Risale-i NurSinar-Sinar

Kepada Mahkamah Pidana Berat Afyon,

Sinar-Sinar · hlm. 558

Surat dakwaan menyebutkan bahwa aku adalah sekretaris rahasia Ustazku Said Nursî, bahwa aku memiliki hubungan yang sangat kuat dengan beliau dan dengan Risale-i Nur, serta bahwa aku banyak berkhidmah kepadanya; lalu ia menjadikan tindakanku ini sebagai sebab untuk menuntut tanggung jawabku. Terhadap hal itu, aku dengan segenap kekuatanku menerima tuduhan ini dan merasa bangga karenanya. Sebab, di dalam fitrahku terdapat kerinduan yang sangat kuat kepada ilmu. Salah satu dalilnya adalah ini: ketika tempat tinggalku digeledah pada peristiwa Denizli, secara resmi terbukti bahwa di rumahku terdapat lima ratus delapan puluh kitab ilmu dan kitab berbahasa Arab yang beraneka ragam. Bersama keadaanku yang miskin, usiaku yang masih muda, dan kekuranganku dalam bahasa Arab, yang membuatku mengumpulkan lima ratus delapan puluh jilid kitab beraneka ragam ini — yang pada zaman ini tidak terdapat pada satu orang pun di antara seribu orang — adalah semangat menuntut ilmu yang luar biasa dan cinta yang menakjubkan kepada ilmu.

Maka dengan bakat fitri inilah aku senantiasa mencari seorang ustaz yang hakiki. Segala syukur yang tak terhingga bagi Allah, sebab Dia meletakkan ke tanganku di tempat yang sangat dekat apa yang kucari di tempat yang jauh. Ya, seluruh hidup Said Nursî, Ustazku, bersaksi bahwa tujuan seluruh hidupnya berlalu di dalam semangat menuntut ilmu dan di dalam cinta untuk mengetahui ilmu-ilmu keislaman.

Baik dengan apa yang kusaksikan sendiri, dengan Tarihçe-i Hayat (Riwayat Hidup) Ustazku yang telah dicetak, maupun dengan keterangan yang kuperoleh dari murid-muridnya yang lama, aku mengetahui dengan pasti bahwa cinta fitri kepada ilmu yang ada padaku itu terdapat pada Ustazku dalam bentuk yang menakjubkan; sebab pada zaman ini, berbeda dengan seluruh ulama madrasah, dengan sangat menakjubkan beliau seorang diri menjaga kedudukannya sebagai murid madrasah dan menanggung segala bala. Bahkan para ahli politik, karena tidak memahami keadaan-keadaan Ustazku yang ajaib ini, berusaha menyeret beliau kepada semacam politik yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan beliau. Bahkan mereka memasukkan beliau ke dalam penjara-penjara.

Namun kemudian Allah menjadikan cinta kepada ilmu itu sebagai sebuah kunci bagi hakikat-hakikat Al-Qur'an. Maka tampillah Risale-i Nur yang membuat seluruh ahli ilmu dan para filsuf tercengang. Pada saat itu pula, sebagai sebuah karunia Ilahi, aku menemukan Ustaz ini di sisiku di Kastamonu — Ustaz yang kucari sepanjang hidupku, yang ada di dalam fitrahku sendiri namun berada pada derajat yang jauh lebih tinggi. Sampai akhir umurku pun aku bersyukur atas hal ini.

Lagi pula, sejak dahulu Ustazku tidak menerima hal-hal seperti sedekah dan hadiah demi menjaga kemuliaan ilmu, dan beliau pun melarang murid-muridnya menerimanya. Beliau tidak menundukkan kepalanya kepada siapa pun. Bahkan termasuk di antara keadaan-keadaannya yang menakjubkan: di dalam peperangan beliau tidak sudi duduk di garis penembak dan masuk ke dalam parit perlindungan demi menjaga kemuliaan ilmu; demikian pula, di hadapan tiga orang komandan yang dahsyat, demi menjaga kehormatannya sebagai guru dan kehormatan ilmu, dengan gagah berani beliau tidak mempedulikan kemarahan mereka lalu membungkam mereka. Karena itu, karena aku mengenal Ustazku ini sebagai seorang yang telah mengorbankan segala miliknya demi menjaga kehormatan yang sangat besar dari bangsa dan tanah air ini serta dari para ulama Turki, aku pun menerima beliau sebagai ustaz hakiki bagi diriku. Terhadap seorang Ustaz yang sedemikian sejati berkorban bagi tanah air dan bangsa — sekiranya, sebagai andaian yang mustahil, beliau memiliki seratus kekurangan sekalipun — orang seharusnya memandangnya dengan pandangan memaafkan dan tidak menyanggahnya.

Salah satu contoh bahwa para pecinta tanah air negeri ini pada masa Meşrutiyet, dan kaum nasionalis serta para pecinta bangsa pada masa Republik, menghargai khidmah luar biasa yang diberikan Ustaz ini kepada ilmu atas nama tanah air dan bangsa, adalah ini: sebagaimana Pemerintahan Ittihat-Terakki memberikan sembilan belas ribu lira emas kepada Perguruan Tinggi Timur — yang bersistem seperti Al-Azhar, yang bernama Madrasatuz-Zahra, yang batu pertamanya diletakkan di wilayah Van, dan yang terbengkalai karena Perang Dunia yang lampau — demikian pula dua puluh empat tahun yang lalu pemerintah republik menerima pemberian anggaran seratus lima puluh ribu lira bagi perguruan tinggi Ustazku itu dengan pengesahan seratus enam puluh tiga anggota parlemen.

Bahwa Ustaz yang tinggi ini seorang diri nyaris berhasil mewujudkan sebuah madrasah besar seperti Al-Azhar — yang hanya dapat berdiri dengan usaha ribuan guru — hal itu menunjukkan bahwa para pecinta tanah air dan para pecinta bangsa pun, bersama para ulama madrasah, wajib dan sangat perlu menghargai serta memuji Ustazku ini.

Kami pun, karena memperoleh Ustaz yang seperti ini, telah bertekad untuk menanggung setiap kesulitan dan kepayahan. Kepada allamah zaman yang mumtaz ini — yang dengan limpahan karunia ilmunya dan dengan hakikat karya-karya sucinya yang mencapai seratus tiga puluh buah telah membuatku maju di jalan ilmu dan iman — aku menaruh hormat yang tak terhingga dengan segenap wujudku. Rasa hormatku ini, insya Allah, akan berlangsung sampai selama-lamanya.

"Sebuah perkumpulan rahasia yang akan mengganggu keamanan negara dengan menjadikan agama dan perasaan keagamaan sebagai alat" — yang dengannya pihak penuntut hendak menyalahkanku dan yang hakikatnya tidak dapat ia capai setelah berbulan-bulan penelitian dan penggeledahan — sama sekali tidak ada wujudnya, dan kami pun tidak memiliki hubungan apa pun dengan perkumpulan semacam itu. Satu-satunya hubungan kami adalah dengan kitab-kitab Risale-i Nur yang, di hadapan undang-undang pemerintah republik, di dalam ujian-ujian yang paling berat, telah memperoleh penghormatan yang selayaknya dari majelis-majelis para ahli yang paling tinggi, dan yang telah meraih putusan bebas di mahkamah-mahkamah yang berwenang. Dan hal ini bukanlah pengkhianatan terhadap tanah air dan bangsa, melainkan secara langsung merupakan sebuah usaha di jalan ilmu yang bermanfaat bagi tanah air dan bangsa. Selain itu tidak ada maksud politik apa pun dan tidak pula ada niat buruk yang lain. Oleh sebab itu, karena dalam hal ini pun sudah nyata bahwa kami tidak bersalah dan tulus, aku menuntut putusan bebas bagi diriku dengan tampaknya keadilan dari mahkamah Tuan-tuan yang tinggi lagi adil, sebagaimana yang terjadi di Mahkamah Denizli.