PENUTUP
Dua belas hakikat sebelumnya saling menguatkan, saling melengkapi, dan saling memberi kekuatan.
Semuanya bersatu dan bersama-sama memperlihatkan hasilnya.
Sangkaan mana yang berani menembus dua belas tembok kukuh seperti besi, bahkan seperti berlian ini, sehingga menggoyahkan iman kepada kebangkitan yang berada dalam benteng yang kuat?
Ayat mulia
ﻣَﺎ ﺧَﻠْﻘُﻜُﻢْ وَلَا ﺑَﻌْﺜُﻜُﻢْ اِلَّا ﻛَﻨَﻔْﺲٍ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٍ
menyatakan bahwa penciptaan dan kebangkitan seluruh manusia, jika dibandingkan dengan Kudrat Ilahi, semudah penciptaan dan kebangkitan satu manusia.
Ya, memang demikian.
Dalam pembahasan kebangkitan pada risalah bernama "Nokta" (Titik), saya telah menulis secara terperinci hakikat yang dinyatakan ayat ini.
Di sini kita hanya akan menunjukkan ringkasannya melalui sebagian perumpamaan.
Jika engkau ingin, rujuklah "Nokta" itu.
Misalnya,
ﻭَ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﻤَﺜَﻞُ الْاَعْلٰى
—tidak ada cela dalam membuat perumpamaan—melalui rahasia "sifat bercahaya", sekalipun kilauan matahari berlangsung atas pilihannya sendiri, kilauan yang diberikannya dengan mudah kepada satu zarah juga diberikannya dengan kemudahan yang sama kepada benda-benda bening tanpa batas.
Melalui rahasia "kebeningan", pupil kecil satu zarah bening juga setara dengan permukaan laut yang luas dalam menerima pantulan matahari.
Melalui rahasia "keteraturan", sebagaimana seorang anak memutar mainannya yang berbentuk kapal dengan jarinya, ia juga memutar kapal perang dreadnought yang sangat besar.
Melalui rahasia "ketaatan", sebagaimana seorang panglima menggerakkan satu prajurit dengan perintah "Maju!", ia juga menggerakkan pasukan besar dengan kata yang sama.
Melalui rahasia "keseimbangan", bayangkan suatu timbangan di angkasa yang begitu peka dan begitu besar, sehingga merasakan dua buah kenari yang diletakkan pada dua piringannya, sekaligus dapat menampung dan menimbang dua matahari.
Dengan kekuatan yang sama yang mengangkat satu kenari ke langit dan menurunkan kenari lainnya ke bumi pada kedua piringannya, jika terdapat dua matahari, timbangan itu mengangkat dan menurunkannya, yang satu ke arasy dan yang lain ke bumi.
Karena dalam makhluk-makhluk biasa, kurang, dan sementara yang mungkin ada ini, melalui rahasia sifat bercahaya, kebeningan, keteraturan, ketaatan, serta keseimbangan, hal yang paling besar menjadi setara dengan hal yang paling kecil, dan hal-hal tanpa batas serta tak terhitung tampak setara dengan satu hal, tentu, melalui rahasia Tajalli bercahaya dari Kudrat Sang Qadîr Mutlak yang melekat pada Zat-Nya, tanpa batas, dan sangat Sempurna; kebeningan sisi batin segala sesuatu; keteraturan Hikmah serta Takdir; ketaatan sempurna segala sesuatu kepada Perintah penciptaan-Nya; dan keseimbangan dalam kemungkinan makhluk, yang berarti setaranya ada serta tiada bagi makhluk yang mungkin ada, sedikit dan banyak, besar dan kecil adalah setara bagi-Nya.
Dia dapat membawa seluruh manusia ke tempat kebangkitan dengan satu seruan, seperti satu manusia.
Tingkatan kuat dan lemah suatu hal timbul dari masuknya lawan hal itu ke dalamnya.
Misalnya, tingkatan panas timbul dari masuknya dingin, tingkatan keindahan dari masuknya keburukan, dan tingkatan cahaya dari masuknya gelap.
Namun, jika suatu hal melekat pada hakikat dirinya, bukan sifat tambahan, lawannya tidak dapat masuk ke dalamnya.
Sebab, itu mengharuskan dua hal yang berlawanan berkumpul sekaligus, dan hal ini mustahil.
Jadi, dalam sesuatu yang asli dan melekat pada hakikat dirinya tidak terdapat tingkatan.
Karena Kudrat Sang Qadîr Mutlak melekat pada Zat-Nya, bukan sifat tambahan seperti pada makhluk yang mungkin ada, serta berada dalam Kesempurnaan Mutlak, mustahil lawannya, yaitu ketidakberdayaan, masuk ke dalamnya.
Jadi, menciptakan satu musim semi semudah satu bunga bagi Zat-Nya yang memiliki Keagungan.
Jika disandarkan pada sebab-sebab, satu bunga menjadi seberat satu musim semi.
Menghidupkan dan membangkitkan seluruh manusia juga semudah menghidupkan satu jiwa.
Penjelasan kita tentang gambaran-gambaran perumpamaan serta hakikat-hakikat dari awal masalah kebangkitan hingga di sini berasal dari limpahan Al-Qur'an Al-Hakîm.
Penjelasan ini hanya menyiapkan nafsu untuk berserah diri dan hati untuk menerima.
Ucapan yang utama ialah milik Al-Qur'an.
Sebab, itulah ucapan, dan ucapan itu miliknya.
Mari kita dengarkan:
ﻓَﻠِﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﺤُﺠَّﺔُ ﺍﻟْﺒَﺎﻟِﻐَﺔُ ٭ ﻓَﺎﻧْﻈُﺮْ ﺍِﻟٰٓﻰ ﺍٰﺛَﺎﺭِ ﺭَﺣْﻤَﺖِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻛَﻴْﻒَ ﻳُﺤْﻴِﻰ الْاَرْضَ ﺑَﻌْﺪَ ﻣَﻮْﺗِﻬَﺎ ﺍِﻥَّ ﺫٰﻟِﻚَ ﻟَﻤُﺤْﻴِﻰ ﺍﻟْﻤَﻮْﺗٰﻰ ﻭَﻫُﻮَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ ٭ ﻗَﺎﻝَ ﻣَﻦْ ﻳُﺤْﻴِﻰ ﺍﻟْﻌِﻈَﺎﻡَ ﻭَﻫِﻰَ ﺭَﻣ۪ﻴﻢٌ ٭ ﻗُﻞْ ﻳُﺤْﻴ۪ﻴﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬ۪ٓﻯ ﺍَﻧْﺸَﺎَﻫَٓﺎ ﺍَﻭَّﻝَ ﻣَﺮَّﺓٍ ﻭَﻫُﻮَ ﺑِﻜُﻞِّ ﺧَﻠْﻖٍ ﻋَﻠ۪ﻴﻢٌ ٭ ﻳَٓﺎ ﺍَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺭَﺑَّﻜُﻢْ ﺍِﻥَّ ﺯَﻟْﺰَﻟَﺔَ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔِ ﺷَﻲْﺀٌ ﻋَﻈ۪ﻴﻢٌ ٭ ﻳَﻮْﻡَ ﺗَﺮَﻭْﻧَﻬَﺎ ﺗَﺬْﻫَﻞُ ﻛُﻞُّ ﻣُﺮْﺿِﻌَﺔٍ ﻋَﻤَّٓﺎ ﺍَﺭْﺿَﻌَﺖْ ﻭَﺗَﻀَﻊُ ﻛُﻞُّ ﺫَﺍﺕِ ﺣَﻤْﻞٍ ﺣَﻤْﻠَﻬَﺎ ﻭَﺗَﺮَﻯ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﺳُﻜَﺎﺭٰﻯ ﻭَﻣَﺎ ﻫُﻢْ ﺑِﺴُﻜَﺎﺭٰﻯ ﻭَﻟٰﻜِﻦَّ ﻋَﺬَﺍﺏَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺷَﺪ۪ﻳﺪٌ ٭ ﺍَﻟﻠّٰﻪُ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ ﻟَﻴَﺠْﻤَﻌَﻨَّﻜُﻢْ ﺍِﻟٰﻰ ﻳَﻮْﻡِ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ لَا ﺭَﻳْﺐَ ﻓ۪ﻴﻪِ ﻭَﻣَﻦْ ﺍَﺻْﺪَﻕُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺣَﺪ۪ﻳﺜًﺎ ٭ ﺍِﻥَّ الْاَبْرَارَ ﻟَﻔ۪ﻰ ﻧَﻌ۪ﻴﻢٍ ٭ ﻭَﺍِﻥَّ ﺍﻟْﻔُﺠَّﺎﺭَ ﻟَﻔ۪ﻰ ﺟَﺤ۪ﻴﻢٍ ٭ ﺍِﺫَﺍ ﺯُﻟْﺰِﻟَﺖِ الْاَرْضُ ﺯِﻟْﺰَﺍﻟَﻬَﺎ ٭ ﻭَﺍَﺧْﺮَﺟَﺖِ الْاَرْضُ ﺍَﺛْﻘَﺎﻟَﻬَﺎ ٭ ﻭَ ﻗَﺎﻝَ الْاِنْسَانُ ﻣَﺎﻟَﻬَﺎ ٭ ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﺗُﺤَﺪِّﺙُ ﺍَﺧْﺒَﺎﺭَﻫَﺎ ٭ ﺑِﺎَﻥَّ ﺭَﺑَّﻚَ ﺍَﻭْﺣٰﻰ ﻟَﻬَﺎ ٭ ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﻳَﺼْﺪُﺭُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺍَﺷْﺘَﺎﺗًﺎ ﻟِﻴُﺮَﻭْﺍ ﺍَﻋْﻤَﺎﻟَﻬُﻢْ ٭ ﻓَﻤَﻦْ ﻳَﻌْﻤَﻞْ ﻣِﺜْﻘَﺎﻝَ ﺫَﺭَّﺓٍ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻳَﺮَﻩُ ٭ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﻌْﻤَﻞْ ﻣِﺜْﻘَﺎﻝَ ﺫَﺭَّﺓٍ ﺷَﺮًّﺍ ﻳَﺮَﻩُ ٭ ﺍَﻟْﻘَﺎﺭِﻋَﺔُ ٭ ﻣَﺎ ﺍﻟْﻘَﺎﺭِﻋَﺔُ ٭ ﻭَﻣَٓﺎ ﺍَﺩْﺭٰﻳﻚَ ﻣَﺎ ﺍﻟْﻘَﺎﺭِﻋَﺔُ ٭ ﻳَﻮْﻡَ ﻳَﻜُﻮﻥُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻛَﺎﻟْﻔَﺮَﺍﺵِ ﺍﻟْﻤَﺒْﺜُﻮﺙِ ٭ ﻭَ ﺗَﻜُﻮﻥُ ﺍﻟْﺠِﺒَﺎﻝُ ﻛَﺎﻟْﻌِﻬْﻦِ ﺍﻟْﻤَﻨْﻔُﻮﺵِ ٭ ﻓَﺎَﻣَّﺎ ﻣَﻦْ ﺛَﻘُﻠَﺖْ ﻣَﻮَﺍﺯ۪ﻳﻨُﻪُ٭ ﻓَﻬُﻮَ ﻓ۪ﻰ ﻋ۪ﻴﺸَﺔٍ ﺭَﺍﺿِﻴَﺔٍ ٭ ﻭَ ﺍَﻣَّﺎ ﻣَﻦْ ﺧَﻔَّﺖْ ﻣَﻮَﺍﺯ۪ﻳﻨُﻪُ ﻓَﺎُﻣُّﻪُ ﻫَﺎﻭِﻳَﺔٌ ٭ ﻭَﻣَٓﺎ ﺍَﺩْﺭٰﻳﻚَ ﻣَﺎﻫِﻴَﻪْ ٭ ﻧَﺎﺭٌ ﺣَﺎﻣِﻴَﺔٌ ٭ ﻭَ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻏَﻴْﺐُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ ﻭَﻣَٓﺎ ﺍَﻣْﺮُ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔِ اِلَّا ﻛَﻠَﻤْﺢِ ﺍﻟْﺒَﺼَﺮِ ﺍَﻭْ ﻫُﻮَ ﺍَﻗْﺮَﺏُ ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ
Mari kita dengarkan pula ayat-ayat Al-Qur'an yang jelas seperti ini dan mengucapkan "Âmennâ ve saddaknâ".
ﺍٰﻣَﻨْﺖُ ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ ﻭَ ﻣَﻠٰٓﺌِﻜَﺘِﻪ۪ ﻭَ ﻛُﺘُﺒِﻪ۪ ﻭَ ﺭُﺳُﻠِﻪ۪ ﻭَ ﺍﻟْﻴَﻮْﻡِ الْاٰخِرِ ﻭَ ﺑِﺎﻟْﻘَﺪَﺭِ ﺧَﻴْﺮِﻩ۪ ﻭَ ﺷَﺮِّﻩ۪ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟٰﻰ ﻭَ ﺍﻟْﺒَﻌْﺚُ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ ﺣَﻖٌّ ﻭَ ﺍَﻥَّ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﺣَﻖٌّ ﻭَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ ﺣَﻖٌّ ﻭَ ﺍَﻥَّ ﺍﻟﺸَّﻔَﺎﻋَﺔَ ﺣَﻖٌّ ﻭَ ﺍَﻥَّ ﻣُﻨْﻜَﺮًﺍ ﻭَ ﻧَﻜ۪ﻴﺮًﺍ ﺣَﻖٌّ ﻭَ ﺍَﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻳَﺒْﻌَﺚُ ﻣَﻦْ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻘُﺒُﻮﺭِ ﺍَﺷْﻬَﺪُ ﺍَﻥْ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَ ﺍَﺷْﻬَﺪُ ﺍَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠٰٓﻰ ﺍَﻟْﻄَﻒِ ﻭَ ﺍَﺷْﺮَﻑِ ﻭَ ﺍَﻛْﻤَﻞِ ﻭَ ﺍَﺟْﻤَﻞِ ﺛَﻤَﺮَﺍﺕِ ﻃُﻮﺑَٓﺎﺀِ ﺭَﺣْﻤَﺘِﻚَ ﺍﻟَّﺬ۪ٓﻯ ﺍَﺭْﺳَﻠْﺘَﻪُ ﺭَﺣْﻤَﺔً ﻟِﻠْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ ﻭَ ﻭَﺳ۪ﻴﻠَﺔً ﻟِﻮُﺻُﻮﻟِﻨَٓﺎ ﺍِﻟٰٓﻰ ﺍَﺯْﻳَﻦِ ﻭَ ﺍَﺣْﺴَﻦِ ﻭَ ﺍَﺟْﻠٰﻰ ﻭَ ﺍَﻋْﻠٰﻰ ﺛَﻤَﺮَﺍﺕِ ﺗِﻠْﻚَ ﺍﻟﻄُّﻮﺑَٓﺎﺀِ ﺍﻟْﻤُﺘَﺪَﻟِّﻴَﺔِ ﻋَﻠٰﻰ ﺩَﺍﺭِ الْاٰخِرَةِ ﺍَﻯِ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ٭ ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺍَﺟِﺮْﻧَﺎ ﻭَ ﺍَﺟِﺮْ ﻭَﺍﻟِﺪَﻳْﻨَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻭَ ﺍَﺩْﺧِﻠْﻨَﺎ ﻭَ ﺍَﺩْﺧِﻞْ ﻭَﺍﻟِﺪَﻳْﻨَﺎ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﻣَﻊَ الْاَبْرَارِ ﺑِﺠَﺎﻩِ ﻧَﺒِﻴِّﻚَ ﺍﻟْﻤُﺨْﺘَﺎﺭِ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ
Wahai saudaraku yang membaca risalah ini dengan adil!
Jangan berkata, "Mengapa aku tidak dapat memahami seluruh Kalimat Kesepuluh ini sekaligus?" Jangan pula merasa susah karena belum memahaminya sepenuhnya!
Sebab, seorang jenius dalam hikmah seperti Ibnu Sina telah berkata,
ﺍَﻟْﺤَﺸْﺮُ ﻟَﻴْﺲَ ﻋَﻠٰﻰ ﻣَﻘَﺎﻳ۪ﻴﺲَ ﻋَﻘْﻠِﻴَّﺔٍ
.
Ia menetapkan, "Kami beriman, tetapi akal tidak dapat menempuh jalan ini." Seluruh ulama Islam juga sepakat menetapkan, "Kebangkitan merupakan masalah yang diterima melalui dalil naqli; buktinya adalah dalil naqli, dan tidak dapat dicapai dengan akal." Karena itu, tentu jalan yang begitu dalam dan sangat tinggi secara makna tidak dapat seketika menjadi jalan raya umum bagi akal.
Melalui limpahan Al-Qur'an Al-Hakîm dan Rahmat Sang Khâliq Yang Rahîm, pada abad ini ketika sikap mengikuti tanpa penelitian telah pecah dan sikap berserah diri telah rusak, Dia mengaruniakan jalan yang dalam dan tinggi itu hingga tingkat ini.
Karena itu, kita harus bersyukur seribu kali.
Sebab, hal ini cukup untuk menyelamatkan iman kita.
Kita harus merasa senang dengan bagian yang telah kita pahami, serta berusaha menambahnya dengan membaca kembali.
Salah satu rahasia mengapa kebangkitan tidak dapat dicapai dengan akal ialah: kebangkitan terbesar terjadi melalui Tajalli Ismul A'zham.
Karena itu, dengan melihat dan memperlihatkan Tindakan-Tindakan Besar yang tampak melalui Tajalli Ismul A'zham dari Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq serta Tajalli setiap Nama pada tingkatnya yang paling tinggi, kebangkitan terbesar dapat dibuktikan semudah musim semi, dipahami dengan keyakinan pasti, dan diimani berdasarkan penelitian.
Dalam Kalimat Kesepuluh ini, melalui limpahan Al-Qur'an, hal itu dilihat serta diperlihatkan demikian.
Jika tidak, akal yang dibiarkan sendiri dengan aturan-aturannya yang sempit dan kecil akan tak berdaya dan terpaksa mengikuti tanpa penelitian.
--
Di antara tawafuk (kesesuaian tanpa disengaja) yang halus serta bersifat karamah pada Kalimat Kesepuluh ialah: sebagaimana sebagian besar halaman salinan cetaknya bersesuaian dalam jumlah huruf elif, angka tiga, empat, lima, serta enam yang menjadi dasar kesesuaian pada halaman-halaman selebihnya, dengan satu-dua pengecualian, juga secara bermakna masing-masing bersesuaian satu sama lain pada tiga belas. {(Catatan kaki1): Pada salinan almarhum Hâfız Ali, dasar tawafuk lebih banyak terdapat pada satu, dua, tiga, empat, serta lima.} Ada banyak rahasia semacam ini.
Kali ini, pada Kalimat Kesepuluh yang ditulis Hâfız Ali (rh) dari salinan cetak tersebut tanpa mengejar tawafuk apa pun, huruf-huruf elif yang muncul dengan sendirinya pada awal baris di halaman-halamannya bersesuaian pada seluruh halaman, kecuali satu halaman saja. Bersamaan dengan itu, kami melihat bahwa jumlah seluruh elif, seratus sembilan puluh tiga, tepat bersesuaian dengan nilai abjad nama Kalimat Kesepuluh ini, yakni “Onuncu Söz”. Dengan selisih satu, ia juga bersesuaian dengan nilai abjad nama “Bedîüzzaman”, nama kedua penulis Kalimat Kesepuluh.
Suatu petunjuk halus bahwa tawafuk ini bermakna ialah: sebelum rahasia ini tampak, dua murid Risale-i Nur sedang berpikir, “Adakah suatu makna dalam jumlah elif ini?” Tiba-tiba kata “Onuncu Söz” datang dari hati ke lisan keduanya pada saat yang sama. Kesesuaian dua hati serta dua lisan itu menguatkannya.
Tawafuk kedua yang bermakna dari angka seratus sembilan puluh tiga ini ialah: seratus sembilan puluh tiga elif tersebut bersesuaian dengan seratus sembilan puluh tiga, jumlah seluruh huruf suci ayat
ﻓَﺎﻧْﻈُﺮْ ﺍِﻟٰﻰ ﺍٰﺛَﺎﺭِ ﺭَﺣْﻤَﺖِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﻰ ﺁﺧﺮ
pada awal, yang mengajarkan kebangkitan, serta ayat
ﻳَﺎ ﺍَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺭَﺑَّﻜُﻢْ ﺍﻟﻰ ﺁﺧﺮ
pada akhir, yang mengajarkan kiamat dan kedahsyatannya. Tentu hal ini bukan kebetulan.
Hal yang halus ialah: ayat terakhir memberitakan kematian dunia, awal dari rukun iman
ﻭ ﺍﻟﺒَﻌْﺚُ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕ ﺣَﻖّ
. Adapun ayat pertama memberitakan dihidupkannya orang-orang mati, akhir dari rukun tersebut. Demikian pula dalam kalimat
ﺍﻟﺒَﻌْﺚُ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕ ﺣَﻖّ
, awal kalimat itu menunjukkan yang akhir, dan akhir kalimat itu menunjukkan yang awal.
Selain itu, ayat
ﻣَﺎ ﺧَﻠْﻘُﻜُﻢْ وَلَا ﺑَﻌْﺜُﻜُﻢْ اِلَّا ﻛَﻨَﻔْﺲٍ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٍ ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﺳَﻤِﻴﻊٌ ﺑَﺼِﻴﺮٌ
, yang mengajarkan kebangkitan serta menghidupkan kembali dan disebut dalam penutup, bersama surah
ﺍِﺫَﺍ ﺯُﻟْﺰِﻟَﺖِ الْاَرْضُ ﺯِﻟْﺰَﺍﻟَﻬَﺎ
, yang mengajarkan gempa besar kiamat serta disebut pada akhir Kalimat Kesepuluh dan Kalimat Kedua Puluh Sembilan, mempunyai seratus sembilan puluh empat huruf suci yang dilafalkan. Dengan selisih satu, angka itu bersesuaian dengan seratus sembilan puluh tiga elif ini. Karena bersesuaian sepenuhnya dengan tawafuk sebelumnya, hal ini menguatkan yang sebelumnya sekaligus dikuatkan olehnya.
Di antara tawafuk halus Kalimat ini pula: jumlah seluruh elif serta baris, sembilan ratus sembilan puluh delapan, tepat bersesuaian dengan Risaleti'n-nur pada sembilan ratus sembilan puluh delapan, dengan syarat nun yang bertasydid dihitung sebagai dua nun. Kedua tawafuk ini, dengan kurang satu, juga bersesuaian dengan sembilan ratus sembilan puluh sembilan, nilai abjad basmalah yang memiliki rahasia agung serta masyhur. {(Catatan kaki-1): Ya, melalui petunjuk perintah ﺍِﻗْﺮَﺍْ ﺑِﺎﺳْﻢِ pada awal Surah Alak, yang pertama kali diturunkan, kata tempat bergantungnya seluruh Bismillah dalam Al-Qur'an menurut kaidah ilmu saraf ialah ﺍِﻗْﺮَﺍْ. Perintah ﺍِﻗْﺮَﺍْ ini ditinjau dari Al-Qur'an. Jika kita mengatakan ﺑِﺎﺳْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪ, kita membaca kata ﺍِﻗْﺮَﺍْ sebagai ﺍَﻗْﺮَﺍُ, dalam bentuk orang pertama tunggal. Dalam kegiatan membaca, makna ﺍَﻗْﺮَﺍُ ini diperkirakan ada pada awal setiap basmalah. Nilai abjad basmalah yang mulia, bersama ﺍَﻗْﺮَﺍْ sebagai kata tempat bergantungnya yang diperkirakan, dengan syarat tasydid serta yang tidak dilafalkan tidak dihitung, ialah angka sembilan ratus sembilan puluh sembilan yang mengandung rahasia dan masyhur.}
{(Catatan kaki-2): Dua tawafuk lain yang sangat bermakna dari ketiga tawafuk ini ialah: sebagaimana nilai abjad kalimat ﺍﻥ ﺍﻟﺤﺸﺮ ﺣﻖ ﻭ ﺻﺪﻕ, yang memperlihatkan kuatnya kebenaran Kalimat Kesepuluh, ialah sembilan ratus sembilan puluh delapan, nilai cifir (perhitungan huruf) ucapan ﺍﻳﻤﺎﻥ ﺑﻴﻮﻡ ﺍﻵﺧﺮ (Peringatan), yang menunjukkan rukun iman yang dibuktikan dengan jelas oleh Kalimat Kesepuluh, juga sembilan ratus sembilan puluh delapan. Dengan demikian, keduanya menaikkan tiga tawafuk halus ini menjadi lima tawafuk yang diberkahi.
Peringatan: Jika ﻳﻮﻡ menjadi kata yang disifati, menurut kaidah bentuknya ﺍﻟﻴﻮﻡ ﺍﻵﺧﺮ. Jika menjadi mudhaf, yakni kata pertama dalam hubungan penyandaran, menurut kaidah bentuknya ﻳﻮﻡ ﺍﻵﺧﺮﺓ; ﺓ menjadi ﻩ ketika berhenti membaca.}
Hal ini mengisyaratkan betapa tinggi pokok-pokok yang diperhatikan oleh Kalimat Kesepuluh. {(Catatan kaki-3): Di antara banyak tanda bahwa suatu sinar dari satu bagian di antara seratus bagian kemukjizatan Al-Qur'an diberikan dalam bentuk tawafuk kepada bagian-bagian Risale-i Nur, yang merupakan suatu tafsir Al-Qur'an, ada petunjuk kecil berikut: seseorang yang penanya berhasil dalam tawafuk menulis dengan saksama surat pengesahan yang kurang dari dua halaman, tetapi hanya dapat memperlihatkan hingga lima belas-dua puluh tawafuk. Adapun orang lain, yang bagiannya dalam tawafuk kurang, tidak memikirkannya, dan menulis surat pengesahan ini dengan sangat cepat, memperlihatkan sembilan puluh sembilan tawafuk.}
Atas nama para murid Risale-i Nur
Re'fet, Rüşdü, Hüsrev, Said Nursî
TAMBAHAN PENTING PADA KALIMAT KESEPULUH DAN BAGIAN PERTAMA LAMPIRANNYA
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻓَﺴُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺣ۪ﻴﻦَ ﺗُﻤْﺴُﻮﻥَ ﻭَﺣ۪ﻴﻦَ ﺗُﺼْﺒِﺤُﻮﻥَ ٭ ﻭَﻟَﻪُ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻓِﻰ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ ﻭَﻋَﺸِﻴًّﺎ ﻭَﺣ۪ﻴﻦَ ﺗُﻈْﻬِﺮُﻭﻥَ ٭ ﻳُﺨْﺮِﺝُ ﺍﻟْﺤَﻰَّ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖِ ﻭَﻳُﺨْﺮِﺝُ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺤَﻰِّ ﻭَﻳُﺤْﻴِﻰ الْاَرْضَ ﺑَﻌْﺪَ ﻣَﻮْﺗِﻬَﺎ ﻭَﻛَﺬٰﻟِﻚَ ﺗُﺨْﺮَﺟُﻮﻥَ ٭ ﻭَﻣِﻦْ ﺍٰﻳَﺎﺗِﻪ۪ٓ ﺍَﻥْ ﺧَﻠَﻘَﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﺗُﺮَﺍﺏٍ ﺛُﻢَّ ﺍِﺫَﺍ ﺍَﻧْﺘُﻢْ ﺑَﺸَﺮٌ ﺗَﻨْﺘَﺸِﺮُﻭﻥَ ٭ ﻭَ ﻣِﻦْ ﺍٰﻳَﺎﺗِﻪِ ﺍَﻥْ ﺧَﻠَﻖَ ﻟَﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﺍَﻧْﻔُﺴِﻜُﻢْ ﺍَﺯْﻭَﺍﺟًﺎ ﻟِﺘَﺴْﻜُﻨُٓﻮﺍ ﺍِﻟَﻴْﻬَﺎ ﻭَ ﺟَﻌَﻞَ ﺑَﻴْﻨَﻜُﻢْ ﻣَﻮَﺩَّﺓً ﻭَ ﺭَﺣْﻤَﺔً ﺍِﻥَّ ﻓ۪ﻰ ﺫٰﻟِﻚَ لَاٰيَاتٍ ﻟِﻘَﻮْﻡٍ ﻳَﺘَﻔَﻜَّﺮُﻭﻥَ ٭ ﻭَﻣِﻦْ ﺍٰﻳَﺎﺗِﻪ۪ ﺧَﻠْﻖُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافُ ﺍَﻟْﺴِﻨَﺘِﻜُﻢْ ﻭَ ﺍَﻟْﻮَﺍﻧِﻜُﻢْ ﺍِﻥَّ ﻓ۪ﻰ ﺫٰﻟِﻚَ لَاٰيَاتٍ ﻟِﻠْﻌَﺎﻟِﻤ۪ﻴﻦَ ٭ ﻭَ ﻣِﻦْ ﺍٰﻳَﺎﺗِﻪ۪ ﻣَﻨَﺎﻣُﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟَّﻴْﻞِ ﻭَ ﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ ﻭَﺍﺑْﺘِﻐَٓﺎﺅُ۬ﻛُﻢْ ﻣِﻦْ ﻓَﻀْﻠِﻪ۪ ﺍِﻥَّ ﻓ۪ﻰ ﺫٰﻟِﻚَ لَاٰيَاتٍ ﻟِﻘَﻮْﻡٍ ﻳَﺴْﻤَﻌُﻮﻥَ ٭ ﻭَ ﻣِﻦْ ﺍٰﻳَﺎﺗِﻪ۪ ﻳُﺮ۪ﻳﻜُﻢُ ﺍﻟْﺒَﺮْﻕَ ﺧَﻮْﻓًﺎ ﻭَ ﻃَﻤَﻌًﺎ ﻭَ ﻳُﻨَﺰِّﻝُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀِ ﻣَٓﺎﺀً ﻓَﻴُﺤْﻴ۪ﻰ ﺑِﻪِ الْاَرْضَ ﺑَﻌْﺪَ ﻣَﻮْﺗِﻬَﺎ ﺍِﻥَّ ﻓ۪ﻰ ﺫٰﻟِﻚَ لَاٰيَاتٍ ﻟِﻘَﻮْﻡٍ ﻳَﻌْﻘِﻠُﻮﻥَ ٭ ﻭَﻣِﻦْ ﺍٰﻳَﺎﺗِﻪ۪ٓ ﺍَﻥْ ﺗَﻘُﻮﻡَ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀُ وَالْاَرْضُ ﺑِﺎَﻣْﺮِﻩ۪ ﺛُﻢَّ ﺍِﺫَﺍ ﺩَﻋَﺎﻛُﻢْ ﺩَﻋْﻮَﺓً ﻣِﻦَ الْاَرْضِ ﺍِﺫَٓﺍ ﺍَﻧْﺘُﻢْ ﺗَﺨْﺮُﺟُﻮﻥَ ٭ ﻭَ ﻟَﻪُ ﻣَﻦْ ﻓِﻰ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ ﻭَ الْاَرْضِ ﻛُﻞٌّ ﻟَﻪُ ﻗَﺎﻧِﺘُﻮﻥَ ٭ ﻭَ ﻫُﻮَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﻳَﺒْﺪَﺅُﺍ ﺍﻟْﺨَﻠْﻖَ ﺛُﻢَّ ﻳُﻌ۪ﻴﺪُﻩُ ﻭَ ﻫُﻮَ ﺍَﻫْﻮَﻥُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﻟَﻪُ ﺍﻟْﻤَﺜَﻞُ الْاَعْلٰى ﻓِﻰ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟْﻌَﺰ۪ﻳﺰُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ ٭
Suatu butir terbesar dan suatu bukti teragung dari ayat-ayat samawi yang besar ini, yang menunjukkan salah satu poros iman, serta dari bukti-bukti suci yang besar ini, yang membuktikan kebangkitan, akan dijelaskan dalam Sinar Kesembilan ini.
Merupakan Perhatian Rabbani yang Lembut bahwa tiga puluh tahun yang lalu, Said Lama, di akhir karya bernama Muhakemat (Penalaran) yang ditulisnya sebagai pengantar tafsir, berkata, "Maksud Kedua: Dua ayat dalam Al-Qur'an yang menunjukkan kebangkitan akan ditafsirkan dan dijelaskan.
ﻧَﺨُﻮ ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ
," lalu berhenti dan belum dapat menulis lebih lanjut.
Syukur dan pujian sebanyak bukti serta petunjuk kebangkitan bagi Khâliq-ku Yang Rahîm, karena tiga puluh tahun kemudian Dia mengaruniakan taufik.
Ya, sembilan atau sepuluh tahun yang lalu, Dia menganugerahkan Kalimat Kesepuluh dan Kalimat Kedua Puluh Sembilan, yang merupakan dua bukti serta tafsir yang cemerlang dan sangat kuat bagi Titah Ilahi
ﻓَﺎﻧْﻈُﺮْ ﺍِﻟٰٓﻰ ﺍٰﺛَﺎﺭِ ﺭَﺣْﻤَﺖِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻛَﻴْﻒَ ﻳُﺤْﻴِﻰ الْاَرْضَ ﺑَﻌْﺪَ ﻣَﻮْﺗِﻬَﺎ ﺍِﻥَّ ﺫٰﻟِﻚَ ﻟَﻤُﺤْﻴِﻰ ﺍﻟْﻤَﻮْﺗٰﻰ ﻭَﻫُﻮَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ
, ayat pertama dari kedua ayat itu, dan membungkam para pengingkar.
Sembilan dan sepuluh tahun setelah dua benteng kukuh iman kepada kebangkitan yang tidak dapat diserang itu, Dia juga mengaruniakan melalui risalah ini tafsir ayat kedua, yakni ayat-ayat besar yang disebutkan pada awal.
Sinar Kesembilan ini terdiri atas sembilan bagian yang luhur, yang ditunjukkan ayat-ayat tersebut, serta satu pengantar penting.
PENGANTAR
Pembahasan ini terdiri atas dua pokok.
Dari begitu banyak manfaat bagi ruh serta hasil bagi kehidupan dari akidah kebangkitan, kita menjelaskan secara singkat satu hasil yang mencakup banyak hal, serta memperlihatkan betapa akidah itu diperlukan dan sangat penting bagi kehidupan manusia, khususnya kehidupan bersamanya.
Dari begitu banyak bukti akidah iman kepada kebangkitan ini, kita juga memperlihatkan secara ringkas satu bukti yang menyeluruh, serta menyatakan betapa akidah kebangkitan itu jelas dan tidak diragukan.
Pokok Pertama: Dari ratusan bukti bahwa akidah akhirat merupakan dasar utama kehidupan bersama serta kehidupan pribadi manusia, dan dasar kebahagiaan serta kesempurnaannya, kita hanya akan menunjukkan empat sebagai ukuran: Yang Pertama: Anak-anak, yang membentuk hampir separuh umat manusia, hanya melalui pemikiran tentang surga dapat bertahan menghadapi kematian dan wafat yang terlihat mengerikan serta membuat mereka menangis.
Mereka dapat menemukan kekuatan batin dalam tubuhnya yang sangat lemah dan rapuh.
Dalam keadaan ruhnya yang sangat tidak tahan dan cepat menangis karena apa pun, mereka dapat menemukan harapan melalui surga itu serta hidup dengan gembira.
Misalnya, melalui pemikiran tentang surga, seorang anak berkata, "Adik kecilku atau temanku telah meninggal, menjadi burung surga.
Ia berjalan-jalan di surga dan hidup lebih indah daripada kita." Jika tidak, kematian anak-anak seperti mereka serta orang dewasa di sekelilingnya setiap saat mengenai pandangan cemas anak-anak yang lemah dan tak berdaya itu.
Hal ini akan menghancurkan daya tahan serta kekuatan batin mereka, dan bersama matanya membuat seluruh daya halusnya, seperti ruh, hati, dan akal, menangis sedemikian rupa, sehingga ia akan hancur atau menjadi hewan yang gila dan malang.
Bukti Kedua: Orang-orang lanjut usia, yang dari satu segi merupakan separuh umat manusia, hanya melalui kehidupan akhirat dapat bertahan menghadapi kubur yang berada dekat dengan mereka.
Mereka dapat menemukan penghiburan ketika kehidupannya yang sangat mereka perhatikan segera padam dan dunianya yang indah tertutup.
Dalam ruh dan keadaan dirinya yang cepat terpengaruh serta menjadi seperti anak-anak, mereka hanya dapat menghadapi keputusasaan yang menyakitkan dan mengerikan akibat kematian serta kelenyapan dengan harapan akan kehidupan yang kekal.
Jika tidak, orang-orang terhormat yang layak mendapat kasih sayang, para ayah dan ibu yang cemas serta sangat membutuhkan ketenangan dan istirahat hati itu akan merasakan ratapan ruh serta kegelisahan hati sedemikian rupa, sehingga dunia ini menjadi penjara gelap bagi mereka dan kehidupan menjadi azab yang penuh kesedihan.
Bukti Ketiga: Para pemuda dan remaja, yang menjadi penopang kehidupan bersama manusia, hanya melalui pemikiran tentang neraka dapat menahan perasaan mereka yang sangat bergolak serta nafsu dan keinginan mereka yang berlebihan dari pelanggaran, kezaliman, serta perusakan, dan menjaga agar kehidupan bersama berlangsung dengan baik.
Jika tidak ada kekhawatiran terhadap neraka, dengan kaidah "El-hükmü lil-galib", para pemuda yang mabuk itu akan mengikuti keinginan mereka dan mengubah dunia menjadi neraka bagi orang-orang lemah serta tak berdaya yang malang.
Mereka akan mengubah kemanusiaan yang luhur menjadi sifat hewan yang sangat rendah.
Bukti Keempat: Pusat yang paling banyak menghimpun hubungan dan pegas yang paling mendasar dalam kehidupan dunia umat manusia, serta surga, tempat berlindung, dan benteng bagi kebahagiaan dunia, ialah kehidupan keluarga.
Rumah setiap orang merupakan dunia kecilnya.
Kehidupan dan kebahagiaan rumah serta keluarga itu hanya dapat terwujud dengan penghormatan yang tulus, sungguh-sungguh, dan setia, serta belas kasih yang sejati, penuh kasih sayang, dan rela berkorban.
Penghormatan sejati dan belas kasih tulus ini hanya dapat terwujud dengan pemikiran serta keyakinan tentang persahabatan abadi, pendampingan yang tetap, kebersamaan selamanya, dan hubungan sebagai ayah, anak, saudara, serta teman satu sama lain dalam waktu tanpa batas dan kehidupan tanpa batas.
Misalnya, seseorang berkata, "Istriku ini adalah pendamping hidupku yang tetap dalam alam abadi dan kehidupan abadi.
Sekalipun sekarang ia telah tua dan buruk rupa, tidak menjadi masalah.
Sebab, ia memiliki keindahan abadi yang akan datang.
Demi persahabatan yang tetap seperti ini, aku rela melakukan setiap pengorbanan dan memberi belas kasih." Dengan berkata demikian, ia dapat menyambut istrinya yang tua dengan cinta, kasih sayang, serta belas kasih, seperti seorang bidadari yang indah.
Jika tidak, persahabatan yang mengalami perpisahan dan keterpisahan abadi setelah kebersamaan lahir yang sangat singkat, satu atau dua jam, tentu hanya dapat memberi rasa iba kepada sesama seperti pada hewan, yang sangat lahiriah, sementara, dan tanpa dasar, serta belas kasih kiasan dan penghormatan buatan.
Seperti pada hewan, kepentingan lain serta perasaan lain yang lebih kuat akan mengalahkan penghormatan dan belas kasih itu, lalu mengubah surga dunia tersebut menjadi neraka.
Inilah salah satu dari ratusan hasil iman kepada kebangkitan yang berkaitan dengan kehidupan bersama manusia.
Jika sisi dan manfaat lain dari ratusan sisi serta manfaat satu hasil ini dibandingkan dengan empat bukti tersebut, dapat dipahami bahwa terwujud dan terjadinya hakikat kebangkitan adalah pasti, sepasti hakikat luhur kemanusiaan serta kebutuhan manusia yang menyeluruh.
Bahkan, hal itu lebih jelas dan lebih kuat memberitahukan keterwujudannya daripada kebutuhan dalam perut manusia menunjukkan serta bersaksi atas adanya makanan.
Semua itu juga membuktikan bahwa jika hasil-hasil hakikat kebangkitan ini dikeluarkan dari kemanusiaan, hakikat kemanusiaan yang begitu penting, tinggi, dan hidup itu akan jatuh menjadi seperti bangkai kotor yang menjadi sarang kuman.
Biarlah telinga para ahli masyarakat, politik, dan akhlak, yang sangat memperhatikan pemerintahan, akhlak, serta kehidupan bersama manusia, berdenging!
Biarlah mereka datang: dengan apa mereka dapat mengisi kekosongan ini, dan dengan apa mereka dapat mengobati luka-luka yang dalam ini?
Pokok Kedua: Dari bukti-bukti hakikat kebangkitan yang tanpa batas, pokok ini menjelaskan dengan sangat singkat satu bukti yang keluar dari ringkasan kesaksian rukun-rukun iman lainnya, sebagai berikut: Seluruh mukjizat yang menunjukkan risalah Nabi Muhammad ﷺ, seluruh bukti kenabiannya, serta seluruh bukti kebenarannya bersama-sama bersaksi dan membuktikan terwujudnya hakikat kebangkitan.
Sebab, dalam seluruh kehidupannya, seluruh pernyataan sosok ini, setelah Keesaan Allah سُبْحَانَهُ, berpusat pada kebangkitan.
Seluruh mukjizat dan bukti yang membenarkan seluruh nabi serta membuat mereka dibenarkan juga bersaksi atas hakikat yang sama.
Dari kata ﻭَﺑِﺮُﺳُﻠِﻪِ datang suatu kesaksian; kesaksian ﻭَﻛُﺘُﺒِﻪِ, yang membawa kesaksian itu ke tingkat yang sangat jelas, juga bersaksi atas hakikat yang sama, sebagai berikut: Terutama seluruh mukjizat, bukti, serta hakikat yang membuktikan kebenaran Al-Qur'an yang bahasanya merupakan mukjizat, bersama-sama bersaksi dan membuktikan terwujud serta terjadinya hakikat kebangkitan.
Sebab, hampir sepertiga Al-Qur'an membahas kebangkitan, dan pada awal sebagian besar surah pendeknya terdapat ayat-ayat kebangkitan yang sangat kuat.
Dengan ribuan ayatnya, secara terang dan melalui isyarat, Al-Qur'an memberitakan, membuktikan, serta memperlihatkan hakikat yang sama.
Misalnya, pada awal tiga puluh atau empat puluh surah seperti
ﺍِﺫَﺍ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲُ ﻛُﻮِّﺭَﺕْ ٭ ﻳَﺎ ﺍَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺭَﺑَّﻜُﻢْ ﺍِﻥَّ ﺯَﻟْﺰَﻟَﺔَ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔِ ﺷَﻲْﺀٌ ﻋَﻈِﻴﻢٌ ٭ ﺍِﺫَﺍ ﺯُﻟْﺰِﻟَﺖِ الْاَرْضُ ﺯِﻟْﺰَﺍﻟَﻬَﺎ ٭ ﺍِﺫَﺍ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀُ ﺍﻧْﻔَﻄَﺮَﺕْ ٭ ﺍِﺫَﺍ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀُ ﺍﻧْﺸَﻘَّﺖْ ٭ ﻋَﻢَّ ﻳَﺘَﺴَﺎﺀَﻟُﻮﻥَ ٭ ﻫَﻞْ ﺍَﺗَﻴﻚَ ﺣَﺪِﻳﺚُ ﺍﻟْﻐَﺎﺷِﻴَﺔِ
, Al-Qur'an dengan seluruh kepastian memperlihatkan bahwa hakikat kebangkitan merupakan hakikat kainat yang paling penting dan harus ada.
Ayat-ayat lainnya juga menjelaskan berbagai bukti hakikat itu serta meyakinkan.
Satu isyarat dari satu ayat Kitab ini menghasilkan banyak kebenaran tentang ilmu dan alam dalam ilmu-ilmu Islam di depan mata kita.
Dengan kesaksian serta pernyataan Kitab seperti ini, iman kepada kebangkitan tampak sejelas matahari.
Mungkinkah iman itu tidak memiliki hakikat, seperti mengingkari matahari, bahkan seperti menganggap kainat tidak ada?
Bukankah hal itu mustahil dan batil seratus kali?
Kadang-kadang, agar satu isyarat seorang penguasa tidak menjadi dusta, suatu pasukan bergerak dan bertempur.
Mungkinkah ribuan ucapan, janji, serta ancaman penguasa yang begitu sungguh-sungguh dan mulia itu ternyata dusta, atau tidak memiliki hakikat?
Selama tiga belas abad tanpa terputus, Penguasa rohani Yang Agung ini memerintah, mendidik, dan mengatur ruh, akal, hati, serta nafsu tanpa batas dalam lingkup kebenaran dan hakikat.
Satu isyaratnya saja cukup untuk membuktikan hakikat seperti ini.
Setelah memperlihatkan serta membuktikan hakikat kebangkitan ini dengan ribuan pernyataan terang, bukankah azab neraka diperlukan bagi orang bodoh yang sangat tidak tahu dan tidak mengakui hakikat itu?
Bukankah hal itu justru keadilan?
Seluruh suhuf samawi dan kitab suci, yang masing-masing memerintah suatu zaman dan masa, juga menerima hakikat kebangkitan itu secara pasti.
Sesuai abad dan zaman masing-masing, mereka menjelaskannya tanpa perincian, secara terselubung dan singkat, tetapi menyatakan serta membuktikannya dengan kuat.
Dengan ribuan tanda tangan, semua itu membenarkan pernyataan Al-Qur'an, yang memerintah seluruh masa depan dan seluruh zaman serta menjelaskan dan membuktikan hakikat kebangkitan dengan perincian, penjelasan, dan pengulangan.
Berkaitan dengan pembahasan ini, suatu bukti kebangkitan yang sangat kuat, ringkas, dan menghilangkan seluruh sangkaan, yang disebutkan dalam bentuk munajat pada akhir Risalah Munajat tentang kesaksian rukun-rukun lain, khususnya "Rusül" dan "Kütüb", terhadap rukun "iman kepada hari akhir", masuk di sini secara persis.
Dalam Munajat dikatakan demikian: Wahai Rabbku Yang Rahîm!
Melalui pengajaran Rasul-Mu Yang Paling Mulia ﷺ serta pelajaran Al-Qur'an Al-Hakîm, aku memahami bahwa seluruh kitab suci dan nabi, terutama Al-Qur'an dan Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, dengan ijmak dan kesepakatan bersaksi, menunjukkan, serta memberi isyarat bahwa Tajalli Nama-Nama-Mu yang memiliki Keagungan dan Keindahan, yang contoh-contohnya terlihat di dunia ini dan di segala penjuru, akan terus berlangsung lebih cemerlang selama-lamanya.
Karunia-Mu, yang manifestasinya penuh Rahmat serta contoh-contohnya disaksikan dalam alam sementara ini, akan terus ada dan kekal dengan cara yang lebih gemilang di negeri kebahagiaan.
Para perindu, yang menyaksikannya dengan nikmat dan menemaninya dengan cinta dalam kehidupan dunia yang singkat ini, juga akan terus mendampingi serta berada bersamanya selama-lamanya.
Para nabi, pemilik seluruh ruh yang bercahaya; para wali, pemuka seluruh hati yang terang; serta orang-orang yang teguh dalam kebenaran, sumber seluruh akal yang tajam dan bercahaya, terutama Rasul Yang Paling Mulia ﷺ dan Al-Qur'an Al-Hakîm, menyampaikan kabar gembira tentang kebahagiaan abadi kepada manusia.
Mereka bersandar pada ratusan mukjizat yang jelas dan ayat yang pasti, serta ribuan Janji dan Ancaman yang Engkau ulangi berkali-kali dalam seluruh suhuf samawi dan kitab suci.
Mereka juga percaya kepada Sifat-Sifat dan Syuun-Mu yang Suci, yang menuntut akhirat, seperti Kudrat, Rahmat, Perhatian, Hikmah, Keagungan, serta Keindahan-Mu, juga kepada Kemuliaan Keagungan-Mu serta Kekuasaan Rububiyah-Mu.
Mereka mendasarkan hal itu pada hakikat-hakikat yang tersingkap bagi mereka serta hal-hal yang mereka saksikan, yang semuanya tanpa batas dan memberitahukan jejak serta limpahan akhirat, serta pada keyakinan dan iman mereka yang berada pada tingkat ilmulyaqin (yakin melalui ilmu dan dalil) dan ainulyaqin (yakin melalui penglihatan). Mereka memberitakan serta mengumumkan bahwa neraka ada bagi orang-orang sesat dan surga ada bagi orang-orang yang mendapat petunjuk.
Mereka beriman dengan kuat dan bersaksi.
Wahai Sang Qadîr Yang Hakîm!
Wahai Ar-Rahmân Yang Rahîm!
Wahai Sâdiq dalam Janji-Nya lagi Karîm (Yang Benar Janji-Nya lagi Mulia)!
Wahai Sang Qahhâr Dzul-Jalâl, Pemilik Kemuliaan, Kebesaran, dan Keagungan!
Engkau Mahasuci ratusan ribu derajat serta Bebas dan Luhur pada derajat tanpa batas dari membuat begitu banyak sahabat-Mu yang jujur, begitu banyak Janji-Mu, serta begitu banyak Sifat dan Syuunat-Mu ternyata dusta lalu mendustakannya; dari mendustakan serta tidak melaksanakan tuntutan pasti Kekuasaan Rububiyah-Mu; dari menolak dan tidak mendengar doa serta permohonan tanpa batas tentang akhirat dari hamba-hamba-Mu yang diterima tanpa batas, yang Engkau cintai dan yang membuat diri mereka dicintai oleh-Mu dengan membenarkan serta menaati-Mu; dan dari membenarkan pengingkaran kebangkitan oleh orang-orang sesat serta kafir, yang melalui kekufuran, pembangkangan, dan pendustaan terhadap Janji-Mu menyentuh Kebesaran-Mu yang Agung, menyinggung Kemuliaan Keagungan-Mu, mengganggu Kehormatan Hak-Mu untuk disembah, serta menyakiti Kasih Sayang Rububiyah-Mu.
Kami menyatakan Mahasuci Keadilan-Mu yang tanpa batas, Keindahan-Mu yang tanpa batas, serta Rahmat-Mu yang tanpa batas, pada derajat tanpa batas dari kezaliman dan keburukan tanpa batas seperti itu.
Dengan seluruh kekuatan, kami beriman bahwa kesaksian para nabi, orang suci pilihan, dan wali, yang merupakan ratusan ribu utusan-Mu yang jujur serta penyeru Kekuasaan-Mu yang benar dan tanpa batas, adalah haq dan hakikat.
Dalam bentuk haqqulyaqin (yakin melalui pengalaman langsung), ainulyaqin, serta ilmulyaqin, mereka bersaksi atas khazanah Rahmat-Mu di akhirat, khazanah terpendam karunia-Mu dalam alam yang kekal, serta manifestasi Indah yang Menakjubkan dari Nama-Nama-Mu yang Indah, yang tampak sepenuhnya di negeri kebahagiaan.
Isyarat mereka benar dan sesuai; kabar gembira mereka jujur dan terwujud.
Mereka beriman bahwa sinar terbesar dari Nama "Al-Haqq", yang merupakan tempat kembali, matahari, dan pelindung seluruh hakikat, adalah hakikat kebangkitan yang terbesar ini.
Dengan Perintah-Mu, mereka mengajarkannya kepada hamba-hamba-Mu dalam lingkup haq serta menyampaikannya sebagai hakikat itu sendiri.
Ya Rab! Demi hak dan kehormatan pelajaran serta pengajaran mereka, berilah kami dan para pelajar Risale-i Nur iman yang paling sempurna serta Husnul Khatimah.
Jadikanlah kami menerima syafaat mereka, âmîn...
Sebagaimana seluruh dalil dan bukti yang membuktikan kebenaran Al-Qur'an, bahkan seluruh kitab samawi, serta seluruh mukjizat dan bukti yang membuktikan kenabian Habibullah ﷺ, bahkan seluruh nabi, secara tidak langsung menunjukkan terwujudnya akhirat yang merupakan pernyataan terbesar mereka, demikian pula sebagian besar dalil dan bukti yang bersaksi atas adanya Sang Wâjibul Wujûd serta Keesaan secara tidak langsung bersaksi atas adanya dan dibukanya negeri kebahagiaan serta alam yang kekal, yang merupakan pusat dan tempat tampaknya Rububiyah yang terbesar serta Hak Allah سُبْحَانَهُ untuk disembah.
Sebab, sebagaimana akan dijelaskan dan dibuktikan pada pembahasan-pembahasan berikutnya, keberadaan Zat Yang Wâjibul Wujûd, seluruh Sifat-Nya, sebagian besar Nama-Nya, serta Sifat dan Syuun-Nya seperti Rububiyah, Hak untuk disembah, Rahmat, Perhatian, Hikmah, serta Keadilan menuntut akhirat pada tingkat keharusan, mengharuskan alam yang kekal pada tingkat kepastian harus adanya, serta menghendaki kebangkitan dan hidup kembali untuk pahala serta hukuman sebagai suatu kebutuhan yang pasti.
Ya, karena ada Allah سُبْحَانَهُ Yang Azali dan Abadi, tentu ada akhirat yang merupakan pusat abadi Kekuasaan Ilahi-Nya.
Karena dalam kainat serta makhluk hidup ini terdapat dan terlihat Rububiyah Mutlak yang sangat Megah, penuh Hikmah, dan penuh Kasih Sayang, tentu akan ada dan akan dimasuki negeri kebahagiaan abadi yang menyelamatkan Keagungan Rububiyah itu dari keruntuhan, Hikmah-Nya dari kesia-siaan, serta Kasih Sayang-Nya dari kekejaman.
Karena Pemberian Nikmat, Karunia, Kelembutan, Kemurahan, Perhatian, serta Rahmat tanpa batas yang terlihat oleh mata ini menunjukkan kepada akal yang belum padam dan hati yang belum mati bahwa di balik tirai gaib terdapat Zat Yang Rahmân lagi Rahîm, tentu ada dan akan ada kehidupan yang kekal dalam alam yang kekal.
Kehidupan itu menyelamatkan Pemberian Nikmat dari ejekan, Karunia dari penipuan, Perhatian dari permusuhan, Rahmat dari azab, serta Kelembutan dan Kemurahan dari pengkhianatan, dan membuat karunia menjadi karunia serta nikmat menjadi nikmat.
Karena pada musim semi suatu Pena Kudrat bekerja tanpa lelah di depan mata kita, menulis seratus ribu buku satu di dalam yang lain tanpa salah pada halaman bumi yang sempit, dan Pemilik Pena itu telah berjanji serta berikrar seratus ribu kali, "Di suatu tempat luas, Aku akan menulis sebuah buku yang indah dan tidak akan mati, dengan lebih mudah daripada buku musim semi yang ditulis di tempat sempit ini secara bercampur serta satu di dalam yang lain, dan akan membuat kalian membacanya," lalu membicarakan buku itu dalam seluruh Firman-Nya, tentu dan pasti buku aslinya telah ditulis.
Melalui kebangkitan dan hidup kembali, catatan kakinya juga akan ditulis dan buku amal semua orang akan dicatat di dalamnya.
Karena bumi ini, dari segi kemajemukan makhluk serta kedudukannya sebagai tempat tinggal, asal, pabrik, pameran, dan tempat berkumpul ratusan ribu jenis makhluk hidup serta makhluk berjiwa yang terus berubah, memiliki arti yang begitu besar sebagai hati, pusat, ringkasan, hasil, dan sebab penciptaan kainat ini, sehingga sekalipun kecil, bumi disejajarkan dengan langit yang besar; dalam Firman-Firman samawi selalu disebut
ﺭَﺏُّ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ ﻭَ الْاَرْضِ
.
Karena ada umat manusia yang menguasai seluruh bagian bumi seperti ini, mengelola sebagian besar makhluknya, menundukkan sebagian besar makhluk hidupnya serta membuatnya berkumpul di sekelilingnya, dan menata, memaparkan, serta menghiasi sebagian besar ciptaannya dengan begitu indah menurut ukuran keinginan dan aturan kebutuhannya.
Manusia mengumpulkan serta menghias banyak jenisnya yang langka seperti daftar di tempat-tempat tertentu, sehingga menarik perhatian dan penghargaan bukan hanya manusia dan jin, tetapi juga penghuni langit serta kainat, dan menarik Pandangan kagum Pemilik kainat.
Dengan demikian, umat manusia memperoleh arti serta nilai yang sangat besar.
Melalui ilmu dan seninya, manusia menunjukkan bahwa dirinya merupakan hikmah penciptaan, hasil besar, dan buah berharga kainat ini, serta khalifah bumi.
Karena dari segi dunia manusia memaparkan dan menata Seni penuh mukjizat Sang Pembuat alam dengan sangat indah, sekalipun membangkang dan kufur, ia dibiarkan di dunia, azabnya ditangguhkan, dan demi khidmah ini ia diberi waktu serta keberhasilan.
Karena umat manusia seperti ini sangat lemah dan tak berdaya menurut keadaan serta penciptaannya, dan bersama ketidakberdayaan serta ketidakmampuannya mencukupi diri, memiliki kebutuhan serta derita tanpa batas; namun jauh di atas seluruh kemampuan dan pilihannya terdapat Sang Pengelola Yang sangat Kuat, penuh Hikmah, serta penuh Kasih Sayang, yang mengubah bola bumi besar menjadi khazanah segala jenis mineral yang dibutuhkan manusia, lumbung segala jenis makanan, serta toko segala jenis barang yang menyenangkan manusia.
Dia memperhatikan dan memberi makan umat manusia seperti ini, serta memberi apa yang dimintanya.
Dan karena Rabb Yang demikian mencintai manusia, membuat manusia mencintai-Nya, Kekal, memiliki alam-alam yang kekal, menjalankan setiap pekerjaan dengan Keadilan, serta membuat segala sesuatu dengan Hikmah, sementara kehidupan dunia yang singkat, umur manusia yang sangat singkat, serta bumi yang sementara dan fana ini tidak dapat menampung Keagungan Kekuasaan Sang Penguasa Yang Azali itu serta Pemerintahan-Nya yang kekal selamanya.
Kezaliman dan pembangkangan yang sangat besar di antara manusia, yang bertentangan dengan keteraturan, keadilan, keseimbangan, serta keindahan kainat, juga tetap tanpa hukuman di dunia ini.
Pengkhianatan, pengingkaran, serta kekufuran terhadap Pemberi Nikmat dan Yang memberi mereka makan dengan Kasih Sayang juga tetap tanpa hukuman.
Orang zalim yang kejam menjalani hidup dengan nyaman, sedangkan orang yang dizalimi dan tak berdaya menjalani umur dalam kesulitan.
Padahal, hakikat Keadilan Mutlak yang karya-karyanya terlihat pada seluruh kainat ini sepenuhnya bertentangan dengan, tidak dapat menerima, dan tidak mengizinkan kesamaan antara orang zalim yang kejam serta orang yang dizalimi dan putus asa dalam kematian tanpa dibangkitkan kembali!
Karena sebagaimana Pemilik kainat memilih bumi dari kainat, lalu umat manusia dari bumi, dan memberi kedudukan serta arti yang sangat besar, Dia juga memilih para nabi, wali, serta orang suci pilihan dari umat manusia.
Mereka merupakan manusia sejati yang sesuai dengan tujuan Rububiyah-Nya serta membuat diri mereka dicintai oleh-Nya melalui iman dan penyerahan diri.
Dia menjadikan mereka sahabat dan pihak yang Dia ajak berbicara, memuliakan mereka dengan mukjizat serta taufik, dan mengazab musuh-musuh mereka dengan tamparan samawi.
Dari sahabat-sahabat yang berharga dan dicintai ini, Dia juga memilih Muhammad ﷺ, yang merupakan imam serta kebanggaan mereka.
Selama berabad-abad, Dia menerangi separuh bumi yang penting serta seperlima umat manusia yang penting dengan cahaya beliau.
Seakan-akan kainat ini diciptakan untuk beliau, seluruh tujuannya tampak melalui beliau, agama beliau, serta Al-Qur'an beliau.
Beliau berhak dan layak menerima, selama waktu tanpa batas, upah atas khidmah-khidmah beliau yang begitu berharga dan tanpa batas, yang sepadan dengan hidup jutaan tahun.
Namun, beliau diberi umur sangat singkat seperti enam puluh tiga tahun, dalam kesulitan serta perjuangan yang besar.
Adakah kemungkinan, peluang, atau kelayakan sedikit pun bahwa pribadi itu bersama seluruh orang yang sebanding dengannya serta sahabat-sahabatnya tidak dibangkitkan, dan bahkan sekarang tidak hidup dalam ruh?
Bahwa mereka musnah melalui pemusnahan abadi?
Hâşâ, seratus ribu kali hâşâ ve kellâ!..
Ya, seluruh kainat serta hakikat alam menyatakan kebangkitan beliau dan memohon kehidupan beliau kepada Pemilik kainat.
Karena dalam Âyetü'l-Kübra (Tanda Terbesar), Sinar Ketujuh, tiga puluh tiga ijmak besar, yang masing-masing berkekuatan seperti gunung, telah membuktikan bahwa kainat ini keluar dari satu Tangan dan milik satu Zat.
Semuanya memperlihatkan dengan jelas Keesaan serta Ahadiyah-Nya, yang merupakan dasar Kesempurnaan Ilahi.
Melalui Keesaan dan Ahadiyah, seluruh kainat menjadi seperti prajurit penerima perintah serta petugas yang tunduk dari Zat Yang Wâhid itu.
Dengan datangnya akhirat, Kesempurnaan-Nya selamat dari keruntuhan, Keadilan Mutlak-Nya dari kezaliman mutlak yang mengejek, Hikmah-Nya yang menyeluruh dari kesia-siaan yang bertindak bodoh, Rahmat-Nya yang luas dari penyiksaan yang bersifat main-main, serta Kemuliaan Kudrat-Nya dari ketidakberdayaan yang hina; semuanya tetap suci.
Tentu, tentu, dan pasti, sesuai tuntutan hakikat-hakikat dalam delapan pernyataan "karena" ini, yang merupakan sebagian dari ratusan butir iman kepada Allah سُبْحَانَهُ, kiamat akan terjadi, kebangkitan dan hidup kembali akan berlangsung, serta negeri hukuman dan pahala akan dibuka.
Agar arti dan kedudukan bumi sebagai pusat, serta arti dan nilai manusia yang telah disebutkan, dapat terwujud.
Agar Keadilan, Hikmah, Rahmat, serta Kekuasaan Sang Pengelola Yang Hakîm, Khâliq dan Rabb bumi serta manusia, yang telah disebutkan dapat tetap tegak.
Agar sahabat dan perindu sejati Rabb Yang Kekal itu selamat dari pemusnahan abadi.
Agar sahabat yang paling agung dan paling berharga di antara mereka menerima pahala atas khidmah sucinya yang membuat seluruh kainat senang serta berterima kasih.
Agar Kesempurnaan Sang Penguasa Yang Mahakekal bebas dan suci dari kekurangan serta cacat, Kudrat-Nya dari ketidakberdayaan, Hikmah-Nya dari kebodohan, serta Keadilan-Nya dari kezaliman.
Kesimpulannya, karena Allah سُبْحَانَهُ ada, tentu akhirat ada...
Sebagaimana tiga rukun iman tersebut, dengan seluruh dalil yang membuktikannya, bersaksi dan menunjukkan kebangkitan, dua rukun iman berupa
ﻭَ ﺑِﻤَﻠٰٓﺌِﻜَﺘِﻪ۪ ﻭَ ﺑِﺎﻟْﻘَﺪَﺭِ ﺧَﻴْﺮِﻩ۪ ﻭَ ﺷَﺮِّﻩ۪ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟٰﻰ
juga mengharuskan kebangkitan serta dengan kuat bersaksi dan menunjukkan alam yang kekal, sebagai berikut: Adanya malaikat serta tugas ubudiyah mereka dibuktikan oleh seluruh dalil, juga oleh hal-hal yang disaksikan serta percakapan yang keduanya tanpa batas.
Semua itu secara tidak langsung menunjukkan adanya alam ruh, alam gaib, alam yang kekal, alam akhirat, serta negeri kebahagiaan yang kelak diramaikan oleh jin dan manusia, juga surga dan neraka.
Sebab, malaikat dapat melihat dan memasuki alam-alam itu dengan Izin Ilahi.
Seluruh malaikat yang didekatkan kepada Allah سُبْحَانَهُ, seperti Jibril, yang bertemu dengan manusia, bersama-sama memberitakan adanya alam-alam tersebut serta bahwa mereka berkeliling di dalamnya.
Sebagaimana kita mengetahui dengan jelas adanya benua Amerika yang tidak kita lihat melalui kabar orang-orang yang datang dari sana, melalui kabar malaikat yang memiliki kekuatan seratus kabar mutawatir kita juga harus beriman dengan kepastian yang sama kepada adanya alam yang kekal, negeri akhirat, surga, dan neraka.
Demikian pula kita beriman.
Seluruh dalil yang membuktikan rukun "iman kepada takdir" dalam Risalah Takdir, Kalimat Kedua Puluh Enam, juga secara tidak langsung menunjukkan kebangkitan, pembentangan lembaran-lembaran, serta penimbangan amal dalam timbangan terbesar.
Sebab, takdir segala sesuatu dicatat di depan mata kita pada lembaran keteraturan dan timbangan; perjalanan hidup setiap makhluk hidup ditulis dalam daya ingatan, biji, serta lembaran gambaran lainnya; dan buku amal setiap makhluk berjiwa, khususnya manusia, dicatat serta dimasukkan dalam lembaran-lembaran terjaga.
Tentu Takdir yang begitu meliputi, penetapan yang penuh Hikmah, pencatatan yang teliti, serta penulisan yang memelihara catatan hanya dapat ditujukan kepada pahala dan hukuman yang tetap sebagai hasil pengadilan menyeluruh dalam pengadilan terbesar.
Jika tidak, pencatatan dan penyimpanan yang meliputi serta sangat terperinci itu menjadi sepenuhnya tak bermakna dan tak berguna, bertentangan dengan Hikmah serta hakikat.
Jika kebangkitan tidak datang, seluruh makna pasti dari kitab kainat ini, yang ditulis dengan Pena Takdir, akan rusak.
Hal itu sama sekali tidak mungkin.
Kemungkinan itu menjadi sesuatu yang mustahil, bahkan suatu igauan, seperti mengingkari adanya kainat ini.
Kesimpulannya:
Lima rukun iman, dengan seluruh dalilnya, menunjukkan dan menghendaki, bersaksi dan menuntut terjadinya serta adanya kebangkitan dan hidup kembali, juga adanya serta dibukanya negeri akhirat.
Karena terdapat tiang-tiang serta bukti yang begitu besar dan tak tergoyahkan, yang sepenuhnya sesuai dengan besarnya hakikat kebangkitan, hampir sepertiga Al-Qur'an yang bahasanya merupakan mukjizat membahas kebangkitan dan akhirat.
Al-Qur'an menjadikannya batu dasar serta landasan utama seluruh hakikatnya dan membangun segala sesuatu di atasnya. (Pengantar telah selesai.)
--
BAGIAN KEDUA TAMBAHAN
[Dari sembilan bagian mengenai sembilan lapisan bukti kebangkitan yang ditunjukkan secara penuh mukjizat oleh ayat pada awal, "Bagian Pertama":]
ﻓَﺴُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺣ۪ﻴﻦَ ﺗُﻤْﺴُﻮﻥَ ﻭَﺣ۪ﻴﻦَ ﺗُﺼْﺒِﺤُﻮﻥَ ٭ ﻭَﻟَﻪُ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻓِﻰ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ ﻭَﻋَﺸِﻴًّﺎ ﻭَﺣ۪ﻴﻦَ ﺗُﻈْﻬِﺮُﻭﻥَ ٭ ﻳُﺨْﺮِﺝُ ﺍﻟْﺤَﻰَّ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖِ ﻭَﻳُﺨْﺮِﺝُ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺤَﻰِّ ﻭَﻳُﺤْﻴِﻰ الْاَرْضَ ﺑَﻌْﺪَ ﻣَﻮْﺗِﻬَﺎ ﻭَﻛَﺬٰﻟِﻚَ ﺗُﺨْﺮَﺟُﻮﻥَ
.
Akan dijelaskan serta diterangkan bukti cemerlang dan dalil pasti yang diperlihatkan di sini mengenai Firman kebangkitan dalam bagian ayat ini, inşâallah. {(Catatan kaki): Bagian itu belum ditulis.
Pembahasan kehidupan masuk di sini karena hubungannya dengan kebangkitan.
Namun, isyarat kepada rukun takdir pada akhir pembahasan kehidupan sangat halus dan dalam.} Dalam sifat kehidupan yang kedua puluh delapan telah dijelaskan bahwa kehidupan menghadap dan membuktikan enam rukun iman, serta mengisyaratkan bahwa semuanya terwujud.
Ya, karena kehidupan merupakan hasil, inti, serta hikmah penciptaan yang paling penting dari kainat ini, tentu hakikat luhur itu tidak terbatas pada kehidupan dunia yang sementara, sangat singkat, kurang, dan penuh derita ini.
Sebaliknya, tujuan, hasil, serta buah yang layak bagi besarnya pohon kehidupan, yang besarnya hakikatnya dipahami melalui dua puluh sembilan sifat kehidupan, ialah kehidupan abadi, kehidupan akhirat, serta kehidupan dalam negeri kebahagiaan yang batu, pohon, dan tanahnya hidup.
Jika tidak, pohon kehidupan yang diperlengkapi perangkat penting tanpa batas ini harus menjadi tanpa buah, tanpa manfaat, dan tanpa hakikat bagi makhluk berkesadaran, khususnya manusia.
Manusia, yang dari segi modal serta perangkat, misalnya, dua puluh tingkat melebihi burung pipit, dan merupakan makhluk kainat serta makhluk hidup yang paling penting, tinggi, dan bernilai, akan jatuh dua puluh tingkat di bawah burung pipit dari segi kebahagiaan hidup, menjadi yang paling malang, paling hina, dan tak berdaya.
Akal, yang merupakan nikmat paling berharga, juga terus melukai hati manusia dengan memikirkan kesedihan masa lampau serta ketakutan masa depan.
Karena mencampurkan sembilan derita ke dalam satu kenikmatan, akal menjadi musibah yang paling menyakitkan.
Hal ini batil seratus kali.
Jadi, kehidupan dunia ini membuktikan rukun iman kepada akhirat secara pasti dan memperlihatkan lebih dari tiga ratus ribu contoh kebangkitan kepada mata kita pada setiap musim semi.
Sang Pengelola Yang Qadîr menyiapkan serta mengirim pada waktunya seluruh kebutuhan dan perangkat yang diperlukan serta sesuai bagi kehidupanmu dalam tubuhmu, kebunmu, dan tanah airmu, dengan Hikmah, Perhatian, serta Rahmat.
Bahkan, Dia mengetahui dan mendengar doa rezeki yang khusus serta juz'i dari perutmu, yang disampaikan dengan keinginan untuk tetap ada dan hidup.
Dengan makanan lezat tanpa batas, Dia memperlihatkan pengabulan doa itu serta memuaskan perutmu.
Mungkinkah Dia tidak mengetahui dan melihatmu serta tidak menyiapkan sebab-sebab yang diperlukan untuk kehidupan abadi, tujuan terbesar umat manusia?
Mungkinkah Dia tidak mengabulkan doa untuk hidup kekal, yang paling besar, paling penting, paling layak, dan menyeluruh bagi umat manusia, dengan membangun kehidupan akhirat serta menciptakan surga?
Mungkinkah Dia tidak mendengar doa bersama yang sangat kuat, yang menggema di arasy dan bumi, dari umat manusia yang merupakan makhluk terpenting kainat, bahkan penguasa serta hasil bumi; tidak memperhatikannya seperti Dia memperhatikan perut kecil, dan tidak membuatnya puas?
Membuat Kesempurnaan Hikmah serta Rahmat-Nya yang tanpa batas diingkari?
Hâşâ, seratus ribu kali hâşâ!..
Mungkinkah pula Dia mendengar suara yang sangat tersembunyi dari kehidupan yang paling kecil, mendengar deritanya, memberi obat, memanjakannya, memberinya makan dengan Perhatian serta Kepedulian sempurna, membuatnya dilayani dengan teliti, serta menjadikan makhluk-makhluk besar-Nya sebagai pelayan baginya, lalu tidak mendengar suara tinggi seperti bunyi langit dari kehidupan yang paling besar, berharga, kekal, dan dimanjakan?
Tidak memperhatikan doa hidup kekalnya yang sangat penting, sikap manjanya, serta permohonannya?
Seakan-akan Dia memperlengkapi dan mengatur satu prajurit dengan Perhatian sempurna, tetapi sama sekali tidak memperhatikan pasukan yang taat dan megah?
Melihat zarah, tetapi tidak melihat matahari?
Mendengar suara nyamuk, tetapi tidak mendengar guntur? Hâşâ, seratus ribu kali hâşâ!
Dapatkah akal menerima bahwa Zat Yang Qadîr lagi Hakîm, Yang memiliki Rahmat dan Cinta tanpa batas, Kasih Sayang pada tingkat tertinggi, sangat mencintai Seni-Nya sendiri, membuat Diri-Nya dicintai, serta lebih mencintai mereka yang mencintai-Nya, memusnahkan kehidupan dan ruh, yang merupakan hakikat serta inti kehidupan, melalui kematian abadi, padahal kehidupan paling mencintai-Nya, menyenangkan, dicintai, dan secara fitrah menyembah Sang Pembuatnya?
Mungkinkah Dia membuat pencinta dan kekasih yang disayangi-Nya itu menjauh serta marah kepada-Nya untuk selamanya, melukainya dengan mengerikan, lalu mengingkari dan membuat Rahasia Rahmat serta Cahaya Cinta-Nya diingkari?
Hâşâ, seratus ribu kali hâşâ ve kellâ!..
Keindahan Mutlak yang menghiasi kainat ini melalui Manifestasi-Nya serta Rahmat Mutlak yang menyenangkan seluruh makhluk tentu bebas dan suci pada derajat tanpa batas dari keburukan tanpa batas, kehinaan mutlak, kezaliman mutlak, serta kekejaman seperti itu.
Hasilnya: Karena ada kehidupan di dunia, tentu manusia yang memahami rahasia kehidupan dan tidak menyalahgunakan hidupnya akan mendapat kehidupan yang kekal dalam negeri yang kekal serta surga yang kekal. âmennâ...
Benda-benda berkilau di muka bumi bersinar melalui pantulan matahari.
Gelembung pada permukaan laut bersinar lalu padam melalui kilauan cahaya.
Gelembung yang datang setelahnya kembali menjadi cermin matahari-matahari kecil dalam gambaran, seperti gelembung yang telah berlalu.
Semua itu jelas menunjukkan bahwa kilauan tersebut merupakan kilauan pantulan satu matahari di atas; dengan berbagai bahasa semuanya menyebut adanya matahari dan menunjukkannya dengan jari-jari cahaya.
Demikian pula, melalui Manifestasi terbesar Nama Muhyî dari Zat Yang Hayy lagi Qayyûm, makhluk-makhluk hidup di muka daratan serta dalam lautan bersinar dengan Kudrat Ilahi.
Agar memberi tempat kepada yang datang setelahnya, mereka mengucapkan "Yâ Hayy" dan bersembunyi di balik tirai gaib.
Mereka bersaksi dan memberi isyarat kepada Kehidupan serta kepastian harus adanya Zat Yang Hayy lagi Qayyûm, Pemilik Kehidupan Abadi.
Seluruh dalil yang bersaksi atas Ilmu Ilahi, yang karya-Nya terlihat dalam penataan segala yang ada, seluruh bukti yang membuktikan Kudrat yang mengelola kainat, seluruh dalil yang membuktikan Kehendak serta Masyîah (kehendak Allah سُبْحَانَهُ) yang berkuasa dalam penataan dan pengaturan kainat, seluruh tanda serta mukjizat yang membuktikan risalah-risalah, yang menjadi sarana Firman Rabbani serta Wahyu Ilahi, dan demikian pula seluruh dalil yang bersaksi atas tujuh Sifat Ilahi, bersama-sama menunjukkan, bersaksi, serta memberi isyarat kepada Kehidupan Zat Yang Hayy lagi Qayyûm.
Sebab, jika dalam sesuatu terdapat penglihatan, terdapat pula kehidupan.
Jika terdapat pendengaran, hal itu tanda kehidupan.
Jika terdapat ucapan, hal itu menunjukkan adanya kehidupan.
Jika terdapat pilihan dan kehendak, hal itu memperlihatkan kehidupan.
Demikian pula, Sifat-Sifat seperti Kudrat Mutlak, Kehendak yang menyeluruh, serta Ilmu yang meliputi segala sesuatu, yang terbukti ada dengan pasti dan jelas melalui karya-karya yang tampak dalam kainat ini, dengan seluruh dalilnya bersaksi atas Kehidupan serta kepastian harus adanya Zat Yang Hayy lagi Qayyûm.
Semuanya bersaksi atas Kehidupan Abadi-Nya, yang dengan satu bayangan-Nya menerangi seluruh kainat, dan dengan satu Manifestasi-Nya menghidupkan seluruh negeri akhirat beserta zarah-zarahnya.
Kehidupan juga menghadap rukun "iman kepada malaikat" dan membuktikannya melalui isyarat.
Sebab, kehidupan merupakan hasil terpenting dalam kainat, dan makhluk hiduplah yang paling banyak tersebar, yang salinannya diperbanyak karena nilainya, serta yang meramaikan rumah tamu bumi dengan rombongan-rombongan yang datang dan pergi; dan karena bola bumi penuh dengan begitu banyak jenis makhluk hidup, serta dengan Hikmah memperbarui dan memperbanyak jenis-jenis makhluk hidup secara terus-menerus, bumi setiap saat terisi dan kosong, bahkan dalam bahan-bahannya yang paling rendah serta membusuk makhluk hidup diciptakan dalam jumlah yang banyak, sehingga bumi menjadi tempat berkumpulnya hewan-hewan kecil; dan karena kesadaran dan akal, yang merupakan ringkasan kehidupan yang tersaring paling murni, serta ruh, yang merupakan intinya yang halus dan tetap, juga diciptakan di bumi dalam jumlah yang sangat banyak, seakan-akan bumi dihidupkan dan diramaikan dengan kehidupan, akal, kesadaran, serta ruh; tentu mustahil benda-benda langit yang lebih halus, lebih bercahaya, lebih besar, dan lebih penting daripada bumi tetap mati, tak bernyawa, tanpa kehidupan, dan tanpa kesadaran.
Jadi, berdasarkan rahasia kehidupan, pasti ada penghuni yang berkesadaran, hidup, dan sesuai dengan langit, yang akan meramaikan langit, matahari, serta bintang; memberinya keadaan hidup; memperlihatkan hasil penciptaan langit; serta menerima Firman Allah سُبْحَانَهُ Yang Mahasuci.
Mereka adalah malaikat.
Rahasia hakikat kehidupan juga menghadap rukun "iman kepada para nabi" dan membuktikannya melalui isyarat.
Ya, karena kainat diciptakan untuk kehidupan, dan kehidupan merupakan Manifestasi terbesar, Hiasan paling sempurna, serta Seni paling indah dari Sang Hayy lagi Qayyûm Yang Azali; karena Kehidupan Abadi memperlihatkan Diri-Nya melalui pengutusan rasul serta penurunan kitab; ya, jika tidak ada kitab dan nabi, Kehidupan Azali itu tidak diketahui; sebagaimana melalui ucapan seseorang dapat dipahami bahwa ia hidup, demikian pula yang akan memperlihatkan Kata-Kata serta Firman Zat Yang berbicara, berdialog, memerintah, melarang, dan menyapa di balik alam gaib yang berada di bawah tirai kainat ini ialah para nabi serta kitab-kitab yang diturunkan; tentu kehidupan dalam kainat, sebagaimana bersaksi dengan pasti atas kepastian harus adanya Sang Hayy Yang Azali, juga menghadap rukun-rukun "pengutusan rasul dan penurunan kitab", yang merupakan sinar, manifestasi, serta hubungan Kehidupan Azali itu, dan membuktikannya melalui isyarat.
Khususnya, karena risalah Muhammad ﷺ serta wahyu Al-Qur'an berperan sebagai ruh dan akal kehidupan, dapat dikatakan bahwa kebenaran keduanya pasti seperti adanya kehidupan ini.
Ya, sebagaimana kehidupan merupakan ringkasan yang tersaring dari kainat ini, kesadaran dan perasaan merupakan ringkasan kehidupan yang tersaring dari kehidupan, akal merupakan ringkasan kesadaran yang tersaring dari kesadaran serta perasaan, dan ruh merupakan inti kehidupan yang murni serta bersih, juga hakikatnya yang tetap dan mandiri, demikian pula kehidupan Muhammad ﷺ secara lahir dan rohani merupakan ringkasan dari seluruh ringkasan yang tersaring dari kehidupan serta ruh kainat.
Risalah Muhammad ﷺ juga merupakan ringkasan paling murni yang tersaring dari perasaan, kesadaran, serta akal kainat.
Bahkan, berdasarkan kesaksian pengaruhnya, kehidupan Muhammad ﷺ secara lahir dan rohani adalah kehidupan bagi kehidupan kainat; risalah Muhammad ﷺ adalah kesadaran serta cahaya bagi kesadaran kainat.
Berdasarkan kesaksian hakikat-hakikatnya yang hidup, wahyu Al-Qur'an juga merupakan ruh kehidupan kainat serta akal kesadaran kainat.
Ya, ya, ya!
Jika cahaya risalah Muhammad ﷺ keluar dan pergi dari kainat, kainat akan meninggal.
Jika Al-Qur'an pergi, kainat akan menjadi gila dan bola bumi akan kehilangan kepala serta akalnya.
Bahkan, bumi akan membenturkan kepalanya yang telah tanpa kesadaran pada suatu planet dan mendatangkan kiamat.
Kehidupan juga menghadap rukun "iman kepada takdir" dan membuktikannya melalui isyarat.
Sebab, kehidupan merupakan cahaya alam yang terlihat dan meliputinya, merupakan hasil serta tujuan keberadaan, cermin yang paling banyak mencakup hal dari Khâliq kainat, serta contoh dan daftar paling sempurna dari Kegiatan Rabbani.
Semoga tidak ada kesalahan dalam perumpamaan: kehidupan berperan sebagai sejenis rancangan.
Karena itu, rahasia kehidupan menuntut keteraturan, susunan, keadaan diketahui, keadaan disaksikan, ketetapan, serta kesiapan menaati Perintah penciptaan, yang berperan sebagai kehidupan rohani bagi makhluk masa lampau dan masa depan, yakni alam gaib.
Sebagaimana biji asal dan akar sebuah pohon, serta biji pada ujung dan buah-buahnya, juga memiliki sejenis kehidupan seperti pohon itu sendiri, bahkan memuat hukum kehidupan yang lebih halus daripada hukum kehidupan pohon itu; demikian pula benih dan akar yang ditinggalkan musim gugur yang lalu sebelum musim semi ini, serta biji dan akar yang akan ditinggalkan pada musim-musim semi mendatang setelah musim semi ini pergi, menampakkan kehidupan seperti musim semi ini dan tunduk pada hukum kehidupan.
Demikian pula, seluruh cabang dan ranting pohon kainat masing-masing memiliki masa lampau serta masa depan.
Masing-masing memiliki rangkaian yang tersusun dari bentuk dan keadaan masa lampau serta masa depan.
Setiap jenis serta bagiannya memiliki banyak wujud dalam Ilmu Ilahi dengan berbagai bentuk, yang membentuk rangkaian wujud dalam Ilmu-Nya.
Seperti wujud nyata, wujud dalam Ilmu-Nya juga memperlihatkan kehidupan menyeluruh secara rohani.
Ketentuan-ketentuan kehidupan diambil dari lembaran-lembaran takdir yang bermakna dan hidup itu.
Ya, alam ruh, yang merupakan salah satu jenis alam gaib, penuh dengan ruh yang merupakan kehidupan itu sendiri, bahan kehidupan, inti serta hakikat kehidupan.
Tentu hal itu menghendaki dan mengharuskan bahwa kehidupan juga tampak pada jenis lain serta bagian kedua alam gaib, yang disebut masa lampau dan masa depan.
Keteraturan paling sempurna, keadaan yang bermakna, serta buah dan bentuk yang hidup dalam wujud suatu hal di dalam Ilmu-Nya juga menunjukkan bahwa hal itu menerima sejenis kehidupan rohani.
Ya, manifestasi kehidupan yang terlihat ini, yang merupakan cahaya matahari Kehidupan azali, tentu tidak dapat terbatas hanya pada alam yang terlihat, masa sekarang, serta wujud nyata ini.
Sebaliknya, manifestasi cahaya itu tampak pada setiap alam sesuai kemampuannya, dan kainat dengan seluruh alamnya hidup serta bercahaya melalui manifestasi itu.
Jika tidak, sebagaimana terlihat dalam pandangan kesesatan, di bawah kehidupan sementara dan lahiriah, setiap alam akan menjadi jenazah besar yang mengerikan serta alam reruntuhan yang gelap.
Jadi, suatu sisi luas rukun iman kepada takdir serta qada juga dipahami dan ditetapkan melalui rahasia kehidupan.
Yakni, sebagaimana kehidupan alam yang terlihat serta benda-benda yang ada sekarang tampak melalui keteraturan dan hasilnya, makhluk-makhluk masa lampau dan masa depan yang dianggap bagian alam gaib juga memiliki wujud rohani yang secara rohani hidup serta ketetapan dalam Ilmu-Nya yang berjiwa.
Melalui Lauh Qada dan Takdir, pengaruh kehidupan rohani itu terlihat dan tampak dengan nama ketentuan takdir.
--
BAGIAN KETIGA TAMBAHAN
Sebuah pertanyaan mengenai kebangkitan:
Titah
ﺍِﻥْ ﻛَﺎﻧَﺖْ اِلَّا ﺻَﻴْﺤَﺔً ﻭَﺍﺣِﺪَﺓً
serta
ﻭَﻣَٓﺎ ﺍَﻣْﺮُ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔِ اِلَّا ﻛَﻠَﻤْﺢِ ﺍﻟْﺒَﺼَﺮِ
yang diulang dalam Al-Qur'an menunjukkan bahwa kebangkitan terbesar terwujud dalam sekejap, tanpa memerlukan waktu.
Namun, akal yang sempit menginginkan contoh yang dapat disaksikan sebagai dasar untuk memahami dan menerima masalah yang menakjubkan tanpa batas serta tanpa bandingan ini.
Jawaban:
Dalam kebangkitan, ada kedatangan ruh ke tubuh.
Ada pula penghidupan tubuh.
Ada pula tubuh yang dibentuk.
Ada tiga masalah.
Masalah Pertama: Contoh kedatangan ruh ke tubuhnya ialah berkumpulnya prajurit suatu pasukan yang sangat teratur dengan bunyi terompet yang nyaring, setelah mereka berpencar ke segala arah untuk beristirahat.
Ya, sangkakala, yang merupakan terompet Israfil, tidak lebih rendah daripada terompet pasukan.
Ruh-ruh yang, ketika berada di sisi masa-masa abadi dan dalam alam zarah, mendengar seruan
ﺍَﻟَﺴْﺖُ ﺑِﺮَﺑِّﻜُﻢْ
dari arah azali serta menjawab dengan ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺑَﻠٰﻰ, tentu ribuan derajat lebih tunduk, teratur, dan taat daripada prajurit pasukan.
Kalimat Ketiga Puluh juga telah membuktikan dengan dalil-dalil pasti bahwa bukan hanya ruh, bahkan seluruh zarah pun merupakan pasukan Allah سُبْحَانَهُ Yang Mahasuci serta prajurit penerima Perintah-Nya.
Masalah Kedua: Contoh penghidupan tubuh ialah, dalam suatu kota yang sangat besar pada malam perayaan, seratus ribu lampu listrik menyala dan bercahaya dari satu pusat, seakan-akan tanpa memerlukan waktu, dalam sekejap.
Demikian pula, mungkin diberikan cahaya kepada seratus juta lampu pada seluruh permukaan bola bumi dari satu pusat.
Karena listrik, suatu makhluk Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq serta pelayan dan penyedia cahaya dalam salah satu rumah tamu-Nya, menerima keadaan ini melalui pelajaran pemeliharaan serta keteraturan yang diperolehnya dari Khâliqnya, tentu kebangkitan terbesar dapat terwujud dalam sekejap mata, dalam lingkup hukum-hukum teratur Hikmah Ilahi yang diperagakan ribuan pelayan bercahaya seperti listrik.
Masalah Ketiga, yakni contoh tubuh-tubuh dibentuk sekaligus, ialah: dalam beberapa hari pada musim semi, seluruh daun pada semua pohon, yang seribu kali lebih banyak daripada seluruh umat manusia, dibentuk sekaligus dengan sempurna seperti musim semi sebelumnya.
Seluruh bunga, buah, serta daun pada semua pohon juga diciptakan secepat kilat, seperti hasil musim semi yang lalu.
Benih kecil, biji, serta akar tanpa batas, yang menjadi awal musim semi itu, bangun, berkembang, dan hidup sekaligus bersama-sama.
Seluruh jenazah pohon, seperti orang mati yang berdiri hanya berupa tulang, dengan satu Perintah sekaligus menerima "ba'sü ba'de'l-mevt" (kebangkitan setelah kematian) dan tersebar.
Anggota tanpa batas dari golongan hewan-hewan kecil juga dihidupkan dengan seni yang sangat tinggi.
Khususnya, kelompok-kelompok lalat dibangkitkan.
Terutama kelompok di depan mataku, yang terus membersihkan wajah, mata, serta sayapnya, mengingatkan kita kepada wudu dan kebersihan, dan membelai wajah kita; anggota kelompok ini yang tersebar dalam satu tahun lebih banyak daripada seluruh anak Adam sejak masa Adam.
Meskipun demikian, pada setiap musim semi, bersama kelompok-kelompok lain, mereka dibentuk, dihidupkan, serta dibangkitkan dalam beberapa hari.
Semua itu tentu bukan satu contoh, melainkan ribuan contoh bagi tubuh-tubuh manusia dibentuk pada kiamat.
Ya, karena dunia adalah negeri Hikmah dan akhirat adalah negeri Kudrat, menjadi tuntutan Hikmah Rabbani bahwa penciptaan benda-benda di dunia berlangsung agak bertahap dan melalui waktu, sesuai tuntutan banyak Nama seperti Hakîm, Murattib, Mudabbir, serta Murabbî.
Di akhirat, demi memperlihatkan Kudrat dan Rahmat lebih daripada Hikmah, benda-benda dibentuk sekaligus tanpa menyisakan kebutuhan akan bahan, jangka waktu, masa, serta penantian.
Dengan memberi isyarat bahwa pekerjaan yang dilakukan di sini dalam satu hari dan satu tahun dibentuk di akhirat dalam sekejap, dalam sekilas, Al-Qur'an yang bahasanya merupakan mukjizat menyampaikan Firman
ﻭَﻣَٓﺎ ﺍَﻣْﺮُ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔِ اِلَّا ﻛَﻠَﻤْﺢِ ﺍﻟْﺒَﺼَﺮِ ﺍَﻭْ ﻫُﻮَ ﺍَﻗْﺮَﺏُ
.
Jika engkau ingin memahami datangnya kebangkitan dengan kepastian seperti datangnya musim semi berikutnya, lihatlah dan amatilah dengan teliti Kalimat Kesepuluh serta Kalimat Kedua Puluh Sembilan tentang kebangkitan.
Jika engkau tidak meyakininya seperti datangnya musim semi, marilah, tusukkan jarimu ke mataku.
Adapun Masalah Keempat, yakni kematian dunia serta terjadinya kiamat, sebuah planet atau komet dengan Perintah Rabbani dapat menabrak bola bumi kita, rumah tamu kita, dalam sekejap dan menghancurkan rumah kita ini.
Seperti istana yang dibangun dalam sepuluh tahun dihancurkan dalam satu menit...
--
BAGIAN KEEMPAT TAMBAHAN
ﻗَﺎﻝَ ﻣَﻦْ ﻳُﺤْﻴِﻰ ﺍﻟْﻌِﻈَﺎﻡَ ﻭَﻫِﻰَ ﺭَﻣ۪ﻴﻢٌ ٭ ﻗُﻞْ ﻳُﺤْﻴ۪ﻴﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬ۪ٓﻯ ﺍَﻧْﺸَﺎَﻫَٓﺎ ﺍَﻭَّﻝَ ﻣَﺮَّﺓٍ ﻭَﻫُﻮَ ﺑِﻜُﻞِّ ﺧَﻠْﻖٍ ﻋَﻠ۪ﻴﻢٌ ٭
Yakni, manusia berkata, "Siapa yang akan menghidupkan tulang-tulang yang telah lapuk?" Engkau katakan, "Yang membentuknya pada awal dan memberinya kehidupan, Dialah yang akan menghidupkannya." Sebagaimana digambarkan dalam perumpamaan ketiga dari Hakikat Kesembilan pada Kalimat Kesepuluh, seseorang membentuk kembali pasukan besar dalam satu hari di depan mata.
Jika orang lain berkata, "Orang ini dapat mengumpulkan dengan satu terompet suatu batalion yang prajuritnya berpencar untuk beristirahat, dan membawa mereka ke dalam tatanan batalion," lalu engkau, wahai manusia, berkata, "Aku tidak percaya," engkau mengetahui betapa gilanya pengingkaran itu.