SURAT KEDUA PULUH DUA:
Terdiri atas dua pembahasan.
Pembahasan Pertama, melalui rahasia ayat-ayat
ﺍِﻧَّﻤَﺎ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﺍِﺧْﻮَﺓٌ ﻓَﺎَﺻْﻠِﺤُﻮﺍ ﺑَﻴْﻦَ ﺍَﺧَﻮَﻳْﻜُﻢْ ٭ ﺍِﺩْﻓَﻊْ ﺑِﺎﻟَّﺘ۪ﻰ ﻫِﻰَ ﺍَﺣْﺴَﻦُ ﻓَﺎِﺫَﺍ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺑَﻴْﻨَﻚَ ﻭَﺑَﻴْﻨَﻪُ ﻋَﺪَﺍﻭَﺓٌ ﻛَﺎَﻧَّﻪُ ﻭَﻟِﻰٌّ ﺣَﻤ۪ﻴﻢٌ ٭ ﻭَﺍﻟْﻜَﺎﻇِﻤ۪ﻴﻦَ ﺍﻟْﻐَﻴْﻆَ ﻭَﺍﻟْﻌَﺎﻓ۪ﻴﻦَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻭَﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻳُﺤِﺐُّ ﺍﻟْﻤُﺤْﺴِﻨ۪ﻴﻦَ,
mengajak ahli iman kepada persaudaraan serta cinta, dan memperlihatkan sebab-sebab penting yang menghalangi kemunafikan, pertikaian, dendam, serta permusuhan. Ia membuktikan dengan sangat pasti bahwa dendam serta permusuhan di antara ahli iman sangat buruk, tertolak, serta merupakan kezaliman, baik dari segi hakikat, hikmah, kemanusiaan, Islam, kehidupan pribadi, kehidupan masyarakat, maupun kehidupan maknawi; lalu menafsirkan suatu rahasia penting ayat-ayat tersebut.
Pembahasan Kedua, melalui rahasia
ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻫُﻮَ ﺍﻟﺮَّﺯَّﺍﻕُ ﺫُﻭ ﺍﻟْﻘُﻮَّﺓِ ﺍﻟْﻤَﺘ۪ﻴﻦُ ٭ ﻭَﻛَﺎَﻳِّﻦْ ﻣِﻦْ ﺩَٓﺍﺑَّﺔٍ لَا ﺗَﺤْﻤِﻞُ ﺭِﺯْﻗَﻬَﺎ ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﻳَﺮْﺯُﻗُﻬَﺎ ﻭَﺍِﻳَّﺎﻛُﻢْ ﻭَ ﻫُﻮَ ﺍﻟﺴَّﻤ۪ﻴﻊُ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ,
menunjukkan sebab-sebab yang dengan tegas menghalangi ahli iman dari sifat tamak. Dengan dalil-dalil pasti, ia membuktikan bahwa sifat tamak pun sama merugikan serta buruknya dengan permusuhan, lalu menafsirkan suatu rahasia penting ayat yang agung ini.
Orang-orang yang menderita sifat tamak harus menelaah pembahasan kedua ini dengan sangat teliti. Orang-orang yang sakit karena dendam serta permusuhan memperoleh kesembuhan penuh dalam pembahasan pertama.
Dalam Penutup Pembahasan Kedua, selain menjelaskan dengan indah pentingnya zakat serta Hikmah bahwa zakat merupakan salah satu rukun Islam, suatu hakikat indah dijelaskan melalui mimpi yang mengandung hakikat.
Dalam Penutup risalah ini, dijelaskan dengan sangat pasti serta sesuai dengan i'jaz Al-Qur'an bahwa ayat
ﺍَﻳُﺤِﺐُّ ﺍَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﺍَﻥْ ﻳَﺎْﻛُﻞَ ﻟَﺤْﻢَ ﺍَﺧ۪ﻴﻪِ ﻣَﻴْﺘًﺎ ﻓَﻜَﺮِﻫْﺘُﻤُﻮﻩُ,
dengan mencela perbuatan mencela orang lain melalui enam tingkatan, melarang gibah melalui enam segi; dan melalui i'jaz yang luar biasa serta bersifat mukjizat, memperlihatkan bahwa gibah tercela, tertolak, buruk, serta merugikan, baik menurut akal, hati, kemanusiaan, hati nurani, fitrah, maupun kebangsaan.
Karena gibah merupakan senjata orang-orang hina, orang yang memiliki harga diri tidak merendahkan diri dengan menggunakan senjata kotor ini; mengenai hal itu dikatakan:
ﺍُﻛَﺒِّﺮُ ﻧَﻔْﺴ۪ﻰ ﻋَﻦْ ﺟَﺰَﺍﺀٍ ﺑِﻐِﻴْﺒَﺔٍ ٭ ﻓَﻜُﻞُّ ﺍِﻏْﺘِﻴَﺎﺏٍ ﺟَﻬْﺪُ ﻣَﻦْ لَا ﻟَﻪُ ﺟَﻬْﺪٌ
SURAT KEDUA PULUH TIGA:
Surat ini memiliki beberapa pembahasan. Sebagai ganti pembahasan-pembahasan lainnya, satu pembahasan yang lembut serta penuh makna dituliskan sebagaimana adanya. Yakni:
Suatu butir hikmah luhur, lembut, mengandung kabar gembira, serta bersifat mukjizat dari ayat
ﺗَﻮَﻓَّﻨ۪ﻰ ﻣُﺴْﻠِﻤًﺎ ﻭَ ﺍَﻟْﺤِﻘْﻨ۪ﻰ ﺑِﺎﻟﺼَّﺎﻟِﺤ۪ﻴﻦَ,
yang memberitahukan akhir kisah Yusuf (as), kisah yang paling indah, ialah:
Dalam kisah-kisah lain yang menggembirakan serta membahagiakan, rasa pahit dan derita dari kabar tentang lenyap serta berpisah pada akhir kisah membuat kenikmatan khayali yang diperoleh dari kisah itu menjadi pahit dan hancur. Terutama, memberitahukan kematian serta perpisahan seseorang pada saat dikabarkan bahwa ia berada dalam kegembiraan serta kebahagiaan sempurna terasa lebih menyakitkan; membuat para pendengar berkata, "Aduhai!"
Namun, ayat ini memberitahukan wafatnya Yusuf (as) yang mulia pada saat paling bahagia serta menggembirakan menurut dunia—bagian paling cemerlang kisah Yusuf: menjadi penguasa Mesir, bertemu dengan ayah serta ibunya, dan saling mengasihi serta mengenali saudara-saudaranya—dengan cara demikian, dan berkata:
"Untuk memperoleh keadaan yang lebih bahagia serta lebih cemerlang daripada keadaan yang menggembirakan dan membahagiakan ini, Nabi Yusuf aleyhisselâm memohon wafat kepada Allah سُبْحَانَهُ, lalu wafat serta memperoleh kebahagiaan itu. Berarti, di balik kubur terdapat kebahagiaan yang lebih menarik serta keadaan yang lebih menggembirakan daripada kebahagiaan dunia yang nikmat itu, sehingga seorang yang melihat hakikat seperti Nabi Yusuf aleyhisselâm, ketika berada dalam keadaan yang sangat nikmat, menginginkan kematian yang sangat pahit demi memperoleh kebahagiaan yang lain itu."
Kagumilah balagah Al-Qur'an Al-Hakîm ini; lihatlah bagaimana ia memberitahukan akhir kisah Yusuf (as). Bagi orang-orang yang mendengar berita itu, ia menambahkan kabar gembira serta kegembiraan, bukan derita serta penyesalan.
Ia juga membimbing, "Bekerjalah untuk kehidupan di balik kubur! Kebahagiaan serta kenikmatan sejati ada di sana."
Ia juga menunjukkan tingginya sifat siddiq Nabi Yusuf aleyhisselâm, dan berkata, "Bahkan keadaan dunia yang paling cemerlang serta paling menggembirakan tidak membuatnya lalai dan tidak memikatnya; ia tetap menginginkan akhirat."
SURAT KEDUA PULUH EMPAT:
{(Catatan kaki):
Karena diinginkan agar persoalan-persoalan surat ini sedikit dapat dirasakan, bentuk daftar isi yang singkat tidak dipertahankan, sehingga menjadi panjang.}
Merupakan surat yang mengungkap serta memecahkan rahasia terpenting dari rahasia kainat yang mengagumkan dan teka-tekinya yang sulit, serta merupakan jawaban atas suatu pertanyaan terpenting. Yakni:
Menjawab pertanyaan, "Bagaimana Pemuliaan yang penuh Kasih Sayang, membawa manfaat, serta penuh Cinta, yang dituntut Ar-Rahîm, Al-Karîm, serta Al-Wadûd—di antara Asma Allah سُبْحَانَهُ yang terbesar—dapat diselaraskan dengan kematian serta tidak ada lagi, lenyap serta perpisahan, musibah serta kesulitan, yang amat mengerikan dan menakutkan?" Jawaban diberikan melalui lima petunjuk tersirat yang memecahkan teka-teki ketiga dalam rahasia kainat serta menunjukkan tuntutan dan sebab-sebab yang mengharuskan kegiatan terus-menerus dalam kainat, dan melalui lima isyarat yang membuktikan tujuan serta manfaatnya.
Surat ini terdiri atas dua bagian. Bagian Pertama terdiri atas lima petunjuk tersirat.
Petunjuk Tersirat Pertama:
Membuktikan dengan pasti bahwa apa pun yang diperbuat Sang Pembuat Yang Hakîm merupakan kebenaran; membuktikan rahasia bahwa tidak ada benda ataupun makhluk hidup yang dapat menuntut hak dari-Nya, atau berkata, "Telah terjadi perbuatan yang tidak adil."
Petunjuk Tersirat Kedua:
Menjelaskan rahasia Kegiatan Rabb yang terus-menerus, mengagumkan, serta menimbulkan rasa gentar; menjelaskan Hikmah-Nya yang agung dalam Menciptakan serta Mengganti benda-benda, dan memecahkan teka-teki penciptaan yang terpenting.
Petunjuk Tersirat Ketiga:
Membuktikan dengan sangat indah bahwa benda-benda yang lenyap tidak menuju keadaan tidak ada, melainkan berpindah dari lingkup Kudrat menuju lingkup Ilmu; dan bahwa pujian, kehormatan, serta kedudukan yang berkaitan dengan indah serta eloknya benda-benda adalah milik Asma Allah سُبْحَانَهُ.
Petunjuk Tersirat Keempat:
Membuktikan bahwa berubah serta bergantinya makhluk terus-menerus, seperti menulis surat-surat berbeda yang penuh makna pada satu halaman setiap menit, membuat tanda-tanda Keindahan, Keagungan, serta Kesempurnaan Allah سُبْحَانَهُ yang tanpa batas—yang ditulis melalui pancaran Asma-Nya pada halaman kainat—juga tertulis tanpa batas pada halaman-halaman yang terbatas.
Petunjuk Tersirat Kelima:
Terdiri atas dua butir hikmah penting.
Salah satunya: Menunjukkan bahwa orang yang melalui iman merasakan hubungannya dengan Wâjibul Wujûd memperoleh cahaya-cahaya wujud tanpa batas; sedangkan orang yang tidak merasakannya mengalami gelap yang tiada akhir dari keadaan tidak ada, serta derita perpisahan.
Butir Hikmah Kedua:
Bahwa dunia memiliki tiga sisi... Pada sisi luarnya terdapat lenyap, berpisah, mati, serta tidak ada; tetapi pada sisi-sisi dalamnya, yang menjadi cermin Asma Allah سُبْحَانَهُ serta ladang akhirat, lenyap dan berpisah, mati dan tidak ada merupakan penyegaran serta pembaruan, penugasan serta pelepasan dari tugas yang memperlihatkan pancaran sifat kekal.
BAGIAN KEDUA SURAT INI:
Terdiri atas sebuah pendahuluan serta lima isyarat.
Pendahuluan:
Menjelaskan suatu hakikat yang sangat agung mengenai Penciptaan serta Pengaturan Allah سُبْحَانَهُ melalui hukum-hukum yang besar dan megah. Misalnya, Sang Pembuat Yang Hakîm, yang Mengganti pakaian bulu seekor burung, melalui hukum yang sama Mengganti bentuk kainat pada waktu kiamat, serta pakaian alam yang terlihat pada kebangkitan.
Ia juga menunjukkan bahwa sebanyak buah serta bunga pada suatu pohon, sebanyak itu pula tujuan setiap bunga dan Hikmah setiap buahnya.
Adapun kelima isyarat: Setelah benda-benda lepas dari wujud, berdasarkan lima hasil penting yang diberikannya, meskipun dari satu segi tidak ada, dari lima segi semuanya tetap ada. Yakni:
Setelah setiap makhluk lepas dari wujud, makna-makna yang diungkapkannya serta jati diri dalam bentuk gambaran yang tetap tinggal sesudahnya tersimpan dalam alam rupa.
Melalui berbagai keadaan hidupnya, perjalanan hidupnya yang disebut "ketentuan hidup" juga dituliskan pada lembaran gambaran, salah satu buku alam rupa; menjadi tempat telaah yang terus ada bagi makhluk-makhluk ruhani.
Hasil-hasil yang akan dikirim ke pasar akhirat serta alam akhirat, seperti amal manusia dan jin, juga tetap ada.
Berbagai tasbih kepada Rabb yang dilakukannya melalui berbagai keadaan hidupnya juga tetap ada.
Ia juga meninggalkan banyak hal yang tetap ada dan menjadi sarana tampaknya Syuunat Allah سُبْحَانَهُ Yang Mahasuci, lalu pergi.
Kelima hakikat dalam kelima isyarat ini dijelaskan melalui lima perumpamaan yang masuk akal serta dapat diterima dan bernilai sebagai dalil pasti.
TAMBAHAN PERTAMA SURAT KEDUA PULUH EMPAT:
Menafsirkan suatu rahasia penting ayat
ﻗُﻞْ ﻣَﺎ ﻳَﻌْﺒَﺆُﺍ ﺑِﻜُﻢْ ﺭَﺑّ۪ﻰ لَوْلَا ﺩُﻋَٓﺎﺅُﻛُﻢْ
melalui lima butir hikmah. Membuktikan dengan pasti bahwa doa merupakan rahasia agung ubudiyah, bahwa doa merupakan sarana terbesar yang terus menuju hadirat Rububiyah dari kainat, serta bahwa doa memiliki pengaruh agung; dan karena doa yang dilakukan secara menyeluruh serta terus-menerus pasti diterima, ia menunjukkan betapa tingginya tingkatan Rasul Yang Paling Mulia ﷺ sebagai hasil doa seluruh umat untuk Rasul Yang Paling Mulia ﷺ dengan nama salawat.
Selain menyebutkan tiga jenis doa yang penting, ia menjelaskan bahwa buah doa yang paling indah serta paling lembut, hasilnya yang paling nikmat serta paling segera, ialah: Orang yang berdoa mengetahui, dan melalui doa menyatakan, bahwa ada Dia yang Mendengar suaranya, Mengirim obat bagi deritanya, Mengasihaninya, serta Kudrat-Nya menjangkau segala sesuatu. Di dunia yang kosong serta sepi ini, ia tidak sendirian; ada Zat Yang Karîm yang Memandangnya serta Memberinya rasa akrab. Dengan membayangkan dirinya berada di hadapan Zat yang dapat Memenuhi kebutuhannya tanpa batas serta Mengusir musuh-musuhnya tanpa batas, ia merasa lega dan gembira, melepaskan beban seberat dunia dari dirinya, lalu berkata, "Elhamdülillahi Rabbi'l-âlemîn".
TAMBAHAN KEDUA SURAT KEDUA PULUH EMPAT:
Merupakan jawaban yang sangat meyakinkan, masuk akal, serta cemerlang terhadap tiga pertanyaan penting mengenai Mikraj Nabi ﷺ serta Maulid Nabi ﷺ. Meskipun pendek, tambahan ini sangat berharga. Orang-orang yang merindukan Maulid Nabi ﷺ sangat merindukannya.
Dalam Penutupnya, melalui suatu kaidah logika yang sangat penting, ia membuktikan bahwa pribadi paling agung serta paling sempurna, Guru bagi Semua, serta Kekasih yang paling agung dalam kainat ialah Rasul Yang Paling Mulia ﷺ.
SURAT KEDUA PULUH LIMA:
Dimohonkan dari Rahmat Allah سُبْحَانَهُ agar ditulis dua puluh lima butir hikmah mengenai dua puluh lima ayat Surah Yasin, tetapi belum ditulis karena waktunya belum tiba.
SURAT KEDUA PULUH ENAM:
Merupakan surat yang sangat penting mengenai rahasia
ﻭَﺍِﻣَّﺎ ﻳَﻨْﺰَﻏَﻨَّﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﻧَﺰْﻍٌ ﻓَﺎﺳْﺘَﻌِﺬْ ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ ﺍِﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺍﻟﺴَّﻤ۪ﻴﻊُ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ,
dengan nama "Hüccetü'l-Kur'an Ale'ş-şeytan ve Hizbihi", yang membungkam Iblis serta mendiamkan orang-orang yang melampaui batas.
Surat ini memiliki empat pembahasan.
Pembahasan Pertama:
Menolak serangan setan yang paling mengerikan, serta membungkamnya demikian rupa sehingga tidak meninggalkan tempat baginya untuk masuk, bersembunyi, dan menyisipkan bisikan; dengan dalil-dalil akal yang begitu kuat serta bukti-bukti yang pasti, ia membungkam setan serta murid-murid setan demikian rupa, sehingga jika mereka bukan setan, tentu mereka akan beriman.
Namun, sayangnya, demi sepenuhnya membatalkan serta menolak dakwaan dan tipu daya yang sangat buruk dari setan manusia serta jin, ia menyebutkan pikiran buruk mereka sebagai pengandaian, lalu membatalkannya. Misalnya, ia berkata, "Jika, andaikan sebagaimana kalian katakan, Al-Qur'an bukan Firman Allah سُبْحَانَهُ, ia akan menjadi kitab paling hina serta palsu; padahal, melalui hasil-hasilnya yang nyata, ia telah menunjukkan bahwa ia merupakan kitab paling luhur." Ungkapan-ungkapan pengandaian seperti inilah yang terpaksa ditulis dengan gemetar.
Pada akhir pembahasan ini, ia menolak bisikan serta keberatan setan mengenai fasih serta lancarnya Surah
ﻕٓ ﻭَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ ﺍﻟْﻤَﺠ۪ﻴﺪِ.
Pembahasan Kedua:
Menjelaskan bahwa dalam satu manusia terdapat tiga sisi pribadi berdasarkan tugas, ubudiyah, serta dirinya sendiri, dan bahwa akhlak serta hasil dari sisi-sisi pribadi itu kadang saling bertentangan.
Pembahasan Ketiga:
Menafsirkan melalui Tujuh Persoalan suatu rahasia yang sangat penting dari ayat
ﻳَٓﺎ ﺍَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺍِﻧَّﺎ ﺧَﻠَﻘْﻨَﺎﻛُﻢْ ﻣِﻦْ ﺫَﻛَﺮٍ ﻭَﺍُﻧْﺜٰﻰ ﻭَﺟَﻌَﻠْﻨَﺎﻛُﻢْ ﺷُﻌُﻮﺑًﺎ ﻭَﻗَﺒَٓﺎﺋِﻞَ ﻟِﺘَﻌَﺎﺭَﻓُﻮﺍ
mengenai hubungan dalam kehidupan masyarakat manusia, serta suatu Hikmah penting di balik diciptakannya manusia dalam bangsa-bangsa serta suku-suku.
Pembahasan ini merupakan penawar penting bagi kaum nasionalis, serta obat yang sangat bermanfaat bagi penyakit paling mengerikan pada masa kini; menyingkap tabir dari wajah orang-orang yang memamerkan semangat cinta bangsa secara palsu serta para pecinta bangsa yang berdusta, dan menunjukkan kepalsuan mereka.
Pembahasan Keempat:
Terdiri atas sepuluh persoalan sebagai jawaban terhadap enam pertanyaan.
Pertama:
Menjelaskan beberapa butir hikmah Al-Qur'an, sehubungan dengan Hikmah di balik disebutkannya delapan belas ribu alam dalam tafsir ungkapan "Rabbü'l-âlemîn".
Persoalan Kedua:
Muhyiddin Arabi berkata kepada Fakhruddin Razi, "Mengenal Allah سُبْحَانَهُ berbeda dengan mengetahui bahwa Dia ada." Apa yang dimaksud dengan itu? Dalam jawabannya, dijelaskan suatu persoalan makrifatullah yang sangat penting.
Persoalan Ketiga:
Merupakan jawaban yang sangat indah, bercahaya, serta penting terhadap pertanyaan, "Bagaimana kesesuaian antara ayat
ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﻛَﺮَّﻣْﻨَﺎ ﺑَﻨ۪ﻰ ﺍٰﺩَﻡَ
dan ayat
ﺍِﻧَّﻪُ ﻛَﺎﻥَ ﻇَﻠُﻮﻣًﺎ جَهُولًا?"
Persoalan Keempat:
Merupakan jawaban yang sangat indah serta bercahaya terhadap pertanyaan, "Apakah Hikmah
ﺟَﺪِّﺩُﻭﺍ ﺍ۪ﻳﻤَﺎﻧَﻜُﻢْ بِلَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ?"
Tambahan Persoalan Keempat merupakan isyarat singkat menuju hujah Keesaan Allah سُبْحَانَهُ yang sangat agung, serta bukti yang luas dan panjang.
Persoalan Kelima:
Merupakan jawaban penting terhadap pertanyaan, "Dapatkah orang yang hanya mengucapkan
ٔلَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ
dan tidak mengucapkan
ٔﻣُﺤَﻤَّﺪٌ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠّٰﻪِٔ
termasuk orang yang memperoleh keselamatan?"
Keenam:
Memberitahukan sebab disebutkannya ungkapan-ungkapan buruk dalam perdebatan dengan setan pada Pembahasan Pertama. Melalui suatu perumpamaan penting, ia juga mendesak kelompok setan ke tempat paling sempit, paling mustahil, serta paling dibenci; menguasai medan bagi kelompok Al-Qur'an, lalu menunjukkan bahwa menurut perumpamaan kuat itu, setiap keadaan Ahmad ﷺ, setiap sifat Muhammad ﷺ, serta setiap perilaku Nabi ﷺ bernilai sebagai mukjizat dan membuktikan kenabian beliau.
Ketujuh:
Demi memperkuat daya maknawi sebagian sahabat yang penuh prasangka serta menjauhi kita karena menghindari kerugian, dan mengenai orang-orang yang menarik diri dari khidmah kita demi tujuan tertentu lalu mendapat tamparan berupa kebalikan tujuan mereka, melalui tujuh contoh kecil di antara banyak contoh, ia menunjukkan bahwa orang yang meninggalkan perisainya dan lari justru lebih terluka.
Kedelapan:
Merupakan jawaban yang sangat penting, penuh pelajaran, serta menyenangkan terhadap pertanyaan mengerikan yang mengandung mughalathah ini, "Seluruh latifah manusia menginginkan bagiannya dari setiap lafaz Al-Qur'an, zikir, serta tasbih; jika maknanya tidak diketahui, bagiannya tidak diperoleh. Jadi, bukankah lebih baik jika diterjemahkan?"
Lafaz Al-Qur'an serta lafaz Nabi ﷺ bukanlah pakaian yang kaku dan tidak berjiwa bagi makna; ia merupakan kulit yang hidup serta membawa limpahan. Jika tubuh yang hidup dikuliti, tentu ia mati. Pembahasan ini juga menunjukkan bahwa i'jaz serta ungkapan ringkas dalam lafaz Al-Qur'an, yang merupakan bahasa dengan susunan nahwu, menghalangi terjemahan yang sejati.
Kesembilan:
Merupakan jawaban penting serta membangkitkan rasa ingin tahu terhadap pertanyaan, "Dapatkah terdapat wali di luar lingkup orang-orang yang mengikuti kebenaran, yaitu Ahlusunah Waljamaah?"
Kesepuluh:
Merupakan kaidah penting bagi para sahabat yang bertemu atau ingin bertemu dengan Said yang tidak berdaya ini, yang berkhidmah kepada Al-Qur'an Al-Hakîm.
SURAT KEDUA PULUH TUJUH:
Surat ini sangat kaya; terdiri atas surat-surat indah yang penuh kelembutan serta merupakan hakikat itu sendiri, yang ditulis penulis Risale-i Nur kepada para muridnya, serta surat-surat para murid Risale-i Nur kepada guru mereka dan kadang kepada satu sama lain, yang mengungkapkan limpahan cemerlang yang mereka peroleh dengan menelaah Risale-i Nur. Karena berkembang menjadi tiga atau empat kali sebesar kumpulan ini, ia tidak dimasukkan ke dalam kumpulan ini; diterbitkan tersendiri sebagai Barla, Kastamonu, serta Emirdağı Lâhikaları.
SURAT KEDUA PULUH DELAPAN:
Terdiri atas delapan risalah dengan nama "Delapan Persoalan".
Persoalan Pertama yang Merupakan Risalah Pertama
Menjelaskan hakikat serta manfaat mimpi yang benar melalui "Tujuh Butir Hikmah" yang sangat indah dan mengandung hakikat. Risalah ini berharga serta membangkitkan rasa ingin tahu.
Risalah Kedua yang Merupakan Persoalan Kedua
Mengakhiri sampai ke akarnya suatu perdebatan penting mengenai hadis yang bermakna, "Nabi Musa aleyhisselâm menampar mata Azrail aleyhisselâm," serta membentengi hadis-hadis semacam ini dari keberatan orang-orang yang mengingkari Allah سُبْحَانَهُ. Risalah ini kecil, tetapi membangkitkan rasa ingin tahu.
Risalah Ketiga yang Merupakan Persoalan Ketiga
Menjelaskan dengan niat apa orang-orang yang datang mengunjungi Said yang tidak berdaya serta bangkrut ini harus bertemu dengannya, dan bahwa pertemuan itu harus semata-mata memandangnya sebagai penyeru Al-Qur'an Al-Hakîm; melalui "Lima Pokok", membuktikan dengan sangat indah manfaat penting pertemuan itu, bahwa pribadinya yang tidak berarti tidak boleh dijadikan perhatian, melainkan permata-permata berharga dari toko suci yang ia serukan. Ia juga menyebutkan beberapa contoh nyata serta pasti dari begitu banyak Inayah yang aku serta beberapa saudaraku peroleh, berupa karamah khidmah Al-Qur'an dan Inayah Rabb.
Dalam pelengkap risalah ini, ia menjelaskan Inayah luar biasa yang tampak ketika menulis risalah-risalah, terutama dalam menyusunnya, dan khususnya dalam Surat Kedua Puluh Sembilan.
Persoalan Keempat yang Merupakan Risalah Keempat
Masjid kita diserang dua kali; pada kali terakhir, mereka menutupnya. Dua atau tiga tahun sebelumnya, ketika seorang tamu yang diberkahi datang, juga dilakukan serangan yang sangat ganas serta zalim, sehingga dari segala penjuru orang bertanya kepadaku. Demi memberikan jawaban yang layak terhadap peristiwa yang membangkitkan rasa ingin tahu semua orang ini, diberikan jawaban penting yang penuh pelajaran, dengan bahasa Said Lama melalui "Empat Pokok".
Persoalan Kelima yang Merupakan Risalah Kelima
Menafsirkan dengan cara yang sangat luhur, manis, masuk akal, serta dapat diterima, rahasia berulangnya
اَفَلَا ﻳَﺸْﻜُﺮُﻭﻥَ ٭ اَفَلَا ﻳَﺸْﻜُﺮُﻭﻥَ
dalam Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya, serta diancamnya orang-orang yang tidak bersyukur tiga puluh satu kali melalui Firman
ﻓَﺒِﺎَﻯِّ اٰلَٓاءِ ﺭَﺑِّﻜُﻤَﺎ ﺗُﻜَﺬِّﺑَﺎﻥِ;
membuktikan bahwa manusia merupakan pabrik syukur. Membuktikan dengan sangat indah serta pasti bahwa kainat merupakan khazanah nikmat dan syukur merupakan kuncinya; serta bahwa rezeki merupakan hasil kainat dan pendahuluan bagi syukur.
Dalam jalan mengakui diri tidak berdaya, empat hal diperlukan:
Kelemahan mutlak, fakir mutlak, semangat mutlak, serta syukur mutlak, wahai yang mulia!
Ia menjelaskan hakikat syukur mutlak yang cemerlang serta luhur, yang merupakan rukun keempat dalam kaidah hakikat tersebut.
Persoalan Keenam yang Merupakan Risalah Keenam
Karena diterbitkan dalam kumpulan Mektubat beraksara Al-Qur'an, ia tidak dimuat di sini.
Persoalan Ketujuh yang Merupakan Risalah Ketujuh:
Melalui nama "Tujuh Isyarat", menjelaskan tujuh Inayah Rabb mengenai suatu rahasia penting ayat
ﻗُﻞْ ﺑِﻔَﻀْﻞِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻭَﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻪ۪ ﻓَﺒِﺬٰﻟِﻚَ ﻓَﻠْﻴَﻔْﺮَﺣُﻮﺍ ﻫُﻮَ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻤَّﺎ ﻳَﺠْﻤَﻌُﻮﻥَ
tentang Risale-i Nur serta para pelayannya; menjelaskan tujuh sebab yang masuk akal untuk menampakkan ketujuh Inayah ini dengan menceritakan Nikmat Allah سُبْحَانَهُ. Sebagai isyarat menuju hal-hal luar biasa dari ketujuh Inayah menyeluruh ini, ketika risalah ditulis, tanpa disengaja terdapat dua puluh delapan alif pada permulaan seluruh baris di dua halaman, sehingga bertepatan dengan tingkatan Surat Kedua Puluh Delapan {(Catatan kaki):
Mengacu pada naskah aslinya.}; baru beberapa waktu sesudah menulisnya, kita mengetahuinya.
Orang yang membaca ketujuh Inayah ini akan mengetahui betapa penting bagian-bagian Risale-i Nur, serta bahwa bagian-bagian itu berada dalam Pandangan Inayah Allah سُبْحَانَهُ dan Perlindungan Rabb. Ketujuh Inayah ini bersifat menyeluruh; rincian-rinciannya melebihi tujuh puluh.
Pada akhirnya, terdapat jawaban atas pertanyaan rahasia mengenai suatu rahasia Inayah. Dalam Penutupnya, ia menolak dengan sangat pasti prasangka yang muncul atau mungkin muncul terhadap tawafuk, yang merupakan Inayah pertama dari ketujuh Inayah. Pada akhir Penutup itu pula, dalam Butir Hikmah Ketiga, ia mengisyaratkan suatu rahasia Rububiyah yang penting serta halus dan suatu rahasia Rahmaniyah yang penting, mengenai Inayah khusus serta Inayah umum.
Persoalan Kedelapan yang Merupakan Risalah Kedelapan
Terdiri atas delapan butir hikmah sebagai jawaban terhadap enam pertanyaan.
Butir Hikmah Pertama:
Mengenai isyarat-isyarat gaib dalam tawafuk, yang terdapat secara sebagian atau menyeluruh dalam seluruh bagian Risale-i Nur.
Butir Hikmah Kedua:
Menjelaskan rahasia mengapa keistimewaan tawafuk tidak terlalu dituntut dalam Al-Qur'an, kecuali pada Lafaz Jalal.
Butir Hikmah Ketiga:
Menjelaskan bahwa sikap seorang saudara kita yang terlalu berhati-hati serta tidak berani tidaklah tepat, dan merupakan jawaban indah terhadap kritik dangkal seorang mufti mengenai Kalimat Kesepuluh. (Namun, tidak dimasukkan ke dalam kumpulan ini.)
Butir Hikmah Keempat:
Merupakan jawaban yang meyakinkan serta masuk akal terhadap enam pertanyaan yang membangkitkan rasa ingin tahu, "Bagaimana manusia akan dihimpun di padang kebangkitan, apakah dalam keadaan telanjang? Dapatkah setiap orang melihat para sahabatnya? Bagaimana kita menemukan Rasul Yang Paling Mulia ﷺ untuk memperoleh syafaat? Bagaimana Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, yang merupakan satu pribadi, akan bertemu dengan manusia tanpa batas? Bagaimana pakaian penghuni surga serta neraka? Siapa yang akan menunjukkan jalan kepada kita?"
Butir Hikmah Kelima:
Dalam jawaban atas pertanyaan, "Pada masa jeda kenabian, apakah para leluhur Rasul Yang Paling Mulia ﷺ menganut suatu agama?", dijelaskan suatu hakikat yang indah.
Butir Hikmah Keenam:
Merupakan jawaban yang sangat penting terhadap pertanyaan, "Setelah Nabi Ismail aleyhisselâm, apakah datang nabi dari antara para leluhur Nabi ﷺ?"
Butir Hikmah Ketujuh:
Merupakan jawaban yang sangat penting serta masuk akal terhadap pertanyaan, "Manakah berita yang paling sahih mengenai iman ayah serta ibu Rasul Yang Paling Mulia ﷺ dan kakeknya, Abdulmuttalib?"
Butir Hikmah Kedelapan:
Merupakan jawaban indah terhadap pertanyaan, "Apakah yang paling sahih mengenai iman paman beliau, Abu Talib? Dapatkah ia masuk surga?"
SURAT KEDUA PULUH SEMBILAN
Terdiri atas sembilan bagian. Di dalamnya terdapat dua puluh sembilan butir hikmah penting. Kesembilan bagian itu merupakan tujuh belas risalah, kecil serta besar.
Bagian Pertama yang Merupakan Risalah Pertama:
Menafsirkan sebagian rahasia ayat-ayat
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ٭ ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻣَﺎﻟِﻚِ ﻳَﻮْﻡِ ﺍﻟﺪّ۪ﻳﻦِ ﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﻌْﺒُﺪُ ﻭَﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﺴْﺘَﻌ۪ﻴﻦُ ﺍِﻫْﺪِﻧَﺎ ﺍﻟﺼِّﺮَﺍﻁَ ﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻘ۪ﻴﻢَ ﺻِﺮَﺍﻁَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍَﻧْﻌَﻤْﺖَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻏَﻴْﺮِ ﺍﻟْﻤَﻐْﻀُﻮﺏِ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻭَ لَا ﺍﻟﻀَّٓﺎﻟّ۪ﻴﻦَ ٭ ﻫُﻮَ ﺍﻟَّﺬ۪ٓﻯ ﺍَﻧْﺰَﻝَ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻣِﻨْﻪُ ﺍٰﻳَﺎﺕٌ ﻣُﺤْﻜَﻤَﺎﺕٌ ﻫُﻦَّ ﺍُﻡُّ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻭَﺍُﺧَﺮُ ﻣُﺘَﺸَﺎﺑِﻬَﺎﺕٌ ﺍﻟﺦ
melalui sembilan butir hikmah.
Butir Hikmah Pertama:
Merupakan jawaban penting terhadap orang-orang yang berkata mengenai Al-Qur'an, "Rahasia-rahasianya tidak diketahui, dan para mufasir tidak memahami hakikatnya."
Butir Hikmah Kedua:
Menjelaskan suatu Hikmah penting dalam sumpah-sumpah Al-Qur'an, seperti
ﻭَ ﺍﻟﺘّ۪ﻴﻦِ ﻭَ ﺍﻟﺰَّﻳْﺘُﻮﻥِ ٭ ﻭَﺍﻟﺸَّﻤْﺲِ ﻭَﺿُﺤٰﻴﻬَﺎ
dalam Al-Qur'an Al-Hakîm.
Butir Hikmah Ketiga:
Mengenai huruf-huruf terpisah pada permulaan surah, yang masing-masing merupakan sandi Ilahi.
Butir Hikmah Keempat:
Karena terjemahan sejati Al-Qur'an Al-Hakîm tidak mungkin dan gaya yang luhur dalam i'jaz maknawinya tidak dapat diterjemahkan, melalui suatu penjelasan penting ia memperlihatkan sekilau i'jaz dalam gaya Al-Qur'an.
Butir Hikmah Kelima:
Menunjukkan bahwa makna paling singkat yang diungkapkan kalimat "Elhamdülillah" adalah sekitar satu baris, serta bahwa terjemahannya yang sejati tidak mungkin.
Butir Hikmah Keenam:
Menjelaskan suatu rahasia penting mengenai nun yang menyatakan pembicara bersama yang lain dalam
ﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﻌْﺒُﺪُ ﻭَﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﺴْﺘَﻌ۪ﻴﻦُ,
melalui keadaan yang bercahaya serta khayalan yang mengandung hakikat.
Butir Hikmah Ketujuh:
Dalam menjelaskan rahasia
ﺍِﻫْﺪِﻧَﺎ ﺍﻟﺼِّﺮَﺍﻁَ ﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻘ۪ﻴﻢَ ٭ ﺻِﺮَﺍﻁَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍَﻧْﻌَﻤْﺖَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ
yang penting serta bercahaya, menunjukkan betapa buruk dan merugikannya mengadakan bidah.
Butir Hikmah Kedelapan:
Menjelaskan suatu rahasia penting mengenai syiar-syiar Islam yang bernilai sebagai hak-hak umum.
Butir Hikmah Kesembilan:
Menjelaskan bahwa persoalan syariat memiliki dua bagian, yakni "taabbudi", yang dijalankan karena diperintahkan, serta "ma'qul al-ma'na", yang maknanya dapat dipahami akal; dan rahasia bahwa bagian taabbudi tidak dapat berubah karena bergantinya hikmah serta manfaat.
Ia juga menjelaskan bahwa manfaat azan bukan sekadar mengajak penduduk suatu desa kepada salat, melainkan mengumumkan tauhid di istana kainat kepada segala yang ada, atas nama seluruh makhluk.
Bagian Kedua yang Merupakan Risalah Kedua:
Menafsirkan suatu rahasia agung ayat
ﺷَﻬْﺮُ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺍﻟَّﺬ۪ٓﻯ ﺍُﻧْﺰِﻝَ ﻓ۪ﻴﻪِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥُ ﻫُﺪًﻯ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ﻭَ ﺑَﻴِّﻨَﺎﺕٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻬُﺪٰﻯ ﻭَ ﺍﻟْﻔُﺮْﻗَﺎﻥِ
dengan menjelaskan sembilan Hikmah di antara tujuh puluh Hikmah saum Ramadan. Kesembilan Hikmah itu begitu sejati, kuat, serta menarik, sehingga jika orang yang bukan Muslim melihatnya, ia pun akan merasa sangat rindu serta ingin berpuasa. Orang yang menyebut dirinya Muslim tetapi tidak berpuasa seharusnya merasa malu serta terpukul oleh kesalahannya di hadapan Hikmah-Hikmah ini.
Bagian Ketiga yang Merupakan Risalah Ketiga
Mengenai memperlihatkan satu segi dari lima atau enam segi i'jaz Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya yang dapat terlihat oleh mata, dengan menulis sebuah Al-Qur'an baru. Lillahi'l-hamd, Al-Qur'an seperti itu telah ditulis. Dengan mempertahankan halaman serta baris yang sama dari Al-Qur'an berkaligrafi Hafiz Osman yang diterima oleh umat, kita memahami bahwa meskipun Lafaz "Allah" سُبْحَانَهُ berulang dua ribu delapan ratus enam kali dalam seluruh Al-Qur'an, semuanya saling bertepatan kecuali pengecualian yang jarang dan mengandung butir hikmah; kita tidak mengubah halaman serta barisnya, hanya menatanya. Dari penataan itu tampak tawafuk yang luar biasa. Sebagian ahli hati yang melihat bagian-bagian Al-Qur'an yang kita tulis menerima bahwa tulisannya mendekati tulisan Lauh Mahfuz.
Karena risalah ini mengenai tawafuk Al-Qur'an, sebagai isyarat gaib semata, tanpa diketahui siapa pun di antara kita, pada awal penulisan serta rancangan pertamanya terdapat sebelas kata "Kur'an" yang saling bertepatan pada satu halaman, masing-masing dalam satu baris, berjajar dalam garis lurus. Orang-orang yang melihatnya memperoleh keyakinan bahwa suatu sinar dari kilau i'jaz dalam tawafuk Al-Qur'an memperlihatkan keindahan luar biasa ini dalam risalah tersebut.
Karena persoalan-persoalan yang tersisa dari Bagian Ketiga ini serta Bagian Keempat mengenai tawafuk, dicukupkan dengan daftar isi mengenai tawafuk.