Risale-i NurSinar-Sinar

PERSOALAN KEDUA SEBAB TUDUHAN DI DALAM SURAT DAKWAAN:

Sinar-Sinar · hlm. 473

Persoalan yang atasnya kami telah memperoleh putusan bebas di tiga mahkamah, dan yang empat puluh tahun lalu, ketika menjelaskan takwil luar biasa dari sebuah hadis, bersamaan dengan ucapan Syekhul Islam bangsa jin dan manusia, Zembilli Ali Efendi, "Sama sekali tidak ada kebolehan meletakkan topi di kepala, sekalipun dengan gurauan," seluruh Syekhul Islam dan seluruh

ulama Islam pun tidak memberi izin atas kebolehannya, sementara kaum awam ahli iman terpaksa mengenakannya, sehingga dengan tidak adanya izin dari para allamah besar itu mereka berada dalam bahaya — yakni dalam keadaan harus memilih antara meninggalkan agamanya atau memberontak. Maka empat puluh tahun lalu sebuah alinea "Sinar Kelima" berkata: "Topi akan naik ke kepala, ia akan berkata: jangan pergi bersujud. Namun iman yang ada di kepala akan membawa topi itu pun kepada sujud, insya Allah ia akan menjadikannya Muslim." Dengan ucapan itu ia telah menyelamatkan kaum awam ahli iman, baik dari pemberontakan dan huru-hara maupun dari meninggalkan iman dan agamanya atas pilihannya sendiri; padahal tidak ada satu undang-undang pun yang menuntut hal semacam itu dari orang-orang yang hidup menyendiri; dan padahal dalam dua puluh tahun enam pemerintahan tidak pernah memaksaku mengenakannya; dan padahal seluruh pegawai di dalam kantor mereka, kaum perempuan, anak-anak, orang-orang yang berada di masjid, serta kebanyakan penduduk desa tidak wajib mengenakannya; dan padahal kini secara resmi ia telah dilepaskan dari kepala tentara; dan padahal kopiah rajut serta baret tidak dilarang di banyak provinsi — meskipun demikian, hal itu dijadikan salah satu sebab tuduhan terhadap diriku dan saudara-saudaraku. Apakah di dunia ini ada satu undang-undang, satu kepentingan, atau satu aturan pun yang dapat menganggap tuduhan yang sama sekali tidak berarti ini sebagai sebuah kejahatan?

SEBAB TUDUHAN KETIGA: Menghasut untuk mengganggu keamanan di Emirdağ. Adapun keberatan terhadapnya:

Pertama: Ia adalah nota keberatan yang telah diserahkan kepada mahkamah di sini dan juga kepada enam instansi di Ankara dengan sepengetahuan dan seizin mahkamah ini, dan yang tidak pernah dibantah. Nota itu kini kutampilkan apa adanya sebagai keberatan terhadap surat dakwaan.

Kedua: Di Emirdağ, dengan kesaksian semua orang yang berbicara denganku di sana serta dengan pengakuan penduduk dan aparat kepolisian, setelah putusan bebasku aku menahan diri dengan segenap kekuatanku, dalam uzlahku, dari mencampuri politik dunia. Bahkan penulisan dan surat-menyurat pun telah kutinggalkan. Aku tidak menulis apa pun selain dua nukta mengenai pengulangan-pengulangan di dalam Al-Qur'an dan mengenai malaikat. Dan seminggu sekali aku menulis satu surat ke satu tempat untuk mendorong orang kepada Nur. Bahkan kepada saudara kandungku yang menjadi mufti — yang selama dua puluh tahun menjadi murid di sisiku, yang sangat mengkhawatirkan keadaanku, dan yang menulis ucapan selamat hari raya kepadaku — aku hanya menulis tiga empat surat dalam tiga tahun. Padahal kepada saudaraku di kampung halamanku aku sama sekali tidak pernah menulis selama dua puluh tahun, namun di dalam surat dakwaan aku dituduh dengan kejahatan mengganggu keamanan; dan dengan silat lidah, sambil menyegarkan kembali nyanyian lama itu, ia berkata: "Ia menentang revolusi." Terhadap hal ini kami katakan:

Dalam kurun dua puluh tahun, dari dua puluh ribu — bahkan mungkin seratus ribu — orang yang membaca dua puluh ribu naskah Nur dengan penuh minat lalu menerimanya, tidak ada satu perkara pun mengenai gangguan terhadap keamanan yang oleh enam mahkamah dan aparat kepolisian sepuluh provinsi yang terkait

dicatat; hal itu menunjukkan bahwa terhadap kami mereka memandang satu kemungkinan belaka dari ribuan kemungkinan sebagai kejadian yang pasti terjadi. Padahal, sekalipun ia satu kemungkinan dari dua tiga kemungkinan, apabila bekasnya tidak terlihat, ia sama sekali bukan kejahatan. Lagi pula, ini bukan satu kemungkinan dari ribuan kemungkinan: setiap orang — bahkan jaksa yang menyerangku itu sendiri — dapat saja membunuh banyak orang; dapat merusak keamanan dan ketertiban atas nama anarkis dan komunis; dapat mengganggu keamanan. Jadi, memakai kemungkinan-kemungkinan yang sangat aneh dan berlebihan semacam itu sebagai ganti kejadian yang nyata adalah pengkhianatan terhadap badan peradilan dan terhadap undang-undang.

Lagi pula, di setiap pemerintahan pasti ada pihak yang berseberangan. Berseberangan semata-mata dalam pikiran bukanlah sebuah kejahatan. Pemerintah memandang kepada tangan, bukan kepada hati. Dan terlebih lagi terhadap orang yang tidak membahayakan tanah air dan bangsa, yang justru banyak khidmah dan manfaatnya, yang kemudian tidak mencampuri kehidupan bermasyarakat, yang dipaksa hidup dalam pengasingan mutlak, dan yang karya-karyanya disambut dengan penuh penghargaan dan pujian di pusat-pusat terpenting alam Islam {(Catatan kaki): Mengenai karya-karya ini, pihak penuntut di dalam surat dakwaannya, pada kesalahan kedelapan puluh dari seratus kesalahannya, berkata: "Takwil-takwil di dalam Sinar Kelima itu salah."

Jawaban: Karena di dalam "Sinar Kelima" disebutkan kalimat "Allahu a'lam, salah satu takwilnya adalah ini", maka maknanya begini: "Mungkin saja makna hadis ini, dengan satu kemungkinan, adalah demikian." Adapun hal ini secara logika tidak dapat didustakan. Ia hanya dapat didustakan dengan membuktikan bahwa hal itu mustahil.

Kedua: Sejak dua puluh tahun, bahkan mungkin sejak empat puluh tahun, para penentangku dan orang-orang yang berusaha menyanggah Risale-i Nur tidak pernah menolak satu pun takwil kami secara ilmiah maupun secara logika; dan bersama para ulama penentang itu, ribuan ulama dari kalangan murid Nur pun membenarkannya dan tidak mengatakan ف۪يهِ نَظَرٌ. Padahal demikian keadaannya, jika orang yang tidak mengetahui berapa jumlah surah di dalam Al-Qur'an menyambut hal ini dengan mengingkarinya, betapa jauh ia dari sikap adil — hal itu kuserahkan kepada rasa keadilan Tuan-tuan.

Kesimpulannya, makna takwil adalah salah satu makna yang mungkin dan berpeluang dari sekian banyak makna sebuah hadis atau sebuah ayat.} — terhadap orang yang demikian keadaannya, kami khawatir bahwa orang-orang yang melontarkan tuduhan-tuduhan yang sangat aneh dan tidak berdasar ini sedang dipakai tanpa mereka sadari atas nama anarkisme, bahkan mungkin atas nama komunisme.

Dari beberapa tanda aku mengetahui bahwa musuh-musuh kami yang tersembunyi, dengan maksud menjatuhkan nilai Nur, menyangka adanya pengakuan sebagai Mahdi yang mengingatkan pada makna politik, lalu mencari-cari begitu banyak alasan tak berdasar seolah-olah Nur adalah alat untuk hal itu. Boleh jadi siksaan-siksaan terhadap diriku ini muncul dari waswas mereka itu. Kepada musuh-musuh zalim yang tersembunyi itu dan kepada orang-orang yang mendengarkan mereka untuk menentang kami, kami katakan:

Mustahil, sungguh mustahil! Bahwa aku tidak pernah sekali pun melampaui batasku lalu menjadikan hakikat-hakikat iman sebagai alat untuk memperoleh martabat kemasyhuran dan kemuliaan bagi pribadiku — atas hal itu bersaksilah tujuh puluh lima tahun hidupku, khususnya tiga puluh tahun terakhir, seratus tiga puluh Risalah Nur, dan ribuan orang yang benar-benar bersahabat denganku.

Ya, para murid Nur mengetahuinya dan aku telah menunjukkan hujah-hujahnya di mahkamah-mahkamah: bahwa aku tidak hendak memberi diriku suatu martabat kemasyhuran, kemuliaan, dan nama besar, tidak pula hendak meraih sebuah tingkatan ukhrawi dan maknawi; bahkan demi melakukan khidmah keimanan kepada ahli iman dengan segenap keyakinan dan kekuatanku, aku bersedia mengorbankan bukan hanya kehidupan duniaku dan martabat-martabatnya yang fana, melainkan — jika perlu — juga kehidupan akhiratku dan tingkatan-tingkatan ukhrawi yang kekal yang dicari setiap orang; bahkan agar menjadi perantara untuk menyelamatkan beberapa orang malang dari neraka, aku menerima — jika perlu — meninggalkan surga dan masuk ke dalam neraka. Sebagaimana saudara-saudara sejatiku mengetahui hal itu, aku pun telah membuktikannya dari satu segi di mahkamah-mahkamah; maka dengan tuduhan ini menisbatkan sikap tidak ikhlas kepada khidmahku dalam Nur dan iman, serta menurunkan nilai Nur, tidak lain berarti menghalangi bangsa ini dari hakikat-hakikatnya yang agung.

Apakah — karena sangkaan orang-orang celaka ini bahwa dunia itu kekal dan bahwa setiap orang, sama seperti mereka, menjadikan agama dan iman sebagai alat untuk dunia — sikap sebagian saudara yang tulus terhadap seorang lelaki yang menantang orang-orang sesat di dunia, yang di jalan khidmah keimanan mengorbankan kehidupan duniawinya dan — jika perlu — kehidupan ukhrawinya, yang sebagaimana ia nyatakan di mahkamah-mahkamah tidak menukar satu pun hakikat keimanan dengan kerajaan dunia, yang dengan rahasia ikhlas lari sekuat tenaga dari politik dan dari segala tingkatan lahir maupun maknawi yang berbau politik, yang selama dua puluh tahun bertahan menanggung siksaan tiada bandingnya dan — dari segi jalan yang ditempuhnya — tidak sudi merendahkan diri kepada politik, yang menganggap dirinya dari segi nafsunya jauh lebih rendah daripada murid-muridnya dan senantiasa menanti himmah dan doa dari mereka, dan yang meyakini nafsunya sendiri sangat malang lagi tidak berarti — yaitu bahwa sebagian saudaranya yang tulus itu, sebagai balasan atas kekuatan iman luar biasa yang mereka peroleh dari Risale-i Nur, di dalam surat-surat pribadi mereka menisbatkan sebagian keutamaan Nur kepada orang malang yang menjadi penerjemahnya itu — karena kaitannya sebagai penerjemah —; dan bahwa tanpa terlintas sedikit pun politik di benak mereka, menurut kebiasaan, mereka memberinya kedudukan yang tinggi, dari jenis ucapan orang-orang kepada seseorang yang biasa saja yang mereka cintai: "Engkau sultanku, engkau pemberi nikmatku"; dan bahwa mereka berhusnuzan seribu derajat melebihi kadarnya; dan bahwa dengan sebuah kebiasaan yang diterima, yang sejak dahulu berlaku antara ustaz dan murid tanpa pernah dibantah, mereka memuji dan menyanjungnya secara berlebihan dalam arti berterima kasih; dan bahwa sejak dahulu

pujian-pujian dan takriz yang berlebihan biasa dituliskan di akhir kitab-kitab yang diterima baik — dapatkah semua itu dari segi mana pun dianggap sebuah kejahatan?

Memang, dari segi berlebih-lebihannya, hal itu dari satu sisi bertentangan dengan hakikat. Namun ketika ia seorang yang tanpa sanak saudara lagi terasing, musuhnya sangat banyak, dan tersedia banyak sebab yang dapat membuat para pembantunya lari; maka demi menguatkan kekuatan maknawi para pembantunya menghadapi begitu banyak penentang yang tidak berbelas kasih, demi menyelamatkan mereka dari lari, dan demi tidak mematahkan semangat orang-orang yang memuji secara berlebihan itu, ia mengalihkan sebagian pujian mereka kepada Nur dan tidak menolaknya sama sekali. Padahal demikian keadaannya, sebagian pegawai resmi berusaha memalingkan khidmah keimanannya — pada usia setua ini dan di ambang pintu kubur — ke arah dunia; dari situ dapat dipahami betapa jauh mereka telah tersesat dari kebenaran, dari undang-undang, dan dari sikap adil.