Risale-i NurSinar-Sinar

Kepada Kantor Perdana Menteri, Kementerian Kehakiman, dan Kementerian Dalam Negeri

Sinar-Sinar · hlm. 478

{(): Tulisan ini disusun oleh para pengacara beliau dengan izin Ustaz kami ketika beliau menjadi tahanan di penjara Afyon, lalu dikirimkan kepada instansi-instansi tersebut.}

Seluruh tokoh pemerintahan yang menyaksikan sekaligus Pemakluman Kebebasan, Perang Dunia Pertama, masa-masa Gencatan Senjata, terbentuknya Pemerintahan Nasional yang pertama, dan masa Republik, mengenalku dengan sangat baik. Meskipun demikian, dengan izin Tuan-tuan, marilah kita bersama-sama menyusuri hidupku laksana sebuah pita film.

Aku yang lahir di desa Nurs yang termasuk wilayah Provinsi Bitlis; pada masa hidupku sebagai penuntut ilmu, aku berjuang menghadapi para ulama yang kujumpai, dan dengan inayah Ilahi aku mengalahkan satu demi satu mereka yang menghadapiku dalam perdebatan ilmiah, hingga sampailah aku ke Istanbul. Di Istanbul aku berjuang di tengah kemasyhuran yang penuh bencana itu, dan akhirnya, karena hasutan para pesaingku, dengan perintah almarhum Sultan Abdulhamid aku diseret sampai ke rumah sakit jiwa. Dengan pemakluman kebebasan dan dengan khidmahku dalam Peristiwa 31 Maret, aku menarik perhatian Pemerintahan Persatuan dan Kemajuan. Aku pun dihadapkan pada tawaran untuk membuka sebuah universitas Islam bernama "Madrasatuz-Zahra" di Van, seperti Al-Azhar. Bahkan aku telah meletakkan batu pertamanya.

Dengan meletusnya Perang Dunia Pertama, aku mengumpulkan murid-muridku di sekelilingku dan ikut serta dalam perang sebagai komandan resimen sukarelawan. Di front Kaukasus, di Bitlis, aku tertawan. Setelah lepas dari tawanan, aku datang ke Istanbul.

Aku menjadi anggota Darul Hikmah al-Islamiyah. Pada masa Gencatan Senjata, aku bekerja di Istanbul dengan segenap yang ada padaku melawan pasukan penjajah. Setelah kemenangan Pemerintahan Nasional, khidmah yang kulakukan dihargai oleh Pemerintah Ankara, dan tawaran untuk membuka universitas di Van pun diulang kembali.

Hidupku yang berlalu sampai di sini adalah sebuah keadaan cinta tanah air. Aku membawa perasaan berkhidmah kepada agama melalui jalan politik. Namun sejak saat itu aku berpaling sepenuhnya dari dunia dan, menurut istilahku sendiri, aku mengubur Said Lama. Sebagai Said Baru yang seluruhnya menjadi ahli akhirat, aku menarik tanganku dari dunia. Dengan uzlah yang sempurna, untuk suatu masa aku menyingkir ke Bukit Yusya di Istanbul.

Setelah itu aku pergi ke daerah Bitlis dan Van, tempat kelahiranku, lalu mengurung diri di dalam gua-gua. Aku tinggal berdua saja dengan kenikmatan ruhani dan hati nuraniku. Dengan kaidah اَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَ السِّيَاسَةِٔ yakni "Aku berlindung kepada Allah dari setan dan dari politik", aku menyelam ke dalam alam ruhaniku sendiri. Dan dengan menelaah serta mengkaji Al-Qur'an Yang Mahaagung aku melewatkan waktu, lalu mulai hidup sebagai Said Baru.

Namun manifestasi takdir menempatkanku di berbagai tempat sebagai orang buangan. Pada masa itu, limpahan-limpahan karunia yang terbit di dalam hatiku dari feyz Al-Qur'an Al-Karîm kudiktekan kepada orang-orang yang ada di sisiku, sehingga lahirlah sejumlah risalah. Kepada keseluruhan risalah-risalah ini aku memberi nama "Risale-i Nur". Karena ia sungguh-sungguh bersandar kepada cahaya Al-Qur'an, nama ini lahir dari hati nuraniku. Dengan seluruh imanku aku yakin bahwa hal ini merupakan ilham Ilahi, dan kepada orang-orang yang menyalinnya aku berkata: "Barakallah." Sebab tidak mungkin cahaya iman ditahan dari orang lain.

Risalah-risalahku ini disalin oleh sejumlah pemilik iman dengan saling mengambil dari satu sama lain. Hal itu memberiku keyakinan bahwa ini adalah sebuah dorongan Ilahi untuk menguatkan iman kaum Muslimin yang telah terluka. Aku merasa bahwa tidak seorang pun pemilik iman dapat menghalangi dorongan Ilahi ini, dan bahwa secara agama aku pun wajib mendorongnya. Lagi pula, risalah-risalah yang hingga hari ini berjumlah seratus tiga puluh ini seluruhnya berkaitan dengan pembahasan akhirat dan iman, dan sama sekali tidak berbicara tentang politik dan dunia secara sengaja.

Meskipun demikian, ia menjadi bahan kesibukan sejumlah orang yang gemar mencari kesempatan. Setelah dilakukan penelitian atasnya, aku ditahan di Eskişehir, Kastamonu, dan Denizli; berlangsunglah persidangan-persidangan. Pada akhirnya hakikat tampak nyata dan keadilan menemukan tempatnya. Namun orang-orang yang gemar mencari kesempatan itu sama sekali tidak jemu. Kali ini pun mereka menahanku dan membawaku ke Afyon. Aku menjadi tahanan dan berada dalam pemeriksaan. Mereka menisbatkan hal-hal berikut kepadaku:

1- Engkau telah mendirikan sebuah perkumpulan politik.

2- Engkau menyebarkan pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan rezim.

3- Engkau sedang mengejar sebuah tujuan politik.

Adapun sebab-sebab yang mengharuskan tuduhan-tuduhan ini beserta dalil-dalilnya hanyalah sepuluh lima belas kalimat dari dua tiga risalahku.

Tuan Menteri yang terhormat! Sebagaimana ucapan Napoleon, "Bawakan kepadaku satu kalimat yang tidak dapat ditakwilkan, niscaya dengan kalimat itu akan kuhukum mati kalian." Adakah satu kalimat pun yang keluar dari mulut manusia yang tidak dapat dijadikan kejahatan dan tindak pidana melalui berbagai takwil? Terlebih lagi tulisan-tulisan seorang yang seperti diriku, yang telah mencapai usia tujuh puluh lima tahun, yang telah menarik tangannya dari seluruh kehidupan dunia, dan yang telah memusatkan hidupnya semata-mata untuk kehidupan akhirat — sudah tentu tulisan-tulisan itu bebas. Karena ia berpadu dengan niat yang baik, ia pun ditulis tanpa rasa takut. Meneliti tulisan-tulisan itu untuk mencari kejahatan di baliknya adalah tindakan yang tidak adil. Ia tidak lain dari itu.

Oleh sebab itu, di dalam seratus tiga puluh risalahku ini tidak ada satu pun yang mengandung maksud yang menyentuh urusan dunia. Seluruhnya berkaitan dengan akhirat dan iman, yang dipetik dari cahaya Al-Qur'an. Tidak ada tujuan dan maksud apa pun, baik yang bersifat politik maupun yang bersifat duniawi. Buktinya, mahkamah mana pun yang telah mulai menangani perkara ini, dengan keyakinan yang sama telah menjatuhkan putusan bebas. Oleh sebab itu, menyibukkan mahkamah tanpa keperluan dan menahan orang-orang beriman yang tidak berdosa dari pekerjaan dan usaha mereka sungguh disayangkan atas nama tanah air dan bangsa.

Said Lama telah mencurahkan seluruh hidupnya demi kebahagiaan tanah air dan bangsa; maka bagaimana mungkin Said Baru — yang telah sama sekali menarik tangannya dari dunia dan yang telah berusia tujuh puluh lima tahun — menyibukkan diri dengan politik? Tuan pun sepenuhnya meyakini hal ini.

Aku hanya memiliki satu tujuan: yaitu bahwa pada masa aku telah mendekati kubur ini, di tanah air yang merupakan negeri Islam ini kami mendengar suara burung-burung hantu Bolshevik. Suara itu melukai dasar-dasar iman alam Islam. Ia menjadikan rakyat, terutama para pemuda, kehilangan iman, lalu mengikat mereka kepada dirinya. Dengan segenap keberadaanku aku berjuang melawan mereka seraya menyeru para pemuda dan kaum Muslimin kepada iman. Aku berjuang melawan gerombolan tanpa iman ini. Dengan perjuanganku ini, insyaallah aku ingin menghadap Allah; inilah seluruh kegiatanku. Aku khawatir, jangan-jangan orang-orang yang menghalangiku dari tujuanku ini justru kaum Bolshevik! Bergandengan tangan dengan kekuatan-kekuatan yang beragama, yang membuka perjuangan melawan musuh-musuh iman ini, adalah tujuan yang suci bagiku. Bebaskanlah aku. Dengan bersatu padu, biarlah aku berkhidmah bagi perbaikan para pemuda yang telah diracuni oleh komunisme

dan bagi iman negeri ini serta bagi keesaan Allah.