Kepada Mahkamah Pidana Berat Afyon,
Sinar-Sinar · hlm. 565
Terhadap pihak penuntut yang membesar-besarkan perkara kecil menjadi perkara besar, lalu menggambarkan aku — karena khidmahku, yang kuakui dengan bangga, kepada Ustazku dan kepada Risale-i Nur — sebagai seorang diplomat besar dan seorang lelaki tukang intrik, serta memberiku bagian yang besar di dalam kejahatan khayali yang ditimpakan kepada Nur, aku berkata:
Aku memiliki hubungan yang erat dengan Ustazku Bedîüzzaman, yang dengan membaca karya-karyanya yang bersifat agama, iman, dan akhlak, aku mengambil manfaat sedemikian rupa sehingga tanpa ragu aku akan mengorbankan hidupku di jalan itu. Akan tetapi hubungan ini bukanlah hubungan yang membahayakan tanah air dan bangsa serta menghasut rakyat untuk menentang pemerintah sebagaimana dikatakan pihak penuntut, melainkan sebuah hubungan yang tidak putus dan tidak akan putus di jalan menyelamatkan imanku sendiri dan iman saudara-saudara seagamaku — yang sepertiku, pada zaman yang berbahaya ini, butuh menyelamatkan imannya, memperbaiki akhlaknya, dan menjadi anggota tubuh yang bermanfaat bagi tanah air dan bangsa — dari hukuman mati abadi di dalam kubur, yang tidak seorang manusia pun dapat menyelamatkan dirinya darinya.
Aku termasuk orang-orang yang dekat dengan beliau. Kurang lebih empat tahun lamanya, sesekali aku melakukan khidmah kepada beliau dengan penuh kebanggaan. Selama masa itu aku tidak menyaksikan sesuatu pun pada diri beliau selain keutamaan dari ujung ke ujung. Sekali pun aku tidak pernah mendengar satu kata pun dari mulut beliau tentang dirinya sebagai Mahdi atau sebagai mujaddid. Bahwa beliau berada di puncak sifat tawaduk disaksikan oleh naskah-naskah Nur yang melampaui ratusan ribu jumlahnya dan oleh ratusan ribu murid Nur yang ikhlas, yang menyelamatkan iman mereka dengan membacanya.
Ustazku yang mubarak itu memandang dirinya sebagai murid Nur seperti kami, dan demikianlah yang beliau nyatakan.
Hal ini dengan mudah dapat dilihat di dalam banyak suratnya yang ada di tangan Tuan-tuan, terutama di dalam Risalah Ikhlas yang terdapat di dalam kumpulan Asa-yı Musa. Padahal beliau sendiri berulang kali menyebutkan di dalam risalah dan surat-suratnya, "Hakikat-hakikat yang kekal, yang laksana matahari dan bagaikan intan, tidak dibangun di atas pribadi-pribadi yang fana; dan pribadi-pribadi yang fana tidak dapat mengakui hakikat-hakikat berharga itu sebagai milik mereka." Maka memutuskan bahwa beliau membanggakan dirinya, dan mendakwa bahwa beliau mengaku sebagai Mahdi dan mujaddid, sama sekali bukanlah pekerjaan akal yang sehat.
Sebab, jika Tuan-tuan membaca seluruh risalah dan suratnya dengan adil dan teliti, Tuan-tuan pun akan memperoleh keyakinan yang pasti bahwa allamah zaman yang terhormat ini adalah seorang ulama agama yang sejak berabad-abad tidak dijumpai bandingannya, seorang penyelamat iman yang tidak akan ditemukan tandingannya, dan seorang pencinta tanah air yang manfaat dan berkahnya bagi tanah air dan bangsa lebih besar daripada satu pasukan tentara — pada zaman ketika percikan-percikan merah Bolshevisme hendak menjalari atap rumah kita. Maka aku menyesal karena tidak dapat menjadi murid sejak lebih dahulu bagi karya semacam ini dan bagi Ustaz yang terhormat, yang menulis karya itu.
Majelis Hakim Yang Terhormat!
Maka dari Risale-i Nur, yang manfaatnya yang tak terhingga telah kualami sendiri, aku mencetak Panduan Pemuda di Eskişehir dengan izin resmi dan dengan pikiran sebuah khidmah kebangsaan yang suci, agar putra-putra tanah air sepertiku dapat mengambil manfaat darinya. Padahal khidmah seorang malang sepertiku kepada Risale-i Nur — tafsir Al-Qur'an yang hakiki lagi tak terbantahkan — dan dengan sendirinya kepada iman, semestinya disambut dengan ucapan selamat dan penghargaan, dan sangat membutuhkan dorongan; namun kami justru diperlakukan seberat ini. Betapa hal itu bertentangan dengan hakikat keadilan! Kami bertanya kepada Tuan-tuan.
Dan aku memohon kepada mahkamah Tuan-tuan yang adil agar memutuskan kebebasan risalah-risalah Nur — makanan ruh kami, sebab keselamatan kami, dan kunci kebahagiaan abadi kami; dan aku sampaikan bahwa jika keadaan-keadaan yang sebagiannya telah kusebutkan dan kuperinci di atas itu merupakan sebuah kejahatan dalam pandangan Tuan-tuan, aku akan menerima hukuman Tuan-tuan yang paling berat dengan sepenuh rida hati.