Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Bagian 3

Tanda Terbesar · Bahasa Indonesia

Sebagai isyarat ringkas kepada pelajaran makrifat yang tamu penuh keingintahuan ini terima dari alam gaib, pada tingkatan keempat belas serta kelima belas Bagian Pertama diucapkan

لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍﻟْﻮَﺍﺟِﺐُ ﺍﻟْﻮُﺟُﻮﺩِ ﺍَﻟْﻮَﺍﺣِﺪُ الْاَحَدُ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺩَﻝَّ ﻋَﻠٰﻰ ﻭُﺟُﻮﺏِ ﻭُﺟُﻮﺩِﻩِ ﻓ۪ﻰ ﻭَﺣْﺪَﺗِﻪِ ﺍِﺟْﻤَﺎﻉُ ﺟَﻤ۪ﻴﻊِ ﺍﻟْﻮَﺣْﻴَﺎﺕِ ﺍﻟْﺤَﻘَّﺔِ ﺍﻟْﻤُﺘَﻀَﻤِّﻨَﺔِ لِلتَّنَزُّلَاتِ الْاِلٰهِيَّةِ ﻭَ ﻟِﻠْﻤُﻜَﺎﻟَﻤَﺎﺕِ ﺍﻟﺴُّﺒْﺤَﺎﻧِﻴَّﺔِ ﻭَ ﻟِﻠﺘَّﻌَﺮُّﻓَﺎﺕِ ﺍﻟﺮَّﺑَّﺎﻧِﻴَّﺔِ ﻭَ لِلْمُقَابَلَاتِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﺎﻧِﻴَّﺔِ ﻋِﻨْﺪَ ﻣُﻨَﺎﺟَﺎﺓِ ﻋِﺒَﺎﺩِﻩ۪ وَلِـلْاِشْعَارَاتِ ﺍﻟﺼَّﻤَﺪَﺍﻧِﻴَّﺔِ ﻟِﻮُﺟُﻮﺩِﻩِ ﻟِﻤَﺨْﻠُﻮﻗَﺎﺗِﻪِ ﻭَ ﻛَﺬَﺍ ﺩَﻝَّ ﻋَﻠٰﻰ ﻭُﺟُﻮﺏِ ﻭُﺟُﻮﺩِﻩِ ﻓ۪ﻰ ﻭَﺣْﺪَﺗِﻪِ ﺍِﺗِّﻔَﺎﻕُ الْاِلْهَامَاتِ ﺍﻟﺼَّﺎﺩِﻗَﺔِ ﺍﻟْﻤُﺘَﻀَﻤِّﻨَﺔِ ﻟِﻠﺘَّﻮَﺩُّﺩَﺍﺕِ الْاِلٰهِيَّةِ ﻭَ لِـلْاِجَابَاتِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﺎﻧِﻴَّﺔِ ﻟِﺪَﻋَﻮَﺍﺕِ ﻣَﺨْﻠُﻮﻗَﺎﺗِﻪِ ﻭَ لِـلْاِمْدَادَاتِ ﺍﻟﺮَّﺑَّﺎﻧِﻴَّﺔِ لِاِسْتِغَاثَاتِ ﻋِﺒَﺎﺩِﻩِ ﻭَ لِـلْاِحْسَاسَاتِ ﺍﻟﺴُّﺒْﺤَﺎﻧِﻴَّﺔِ ﻟِﻮُﺟُﻮﺩِﻩِ ﻟِﻤَﺼْﻨُﻮﻋَﺎﺗِﻪِ

.

Kemudian musafir dunia itu berkata kepada akalnya: karena aku mencari Pemilikku serta Khâliq-ku melalui segala yang ada dalam alam ini, tentu paling awal kita harus bersama pergi ke Zaman Kebahagiaan, untuk mengunjungi Muhammad Al-Arabi ﷺ serta bertanya kepadanya tentang Yang kucari. Beliau adalah yang paling terkenal di antara segala yang ada, paling sempurna bahkan melalui pembenaran musuh-musuhnya, komandan terbesar ﷺ, penguasa paling masyhur ﷺ, paling luhur perkataannya, paling terang akalnya, serta yang menerangi empat belas abad melalui keutamaan dan Al-Qur'annya. Bersama akalnya, ia pun memasuki zaman itu dan melihat:

Zaman tersebut menjadi zaman kebahagiaan manusia melalui sosok itu ﷺ secara hakiki. Sebab, melalui cahaya yang beliau bawa, dalam waktu singkat beliau menjadikan kaum yang paling jauh dari cara hidup menetap serta paling ummi (tidak membaca dan menulis) sebagai guru dan penguasa dunia.

Ia juga berkata kepada akalnya, "Paling awal, kita harus mengetahui sedikit nilai sosok luar biasa ini ﷺ, kebenaran perkataannya, serta ketepatan beritanya. Kemudian kita harus bertanya kepadanya mengenai Khâliq kita." Ia pun mulai menyelidiki. Dari dalil-dalil pasti yang tiada batas yang ia temukan, di sini hanya akan diberikan isyarat ringkas kepada sembilan dalil yang menyeluruh.

PERTAMA: Dalam sosok ini ﷺ terdapat seluruh akhlak serta sifat yang indah, bahkan melalui pembenaran musuh-musuhnya; dan,

melalui pernyataan tegas ayat-ayat

ﻭَ ﺍﻧْﺸَﻖَّ ﺍﻟْﻘَﻤَﺮُ ٭ ﻭَﻣَﺎ ﺭَﻣَﻴْﺖَ ﺍِﺫْ ﺭَﻣَﻴْﺖَ ﻭَﻟٰﻜِﻦَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﺭَﻣٰﻰ

, ratusan mukjizat tampak melalui tangannya dengan penuturan yang pasti, sebagian secara tawatur: seperti terbelahnya bulan menjadi dua melalui isyarat satu jarinya; sedikit tanah dalam segenggam tangannya yang dilemparkan kepada pasukan musuh masuk ke mata seluruh pasukan itu, sehingga mereka melarikan diri; dan pemberian minum yang cukup kepada pasukannya yang kehausan dari air yang mengalir seperti Kautsar melalui lima jarinya. Lebih dari tiga ratus mukjizat ini telah dijelaskan bersama dalil-dalil pastinya dalam risalah yang menakjubkan serta penuh karamah, bernama Mu'cizat-ı Ahmediye ﷺ (Mukjizat Ahmad ﷺ), yakni Surat Kesembilan Belas. Dengan menyerahkannya kepada risalah itu, ia berkata:

Sosok ﷺ yang memiliki begitu banyak akhlak mulia serta kesempurnaan, juga begitu banyak mukjizat yang terang ini, tentu paling benar perkataannya. Tidak mungkin beliau merendahkan diri kepada tipu daya, dusta, serta kekeliruan, yang merupakan pekerjaan orang-orang tanpa akhlak.

KEDUA: Beliau memiliki Firman Pemilik alam ini; setiap abad, lebih dari tiga ratus juta manusia menerima serta membenarkan Firman itu. Firman tersebut, Al-Qur'an Yang Sangat Agung, menakjubkan dari tujuh segi. Al-Qur'an ini merupakan mukjizat dari empat puluh segi serta Firman Khâliq alam. Hal itu telah dijelaskan secara terperinci bersama dalil-dalil kuatnya dalam risalah terkenal yang menjadi matahari Risale-i Nur, yang dikenal dengan nama "Kalimat Kedua Puluh Lima" serta "Mu'cizat-ı Kur'aniye" (Mukjizat Al-Qur'an). Dengan menyerahkannya kepada risalah itu, ia berkata:

Tidak mungkin ada atau terdapat dusta dalam sosok ﷺ yang menjadi penerjemah serta penyampai Firman yang merupakan kebenaran dan hakikat itu sendiri seperti ini; dusta akan berarti kejahatan terhadap Firman serta pengkhianatan kepada Pemilik Firman!

KETIGA: Sosok itu ﷺ tampil dengan syariat, Islam, ubudiyah, doa, dakwah, serta iman sedemikian rupa sehingga tidak ada dan tidak akan ada yang sebanding dengan semuanya; tidak pernah ditemukan serta tidak akan ditemukan yang lebih sempurna.

Sebab, syariat yang muncul dari sosok ummi ini ﷺ mengelola empat belas abad serta seperlima umat manusia, dengan adil, sesuai kebenaran, dan teliti, melalui hukum-hukumnya yang tiada batas; hal itu tidak memiliki bandingan.

Islam yang berasal dari perbuatan, perkataan, serta keadaan sosok ummi ﷺ itu setiap abad menjadi petunjuk serta tempat rujukan tiga ratus juta manusia; guru dan pembimbing akal mereka; penerang serta penyuci hati mereka; juga

pengasuh serta pemurni nafsu mereka, dan sumber berkembangnya ruh mereka serta tambang kemajuannya. Dari segi ini, Islam tidak dapat memiliki tandingan dan belum pernah memiliki tandingan.

Beliau paling maju dalam seluruh jenis ibadah dalam agamanya, memiliki takwa serta rasa takut kepada Allah سُبْحَانَهُ melebihi setiap orang; dan di tengah perjuangan luar biasa yang terus berlangsung serta berbagai kegaduhan, beliau menjaga ubudiyah dengan tepat sampai rahasia-rahasianya yang paling halus. Beliau melakukannya tanpa meniru siapa pun, dengan makna sepenuhnya serta seperti seorang pemula, tetapi dalam bentuk paling sempurna, sambil menyatukan awal dan akhir. Tentu, hal seperti itu tidak terlihat serta belum pernah terlihat bandingannya.

Dari ribuan doa serta munajatnya, melalui Cevşenü'l-Kebir beliau melukiskan Rabbnya dengan makrifat Rabb sedemikian rupa, pada tingkat demikian, sehingga para ahli makrifat serta wali yang datang sejak masa itu, meskipun pikiran mereka bergabung, tidak dapat mencapai tingkatan makrifat maupun pelukisan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa dalam doa pun beliau tidak memiliki tandingan. Orang yang memandang tempat pada awal Risale-i Münâcat (Risalah Munajat), yang menjelaskan makna sangat ringkas dari satu bagian di antara sembilan puluh sembilan bagian Cevşenü'l-Kebir, akan berkata bahwa Cevşen pun tidak memiliki tandingan.

Dalam menyampaikan risalah serta mengajak manusia kepada kebenaran, beliau memperlihatkan keteguhan, ketahanan, serta keberanian pada tingkat demikian sehingga, meskipun negara-negara besar, agama-agama besar, bahkan kaumnya, kabilahnya, serta pamannya sangat memusuhinya, beliau tidak memperlihatkan sedikit pun jejak keraguan, kegelisahan, ataupun sikap pengecut. Beliau menantang seluruh dunia seorang diri, berhasil, serta menempatkan Islam di atas dunia. Semua itu membuktikan bahwa dalam penyampaian serta dakwah pun beliau tidak pernah dan tidak dapat memiliki tandingan.

Dalam iman, beliau memiliki kekuatan yang begitu luar biasa, keyakinan yang begitu menakjubkan, perkembangan yang begitu bermukjizat, serta keyakinan luhur yang menerangi dunia. Meskipun seluruh pemikiran dan keyakinan yang berkuasa pada masa itu, filsafat para filsuf, serta ilmu para pemimpin ruhani menentang, melawan, dan mengingkarinya, semuanya tidak memberikan sedikit pun keraguan, kebimbangan, kelemahan, ataupun waswas kepada keyakinan pasti, iman, kepercayaan, serta ketenteramannya. Seluruh orang yang maju dalam hal maknawi serta tingkatan iman, terutama para sahabat dan wali, selalu menerima limpahan dari tingkatan imannya serta mendapati beliau pada tingkat tertinggi. Hal ini menunjukkan dengan jelas bahwa imannya pun tidak memiliki tandingan.

Ia memahami, dan akalnya juga membenarkan, bahwa pada pemilik syariat yang tidak tertandingi, Islam yang tidak memiliki bandingan, ubudiyah yang menakjubkan, doa yang luar biasa, dakwah yang dikagumi dunia, serta

iman yang penuh mukjizat seperti itu, tentu tidak dapat ada dusta dari segi apa pun, dan beliau tidak menipu.

KEEMPAT: Sebagaimana ijmak para nabi Aleyhimüsselâm merupakan dalil yang sangat kuat mengenai Wujud serta Keesaan Ilahi; demikian pula, ia merupakan kesaksian yang sangat kokoh mengenai kebenaran serta kerasulan sosok ini ﷺ. Sebab, sejarah membenarkan bahwa seluruh sifat suci, mukjizat, serta tugas yang menjadi dasar kebenaran dan kenabian para nabi Aleyhimüsselâm terdapat dalam sosok itu ﷺ pada tingkat paling maju.

Ia memahami bahwa, sebagaimana melalui bahasa ucapan dalam Taurat, Injil, Zabur, serta suhuf mereka, para nabi memberitakan datangnya sosok ini ﷺ dan memberi kabar gembira kepada manusia—lebih dari dua puluh bagian yang sangat jelas dari isyarat-isyarat kabar gembira kitab suci itu telah dijelaskan serta dibuktikan dengan indah dalam Surat Kesembilan Belas—demikian pula, melalui bahasa keadaan, yakni kenabian serta mukjizat mereka, para nabi membenarkan sosok yang paling maju dan sempurna dalam jalan serta tugas mereka itu, dan menandatangani ajarannya. Sebagaimana menunjukkan Keesaan melalui bahasa ucapan serta ijmak, mereka juga bersaksi atas kebenaran sosok itu melalui bahasa keadaan serta kesepakatan.

KELIMA: Ribuan wali mencapai kebenaran, hakikat, kesempurnaan, karamah, hakikat yang tersingkap, serta menyaksikan langsung melalui kaidah dan pemeliharaan sosok ini, dengan mengikutinya serta menempuh jalan di belakangnya. Sebagaimana menunjukkan Keesaan, mereka bersaksi melalui ijmak serta kesepakatan atas kebenaran serta kerasulan sosok itu, guru mereka ﷺ. Ia melihat bahwa mereka menyaksikan sebagian berita yang beliau sampaikan dari alam gaib melalui cahaya kewalian, serta meyakini dan membenarkan semuanya melalui cahaya iman, baik dengan ilmulyaqin, ainulyaqin, maupun haqqulyaqin; hal ini menunjukkan tingkat kebenaran serta ketepatan sosok tersebut, guru mereka ﷺ, seperti matahari.

KEENAM: Jutaan orang suci pilihan yang teliti, siddiqin yang menyelidiki hakikat, serta filsuf mukmin yang jenius mencapai kedudukan tertinggi dalam tingkat ilmu melalui pelajaran dan pengajaran hakikat-hakikat suci yang dibawa sosok ini meskipun beliau ummi, ilmu-ilmu luhur yang beliau kembangkan, serta makrifat Ilahi yang beliau singkapkan. Sebagaimana mereka membuktikan dan membenarkan bersama, melalui bukti-bukti kuat, Keesaan yang menjadi inti dasar ajaran sosok ini; kesaksian mereka yang sepakat atas kebenaran Pengajar Yang Paling Agung ﷺ serta Guru Yang Paling Besar ﷺ ini, dan bahwa perkataannya merupakan hakikat, ialah hujah kerasulan serta kebenarannya yang terang seperti siang. Misalnya, Risale-i Nur dengan seratus bagiannya merupakan satu bukti kebenaran sosok itu.

KETUJUH: Kelompok besar yang disebut keluarga serta sahabatnya, yang setelah para nabi merupakan kelompok manusia paling terkenal akan firasat, ketajaman pemahaman, serta kesempurnaan; paling terhormat, paling masyhur, paling taat beragama, serta tajam pandangannya, meneliti, memeriksa, dan menyelidiki seluruh keadaan tersembunyi maupun terang, pikiran, serta sikap sosok ini, dengan keingintahuan penuh, perhatian sangat teliti, dan kesungguhan tertinggi. Ia memahami bahwa hasilnya berupa pembenaran yang tidak terguncang serta iman kuat mereka, melalui kesepakatan dan ijmak, bahwa sosok itu paling benar, paling luhur, paling sesuai dengan kebenaran, serta paling hakiki di dunia, merupakan dalil seperti siang yang menunjukkan sinar matahari.

KEDELAPAN: Alam ini menunjukkan Pembuat, Penulis, serta Pengukirnya, yang menciptakan, mengelola, dan menyusunnya, serta mengaturnya melalui Pemberian rupa, Penetapan ukuran, dan Pengelolaan, seperti istana, kitab, pameran, serta tempat melihat pemandangan. Demikian pula, alam menginginkan dan menuntut penyeru yang luhur, penyingkap yang benar, guru yang menyelidiki hakikat, serta pengajar yang jujur; dan menunjukkan bahwa ia tentu ada. Ia akan mengetahui dan memperkenalkan Tujuan-Tujuan Ilahi dalam penciptaan alam; mengajarkan Hikmah Rabb dalam perubahannya; memberikan pelajaran tentang hasil gerakannya yang menjalankan tugas; mengumumkan nilai hakikatnya serta kesempurnaan segala yang ada di dalamnya; dan mengungkapkan makna kitab besar tersebut. Dari segi ini, musafir itu mengetahui bahwa alam tentu bersaksi atas kebenaran sosok yang menjalankan tugas-tugas ini melebihi setiap orang, serta bahwa beliau merupakan petugas Khâliq alam yang paling luhur dan benar.

KESEMBILAN: Karena di balik tabir terdapat Zat yang ingin menampilkan Kemahiran serta Kesempurnaan Seni-Nya melalui ciptaan-ciptaan yang penuh seni dan Hikmah; memperkenalkan Diri-Nya serta membuat Diri-Nya dicintai melalui makhluk-makhluk yang tiada akhir, begitu indah dan berhias; membuat Diri-Nya disyukuri serta dipuji melalui nikmat-nikmat tak terhitung yang lezat dan berharga; dan membuat makhluk beribadah kepada Rububiyah-Nya dengan rasa berutang budi, syukur, serta pemujaan. Dia membuat mereka beribadah melalui Pemeliharaan serta Pemberian Makanan yang umum, penuh Kasih dan Perlindungan, bahkan melalui makanan serta jamuan Rabb yang disiapkan untuk memenuhi cita rasa mulut yang paling halus serta segala jenis selera. Dia ingin menampakkan Keilahian-Nya melalui Pengelolaan serta Pelaksanaan yang Agung dan Megah, juga Kegiatan serta Penciptaan yang Dahsyat dan Penuh Hikmah, seperti pergantian musim serta perubahan dan perbedaan malam dan siang; lalu membuat makhluk beriman, berserah diri, tunduk, serta taat kepada Keilahian itu. Dia juga ingin memperlihatkan Kebenaran serta Keadilan-Nya dengan selalu melindungi kebaikan dan orang-orang baik, menghapus keburukan serta orang-orang buruk, dan menghancurkan orang-orang zalim serta pendusta melalui pukulan dari langit.

Tentu dan dalam keadaan apa pun, makhluk yang paling dicintai serta hamba paling benar di sisi Zat Yang Gaib itu ialah sosok yang disebut Muhammad Al-Quraysyi ﷺ. Dengan berkhidmah bagi Tujuan-Tujuan yang telah disebut sepenuhnya, beliau menguraikan serta menyingkap rahasia dan teka-teki penciptaan alam; selalu bertindak atas nama Khâliq-nya; memohon pertolongan serta keberhasilan dari-Nya; dan menerima Pertolongan serta Taufik dari-Nya.

Ia juga berkata kepada akalnya:

Karena kesembilan hakikat ini bersaksi atas kebenaran sosok tersebut, tentu manusia ini menjadi sumber kemuliaan keturunan Adam serta sumber kebanggaan alam ini. Sangat layak beliau disebut "Kebanggaan Seluruh Alam" ﷺ serta "Kemuliaan Keturunan Adam" ﷺ. Kemegahan kerajaan maknawi Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya, Firman Ar-Rahmân yang beliau miliki, yang menguasai separuh bumi; kesempurnaan pribadinya; serta sifat-sifatnya yang luhur menunjukkan bahwa beliau merupakan sosok terpenting dalam alam ini, dan perkataan terpenting mengenai Khâliq kita adalah perkataannya.

Mari, pandanglah! Dengan bersandar pada kekuatan ratusan mukjizat sosok luar biasa ini yang nyata, terang, serta pasti, juga ribuan hakikat luhur dan mendasar dalam agamanya, dasar seluruh ajarannya serta tujuan seluruh kehidupannya ialah menunjukkan dan bersaksi atas Wujud, Keesaan, Sifat, serta Asma Wâjibul Wujûd; juga membuktikan, mengumumkan, dan memperkenalkan Wâjibul Wujûd itu.

Berarti, matahari maknawi alam ini serta bukti paling terang bagi Khâliq kita ialah sosok yang disebut Habibullah ﷺ ini. Terdapat tiga ijmak besar yang tidak tertipu maupun menipu, yang menguatkan, membenarkan, serta menandatangani kesaksiannya:

PERTAMA: Pembenaran melalui ijmak dari kelompok bercahaya yang terkenal di dunia dengan nama keluarga Muhammad ﷺ. Kelompok itu memuat ribuan kutub (pemimpin di kalangan wali) serta wali agung dengan pandangan tajam dan mata yang melihat alam gaib; seperti Imam Ali radıyallahu anh, yang berkata, "Jika tabir gaib tersingkap, keyakinanku tidak akan bertambah," serta Ghauts Yang Agung (ks), yang, meskipun berada di bumi, menyaksikan Arasy Agung serta keagungan sosok Israfil.

KEDUA: Pembenaran bersama melalui iman yang kuat dari kelompok terkenal yang dikenal di dunia sebagai para sahabat, sehingga mereka mengorbankan jiwa dan harta, ayah serta kabilah mereka. Mereka berasal dari kaum nomaden serta lingkungan ummi, yang tidak memiliki kehidupan sosial, pemikiran politik, ataupun kitab, dan berada dalam gelapnya masa jeda kenabian. Namun, dalam waktu sangat singkat, mereka menjadi guru, petunjuk, diplomat, serta penguasa yang adil bagi bangsa-bangsa dan pemerintahan yang paling beradab, berpengetahuan, serta maju dalam kehidupan sosial dan politik; lalu mengelola dunia dari timur sampai barat dengan cara yang dikagumi dunia.

KETIGA: Pembenaran yang saling bertepatan pada tingkat ilmulyaqin dari kelompok besar ulama dalam umatnya, yang tak terbatas jumlahnya, menyelidiki hakikat serta berilmu sangat luas; setiap abad memiliki ribuan anggota, unggul dengan kecerdasan luar biasa dalam setiap ilmu, dan bekerja dalam berbagai jalan.

Ia pun menetapkan bahwa kesaksian sosok ini mengenai Keesaan bukan bersifat pribadi serta juz'i, melainkan umum, menyeluruh, serta tidak terguncang; bahkan jika seluruh setan berkumpul, mereka tidak dapat menentangnya dari segi apa pun.

Sebagai isyarat ringkas kepada pelajaran yang diterima tamu dunia serta musafir kehidupan ini dari madrasah bercahaya tersebut, ketika berkelana bersama akalnya dalam Zaman Kebahagiaan, pada tingkatan keenam belas Bagian Pertama diucapkan demikian:

لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍﻟْﻮَﺍﺟِﺐُ ﺍﻟْﻮُﺟُﻮﺩِ ﺍَﻟْﻮَﺍﺣِﺪُ الْاَحَدُ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺩَﻝَّ ﻋَﻠٰﻰ ﻭُﺟُﻮﺏِ ﻭُﺟُﻮﺩِﻩِ ﻓ۪ﻰ ﻭَﺣْﺪَﺗِﻪِ ﻓَﺨْﺮُ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻢِ ﻭَ ﺷَﺮَﻑُ ﻧَﻮْﻉِ ﺑَﻨ۪ﻰ ﺍٰﺩَﻡَ ﺑِﻌَﻈَﻤَﺔِ ﺳَﻠْﻄَﻨَﺔِ ﻗُﺮْﺍٰﻧِﻪِ ﻭَ ﺣَﺸْﻤَﺔِ ﻭُﺳْﻌَﺔِ ﺩِﻳﻨِﻪِ ﻭَ ﻛَﺜْﺮَﺓِ كَمَالَاتِهِ ﻭَ ﻋُﻠْﻮِﻳَّﺔِ اَخْلَاقِهِ ﺣَﺘّٰﻰ ﺑِﺘَﺼْﺪ۪ﻳﻖِ ﺍَﻋْﺪَٓﺍﺋِﻪِ ﻭَ ﻛَﺬَﺍ ﺷَﻬِﺪَ ﻭَ ﺑَﺮْﻫَﻦَ ﺑِﻘُﻮَّﺓِ ﻣِﺎٰﺕِ ﻣُﻌْﺠِﺰَﺍﺗِﻪِ ﺍﻟﻈَّﺎﻫِﺮَﺓِ ﺍﻟْﺒَﺎﻫِﺮَﺓِ ﺍﻟْﻤُﺼَﺪِّﻗَﺔِ ﺍﻟْﻤُﺼَﺪَّﻗَﺔِ ﻭَ ﺑِﻘُﻮَّﺓِ اٰلَافِ ﺣَﻘَٓﺎﺋِﻖِ ﺩ۪ﻳﻨِﻪِ ﺍﻟﺴَّﺎﻃِﻌَﺔِ ﺍﻟْﻘَﺎﻃِﻌَﺔِ ﺑِﺎِﺟْﻤَﺎﻉِ ﺍٰﻟِﻪِ ﺫَﻭِﻯ الْاَنْوَارِ ﻭَ ﺑِﺎِﺗِّﻔَﺎﻕِ ﺍَﺻْﺤَﺎﺑِﻪِ ﺫَﻭِﻯ الْاَبْصَارِ ﻭَ ﺑِﺘَﻮَﺍﻓُﻖِ ﻣُﺤَﻘِّﻘ۪ﻰ ﺍُﻣَّﺘِﻪِ ﺫَﻭِﻯ ﺍﻟْﺒَﺮَﺍﻫ۪ﻴﻦِ ﻭَ ﺍﻟْﺒَﺼَﺎﺋِﺮِ ﺍﻟﻨَّﻮَّﺍﺭَﺓِ

.

Kemudian, musafir yang tidak lelah serta tidak pernah puas ini, yang mengetahui bahwa iman merupakan tujuan kehidupan serta kehidupan bagi kehidupan di dunia, berkata kepada hatinya sendiri, "Mari kita beralih kepada kitab bernama Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya, yang disebut Firman serta Perkataan Zat yang kita cari; kitab yang paling terkenal, paling terang, serta paling berkuasa di dunia, dan yang setiap abad menantang siapa pun yang tidak berserah kepadanya. Mari kita mengetahui apa yang dikatakannya. Namun, paling awal, harus dibuktikan bahwa kitab ini merupakan Kitab Khâliq kita." Ia pun mulai menyelidiki.

Karena musafir ini berada pada zaman sekarang, paling awal ia memandang Risale-i Nur, kilau-kilau i'jaz maknawi Al-Qur'an, dan melihat bahwa seratus tiga puluh risalahnya merupakan butir hikmah, cahaya, serta tafsir mendasar dari ayat-ayat Al-Furqan. Meskipun dalam abad yang begitu keras kepala serta

menentang agama ini, Risale-i Nur menyebarkan hakikat-hakikat Al-Qur'an ke setiap arah dengan semangat perjuangan, tidak ada yang dapat menghadangnya. Hal ini membuktikan bahwa Al-Qur'an, guru, sumber, tempat rujukan, serta mataharinya, berasal dari langit, dan bukan perkataan manusia.

Bahkan, Kalimat Kedua Puluh Lima serta akhir Surat Kesembilan Belas, satu hujah Al-Qur'an di antara ratusan hujah Resaili'n-Nur, membuktikan bahwa Al-Qur'an merupakan mukjizat dari empat puluh segi sedemikian rupa sehingga siapa pun yang melihatnya, alih-alih mengkritik serta mengajukan keberatan, justru mengagumi bukti-buktinya, menghargai, dan banyak memujinya.

Dengan menyerahkan urusan membuktikan segi i'jaz Al-Qur'an serta bahwa ia merupakan Firman Allah سُبْحَانَهُ yang benar kepada Risaletü'n-Nur, ia hanya memperhatikan beberapa pokok yang menunjukkan kebesarannya melalui isyarat ringkas:

POKOK PERTAMA: Sebagaimana Al-Qur'an, melalui seluruh mukjizatnya serta seluruh hakikat yang menjadi dalil kebenarannya, merupakan mukjizat Muhammad ﷺ; demikian pula, Muhammad ﷺ, melalui seluruh mukjizat, dalil kenabian, serta kesempurnaan ilmunya, merupakan mukjizat Al-Qur'an, dan hujah yang pasti bahwa Al-Qur'an merupakan Firman Allah سُبْحَانَهُ.

POKOK KEDUA: Bersama perubahan kehidupan sosial yang begitu bercahaya, membahagiakan, serta sesuai hakikat dalam dunia ini, Al-Qur'an membuat, meneruskan, serta mengelola perubahan besar dalam nafsu, hati, ruh, akal, kehidupan pribadi, kehidupan sosial, serta kehidupan politik manusia sedemikian rupa sehingga, selama empat belas abad, setiap menit, enam ribu enam ratus enam puluh enam ayatnya dibaca dengan penghormatan sempurna oleh lidah setidaknya lebih dari seratus juta manusia. Ia memelihara manusia, memurnikan nafsu serta membersihkan hati mereka; membuat ruh berkembang dan maju, memberi kelurusan dan cahaya kepada akal, serta memberi kehidupan dan kebahagiaan kepada hidup. Tentu, kitab seperti ini tidak memiliki tandingan; ia menakjubkan, luar biasa, serta merupakan mukjizat.

POKOK KETIGA: Dari zaman itu sampai sekarang, Al-Qur'an memperlihatkan balagah sedemikian rupa sehingga menurunkan kedudukan kasidah-kasidah para penyair paling terkenal, yang ditulis dengan emas pada dinding Ka'bah dan dikenal sebagai "Muallakat-ı Seb'a" (Tujuh Syair Yang Digantung). Ketika menurunkan kasidah ayahnya dari Ka'bah, putri Labid berkata, "Di hadapan ayat-ayat, syair ini tidak lagi memiliki nilai."

Seorang sastrawan nomaden, ketika mendengar ayat

ﻓَﺎﺻْﺪَﻉْ ﺑِﻤَﺎ ﺗُﺆْﻣَﺮُ

dibaca, tersungkur dalam sujud. Orang-orang bertanya kepadanya, "Apakah engkau telah menjadi Muslim?" Ia berkata, "Tidak, aku bersujud karena takjub akan balagah ayat ini."

Ribuan imam jenius serta sastrawan yang menguasai berbagai ilmu, seperti Abdul Qahir Al-Jurjani, Sakkaki, serta Zamakhsyari, yang merupakan para jenius ilmu balagah, melalui ijmak serta kesepakatan menetapkan, "Balagah Al-Qur'an melampaui kemampuan manusia; tidak dapat dicapai."

Sejak masa itu, Al-Qur'an terus mengajak ke medan tandingan, menggugah perasaan para sastrawan serta ahli balagah yang angkuh dan penuh ananiyah, lalu mengumumkan dengan cara yang akan mematahkan kesombongan mereka, "Datangkanlah yang sebanding dengan satu surah saja, atau terimalah kehancuran serta kehinaan di dunia dan akhirat." Namun, para ahli balagah yang keras kepala pada abad itu meninggalkan jalan tandingan yang pendek, yakni mendatangkan yang sebanding dengan satu surah, dan memilih jalan perang yang panjang serta membahayakan jiwa dan harta mereka. Hal ini membuktikan bahwa menempuh jalan pendek tersebut adalah mustahil.

Sejak masa itu, jutaan kitab berbahasa Arab beredar: ditulis oleh para pencinta Al-Qur'an dengan semangat menyerupai serta menirunya, dan oleh musuh-musuhnya dengan dorongan menandingi serta mengkritiknya; dan karya-karya itu maju melalui bergabungnya pemikiran. Tidak satu pun dapat mencapainya. Bahkan, jika orang paling biasa mendengarkannya, ia tentu akan berkata, "Al-Qur'an ini tidak menyerupai kitab-kitab tersebut serta tidak berada pada tingkat mereka." Ia akan berada di bawah mereka atau di atas semuanya. Di dunia, tidak seorang pun, tidak seorang kafir pun, bahkan tidak seorang bodoh pun, dapat berkata bahwa Al-Qur'an berada di bawah semuanya. Berarti, tingkat balagahnya berada di atas semuanya.

Bahkan, seseorang membaca ayat

ﺳَﺒَّﺢَ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻣَﺎ ﻓِﻰ ﺍﻟﺴَّﻤﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ

lalu berkata, "Aku tidak dapat melihat balagah ayat ini yang dianggap menakjubkan." Kepadanya dikatakan, "Pergilah pula ke zaman itu seperti musafir ini, dan dengarkan di sana." Ketika membayangkan dirinya berada di sana sebelum Al-Qur'an, ia melihat:

Segala yang ada di alam berada dalam ruang yang sepi, tiada batas serta tiada akhir, dan dalam dunia yang tidak menetap serta fana, dengan keadaan kacau, gelap, tidak hidup, tanpa kesadaran, serta tanpa tugas. Tiba-tiba, ketika mendengarkan ayat ini dari lisan Al-Qur'an, ia melihat:

Ayat ini membuka tabir di atas alam serta pada permukaan dunia, lalu meneranginya sedemikian rupa sehingga Sapaan Azali serta Firman Yang Kekal Selamanya ini memberikan pelajaran dan memperlihatkan kepada makhluk-makhluk yang memiliki kesadaran, yang berderet dalam barisan abad-abad, bahwa alam ini merupakan masjid yang sangat

besar. Ia menyaksikan bahwa ayat tersebut memperlihatkan seluruh makhluknya, terutama langit serta bumi, berada dalam zikir dan tasbih yang penuh kehidupan, menjalankan tugas, serta bergelora dalam keadaan bahagia dan puas. Dengan menghayati tingkat balagah ayat ini serta membandingkan ayat-ayat lain kepadanya, ia memahami satu Hikmah dari ribuan Hikmah bahwa alunan balagah Al-Qur'an menguasai separuh bumi serta seperlima umat manusia, dan meneruskan kemegahan kerajaannya selama empat belas abad tanpa putus, dengan penghormatan sempurna.

POKOK KEEMPAT: Al-Qur'an memperlihatkan rasa manis yang begitu sesuai dengan hakikat sehingga banyak pengulangan, yang membosankan bahkan pada sesuatu paling manis, justru menambah rasa manisnya bagi pembaca yang hatinya tidak rusak serta seleranya tidak rusak. Pengulangannya tidak membosankan orang yang membacanya. Sejak dahulu, hal ini diterima oleh setiap orang dan menjadi seperti peribahasa.

Al-Qur'an juga memperlihatkan kesegaran, kemudaan, semangat muda, serta keunikan sedemikian rupa sehingga, meskipun telah hidup selama empat belas abad dan mudah berada di tangan setiap orang, ia menjaga kesegarannya seolah-olah baru diturunkan sekarang. Setiap abad melihatnya dalam kemudaan, seolah-olah berbicara kepada abad itu sendiri. Meskipun setiap kelompok ilmu menyimpan banyak salinannya di dekat mereka agar selalu mengambil manfaat darinya, dan mengikuti serta meneladani gaya ungkapannya, Al-Qur'an tetap menjaga keunikan gaya serta cara penjelasannya.

KELIMA: Satu sayap Al-Qur'an berada pada masa lalu, dan satu sayap pada masa depan. Akar serta satu sayapnya ialah hakikat-hakikat yang disepakati para nabi terdahulu; Al-Qur'an membenarkan serta menguatkan mereka, dan mereka pun membenarkannya melalui bahasa keadaan yang saling bertepatan. Demikian pula, seluruh tarekat kewalian yang benar serta seluruh ilmu Islam yang sesuai hakikat, yang tumbuh dan hidup di bawah perlindungan sayap keduanya, bersaksi bahwa Al-Qur'an merupakan kebenaran itu sendiri, himpunan hakikat, serta keajaiban yang tidak tertandingi dalam kelengkapannya. Melalui buah-buah yang menerima kehidupan darinya, seperti para wali serta orang-orang suci pilihan, dan perkembangan mereka yang hidup, semuanya menunjukkan bahwa pohon mereka yang diberkahi itu hidup, penuh limpahan, serta menjadi tempat hakikat.

KEENAM: Keenam sisi Al-Qur'an bercahaya serta menunjukkan kebenaran dan kesesuaiannya dengan hakikat. Ya, di bawahnya terdapat tiang-tiang hujah serta bukti; di atasnya kilau cap i'jaz; di depan serta pada tujuannya hadiah-hadiah kebahagiaan dunia dan akhirat; di belakangnya, sebagai titik sandaran, hakikat-hakikat wahyu dari langit; di kanannya pembenaran melalui dalil dari akal-akal lurus yang tiada batas; di kirinya ketenteraman yang sungguh-sungguh, ketertarikan yang tulus, serta penyerahan hati-hati bersih dan nurani yang murni.

Sebagaimana semua itu membuktikan bahwa Al-Qur'an merupakan benteng langit dan bumi yang luar biasa, menakjubkan, kokoh, serta tidak dapat diserang...

Dari enam kedudukan pula terdapat penandatanganan bahwa Al-Qur'an merupakan kebenaran itu sendiri serta benar, bukan perkataan manusia, dan tidak keliru:

Paling awal, Pengelola alam ini membenarkan serta menandatangani Al-Qur'an dengan memberinya kedudukan penghormatan yang paling diterima, paling luhur, serta paling berkuasa dalam alam, dan tingkatan keberhasilan. Dia menjadikan kebiasaan untuk selalu menampilkan keindahan, melindungi kebaikan serta kebenaran, dan menghancurkan serta menghapus para penipu dan pemfitnah sebagai kaidah Kegiatan-Nya.

Sosok ﷺ yang menjadi sumber Islam serta penerjemah Al-Qur'an meyakini dan menghormatinya melebihi setiap orang; berada dalam keadaan seperti tidur ketika ia diturunkan; dan perkataannya yang lain tidak dapat mencapai maupun sedikit menyerupainya. Meskipun beliau ummi, melalui Al-Qur'an beliau menjelaskan secara gaib peristiwa-peristiwa alam yang nyata pada masa lalu serta masa depan, tanpa keraguan dan dengan ketenteraman. Penerjemah yang berada di bawah pandangan mata-mata yang sangat teliti itu, tanpa terlihat tipu daya maupun sikap keliru apa pun, beriman serta membenarkan setiap ketetapan Al-Qur'an dengan seluruh dayanya, dan tidak ada yang mengguncangnya. Semua itu menandatangani bahwa Al-Qur'an berasal dari langit, sesuai hakikat, serta merupakan Firman yang diberkahi dari Khâliq-nya Yang Rahîm.

Di depan mata, seperlima umat manusia, bahkan bagiannya yang terbesar, terikat kepada Al-Qur'an dengan ketertarikan serta ketakwaan, mendengarkannya dengan cinta kepada hakikat serta kerinduan. Melalui kesaksian banyak tanda, peristiwa, serta hakikat yang tersingkap, jin, malaikat, dan makhluk ruhani pun, ketika ia dibaca, berkumpul di sekelilingnya seperti ngengat dengan cinta kepada kebenaran. Hal ini merupakan tanda diterimanya Al-Qur'an oleh alam, serta bahwa ia berada pada kedudukan tertinggi.

Setiap lapisan umat manusia, dari orang paling lamban dan awam sampai paling cerdas serta berilmu, menerima bagian penuh dari pelajaran Al-Qur'an dan memahami hakikat-hakikat yang paling mendalam. Setiap kelompok dari ratusan ilmu Islam—terutama para mujtahid besar syariat agung, serta para peneliti jenius usuluddin dan ilmu kalam—mengambil seluruh kebutuhan dan jawaban yang berkaitan dengan ilmu mereka dari Al-Qur'an. Hal ini merupakan tanda bahwa Al-Qur'an ialah sumber kebenaran serta tambang hakikat.

Para sastrawan Arab yang paling maju dalam sastra dan tidak masuk Islam, meskipun sampai sekarang sangat membutuhkan tandingan,

menolak mendatangkan yang sebanding dengan hanya satu segi dari tujuh segi besar i'jaz Al-Qur'an, yakni balagah satu surah. Para ahli balagah terkenal serta ulama jenius yang datang sampai sekarang dan ingin meraih ketenaran melalui tandingan pun tidak dapat menentang satu pun segi i'jaznya, lalu terdiam karena tidak berdaya. Hal ini merupakan tanda bahwa Al-Qur'an ialah mukjizat serta melampaui kemampuan manusia.

Ya, nilai, sifatnya yang luhur, serta balagah suatu perkataan tampak melalui pertanyaan, "Dari siapa ia datang, kepada siapa, dan untuk apa?" Dari segi ini, Al-Qur'an tidak dapat memiliki tandingan dan tidak dapat dicapai.

Sebab, Al-Qur'an ialah Sapaan serta Firman Rabb dan Khâliq seluruh alam; Percakapan-Nya yang tidak memiliki tanda apa pun, dari segi mana pun, yang memberi kesan tiruan ataupun dibuat-buat. Ia diturunkan kepada pihak yang paling terkenal serta masyhur di antara manusia, yang diutus atas nama seluruh manusia, bahkan seluruh makhluk. Kekuatan serta keluasan imannya memancarkan Islam yang besar, mengangkat dirinya kepada kedudukan Qab Qawsayn, serta menjadikannya penerima Sapaan Sang Shamad. Al-Qur'an menyatakan dan menjelaskan persoalan mengenai kebahagiaan dunia dan akhirat, hasil-hasil penciptaan alam, serta Tujuan-Tujuan Rabb di dalamnya; juga iman sosok yang disapa itu, yang paling luhur dan luas serta memuat seluruh hakikat Islam. Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya memperlihatkan setiap sisi alam yang besar seperti peta, jam, serta rumah, membaliknya, dan melalui caranya mengungkapkan serta mengajarkan Seniman yang membuat semuanya. Karena itu, tentu tidak mungkin mendatangkan yang sebanding dengan Al-Qur'an, dan tingkat i'jaznya tidak dapat dicapai.

Ribuan ulama yang cerdas, teliti, serta menguasai berbagai ilmu menafsirkan Al-Qur'an; sebagian menulis tafsir setebal tiga puluh, empat puluh, bahkan tujuh puluh jilid. Melalui rujukan serta dalil, mereka menampilkan dan membuktikan keistimewaan, butir hikmah, ciri khusus, rahasia, serta makna luhur Al-Qur'an yang tiada batas, juga banyak berita gaib dari setiap jenis urusan gaib. Terutama, setiap kitab di antara seratus tiga puluh kitab Risale-i Nur membuktikan satu keistimewaan serta satu butir hikmah Al-Qur'an melalui bukti-bukti pasti. Terutama Mu'cizat-ı Kur'aniye Risalesi; Bagian Kedua Kalimat Kedua Puluh, yang mengambil banyak keajaiban peradaban seperti kereta api serta pesawat dari Al-Qur'an; Sinar Pertama bernama İşarat-ı Kur'aniye (Isyarat-Isyarat Al-Qur'an), yang memberitahukan isyarat ayat-ayat kepada Risale-i Nur serta listrik; delapan risalah kecil bernama Rumuzat-ı Semaniye (Delapan Isyarat Tersirat), yang memperlihatkan betapa teratur, penuh rahasia, serta bermakna huruf-huruf Al-Qur'an; juga risalah kecil yang membuktikan kemukjizatan ayat terakhir Surah Al-Fath dari lima segi

berita gaib. Setiap bagian Risale-i Nur menampilkan satu hakikat serta satu cahaya Al-Qur'an. Hal ini merupakan tanda bahwa Al-Qur'an tidak memiliki tandingan, merupakan mukjizat serta keajaiban, dan dalam alam yang terlihat ini merupakan bahasa alam gaib serta Firman Sang ‘Allâmul-Ghuyûb.

Musafir dunia itu memahami bahwa, karena keistimewaan serta ciri khusus Al-Qur'an yang telah diisyaratkan dalam enam pokok, enam sisi, serta enam kedudukan tersebut, kekuasaan bercahayanya yang megah serta kerajaan sucinya yang agung terus berlangsung dengan penghormatan sempurna, sambil menerangi wajah abad-abad serta permukaan bumi selama seribu tiga ratus tahun. Karena ciri khusus itu pula, setiap huruf Al-Qur'an memiliki setidaknya sepuluh pahala serta sepuluh kebaikan, dan menghasilkan sepuluh buah yang kekal; bahkan setiap huruf dari sebagian ayat serta surah menghasilkan seratus, seribu, dan lebih banyak buah. Pada waktu-waktu yang diberkahi, cahaya, pahala, serta nilai setiap huruf meningkat dari sepuluh menjadi ratusan. Al-Qur'an menerima keistimewaan-keistimewaan suci seperti itu. Ia berkata kepada hatinya:

Al-Qur'an yang penuh mukjizat dari setiap segi ini, melalui ijmak surah-surahnya, kesepakatan ayat-ayatnya, kesesuaian rahasia serta cahayanya, juga buah serta hasilnya yang serasi satu sama lain, memberikan kesaksian melalui dalil-dalil yang membuktikan Wujud, Keesaan, Sifat, serta Asma satu Wâjibul Wujûd sedemikian rupa sehingga kesaksian tak terbatas seluruh ahli iman memancar dari kesaksiannya.

Sebagai isyarat ringkas kepada pelajaran tauhid serta iman yang musafir ini terima dari Al-Qur'an, pada tingkatan ketujuh belas Bagian Pertama diucapkan demikian:

لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍﻟْﻮَﺍﺟِﺐُ ﺍﻟْﻮُﺟُﻮﺩِ ﺍَﻟْﻮَﺍﺣِﺪُ الْاَحَدُ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺩَﻝَّ ﻋَﻠٰﻰ ﻭُﺟُﻮﺏِ ﻭُﺟُﻮﺩِﻩِ ﻓ۪ﻰ ﻭَﺣْﺪَﺗِﻪِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥُ ﺍﻟْﻤُﻌْﺠِﺰُ ﺍﻟْﺒَﻴَﺎﻥِ ﺍَﻟْﻤَﻘْﺒُﻮﻝُ ﺍﻟْﻤَﺮْﻏُﻮﺏُ لِاَجْنَاسِ ﺍﻟْﻤَﻠَﻚِ ﻭَ الْاِنْسِ ﻭَ ﺍﻟْﺠَﺎﻥِّ ﺍَﻟْﻤَﻘْﺮُﻭﺀُ ﻛُﻞُّ ﺍٰﻳَﺎﺗِﻪِ ﻓ۪ﻰ ﻛُﻞِّ ﺩَﻗ۪ﻴﻘَﺔٍ ﺑِﻜَﻤَﺎﻝِ الْاِحْتِرَامِ ﺑِﺎَﻟْﺴِﻨَﺔِ ﻣِﺎٰﺕِ ﻣِﻠْﻴُﻮﻥٍ ﻣِﻦْ ﻧَﻮْﻉِ الْاِنْسَانِ ﺍﻟﺪَّﺍﺋِﻢُ ﺳَﻠْﻄَﻨَﺘُﻪُ ﺍﻟْﻘُﺪْﺳِﻴَّﺔُ ﻋَﻠٰﻰ ﺍَﻗْﻄَﺎﺭِ الْاَرْضِ ﻭَ الْاَكْوَانِ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﻭُﺟُﻮﻩِ الْاَعْصَارِ ﻭَ ﺍﻟﺰَّﻣَﺎﻥِ ﻭَ ﺍﻟْﺠَﺎﺭ۪ﻯ ﺣَﺎﻛِﻤِﻴَّﺘُﻪُ ﺍﻟْﻤَﻌْﻨَﻮِﻳَّﺔُ ﺍﻟﻨُّﻮﺭَﺍﻧِﻴَّﺔُ ﻋَﻠٰﻰ ﻧِﺼْﻒِ الْاَرْضِ ﻭَ ﺧُﻤْﺲِ ﺍﻟْﺒَﺸَﺮِ ﻓ۪ﻰ ﺍَﺭْﺑَﻌَﺔَ ﻋَﺸَﺮَ ﻋَﺼْﺮًﺍ ﺑِﻜَﻤَﺎﻝِ الْاِحْتِشَامِ ﻭَ ﻛَﺬَﺍ ﺷَﻬِﺪَ ﻭَ ﺑَﺮْﻫَﻦَ ﺑِﺎِﺟْﻤَﺎﻉِ ﺳُﻮَﺭِﻩِ ﺍﻟْﻘُﺪْﺳِﻴَّﺔِ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭِﻳَّﺔِ ﻭَ ﺑِﺎِﺗِّﻔَﺎﻕِ ﺍٰﻳَﺎﺗِﻪِ ﺍﻟﻨُّﻮﺭَﺍﻧِﻴَّﺔِ الْاِلٰهِيَّةِ ﻭَ ﺑِﺘَﻮَﺍﻓُﻖِ ﺍَﺳْﺮَﺍﺭِﻩِ ﻭَ ﺍَﻧْﻮَﺍﺭِﻩِ ﻭَ ﺑِﺘَﻄَﺎﺑُﻖِ ﺣَﻘَٓﺎﺋِﻘِﻪِ ﻭَ ﺛَﻤَﺮَﺍﺗِﻪِ ﻭَ ﺍٰﺛَﺎﺭِﻩِ ﺑِﺎﻟْﻤُﺸَﺎﻫَﺪَﺓِ ﻭَ ﺍﻟْﻌَﻴَﺎﻥِ

: .

Kemudian tamu serta musafir kehidupan tersebut mengetahui bahwa iman merupakan modal manusia paling berharga. Iman membuat manusia fakir memperoleh bukan hanya ladang ataupun rumah yang fana serta sementara, melainkan seluruh alam dan kerajaan yang kekal sebesar dunia; membuat manusia fana menemukan keperluan kehidupan abadi; menyelamatkan orang malang yang menunggu tiang gantungan ajal dari pemusnahan abadi; serta membuka khazanah kebahagiaan yang kekal selamanya. Ia berkata kepada nafsunya sendiri:

"Mari, maju! Untuk memperoleh satu tingkatan lagi dari tingkatan-tingkatan iman yang tiada batas, kita harus beralih kepada keseluruhan alam dan mendengarkan apa yang dikatakannya; melengkapi serta menerangi pelajaran-pelajaran yang kita terima dari unsur dan bagian-bagiannya." Ia pun memandang melalui teropong luas serta meliputi segala yang diperolehnya dari Al-Qur'an, dan melihat:

Kainat ini begitu bermakna serta teratur sehingga tampak seperti Kitab Yang Mahasuci yang berwujud nyata, Al-Qur'an Rabb dalam rupa jasmani, istana berhias Sang Shamad, serta kota Ar-Rahmân yang teratur. Seluruh surah, ayat, kata, bahkan huruf, bab, bagian, halaman, serta baris kitab itu selalu dihapus dan ditetapkan dengan makna, serta diubah dan diganti dengan Hikmah. Melalui ijmak, semuanya menyatakan dengan jelas Wujud serta Adanya Zat Yang Alîm atas segala sesuatu, Zat Yang Qadîr atas segala sesuatu, serta Penyusun, Sang Pengukir Dzul-Jalâl dan Sang Penulis Dzul-Kamâl, yang melihat segala sesuatu dalam setiap hal, mengetahui hubungan setiap hal dengan segala yang lain, serta menjaganya. Demikian pula, seluruh unsur, jenis, bagian, rincian, penghuni, isi, pemasukan, serta pengeluarannya, bersama perubahan yang bermanfaat dan pembaruan yang penuh Hikmah pada mereka, memberitahukan melalui kesepakatan Wujud serta Keesaan Sang Ahli Yang Luhur dan Sang Pembuat Yang Tiada Bandingan, yang bekerja melalui Kudrat tak terbatas serta Hikmah tiada akhir. Kesaksian dua hakikat besar dan luas, yang sesuai dengan kebesaran alam, membuktikan kesaksian besar alam ini.

HAKIKAT PERTAMA:

Hakikat "hudus"—bermula menjadi ada—serta "imkan"—mungkin ada dan mungkin tidak ada—yang dilihat para ulama jenius usuluddin serta ilmu kalam, juga para pemikir Islam, dan dibuktikan melalui bukti-bukti tak terbatas. Mereka berkata:

"Karena dalam alam serta setiap hal terdapat perubahan dan pergantian, tentu ia fana, bermula menjadi ada, serta tidak dapat ada sejak azali. Karena ia bermula menjadi ada, tentu ada Pembuat yang mewujudkannya. Karena tanpa suatu sebab, ada dan tidak adanya setiap hal sama bagi hakikat dirinya, tentu ia tidak dapat memiliki wujud yang niscaya serta azali. Bukti-bukti pasti juga telah menunjukkan bahwa saling menciptakan melalui hubungan sebab yang melingkar serta rangkaian sebab tanpa akhir, yang mustahil dan batil, tidak mungkin terjadi. Karena itu, tentu diperlukan Wujud Wâjibul Wujûd sedemikian rupa sehingga tandingan-Nya tidak mungkin, persamaan-Nya mustahil, segala yang lain mungkin ada, serta semua selain-Nya merupakan makhluk-Nya."

Ya, hakikat hudus meliputi alam. Sebagian besar terlihat oleh mata, dan bagian lainnya oleh akal. Sebab, di depan mata kita, setiap tahun pada musim gugur, suatu alam meninggal; bersama alam itu, seratus ribu jenis tumbuhan serta hewan kecil, yang masing-masing memiliki individu tak terbatas dan seperti alam yang hidup, juga meninggal. Namun, kematian itu begitu teratur sehingga mereka meninggalkan benih, biji, serta telur kecil—sarana kebangkitan dan penyebaran mereka, mukjizat Rahmat serta Hikmah, juga keajaiban Kudrat dan Ilmu—di tempat masing-masing untuk musim semi; menyerahkan buku catatan amal serta tata kerja tugas mereka ke tangan benih, biji, dan telur itu; lalu menitipkannya kepada Hikmah Sang Hafîzh Dzul-Jalâl di bawah Perlindungan-Nya. Barulah mereka meninggal.

Pada musim semi, sebagai seratus ribu contoh, perumpamaan, serta dalil Kebangkitan Agung, pohon, akar, serta sebagian hewan kecil yang meninggal itu dihidupkan kembali dan bangkit dengan diri yang sama. Di tempat sebagian lainnya, diciptakan serta dihidupkan yang sebanding dan persis menyerupai mereka. Segala yang ada pada musim semi sebelumnya menyebarkan halaman-halaman amal serta tugas yang mereka kerjakan seperti pengumuman, lalu memperlihatkan satu contoh ayat

ﻭَﺍِﺫَﺍ ﺍﻟﺼُّﺤُﻒُ ﻧُﺸِﺮَﺕْ

.

Dari segi keseluruhannya pula, pada setiap musim gugur serta musim semi, suatu alam besar meninggal dan alam baru terwujud. Kematian serta hudus itu berlangsung begitu teratur; dan di dalamnya, kematian serta hudus begitu banyak jenis terjadi dengan keteraturan serta ukuran demikian, sehingga dunia seolah-olah merupakan rumah tamu. Alam-alam yang hidup menjadi tamunya; alam-alam yang berkelana serta dunia-dunia yang berjalan datang kepadanya, menjalankan tugas, lalu pergi.

Wujud Yang Niscaya, Kudrat yang tiada batas, serta Hikmah yang tiada akhir dari Zat Dzul-Jalâl yang menciptakan dan mewujudkan dunia-dunia hidup serta alam-alam yang bertugas seperti itu dalam dunia ini, dengan Ilmu, Hikmah, ukuran, keseimbangan, keteraturan, serta tatanan sempurna; dan yang menggunakan mereka dengan penuh Kudrat serta mempekerjakan mereka dengan Kasih Sayang untuk Tujuan-Tujuan Rabb, Maksud-Maksud Ilahi, serta Khidmah Ar-Rahmân, tampak jelas bagi akal seperti matahari. Dengan menyerahkan persoalan "hudus" kepada Risale-i Nur serta kitab para peneliti ilmu kalam, kami menutup pembahasan itu.

Adapun segi imkan, ia pun meliputi serta mencakup alam. Sebab, kami melihat setiap hal, baik yang menyeluruh maupun yang juz'i, besar ataupun kecil, dari Arasy sampai bumi, dari zarah sampai planet, dikirim ke dunia dengan hakikat khusus, rupa tertentu, identitas yang memiliki ciri pembeda, sifat-sifat khusus, keadaan yang penuh Hikmah, serta perangkat yang bermanfaat. Padahal, memberi kekhususan itu kepada hakikat diri tersebut di antara kemungkinan-kemungkinan tak terbatas... Mengenakan rupa tertentu yang penuh ukiran, memiliki ciri pembeda, serta sesuai itu, di antara kemungkinan dan peluang sebanyak rupa-rupa... Mengkhususkan identitas yang layak dengan ciri pembeda itu kepada wujud yang bergolak di antara kemungkinan sebanyak individu sejenis... Menempatkan sifat-sifat khusus, sesuai, serta bermanfaat kepada ciptaan yang belum berbentuk dan belum pasti, di antara kemungkinan sebanyak jenis serta tingkatan sifat... Memasang dan melengkapi keadaan yang penuh Hikmah serta perangkat yang mendapat Inayah kepada makhluk yang bingung, berkelana, dan tidak memiliki tujuan dalam kemungkinan serta peluang tak terbatas, karena ia mungkin berada pada jalan dan cara yang tiada batas...

Tentu, dari hakikat imkan muncul isyarat, petunjuk, serta kesaksian sebanyak segala yang mungkin ada, baik yang menyeluruh maupun yang juz'i; juga sebanyak kemungkinan hakikat diri, identitas, susunan, rupa, sifat, serta keadaan yang telah disebut pada setiap wujud yang mungkin ada. Semuanya menunjukkan keniscayaan Wujud, Kudrat yang tiada batas, serta Hikmah yang tiada akhir dari Wâjibul Wujûd, Yang Mengkhususkan, Memilih, Menentukan, serta Mewujudkan; bahwa tidak ada sesuatu maupun urusan yang tersembunyi dari-Nya, tidak ada sesuatu yang berat bagi-Nya, dan sesuatu yang paling besar mudah bagi-Nya seperti yang paling kecil; serta bahwa Dia dapat menciptakan musim semi semudah pohon, dan pohon semudah benih. Semuanya membentuk satu sayap dari kesaksian besar alam ini.

Bagian-bagian Risale-i Nur, terutama Kalimat Kedua Puluh Dua serta Ketiga Puluh Dua, juga Surat Kedua Puluh

serta Ketiga Puluh Tiga, telah membuktikan dan menjelaskan sepenuhnya kesaksian alam dengan kedua sayap serta kedua hakikatnya. Karena itu, dengan menyerahkannya kepada bagian-bagian tersebut, kami memendekkan kisah yang sangat panjang ini.

Yang membuktikan sayap kedua dari kesaksian besar serta menyeluruh yang berasal dari keseluruhan alam ialah:

HAKIKAT KEDUA:

Pada makhluk-makhluk yang berusaha menjaga wujud serta khidmahnya, juga kehidupannya jika hidup, dan menjalankan tugasnya di tengah pergolakan serta perubahan yang terus-menerus ini, tampak hakikat saling membantu yang sama sekali berada di luar kekuatan mereka.

Misalnya, unsur-unsur menolong makhluk hidup, terutama awan membantu tumbuhan; tumbuhan membantu hewan; hewan membantu manusia; susu dari payudara seperti Kautsar memberi makan anak-anak makhluk; dan banyak kebutuhan serta perbekalan makhluk hidup, yang berada di luar kemampuan mereka, diserahkan ke tangan mereka dari tempat yang tidak diduga. Bahkan, zarah-zarah makanan berlari memperbaiki sel-sel tubuh. Melalui Penundukan Rabb serta Penggunaan oleh Ar-Rahmân, banyak contoh hakikat saling membantu seperti ini langsung menunjukkan Rububiyah Yang Umum serta Penuh Kasih Sayang dari Rabbul Alamin, yang mengelola seluruh alam seperti istana.

Ya, para pembantu yang tidak hidup, tanpa kesadaran, serta tanpa kasih sayang, tetapi bersikap seolah-olah penuh kasih serta kesadaran terhadap satu sama lain, tentu dibuat berlari memberikan pertolongan melalui Kekuatan, Rahmat, serta Perintah Rabb Dzul-Jalâl Yang Sangat Rahîm dan Hakîm.

Saling membantu secara umum yang berlangsung dalam alam; keseimbangan umum serta penjagaan menyeluruh yang mengalir dengan keteraturan sempurna, dari planet sampai anggota, perangkat, serta zarah tubuh makhluk hidup; Penghiasan yang menggerakkan pena dari wajah langit yang bersepuh dan wajah bumi yang berhias sampai wajah bunga yang penuh hiasan; Penataan yang berkuasa dari Bimasakti dan tata surya sampai buah-buah seperti jagung dan delima; serta Pemberian tugas kepada matahari, bulan, unsur, awan, sampai lebah: kesaksian hakikat-hakikat yang sangat besar seperti ini, sebanding dengan kebesaran mereka, membuktikan serta membentuk sayap kedua kesaksian alam. Karena Risale-i Nur telah membuktikan serta menjelaskan kesaksian besar ini, di sini kami mencukupkan diri dengan isyarat sangat ringkas tersebut.

Sebagai isyarat ringkas kepada pelajaran iman yang musafir dunia ini terima dari alam, pada tingkatan kedelapan belas Bagian Pertama diucapkan demikian:

لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍﻟْﻮَﺍﺟِﺐُ ﺍﻟْﻮُﺟُﻮﺩِ ﺍﻟْﻤُﻤْﺘَﻨِﻊُ ﻧَﻈ۪ﻴﺮُﻩُ ﺍَﻟْﻤُﻤْﻜِﻦُ ﻛُﻞُّ ﻣَﺎﺳِﻮَﺍﻩُ ﺍﻟْﻮَﺍﺣِﺪُ الْاَحَدُ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺩَﻝَّ ﻋَﻠٰﻰ ﻭُﺟُﻮﺏِ ﻭُﺟُﻮﺩِﻩِ ﻓ۪ﻰ ﻭَﺣْﺪَﺗِﻪِ ﻫٰﺬِﻩِ ﺍﻟْﻜَﺎﺋِﻨَﺎﺕُ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏُ ﺍﻟْﻜَﺒ۪ﻴﺮُ ﺍﻟْﻤُﺠَﺴَّﻢُ ﻭَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥُ ﺍﻟْﺠِﺴْﻤَﺎﻧِﻰُّ ﺍﻟْﻤُﻌَﻈَّﻢُ ﻭَ ﺍﻟْﻘَﺼْﺮُ ﺍﻟْﻤُﺰَﻳَّﻦُ ﺍﻟْﻤُﻨَﻈَّﻢُ ﻭَ ﺍﻟْﺒَﻠَﺪُ ﺍﻟْﻤُﺤْﺘَﺸَﻢُ ﺍﻟْﻤُﻨْﺘَﻈَﻢُ ﺑِﺎِﺟْﻤَﺎﻉِ ﺳُﻮَﺭِﻩِ ﻭَ ﺍٰﻳَﺎﺗِﻪِ ﻭَ ﻛَﻠِﻤَﺎﺗِﻪِ ﻭَ ﺣُﺮُﻭﻓِﻪِ ﻭَ ﺍَﺑْﻮَﺍﺑِﻪِ ﻭ ﻓُﺼُﻮﻟِﻪِ ﻭَ ﺻُﺤُﻔِﻪِ ﻭَ ﺳُﻄُﻮﺭِﻩِ ﻭَ ﺍِﺗِّﻔَﺎﻕِ ﺍَﺭْﻛَﺎﻧِﻪِ ﻭَ ﺍَﻧْﻮَﺍﻋِﻪِ ﻭَ ﺍَﺟْﺰَٓﺍﺋِﻪِ ﻭَ ﺟُﺰْﺋِﻴَّﺎﺗِﻪِ ﻭَ ﺳَﻜَﻨَﺘِﻪِ ﻭَ مُشْتَمِلَاتِهِ ﻭَ ﻭَﺍﺭِﺩَﺍﺗِﻪِ ﻭَ ﻣَﺼَﺎﺭِﻓِﻪِ ﺑِﺸَﻬَﺎﺩَﺓِ ﻋَﻈَﻤَﺔِ ﺍِﺣَﺎﻃَﺔِ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ ﺍﻟْﺤُﺪُﻭﺙِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﻐَﻴُّﺮِ ﻭَ الْاِمْكَانِ ﺑِﺎِﺟْﻤَﺎﻉِ ﺟَﻤ۪ﻴﻊِ ﻋُﻠَﻤَٓﺎﺀِ ﻋِﻠْﻢِ الْكَلَامِ ﻭَ ﺑِﺸَﻬَﺎﺩَﺓِ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ ﺗَﺒْﺪ۪ﻳﻞِ ﺻُﻮﺭَﺗِﻪِ ﻭَ مُشْتَمِلَاتِهِ ﺑِﺎﻟْﺤِﻜْﻤَﺔِ ﻭَ الْاِنْتِظَامِ ﻭَ ﺗَﺠْﺪ۪ﻳﺪِ ﺣُﺮُﻭﻓِﻪِ ﻭَ ﻛَﻠِﻤَﺎﺗِﻪِ ﺑِﺎﻟﻨِّﻈَﺎﻡِ ﻭَ ﺍﻟْﻤ۪ﻴﺰَﺍﻥِ ﻭَ ﺑِﺸَﻬَﺎﺩَﺓِ ﻋَﻈَﻤَﺔِ ﺍِﺣَﺎﻃَﺔِ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ ﺍﻟﺘَّﻌَﺎﻭُﻥِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﺠَﺎﻭُﺏِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﺴَﺎﻧُﺪِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﺪَﺍﺧُﻞِ ﻭَ ﺍﻟْﻤُﻮَﺍﺯَﻧَﺔِ ﻭَ ﺍﻟْﻤُﺤَﺎﻓَﻈَﺔِ ﻓ۪ﻰ ﻣَﻮْﺟُﻮﺩَﺍﺗِﻪِ ﺑِﺎﻟْﻤُﺸَﺎﻫَﺪَﺓِ ﻭَ ﺍﻟْﻌَﻴَﺎﻥِ

.

Kemudian, musafir yang penuh keingintahuan serta kerinduan, yang datang ke dunia dan mencari Sang Pencipta dunia itu, melalui mikraj iman dari delapan belas tingkatan yang mencapai arasy hakikat, maju dari makrifat tanpa menyaksikan kepada kedudukan hadir serta disapa. Ia berkata kepada ruhnya sendiri:

Sebagaimana dalam Al-Fatihah yang mulia, dari awal sampai kata ﺍِﻳَّﺎﻙَ, pujian serta sanjungan dalam bentuk orang ketiga mendatangkan kesadaran hadir di hadapan-Nya, lalu beralih kepada sapaan ﺍِﻳَّﺎﻙَ; kita pun harus berhenti mencari dari jauh dan langsung bertanya kepada Zat yang kita cari mengenai Diri-Nya. Matahari yang memperlihatkan setiap hal harus ditanyakan kepada matahari sendiri. Ya, Yang memperlihatkan setiap hal memperlihatkan Diri-Nya lebih daripada setiap hal. Karena itu, sebagaimana melihat serta mengenali matahari melalui sinarnya, kita dapat berusaha mengenal Khâliq kita melalui Asmaulhusna serta Sifat-Sifat Suci-Nya, sesuai kemampuan kita.

Dalam risalah ini, kami akan menjelaskan secara ringkas serta singkat dua jalan dari jalan-jalan tak terbatas menuju tujuan tersebut; dua tingkatan dari tingkatan-tingkatan tak terbatas kedua jalan itu; serta hanya dua hakikat dari sangat banyak hakikat dan uraian panjang kedua tingkatan tersebut.

HAKIKAT PERTAMA:

Dengan menyaksikan langsung melalui mata, tampak hakikat Kegiatan yang memenuhi alam, meliputi segala, terus berlangsung, teratur, dahsyat, serta menggerakkan, mengubah, dan memperbarui seluruh wujud langit maupun bumi. Dalam hakikat Kegiatan yang penuh Hikmah dari setiap segi itu, hakikat Kemunculan Rububiyah dirasakan dengan jelas. Dalam hakikat Kemunculan Rububiyah yang menebarkan Rahmat dari setiap segi itu, hakikat Tampilnya Keilahian diketahui dengan pasti.

Dari Kegiatan yang terus berlangsung, berkuasa, serta penuh Hikmah ini, dan di balik tabirnya, Perbuatan Sang Pelaku Yang Qadîr serta Alîm dirasakan seolah-olah terlihat.

Dari Perbuatan Rabb yang memelihara serta mengelola ini, dan di balik tabirnya, Asma Ilahi yang Manifestasinya terdapat pada setiap hal diketahui dengan kejelasan sampai tingkat dapat dirasakan.

Dari Asmaulhusna yang bermanifestasi dengan Jalal serta Jamal ini, dan di balik tabirnya, Wujud serta terwujudnya Tujuh Sifat Suci dipahami pada tingkat ilmulyaqin, bahkan ainulyaqin, bahkan haqqulyaqin.

Melalui kesaksian seluruh ciptaan, ketujuh Sifat Suci tersebut bertajalli tanpa batas dengan Kehidupan, Kudrat, Ilmu, Pendengaran, Penglihatan, Kehendak, serta Firman. Karena itu, dengan jelas, pasti, serta ilmulyaqin, Wujud Zat Pemilik Sifat Yang Wâjibul Wujûd, Pemilik Asma Yang Wâhid lagi Ahad, serta Pelaku Yang Fard lagi Shamad, diketahui dengan pasti seolah-olah terlihat oleh mata iman dalam hati, dengan cara yang lebih nyata serta lebih terang daripada matahari.

Sebab, kitab yang indah dan bermakna, serta rumah yang teratur, dengan jelas menuntut perbuatan menulis serta membuat. Perbuatan menulis dengan indah serta membuat dengan teratur pun dengan jelas menuntut sebutan penulis dan tukang kayu. Gelar penulis serta tukang kayu dengan jelas menuntut seni dan sifat kepenulisan serta pertukangan. Seni dan sifat tersebut tentu dengan jelas menuntut seseorang sebagai pemilik sifat, pembuat, pemilik sebutan, serta pelaku. Sebagaimana perbuatan tidak mungkin ada tanpa pelaku, dan nama tidak mungkin ada tanpa pemilik nama, sifat tanpa pemilik sifat, serta seni tanpa seniman, juga tidak mungkin ada.

Berdasarkan hakikat serta kaidah ini, kainat bersama seluruh wujudnya seperti kitab serta surat bermakna yang tiada batas, yang ditulis dengan pena Takdir; juga bangunan dan istana yang tiada akhir, yang dibuat dengan palu Kudrat. Masing-masing dari ribuan segi, dan bersama dari segi-segi tak terbatas, menunjukkan Perbuatan Rabb serta Ar-Rahmân yang tiada akhir; melalui Manifestasi tak terbatas dari seribu satu Asma Ilahi yang menjadi sumber Perbuatan itu, serta Tajalli tiada akhir dari Tujuh Sifat Yang Mahasuci yang menjadi sumber Asma indah tersebut, mereka memberikan isyarat tak terbatas serta kesaksian tiada akhir atas keniscayaan Wujud dan Keesaan Zat Dzul-Jalâl Yang Azali dan Abadi, yang menjadi sumber serta Pemilik ketujuh Sifat yang meliputi segala dan suci itu. Demikian pula, seluruh keelokan, keindahan, nilai, serta kesempurnaan pada segala yang ada bersaksi dengan jelas atas Keindahan dan Kesempurnaan Suci Perbuatan Rabb, Asma Ilahi, Sifat Sang Shamad, serta Syuunat (keadaan dan Kehendak Allah سُبْحَانَهُ) Yang Mahasuci, yang layak dan sesuai bagi masing-masing; semuanya bersama bersaksi atas Keindahan serta Kesempurnaan Suci Zat Yang Mahasuci.

Hakikat Rububiyah yang muncul dalam hakikat Kegiatan memperlihatkan serta memperkenalkan Diri-Nya melalui Syuunat dan Pengelolaan-Nya: menciptakan, mewujudkan, membuat, serta menciptakan pertama kali dengan Ilmu dan Hikmah; menetapkan ukuran, membentuk rupa, mengatur, serta menggerakkan dengan tatanan dan ukuran; mengubah, mengganti, menurunkan, serta menyempurnakan dengan Maksud dan Kehendak; memberi makan, memberi anugerah, memperlakukan dengan mulia, serta memberi kebaikan dengan Kasih Sayang dan Rahmat.

Hakikat Tampilnya Keilahian yang ditemukan serta dirasakan dengan jelas dalam hakikat Kemunculan Rububiyah pun memperkenalkan dan memberitahukan Diri-Nya melalui Manifestasi Asmaulhusna yang penuh Rahmat serta Kemuliaan; juga Tajalli Jalal dan Jamal dari tujuh Sifat Subutiyah: Hayat (Kehidupan), Ilmu, Kudrat, Iradah (Kehendak), Sam' (Pendengaran), Basar (Penglihatan), serta Kalam (Firman).

Ya, sebagaimana Sifat Kalam memperkenalkan Zat Yang Mahasuci melalui wahyu serta ilham, demikian pula, Sifat Kudrat memperkenalkan Zat Yang Mahasuci itu melalui karya-karya penuh seni, yang seperti kata-kata-Nya dalam rupa nyata. Ia memperlihatkan seluruh alam seperti Al-Furqan dalam rupa jasmani, serta melukiskan dan memperkenalkan Sang Qadîr Dzul-Jalâl.

Sifat Ilmu pun memperkenalkan satu Zat Yang Mahasuci, Pemilik Sifat itu, sebanyak seluruh ciptaan yang penuh Hikmah, teratur, serta terukur; dan sebanyak seluruh makhluk yang dikelola, diatur, dihiasi, serta dibedakan melalui Ilmu.

Adapun Sifat Hayat, seluruh karya yang memperkenalkan Kudrat; seluruh rupa serta keadaan yang teratur, penuh Hikmah, terukur, dan berhias, yang memperkenalkan Wujud Ilmu; serta seluruh dalil yang memperkenalkan Sifat lainnya, bersama dalil-dalil Sifat Hayat, menunjukkan terwujudnya Sifat Hayat.

Demikian pula, melalui seluruh dalil tersebut, Hayat memperlihatkan seluruh makhluk hidup, cermin-cerminnya, sebagai saksi, lalu memperkenalkan Zat Yang Hayy lagi Qayyûm.

Ia mengubah seluruh alam menjadi cermin agung yang terdiri atas cermin-cermin tak terbatas, yang selalu berubah dan diperbarui, untuk memperlihatkan Manifestasi serta ukiran baru dan berbeda setiap waktu. Dengan perbandingan ini, Sifat Melihat, Mendengar, Memilih, serta Berfirman pun masing-masing memperkenalkan serta memberitahukan Zat Yang Mahasuci sebanyak satu alam.

Sebagaimana Sifat-Sifat itu menunjukkan Wujud Zat Dzul-Jalâl, mereka juga menunjukkan dengan jelas adanya serta terwujudnya Hayat, dan bahwa Zat itu Hidup. Sebab, mengetahui merupakan tanda kehidupan; mendengar tanda hidup; melihat khusus bagi yang hidup; kehendak dapat ada melalui kehidupan; daya yang disertai pilihan terdapat pada makhluk hidup; dan berbicara merupakan perbuatan dari yang hidup serta mengetahui.

Dari pokok-pokok ini dapat dipahami bahwa Sifat Hayat memiliki dalil-dalil sebesar alam sebanyak tujuh kali, serta bukti-bukti yang memperkenalkan Wujud Sifat Hayat itu sendiri dan Wujud Pemilik Sifat itu. Ia menjadi dasar serta sumber seluruh Sifat, juga sumber dan tempat tertujunya Ismul A'zham. Karena Risale-i Nur telah membuktikan hakikat pertama ini melalui bukti-bukti yang kuat serta menjelaskannya sedikit, untuk sementara kami mencukupkan diri dengan tetes yang telah disebut dari lautan ini.

HAKIKAT KEDUA:

Firman Ilahi yang berasal dari Sifat Kalam. Melalui rahasia ayat

ﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟْﺒَﺤْﺮُ ﻣِﺪَﺍﺩًﺍ ﻟِﻜَﻠِﻤَﺎﺕِ ﺭَﺑّ۪ﻰ

, Firman Ilahi tiada akhir. Tanda paling nyata yang memperkenalkan adanya seseorang ialah perkataannya. Berarti, hakikat ini bersaksi tanpa batas atas Wujud serta Keesaan Zat Yang Berfirman Sejak Azali.

Dua kesaksian kuat dari hakikat ini datang melalui wahyu serta ilham, yang telah dijelaskan pada tingkatan keempat belas dan kelima belas risalah ini; satu kesaksian luas datang melalui kitab-kitab suci dari langit, yang diisyaratkan pada tingkatan kesepuluh; serta kesaksian lain yang sangat terang dan menyeluruh datang melalui Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya, pada tingkatan ketujuh belas. Karena itu, kami menyerahkan penjelasan serta kesaksian hakikat ini kepada tingkatan-tingkatan tersebut. Cahaya serta rahasia ayat yang sangat agung, yang mengumumkan hakikat ini dengan cara yang bermukjizat dan mengungkapkan kesaksiannya bersama kesaksian hakikat-hakikat lain,

ﺷَﻬِﺪَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﻧَّﻪُ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ ﻭَﺍﻟْﻤَﻠٰٓﺌِﻜَﺔُ ﻭَ ﺍُﻭﻟُﻮ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﻗَٓﺎﺋِﻤًﺎ ﺑِﺎﻟْﻘِﺴْﻂِ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻌَﺰ۪ﻳﺰُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ

,

telah mencukupi serta memadai bagi musafir kita ini, sehingga ia tidak dapat maju lebih jauh.

Sebagai isyarat ringkas kepada makna pelajaran yang musafir ini terima dari kedudukan suci tersebut, pada tingkatan kesembilan belas Bagian Pertama diucapkan

لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍﻟْﻮَﺍﺟِﺐُ ﺍﻟْﻮُﺟُﻮﺩِ ﺍﻟْﻮَﺍﺣِﺪُ الْاَحَدُ ﻟَﻪُ الْاَسْمَٓاءُ ﺍﻟْﺤُﺴْﻨٰﻰ ﻭَ ﻟَﻪُ ﺍﻟﺼِّﻔَﺎﺕُ ﺍﻟْﻌُﻠْﻴَﺎ ﻭَ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﻤَﺜَﻞُ الْاَعْلٰى ﺍَﻟَّﺬ۪ﻯ ﺩَﻝَّ ﻋَﻠٰﻰ ﻭُﺟُﻮﺏِ ﻭُﺟُﻮﺩِﻩِ ﻓ۪ﻰ ﻭَﺣْﺪَﺗِﻪِ ﺍَﻟﺬَّﺍﺕُ ﺍﻟْﻮَﺍﺟِﺐُ ﺍﻟْﻮُﺟُﻮﺩِ ﺑِﺎِﺟْﻤَﺎﻉِ ﺟَﻤ۪ﻴﻊِ ﺻِﻔَﺎﺗِﻪِ ﺍﻟْﻘُﺪْﺳِﻴَّﺔِ ﺍﻟْﻤُﺤ۪ﻴﻄَﺔِ ﻭَ ﺟَﻤ۪ﻴﻊِ ﺍَﺳْﻤَٓﺎﺋِﻪِ ﺍﻟْﺤُﺴْﻨٰﻰ ﺍَﻟْﻤُﺘَﺠَﻠِّﻴَّﺔِ ﺑِﺎِﺗِّﻔَﺎﻕِ ﺟَﻤ۪ﻴﻊِ ﺷُﺆُﻧَﺎﺗِﻪِ ﻭَ ﺍَﻓْﻌَﺎﻟِﻪِ ﺍﻟْﻤُﺘَﺼَﺮِّﻓَﺔِ ﺑِﺸَﻬَﺎﺩَﺓِ ﻋَﻈَﻤَﺔِ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ ﺗَﺒَﺎﺭُﺯِ الْاُلُوهِيَّةِ ﻓ۪ﻰ ﺗَﻈَﺎﻫُﺮِ ﺍﻟﺮُّﺑُﻮﺑِﻴَّﺔِ ﻓ۪ﻰ ﺩَﻭَﺍﻡِ ﺍﻟْﻔَﻌَّﺎﻟِﻴَّﺔِ ﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻮْﻟِﻴَﺔِ ﺑِﻔِﻌْﻞِ الْا۪يجَادِ ﻭَ ﺍﻟْﺨَﻠْﻖِ ﻭَ ﺍﻟﺼُّﻨْﻊِ ﻭَ الْاِبْدَاعِ ﺑِﺎِﺭَﺍﺩَﺓٍ ﻭَ ﻗُﺪْﺭَﺓٍ ﻭَ ﺑِﻔِﻌْﻞِ ﺍﻟﺘَّﻘْﺪ۪ﻳﺮِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﺼْﻮ۪ﻳﺮِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﺪْﺑ۪ﻴﺮِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﺪْﻭ۪ﻳﺮِ ﺑِﺎِﺧْﺘِﻴَﺎﺭٍ ﻭَ ﺣِﻜْﻤَﺔٍ ﻭَ ﺑِﻔِﻌْﻞِ ﺍﻟﺘَّﺼْﺮ۪ﻳﻒِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﻨْﻈ۪ﻴﻢِ ﻭَ ﺍﻟْﻤُﺤَﺎﻓَﻈَﺔِ ﻭَ الْاِدَارَةِ ﻭَ الْاِعَاشَةِ ﺑِﻘَﺼْﺪٍ ﻭَ ﺭَﺣْﻤَﺔٍ ﻭَ ﺑِﻜَﻤَﺎﻝِ الْاِنْتِظَامِ ﻭَ ﺍﻟْﻤُﻮَﺍﺯَﻧَﺔِ ﻭَ ﺑِﺸَﻬَﺎﺩَﺓِ ﻋَﻈَﻤَﺔِ ﺍِﺣَﺎﻃَﺔِ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ ﺍَﺳْﺮَﺍﺭِ

-

ﺷَﻬِﺪَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﻧَّﻪُ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ ﻭَ ﺍﻟْﻤَﻠٰٓﺌِﻜَﺔُ ﻭَ ﺍُﻭﻟُﻮﺍ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﻗَٓﺎﺋِﻤًﺎ ﺑِﺎﻟْﻘِﺴْﻂِ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻌَﺰ۪ﻳﺰُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ

.

PERINGATAN

Setiap hakikat yang memberikan kesaksian dalam sembilan belas tingkatan Bab Pertama dari Bagian Kedua sebelumnya menunjukkan keniscayaan Wujud melalui terwujud serta adanya hakikat itu. Melalui lingkupnya yang meliputi segala, masing-masing juga menunjukkan Keesaan serta Ahadiyah. Namun, karena paling awal hakikat-hakikat itu membuktikan Wujud dengan jelas, mereka dianggap sebagai dalil keniscayaan Wujud.

Adapun Bab Kedua dari Bagian Kedua disebut bukti-bukti tauhid, karena paling awal serta dengan jelas membuktikan Keesaan, dan di dalamnya membuktikan Wujud. Sebenarnya, keduanya membuktikan kedua hal tersebut. Untuk mengisyaratkan perbedaannya, dalam Bab Pertama diulang ungkapan

ﺑِﺸَﻬَﺎﺩَﺓِ ﻋَﻈَﻤَﺔِ ﺍِﺣَﺎﻃَﺔِ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ

; dan dalam Bab Kedua, untuk mengisyaratkan munculnya Keesaan seolah-olah terlihat, diulang ungkapan

ﺑِﻤُﺸَﺎﻫَﺪَﺓِ ﻋَﻈَﻤَﺔِ ﺍِﺣَﺎﻃَﺔِ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ

.

Aku berniat menjelaskan tingkatan-tingkatan Bab Kedua berikut seperti Bab Pertama. Namun, karena beberapa keadaan menghalangi, aku terpaksa meringkas serta menyingkatnya. Kami menyerahkan penjelasan yang sepenuhnya kepada Risale-i Nur.

BAB KEDUA

Mengenai Bukti-Bukti Tauhid

Tamu dunia, yang dikirim ke dunia untuk iman, berkelana dengan pikiran dalam seluruh kainat, bertanya kepada setiap hal mengenai Khâliq-nya, mencari Rabbnya di setiap tempat, dan menemukan Ilahnya dari segi keniscayaan Wujud pada tingkat haqqulyaqin, berkata kepada akalnya, "Mari, kita akan kembali melakukan perjalanan bersama untuk menyaksikan bukti-bukti Keesaan Khâliq kita, Wâjibul Wujûd."

Mereka pergi bersama. Pada tempat pertama, mereka melihat bahwa empat hakikat suci yang meliputi kainat menuntut serta mengharuskan Keesaan sampai tingkat yang jelas dengan sendirinya. HAKIKAT PERTAMA:

"KEILAHIAN MUTLAK".

Ya, setiap kelompok manusia menjalankan suatu jenis ibadah, seolah-olah secara fitri; khidmah fitri makhluk hidup lainnya, bahkan benda-benda tak hidup, juga merupakan suatu jenis ibadah. Setiap nikmat serta anugerah materi maupun maknawi dalam kainat merupakan sarana untuk pemujaan dan syukur, yang membuat pujian serta ibadah dijalankan bagi Zat Yang Berhak Disembah. Seluruh limpahan gaib serta kemunculan maknawi, seperti wahyu dan ilham, mengumumkan bahwa satu Ilah berhak disembah. Semua ini tentu membuktikan dengan jelas bahwa Keilahian Mutlak terwujud serta berkuasa.

Karena hakikat Keilahian seperti ini ada, tentu ia tidak dapat menerima persekutuan. Sebab, mereka yang menyambut Keilahian, yakni Hak Untuk Disembah, melalui syukur serta ibadah, merupakan buah-buah yang memiliki kesadaran pada ujung pohon kainat. Pihak lain membuat makhluk-makhluk yang memiliki kesadaran itu puas serta berutang budi, mengarahkan wajah mereka kepada pihak tersebut, dan membuat mereka melupakan Ma'bûd sejatinya, yang dapat cepat dilupakan karena tidak terlihat. Hal ini begitu bertentangan dengan

hakikat serta Tujuan-Tujuan Suci Keilahian sehingga ia tidak mengizinkannya dari segi apa pun.

Dari segi inilah Al-Qur'an sangat sering serta tegas menolak syirik dan mengancam kaum musyrik dengan neraka. HAKIKAT KEDUA:

"RUBUBIYAH MUTLAK".

Ya, dalam seluruh kainat, terutama makhluk hidup, khususnya pemeliharaan serta pemberian makanan mereka, terdapat Pengelolaan yang umum oleh Sang Pengelola Yang Gaib, dengan penuh Hikmah serta Kasih Sayang, dalam cara yang sama di setiap sisi, secara bersamaan dan saling terjalin, serta dengan cara yang tidak diduga. Tentu, Pengelolaan itu merupakan limpahan serta cahaya Rububiyah Mutlak, dan bukti pasti bahwa Rububiyah itu terwujud.

Karena Rububiyah Mutlak ada, tentu ia tidak menerima syirik maupun persekutuan. Sebab, Tujuan-Tujuan serta Maksud-Maksud terpenting Rububiyah—seperti menampakkan Keindahan-Nya, mengumumkan Kesempurnaan-Nya, menampilkan Seni-Nya yang berharga, serta memperlihatkan Kemahiran-Nya yang tersembunyi—terpusat dan berkumpul pada yang kecil serta makhluk hidup. Syirik yang ikut campur atas kemauannya sendiri dalam sesuatu yang paling kecil serta makhluk hidup terkecil merusak Tujuan-Tujuan itu serta menghancurkan Maksud-Maksud tersebut. Syirik mengalihkan wajah makhluk yang memiliki kesadaran dari Tujuan-Tujuan itu serta Zat yang menghendakinya, lalu mengarahkan mereka kepada sebab-sebab. Keadaan ini sepenuhnya bertentangan serta bermusuhan dengan hakikat Rububiyah. Karena itu, Rububiyah Mutlak seperti ini tentu tidak mengizinkan syirik dari segi apa pun.

Banyak takdis serta tasbih Al-Qur'an, dan bimbingannya yang terus-menerus kepada tauhid melalui ayat dan kata, bahkan huruf serta susunannya, berasal dari rahasia besar ini. HAKIKAT KETIGA:

"KESEMPURNAAN".

Ya, seluruh Hikmah luhur, keindahan menakjubkan, hukum yang adil, serta tujuan yang penuh Hikmah dalam kainat menunjukkan dengan jelas adanya hakikat kesempurnaan. Terutama, kesaksiannya atas Kesempurnaan Khâliq yang menciptakan kainat ini dari keadaan tidak ada serta mengelolanya dalam rupa yang penuh mukjizat dan keindahan dari setiap segi; juga atas kesempurnaan manusia, cermin Khâliq yang memiliki kesadaran, sangat nyata.

Karena hakikat kesempurnaan ada; karena Kesempurnaan Khâliq yang menciptakan kainat dalam kesempurnaan adalah pasti; dan karena kesempurnaan manusia—buah terpenting kainat, khalifah bumi, ciptaan Khâliq yang paling penting, serta kekasih-Nya—benar dan sesuai hakikat;

tentu syirik tidak dapat ada dan tidak memiliki kebenaran. Sebab, syirik mengubah kainat yang penuh kesempurnaan serta Hikmah, yang terlihat oleh mata kita ini, menjadi sesuatu yang terombang-ambing dalam keadaan fana serta lenyap, tanpa hasil: mainan kebetulan, arena permainan alam, tempat penyembelihan yang kejam bagi makhluk hidup, serta tempat kesedihan yang dahsyat bagi makhluk yang memiliki kesadaran. Syirik juga menurunkan manusia, yang kesempurnaannya tampak melalui hasil-hasilnya, kepada derajat hewan paling malang, paling kacau, serta paling rendah; dan menutupi Kesempurnaan Khâliq, yang memiliki Kesempurnaan Suci tanpa akhir melalui kesaksian seluruh wujud, cermin Kesempurnaan-Nya. Dengan memasang tabir, syirik meniadakan hasil Kegiatan serta Penciptaan-Nya.

Pertentangan syirik terhadap Kesempurnaan Ilahi, kesempurnaan manusia, serta kesempurnaan kainat, dan perusakannya terhadap semua kesempurnaan tersebut, telah dibuktikan dan dijelaskan melalui dalil-dalil kuat serta pasti dalam Bagian Pertama Risalah Sinar Kedua, mengenai tiga buah tauhid. Karena itu, kami menyerahkannya kepada bagian tersebut dan menyingkat di sini. HAKIKAT KEEMPAT:

"KEKUASAAN".

Ya, orang yang memandang kainat dengan perhatian luas melihatnya seperti negeri yang sangat megah serta penuh kegiatan, bahkan kota yang pengelolaannya penuh Hikmah dan kekuasaannya sangat kuat. Ia mendapati setiap hal serta setiap jenis ditundukkan dalam suatu tugas. Menurut perumpamaan ayat

ﻭَﻟِﻠّٰﻪِ ﺟُﻨُﻮﺩُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ

, yang memberi kesan makna keprajuritan, dalam pasukan Rabb—dari pasukan zarah, divisi tumbuhan, batalion hewan, sampai pasukan bintang—pada petugas-petugas kecil serta prajurit-prajurit sangat besar itu berlaku Perintah Penciptaan yang Berkuasa, Ketetapan yang Memerintah, serta Hukum Kerajaan. Semua itu menunjukkan dengan jelas adanya Kekuasaan Mutlak serta Wewenang Perintah Yang Menyeluruh.

Karena hakikat Kekuasaan Mutlak ada, tentu syirik tidak dapat memiliki kebenaran. Sebab, melalui hakikat pasti ayat

ﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﻓ۪ﻴﻬِﻤَﺎ ﺍٰﻟِﻬَﺔٌ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻟَﻔَﺴَﺪَﺗَﺎ

, jika banyak tangan ikut campur dalam suatu pekerjaan dengan tindakan sewenang-wenang, mereka membuatnya kacau. Jika terdapat dua raja dalam suatu negeri, bahkan dua kepala distrik dalam satu distrik, keteraturan rusak serta pengelolaan menjadi kacau. Padahal, dari sayap lalat sampai lampu-lampu langit, dan dari sel-sel tubuh sampai gugusan planet, terdapat keteraturan sedemikian rupa sehingga tidak dapat terjadi campur tangan syirik sebesar zarah.

Kekuasaan juga merupakan kedudukan kemuliaan; menerima saingan merusak kemuliaan Kekuasaan tersebut. Ya, manusia, yang membutuhkan banyak pembantu karena tak berdaya,

membunuh saudara serta anaknya sendiri dengan zalim demi kekuasaan yang terbatas, lahiriah, serta sementara. Hal ini menunjukkan bahwa kekuasaan tidak menerima saingan. Jika orang yang begitu tidak berdaya bertindak demikian demi kekuasaan yang begitu terbatas; tentu sama sekali tidak mungkin Sang Qadîr Mutlak, Pemilik seluruh kainat, menyertakan pihak lain dalam Kekuasaan Suci-Nya, yang menjadi tempat tertujunya Rububiyah serta Keilahian-Nya yang hakiki dan menyeluruh, ataupun mengizinkan sekutu.