PERINGATAN
Karena risale-risale Risaletü'n-Nur lainnya tidak terdapat di lingkungan negeri tempat munculnya risale ini, dan ia disusun di sini di luar pilihanku, sebagian persoalan penting dari Sözler serta Lem'alar lainnya disebutkan dalam risale-risale seperti Âyetü'l-Kübra, seakan-akan pengulangan secara lahir. Tulisan ini dibuat demikian dengan Hikmah agar setiap bagiannya, bagi para murid di sini, menjadi seperti sebuah Risaletü'n-Nur kecil.
Penyalinan bersih pertama naskah ini dilakukan oleh seorang yang diberkahi. Dalam salinan yang ditulisnya, meskipun ia tidak mengetahui tawafuk (kesesuaian yang bermakna), kami melihat tawafuk yang halus, penuh makna, serta layak dicatat: Huruf-huruf "Elif" pada awal baris salinan itu berjumlah enam ratus enam puluh enam.
Keadaan ini tepat bersesuaian dengan bilangan enam ratus enam puluh enam, nilai jafr serta abjad dari nama Âyetü'l-Kübra yang diberikan Yang Mulia Imam Ali (Radıyallahu Anh) kepada risale khusus ini, sehingga menunjukkan kelayakan risale ini menerima nama tersebut. Kami juga memahami kesesuaian pada tiga tempat nilai angka dari empat tempat nilai angka dalam enam ribu enam ratus enam puluh enam, bilangan ayat Al-Qur'an, sebagai isyarat bahwa risale ini merupakan suatu pancaran ayat-ayat itu.
Said Nursî
Pada hari-hari ini, dalam sebuah percakapan maknawi, aku mendengarkan suatu pertanyaan serta jawabannya. Akan kusampaikan ringkasannya kepada kalian:
Seseorang berkata:
Pengerahan besar dan perlengkapan menyeluruh Risale-i Nur untuk iman serta tauhid semakin bertambah. Padahal, satu persennya sudah cukup untuk membungkam orang tanpa agama yang paling keras kepala. Mengapa ia begitu bersemangat mengerahkan lagi hal-hal baru sampai tingkat ini?
Sebagai jawaban, dikatakan:
"Risale-i Nur tidak hanya memperbaiki kerusakan yang bersifat juz'i serta sebuah rumah kecil. Ia memperbaiki kerusakan menyeluruh dan sebuah benteng besar yang meliputi Islam, dengan batu-batu sebesar gunung. Ia tidak hanya berusaha memperbaiki satu hati pribadi serta satu nurani khusus. Melalui mukjizat Al-Qur'an, ia berusaha merawat hati bersama serta pendapat umum yang terluka dahsyat oleh alat-alat perusak yang disiapkan dan ditumpuk selama seribu tahun; juga nurani bersama yang mulai rusak akibat dipatahkannya dasar, gerakan, serta syiar Islam yang menjadi sandaran seluruh masyarakat, khususnya orang beriman yang awam. Ia berusaha mengobati luka-luka luas itu dengan obat-obat Al-Qur'an serta iman. Tentu, untuk kerusakan, retakan, dan luka yang menyeluruh serta dahsyat seperti itu, diperlukan bukti-bukti serta perlengkapan sekuat gunung pada tingkat haqqulyaqin, obat-obat teruji yang berkhasiat seperti seribu penawar, serta obat-obatan tak terhitung. Pada zaman ini, Risale-i Nur yang keluar dari mukjizat maknawi Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya, sambil menjalankan tugas itu, juga menjadi sarana kemajuan serta terbukanya tingkatan iman yang tak terhitung." Demikian berlangsung percakapan panjang. Aku pun mendengarkan semuanya dan bersyukur tak terhingga. Aku mempersingkatnya.
Said Nursî
--
PUJIAN
Karya ini lahir dari kecerdasan yang menyala bagai bara.
Inilah kejeniusan yang dinanti segenap zaman.
Seluruh Nur ini cahaya yang berlimpah bagi dunia manusia.
Tak ada keraguan: yang bersinar dalam hakikat-hakikat ini ialah Tajalli Al-Haqq.
Yâ Üstadenâ! Seluruh manusia kagum akan limpahanmu, kagum akan cahayamu.
Orang-orang cerdas yang menemukan Al-Haqq melalui karya-karyamu pun berkata: Tiada kesempatan menemukan cela.
Dengan Karunia Al-Haqq, para pembaca Nur ini menemukan dunia bercahaya yang sepenuhnya baru.
Tak diragukan, hanya Allah سُبْحَانَهُ Yang menciptakan gelombang-gelombang cahaya di dalam hati.
Muridmu
Hüsrev
Dengan segenap jiwa, kami membenarkan pujian saudara kami pada halaman sebelumnya, lalu berkata:
Ia menghalangi datangnya keraguan dan waswas.
Dunia ilmu dan filsafat memandangnya dengan kagum.
Tiada lagi titik gelap bagi mereka yang memandang dengan mata akal.
Ia menjadi sarana munculnya limpahan serta kemajuan.
Ia mendapat penghargaan dari tarekat dan hakikat.
Tiada lagi titik gelap bagi mereka yang memandang dengan mata hati.
Dari para murid Nur
Tahirî
Zübeyr
Ceylan
Bayram
Abdülmuhsin
--
TANYA–JAWAB
Di sini terdapat kesempatan untuk menuliskan jawaban yang amat penting atas sebuah pertanyaan yang sangat penting. Sebab, dalam pelajarannya empat puluh tahun lalu, Said Lama berbicara dengan firasat sebelum peristiwa terjadi seolah telah melihat pelajaran-pelajaran luar biasa Risale-i Nur beserta pengaruhnya. Karena itu, kita akan menuliskan pertanyaan dan jawaban tersebut. Demikianlah:
Banyak orang telah bertanya, dan masih bertanya, kepadaku serta beberapa saudara Nur: ‘Mengapa Risale-i Nur tidak terkalahkan dalam menghadapi begitu banyak penentang, para filsuf yang keras kepala, serta orang-orang yang sesat? Padahal mereka sampai batas tertentu menghalangi tersebarnya jutaan buku keimanan dan keislaman yang berharga serta benar. Padahal dengan perilaku bejat dan kenikmatan hidup duniawi mereka menjauhkan banyak pemuda serta manusia malang dari hakikat-hakikat iman. Padahal, dengan serangan yang paling keras, perlakuan yang paling kejam, kebohongan yang paling banyak, serta
propaganda yang ditujukan kepadanya, mereka berusaha menghancurkan Risale-i Nur, membuat orang takut kepadanya, serta membuat mereka meninggalkannya. Walaupun demikian, dengan cara yang tidak terlihat pada karya lain, Risale-i Nur tersebar, bahkan enam ratus ribu eksemplar risalahnya, yang sebagian besar berupa tulisan tangan, tersebar secara tersembunyi dengan minat yang sangat besar. Orang-orang di dalam serta di luar negeri membacanya dengan minat yang amat besar. Apa hikmah di balik hal ini? Apa sebabnya?’ Terhadap banyak pertanyaan dengan maksud demikian, kita menjawab:
Sebagai tafsir sejati Al-Qur’an Al-Hakîm melalui rahasia sifatnya yang bermukjizat, Risale-i Nur menunjukkan adanya neraka rohani dalam kesesatan di dunia ini. Ia juga membuktikan adanya surga rohani dalam iman di dunia ini. Ia menunjukkan penderitaan rohani yang menyakitkan di dalam dosa, keburukan, serta kenikmatan haram. Ia membuktikan adanya kenikmatan rohani seperti kenikmatan surga di dalam amal baik, sifat-sifat terpuji, serta pengamalan hakikat-hakikat syariat. Dengan cara ini, ia menyelamatkan orang-orang yang masih berakal sehat di antara mereka yang berperilaku bejat serta yang terjatuh ke dalam kesesatan. Sebab, pada zaman ini terdapat dua keadaan yang mengerikan:
Pertama: Perasaan manusia yang tidak melihat akibat lebih jauh memilih satu dirham kenikmatan saat ini daripada satu batman kenikmatan di masa depan. Karena perasaan itu mengalahkan akal serta pikiran, satu-satunya cara menyelamatkan orang-orang yang berperilaku bejat dari kebejatan itu ialah menunjukkan penderitaan di dalam kenikmatan tersebut, lalu mengalahkan perasaan mereka. Melalui isyarat ayat
ﻳَﺴْﺘَﺤِﺒُّﻮﻥَ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻋَﻠَﻰ الْاٰخِرَةِ
, pada zaman ini orang mengetahui nikmat serta kenikmatan akhirat yang laksana berlian, tetapi memilih pecahan kaca duniawi yang mudah pecah daripada semua itu. Walaupun beriman, karena cinta dunia serta rahasia tersebut, ia mengikuti orang-orang yang sesat. Satu-satunya cara menyelamatkannya dari bahaya ini ialah menunjukkan azab neraka serta penderitaannya, juga di dunia. Risale-i Nur menempuh jalan itu.
Cara memperkenalkan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq kepada manusia, lalu membuktikan adanya neraka serta membuat mereka meninggalkan keburukan dan dosa dengan azabnya, mungkin hanya memberi pelajaran kepada satu dari sepuluh, bahkan mungkin satu dari dua puluh orang di hadapan kerasnya kekufuran mutlak, kesesatan yang datang dari sains, serta kecanduan perilaku bejat pada zaman ini. Setelah mengambil pelajaran, ia pun dapat berkata, ‘Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq adalah Sang Ghafûr Yang Rahîm; lagi pula, neraka sangat jauh,’ lalu kembali berperilaku bejat. Hati serta ruhnya dikalahkan oleh perasaannya.
Dengan sebagian besar perbandingannya, Risale-i Nur menunjukkan akibat kekufuran serta kesesatan yang menyakitkan dan menakutkan di dunia. Dengan begitu, bahkan orang-orang yang paling keras kepala serta memuja nafsunya merasa muak terhadap kenikmatan terkutuk yang tidak dibenarkan itu serta perilaku bejat. Ia mendorong mereka yang masih berakal sehat untuk
bertobat. Di antara perbandingan-perbandingan itu, perbandingan kecil dalam Kalimat Keenam, Ketujuh, serta Kedelapan, dan perbandingan panjang dalam Bagian Ketiga Kalimat Ketiga Puluh Dua, membuat orang yang paling bejat perilakunya serta berjalan dalam kesesatan pun merasa takut dan menerima pelajarannya.
Misalnya, kita akan menunjukkan dengan sangat singkat keadaan-keadaan yang dilihatnya sebagai hakikat melalui perjalanan dalam khayal pada Âyet-i Nur. Orang yang menginginkan perinciannya hendaknya melihat halaman 256 hingga 259 pada bagian akhir Sikke-i Gaybiye.
Di antaranya: Ketika melihat alam hewan yang membutuhkan rezeki dalam perjalanan khayal itu, aku memandangnya melalui filsafat materialis. Kebutuhan tanpa batas serta rasa lapar yang sangat berat, disertai keadaan lemah dan tidak berdaya, membuat alam makhluk hidup tersebut terlihat amat menyedihkan serta menyakitkan bagiku. Karena memandangnya dengan mata orang-orang yang sesat serta lalai, aku berteriak. Tiba-tiba, melalui Hikmah Al-Qur’an serta teropong iman, aku melihat Nama Ar-Rahmân terbit seperti matahari yang cemerlang dalam gugusan Nama Ar-Razzâq. Dengan cahaya Rahmat, Nama itu menyepuh alam makhluk hidup yang lapar serta malang itu.
Kemudian, di dalam alam hewan, aku melihat alam lain dalam keadaan gelap yang menyedihkan, menyakitkan, serta membuat setiap orang tersentuh dan merasa iba. Di situ, anak-anak hewan bergulat dalam keadaan lemah, tidak berdaya, serta membutuhkan. Karena memandang dengan pandangan orang-orang yang sesat, aku berkata, ‘Aduh!’ Tiba-tiba, iman memberiku kacamata. Aku melihat Nama Ar-Rahîm terbit dalam gugusan Belas Kasih. Nama itu mengubah alam yang menyakitkan itu menjadi alam yang penuh kegembiraan serta meneranginya dengan begitu indah dan manis, sehingga air mataku yang timbul dari keluhan, rasa iba, serta kesedihan berubah menjadi tetes-tetes yang timbul dari nikmat kegembiraan serta syukur.
Kemudian, alam manusia tampak bagiku seperti layar bioskop. Aku memandangnya dengan teropong orang-orang yang sesat. Aku melihat alam itu begitu gelap serta mengerikan sehingga menjerit dari lubuk hatiku yang terdalam dan berkata, ‘Aduh!’ Sebab, pada manusia terdapat keinginan serta harapan yang membentang sampai selama-lamanya, gambaran serta pikiran yang meliputi kainat, cita-cita dan kemampuan bawaan yang sungguh-sungguh mendambakan hidup kekal, kebahagiaan abadi, serta surga. Terdapat pula daya-daya bawaan yang dibiarkan bebas tanpa diberi batas, kebutuhan yang mengarah kepada tujuan-tujuan tanpa batas, serta keadaan lemah dan tak berdaya. Bersama semua itu, mereka menghadapi serangan musibah serta musuh yang tidak terhitung. Dengan umur yang sangat singkat, kehidupan yang sangat penuh gejolak di bawah kekhawatiran akan kematian setiap hari dan setiap jam, serta penghidupan yang sangat menyedihkan demi bertahan hidup, mereka terus menanggung bencana lenyap dan berpisah. Keadaan itu merupakan yang paling menyakitkan serta mengerikan bagi hati dan nurani. Dalam keadaan demikian, mereka memandang kubur serta pemakaman yang bagi orang-orang yang lalai terlihat sebagai pintu menuju keadaan gelap
abadi. Mereka dilemparkan ke dalam sumur yang gelap itu, satu demi satu serta kelompok demi kelompok.
Pada saat aku melihat alam manusia dalam keadaan gelap ini, seluruh latifah manusia dalam diriku, bersama hati, ruh, dan akalku, bahkan seluruh zarah tubuhku, siap menjerit serta menangis. Tiba-tiba, nur yang datang dari Al-Qur’an serta kekuatan iman memecahkan kacamata kesesatan itu, lalu memberiku mata untuk melihat. Kulihat:
Nama Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, Âdil (Yang Mahaadil), terbit dalam gugusan Nama Al-Hakîm; Nama Ar-Rahmân dalam gugusan Nama Al-Karîm; Nama Ar-Rahîm dalam gugusan Nama Al-Ghafûr, yakni dalam maknanya; Nama Al-Bâ‘its dalam gugusan Nama Al-Wârits; Nama Al-Muhyî dalam gugusan Nama Al-Muhsin; dan Nama Ar-Rabb dalam gugusan Nama Al-Mâlik. Semuanya terbit seperti matahari. Asma itu menerangi serta menggembirakan keseluruhan alam manusia yang gelap dan memuat begitu banyak alam itu. Asma itu mengusir keadaan-keadaan laksana neraka, membuka jendela-jendela dari alam akhirat yang penuh nur, lalu menebarkan nur ke dunia manusia yang malang. Aku mengucapkan Elhamdülillah, Eşşükrülillah sebanyak zarah kainat. Aku melihat dengan ainulyaqin, dan mengetahui dengan pasti, bahwa di dunia ini pun terdapat surga rohani dalam iman serta neraka rohani dalam kesesatan.
Kemudian, alam bumi tampak. Dalam perjalanan khayalku itu, hukum-hukum ilmiah yang gelap dari filsafat yang tidak tunduk kepada agama memperlihatkan alam yang mengerikan kepada khayalku. Bumi bergerak tujuh puluh kali lebih cepat daripada peluru meriam, menempuh serta mengitari jarak dua puluh lima ribu tahun dalam satu tahun. Ia setiap saat dapat tercerai-berai serta pecah, bagian dalamnya berguncang oleh gempa, dan ia sudah sangat tua serta lanjut usia. Dalam bumi itu serta di atas kapal yang mengerikan itu, umat manusia yang malang bepergian di dalam ruang kosong kainat yang tidak berujung. Keadaan mereka tampak bagiku dalam keadaan gelap yang amat menakutkan. Kepalaku berputar, pandanganku menjadi gelap. Aku membanting kacamata filsafat ke tanah dan memecahkannya. Tiba-tiba, aku memandang dengan mata yang diterangi Hikmah Al-Qur’an. Kulihat:
Nama-nama Sang Khâliq bumi dan langit, yaitu Al-Qadîr, Al-‘Alîm, Ar-Rabb, Allah سُبْحَانَهُ, Rabb langit serta bumi, dan Sang Musahhir matahari serta bulan (Yang Menundukkan), terbit seperti matahari dalam gugusan Rahmat, Keagungan, serta Rububiyah. Nama-nama itu menerangi alam yang gelap, menakutkan, serta mengerikan tersebut sedemikian rupa sehingga, dalam keadaan itu, dengan mataku yang beriman, aku melihat bumi sebagai kapal perjalanan yang amat teratur, tunduk kepada Perintah, sempurna, menyenangkan, aman, serta memuat perbekalan semua orang. Bumi disiapkan untuk berjalan-jalan, bersenang-senang, dan berdagang. Kulihat ia sebagai kapal, pesawat, serta kereta api yang membawa makhluk-makhluk berjiwa mengelilingi matahari di negeri Rabb, serta membawa hasil musim panas, musim semi, dan
musim gugur kepada mereka yang menginginkan rezeki. Aku mengucapkan Elhamdülillahi alâ nimeti'l-iman sebanyak zarah bumi.
Dengan bertolak dari hal ini, melalui banyak perbandingan dalam Risale-i Nur, orang-orang yang berperilaku bejat serta yang sesat menderita azab di dalam neraka rohani di dunia ini juga. Ahli iman serta orang-orang saleh dapat merasakan kenikmatan surga rohani di dunia ini pula, dengan perut keislaman serta kemanusiaan, dan melalui Tajalli-Tajalli serta manifestasi-manifestasi iman. Bahkan, mereka dapat memperoleh manfaat sesuai derajat iman mereka.
Namun, arus-arus zaman yang penuh badai ini melumpuhkan rasa, menyebarkan serta menenggelamkan pandangan manusia ke arah luar. Arus-arus itu menimbulkan keadaan seperti mati rasa. Akibatnya, untuk sementara, orang-orang yang sesat tidak sepenuhnya merasakan azab rohani mereka. Kelalaian juga menyelimuti orang-orang yang mendapat hidayah, sehingga mereka tidak menghargai kenikmatan sejatinya.
Keadaan mengerikan yang kedua pada abad ini: Dahulu, kekufuran mutlak, kesesatan yang datang dari sains, serta pembangkangan yang datang dari kekufuran keras kepala sangat sedikit dibandingkan dengan zaman ini. Karena itu, pelajaran serta hujah para ulama Islam dahulu yang meneliti kebenaran sepenuhnya mencukupi pada masa mereka. Mereka dapat segera menyingkirkan kekufuran yang bersumber dari keraguan. Karena iman kepada Allah سُبْحَانَهُ tersebar luas, memperkenalkan Allah سُبْحَانَهُ serta mengingatkan azab neraka dapat membuat banyak orang meninggalkan perilaku-perilaku bejat serta kesesatan.
Kini, jika dahulu hanya ada satu orang yang mutlak tidak beriman dalam satu negeri, sekarang dapat ditemukan seratus orang demikian dalam sebuah kota kecil. Dibandingkan dahulu, kini orang yang memasuki kesesatan melalui sains serta ilmu, lalu dengan keras kepala dan pembangkangan menentang hakikat iman, telah bertambah seratus kali. Para pembangkang yang keras kepala ini menentang hakikat-hakikat iman dengan kesombongan setingkat kesombongan Firaun serta kesesatan yang mengerikan. Karena itu, tentu diperlukan suatu hakikat suci yang seperti bom atom akan menghancurkan dasar-dasar mereka di dunia ini, untuk menghentikan serangan mereka serta membawa sebagian dari mereka kepada iman.
Syukur tanpa batas kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq: Sebagai penawar yang tepat bagi luka zaman ini, Risale-i Nur merupakan mukjizat rohani serta kilau-kilau Al-Qur’an yang bermukjizat dalam penjelasannya. Melalui banyak perbandingan, ia mematahkan para pembangkang keras kepala yang paling mengerikan dengan pedang berlian Al-Qur’an. Ia menunjukkan hujah serta dalil bagi Keesaan Ilahi dan hakikat-hakikat iman sebanyak zarah kainat, sehingga selama dua puluh lima tahun ia tidak terkalahkan menghadapi serangan yang paling keras; ia telah menang.
Ya, melalui perbandingan iman dengan kekufuran serta hidayah dengan kesesatan, Risale-i Nur membuktikan hakikat tersebut dengan kesaksian nyata. Misalnya, jika perbandingan-perbandingan lain disandingkan dengan dalil serta kilau dalam kedua Bagian Kalimat Kedua Puluh Dua, Bagian Pertama Kalimat Ketiga Puluh Dua, jendela-jendela Surat Ketiga Puluh Tiga, serta sebelas hujah Asâ-yı Musa, lalu diperhatikan, akan dipahami bahwa hakikat Al-Qur’an yang menampakkan Tajalli dalam Risale-i Nur-lah yang pada zaman ini akan mematahkan serta menghancurkan kerasnya kekufuran mutlak dan kesesatan yang membangkang.
İnşâallah, sebagaimana bagian-bagian yang menyingkap rahasia penting agama serta teka-teki penciptaan alam telah dikumpulkan dalam kumpulan Tılsımlar (Rahasia-Rahasia), demikian pula bagian-bagian Nur yang menunjukkan neraka orang-orang yang sesat bahkan di dunia, serta kenikmatan surga orang-orang yang mendapat hidayah di dunia, akan ditulis dalam bentuk singkat sebagai satu kumpulan kecil. Bagian-bagian itu menunjukkan bahwa iman merupakan benih rohani surga, sedangkan kekufuran merupakan benih pohon zaqqum neraka. Kumpulan itu akan diterbitkan, inşâallah.
--
(Berikut ini empat pokok dari Pembahasan Pertama Kalimat Kedua Puluh Tiga, yang menjadi suatu bukti bahwa bahkan di dunia, iman mengandung benih surga.)
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻟَﻘَﺪْ ﺧَﻠَﻘْﻨَﺎ الْاِنْسَانَ ﻓ۪ٓﻰ ﺍَﺣْﺴَﻦِ ﺗَﻘْﻮ۪ﻳﻢٍ ٭ ﺛُﻢَّ ﺭَﺩَﺩْﻧَﺎﻩُ ﺍَﺳْﻔَﻞَ ﺳَﺎﻓِﻠ۪ﻴﻦَ ٭ اِلَّا ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍٰﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَ ﻋَﻤِﻠُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕِ