Kesimpulannya,
Sinar-Sinar · hlm. 23
sebagaimana sebuah buah, dari sisi manfaatnya, memandang kepada pemilik seluruh pohon; dari sisi bijinya, ia menatap kepada seluruh bagian, anggota, dan jati diri pohon itu; dan dari sisi cap pada wajahnya yang sama pada semua buah sejenisnya, ia menyaksikan seluruh buah pohon itu, lalu semuanya berkata: "Kami adalah satu, kami keluar dari satu tangan, kami milik satu Zat saja. Dan Zat yang membuat salah seorang dari kami, sudah pasti Dia pula yang membuat kami semua." Demikian pula makhluk hidup yang berada di ujung-ujung lingkaran kemajemukan, dari sisi cap pada wajah makhluk hidup itu, terutama wajah manusia, daftar isi yang ada di dalam hatinya, serta kedudukannya sebagai hasil dan buah di dalam jati dirinya, secara langsung memandang kepada Zat yang menggenggam seluruh kainat di dalam genggaman rububiyah-Nya, dan bersaksi atas keesaan-Nya. SEBAB KEDUA YANG MENGHARUSKAN KEESAAN: yaitu bahwa di dalam keesaan terdapat kemudahan dan keringanan sampai ke derajat wajib, sedangkan di dalam syirik terdapat kesulitan dan kesukaran sampai ke derajat mustahil. Adapun hakikat ini telah dibuktikan dan dijelaskan secara sangat pasti lagi cemerlang, yaitu secara terperinci di dalam banyak risalah Sirajunnur, sebutan Imam Ali radhiyallahu anhu, terutama di dalam Surat Kedua Puluh, dan secara ringkas di dalam Nukta Keempat dari Lem'a Ketiga Puluh; serta telah ditunjukkan dengan burhan-burhan yang sangat kuat bahwa:
Apabila seluruh benda diserahkan kepada satu Zat saja, maka menciptakan dan mengatur kainat ini semudah sebatang pohon; menciptakan dan membangun sebatang pohon seringan sebutir buah; memunculkan dan mengelola satu musim semi segampang setangkai bunga; dan memelihara serta mengatur satu jenis yang memiliki individu tak terhingga tidak lebih sulit daripada satu individu saja. Namun apabila di jalan syirik semuanya diserahkan kepada sebab-sebab dan alam, maka menciptakan satu individu akan sesulit satu jenis, bahkan sesulit banyak jenis; memunculkan setangkai bunga yang hidup beserta segala perlengkapannya akan sesulit satu musim semi, bahkan sesulit beberapa musim semi; dan membangun serta menghidupkan sebutir buah akan sesulit sebatang
pohon, bahkan seratus pohon; dan menciptakan, membangun, menghidupkan, mengelola, memelihara, serta mengatur sebatang pohon akan sesulit seluruh kainat, bahkan lebih sulit lagi.
Karena hakikat keadaan ini telah dibuktikan demikian di dalam Sirajunnur, dan karena dengan mata kepala kita menyaksikan di depan mata bahwa segala sesuatu, di samping teramat indah seninya dan teramat tinggi nilainya, juga sangat melimpah ruah; dan setiap makhluk hidup, meskipun merupakan mesin menakjubkan yang luar biasa, penuh mukjizat, dan memiliki banyak perangkat, tetap saja hadir ke alam wujud di dalam kemurahan yang mutlak dengan kecepatan yang mengagumkan bagaikan menyalakan korek api, yaitu dengan sangat mudah, ringan, dan tanpa susah payah; maka sudah pasti hal itu menunjukkan secara pasti dan sangat nyata bahwa keadaan yang melimpah dan mudah itu lahir dari keesaan dan dari kenyataan bahwa semuanya adalah pekerjaan satu Zat saja. Jika tidak demikian, jangankan murah, banyak, cepat, mudah, dan berharga; bahkan sebutir buah yang kini dibeli dengan lima sen tidak akan dapat dibeli dengan lima ratus lira, bahkan ia akan begitu langka sehingga tidak dapat ditemukan. Dan segala yang hidup, yang kini wujud dan penciptaannya begitu mudah dan ringan bagaikan mesin-mesin teratur yang bekerja hanya dengan memutar jam dan menekan tombol listrik, akan menjadi begitu sukar dan sulit sampai ke derajat mustahil; dan sebagian hewan yang kini hadir ke alam wujud dalam satu hari, satu jam, bahkan satu menit lengkap dengan seluruh perangkat dan syarat kehidupannya, baru akan hadir dalam satu tahun, mungkin dalam satu abad, bahkan mungkin tidak akan pernah hadir sama sekali.
Di seratus tempat di dalam Sirajunnur telah dibuktikan dengan kepastian yang mampu membungkam pengingkar yang paling keras kepala sekalipun bahwa: apabila seluruh benda diserahkan kepada satu Zat Yang Wâhid lagi Ahad, semuanya menjadi mudah, cepat, dan murah bagaikan satu benda saja. Namun apabila sebab-sebab dan alam pun diberi bagian, maka menciptakan satu benda saja akan menjadi sulit, lambat, tidak berharga, dan mahal sebagaimana menciptakan seluruh benda. Jika engkau ingin melihat burhan-burhan hakikat ini, lihatlah Surat Kedua Puluh dan Surat Ketiga Puluh Tiga, Kelimat Kedua Puluh Dua dan Kelimat Ketiga Puluh Dua, Lem'a Kedua Puluh Tiga yang membahas alam dan Lem'a Ketiga Puluh yang membahas Ismul A'zham, terutama Nukta Keempat dan Nukta Keenam dari Lem'a Ketiga Puluh yang membahas asma Al-Fard dan asma Al-Qayyûm; niscaya engkau akan melihat bahwa hakikat ini telah dibuktikan dengan kepastian dua kali dua sama dengan empat. Di sini akan diisyaratkan satu saja dari ratusan burhan itu. Yaitu demikian:
Penciptaan segala sesuatu, entah terjadi dari yang sama sekali tidak ada, entah terkumpul dari unsur-unsur dan makhluk-makhluk lain dalam bentuk penyusunan. Jika ia diserahkan kepada satu Zat saja, maka sudah pasti Zat itu memiliki ilmu yang meliputi segala sesuatu dan kudrat yang menguasai segala sesuatu. Dan dalam keadaan demikian, memberikan wujud nyata di luar kepada segala sesuatu yang rupa dan wujudnya telah ada di dalam ilmu-Nya, serta mengeluarkannya dari keadaan yang lahirnya tampak tidak ada, adalah semudah menyalakan sebatang korek api, atau seperti
melewatkan dan menyapukan suatu bahan penampak di atas sebuah tulisan yang ditulis dengan tinta yang tidak terlihat mata, agar tulisan itu tampak oleh mata; atau seperti proses ringan yang memindahkan gambar dari cermin kamera foto ke atas kertas. Dengan cara yang teramat mudah seperti itulah Sang Pembuat mengeluarkan segala sesuatu — yang rencana, program, dan ukuran maknawinya telah ada di dalam ilmu-Nya — dari keadaan yang lahirnya tampak tidak ada menuju wujud nyata di luar, dengan perintah "Kun fayakûn".
Jika penciptaan itu berlangsung dalam bentuk perakitan dan penyusunan, yakni tidak diadakan dari yang sama sekali tidak ada, melainkan dibuat dengan cara mengumpulkan bahan dari unsur-unsur dan dari sekelilingnya, maka keadaannya tetap seperti ini: sebagaimana prajurit satu batalyon yang telah berpencar ke segala arah untuk beristirahat dapat berkumpul kembali hanya dengan satu bunyi terompet lalu masuk ke dalam barisan yang teratur, dan sebagaimana dalam memudahkan penggerakan itu serta menjaga barisan itu seluruh pasukan berkedudukan sebagai kekuatan, hukum, dan mata komandannya sendiri — persis demikian pula zarah-zarah yang berada di bawah komando Sang Sultan seluruh alam digiring dan berdatangan dengan kaidah-kaidah takdir dan ilmu-Nya serta dengan hukum-hukum kudrat-Nya yang menguasai segala sesuatu, sementara makhluk-makhluk lain yang bersentuhan dengan zarah-zarah itu pun menjadi pemudah jalan, laksana kekuatan, hukum, dan para petugas Sang Sultan tersebut. Untuk membentuk tubuh satu makhluk hidup, zarah-zarah itu masuk dan berdiam di dalam ukuran tertentu yang berkedudukan sebagai cetakan maknawi yang bersifat ilmi dan takdiri.
Jika segala sesuatu diserahkan kepada tangan-tangan yang berbeda-beda, kepada sebab-sebab, dan kepada hal semacam tabiat, maka menurut kesepakatan seluruh orang yang berakal, tidak ada satu sebab pun yang dari sisi mana pun dapat mencipta dari yang sama sekali tidak ada. Sebab, karena sebab itu tidak memiliki ilmu yang meliputi dan kudrat yang menguasai, maka yang tidak ada di situ bukanlah sekadar tidak ada secara lahir dan luaran, melainkan tidak ada secara mutlak. Padahal yang tidak ada secara mutlak sekali-kali tidak dapat menjadi sumber wujud. Kalau begitu, mau tidak mau sebab itu harus menyusun. Padahal, dalam bentuk perakitan dan penyusunan, untuk mengumpulkan jasad dan tubuh seekor lalat atau sekuntum bunga dari permukaan bumi, zarah-zarah khusus itu baru dapat berdatangan setelah disaring dengan ayakan yang halus dan setelah melewati ribuan kesulitan. Bahkan sesudah berdatangan pun, agar zarah-zarah itu tidak bercerai-berai di dalam tubuh tersebut dan tetap menjaga keteraturannya — karena cetakan maknawi dan ilmi tidak ada padanya — dibutuhkan sebuah cetakan yang bersifat kebendaan dan alami, bahkan dibutuhkan cetakan sebanyak jumlah anggota tubuhnya, supaya zarah-zarah yang datang itu dapat membentuk tubuh makhluk hidup tersebut.
Maka sebagaimana penyerahan segala sesuatu kepada satu Zat saja mendatangkan kemudahan sampai ke derajat wajib dan pasti, sedangkan penyerahannya kepada sebab-sebab yang banyak mendatangkan kesulitan sampai ke derajat mustahil dan tidak mungkin; demikian pula, jika segala sesuatu diserahkan kepada Zat Yang Wâhid lagi Ahad, ia akan menjadi teramat murah namun sekaligus sangat berharga, teramat indah seninya, sarat makna, dan sangat kuat. Sebaliknya, jika di jalan syirik ia diserahkan kepada sebab-sebab yang banyak dan kepada tabiat, ia akan menjadi teramat
mahal namun sangat tidak berarti, tanpa seni, tanpa makna, dan tanpa kekuatan. Sebab, sebagaimana seorang lelaki yang — dengan kedudukannya sebagai tentara — terikat dan bersandar kepada seorang panglima agung, sehingga ia memperoleh kekuatan maknawi berupa satu pasukan yang bila perlu dapat dikerahkan di belakangnya; memperoleh pula kekuatan lahiriah ribuan kali lipat lebih besar daripada kekuatan pribadinya, karena kekuatan panglima dan pasukan itu menjadi kekuatan cadangan baginya; dan memperoleh pula kesanggupan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan luar biasa, karena ia tidak wajib memikul sendiri sumber-sumber kekuatannya yang besar itu berikut persenjataannya, sebab pasukanlah yang memikulnya — maka satu prajurit itu dapat menawan seorang marsekal musuh, mengosongkan sebuah kota, dan menaklukkan sebuah benteng, sehingga hasil kerjanya pun menjadi menakjubkan dan berharga. Namun apabila ia meninggalkan ketentaraan dan tinggal seorang diri, seketika itu juga ia kehilangan kekuatan maknawi yang menakjubkan itu, daya yang luar biasa itu, dan kesanggupan yang bagaikan mukjizat itu; lalu — seperti laskar liar yang biasa saja — ia hanya dapat mengerjakan urusan-urusan kecil, tak berharga, dan tak berarti sesuai kekuatan pribadinya, dan hasil kerjanya pun mengecil sekadar itu.
Persis demikian pula, di jalan tauhid, karena segala sesuatu terikat dan bersandar kepada Sang Qadîr Dzul-Jalâl, maka seekor semut dapat mengalahkan seorang Firaun, seekor lalat dapat mengalahkan seorang Namrud, dan sebuah mikroba dapat mengalahkan seorang penguasa yang zalim; begitu pula sebutir biji sebesar kuku dapat memikul di atas pundaknya sebatang pohon sebesar gunung, sekaligus menjadi bengkel yang merupakan sumber dan gudang bagi seluruh alat dan perangkat pohon itu; dan setiap zarah pun, berkat ikatan dan sandaran tersebut, dapat menunaikan tugas-tugas yang tak terhingga, yaitu berkhidmah membentuk tubuh dan rupa yang tersusun dalam ratusan ribu seni dan gaya. Adapun karya-karya yang tampak pada para petugas mungil dan prajurit-prajurit kecil itu menjadi teramat sempurna, indah seninya, dan berharga. Sebab, Zat yang membuat karya-karya itu adalah Sang Qadîr Dzul-Jalâl; Dia menyerahkannya ke tangan mereka dan menjadikan mereka sebagai tabir. Sebaliknya, jika di jalan syirik segala sesuatu diserahkan kepada sebab-sebab, maka karya semut akan menjadi tak berarti seperti semut itu sendiri, seni zarah pun tidak akan bernilai lebih dari sebutir zarah; dan sebagaimana segala sesuatu jatuh secara maknawi, ia pun akan jatuh secara kebendaan sedemikian rupa sehingga tidak seorang pun sudi membeli dunia yang besar ini walau seharga lima sen.
Selama hakikatnya demikian, dan selama segala sesuatu tampak teramat berharga, teramat indah seninya, sarat makna, sekaligus sangat kuat — dan kita melihatnya dengan mata kepala kita sendiri — maka pastilah tidak ada jalan lain selain jalan tauhid, dan tidak mungkin ada. Sekiranya ada, tentu seluruh makhluk harus diganti, dunia harus dikosongkan hingga lenyap sama sekali, lalu diisi kembali dengan sampah yang tak berarti, supaya jalan bagi syirik dapat terbuka.
Demikianlah, engkau baru mendengar ringkasan satu burhan saja di antara ratusan burhan tentang tauhid yang diterangkan dan dijelaskan di dalam Risale-i Nur — yang dalam ungkapan Imam Ali radhiyallahu anhu disebut Sirajunnur dan Sirajus-Suruj — maka burhan-burhan yang lain dapat engkau kiaskan sendiri. SEBAB KETIGA YANG MENGHARUSKAN TAUHID: Penciptaan pada segala sesuatu, terlebih pada makhluk-makhluk hidup yang dicipta, di samping teramat indah seninya, juga demikian keadaannya: sebutir biji adalah contoh kecil, miniatur, daftar isi yang ringkas, peta yang padat, dan biji maknawi bagi sebuah buah; sebuah buah demikian pula bagi sebatang pohon; sebatang pohon demikian pula bagi satu jenis; dan satu jenis demikian pula bagi seluruh kainat. Masing-masingnya adalah satu titik yang menghimpun — yang disaring, diperah, dan dikumpulkan dari kainat dengan kaidah-kaidah ilmu dan timbangan-timbangan hikmah — sekaligus setetes sari pati. Karena itu, Zat yang mencipta salah satu darinya sudah pasti Zat yang sama yang mencipta seluruh kainat. Ya, Zat yang menciptakan sebutir biji melon, dengan sangat nyata adalah Zat yang menciptakan melon itu; selain Dia tidak mungkin, dan adanya selain Dia adalah mustahil dan tidak mungkin.
Ya, kita memandang dan melihat bahwa setiap zarah di dalam darah menunaikan tugas yang demikian banyak dan demikian teratur sehingga ia tidak tertinggal dari bintang-bintang. Dan setiap sel darah merah serta sel darah putih yang ada di dalam darah mengerjakan urusan menjaga dan memberi makan tubuh dengan begitu sadar, sehingga ia lebih sempurna daripada petugas perbekalan yang paling sempurna dan daripada prajurit penjaga. Dan setiap sel di dalam tubuh menjadi tempat berlangsungnya urusan, pemasukan, dan pengeluaran yang begitu teratur sehingga ia diurus lebih sempurna daripada tubuh yang paling sempurna dan daripada sebuah istana. Dan setiap satuan hewan dan tumbuhan membawa pada wajahnya sebuah stempel dan di dalam dadanya sebuah mesin yang sedemikian rupa, sehingga hanya Zat yang mencipta seluruh hewan dan tumbuhan sajalah yang dapat membuat stempel itu pada wajah tersebut dan mesin itu di dalam dada tersebut. Dan setiap jenis makhluk hidup terhampar demikian teratur di muka bumi dan berbaur demikian selaras dengan jenis-jenis lain, sehingga siapa yang tidak mencipta, mengurus, mengatur, dan mendidik seluruh jenis itu sekaligus — dan yang tidak sanggup menenun serta mencipta sehelai permadani hidup yang penuh ukiran dan seni, yang menutupi muka bumi dan ditenun dengan empat ratus ribu benang pakan berupa tumbuhan dan hewan — ia tidak akan sanggup mencipta dan mengurus satu jenis itu saja. Jika hal-hal lain dikiaskan kepada contoh-contoh ini, akan dipahami bahwa himpunan kainat ini adalah satu keutuhan yang tidak dapat terbagi-bagi dari segi mencipta dan mengadakan, sekaligus satu kesatuan menyeluruh yang mustahil terpecah dari segi mengatur dan rububiyah.
Sebab ketiga yang mengharuskan ini telah dijelaskan dan dibuktikan dengan begitu pasti dan gemilang di dalam banyak risalah Sirajunnur, terutama di dalam Mauqif Pertama dari Kelimat Ketiga Puluh Dua, sehingga — bagaikan pantulan-pantulan matahari — di dalam cermin segala sesuatu menjelma sebuah
burhan keesaan dan terpantul sebuah hujah tauhid. Karena telah mencukupkan diri dengan penjelasan di sana, kisah yang panjang itu kami potong pendek di sini.