FAEDAHNYA YANG KETIGA, YANG BERKAITAN DENGAN KEHIDUPAN PRIBADI:
Sinar-Sinar · hlm. 269
Adapun keunggulan dan martabat manusia atas makhluk-makhluk hidup lainnya adalah karena watak-wataknya yang tinggi, bakat-bakatnya yang mencakup segala hal, ubudiyahnya yang menyeluruh, dan lingkaran wujudnya yang luas. Padahal manusia itu memperoleh watak-watak seperti semangat membela, kecintaan, persaudaraan, dan kemanusiaan hanya dengan mikyas dan ukuran waktu sekarang — waktu yang teramat singkat, yang terjepit di antara masa lalu dan masa depan yang tidak ada, yang mati, dan yang gelap.
Misalnya, ia mencintai dan berkhidmah kepada ayahnya, saudaranya, istrinya, bangsanya, dan tanah airnya — padahal dahulu ia tidak mengenal mereka dan setelah berpisah pun tidak akan pernah dapat melihat mereka lagi. Dan ia hanya sangat jarang dapat meraih kesetiaan yang penuh dan keikhlasan; sebanding dengan itu
pula kesempurnaan dan watak-wataknya mengecil. Pada saat ia hendak jatuh ke dalam keadaan: bukan menjadi makhluk yang paling tinggi di antara hewan, melainkan justru terbalik — menjadi yang paling malang dan paling rendah dari sisi akal — maka iman kepada akhirat datang menolongnya. Iman itu mengubah waktunya yang sempit laksana kubur menjadi waktu yang amat luas, yang merangkum masa lalu dan masa depan. Dan ia memperlihatkan sebuah lingkaran wujud seluas dunia, bahkan sepanjang dari azali sampai abadi.
Ia mencintai, menghormati, mengasihi, dan menolong ayahnya karena hubungan kebapakan yang tetap berlanjut di negeri kebahagiaan dan di alam arwah; saudaranya karena memikirkan persaudaraannya yang berlangsung sampai abadi; dan istrinya karena mengetahui bahwa di surga pun ia adalah teman hidup yang paling baik. Dan ia tidak menjadikan khidmah-khidmah penting yang tertuju kepada hubungan-hubungan di dalam lingkaran hidup dan wujud yang besar dan luas itu sebagai alat bagi urusan dunia yang tak bernilai, bagi tujuan-tujuan kecil, dan bagi kepentingan-kepentingan dirinya. Dengan meraih kesetiaan yang sungguh-sungguh dan keikhlasan yang tulus, kesempurnaan dan sifat-sifat baiknya pun mulai naik sebanding dengan derajatnya itu. Kemanusiaannya meninggi.
Manusia yang dalam kelezatan hidup tidak dapat menyamai seekor burung pipit itu kini — di atas seluruh hewan — menjadi tamu kainat yang paling terpilih dan paling berbahagia serta hamba Sang Pemilik kainat yang paling dicintai dan paling diterima. Kesimpulan ini pun kami persingkat, cukup dengan penjelasannya yang disertai hujah-hujah di dalam Risale-i Nur.