendengarkan wirid serta munajatnya dan menerima banyak limpahan.
Kemudian aku melihat kitab Mektubat karya Imam Rabbani dan mengambilnya. Aku membukanya dengan niat tulus mencari pertanda. Menakjubkan bahwa dalam seluruh Mektubat-nya hanya pada dua tempat ada kata "Bedîüzzaman". Kedua surat itu langsung terbuka bagiku. Karena nama ayahku Mirza, aku melihat pada awal surat-surat itu tertulis "Surat kepada Mirza Bedîüzzaman". Aku berkata, "Fesübhanallah, ini menyapaku." Ketika itu, salah satu gelar Said Lama ialah "Bedîüzzaman". Padahal, selain Bedîüzzaman Al-Hamadani pada tahun tiga ratus Hijriah, aku tidak mengetahui tokoh-tokoh yang terkenal dengan gelar itu. Ternyata pada masa Imam pun ada orang seperti itu, yang kepadanya ia menulis kedua surat tersebut. Keadaan tokoh itu rupanya menyerupai keadaanku, sehingga aku menemukan obat bagi deritaku pada kedua surat itu.
Namun, seperti dianjurkan Imam dalam surat-surat tersebut, pada banyak suratnya ia terus menganjurkan, "Satukan arah kiblat." Yakni, ambillah satu orang sebagai guru, ikuti di belakangnya, serta jangan sibuk dengan yang lain. Anjuran terpentingnya ini tidak sesuai dengan kemampuan serta keadaan ruhku. Betapa banyak aku berpikir, "Apakah aku akan mengikuti yang ini, yang itu, atau yang lain lagi?" Aku tetap bingung. Dalam setiap orang ada sifat berbeda yang memikat. Aku tidak dapat mencukupkan dengan satu.
Ketika dalam bingung itu, melalui Rahmat Allah سُبْحَانَهُ terlintas dalam hatiku bahwa pangkal jalan-jalan berbeda ini, sumber aliran-aliran tersebut, serta matahari planet-planet ini ialah Al-Qur'an Al-Hakîm. Menyatukan arah kiblat yang hakiki berlangsung di sini. Karena itu, pembimbing tertinggi serta guru paling suci ialah Al-Qur'an. Aku berpegang kepadanya. Tentu kemampuanku yang kurang serta kacau tidak dapat menyerap dan menerima dengan layak limpahan Pembimbing Hakiki itu, yang seperti air kehidupan. Namun, sesuai derajat orang-orang yang mempunyai hati serta keadaan rohani, melalui limpahannya pula kita dapat menunjukkan limpahan dan air kehidupan tersebut.
Jadi, Sözler serta Nur yang datang dari Al-Qur'an itu bukan hanya persoalan ilmu dalam akal, melainkan persoalan iman pada hati, ruh, serta keadaan rohani, dan seperti makrifat-makrifat Ilahi yang amat tinggi dan berharga.