Kepada Mahkamah Pidana Berat Afyon,
Sinar-Sinar · hlm. 561
Tuan-tuan Hakim yang terhormat! Bukankah berjumpa dengan seorang ulama agama, membaca dan menulis kitab-kitabnya yang berkenaan dengan hakikat-hakikat agama, serta berkhidmah kepada agamanya, kepada Al-Qur'annya, dan kepada Nabinya صلى الله عليه وسلم untuk berlari menolong saudara-saudara seagamanya, adalah tugas dan hak seorang mukmin? Adakah sebuah pasal undang-undang yang melarang kami dari khidmah keagamaan ini? Apakah kritik sebagian pihak terhadap arus-arus kufur dan tak berakhlak pada zaman kita ini merupakan sebuah kejahatan?
Kami hanyalah sekumpulan rakyat yang taat beragama lagi bersahaja, yang sama sekali tidak memiliki hubungan dengan politik maupun dengan urusan pemerintahan. Bersangka baik kepada seseorang dan memberinya nilai adalah keyakinan pribadi setiap orang. Kami mengenal Bedîüzzaman sebagai ulama agama yang tertinggi pada zaman kita. Kami mengenalnya sebagai seorang tokoh hakikat yang menerangkan dan menyatakan hakikat-hakikat agama tanpa sedikit pun menjilat. Bahwa kami memberinya nama Mujahid adalah karena pembelaan dan khidmah keagamaannya yang beliau lakukan dengan bersandar kepada hakikat-hakikat Al-Qur'an yang tak tergoyahkan, di hadapan arus-arus tak berakhlak dan tak beriman yang mengancam negeri kami. Di sebuah negeri yang di dalamnya kebebasan beragama dan kebebasan hati nurani berkuasa, kami tidak dapat dimintai tanggung jawab atas keyakinan
hati nurani kami. Karena itu pula kami tidak wajib mempertanggungjawabkannya kepada siapa pun.