Adapun mengenai persoalan tokoh-tokoh yang diberitakan oleh hadis pada akhir zaman:
Sinar-Sinar · hlm. 561
Tema-tema ini bukanlah kami yang mengada-adakannya. Asalnya memang ada di dalam agama. Nabi alaihis-salâtu was-salâm melalui sebagian hadis mengabarkan bahwa umur umat Muhammad صلى الله عليه وسلم tidak akan banyak melewati seribu lima ratus tahun. Beliau juga mengabarkan peristiwa-peristiwa sejarah besar yang akan memberikan pengaruh penting pada kehidupan umat Muhammad صلى الله عليه وسلم dan pada kehidupan dunia sampai masa itu, dengan menyebutnya "tanda-tanda kiamat". Beliau menarik perhatian umat Islam kepada kejahatan yang ada padanya. Beliau menyampaikan bahwa orang-orang yang terjerumus ke dalam kejahatan-kejahatan ini karena lalai dan bodoh akan berhadapan dengan nasib celaka dan binasa yang abadi. Mengenai hal-hal ini terdapat burhan-burhan agama yang tak terhitung banyaknya.
Kami ini telah beriman kepada Allah, kepada Rasul-Nya, dan kepada Al-Qur'an. Kini, sebagai hasil dari iman ini dan dari keyakinan kepada kebenaran Nabi صلى الله عليه وسلم ini, tidak bolehkah kami berusaha menyelamatkan diri kami dari kebinasaan abadi? Tidak bolehkah kami melihat apa yang terjadi di sekeliling kami? Tidak bolehkah kami mengerahkan usaha untuk mencocokkan hal-hal itu dengan hakikat-hakikat agama yang ada, seraya berkata, "Gerangan, sudah datangkah zaman yang berbahaya ini? Jangan-jangan kamilah generasi yang jatuh ke dalam bahaya-bahaya ini!"?
Sekiranya kami tidak melihat dalil-dalil nyata yang ada di hadapan kami serta hakikat-hakikat berburhan lagi ilmiah yang menuntun kami kepada wujud Allah, lalu kami meninggalkan agama kami semata-mata karena menganggap sikap tidak beragama ala Eropa sebagai keharusan terbesar peradaban dan sebagai lambang pengetahuan yang tinggi, gerangan siapakah yang akan menyelamatkan kami dari kebinasaan abadi? Tidak bolehkah kami memikirkan hal ini? Adakah seorang manusia yang berpikiran demikian, yang tidak mengenal sesuatu pun yang lebih tinggi daripada Al-Qur'an dan hakikat-hakikatnya, akan melemparkan dirinya ke dalam kebinasaan abadi semata-mata karena takut kepada hukuman-hukuman yang fana? Ataukah ia akan memberi nilai kepada sebagian perkara fana? Adakah ia akan meninggalkan tugas berkhidmah kepada Allah, kepada Rasul-Nya, dan kepada agama-Nya?
Maka inilah sebab-sebab hakiki yang mengikat kami kepada Bedîüzzaman. Adakah sumber agama yang lain, yang dengannya kami dapat menenangkan kebutuhan-kebutuhan azali jiwa kami ini?
Tuan Jaksa Penuntut menganjurkan kepada kami ribuan kitab berbahasa Arab yang memenuhi perpustakaan-perpustakaan, yang tidak dapat menjadi juru bicara bagi ruh zaman ini. Tuan Jaksa Penuntut dan orang-orang yang berpikir sepertinya boleh saja tidak menyukai kumpulan karya ilmu, khazanah kebebasan, dan hakikat yang tinggi yang berada di bawah nama Risale-i Nur itu; mereka pun boleh mengkritiknya. Itu adalah urusan mereka sendiri. Namun mereka tidak dapat mencampuri urusan kami dalam menyukai karya ini atau itu dan dalam memberinya nilai.
Kami mencintai Risale-i Nur. Dan kami mengenalnya sebagai sebuah kitab agama yang hakiki lagi tanpa riya dan sebagai tafsir Al-Qur'an. Ukuran-ukuran nilai dan penilaian adalah persoalan pertimbangan hati nurani. Tidak seorang pun dapat mencampurinya. Ya, kami meyakini bahwa penulis Risale-i Nur adalah seorang wali dan bahwa beliau senantiasa memberikan pelajaran yang merupakan hakikat itu sendiri. Bahwa beliau sendiri tidak menerimanya tidaklah menggoyahkan keyakinan kami ini. Hanya saja, yang kami terima itu bukanlah karena karamah kauniyahnya, melainkan karena karamah ilmiahnya — yang tampak luar biasa lagi paling sempurna sehingga kami menyaksikannya di dalam pelajaran Nur, dan yang menantang seluruh dunia pengetahuan.
Meskipun masa pendidikannya tidak ada selain tiga bulan, dapatkah Tuan-tuan menunjukkan seorang Bedîüzzaman kedua yang menyebarkan limpahan karunia ilmu sedemikian besar; yang dengan keajaiban-keajaiban ilmunya menampakkan logika yang sedemikian tinggi sehingga membuat para pemikir tertinggi pun tercengang di dalam persoalan-persoalan ilmu dan persoalan-persoalan tinggi yang paling ujung; yang di dalam sebuah bahasa yang ia pelajari setelah separuh usianya berlalu menampakkan gaya penjelasan yang sedemikian memikat dan kehangatan yang menghanyutkan; yang mendendangkan cinta dan gelora yang sangat berlimpah; dan yang bergelora laksana samudra iman, khazanah tauhid, dan lautan hikmah?
Apakah Tuan-tuan memandang berlebihan bahwa kami menganggap sebagai Ustaz sebuah tugu keutamaan dan cahaya — yang tidak menunjukkan kecenderungan dan perhatian sedikit pun kepada kemegahan penampilan yang fana; yang tidak sudi kepada manfaat dan kelezatan yang paling kecil; yang sama sekali tidak memberi nilai kepada segala penjilatan kotoran dunia fana yang melilit kakinya; yang tidak mengharapkan dan tidak meminta sesuatu pun dari siapa pun serta tidak menerima apa yang disodorkan kepadanya; yang dengan menghidupkan contoh-contoh tertinggi dari sifat menjaga kehormatan diri dan kesucian, dengan sabar lagi tabah membusungkan dada menghadapi segala macam kekurangan, lalu mewakafkan dirinya kepada hakikat, kepada cahaya-cahaya Al-Qur'an, dan kepada usaha menampakkan ilmu-ilmu Muhammad صلى الله عليه وسلم; yang menangis penuh belas dan kasih sayang di hadapan penderitaan negeri dan bangsa; yang meskipun begitu banyak pengkhianatan dilakukan kepadanya, sama sekali tidak meninggalkan khidmahnya demi kebahagiaan orang-orang di sekelilingnya; dan yang tanpa memandang usianya yang tua dan keadaannya yang tanpa sanak saudara, bekerja dan berjuang dengan sebuah usaha yang tulus lagi Ilahi untuk menyelamatkan manusia dari jurang kebodohan dan dari badai pengingkaran?
Bersama karamah ilmiah beliau yang telah dipaparkan ini, karena pengorbanan dan sikap merasa cukup tanpa bergantung kepada siapa pun yang tiada bandingnya, serta karena mahakarya kesucian dan istikamah yang beliau tunjukkan justru pada zaman yang di dalamnya ukuran-ukuran akhlak telah lenyap, beliau layak dikenal sebagai sebuah contoh kesempurnaan dan mihrab keutamaan, dan layak untuk diikuti.
Maka dengan pandangan seperti inilah kami memandang Bedîüzzaman dan karya-karyanya. Gerangan, ikatan kami kepada beliau yang telah disebutkan itu — ikatan yang semata-mata lahir dari iman kami — dan
sikap kami yang, karena iman ini, turut serta dalam celaan dan cercaan keras Al-Qur'an dan penjelasan-penjelasan Muhammad صلى الله عليه وسلم terhadap kekufuran dan akhlak yang buruk: apakah semua itu menjadikan kami seorang politikus yang dianggap sebagai kotoran dunia fana? Ataukah, kepada sebagian anak keturunan bangsa kami yang selama dua puluh lima tahun ini tidak dapat mempelajari hakikat-hakikat agama dan yang berjalan menuju kebinasaan mutlak — untuk menyelamatkan mereka dari kebinasaan abadi — memberitakan tentang Allah dan Rasul-Nya, tentang hakikat dan Al-Qur'an, lalu memperbaiki ruh mereka yang bersih dan hati nurani mereka yang suci: adakah hal itu sama sekali dapat disebut merusak?
Tuan-tuan Hakim yang terhormat!
Kami sama sekali bukan politikus. Kami mengenal politik sebagai sebuah pekerjaan yang membawa seribu satu macam dosa, bahaya, dan tanggung jawab bagi orang yang bukan ahli politik seperti kami. Kepada penampilan-penampilan yang fana pun kami memang tidak memberikan nilai. Kami memandang dunia hanya dari sisinya yang baik, yang membawa kami kepada rida Ilahi. Atas dasar itu kami menolak dengan keras tuduhan berlari mengejar politik dan menentang paham negara. Sekiranya ada maksud semacam itu, tentu selama dua puluh lima tahun ini telah tampak tandanya, sekecil apa pun.
Ya, kami memang memiliki satu sisi yang negatif, yaitu sisi kami yang mencela sikap tak berakhlak dan tak beriman. Hal itu semata-mata timbul karena iman kami dan karena kami — mau tidak mau — turut serta dalam kerasnya penjelasan Al-Qur'an dan besarnya celaan Al-Qur'an atas tema-tema ini.
Jika sebab-sebab yang mengharuskan ini, dan cara penjelasan yang lahir dari ketulusan dan ikhlas, dari hakikat dan kejernihan hati ini, tidak juga memberi keyakinan kepada Tuan-tuan, jatuhkanlah hukuman kepada kami dalam bentuk apa pun yang Tuan-tuan kehendaki. Akan tetapi janganlah Tuan-tuan lupa bahwa Nabi Isa alaihissalam — yang hari ini enam ratus juta manusia menisbatkan diri kepadanya — dahulu dijatuhi hukuman mati "seperti seorang pencuri biasa" oleh para penguasa zamannya, semata-mata karena hatinya berdegup demi kebahagiaan umat manusia dan karena ia mengemban amanat menyampaikan risalah.
Karena kami berbicara secara merdeka, hukuman yang akan menimpa kami ini akan kami sambut dengan bangga. Dan kami hanya akan menengadahkan tangan ke hadirat Sang Qâdhil-Hâjât (Yang menunaikan segala hajat) dengan seruan حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَك۪يلُ