PENDAHULUAN
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻭَﻣَﺎ ﺧَﻠَﻘْﺖُ ﺍﻟْﺠِﻦَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا ﻟِﻴَﻌْﺒُﺪُﻭﻥِ
Melalui rahasia ayat yang agung ini, Hikmah serta tujuan manusia dikirim ke dunia ialah mengenal Khâliq kainat, beriman kepada-Nya, serta beribadah kepada-Nya. Tugas fitrah serta kewajiban yang dipikul manusia ialah makrifatullah dan iman kepada Allah سُبْحَانَهُ, juga membenarkan Wujud serta Keesaan-Nya dengan pengakuan serta keyakinan pasti.
Ya, bagi manusia malang yang secara fitri menginginkan kehidupan yang terus berlangsung serta hidup abadi, dan yang memiliki harapan tak terbatas serta derita tiada akhir, tentu segala sesuatu dan berbagai kesempurnaan selain iman kepada Allah سُبْحَانَهُ serta makrifatullah—dasar utama dan kunci kehidupan abadi itu—beserta sarana-sarananya, berada pada tingkat yang lebih rendah jika dibandingkan dengan manusia tersebut. Bahkan, kebanyakannya tidak memiliki nilai.
Karena hakikat ini telah dibuktikan melalui bukti-bukti yang kuat dalam Risale-i Nur, kami menyerahkannya kepada Risale-i Nur. Kami hanya akan menjelaskan, dalam empat persoalan, dua bahaya yang pada abad ini mengguncang serta menimbulkan keraguan terhadap keyakinan iman tersebut.
Jalan keselamatan dari bahaya pertama
Terdiri atas dua persoalan.
PERSOALAN PERTAMA:
Sebagaimana telah dibuktikan secara terperinci dalam Lem'a Ketiga Belas dari Surat Ketiga Puluh Satu, dalam persoalan-persoalan umum, penolakan tidak memiliki nilai serta sangat sedikit kekuatan di hadapan bukti.
Misalnya, dalam persoalan melihat hilal pada awal Ramadan yang mulia, jika dua saksi dari kalangan awam membuktikan adanya hilal, sedangkan ribuan tokoh terkemuka serta orang berilmu menolaknya dengan berkata, "Kami tidak melihatnya," penolakan mereka tidak memiliki nilai maupun kekuatan. Sebab, ketika membuktikan sesuatu, terdapat saling menguatkan, saling menopang, serta ijmak. Dalam penolakan, tidak ada perbedaan antara satu ataupun seribu orang; masing-masing tetap sendiri serta terpisah.
Sebab, orang yang membuktikan memandang kenyataan di luar dirinya serta menetapkan sesuai nafsul-amr (kenyataan itu sendiri). Misalnya, sebagaimana contoh kita, jika seseorang berkata, "Di langit terdapat bulan," sahabatnya yang lain menunjukkan dengan jari ke arah yang sama; keduanya bersatu serta menjadi kuat.
Dalam penolakan serta pengingkaran, seseorang tidak memandang dan tidak dapat memandang nafsul-amr. Sebab, "Penolakan yang tidak bersifat khusus serta tidak mengarah kepada tempat tertentu tidak dapat dibuktikan," merupakan kaidah yang terkenal. Misalnya, jika aku membuktikan bahwa sesuatu ada di dunia, dan engkau berkata, "Tidak ada di dunia," untuk membuktikan penolakanmu—yakni bahwa sesuatu yang mudah kubuktikan melalui satu isyarat itu tidak ada—engkau harus mencari, menelusuri, serta memperlihatkan seluruh dunia, bahkan melihat setiap sisi masa lalu. Barulah engkau dapat berkata, "Tidak ada; tidak pernah terjadi."
Orang yang menolak serta mengingkari tidak memandang nafsul-amr; mereka menetapkan dengan memandang diri, akal, serta mata mereka sendiri. Karena itu, tentu mereka tidak dapat saling menguatkan maupun menopang. Sebab, tabir serta penyebab yang menghalangi mereka melihat dan mengetahui berbeda-beda. Setiap orang dapat berkata, "Aku tidak melihatnya; ia tidak ada di dekatku serta dalam keyakinanku." Namun, ia tidak dapat berkata, "Dalam kenyataan ia tidak ada." Jika mengatakannya, terutama dalam persoalan iman yang berkaitan dengan seluruh kainat, hal itu menjadi dusta sebesar dunia, yang tidak dapat dikatakan benar maupun dibenarkan.
Kesimpulannya,
ketika sesuatu dibuktikan, hasilnya satu dan tunggal; terdapat saling menopang. Dalam penolakan, hasilnya bukan satu, melainkan banyak. Hasil-hasil itu menjadi banyak seiring beragamnya batasan seperti "di dekatku serta dalam pandanganku" ataupun "dalam keyakinanku", sesuai setiap orang; sehingga tidak lagi terdapat saling menopang.
Dari segi hakikat ini, banyaknya orang kafir serta pengingkar yang menentang iman, meskipun tampak berjumlah besar, tidak memiliki nilai. Padahal, hal itu tidak semestinya memberikan sedikit pun keraguan kepada keyakinan serta iman seorang mukmin. Namun, pada abad ini, penolakan serta pengingkaran para filsuf Eropa menimbulkan keraguan pada sebagian pengagumnya yang malang, menghapus keyakinan mereka, serta menghancurkan kebahagiaan abadi mereka. Hal itu mengubah kematian serta ajal, yang setiap hari menimpa tiga puluh ribu manusia, dari makna pembebastugasan menjadi pemusnahan abadi. Kubur yang pintunya tidak tertutup terus mengingatkan pengingkar itu akan pemusnahannya, lalu meracuni kehidupannya yang nikmat dengan derita menyakitkan. Pahamilah betapa besar nikmat iman, serta bahwa iman merupakan kehidupan bagi kehidupan!
PERSOALAN KEDUA:
Dalam persoalan suatu ilmu atau seni yang diperdebatkan, perkataan orang-orang di luar ilmu serta seni itu tidak memiliki bobot, betapa pun besar, berilmu, serta mahir mereka;
penetapan mereka tidak menjadi hujah, serta mereka tidak dianggap termasuk dalam ijmak para ahli ilmu tersebut.
Misalnya, pendapat seorang insinyur terkemuka dalam mengenali serta mengobati suatu penyakit tidak memiliki bobot yang sama dengan pendapat seorang dokter biasa. Terutama, perkataan pengingkaran seorang filsuf terbesar, yang banyak tenggelam dalam materi, semakin jauh dari yang maknawi, menjadi tumpul serta kasar terhadap cahaya, dan membatasi akalnya pada matanya, tidak diperhitungkan serta tidak memiliki nilai dalam persoalan maknawi.
Dalam persoalan tauhid, kesucian, serta maknawi yang disepakati ratusan ribu orang yang menempuh hakikat, seperti Syekh Jailani (K.S.)—yang, meskipun berada di bumi, menyaksikan Arasy Agung, memiliki kejeniusaan suci yang menakjubkan, selama sembilan puluh tahun maju serta bekerja dalam hal maknawi, dan menyingkap hakikat-hakikat iman melalui ilmulyaqin (yakin melalui ilmu), ainulyaqin, bahkan haqqulyaqin (yakin melalui pengalaman nyata)—seberapa bernilai perkataan para filsuf yang tenggelam dalam perincian materi yang paling terpencar serta bagian paling kecil dari kemajemukan, menjadi linglung, dan terbenam? Tidakkah penolakan serta keberatan mereka menjadi redup seperti suara nyamuk di hadapan gemuruh petir?
Hakikat kekufuran yang menentang serta melawan hakikat-hakikat Islam ialah pengingkaran, ketidaktahuan, serta penolakan. Meskipun dari segi rupa tampak sebagai bukti dan bersifat wujud, maknanya ialah keadaan tidak ada.
Adapun iman merupakan ilmu, bersifat wujud, memberi bukti, serta merupakan penetapan. Setiap persoalannya yang berbentuk penolakan pun merupakan gelar serta tabir suatu hakikat yang positif.
Jika orang-orang kafir yang melawan iman berusaha, dengan kesulitan besar, membuktikan serta menerima keyakinan penolakan mereka dalam bentuk menetapkan dan membenarkan bahwa sesuatu itu tidak ada, kekufuran tersebut dari satu segi dapat dianggap sebagai ilmu yang salah serta penetapan yang keliru. Namun, jika hanya berupa tidak menerima, mengingkari, serta tidak membenarkan, yang sangat mudah dilakukan, itu merupakan ketidaktahuan mutlak serta tidak adanya penetapan.
Kesimpulannya,
keyakinan kufur terdiri atas dua jenis:
PERTAMA: Tidak mengarah kepada hakikat-hakikat Islam. Ia merupakan pembenaran yang salah, keyakinan yang batil, menerima sesuatu secara keliru, serta penetapan yang zalim, yang khusus baginya. Jenis ini berada di luar pembahasan kami. Ia tidak mencampuri kami, dan kami pun tidak mencampurinya.
KEDUA: Menentang serta melawan hakikat-hakikat iman. Ini pun terdiri atas dua jenis:
Pertama: Tidak menerima. Ia hanya tidak membenarkan bukti. Ini merupakan ketidaktahuan serta tidak adanya penetapan, dan mudah dilakukan. Ini juga berada di luar pembahasan kami.
Kedua: Menetapkan bahwa sesuatu itu tidak ada. Yakni, membenarkan dalam hati bahwa ia tidak ada. Jenis ini merupakan penetapan, keyakinan, serta komitmen. Demi komitmen itu, ia juga wajib membuktikan penolakannya.
Penolakan pun terdiri atas dua jenis:
PERTAMA: Berkata, "Tidak ada di tempat tertentu serta dari segi khusus." Jenis ini dapat dibuktikan. Jenis ini juga berada di luar pembahasan kami.
JENIS KEDUA: Menolak serta mengingkari persoalan-persoalan iman yang suci, umum, serta meliputi segala, yang berkaitan dengan dunia, kainat, akhirat, serta berbagai abad. Sebagaimana telah kami jelaskan dalam persoalan pertama, penolakan ini tidak dapat dibuktikan dari segi apa pun. Untuk membuktikan penolakan seperti itu, diperlukan pandangan yang meliputi kainat, melihat akhirat, serta menyaksikan setiap sisi waktu yang tiada batas.
Bahaya kedua serta jalan keselamatan
Ini pun terdiri atas dua persoalan:
PERTAMA: Dari segi Keagungan, Kebesaran, serta sifat tiada akhir, akal yang menyempit karena tenggelam dalam kelalaian, maksiat, ataupun materi, tidak dapat mencakup persoalan-persoalan yang agung; sehingga, dengan kesombongan ilmu, mereka menyimpang menuju pengingkaran serta penolakan. Ya, karena tidak dapat memuat persoalan-persoalan iman yang sangat luas, mendalam, serta meliputi segala dalam akal mereka yang secara maknawi terhimpit dan mengering, serta hati mereka yang rusak serta mati dalam hal maknawi, mereka melemparkan diri ke dalam kekufuran serta kesesatan, lalu tenggelam.
Jika dapat memandang dengan saksama bagian dalam kekufuran serta hakikat kesesatan mereka sendiri, mereka akan melihat bahwa di bawah serta di dalam kekufuran itu terdapat hal-hal yang mustahil, tidak mungkin, serta tidak dapat terjadi pada kadar seratus tingkat, jika dibandingkan dengan Keagungan dalam iman, yang masuk akal, layak, serta diperlukan.
Risale-i Nur telah membuktikan hakikat ini melalui ratusan ukuran serta perbandingan, dengan kepastian setingkat "Dua kali dua sama dengan empat." Misalnya, orang yang tidak dapat menerima keniscayaan Wujud Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, Keazalian-Nya, serta Sifat-Sifat-Nya yang meliputi segala, karena Keagungan semua itu, hanya dapat meyakini kekufurannya dengan memberikan keniscayaan wujud, keazalian, serta sifat-sifat keilahian itu kepada wujud-wujud tak terbatas, bahkan zarah-zarah yang tiada akhir. Atau, seperti kaum sofis yang bodoh, ia harus
mengingkari serta menolak dirinya sendiri maupun wujud kainat, lalu mengundurkan diri dari akal.
Demikian pula, seluruh hakikat iman serta Islam bersandar pada Keagungan yang merupakan sifat serta tuntutannya sendiri, menyelamatkan manusia dari hal-hal mustahil yang dahsyat, takhayul-takhayul liar, serta ketidaktahuan-ketidaktahuan gelap dari kekufuran yang menentangnya; lalu menempatkan keadaan-keadaannya dalam hati yang bersih serta akal yang lurus, dengan pengakuan dan penyerahan yang sempurna.
Ya, pengumuman Keagungan serta Kebesaran Allah سُبْحَانَهُ setiap waktu melalui banyak ucapan
ﺍَﻟﻠّﻪُ ﺍَﻛْﺒَﺮُ ٭ ﺍَﻟﻠّﻪُ ﺍَﻛْﺒَﺮُ ٭ ﺍَﻟﻠّﻪُ ﺍَﻛْﺒَﺮُ ٭ ﺍَﻟﻠّﻪُ ﺍَﻛْﺒَﺮُ
dalam kebanyakan syiar Islam, seperti azan serta salat; Firman hadis qudsi
ﺍَﻟْﻌَﻈَﻤَﺔُ ﺍِﺯَﺍﺭ۪ﻯ ﻭَ ﺍﻟْﻜِﺒْﺮِﻳَٓﺎﺀُ ﺭِﺩَﺍﺋ۪ﻰ
; dan ungkapan munajat Ahmad ﷺ yang sangat penuh makrifat dalam bagian kedelapan puluh enam munajat "Cevşenü'l-Kebir",
ﻳَﺎ ﻣَﻦْ لَا ﻣُﻠْﻚَ اِلَّا ﻣُﻠْﻜَﻪُ ٭ ﻳَﺎ ﻣَﻦْ لَا ﻳُﺤْﺼِﻰ ﺍﻟْﻌِﺒَﺎﺩُ ﺛَﻨَﺎﺋَﻪُ ٭ ﻳَﺎ ﻣَﻦْ لَا ﺗَﺼِﻒُ الْخَلَٓائِقُ جَلَالَهُ ٭ ﻳَﺎ ﻣَﻦْ لَا ﻳَﻨَﺎﻝُ الْاَوْهَامُ ﻛُﻨْﻬَﻪُ ٭ ﻳَﺎ ﻣَﻦْ لَا ﻳُﺪْﺭِﻙُ الْاَبْصَارُ ﻛَﻤَﺎﻟَﻪُ ٭ ﻳَﺎ ﻣَﻦْ لَا ﻳَﺒْﻠُﻎُ الْاَفْهَامُ ﺻِﻔَﺎﺗَﻪُ ٭ ﻳَﺎ ﻣَﻦْ لَا ﻳَﻨَﺎﻝُ الْاَفْكَارُ ﻛِﺒْﺮِﻳَٓﺎﺋَﻪُ ٭ ﻳَﺎ ﻣَﻦْ لَا ﻳُﺤْﺴِﻦُ الْاِنْسَانُ ﻧُﻌُﻮﺗَﻪُ ٭ ﻳَﺎ ﻣَﻦْ لَا ﻳَﺮُﺩُّ ﺍﻟْﻌِﺒَﺎﺩُ ﻗَﻀَٓﺎﺋَﻪُ ٭ ﻳَﺎ ﻣَﻦْ ﻇَﻬَﺮَ ﻓ۪ﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﺍٰﻳَﺎﺗُﻪُ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﻳَﺎ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّٓا ﺍَﻧْﺖَ الْاَمَانُ الْاَمَانُ ﻧَﺠِّﻨَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ
, menunjukkan bahwa Keagungan serta Kebesaran merupakan tabir yang diperlukan.
--
Âyetü'l-Kübra
Kesaksian seorang pengembara yang bertanya kepada kainat tentang Khâliq-nya.
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﺗُﺴَﺒِّﺢُ ﻟَﻪُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕُ ﺍﻟﺴَّﺒْﻊُ وَالْاَرْضُ ﻭَﻣَﻦْ ﻓ۪ﻴﻬِﻦَّ ﻭَ ﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪ ﻭَﻟٰﻜِﻦْ لَا ﺗَﻔْﻘَﻬُﻮﻥَ ﺗَﺴْﺒ۪ﻴﺤَﻬُﻢْ ﺍِﻧَّﻪُ ﻛَﺎﻥَ ﺣَﻠ۪ﻴﻤًﺎ ﻏَﻔُﻮﺭًﺍ
[Bagian Kedua ini, sambil menafsirkan ayat yang amat agung ini, menjelaskan bukti-bukti dan hujah-hujah Bagian Pertama berbahasa Arab yang tidak disertakan, serta terjemahan dan suatu maknanya yang singkat.]
Demikianlah: Banyak ayat Al-Qur'an, seperti ayat yang sangat agung ini, menyebut langit paling awal untuk memperkenalkan Khâliq kainat. Langit merupakan halaman tauhid yang paling terang, yang setiap waktu dipandang dengan kekaguman terbesar serta dikaji dengan nikmat oleh setiap orang. Karena itu, sesuai untuk memulai darinya.
Ya, setiap tamu yang datang ke negeri serta rumah tamu dunia ini, ketika membuka mata dan memandang, sangat ingin mengetahui serta mengenal Pemilik rumah tamu yang indah ini, Penulis kitab besar ini, serta Sultan negeri megah ini. Rumah tamu ini merupakan tempat perjamuan yang sangat murah hati, tempat pameran yang sangat penuh seni, perkemahan serta tempat latihan yang sangat megah, tempat perjalanan serta menyaksikan pemandangan yang sangat menakjubkan dan membangkitkan semangat, juga tempat kajian yang sangat bermakna serta penuh hikmah. Paling awal, tampak wajah indah langit yang ditulis dengan lapisan cahaya. Langit berkata, "Pandanglah aku; aku akan memperkenalkan kepadamu Yang engkau cari!" Musafir itu pun memandang dan melihat:
Manifestasi Rububiyah menahan ratusan ribu benda langit—sebagian di antaranya seribu kali lebih besar daripada bumi kita, dan sebagian benda besar itu tujuh puluh tingkat lebih cepat daripada peluru meriam—tanpa tiang serta tanpa menjatuhkannya; menjalankan mereka bersama dengan kecepatan yang melampaui batas tanpa saling bertabrakan; terus menyalakan lampu-lampu tak terbatas itu tanpa minyak serta tanpa memadamkannya; mengelola massa-massa yang besar tanpa akhir itu tanpa menimbulkan suara maupun kekacauan; serta mempekerjakan makhluk-makhluk yang sangat besar tersebut dalam tugas-tugasnya tanpa membuat mereka sedikit pun memberontak, seperti tugas matahari serta
bulan. Pada jarak yang tiada akhir, yang tidak termuat dalam angka-angka perhitungan pada lingkaran kedua kutub, Rububiyah itu mengelola mereka bersama, tanpa kekurangan, pada waktu yang sama, dengan Daya yang sama, cara yang sama, cap fitrah yang sama, serta bentuk yang sama; membuat benda-benda yang membawa daya sangat besar serta melampaui batas itu menaati Hukum-Nya tanpa melampaui batas; membuatnya dibersihkan dengan sangat terang dan indah tanpa memberi tempat bagi sampah seperti puing-puing kerumunan yang tiada akhir itu untuk mengotori wajah langit; menjalankannya dengan manuver seperti manuver pasukan yang teratur; serta, dengan memutar bumi, memperlihatkan kepada makhluk-makhluk penyaksi-Nya bentuk nyata serta bayangan dari manuver megah itu dalam rupa lain, setiap malam dan setiap tahun, seperti adegan-adegan bioskop. Dalam kegiatan Rububiyah itu terlihat hakikat yang terdiri atas Penundukan, Pengaturan, Pemutaran, Penataan, Pembersihan, serta Pemberian tugas. Dengan Keagungan serta Cakupan ini, hakikat tersebut bersaksi dengan menyaksikan langsung bahwa Wujud Khâliq langit niscaya, bahwa Dia Esa, serta bahwa Adanya Dia lebih nyata daripada adanya langit. Dengan makna ini, pada anak tangga pertama Bagian Pertama diucapkan
لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍﻟْﻮَﺍﺟِﺐُ ﺍﻟْﻮُﺟُﻮﺩِ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺩَﻝَّ ﻋَﻠٰﻰ ﻭُﺟُﻮﺏِ ﻭُﺟُﻮﺩِﻩِ ﻓ۪ﻰ ﻭَﺣْﺪَﺗِﻪِ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕُ ﺑِﺠَﻤ۪ﻴﻊِ ﻣَﺎ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﺑِﺸَﻬَﺎﺩَﺓِ ﻋَﻈَﻤَﺔِ ﺍِﺣَﺎﻃَﺔِ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ ﺍﻟﺘَّﺴْﺨ۪ﻴﺮِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﺪْﺑ۪ﻴﺮِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﺪْﻭ۪ﻳﺮِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﻨْﻈ۪ﻴﻢِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﻨْﻈ۪ﻴﻒِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﻮْﻇ۪ﻴﻒِ ﺍﻟْﻮَﺍﺳِﻌَﺔِ ﺍﻟْﻤُﻜَﻤَّﻠَﺔِ ﺑِﺎﻟْﻤُﺸَﺎﻫَﺪَﺓِ
.
Kemudian, ruang yang disebut angkasa langit, tempat berhimpunnya keajaiban, berbicara dengan gemuruh serta berseru kepada musafir dan tamu yang datang ke dunia itu, "Pandanglah aku! Melalui diriku, engkau dapat mengetahui serta menemukan Yang engkau cari dengan penuh keingintahuan dan Yang mengirimmu ke sini." Tamu itu memandang wajahnya yang masam, tetapi penuh belas kasih; mendengarkan gemuruhnya yang dahsyat, tetapi membawa kabar gembira, dan melihat:
Awan yang ditahan menggantung di antara bumi serta langit menyirami kebun bumi dengan cara yang sangat penuh hikmah dan kasih sayang, membawa air kehidupan kepada para penghuni bumi, meredakan panas—yakni kedahsyatan api kehidupan—serta datang menolong setiap tempat sesuai kebutuhan. Selain menjalankan banyak tugas seperti itu, awan besar yang tiba-tiba memenuhi angkasa pun bersembunyi seperti pasukan teratur yang muncul dan menghilang sesuai perintah-perintah yang mendesak; seluruh bagiannya pergi beristirahat, dan tidak terlihat bekasnya sama sekali. Kemudian, begitu menerima Perintah "Ke tugas hujan, maju!",
dalam satu jam, bahkan beberapa menit, ia berkumpul dan memenuhi angkasa, lalu berdiri seolah-olah menunggu perintah seorang komandan.
Kemudian musafir itu memandang angin di angkasa dan melihat: udara digunakan untuk begitu banyak tugas dengan cara yang sangat penuh hikmah serta kemurahan hati. Seolah-olah setiap zarah udara yang tidak hidup serta tidak memiliki kesadaran itu mendengar serta mengetahui Perintah yang datang dari Sultan kainat ini; tanpa meninggalkan satu pun, ia melaksanakan serta menunaikannya dengan teratur melalui Kekuatan Komandan itu. Melalui Pengelolaan Yang Gaib, udara digunakan dengan penuh Kesadaran, Ilmu, serta Pemeliharaan Kehidupan untuk banyak tugas dan khidmah yang menyeluruh, seperti memberikan napas kepada seluruh penghuni bumi; mengangkut zat-zat seperti panas, cahaya, serta listrik, juga suara, yang diperlukan makhluk hidup; dan menjadi sarana penyerbukan tumbuhan.
Kemudian ia memandang hujan dan melihat: dalam tetes-tetes yang lembut, jernih, serta manis, yang dikirim dari keadaan tidak ada serta dari khazanah Rahmat yang gaib itu, terdapat begitu banyak hadiah dari Ar-Rahmân serta tugas, sehingga hujan memiliki makna seolah-olah Rahmat menjadi nyata dalam rupa tetes-tetes yang mengalir dari khazanah Rabb. Karena itu, hujan diberi nama "rahmat".
Kemudian ia memandang kilat serta mendengarkan guruh, dan melihat bahwa keduanya dipekerjakan dalam khidmah yang sangat menakjubkan serta ganjil.
Lalu ia menarik pandangannya, beralih kepada akalnya, dan berkata kepada dirinya: awan yang tidak hidup serta tidak memiliki kesadaran, seperti kapas yang dicabik ini, tentu tidak mengetahui kita, tidak datang berlari menolong kita dengan belas kasih atas kemauannya sendiri, serta tidak muncul maupun bersembunyi tanpa perintah. Sebaliknya, ia bergerak melalui Perintah Komandan Yang Sangat Qadîr serta Rahîm, sehingga bersembunyi tanpa meninggalkan bekas dan muncul seketika untuk mulai bekerja. Melalui Firman serta Kekuatan Sultan Yang Sangat Aktif, Mahaluhur, Penuh Manifestasi, serta Megah, dari waktu ke waktu ia memenuhi dan mengosongkan alam angkasa; menjadikannya papan untuk terus menulis dengan Hikmah serta menghapus ketika tugas selesai, lembar penghapusan serta penetapan, juga gambaran kebangkitan serta kiamat. Melalui Pengaturan Penguasa Yang Mengelola—yang penuh Lutf dan Kebaikan, sangat Mulia, serta Penuh Pemeliharaan Rabb—ia menaiki angin dan memuat khazanah hujan seperti gunung, lalu mencapai tempat-tempat yang membutuhkan. Seolah-olah merasa iba serta menangis untuk mereka, melalui air matanya ia membuat mereka tersenyum dengan bunga; mendinginkan api matahari yang kuat; memercikkan air ke kebun-kebun mereka seperti spons; serta mencuci dan membersihkan wajah bumi.
Musafir yang penuh keingintahuan itu juga berkata kepada akalnya: ratusan ribu pekerjaan, anugerah, serta pertolongan yang penuh hikmah, kasih sayang, dan seni muncul melalui tabir serta rupa lahiriah udara ini—yang tidak hidup, tanpa jiwa, tanpa kesadaran, terus bergolak, tidak menetap, penuh badai dan kegaduhan, tidak mantap, serta tanpa
tujuan. Semua itu membuktikan dengan jelas bahwa angin yang rajin serta pelayan yang lincah ini tidak memiliki gerakan apa pun atas kemauannya sendiri; sebaliknya, ia bergerak melalui Perintah Atasan Yang Sangat Qadîr serta Alîm, Sangat Hakîm serta Karîm.
Seolah-olah setiap zarahnya, seperti prajurit yang mengetahui setiap pekerjaan serta memahami dan mendengar setiap Perintah Atasan itu, mendengar dan menaati setiap Perintah Rabb yang berlangsung dalam udara. Aku melihat: selain khidmah umum serta menyeluruh seperti membantu seluruh hewan bernapas dan hidup; membantu penyerbukan, pertumbuhan, serta penyampaian zat-zat yang diperlukan kehidupan tumbuhan; menggerakkan dan mengelola awan; gerak serta perjalanan kapal tanpa api; terutama menyampaikan suara, dan terutama percakapan melalui telepon serta telegraf tanpa kabel dan radio; zarah-zarah udara, yang hanya terdiri atas dua zat sederhana seperti nitrogen serta oksigen, meskipun saling serupa, digunakan dengan Hikmah-Nya serta keteraturan sempurna dalam ratusan ribu ragam Seni Rabb pada permukaan bumi.
Ia berkata serta menetapkan: sesuai pernyataan tegas ayat
ﻭَﺗَﺼْﺮ۪ﻳﻒِ ﺍﻟﺮِّﻳَﺎﺡِ ﻭَﺍﻟﺴَّﺤَﺎﺏِ ﺍﻟْﻤُﺴَﺨَّﺮِ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀِ وَالْاَرْضِ
, Yang mengarahkan angin dan menggunakannya dalam khidmah Rabb yang tiada batas, menundukkan awan serta mempekerjakannya dalam tugas-tugas Ar-Rahmân yang tiada batas, dan menciptakan udara dalam rupa tersebut, hanyalah Rabb Dzul-Jalâl wal-Ikrâm, Wâjibul Wujûd, Yang Qadîr atas segala sesuatu serta Alîm atas segala sesuatu.
Kemudian ia memandang hujan dan melihat: di dalamnya terdapat manfaat sebanyak butirnya, Manifestasi Rahmat Ar-Rahmân sebanyak tetesnya, serta hikmah sebanyak perciknya. Tetes-tetes yang manis, lembut, serta penuh berkah itu diciptakan dengan begitu teratur dan indah; terutama hujan es yang datang pada musim panas dikirim serta turun dengan ukuran dan keteraturan demikian, sehingga angin kencang yang bergolak dalam badai serta membenturkan benda-benda besar tidak merusak keseimbangan maupun keteraturannya, serta tidak membenturkan dan menggabungkan tetes-tetesnya menjadi massa yang berbahaya. Air ini, yang tersusun dari dua zat sederhana, tak hidup, serta tanpa kesadaran—hidrogen dan oksigen—dipekerjakan dalam ratusan ribu khidmah serta karya seni yang penuh hikmah, kesadaran, dan keragaman, seperti berbagai pekerjaan penuh hikmah tersebut, terutama dalam makhluk hidup. Berarti, hujan yang merupakan Rahmat itu sendiri yang menjadi nyata dalam rupa ini hanya dibuat dalam khazanah Rahmat yang gaib dari Ar-Rahmân Yang Rahîm;
dan melalui turunnya, ia menafsirkan ayat
ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﻳُﻨَﺰِّﻝُ ﺍﻟْﻐَﻴْﺚَ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِ ﻣَﺎ ﻗَﻨَﻄُﻮﺍ ﻭَﻳَﻨْﺸُﺮُ ﺭَﺣْﻤَﺘَﻪُ
secara nyata.
Kemudian ia mendengarkan guruh serta memandang kilat. Ia melihat bahwa, selain menafsirkan secara nyata ayat
ﻭَﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺍﻟﺮَّﻋْﺪُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪
serta
ﻳَﻜَﺎﺩُ ﺳَﻨَﺎ ﺑَﺮْﻗِﻪِ ﻳَﺬْﻫَﺐُ بِالْاَبْصَارِ
dengan tepat, kedua peristiwa angkasa yang menakjubkan ini memberitakan datangnya hujan serta memberikan kabar gembira kepada yang membutuhkan.
Ya, melalui keadaan yang penuh hikmah serta menakjubkan—seperti tiba-tiba membuat angkasa berbicara dari tidak ada dengan gemuruh yang luar biasa; memenuhi angkasa gelap dengan cahaya melalui terang dan api yang luar biasa; serta menyalakan awan-awan seperti kapas sebesar gunung, yang bagaikan pompa hujan es, salju, dan air—keduanya memukul kepala manusia lalai yang tertunduk seperti palu, dan mengingatkan, "Angkatlah kepalamu! Pandang pekerjaan luar biasa Zat Yang Aktif serta Berkuasa, yang ingin memperkenalkan Diri-Nya! Sebagaimana engkau tidak dibiarkan tanpa pengawasan, peristiwa-peristiwa ini pun tidak dapat terjadi tanpa pengawasan. Masing-masing dibuat berlari mengejar tugas yang penuh hikmah. Semuanya dipekerjakan oleh Sang Pengatur Yang Hakîm."
Musafir yang penuh keingintahuan ini pun mendengar kesaksian yang luhur serta nyata dari hakikat yang terdiri atas Penundukan awan, Pengarahan angin, Penurunan hujan, serta Pengaturan peristiwa-peristiwa angkasa, lalu berkata, "Âmentü billah". Ungkapan
لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍﻟْﻮَﺍﺟِﺐُ ﺍﻟْﻮُﺟُﻮﺩِ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺩَﻝَّ ﻋَﻠٰﻰ ﻭُﺟُﻮﺏِ ﻭُﺟُﻮﺩِﻩِ ﺍﻟْﺠَﻮُّ ﺑِﺠَﻤ۪ﻴﻊِ ﻣَﺎ ﻓ۪ﻴﻪِ ﺑِﺸَﻬَﺎﺩَﺓِ ﻋَﻈَﻤَﺔِ ﺍِﺣَﺎﻃَﺔِ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ ﺍﻟﺘَّﺴْﺨ۪ﻴﺮِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﺼْﺮ۪ﻳﻒِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﻨْﺰ۪ﻳﻞِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﺪْﺑ۪ﻴﺮِ ﺍﻟْﻮَﺍﺳِﻌَﺔِ ﺍﻟْﻤُﻜَﻤَّﻠَﺔِ ﺑِﺎﻟْﻤُﺸَﺎﻫَﺪَﺓِ
pada tingkatan kedua Bagian Pertama mengungkapkan apa yang disaksikan musafir tersebut mengenai angkasa. (Peringatan: Aku ingin menjelaskan sedikit tiga puluh tiga tingkatan tauhid yang terdapat dalam Bagian Pertama. Namun, karena keadaan sekarang serta kondisiku tidak memungkinkan, aku terpaksa mencukupkan diri dengan bukti-buktinya yang sangat ringkas serta terjemahan maknanya. Karena tiga puluh tiga tingkatan ini, beserta dalilnya, telah dijelaskan dengan cara yang berbeda-beda dalam tiga puluh, bahkan seratus risalah Risale-i Nur—sebagian tingkatan dalam setiap risalah—perinciannya diserahkan kepada risalah-risalah tersebut.)
Kemudian bola bumi berkata melalui bahasa keadaan kepada tamu yang bertafakur serta telah terbiasa dengan perjalanan pikiran itu, "Apa yang engkau cari sambil berkelana di langit, ruang, serta udara? Datanglah; aku akan memperkenalkan kepadamu Yang engkau cari. Pandang tugas-tugas yang kujalankan dan bacalah halaman-halamanku!" Ia pun memandang dan melihat:
Seperti darwis Mevlevi yang diliputi tarikan, bumi, melalui dua gerakannya, menggambar lingkaran yang menjadi sarana munculnya hari, tahun, serta musim di sekeliling medan Kebangkitan Agung. Bumi juga merupakan kapal Rabb yang megah serta ditundukkan, yang memuat seratus ribu jenis makhluk hidup bersama seluruh perbekalan dan kebutuhannya, membawa mereka berkelana di lautan ruang dengan keseimbangan serta keteraturan sempurna, dan melakukan perjalanan mengelilingi matahari.
Kemudian ia memandang halaman-halaman bumi dan melihat bahwa setiap halaman dalam bab-babnya memperkenalkan Rabb bumi melalui ribuan tanda. Karena tidak memiliki waktu untuk membaca seluruhnya, ia hanya memandang satu halaman: penciptaan serta pengelolaan makhluk hidup pada musim semi. Ia menyaksikan:
Rupa individu-individu tak terbatas dari seratus ribu jenis dibuka dari bahan sederhana dengan sangat teratur, dan mereka dipelihara dengan penuh kasih. Dengan cara yang sangat bermukjizat, benih sebagian dari mereka diberi sayap-sayap kecil, lalu disebarkan dengan diterbangkan. Mereka dikelola dengan sangat teratur, diberi perbekalan serta makanan dengan penuh kasih sayang; dan rezeki yang tak terbatas, beragam, lezat, serta manis ditumbuhkan bagi mereka dengan penuh kasih dan Pemberian Rezeki, dari keadaan tidak ada, tanah kering, serta akar-akar seperti tulang, benih, dan tetes air, yang saling serupa serta hanya sedikit berbeda. Seperti gerbong, setiap musim semi dimuati seratus ribu jenis makanan serta keperluan dari khazanah gaib dengan keteraturan sempurna, lalu dikirim kepada makhluk hidup.
Terutama, pengiriman susu yang terkemas bagi anak-anak makhluk dalam paket-paket perbekalan tersebut, serta pompa-pompa kecil susu manis yang tergantung pada dada ibu mereka yang penuh kasih, terlihat dalam kasih sayang, Rahmat, serta Hikmah sedemikian rupa sehingga membuktikan dengan jelas bahwa hal itu merupakan Manifestasi Rahmat dan Kebaikan Ar-Rahmân Yang Rahîm dengan penuh Kasih Sayang serta Pemeliharaan.
Kesimpulannya,
halaman kehidupan musim semi ini, dengan memperlihatkan seratus ribu contoh serta perumpamaan Kebangkitan Agung, menafsirkan ayat
ﻓَﺎﻧْﻈُﺮْ ﺍِﻟٰٓﻰ ﺍٰﺛَﺎﺭِ ﺭَﺣْﻤَﺖِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻛَﻴْﻒَ ﻳُﺤْﻴِﻰ الْاَرْضَ ﺑَﻌْﺪَ ﻣَﻮْﺗِﻬَﺎ ﺍِﻥَّ ﺫٰﻟِﻚَ ﻟَﻤُﺤْﻴِﻰ ﺍﻟْﻤَﻮْﺗٰﻰ ﻭَﻫُﻮَ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ
secara nyata dengan sangat terang; ayat ini pun mengungkapkan makna-makna halaman tersebut dengan cara yang bermukjizat. Ia memahami bahwa bumi, bersama seluruh halamannya, mengucapkan Lâ ilahe illâ Hû dengan daya yang sebanding dengan kebesarannya.
Melalui kesaksian ringkas satu segi dari dua puluh segi satu halaman di antara lebih dari dua puluh halaman besar bola bumi, juga untuk mewakili apa yang disaksikan musafir tersebut pada halaman-halaman dari segi lainnya dan mengungkapkan apa yang disaksikannya itu pada tingkatan ketiga Bagian Pertama diucapkan demikian:
لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍﻟْﻮَﺍﺟِﺐُ ﺍﻟْﻮُﺟُﻮﺩِ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺩَﻝَّ ﻋَﻠٰﻰ ﻭُﺟُﻮﺏِ ﻭُﺟُﻮﺩِﻩِ ﻓ۪ﻰ ﻭَﺣْﺪَﺗِﻪِ الْاَرْضُ ﺑِﺠَﻤ۪ﻴﻊِ ﻣَﺎ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﻭَ ﻣَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺑِﺸَﻬَﺎﺩَﺓِ ﻋَﻈَﻤَﺔِ ﺍِﺣَﺎﻃَﺔِ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ ﺍﻟﺘَّﺴْﺨ۪ﻴﺮِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﺪْﺑ۪ﻴﺮِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﺮْﺑِﻴَﺔِ ﻭَ ﺍﻟْﻔَﺘَّﺎﺣِﻴَّﺔِ ﻭَ ﺗَﻮْﺯ۪ﻳﻊِ ﺍﻟْﺒُﺬُﻭﺭِ ﻭَ ﺍﻟْﻤُﺤَﺎﻓَﻈَﺔِ ﻭَ الْاِدَارَةِ ﻭَ الْاِعَاشَةِ ﻟِﺠَﻤ۪ﻴﻊِ ﺫَﻭِﻯ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓِ ﻭَ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﺎﻧِﻴَّﺔِ ﻭَ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻤِﻴَّﺔِ ﺍﻟْﻌَﺎﻣَّﺔِ ﺍﻟﺸَّﺎﻣِﻠَﺔِ ﺍﻟْﻤُﻜَﻤَّﻠَﺔِ ﺑِﺎﻟْﻤُﺸَﺎﻫَﺪَﺓِ
Setiap kali membaca suatu halaman, iman musafir yang bertafakur itu, kunci kebahagiaan, menjadi lebih kuat; makrifatnya, kunci kemajuan maknawi, bertambah; dan hakikat iman kepada Allah سُبْحَانَهُ, dasar serta tambang seluruh kesempurnaan, tersingkap satu tingkat lagi serta memberinya banyak kesenangan dan nikmat maknawi. Karena semuanya sangat menggugah keingintahuannya, meskipun telah mendengarkan pelajaran sempurna serta pasti dari langit, angkasa, dan bumi, ia terus mengucapkan ﻫَﻞْ ﻣِﻦْ ﻣَﺰ۪ﻳﺪٍ. Kemudian ia mendengar zikir laut-laut serta sungai-sungai besar dalam gemuruh dan gejolak yang memikat, juga suara-suara mereka yang sendu serta nikmat. Melalui bahasa keadaan serta bahasa ucapan, mereka berkata, "Pandanglah kami pula; bacalah kami pula!" Ia pun memandang dan melihat:
Laut-laut, yang terus bergolak seperti hidup, dan yang fitrahnya menyebar, tumpah, serta meluas, mengelilingi bumi. Meskipun dibuat berlari sangat cepat bersama bumi dalam lingkaran sejarak dua puluh lima ribu tahun selama satu tahun, laut-laut itu tidak menyebar, tidak tumpah, serta tidak melampaui batas tanah di dekatnya. Berarti, melalui Perintah serta Kekuatan Zat Yang Sangat Berkuasa dan Agung, mereka berhenti, berjalan, serta dipelihara.
Kemudian ia memandang bagian dalam laut dan melihat: selain permata-permatanya yang sangat indah, berhias, serta teratur, pemberian makanan serta pengelolaan
ribuan macam hewan, kelahiran serta kematian mereka begitu teratur; perbekalan serta jatah makanan mereka dari pasir sederhana dan air asin begitu sempurna, sehingga membuktikan dengan jelas bahwa semuanya berlangsung melalui Pengelolaan serta Pemberian Makanan dari Sang Qadîr Dzul-Jalâl serta Sang Rahîm Dzul-Jamâl.
Kemudian tamu itu memandang sungai-sungai dan melihat: manfaat, tugas, pemasukan, serta pengeluaran mereka begitu penuh hikmah dan kasih sayang sehingga membuktikan dengan jelas bahwa seluruh sungai, mata air, aliran air, serta sungai besar keluar dan mengalir dari khazanah Rahmat Ar-Rahmân Dzul-Jalâl wal-Ikrâm. Bahkan, penyimpanan serta pengeluarannya begitu luar biasa sehingga diriwayatkan, "Empat sungai datang dari surga." Yakni, karena berada jauh di atas sebab-sebab lahiriah, maknanya ialah bahwa sungai-sungai itu mengalir dari khazanah surga maknawi, serta hanya dari limpahan sumber gaib yang tidak habis.
Misalnya, Sungai Nil yang diberkahi, yang mengubah padang pasir Mesir menjadi surga, terus mengalir dari gunung yang disebut "Cebel-i Kamer" di arah selatan, seperti laut kecil yang tidak habis. Jika pengeluarannya selama enam bulan dikumpulkan dan dibekukan dalam bentuk gunung, ia akan lebih besar daripada gunung tersebut. Padahal, tempat serta ruang penyimpanan yang diperuntukkan bagi Sungai Nil dalam gunung itu tidak mencapai seperenamnya. Pemasukannya ialah hujan yang sangat sedikit turun di wilayah panas tersebut, serta hanya sedikit mencapai tempat penyimpanan karena segera diserap tanah yang kehausan; tentu hujan itu tidak dapat menjaga keseimbangan yang luas tersebut. Karena itu, riwayat bahwa Sungai Nil yang diberkahi itu keluar dari surga gaib yang melampaui kebiasaan bumi mengungkapkan hakikat yang sangat bermakna serta indah.
Ia melihat seperseribu hakikat serta kesaksian laut dan sungai yang seluas laut. Ia memahami bahwa semuanya, melalui ijmak, mengucapkan Lâ ilahe illâ Hû dengan daya yang sebanding dengan kebesaran laut, serta menunjukkan saksi bagi kesaksian itu sebanyak makhluk laut. Dengan maksud meniatkan serta mengungkapkan seluruh kesaksian laut dan sungai, pada tingkatan keempat Bagian Pertama diucapkan
لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍﻟْﻮَﺍﺟِﺐُ ﺍﻟْﻮُﺟُﻮﺩِ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺩَﻝَّ ﻋَﻠٰﻰ ﻭُﺟُﻮﺏِ ﻭُﺟُﻮﺩِﻩِ ﻓ۪ﻰ ﻭَﺣْﺪَﺗِﻪِ ﺟَﻤ۪ﻴﻊِ ﺍﻟْﺒِﺤَﺎﺭِ ﻭَ الْاَنْهَارِ ﺑِﺠَﻤ۪ﻴﻊِ ﻣَﺎ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﺑِﺸَﻬَﺎﺩَﺓِ ﻋَﻈَﻤَﺔِ ﺍِﺣَﺎﻃَﺔِ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ ﺍﻟﺘَّﺴْﺨ۪ﻴﺮِ ﻭَ ﺍﻟْﻤُﺤَﺎﻓَﻈَﺔِ ﻭَ الْاِدِّخَارِ ﻭَ الْاِدَارَةِ ﺍﻟْﻮَﺍﺳِﻌَﺔِ ﺍﻟْﻤُﻨْﺘَﻈَﻤَﺔِ ﺑِﺎﻟْﻤُﺸَﺎﻫَﺪَﺓِ
.
Kemudian gunung serta padang memanggil musafir yang sedang melakukan perjalanan pikiran itu dan berkata, "Bacalah pula halaman-halaman kami!" Ia pun memandang dan melihat:
Tugas-tugas menyeluruh serta khidmah umum gunung begitu agung dan penuh hikmah sehingga membuat akal terheran. Misalnya, gunung-gunung keluar dari bumi melalui Perintah Rabb. Dengan munculnya, gunung-gunung itu menenangkan gejolak, amarah, serta rasa geram di dalam bumi yang berasal dari perubahan-perubahan dalamnya. Melalui semburan serta lubang gunung itu, bumi bernapas, terbebas dari guncangan yang berbahaya serta gempa yang merusak, dan tidak mengganggu ketenteraman para penghuninya dalam tugas perputarannya.
Berarti, sebagaimana tiang kapal dipasang untuk melindunginya dari guncangan serta menjaga keseimbangannya; demikian pula, melalui banyak ayat seperti
ﻭَ ﺍﻟْﺠِﺒَﺎﻝَ ﺍَﻭْﺗَﺎﺩًﺍ ٭ ﻭَﺍَﻟْﻘَﻴْﻨَﺎ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﺭَﻭَﺍﺳِﻰَ ٭ ﻭَﺍﻟْﺠِﺒَﺎﻝَ ﺍَﺭْﺳٰﻴﻬَﺎ
, Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya menyatakan bahwa gunung merupakan tiang-tiang berisi khazanah bagi kapal bumi, dengan makna tersebut.
Misalnya pula, dalam gunung, segala jenis sumber, air, mineral, bahan, serta obat yang diperlukan makhluk hidup disimpan, disiapkan, dan ditumpuk dengan Hikmah, Pengaturan, Kemurahan Hati, serta Kehati-hatian demikian; ia memahami bahwa semuanya membuktikan dengan jelas bahwa gunung merupakan khazanah, gudang, serta pelayan Sang Qadîr yang Kudrat-Nya tiada akhir, dan Sang Hakîm yang Hikmah-Nya tiada akhir.
Dengan membandingkan tugas serta Hikmah lain dari padang dan gunung, yang sebesar gunung, dengan kedua permata ini, ia melihat kesaksian yang mereka berikan serta tauhid Lâ ilahe illâ Hû yang mereka ucapkan melalui seluruh Hikmah mereka, terutama dari segi penyimpanan persediaan untuk kebutuhan mendatang. Ia melihat kesaksian itu dengan daya serta keteguhan gunung, juga keluasan serta kebesaran padang, lalu berkata, "Âmentü Billah".
Untuk mengungkapkan makna ini, pada tingkatan kelima Bagian Pertama diucapkan
لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍﻟْﻮَﺍﺟِﺐُ ﺍﻟْﻮُﺟُﻮﺩِ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺩَﻝَّ ﻋَﻠٰﻰ ﻭُﺟُﻮﺏِ ﻭُﺟُﻮﺩِﻩِ ﺟَﻤ۪ﻴﻊُ ﺍﻟْﺠِﺒَﺎﻝِ ﻭَ ﺍﻟﺼَّﺤَﺎﺭٰﻯ ﺑِﺠَﻤ۪ﻴﻊِ ﻣَﺎ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﻭَ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺑِﺸَﻬَﺎﺩَﺓِ ﻋَﻈَﻤَﺔِ ﺍِﺣَﺎﻃَﺔِ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ الْاِدِّخَارِ ﻭَ الْاِدَارَةِ ﻭَ ﻧَﺸْﺮِ ﺍﻟْﺒُﺬُﻭﺭِ ﻭَ ﺍﻟْﻤُﺤَﺎﻓَﻈَﺔِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﺪْﺑ۪ﻴﺮِ الْاِحْتِيَاطِيَّةِ ﺍﻟﺮَّﺑَّﺎﻧِﻴَّﺔِ ﺍﻟْﻮَﺍﺳِﻌَﺔِ ﺍﻟْﻌَﺎﻣَّﺔِ ﺍﻟْﻤُﻨْﺘَﻈَﻤَﺔِ ﺍﻟْﻤُﻜَﻤَّﻠَﺔِ ﺑِﺎﻟْﻤُﺸَﺎﻫَﺪَﺓِ
.
Kemudian, ketika musafir itu berkelana dengan pikirannya di gunung serta padang, pintu alam pepohonan dan tumbuhan terbuka bagi pikirannya. Mereka memanggilnya masuk dan berkata, "Datanglah, berkelanalah pula dalam lingkup kami, dan bacalah tulisan-tulisan kami!" Ia pun masuk dan melihat:
Mereka membentuk majelis tahlil serta tauhid yang sangat megah dan berhias, juga lingkaran zikir serta syukur. Dari bahasa keadaan mereka, ia memahami bahwa seluruh jenis pohon serta tumbuhan, melalui ijmak, seolah-olah bersama mengucapkan Lâ ilahe illallah. Sebab, ia melihat tiga hakikat besar yang menyeluruh, yang menunjukkan serta bersaksi bahwa seluruh pohon dan tumbuhan yang berbuah memberikan kesaksian dengan tasbih serta mengucapkan Lâ ilahe illâ Hû, melalui lidah daun-daunnya yang terukur serta fasih, ungkapan bunga-bunganya yang berhias serta kuat, dan kata-kata buahnya yang teratur serta penuh balagah:
PERTAMA: Sebagaimana makna serta hakikat Pemberian dan Perlakuan mulia yang disengaja, juga Kebaikan serta Pemberian karunia yang dilakukan atas Kehendak-Nya, dirasakan pada setiap pohon dan tumbuhan dengan sangat jelas; dalam keseluruhannya, makna serta hakikat itu terlihat seperti sinar matahari ketika matahari muncul.
KEDUA: Makna serta hakikat Pembedaan dan Pemisahan yang disengaja serta penuh Hikmah, juga Penghiasan dan Pemberian rupa yang dilakukan atas Kehendak-Nya serta penuh Kasih Sayang, terlihat seterang siang dalam jenis serta individu yang tiada batas itu. Sama sekali tidak ada kemungkinan untuk menyerahkannya kepada kebetulan. Semuanya menunjukkan bahwa mereka merupakan karya serta ukiran Sang Pembuat Yang Hakîm.
KETIGA: Rupa ciptaan-ciptaan yang tiada batas itu memiliki seratus ribu macam, dengan cara serta bentuk yang berbeda, sangat teratur, terukur, dan berhias. Dari benih serta biji-biji kecil yang terbatas dan dapat dihitung jumlahnya, saling serupa, sederhana, tak hidup, sama atau hanya sedikit berbeda, serta bercampur, terbuka rupa seluruh individu dari dua ratus ribu jenis tersebut: memiliki ciri pembeda, teratur, berbeda-beda, seimbang, hidup, penuh Hikmah, tanpa kekeliruan maupun kesalahan. Ia mengetahui bahwa pembukaan ini merupakan hakikat yang lebih terang daripada matahari; dan terdapat saksi yang membuktikannya sebanyak bunga, buah, daun, serta segala yang ada pada musim semi. Ia mengucapkan Elhamdülillahi alâ nimeti'l-iman.
Dengan maksud mengungkapkan hakikat serta kesaksian tersebut, pada tingkatan keenam Bagian Pertama
diucapkan
لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍﻟْﻮَﺍﺟِﺐُ ﺍﻟْﻮُﺟُﻮﺩِ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺩَﻝَّ ﻋَﻠٰﻰ ﻭُﺟُﻮﺏِ ﻭُﺟُﻮﺩِﻩِ ﻓ۪ﻰ ﻭَﺣْﺪَﺗِﻪِ ﺍِﺟْﻤَﺎﻉُ ﺟَﻤ۪ﻴﻊِ ﺍَﻧْﻮَﺍﻉِ الْاَشْجَارِ ﻭَ ﺍﻟﻨَّﺒَﺎﺗَﺎﺕِ ﺍﻟْﻤُﺴَﺒِّﺤَﺎﺕِ ﺍﻟﻨَّﺎﻃِﻘَﺎﺕِ ﺑِﻜَﻠِﻤَﺎﺕِ ﺍَﻭْﺭَﺍﻗِﻬَﺎ ﺍﻟْﻤَﻮْﺯُﻭﻧَﺎﺕِ ﺍﻟْﻔَﺼ۪ﻴﺤَﺎﺕِ ﻭَ ﺍَﺯْﻫَﺎﺭِﻫَﺎ ﺍﻟْﻤُﺰَﻳَّﻨَﺎﺕِ الْجَز۪يلَاتِ ﻭَ ﺍَﺛْﻤَﺎﺭِﻫَﺎ ﺍﻟْﻤُﻨْﺘَﻈَﻤَﺎﺕِ ﺍﻟْﺒَﻠ۪ﻴﻐَﺎﺕِ ﺑِﺸَﻬَﺎﺩَﺓِ ﻋَﻈَﻤَﺔِ ﺍِﺣَﺎﻃَﺔِ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ الْاِنْعَامِ ﻭَ الْاِكْرَامِ ﻭَ الْاِحْسَانِ ﺑِﻘَﺼْﺪٍ ﻭَ ﺭَﺣْﻤَﺔٍ ﻭَ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ ﺍﻟﺘَّﻤْﻴ۪ﻴﺰِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﺰْﻳ۪ﻴﻦِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﺼْﻮ۪ﻳﺮِ ﺑِﺎِﺭَﺍﺩَﺓٍ ﻭَ ﺣِﻜْﻤَﺔٍ ﻣَﻊَ ﻗَﻄْﻌِﻴَّﺔِ دَلَالَةِ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ ﻓَﺘْﺢِ ﺟَﻤ۪ﻴﻊِ ﺻُﻮَﺭِﻫَﺎ ﺍﻟْﻤَﻮْﺯُﻭﻧَﺎﺕِ ﺍﻟْﻤُﺰَﻳَّﻨَﺎﺕِ ﺍﻟْﻤُﺘَﺒَﺎﻳِﻨَﺔِ ﺍﻟْﻤُﺘَﻨَﻮِّﻋَﺔِ ﺍﻟْﻐَﻴْﺮِ ﺍﻟْﻤَﺤْﺪُﻭﺩَﺓِ ﻣِﻦْ ﻧُﻮَﺍﺗَﺎﺕٍ ﻭَ ﺣَﺒَّﺎﺕٍ ﻣُﺘَﻤَﺎﺛِﻠَﺔٍ ﻣُﺘَﺸَﺎﺑِﻬَﺔٍ ﻣَﺤْﺼُﻮﺭَﺓٍ ﻣَﻌْﺪُﻭﺩَﺓٍ
.
Dalam perjalanan pikirannya, musafir dunia yang penuh keingintahuan itu semakin merasakan nikmat dan semangat seiring kemajuannya. Kemudian, ketika ia datang dari kebun musim semi dengan membawa buket makrifat dan iman sebesar musim semi, pintu alam hewan serta burung terbuka bagi akalnya yang melihat hakikat serta pikirannya yang mengenal makrifat. Dengan seratus ribu suara yang berbeda-beda serta beragam bahasa, mereka memanggilnya masuk dan berkata, "Silakan!" Ia pun masuk dan melihat:
Ia melihat seluruh jenis, kelompok, serta bangsa hewan dan burung sepakat mengucapkan Lâ ilahe illâ Hû melalui bahasa ucapan serta bahasa keadaan, lalu mengubah permukaan bumi menjadi tempat zikir serta majelis tahlil yang sangat besar. Masing-masing, seperti kasidah Rabb, kalimat dari Yang Mahasuci, serta huruf penuh makna dari Ar-Rahmân, melukiskan Sifat Sang Pembuatnya, memuji, dan menyanjung-Nya. Seolah-olah indra, daya, perangkat, anggota, serta alat hewan dan burung itu merupakan kata-kata yang tersusun serta terukur, juga ungkapan yang teratur dan sempurna. Ia menyaksikan tiga hakikat yang sangat agung dan meliputi segala, yang menunjukkan dengan pasti bahwa melalui semuanya mereka bersyukur kepada Khallâq serta Razzâq mereka, dan memberikan kesaksian atas Keesaan-Nya:
PERTAMA: Hakikat penciptaan dari keadaan tidak ada dengan Hikmah, penciptaan pertama yang penuh Seni, serta
penciptaan dan pembangunan dengan Kehendak serta Ilmu; juga Pemberian ruh dan kehidupan, yang menunjukkan Manifestasi Ilmu, Hikmah, serta Kehendak dari dua puluh segi. Hakikat ini sama sekali tidak mungkin diserahkan kepada kebetulan liar, kekuatan buta, maupun tabiat tanpa kesadaran. Sebagai bukti yang terang, dengan saksi sebanyak makhluk berjiwa, ia bersaksi bahwa Wujud Zat Yang Hayy lagi Qayyûm niscaya, serta bersaksi atas Tujuh Sifat dan Keesaan-Nya.
KEDUA: Dari Pembedaan, Penghiasan, serta Pemberian rupa ciptaan-ciptaan tak terbatas itu—dengan wajah yang memiliki ciri pembeda, bentuk yang berhias, ukuran yang terukur, serta rupa yang teratur—tampak hakikat yang begitu agung dan kuat sehingga hanya Zat Yang Qadîr atas segala sesuatu serta Alîm atas segala sesuatu yang dapat memiliki Perbuatan yang meliputi segala ini, yang menunjukkan ribuan keajaiban serta Hikmah dari setiap segi. Selain Dia, sama sekali tidak ada kemungkinan ataupun peluang untuk itu.
KETIGA: Membuka serta menampakkan rupa hewan-hewan tak terbatas itu, dalam ratusan ribu ragam cara dan sebagai mukjizat Hikmah, dari telur serta telur kecil yang terbatas, serupa, sama atau sedikit berbeda, juga dari tetes air yang disebut nutfah, dengan bentuk yang sangat teratur, seimbang, serta tanpa kesalahan, merupakan hakikat yang begitu terang sehingga bukti serta dalil sebanyak hewan menerangi hakikat itu.
Melalui kesepakatan ketiga hakikat ini, ia melihat serta menerima pelajaran sepenuhnya bahwa seluruh jenis hewan bersama mengucapkan Lâ ilahe illâ Hû serta memberikan kesaksian demikian, seolah-olah bumi, seperti manusia besar, mengucapkan Lâ ilahe illâ Hû sebanding dengan kebesarannya, dan memperdengarkannya kepada penghuni langit. Dengan maksud mengungkapkan hakikat-hakikat ini, pada tingkatan ketujuh Bagian Pertama diucapkan
لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍﻟْﻮَﺍﺟِﺐُ ﺍﻟْﻮُﺟُﻮﺩِ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺩَﻝَّ ﻋَﻠٰﻰ ﻭُﺟُﻮﺏِ ﻭُﺟُﻮﺩِﻩِ ﻓ۪ﻰ ﻭَﺣْﺪَﺗِﻪِ ﺍِﺗِّﻔَﺎﻕُ ﺟَﻤ۪ﻴﻊِ ﺍَﻧْﻮَﺍﻉِ ﺍﻟْﺤَﻴَﻮَﺍﻧَﺎﺕِ ﻭَ ﺍﻟﻄُّﻴُﻮﺭِ ﺍﻟْﺤَﺎﻣِﺪَﺍﺕِ ﺍﻟﺸَّﺎﻫِﺪَﺍﺕِ ﺑِﻜَﻠِﻤَﺎﺕِ ﺣَﻮَﺍﺳِّﻬَﺎ ﻭَ ﻗُﻮَﺍﻫَﺎ ﻭَ ﺣِﺴِّﻴَّﺎﺗِﻬَﺎ ﻭَ ﻟَﻄَٓﺎﺋِﻔِﻬَﺎ ﺍﻟْﻤَﻮْﺯُﻭﻧَﺎﺕِ ﺍﻟْﻤُﻨْﺘَﻈَﻤَﺎﺕِ ﺍﻟْﻔَﺼ۪ﻴﺤَﺎﺕِ ﻭَ ﺑِﻜَﻠِﻤَﺎﺕِ ﺟِﻬَﺎﺯَﺍﺗِﻬَﺎ ﻭَ ﺟَﻮَﺍﺭِﺣِﻬَﺎ ﻭَ ﺍَﻋْﻀَٓﺎﺋِﻬَﺎ وَاٰلَاتِهَا ﺍﻟْﻤُﻜَﻤَّﻠَﺔِ ﺍﻟْﺒَﻠ۪ﻴﻐَﺎﺕِ ﺑِﺸَﻬَﺎﺩَﺓِ ﻋَﻈَﻤَﺔِ ﺍِﺣَﺎﻃَﺔِ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ الْا۪يجَادِ ﻭَ ﺍﻟﺼُّﻨْﻊِ ﻭَ الْاِبْدَاعِ بِالْاِرَادَةِ ﻭَ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ ﺍﻟﺘَّﻤْﻴ۪ﻴﺰِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﺰْﻳ۪ﻴﻦِ ﺑِﺎﻟْﻘَﺼْﺪِ ﻭَ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ ﺍﻟﺘَّﻘْﺪ۪ﻳﺮِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﺼْﻮ۪ﻳﺮِ ﺑِﺎﻟْﺤِﻜْﻤَﺔِ ﻣَﻊَ ﻗَﻄْﻌِﻴَّﺔِ دَلَالَةِ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ ﻓَﺘْﺢِ ﺟَﻤ۪ﻴﻊِ ﺻُﻮَﺭِﻫَﺎ ﺍﻟْﻤُﻨْﺘَﻈَﻤَﺔِ ﺍﻟْﻤُﺘَﺨَﺎﻟِﻔَﺔِ ﺍﻟْﻤُﺘَﻨَﻮِّﻋَﺔِ ﺍﻟْﻐَﻴْﺮِ ﺍﻟْﻤَﺤْﺼُﻮﺭَﺓِ ﻣِﻦْ ﺑَﻴْﻀَﺎﺕٍ ﻭَ ﻗَﻄَﺮَﺍﺕٍ ﻣُﺘَﻤَﺎﺛِﻠَﺔٍ ﻣُﺘَﺸَﺎﺑِﻬَﺔٍ ﻣَﺤْﺼُﻮﺭَﺓٍ ﻣَﺤْﺪُﻭﺩَﺓٍ
.
Kemudian, ketika musafir yang bertafakur itu ingin memasuki alam manusia serta dunia umat manusia, untuk maju lebih jauh dalam tingkatan, nikmat, serta cahaya makrifat Ilahi yang tiada batas, para nabi terutama memanggilnya masuk. Ia pun masuk. Paling awal, ia memandang tempat masa lalu dan melihat:
Seluruh nabi Aleyhimüsselâm, manusia yang paling bercahaya serta paling sempurna, melalui ijmak bersama berzikir dengan mengucapkan Lâ ilahe illâ Hû. Dengan kekuatan mukjizat-mukjizat tak terbatas mereka yang terang serta dibenarkan, mereka menyatakan tauhid; dan untuk mengangkat manusia dari tingkatan hewan kepada tingkatan malaikat, mereka memberikan pelajaran serta mengajak manusia beriman kepada Allah سُبْحَانَهُ. Ia pun berlutut serta duduk mengikuti pelajaran dalam madrasah bercahaya itu. Ia melihat:
Masing-masing guru tersebut, yang merupakan tokoh manusia paling luhur serta terkenal, memiliki mukjizat yang diberikan oleh Khâliq kainat sebagai tanda pembenaran. Melalui berita masing-masing, suatu kelompok manusia yang besar serta suatu umat membenarkan dan beriman. Karena itu, ia dapat menimbang betapa kuat serta pasti hakikat yang ditetapkan dan dibenarkan melalui ijmak serta kesepakatan oleh seratus ribu orang yang bersungguh-sungguh dan benar itu. Ia memahami betapa tak terbatas kesalahan serta kejahatan orang-orang sesat yang mengingkari hakikat yang ditandatangani dan dibuktikan dengan kekuatan demikian oleh begitu banyak pembawa berita yang benar, melalui mukjizat-mukjizat mereka yang tiada batas; serta betapa tak terbatas azab yang layak bagi mereka. Ia juga mengetahui betapa benar serta sesuai dengan hakikat orang-orang yang membenarkan mereka dan beriman; satu tingkatan besar lagi dari kesucian iman pun tampak baginya.
Ya, selain mukjizat-mukjizat tak terbatas para nabi (Aleyhimüsselâm), yang merupakan pembenaran nyata dari Allah سُبْحَانَهُ; banyak pukulan dari langit kepada para penentang, yang menunjukkan kebenaran mereka; kesempurnaan pribadi serta pengajaran mereka yang benar, yang menunjukkan bahwa mereka berada dalam kebenaran; kekuatan iman, kesungguhan penuh, pengorbanan, serta kitab suci dan suhuf yang mereka miliki, yang bersaksi bahwa mereka benar; juga para murid tak terbatas yang, melalui mengikuti mereka, mencapai hakikat, kesempurnaan, serta cahaya, dan bersaksi bahwa jalan mereka lurus serta
benar; ijmak, kesepakatan, serta tawatur para nabi dan pembawa berita yang sangat bersungguh-sungguh itu dalam persoalan-persoalan positif, juga kesesuaian, saling menopang, serta saling selaras dalam memberi bukti, merupakan hujah dan kekuatan sedemikian rupa sehingga tidak ada kekuatan di dunia yang dapat menentangnya, dan tidak menyisakan keraguan ataupun kebimbangan. Ia memahami bahwa membenarkan seluruh nabi (Aleyhimüsselâm) juga termasuk dalam rukun iman, dan bahwa pembenaran itu merupakan sumber kekuatan yang besar. Dari pelajaran mereka, ia menerima banyak limpahan iman.
Dengan maksud mengungkapkan pelajaran musafir tersebut, pada tingkatan kedelapan Bagian Pertama diucapkan
لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺩَﻝَّ ﻋَﻠٰﻰ ﻭُﺟُﻮﺏِ ﻭُﺟُﻮﺩِﻩِ ﻓ۪ﻰ ﻭَﺣْﺪَﺗِﻪِ ﺍِﺟْﻤَﺎﻉُ ﺟَﻤ۪ﻴﻊِ الْاَنْبِيَٓاءِ ﺑِﻘُﻮَّﺓِ ﻣُﻌْﺠِﺰَﺍﺗِﻬِﻢُ ﺍﻟْﺒَﺎﻫِﺮَﺓِ ﺍﻟْﻤُﺼَﺪِّﻗَﺔِ ﺍﻟْﻤُﺼَﺪَّﻗَﺔِ
.
Kemudian, ketika musafir pencari itu meninggalkan majelis para nabi Aleyhimüsselâm, setelah memperoleh nikmat hakikat yang luhur dari kekuatan iman, para ahli penelitian yang berilmu sangat luas serta para mujtahid, yang disebut orang-orang suci pilihan serta para siddiqin, memanggilnya ke ruang pelajaran mereka. Mereka membuktikan ajaran para nabi (Aleyhimüsselâm) dengan dalil-dalil yang pasti serta kuat, melalui ilmu para ulama pada tingkat ilmulyaqin. Ia pun masuk dan melihat:
Ribuan orang jenius serta ratusan ribu peneliti yang teliti dan luhur membuktikan persoalan-persoalan iman yang positif, terutama keniscayaan Wujud serta Keesaan, melalui penelitian mendalam yang tidak menyisakan keraguan sebesar rambut. Ya, meskipun potensi serta jalan mereka berbeda, kesepakatan bersama mereka dalam dasar serta rukun iman, dan sandaran masing-masing kepada bukti yang kuat serta pasti, merupakan hujah sedemikian rupa sehingga mereka hanya dapat ditentang apabila orang yang menentangnya mampu memiliki kecerdasan serta ketajaman pemahaman setara dengan gabungan milik mereka semua, dan menemukan bukti setara dengan seluruh bukti mereka. Jika tidak, para pengingkar itu hanya dapat menghadapi mereka dengan ketidaktahuan, ketidaktahuan yang lebih parah, pengingkaran, keras kepala dalam persoalan penolakan yang tidak terbukti, serta menutup mata. Orang yang menutup mata hanya menjadikan siang sebagai malam bagi dirinya sendiri.
Dalam ruang pelajaran yang megah serta luas ini, musafir tersebut mengetahui bahwa cahaya yang disebarkan oleh guru-guru terhormat yang berilmu sangat luas itu telah menerangi separuh bumi selama lebih dari seribu tahun. Ia memperoleh daya maknawi demikian sehingga, jika seluruh pengingkar berkumpul, mereka tidak dapat sedikit pun membingungkan ataupun mengguncangnya.
Sebagai isyarat ringkas kepada pelajaran yang musafir ini terima dari ruang pelajaran tersebut, pada tingkatan kesembilan Bagian Pertama diucapkan
لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺩَﻝَّ ﻋَﻠٰﻰ ﻭُﺟُﻮﺏِ ﻭُﺟُﻮﺩِﻩِ ﻓ۪ﻰ ﻭَﺣْﺪَﺗِﻪِ ﺍِﺗِّﻔَﺎﻕُ ﺟَﻤ۪ﻴﻊِ الْاَصْفِيَٓاءِ ﺑِﻘُﻮَّﺓِ ﺑَﺮَﺍﻫ۪ﻴﻨِﻬِﻢُ ﺍﻟﻈَّﺎﻫِﺮَﺓِ ﺍﻟْﻤُﺤَﻘَّﻘَﺔِ ﺍﻟْﻤُﺘَّﻔِﻘَﺔِ
.
Kemudian, musafir yang bertafakur itu sangat rindu melihat cahaya serta nikmat ketika iman semakin kuat dan tersingkap lebih jauh, serta kemajuan dari tingkat ilmulyaqin kepada tingkat ainulyaqin. Ketika ia meninggalkan madrasah, ribuan serta jutaan pembimbing suci memanggilnya ke tempat mereka. Dalam tekke, hankah, tempat zikir, serta tempat bimbingan yang sangat penuh limpahan dan cahaya, yang meluas melalui bergabungnya tekke serta zawiyah kecil yang tak terbatas dan seluas padang, di bawah naungan Jalan Agung Muhammad ﷺ serta Mikraj Ahmad ﷺ, mereka bekerja mencapai hakikat, sampai kepada kebenaran, serta mencapai ainulyaqin. Ia pun masuk dan melihat:
Para pembimbing yang memiliki penglihatan batin serta karamah itu, dengan bersandar pada hakikat yang tersingkap, apa yang mereka saksikan, dan karamah mereka, melalui ijmak serta kesepakatan mengucapkan Lâ ilahe illâ Hû, lalu mengumumkan keniscayaan Wujud serta Keesaan Rabb kepada kainat. Seperti mengenali matahari melalui tujuh warna sinarnya, para jenius suci serta arif yang bercahaya itu menempuh tujuh puluh warna, bahkan sebanyak Asmaulhusna: warna-warna bercahaya yang berbeda serta warna-warna terang yang beragam, yang bertajalli (tampak nyata) dari sinar Matahari Azali; tarekat-tarekat yang benar, jalan-jalan lurus, serta kecenderungan-kecenderungan yang sesuai dengan hakikat. Ia menyaksikan dengan ainulyaqin betapa nyata serta terang hakikat yang mereka tandatangani melalui ijmak dan kesepakatan. Ia melihat ijmak para nabi (Aleyhimüsselâm), kesepakatan orang-orang suci pilihan, kesesuaian para wali, serta kesepakatan ketiga ijmak ini sekaligus lebih terang daripada cahaya siang yang memperlihatkan matahari.
Sebagai isyarat ringkas kepada limpahan yang tamu ini terima dari tekke, pada tingkatan kesepuluh Bagian Pertama diucapkan
لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺩَﻝَّ ﻋَﻠٰﻰ ﻭُﺟُﻮﺏِ ﻭُﺟُﻮﺩِﻩِ ﻓ۪ﻰ ﻭَﺣْﺪَﺗِﻪِ ﺍِﺟْﻤَﺎﻉُ الْاَوْلِيَٓاءِ ﺑِﻜَﺸْﻔِﻴَّﺎﺗِﻬِﻢْ ﻭَ ﻛَﺮَﺍﻣَﺎﺗِﻬِﻢُ ﺍﻟﻈَّﺎﻫِﺮَﺓِ ﺍﻟْﻤُﺤَﻘَّﻘَﺔِ ﺍﻟْﻤُﺼَﺪَّﻗَﺔِ
.
Kemudian, musafir dunia itu mengetahui bahwa kesempurnaan manusia yang paling penting serta paling besar, bahkan sumber dan dasar seluruh kesempurnaan manusia, ialah cinta kepada Allah سُبْحَانَهُ, yang lahir dari iman kepada Allah سُبْحَانَهُ serta makrifatullah. Dengan keinginan untuk maju lebih jauh dalam kekuatan iman serta berkembangnya makrifat, melalui seluruh daya dan latifahnya, ia mengangkat kepala serta memandang langit. Ia berkata kepada akalnya:
"Karena hal yang paling berharga dalam kainat ialah kehidupan, dan segala yang ada dalam kainat ditundukkan kepada kehidupan; karena yang paling berharga di antara makhluk hidup ialah makhluk berjiwa, dan yang paling berharga di antara makhluk berjiwa ialah yang memiliki kesadaran; serta karena nilai tersebut, bola bumi terus dipenuhi dan dikosongkan setiap abad serta setiap tahun untuk terus memperbanyak makhluk hidup; tentu dan dalam keadaan apa pun, langit yang megah serta berhias ini pun memiliki penghuni yang sesuai, dari makhluk hidup, berjiwa, dan memiliki kesadaran. Peristiwa melihat serta berbicara dengan malaikat, seperti Jibril (A.S.) yang muncul dalam suatu bentuk yang terlihat oleh para sahabat di hadapan Muhammad ﷺ, telah dituturkan serta diriwayatkan secara tawatur sejak dahulu. Kalau demikian, alangkah baiknya jika aku juga bertemu penghuni langit dan mengetahui pandangan mereka; sebab, perkataan terpenting mengenai Khâliq kainat adalah perkataan mereka." Ketika ia berpikir demikian, tiba-tiba ia mendengar suara dari langit:
"Karena engkau ingin bertemu kami serta mendengarkan pelajaran kami, ketahuilah: kamilah yang paling awal beriman kepada persoalan-persoalan iman yang datang kepada seluruh nabi melalui kami, dengan Muhammad ﷺ serta Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya sebagai yang terdepan. Seluruh ruh baik yang berasal dari kalangan kami dan yang menjelma serta terlihat oleh manusia, tanpa pengecualian dan melalui kesepakatan, telah bersaksi atas keniscayaan Wujud, Keesaan, serta Sifat-Sifat Suci Khâliq kainat ini, dan memberitakannya dengan saling sesuai serta selaras. Berita-berita yang tiada batas ini saling sesuai serta selaras dan menjadi petunjuk bagimu seperti matahari." Ia mengetahui bahwa mereka berkata demikian; cahaya imannya pun menjadi terang dan naik dari bumi ke langit.
Sebagai isyarat ringkas kepada pelajaran yang musafir ini terima dari para malaikat, pada tingkatan kesebelas Bagian Pertama
لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍﻟْﻮَﺍﺟِﺐُ ﺍﻟْﻮُﺟُﻮﺩِ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺩَﻝَّ ﻋَﻠٰﻰ ﻭُﺟُﻮﺏِ ﻭُﺟُﻮﺩِﻩِ ﻓ۪ﻰ ﻭَﺣْﺪَﺗِﻪِ ﺍِﺗِّﻔَﺎﻕُ ﺍﻟْﻤَﻠٰٓﺌِﻜَﺔِ ﺍﻟْﻤُﺘَﻤَﺜِّﻠ۪ﻴﻦَ لِاَنْظَارِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻭَ ﺍﻟْﻤُﺘَﻜَﻠِّﻤ۪ﻴﻦَ ﻣَﻊَ ﺧَﻮَﺍﺹِّ ﺍﻟْﺒَﺸَﺮِ ﺑِﺎِﺧْﺒَﺎﺭَﺍﺗِﻬِﻢُ ﺍﻟْﻤُﺘَﻄَﺎﺑِﻘَﺔِ ﺍﻟْﻤُﺘَﻮَﺍﻓِﻘَﺔِ
diucapkan.
Kemudian, karena tamu yang penuh keingintahuan serta kerinduan itu telah menerima pelajaran dari bahasa ucapan serta bahasa keadaan kelompok-kelompok yang dapat diindra dalam alam yang terlihat, dari segi jasmani dan materi, ia ingin melakukan perjalanan kajian serta mencari hakikat dalam alam gaib dan alam barzakh pula. Ketika itu, terbuka pintu akal-akal yang lurus serta tercerahkan, juga hati-hati yang bersih serta bercahaya. Semuanya terdapat dalam setiap kelompok manusia; seperti benih manusia, buah kainat; dan meskipun kecil, secara maknawi dapat meluas sebesar kainat.
Ia memandang dan melihat bahwa akal serta hati itu merupakan barzakh manusia di antara alam gaib dan alam yang terlihat; bagi manusia, pertemuan serta hubungan kedua alam berlangsung pada titik-titik tersebut. Karena itu, ia berkata kepada akal serta hatinya sendiri, "Mari; melalui pintu sesama kalian ini, jalan menuju hakikat lebih pendek. Kita harus mengambil manfaat melalui kajian terhadap sifat-sifat iman, keadaan, serta warna mereka, berbeda dari cara kita menerima pelajaran melalui bahasa-bahasa pada jalan lainnya." Ia pun mulai mengkaji dan melihat:
Keyakinan seluruh akal yang lurus serta bercahaya—meskipun potensi mereka sangat berbeda, dan pandangan mereka saling berjauhan serta berlawanan—yang telah tertanam sebagai sifat dan berakar kuat dalam iman serta tauhid, saling bertepatan. Kepastian serta keyakinan mereka yang mantap dan tenteram saling selaras. Berarti, mereka bersandar serta terikat kepada hakikat yang tidak berubah; akar mereka masuk ke dalam hakikat yang kokoh dan tidak terputus. Karena itu, ijmak mereka dalam iman, keniscayaan Wujud, serta tauhid merupakan rantai bercahaya yang tidak pernah putus, dan jendela terang yang terbuka kepada hakikat.
Ia juga melihat bahwa hakikat yang tersingkap serta apa yang disaksikan seluruh hati yang bersih dan bercahaya—meskipun jalan mereka berjauhan serta kecenderungan mereka berlawanan—dalam rukun-rukun iman, dengan kesepakatan, ketenteraman, serta rasa terpikat, saling bertepatan dan selaras dalam tauhid.
Berarti, hati-hati bercahaya yang menghadap, mencapai, serta mencerminkan hakikat ini—masing-masing seperti arasy kecil makrifat Rabb serta cermin menyeluruh Sang Shamad—merupakan jendela yang terbuka kepada matahari hakikat. Semuanya sekaligus merupakan cermin agung seperti laut yang mencerminkan matahari. Kesepakatan serta ijmak mereka mengenai keniscayaan Wujud dan Keesaan merupakan petunjuk yang paling sempurna serta pembimbing yang paling agung, yang tidak pernah tersesat maupun menyesatkan.
Sebab, sama sekali tidak ada kemungkinan ataupun peluang, dari segi apa pun, bahwa sangkaan yang berbeda dari hakikat, pikiran tanpa kebenaran, serta sifat tanpa dasar, dengan begitu terus-menerus dan berakar kuat, menipu sekaligus seluruh pandangan yang sangat besar serta tajam
ini, dan membuat mereka keliru dalam pengindraan. Ia memahami bahwa bahkan kaum sofis bodoh yang mengingkari kainat pun tidak akan menerima akal yang rusak serta rapuh, yang menganggap hal itu mungkin; mereka akan menolaknya. Bersama akal serta hatinya sendiri, mereka mengucapkan "Âmentü Billah".
Sebagai isyarat ringkas kepada makrifat iman yang musafir ini peroleh dari akal-akal lurus serta hati-hati tercerahkan, pada tingkatan kedua belas serta ketiga belas Bagian Pertama diucapkan
لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍﻟْﻮَﺍﺟِﺐُ ﺍﻟْﻮُﺟُﻮﺩِ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺩَﻝَّ ﻋَﻠٰﻰ ﻭُﺟُﻮﺏِ ﻭُﺟُﻮﺩِﻩِ ﻓ۪ﻰ ﻭَﺣْﺪَﺗِﻪِ ﺍِﺟْﻤَﺎﻉُ ﺍﻟْﻌُﻘُﻮﻝِ ﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻘ۪ﻴﻤَﺔِ ﺍﻟْﻤُﻨَﻮَّﺭَﺓِ ﺑِﺎِﻋْﺘِﻘَﺎﺩَﺍﺗِﻬَﺎ ﺍﻟْﻤُﺘَﻮَﺍﻓِﻘَﺔِ ﻭَ ﺑِﻘَﻨَﺎﻋَﺎﺗِﻬَﺎ ﻭَ ﻳَﻘ۪ﻴﻨَﺎﺗِﻬَﺎ ﺍﻟْﻤُﺘَﻄَﺎﺑِﻘَﺔِ ﻣَﻊَ ﺗَﺨَﺎﻟُﻒِ الْاِسْتِعْدَادَاتِ ﻭَ ﺍﻟْﻤَﺬَﺍﻫِﺐِ ﻭَ ﻛَﺬَﺍ ﺩَﻝَّ ﻋَﻠٰﻰ ﻭُﺟُﻮﺏِ ﻭُﺟُﻮﺩِﻩِ ﻓ۪ﻰ ﻭَﺣْﺪَﺗِﻪِ ﺍِﺗِّﻔَﺎﻕُ ﺍﻟْﻘُﻠُﻮﺏِ ﺍﻟﺴَّﻠ۪ﻴﻤَﺔِ ﺍﻟﻨُّﻮﺭَﺍﻧِﻴَّﺔِ ﺑِﻜَﺸْﻔِﻴَّﺎﺗِﻬَﺎ ﺍﻟْﻤُﺘَﻄَﺎﺑِﻘَﺔِ ﻭَ ﺑِﻤُﺸَﺎﻫَﺪَﺍﺗِﻬَﺎ ﺍﻟْﻤُﺘَﻮَﺍﻓِﻘَﺔِ ﻣَﻊَ ﺗَﺒَﺎﻳُﻦِ ﺍﻟْﻤَﺴَﺎﻟِﻚِ ﻭَ ﺍﻟْﻤَﺸَﺎﺭِﺏِ
.
Kemudian, musafir yang memandang alam gaib dari dekat serta berkelana dalam akal dan hati itu, dengan penuh keingintahuan tentang apa yang dikatakan alam gaib, mengetuk pintunya melalui pikiran berikut. Yakni, dengan jelas dipahami bahwa di balik tabir gaib terdapat Zat yang, dalam alam jasmani yang terlihat ini, ingin memperkenalkan Diri-Nya melalui ciptaan-ciptaan tak terbatas yang begitu berhias serta penuh seni; ingin membuat Diri-Nya dicintai melalui nikmat-nikmat tiada akhir yang begitu manis serta berhias; dan ingin memperkenalkan Kesempurnaan-Nya yang tersembunyi melalui karya-karya tak terhitung yang begitu bermukjizat serta penuh Kemahiran. Dia menginginkan semuanya secara nyata melalui Perbuatan, dengan cara yang lebih jelas daripada ucapan serta perkataan, dan memberitahukannya melalui bahasa keadaan. Tentu dan dalam keadaan apa pun, sebagaimana melalui Perbuatan serta keadaan, Dia juga berbicara melalui ucapan dan Firman, memperkenalkan Diri-Nya, serta membuat Diri-Nya dicintai. Musafir itu berkata, "Kalau demikian, dari segi alam gaib, kita harus mengenal-Nya melalui Manifestasi-Nya." Hatinya pun masuk; dengan mata akal, ia melihat:
Hakikat wahyu berkuasa di setiap sisi alam gaib serta pada setiap waktu, melalui manifestasi yang sangat kuat. Kesaksian mengenai Wujud serta tauhid, yang jauh lebih kuat daripada kesaksian kainat dan makhluk, datang dari Sang ‘Allâmul-Ghuyûb melalui hakikat wahyu serta ilham. Dia tidak menyerahkan pengenalan Diri-Nya, Wujud, serta Keesaan-Nya hanya kepada kesaksian ciptaan-ciptaan-Nya. Dia sendiri berbicara melalui Firman Azali yang layak bagi Diri-Nya. Firman Zat Yang Hadir serta Menyaksikan di setiap tempat melalui Ilmu serta Kudrat-Nya pun
tiada batas. Sebagaimana makna Firman-Nya memperkenalkan-Nya, Perbuatan-Nya Berfirman pun memperkenalkan-Nya dengan Sifat-Sifat-Nya.
Ya, melalui tawatur seratus ribu nabi (Aleyhimüsselâm) serta kesepakatan berita mereka dalam hal menerima Wahyu Ilahi; juga melalui dalil dan mukjizat kitab-kitab suci serta suhuf dari langit—buah wahyu dan wahyu yang disaksikan, yang dibenarkan oleh mayoritas mutlak manusia serta menjadi petunjuk dan teladan mereka—ia mengetahui bahwa terwujud serta tetapnya hakikat wahyu telah mencapai tingkat yang jelas dengan sendirinya. Ia memahami bahwa hakikat wahyu mengungkapkan serta melimpahkan lima hakikat suci:
PERTAMA: Berbicara sesuai akal serta pemahaman manusia, yang disebut
اَلتَّنَزُّلَاتُ الْاِلٰهِيَّةُ ﺍِﻟٰﻰ ﻋُﻘُﻮﻝِ ﺍﻟْﺒَﺸَﺮِ
, merupakan Penyesuaian Sapaan Ilahi. Ya, Zat yang membuat seluruh makhluk-Nya yang berjiwa berbicara serta mengetahui percakapan mereka tentu juga menyertai percakapan tersebut melalui Firman-Nya sendiri; hal ini merupakan tuntutan Rububiyah.
KEDUA: Zat yang menciptakan kainat dengan biaya tak terbatas dalam keajaiban dari awal sampai akhir, untuk memperkenalkan Diri-Nya, serta membuat ribuan bahasa menyebut Kesempurnaan-Nya, tentu juga akan memperkenalkan Diri-Nya melalui Firman-Nya sendiri.
KETIGA: Sebagaimana menjawab melalui Perbuatan munajat serta syukur manusia sejati—yang paling terpilih, paling membutuhkan, paling lembut, serta paling rindu di antara segala yang ada—menjawabnya melalui Firman pun merupakan tuntutan sebagai Pencipta.
KEEMPAT: Sifat Berbicara, yang merupakan tuntutan yang niscaya serta kemunculan bercahaya dari ilmu dan kehidupan, tentu terdapat secara meliputi segala serta kekal selamanya pada Zat yang memiliki Ilmu yang meliputi segala serta Kehidupan Yang Kekal Selamanya.
KELIMA: Zat yang memberikan keadaan tak berdaya serta kerinduan, keadaan serba membutuhkan serta kebutuhan, kecemasan akan masa depan, cinta, serta pemujaan kepada makhluk-makhluk-Nya—yang paling dicintai, penuh cinta, cemas, paling membutuhkan titik sandaran, paling rindu menemukan Pemilik serta Penguasanya, juga serba membutuhkan dan tidak berdaya—tentu memberitahukan Wujud-Nya kepada mereka melalui Firman-Nya. Hal ini merupakan tuntutan Keilahian.
Ia memahami bahwa, melalui ijmak, wahyu-wahyu umum dari langit, yang memuat hakikat Penyesuaian Sapaan Ilahi, Perkenalan Rabb, Jawaban Ar-Rahmân, Percakapan Zat Yang Mahasuci, serta Pemberitahuan Sang Shamad, menunjukkan Wujud serta Keesaan Wâjibul Wujûd
dengan hujah yang lebih kuat daripada kesaksian sinar matahari di siang hari terhadap matahari.
Kemudian ia memandang ilham dan melihat: meskipun ilham-ilham yang benar dari satu segi menyerupai wahyu serta merupakan suatu jenis percakapan Rabb, terdapat dua perbedaan:
PERTAMA: Wahyu, yang jauh lebih luhur daripada ilham, kebanyakan melalui perantaraan malaikat; sedangkan ilham kebanyakan tanpa perantara.
Misalnya, seorang raja memiliki dua cara berbicara serta memberi perintah:
Pertama: Dari segi kemegahan kerajaan serta kekuasaan umumnya, ia mengirim seorang ajudan kepada gubernur. Untuk memperlihatkan kemegahan kekuasaan serta pentingnya perintah itu, terkadang ia mengadakan pertemuan bersama perantaranya. Kemudian titah kerajaan disampaikan.
Kedua: Ia berbicara secara khusus melalui telepon khususnya kepada seorang pelayan dekat atau rakyat biasa, yang memiliki hubungan khusus serta urusan terbatas dengan dirinya sendiri; dengan cara ini ia berbicara melalui dirinya sendiri, bukan melalui gelar sebagai sultan ataupun sebutan umum sebagai raja.
Demikian pula, Sang Raja Azali memiliki Percakapan melalui wahyu serta ilham-ilham menyeluruh yang menjalankan khidmah bagi wahyu, dengan Asma Rabb seluruh alam serta gelar Khâliq alam. Sebagai Rabb serta Khâliq setiap individu dan setiap makhluk hidup, Dia juga memiliki cara berbicara secara khusus, tetapi di balik tabir, sesuai kemampuan mereka.
PERBEDAAN KEDUA: Wahyu tidak memiliki bayangan, murni, serta khusus bagi orang-orang terpilih. Ilham memiliki bayangan, warnanya bercampur, serta bersifat umum. Melalui berbagai macam serta sangat banyak jenisnya—seperti ilham malaikat, ilham manusia, dan ilham hewan—ilham membentuk landasan bagi bertambahnya Firman Rabb sebanyak tetes-tetes laut. Ia memahami bahwa hal ini menafsirkan satu segi ayat
ﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟْﺒَﺤْﺮُ ﻣِﺪَﺍﺩًﺍ ﻟِﻜَﻠِﻤَﺎﺕِ ﺭَﺑّ۪ﻰ ﻟَﻨَﻔِﺪَ ﺍﻟْﺒَﺤْﺮُ ﻗَﺒْﻞَ ﺍَﻥْ ﺗَﻨْﻔَﺪَ ﻛَﻠِﻤَﺎﺕُ ﺭَﺑّ۪ﻰ
.
Kemudian ia memandang hakikat, Hikmah, serta kesaksian ilham dan melihat bahwa hakikat, Hikmah, serta hasilnya terdiri atas empat cahaya.
PERTAMA: Sebagaimana membuat Diri-Nya dicintai oleh makhluk-Nya melalui Perbuatan, membuat Diri-Nya dicintai pula melalui Firman, Kehadiran, serta Percakapan—yang disebut Perbuatan Ilahi Membuat Diri-Nya Dicintai—merupakan tuntutan Sifat Wadûd serta Rahmat Yang Mencakup Semua.
KEDUA: Sebagaimana menjawab doa hamba-hamba-Nya melalui Perbuatan, menjawabnya pula melalui Firman di balik tabir merupakan tuntutan Sifat Rahîm-Nya.
KETIGA: Sebagaimana menolong secara nyata permintaan pertolongan, seruan, serta permohonan penuh kerendahan hati dari makhluk-makhluk-Nya yang ditimpa musibah berat serta keadaan dahsyat; datang menolong pula melalui ucapan-ucapan ilham, yang merupakan suatu jenis Percakapan-Nya, ialah tuntutan Rububiyah.
KEEMPAT: Ia memahami bahwa, sebagaimana membuat ciptaan-ciptaan-Nya yang memiliki kesadaran merasakan Wujud, Kehadiran, serta Perlindungan-Nya secara nyata, membuat mereka merasakan Kehadiran serta Wujud-Nya melalui Firman pula merupakan tuntutan yang niscaya serta pasti dari Kasih Sayang Keilahian dan Rahmat Rububiyah. Ciptaan-ciptaan itu sangat tidak berdaya, sangat lemah, sangat serba membutuhkan, serta sangat membutuhkan; mereka sangat perlu dan rindu menemukan Pemilik, Pelindung, Pengatur, serta Penjaganya. Pemberitahuan melalui Firman tersebut berlangsung di balik tabir sebagian ilham yang benar, yang dianggap sebagai suatu jenis Percakapan Rabb; secara khusus, tertuju hanya kepada suatu makhluk dan dari satu segi, sesuai kemampuannya, melalui telepon hatinya.
Kemudian ia memandang kesaksian ilham dan melihat: seandainya matahari memiliki kesadaran serta kehidupan, dan tujuh warna sinarnya menjadi tujuh sifatnya, ia akan memiliki suatu cara berbicara melalui sinar serta pantulan dalam cahayanya. Dalam keadaan itu, rupa serta pantulannya akan terdapat pada benda-benda bening. Matahari akan berbicara dengan setiap cermin, benda berkilau, pecahan kaca, gelembung, tetes, bahkan zarah bening, sesuai kemampuan masing-masing, serta menjawab kebutuhan mereka. Sebagaimana akan terlihat dengan menyaksikan langsung bahwa semuanya bersaksi atas adanya matahari, tidak ada pekerjaan yang menghalangi pekerjaan lain, dan tidak ada percakapan yang mengganggu percakapan lain...
Demikian pula, dapat dipahami dengan jelas bahwa Percakapan Matahari Yang Kekal Selamanya—Sultan Dzul-Jalâl Yang Azali dan Abadi, serta Khâliq Yang Mulia Dzul-Jamâl dari segala yang ada—bersifat menyeluruh serta meliputi segala, seperti Ilmu dan Kudrat-Nya, lalu bertajalli pada segala sesuatu sesuai kemampuan masing-masing. Tidak ada pertanyaan yang menghalangi pertanyaan lain, pekerjaan yang menghalangi pekerjaan lain, ataupun sapaan yang menghalangi sapaan lain; semuanya juga tidak tercampuradukkan. Dengan ilmulyaqin yang mendekati ainulyaqin, ia mengetahui bahwa seluruh Manifestasi, Percakapan, serta ilham itu, masing-masing dan bersama melalui kesepakatan, menunjukkan serta bersaksi atas Kehadiran, keniscayaan Wujud, Keesaan, serta Ahadiyah Matahari Azali tersebut.