Kepada Mahkamah Pidana Berat Afyon,
Sinar-Sinar · hlm. 567
Terhadap persoalan-persoalan yang ditunjukkan sebagai kejahatan dengan dakwaan bahwa aku turut serta di dalam kegiatan khayali menentang rezim dari Bedîüzzaman Said Nursî — yang disangka mendirikan perkumpulan rahasia dan melakukan gerakan-gerakan yang dapat merusak keamanan negara dengan menjadikan perasaan keagamaan sebagai alat — aku berkata:
1- Ya, aku pun seperti banyak murid Nur lainnya mulai membaca risalah-risalah Nur setelah menyediakannya, dengan maksud mempelajari didikan agama yang beradab — yang layak bagi jati diri Turki yang sejati dan bagi Islam, serta yang merupakan kehormatan dan keutamaan sejarah kami — dan mempelajari akhlak Al-Qur'an yang merupakan lambang kebangsaan kami, agar aku menjadi anggota tubuh yang bermanfaat bagi tanah air dan bangsa, dan agar aku terlindung dari pengaruh ideologi-ideologi asing lalu menjaga dan mempelajari agama dan imanku.
Pada sebuah masa ketika foya-foya, kehinaan, dan akhlak yang buruk — yang menginjak-injak akhlak dan kehormatan nenek moyang kami, yang dahulu menaburkan kemasyhuran dan nama harum ke dalam lembaran-lembaran sejarah — meracuni kehidupan bermasyarakat, menjalar sampai ke jalan-jalan sehingga membuat jijik bahkan orang-orang yang berakhlak buruk sekalipun, membuat pendapat umum menjadi gelisah, dan menjadi bahan gunjingan di depan tungku setiap keluarga dari segala lapisan; dan ketika keadaan yang menyakitkan ini — yang menjadi sebab kritik surat kabar dan majalah, yaitu lidah pendapat umum, baik dalam bentuk berita-berita aparat kepolisian susila maupun dalam berbagai tema lain — meluas dengan sangat cepat dan hampir-hampir hendak menjadi merata: aku membaca Kumpulan Risale-i Nur, yang dengan pelajaran agama, akhlak, kemasyarakatan, dan sastranya menyelamatkan aku pula dari jurang tak berakhlak tempat aku terjatuh, sebagaimana ia menyelamatkan setiap pembaca muslimnya; lalu, atas permintaan yang mendesak dari warga-warga sebangsaku yang mengetahui dan mendengar bahwa aku membaca karya-karya ini, agar mereka dapat membersihkan akhlak mereka, aku pun memberikan risalah kepada mereka; dan dengan sendirinya aku membacakan kepada mereka risalah-risalah yang — dengan risalah-risalah ini sendiri, dengan bimbingan Nur-Nur ini yang sangat berkesan — menyelamatkan orang-orang yang telah menjadi tak tentu arah, juga orang-orang yang menunjukkan tanda-tanda akan menjadi tak tentu arah serta menjadi berbahaya bagi tanah air dan bangsa, lalu menjadi pelayan dan sarana agar mereka menjadi manusia yang bermanfaat bagi umat manusia; risalah-risalah yang merupakan senjata bercahaya lagi berkesan dari perjuangan suci lagi maknawi Bedîüzzaman — yang layak mendapat penghargaan dan pemuliaan, dan yang dari sisi bimbingannya yang bersifat agama lagi berkesan merupakan seorang mujahid maknawi menghadapi bahaya komunisme, wabah merah yang menggetarkan seluruh dunia dan yang penularan serta wabahnya terlihat pula di negeri kami; risalah-risalah yang dalam dua puluh tahun menjadi sarana bagi berubahnya dua puluh ribu orang, bahkan barangkali jauh lebih banyak lagi, menjadi manusia yang bermanfaat bagi tanah air dan bangsa; yaitu risalah-risalah
Nur itu — sampai sejauh manakah membacakannya dapat menjadi bahan kejahatan bagi diriku dan sebab tuduhan bagi penulisnya yang terhormat? Aku bertanya kepada hati nurani Tuan-tuan.
2- Bahwa hadis yang oleh Pihak Kejaksaan didakwa secara tidak ilmiah dengan ucapan "Ia hadis palsu" itu sahih di dalam kitab-kitab hadis, terbukti secara pasti dengan diterimanya hadis itu oleh para ulama hadis; dan juga dengan peristiwa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Jepang dan Gereja Anglikan Inggris kepada para ulama zaman Meşrutiyet sebelum masa kebebasan: ketika itu para ulama Istanbul, yang merupakan allamah-allamah zaman itu, bertanya kepada penulis yang terhormat, yaitu Bedîüzzaman, lalu para ulama penting itu menerima jawaban-jawaban takwil beliau atas hadis tersebut pada masa itu — yang kini terlihat di dalam karya yang bernama Sinar Kelima — dan tidak dapat membantahnya.
Lagi pula, bukan hanya bagian Risale-i Nur ini; seluruh hakikat dan pelajarannya merupakan hakikat-hakikat yang demikian kuat sehingga tidak seorang pun ulama Islam yang hakiki dapat membantahnya, sehingga seluruh ulama hakiki di negeri ini — dengan Kepresidenan Urusan Agama di barisan terdepan — terpaksa menerima dan memuliakannya sejak masa Meşrutiyet. Hakikat-hakikat itu dan burhan-burhan yang kuat itu tidak dapat diruntuhkan oleh bantahan dan dakwaan satu dua orang yang hanya bernama ulama namun tidak memiliki bagian sedikit pun dari ilmu hakikat. Bahkan hal itu menjadi sangat menggelikan.
Menulis sebuah surat kepada penulisnya sebagai utang syukur karena terpikat kepada hakikat-hakikat Al-Qur'an dan iman — hakikat-hakikat yang manfaat lahir dan batinnya nyata, yang dibaca dengan penghargaan di seluruh penjuru tanah air dan di setiap lapisan rakyat demi menyelamatkan kehidupan kekal mereka dari hukuman mati, dan yang darinya mengambil manfaat ribuan warga yang tetap berterima kasih selamanya kepada penulisnya yang terhormat karena dengannya mereka menyelamatkan iman mereka; lalu, dengan bersandar kepada hakikat-hakikat hadis yang menjadi sebab tuduhan itu, yang tidak diingkari, memandang kepada sebagian perbuatan dan peninggalan lalu melihatnya seakan-akan hadis itu telah muncul di negeri yang menjadi mazhar hadis tersebut; lalu, karena jatuh ke dalam sangkaan semacam itu dan bersandar kepada pemberitaan banyak ulama Islam, menerima langkah memperbaiki sebagian kesalahan sebagai sebuah futuhat Al-Qur'an lalu menampakkan kegembiraan; lalu menyampaikan pandangan dan sudut pandang ini secara rahasia kepada seorang Ustaz yang dari karya-karyanya ia memperoleh limpahan karunia; dan mengharapkan agar tanah air dan bangsa tidak jatuh ke dalam anarki dan dengan sendirinya ke dalam pelukan bahaya merah yang menggetarkan seluruh dunia: apakah semua itu merupakan pengkhianatan kepada rezim? Apakah itu berarti mencela revolusi?
Dan padahal beberapa mahkamah telah membebaskan ilmuwan yang sangat layak mendapat penghargaan dan pemuliaan itu dari tuduhan-tuduhan yang sama, beliau kembali ditaruh di bawah sangkaan dengan tema-tema yang sama, ditahan dan diasingkan padahal beliau tanpa sanak saudara, sangat tua, dan hidup menyendiri, lalu dihadapkan ke meja pengadilan; dan usaha-usaha kami untuk menyelamatkan sudut pandang ilmiah kami dan iman kami pun mereka anggap
sebagai sebuah kejahatan, lalu ditunjukkan sebagai dalil dan burhan bagi kejahatan merusak keamanan negara yang seolah-olah beliau lakukan: keputusan hati nurani manakah yang adil seperti itu? Aku bertanya kepada mahkamah Tuan-tuan; aku serahkan kepada hati nurani Tuan-tuan.
3- Adapun mengenai sebab tuduhan yang berbunyi "membawa foto-foto Bedîüzzaman seakan-akan ia sesuatu yang suci, mengumpulkan surat-suratnya, dan saling berkirim surat":
Seorang ulama menyeluruh dan seorang penulis terhormat, yang dengan karya-karyanya menjadi sarana untuk menyelamatkan kehidupan maknawi dan kehidupan kekalku dari hukuman mati, untuk membuatku merasakan lezat dan bahagianya kehidupan lahir, serta untuk selamatnya iman ribuan orang sepertiku: jangankan membawa sebuah fotonya yang sederhana — membawanya sambil menghiasinya dengan emas dan permata, mengirimkan ucapan selamat dan surat kepadanya, serta berkenalan dengan orang-orang yang mencintainya, adalah hakku juga sebagaimana ia hak setiap orang dari umat manusia. Aku tidak menyangka bahwa hakku ini akan menjadi bahan kejahatan, dan sebagai kata terakhir aku berkata:
Khidmah kebangsaan yang selama bertahun-tahun lamanya diberikan kepada tanah air dan bangsa ini serta kepada pemerintahan di tanah air ini oleh murid-murid Nur — yang, demi dapat berkhidmah kepada tanah air, kepada bangsa, dan kepada himpunan umat manusia, sesuai dengan makna ungkapan (Siapakah yang bijak? Orang yang mengalaminya sendiri.), telah menyelamatkan diri mereka dari hidup tak tentu arah dengan risalah-risalah Nur ini lalu menjadi sarana untuk menyelamatkan orang lain pula, sebagaimana dapat disaksikan bahkan oleh aparat kepolisian dua provinsi dan banyak kecamatan — pada hakikatnya lebih penting daripada khidmah pasukan kepolisian yang berjumlah ribuan orang, dan lebih layak mendapat penghargaan serta sambutan yang hangat; namun khidmah itu justru ditafsirkan dengan buruk, lalu seakan-akan orang bergerak dengan sengaja atas nama sebuah rezim asing, kami ditahan dan diserahkan ke berbagai pengadilan sehingga pekerjaan dan usaha kami terinjak-injak di bawah kaki, dan anak-istri kami yang malang dibuat porak-poranda lalu menangis: dengan undang-undang demokrasi yang manakah, dengan keputusan hati nurani dan keputusan adil dari hakim-hakim adil yang bersumpah lagi diberkati yang manakah, semua itu dapat dipadukan? Aku bertanya kepada mahkamah Tuan-tuan dan kepada hati nurani Tuan-tuan.
Dan dari mahkamah Tuan-tuan yang terhormat, yang menjalankan keadilan atas nama bangsa Turki yang besar lagi adil serta atas nama majelisnya yang tinggi, aku menuntut kebebasan karya-karya ini — yang begitu banyak faedah dan manfaatnya nyata terlihat sehingga tidak dapat kami ingkari — dan menuntut pula putusan bebas bagi kami.