Kepada Mahkamah Pidana Berat Afyon,
Sinar-Sinar · hlm. 571
Pihak penuntut menjadikan sebagai dalih: bahwa aku membaca karya-karya Bedîüzzaman — ulama Islam yang didakwa berusaha merusak keamanan negara dengan menjadikan perasaan keagamaan sebagai alat — yaitu karya-karya yang mengajarkan hakikat-hakikat Al-Qur'an dan iman yang sangat bermanfaat bagi bangsa dan negeri; bahwa aku memberikan dan mengusahakan sebagian dari pelajaran-pelajaran ini kepada beberapa kenalan, atas permintaan mereka — pelajaran yang dengannya aku sangat mengambil faedah dari sisi agama dan iman serta yang menjadi pendorong bagiku untuk mempelajari akhlak Al-Qur'an — dengan keinginan meraih kebaikan berupa menjadi sebab bagi mereka dalam mempelajari pelajaran iman serta pendidikan agama dan akhlak yang merupakan syiar nasional kita; dan bahwa beberapa kenalan mengirimkan surat-surat yang bersifat persahabatan atau keilmuan ke alamatku — lalu dengan semua itu ia menunjukkan aku sebagai kawan sekongkol dalam kejahatan beliau. Terhadap persoalan-persoalan yang menjadi sebab tuduhan ini aku mengajukan keberatan bahwa:
1- Risale-i Nur yang telah melalui persidangan, yang dinyatakan bebas lalu dikembalikan kepada penulisnya, dan yang dihargai serta disetujui oleh seluruh ulama Islam dan ulama negeri ini, sama sekali tidak kubaca dengan pikiran perusak sebagaimana yang ditekankan oleh pihak penuntut. Bahkan, karena aku memandang setiap risalahnya dari awal sampai akhir sebagai tafsir penting Al-Qur'an dan sebagai sebuah karya yang — dengan memberikan pelajaran Islam dan pendidikan agama secara berkesan, yang menjadi sarana untuk meninggikan akhlak manusia, menjadikan mereka pemilik keutamaan, dan menyelamatkan bangsa-bangsa dari terjerumus ke jurang — memberikan pertolongan dan kebaikan maknawi yang paling besar kepada bangsa dan negeri, bahkan kepada seluruh umat manusia; maka aku tidak menyangka bahwa membacanya dengan maksud menjaga dan mempelajari agama serta imanku, lalu memberikannya kepada sebagian orang atau mengusahakannya bagi mereka, adalah sebuah kejahatan. Sebab di mana pun tidak pernah terlihat dan tidak pernah dicatat oleh aparat kepolisian bahwa murid-murid Nur ikut serta dalam suatu peristiwa yang merugikan tanah air, bangsa, dan pemerintahan.
Dan pada saat yang sama, timbulnya kecurigaan adanya perkumpulan rahasia yang hendak diajukan dengan alasan, "Dalam hal membaca dan mengajarkannya terdapat kerahasiaan," sungguh sangat tidak pada tempatnya. Sebab murid-murid Nur tidak memiliki hubungan dengan perkumpulan apa pun, baik yang bersifat keilmuan maupun politik, baik yang tersembunyi maupun yang terang-terangan.
Bahkan, ketika beberapa tahun yang lalu dengan tuduhan yang sama banyak orang bersama Bedîüzzaman diserahkan ke Mahkamah Pidana Berat Denizli lalu disidangkan, dan ketika perkara itu diteliti serta didalami dengan sangat cermat, seluruh
risalah pun termasuk di dalamnya, dan mereka semua bersama-sama memperoleh putusan bebas. Menjadikan hal membaca dan mengajarkan sebuah karya tulis — yang penulisnya maupun karya-karyanya telah dinyatakan bebas — sebagai dalil dan sebab tuduhan atas sebuah kejahatan yang amat berat seperti merusak keamanan negara dan mengkhianati rezim: sampai tingkat mana hal itu merupakan tuntutan keadilan, aku tidak mengetahuinya; kuserahkan kepada hati nurani Tuan-tuan.
2- Selain itu, sebuah risalah yang dikirimkan dari Bayezid oleh seseorang yang tidak kukenal ketika aku telah menjadi tahanan pun termasuk sebab tuduhan terhadapku. Risalah itu belum pernah kulihat. Aku tidak tahu apa-apa tentang isinya. Jika ia termasuk Risale-i Nur, aku menerimanya. Bertanyalah Tuan-tuan, biar aku menjawab. Hanya saja aku mengetahui bahwa di dalam surat dakwaan jaksa membicarakan pengakuan sebagai Mahdi. Padahal Ustazku bersih dari tuduhan-tuduhan semacam ini. Sebagaimana kami tidak pernah mendengar hal seperti itu dari lisan beliau, kami pun tidak pernah melihatnya di dalam karya-karya beliau. Bahkan pada setiap kesempatan beliau melarang murid-muridnya dari menghormati dan mengagungkan pribadi beliau serta dari memberikan kedudukan kepadanya; dan orang-orang yang menulis surat dengan nada pengagungan pun beliau cela. Kami mengenal beliau sebagai seorang yang bersih dari cinta kedudukan, sebagai ulama yang paling tinggi pada zaman ini, dan sebagai seorang guru ilmu tahkik.