Saudara-saudaraku yang Aziz lagi setia!
Sinar-Sinar · hlm. 482
Di dunia ini, terlebih pada zaman ini, terlebih lagi bagi mereka yang tertimpa musibah, dan terutama sekali terhadap kesulitan serta rasa putus asa yang dahsyat pada diri murid-murid Nur, obat yang paling manjur adalah saling menghibur dan saling melapangkan hati, saling menguatkan kekuatan maknawi, saling mengoleskan salep pada duka, kesedihan, dan kesulitan saudaranya laksana saudara sejati yang rela berkorban, serta membelai hati yang berduka dengan kasih sayang yang sepenuhnya. Persaudaraan yang hakiki lagi ukhrawi di antara kita tidak menerima rasa tersinggung dan sikap memihak.
Selama kalian mengetahui — bahkan barangkali kalian menyaksikan — bahwa aku telah memercayai kalian dengan segenap kekuatanku dan menggantungkan harapanku kepada kalian, dan bahwa demi kalian aku telah bertekad mengorbankan bukan hanya ketenanganku, harga diriku, dan kehormatanku, bahkan dengan gembira mengorbankan ruhku pula; bahkan aku pastikan dengan sumpah bahwa selama delapan hari ini, karena azab yang ditimpakan ke dalam hatiku pada saat seperti ini oleh sebuah peristiwa yang tidak berarti — yaitu dua rukun Nur yang secara lahiriah saling merajuk dan saling memberi kesedihan sebagai ganti hiburan — maka ruhku, hatiku, dan akalku sekaligus menjerit dan menangis seraya berkata: "Aduhai, aduhai! Al-amân, al-amân! Yâ Arhamar-Râhimîn, tolonglah! Peliharalah kami, selamatkanlah kami dari kejahatan setan jin dan setan manusia, penuhilah hati saudara-saudaraku satu sama lain dengan kesetiaan, kecintaan, persaudaraan, dan kasih sayang yang sempurna."
Wahai saudara-saudaraku yang tidak tergoyahkan laksana besi! Tolonglah aku. Persoalan kita sangat peka. Aku begitu memercayai kalian sehingga seluruh tugasku telah kuserahkan kepada pribadi maknawi kalian. Maka kalian pun harus berlari menolongku dengan segenap kekuatan kalian.
Memang peristiwa itu sangat juz'i, sementara, dan kecil. Akan tetapi, sehelai rambut atau sebutir zarah yang masuk ke dalam pegas jam kita dan ke dalam biji mata kita pun tetap menyakitkan. Dan pada titik inilah ia menjadi penting: tiga peristiwa pecah yang bersifat lahir dan tiga penglihatan yang bersifat maknawi telah memberitakannya dengan tepat sekali.