Berikut ini adalah saripati kesimpulan yang telah dijelaskan di dalam Sinar Kesembilan dari Risale-i Nur:
Sinar-Sinar · hlm. 270
Anak-anak yang merupakan seperempat dari umat manusia hanya dapat hidup secara manusiawi dan dapat memikul bakat-bakat kemanusiaan dengan iman kepada akhirat. Jika tidak, ia akan hidup di dalam rasa cemas yang pedih, dengan mainan-mainan kekanak-kanakannya untuk menidurkan dan melupakan dirinya, dalam kehidupan yang nakal dan sia-sia. Karena setiap waktu kematian anak-anak sebayanya di sekelilingnya menimbulkan pengaruh sedemikian rupa pada otaknya yang lembut, pada hatinya yang lemah namun memikul cita-cita panjang untuk masa depan, dan pada ruhnya yang tidak tahan menanggung — sehingga pada saat hidup dan akalnya hendak menjadi alat azab dan siksa bagi anak malang itu, dengan pelajaran iman kepada akhirat, di tempat rasa cemas yang selama ini ia sembunyikan diri darinya di balik mainan-mainan agar tidak melihatnya, ia justru merasa gembira dan lega, lalu berkata:
"Saudaraku atau temanku ini telah meninggal, ia menjadi seekor burung surga. Ia bersenang-senang dan berjalan-jalan lebih nikmat daripada kita. Dan ibuku telah meninggal, tetapi ia pergi kepada rahmat Ilahi; kelak di surga ia akan kembali memangku dan menyayangiku, dan aku pun akan melihat
ibundaku yang penuh kasih itu." Demikianlah ia dapat hidup dengan cara yang layak bagi kemanusiaan.
Demikian pula para orang tua yang merupakan seperempat dari manusia; terhadap padamnya hidup mereka dalam waktu dekat, masuknya mereka ke dalam tanah, dan tertutupnya dunia mereka yang indah dan menyenangkan, mereka hanya dan hanya dapat menemukan hiburan di dalam iman kepada akhirat. Jika tidak, para ayah yang penuh kasih dan terhormat serta para ibu yang penuh pengorbanan dan sayang itu akan menanggung jeritan ruh dan guncangan hati sedemikian rupa sehingga dunia menjadi penjara yang penuh putus asa bagi mereka dan hidup menjadi azab yang penuh siksa.
Akan tetapi iman kepada akhirat berkata kepada mereka: "Janganlah kalian risau. Kalian memiliki masa muda abadi yang akan datang. Dan kehidupan yang cemerlang serta umur yang tiada berakhir sedang menanti kalian. Dan kalian akan berjumpa dengan penuh sukacita bersama anak-anak dan kerabat kalian yang telah hilang. Dan seluruh kebaikan yang telah kalian kerjakan tersimpan rapi, dan kalian akan melihat balasannya." Demikianlah iman kepada akhirat memberi mereka hiburan dan hati yang lapang sedemikian rupa sehingga seandainya seratus masa tua sekaligus berkumpul di kepala masing-masing, hal itu tidak akan membuat mereka putus asa.
Para pemuda yang merupakan sepertiga dari umat manusia — pemuda yang hawa nafsunya sedang bergolak, yang dikalahkan oleh perasaan, yang berani nekat, dan yang tidak setiap waktu menggunakan akalnya — jika mereka kehilangan iman kepada akhirat dan tidak mengingat azab neraka, maka di dalam kehidupan bermasyarakat, harta dan kehormatan orang-orang terhormat serta ketenangan dan harga diri orang-orang lemah dan orang-orang tua akan berada dalam bahaya. Kadang demi kelezatan satu menit, seorang pemuda menghancurkan kebahagiaan sebuah rumah tangga yang berbahagia, lalu menanggung azab empat lima tahun di penjara seperti ini, dan berubah menjadi seekor hewan buas.
Jika iman kepada akhirat datang menolongnya, dengan cepat ia akan sadar. "Memang para mata-mata pemerintah tidak melihatku dan aku dapat bersembunyi dari mereka; tetapi para malaikat Sang Sultan Dzul-Jalâl yang memiliki penjara seperti neraka melihatku dan mencatat segala keburukanku. Aku tidak dibiarkan lepas tanpa aturan, dan aku adalah seorang musafir yang mengemban tugas. Aku pun kelak akan menjadi tua dan lemah seperti mereka." Maka seketika itu juga ia mulai merasakan kasih sayang dan rasa hormat kepada orang-orang yang tadinya hendak ia aniaya. Makna ini pun kami persingkat, cukup dengan penjelasannya yang disertai burhan-burhan di dalam Risale-i Nur.
Demikian pula sebagian penting dari umat manusia: orang-orang sakit, orang-orang yang dizalimi, orang-orang yang tertimpa musibah seperti kami, orang-orang fakir, dan para tahanan yang menerima hukuman berat; jika iman kepada akhirat tidak datang menolong mereka, maka kematian yang setiap waktu terbayang di depan mata karena diingatkan oleh penyakit, lalu orang zalim yang tidak dapat ia balas dendamnya
dan tidak dapat ia rebut kembali kehormatannya dari tangan orang itu — yaitu penghinaan yang dilancarkan dengan sombong olehnya; lalu rasa putus asa yang pedih karena kehilangan harta dan anak secara sia-sia di dalam musibah-musibah besar; dan himpitan duka karena harus menanggung azab penjara lima sepuluh tahun hanya lantaran kesenangan satu dua menit atau satu dua jam — semuanya itu sudah pasti mengubah dunia menjadi penjara dan hidup menjadi azab yang penuh siksa bagi orang-orang malang itu.
Jika iman kepada akhirat datang menolong mereka, seketika itu juga mereka dapat bernapas; beban derita, rasa putus asa, rasa cemas, dan amarah untuk membalas dendam pada diri mereka lenyap sebagian, bahkan kadang lenyap sama sekali, sesuai dengan derajat iman masing-masing.
Bahkan aku dapat berkata: di dalam pemenjaraan kami yang tanpa sebab ini dan di dalam musibah kami yang dahsyat ini — yakni pemenjaraan atas diriku dan sebagian saudaraku — seandainya iman kepada akhirat tidak menolong, maka bertahan satu hari saja akan terasa seberat kematian dan akan mendorong kami untuk mengundurkan diri dari kehidupan. Akan tetapi, syukur yang tidak terhingga; padahal aku juga menanggung derita banyak saudaraku yang kucintai seperti nyawaku sendiri akibat musibah ini, dan menanggung penyesalan atas hilangnya serta tangisan ribuan risalah Risale-i Nur dan kitab-kitabku yang berhias emas, indah, dan sangat berharga yang kucintai seperti mataku sendiri, dan padahal sejak dahulu aku tidak sanggup menanggung sedikit pun penghinaan dan tekanan — aku memastikan kepada kalian dengan sumpah bahwa:
Cahaya dan kekuatan iman kepada akhirat memberiku kesabaran, ketabahan, hiburan, dan keteguhan hati sedemikian rupa — bahkan memberiku semangat untuk meraih balasan yang lebih besar di dalam pelajaran ujian yang menguntungkan dan bersifat mujahadah ini — sehingga, sebagaimana telah kukatakan di awal risalah ini, aku memandang diriku berada di dalam sebuah madrasah yang indah dan penuh kebaikan, yang layak menyandang nama Madrasah Yusufiyah. Seandainya bukan karena penyakit yang sesekali datang dan sifat mudah tersinggung yang lahir dari usia tua, tentu aku akan lebih banyak lagi menekuni pelajaranku dengan sempurna dan dengan hati yang tenang. Bagaimanapun juga... Berhubung dengan maqam ini, pembicaraan telah keluar dari pokok bahasan; mohon dimaafkan.
Demikian pula, dunia kecil setiap manusia — bahkan surga kecilnya — adalah rumah tangganya sendiri. Jika iman kepada akhirat tidak berkuasa atas kebahagiaan rumah tangga itu, maka setiap anggota keluarga akan menanggung rasa cemas dan azab yang pedih sekadar kadar kasih sayang, kecintaan, dan kepeduliannya. Surga itu pun berubah menjadi neraka. Atau ia membius dan menidurkan akalnya dengan hiburan-hiburan sementara dan kesenangan yang melalaikan. Ia seperti burung unta: ia melihat pemburu, tetapi tidak dapat lari dan tidak dapat terbang. Maka ia membenamkan kepalanya ke dalam pasir agar dirinya tidak terlihat. Demikianlah ia membenamkan kepalanya ke dalam keadaan lalai agar kematian, lenyapnya segala sesuatu, dan perpisahan tidak melihatnya. Ia menemukan jalan keluar yang gila dan sementara, yang tak lain adalah mematikan rasa.
Karena, misalnya, seorang ibu akan senantiasa gemetar setiap kali melihat anaknya — yang untuknya ia korbankan ruhnya — terpapar berbagai bahaya. Dan anak-anak yang tidak sanggup menyelamatkan ayah dan saudaranya dari bala yang tak pernah putus akan senantiasa merasakan duka dan rasa takut. Dengan kias yang sama, di dalam kehidupan dunia yang penuh goncangan dan tidak menentu ini, kehidupan keluarga yang disangka berbahagia itu kehilangan kebahagiaannya dari banyak segi; dan hubungan serta kekerabatan di dalam hidup yang teramat singkat ini pun tidak melahirkan kesetiaan yang sejati, keikhlasan yang tulus, khidmah tanpa pamrih, dan kecintaan. Akhlak pun mengecil sebanding dengan itu, bahkan jatuh merosot.
Jika iman kepada akhirat masuk ke dalam rumah tangga itu, seketika ia akan meneranginya; sehingga hubungan, kasih sayang, kekerabatan, dan kecintaan di antara mereka tidak lagi diukur dengan ukuran waktu yang teramat singkat, melainkan dengan ukuran berlanjutnya hubungan-hubungan itu di negeri akhirat dan di dalam kebahagiaan abadi. Maka akhlak pun meninggi: mereka saling menghormati dengan tulus, saling mencintai, saling menyayangi, saling setia, dan seolah-olah tidak memandang kekurangan satu sama lain. Kebahagiaan kemanusiaan yang sejati mulai berkembang di dalam rumah tangga itu. Makna ini pun dipersingkat, karena telah dijelaskan dengan hujah-hujah di dalam Risale-i Nur.
DAN SETIAP KOTA ADALAH SEBUAH RUMAH YANG LUAS BAGI PENDUDUKNYA. Jika iman kepada akhirat tidak berkuasa atas anggota keluarga besar itu, maka sebagai ganti asas-asas akhlak mulia — yaitu ikhlas, ketulusan, keutamaan, semangat membela, pengorbanan, rida Allah, dan pahala ukhrawi — yang merajalela adalah sikap pamrih, mengejar keuntungan, kecurangan, sikap hanya mementingkan diri sendiri, sikap dibuat-buat, riya, suap, dan tipu daya. Di balik ketertiban dan kemanusiaan yang tampak di permukaan, yang berkuasa justru adalah makna anarki dan sikap biadab; kehidupan kota itu pun teracuni. Anak-anak mulai berbuat nakal, para pemuda mulai bermabuk-mabukan, orang-orang kuat mulai berbuat zalim, dan orang-orang tua mulai menangis.
Dengan kias yang sama, negeri pun sebuah rumah, dan tanah air pun rumah bagi sebuah keluarga bangsa. Jika iman kepada akhirat berkuasa di dalam rumah-rumah yang luas ini, seketika akan mulai berkembang di dalam kehidupan itu rasa hormat yang tulus, kasih sayang yang sungguh-sungguh, kecintaan dan tolong-menolong tanpa suap, khidmah dan pergaulan tanpa tipu daya, kebaikan dan keutamaan tanpa riya, serta kebesaran dan kelebihan tanpa ananiyah.
Kepada anak-anak ia berkata: "Surga itu ada, tinggalkanlah kenakalan." Dengan pelajaran Al-Qur'an ia memberi ketenangan dan keteguhan.
Kepada para pemuda ia berkata: "Neraka itu ada, tinggalkanlah mabuk-mabukan." Ia menyadarkan akal mereka.
Kepada orang zalim ia berkata: "Ada azab yang dahsyat, engkau akan menerima tamparan." Ia menundukkan kepalanya kepada keadilan.
Kepada orang-orang tua ia berkata: "Kebahagiaan ukhrawi yang jauh lebih tinggi dan kekal daripada seluruh kebahagiaan yang telah lepas dari tanganmu, serta masa muda yang segar dan kekal selamanya, sedang menantimu. Berusahalah meraihnya." Ia mengubah tangis mereka menjadi tawa.
Dengan kias yang sama, iman kepada akhirat memperlihatkan pengaruh baiknya dan memberi cahaya kepada setiap golongan, baik yang kecil maupun yang menyeluruh. Semoga hal ini sampai ke telinga para ahli kemasyarakatan dan ahli akhlak yang menaruh perhatian pada kehidupan bermasyarakat umat manusia!
Maka jika yang lain-lainnya dikiaskan kepada lima enam contoh yang telah kami isyaratkan dari ribuan faedah iman kepada akhirat ini, akan dipahami dengan pasti bahwa sumber kebahagiaan dua alam dan dua kehidupan hanyalah iman.
Karena telah cukup dengan jawaban-jawaban kuat terhadap syubhat-syubhat lemah yang muncul dari segi jasmani kebangkitan (hasyr), yang terdapat di dalam Kelimat Kedua Puluh Delapan dan risalah-risalah lain dalam Risale-i Nur, maka di sini kami hanya mengatakan dengan satu isyarat singkat:
Cermin yang paling mencakup segala hal bagi asma Ilahi terdapat pada jasmani. Dan tujuan-tujuan Ilahi di dalam penciptaan kainat yang paling kaya serta pusatnya yang paling aktif terdapat pada jasmani. Dan karunia-karunia Rabbani yang paling banyak ragam dan warna-warninya terdapat pada jasmani. Dan benih-benih doa serta syukur manusia kepada Khâliq-nya yang paling banyak jumlahnya — yang dipanjatkan dengan lisan berbagai kebutuhannya — juga terdapat pada jasmani. Dan biji-biji yang paling beragam bagi alam maknawi dan alam ruhani juga terdapat pada jasmani.
Dengan kias yang sama, karena ratusan hakikat menyeluruh terpusat pada jasmani, maka Sang Khâliq Yang Hakîm — untuk memperbanyak jasmani di muka bumi dan menjadikannya tempat tampaknya hakikat-hakikat yang telah disebutkan itu — dengan kegiatan yang begitu cepat dan dahsyat mengenakan pakaian wujud kepada makhluk-makhluk kafilah demi kafilah, lalu mengirim mereka ke balai pameran itu. Kemudian Dia melepaskan mereka dari tugas dan mengirim yang lain. Terus-menerus Dia menjalankan pabrik kainat. Dia menenun hasil-hasil jasmani itu dan menjadikan bumi laksana kebun pembibitan bagi akhirat dan surga.
Bahkan, demi menyenangkan lambung jasmani manusia, Allah mendengarkan dengan penuh perhatian doa lambung itu — doa yang dengan lisan keadaannya memohon agar ia tetap kekal — lalu menerimanya dan menjawabnya secara nyata dengan menyiapkan bagi jasmani berbagai makanan yang sangat bernilai seni serta nikmat yang sangat berharga, dalam bentuk yang tak terhingga dan tak terhitung, dalam ratusan ribu corak, dan dalam ribuan macam kelezatan; semua itu dengan sangat nyata dan tanpa keraguan sedikit pun memperlihatkan bahwa kelezatan surga yang paling banyak dan paling beraneka ragam di negeri akhirat bersifat jasmani. Dan nikmat-nikmat kebahagiaan abadi yang paling penting, yang diinginkan setiap orang dan yang telah akrab dengan mereka, juga bersifat jasmani.
Adakah sedikit pun segi kemungkinan dan peluang bahwa Zat yang menerima doa memohon kekal dari lambung yang biasa ini — doa yang diucapkan dengan lisan keadaannya — lalu dengan makanan jasmani yang tak terhingga dan penuh mukjizat
membuatnya berterima kasih serta setiap saat menjawabnya secara nyata, bukan karena kebetulan melainkan dengan sengaja — yakni Sang Qadîr Yang Rahîm, Sang Alîm Yang Mahamulia — tidak menerima doa-doa umum yang tak terhingga dari jenis manusia, yaitu hasil terpenting kainat, khalifah di bumi, pilihan Sang Khâliq itu, dan penyembah-Nya; doa yang mereka panjatkan dengan lambung terbesar kemanusiaan mereka, agar kelezatan jasmani yang bersifat menyeluruh dan tinggi, yang selalu mereka rindukan, yang telah akrab dengan mereka, dan yang mereka inginkan secara fitri itu, diberikan kepada mereka di negeri yang kekal; lalu tidak menjawabnya secara nyata dengan kebangkitan jasmani, dan tidak membuat manusia berterima kasih selamanya? Seakan-akan Dia mendengar suara seekor lalat, tetapi tidak mendengar guruh di langit; seakan-akan Dia memperhatikan perlengkapan seorang prajurit biasa dengan sangat teliti, lalu sama sekali tidak melihat pasukan dan tidak memedulikannya? Ini seratus derajat mustahil dan batil.
Ya, dengan kejelasan yang pasti dari ayat وَ ف۪يهَا مَا تَشْتَه۪يهِ الْاَنْفُسُ وَ تَلَذُّ الْاَعْيُنُ, manusia akan melihat dan merasakan kelezatan jasmani yang paling akrab dengannya dan yang contohnya telah ia cicipi di dunia, dalam bentuk yang layak bagi surga. Dan balasan bagi syukur yang murni serta ibadah khusus yang dilakukan anggota-anggota tubuh seperti lidah, mata, dan telinga akan diberikan berupa kelezatan jasmani yang khusus bagi anggota-anggota tubuh itu. Al-Qur'an Al-Mu'jizul-Bayân menerangkan kelezatan jasmani sedemikian gamblang sehingga menolak makna lahiriahnya dengan takwil-takwil lain adalah suatu hal yang mustahil.
Maka buah-buah dan hasil-hasil iman kepada akhirat memperlihatkan bahwa: sebagaimana hakikat lambung — salah satu anggota tubuh manusia — beserta segala kebutuhannya secara pasti menunjukkan adanya makanan; demikian pula hakikat manusia, kesempurnaannya, kebutuhan fitrinya, keinginannya yang abadi, serta hakikat dan potensi dalam dirinya yang menuntut hasil dan manfaat iman kepada akhirat yang telah disebutkan tadi, secara lebih pasti menunjukkan kepada akhirat, kepada surga, dan kepada kelezatan jasmani yang kekal, sekaligus bersaksi atas terwujudnya semua itu. Sebagaimana pula hakikat kesempurnaan kainat ini, ayat-ayat penciptaannya yang sarat makna, dan seluruh hakikat kemanusiaan yang berkaitan dengan hakikat-hakikat tadi, menunjukkan dan bersaksi atas adanya negeri akhirat, atas terwujudnya negeri itu, atas datangnya kebangkitan, serta atas dibukanya surga dan neraka. Semua itu telah dibuktikan oleh risalah-risalah Risale-i Nur — terutama Kelimat Kesepuluh, Kelimat Kedua Puluh Delapan (dengan dua maqam-nya), Kelimat Kedua Puluh Sembilan, Sinar Kesembilan, dan Risalah Munajat — dengan hujah-hujah yang terang dan tidak menyisakan keraguan. Dengan menyerahkan pembahasannya kepada risalah-risalah itu, kami memendekkan kisah yang panjang ini.
Penjelasan-penjelasan Al-Qur'an mengenai neraka demikian terang dan gamblang sehingga tidak menyisakan kebutuhan akan keterangan lain. Hanya saja, dua tiga nukta yang akan melenyapkan
satu dua keraguan lemah akan kami sampaikan saripatinya secara sangat ringkas, sedangkan perinciannya kami serahkan kepada Risale-i Nur.