MARTABAT CAHAYA KEENAM DARI AYAT HASBIYAH
Sinar-Sinar · hlm. 87
Di tengah peristiwa-peristiwa akhir zaman yang mengabarkan hancurnya dunia — saat perpisahan menyeluruh itu — pada suatu waktu ketika hari tua yang mengingatkan perpisahanku sendiri dan ujung umurku membuat rasa cinta kepada keindahan dalam fitrahku, kerinduan kepada yang indah, serta rasa terpesona kepada kesempurnaan berkembang dengan kepekaan yang luar biasa; pada waktu itulah aku melihat dengan kesadaran dan kepedihan yang luar biasa bahwa sirna dan fana yang terus-menerus lagi menghancurkan, serta maut dan lenyap sama sekali yang tiada henti lagi memisahkan, telah menghantam dunia yang indah ini dan makhluk-makhluk yang indah ini dengan cara yang dahsyat, mencabiknya berkeping-keping, dan merusak keindahan mereka.
Ketika cinta majasi di dalam fitrahku bergolak dan memberontak dengan keras terhadap keadaan itu, untuk mendapatkan sesuatu yang dapat menghibur hati aku pun kembali merujuk kepada Ayat Hasbiyah ini. Ia berkata: "Bacalah aku dan pandanglah maknaku dengan saksama!" Maka aku memasuki observatorium Ayat Nur yang ada di dalam Surah An-Nur, lalu dengan teropong iman aku memandang lapisan-lapisan Ayat Hasbiyah yang paling jauh, dan dengan mikroskop kesadaran iman aku memandang rahasia-rahasianya yang paling halus; lalu aku melihat:
Sebagaimana cermin-cermin, kaca-kaca, benda-benda bening, bahkan gelembung-gelembung, memperlihatkan keindahan cahaya matahari yang tersembunyi dan bermacam-macam, serta memperlihatkan keindahan yang beraneka ragam dari tujuh warna cahaya itu; dan dengan pembaruan serta gerak mereka, dengan kemampuan mereka yang berbeda-beda, dan dengan pembiasan mereka, mereka menyegarkan kembali keindahan dan kebagusan itu; dan dengan pembiasan itu pula mereka menampakkan keindahan tersembunyi matahari, cahayanya, serta tujuh warnanya.
Demikian pula, untuk menjadi cermin bagi keindahan suci Sang Jamîl Dzul-Jalâl — Matahari azali dan abadi — dan bagi keindahan kekal asma-Nya yang husna yang tiada terhingga indahnya, serta untuk menyegarkan kembali manifestasi-Nya, ciptaan-ciptaan yang indah ini, makhluk-makhluk yang manis ini, dan segala yang ada yang berwajah indah ini datang dan pergi tanpa pernah berhenti. Keindahan dan kebagusan yang tampak pada diri mereka bukanlah milik mereka sendiri, melainkan milik sebuah keindahan suci lagi kekal selamanya yang ingin menampakkan diri, dan milik sebuah kebagusan yang senantiasa bertajalli dan
ingin terlihat, yang mujarrad lagi mahasuci; bahwa keindahan-keindahan itu hanyalah isyarat, alamat, kilau, dan manifestasi dari keindahan tersebut telah dijelaskan secara terperinci dengan sekian banyak dalil yang kuat di dalam Risale-i Nur. Di sini akan diisyaratkan secara ringkas tiga di antara burhan-burhan itu: BURHAN PERTAMA: Sebagaimana keindahan sebuah karya yang telah dikerjakan menunjukkan keindahan cara mengerjakannya; keindahan cara mengerjakan menunjukkan keindahan gelar keahlian yang lahir dari seni itu; keindahan gelar keahlian pada diri sang ahli menunjukkan keindahan sifatnya yang berkaitan dengan seni itu; keindahan sifatnya menunjukkan keindahan kemampuan dan bakatnya; dan keindahan kemampuannya menunjukkan keindahan zat dan hakikatnya — semuanya menunjukkan dengan cara yang sangat pasti pada tingkat yang begitu nyata...
Demikian pula, kebagusan dan keindahan yang ada pada seluruh makhluk indah di kainat ini dari ujung ke ujung dan pada segenap ciptaan yang pembuatannya indah, bersaksi secara pasti atas kebagusan dan keindahan perbuatan-perbuatan Sang Seniman Dzul-Jalâl; kebagusan dan keindahan pada perbuatan-perbuatan-Nya menunjukkan tanpa ragu kepada kebagusan dan keindahan gelar-gelar yang menghadap kepada perbuatan-perbuatan itu, yakni nama-nama-Nya; kebagusan dan keindahan nama-nama itu bersaksi secara pasti atas kebagusan dan keindahan sifat-sifat suci yang menjadi sumber nama-nama itu; kebagusan dan keindahan sifat-sifat itu bersaksi secara pasti atas kebagusan dan keindahan syuunat zatiyah yang menjadi pangkal sifat-sifat itu; dan kebagusan serta keindahan syuunat zatiyah itu bersaksi secara pasti pada tingkat yang sejelas-jelasnya atas kebagusan dan keindahan Zat-Nya Yang menjadi Pelaku, Pemilik nama, dan Penyandang sifat, atas kesempurnaan suci dari jati diri-Nya, serta atas keindahan mahasuci dari hakikat-Nya.
Jadi, Sang Pembuat Dzul-Jamâl memiliki kebagusan dan keindahan yang tiada terhingga, yang layak bagi Zat-Nya Yang Mahasuci, sehingga satu bayangannya saja telah memperindah segenap yang ada dari ujung ke ujung; dan Dia memiliki keindahan yang tersucikan dari segala kekurangan lagi mahasuci, sehingga satu manifestasinya saja telah memperindah seantero kainat serta menghiasi dan menerangi seluruh lingkaran segala yang mungkin ada dengan kilau-kilau kebagusan dan keindahan.
Ya, sebagaimana sebuah karya yang telah dikerjakan tidak mungkin ada tanpa perbuatan, demikian pula perbuatan tidak mungkin ada tanpa pelaku. Dan sebagaimana mustahil nama-nama ada tanpa pemilik nama, demikian pula sifat-sifat tidak mungkin ada tanpa penyandang sifat. Karena wujud sebuah seni dan sebuah karya dengan sejelas-jelasnya menunjukkan kepada perbuatan yang mengerjakan karya itu, dan wujud perbuatan itu menunjukkan kepada wujud pelakunya, wujud gelarnya, serta wujud sifat dan nama yang melahirkan karya itu, maka sudah pasti kesempurnaan dan keindahan sebuah karya pun menunjukkan—dengan ilmul yakin dan dengan sejelas-jelasnya—kepada kesempurnaan dan keindahan khas milik perbuatan itu; kesempurnaan dan keindahan perbuatan itu menunjukkan kepada kebagusan nama yang sesuai lagi selaras dengannya; dan kebagusan nama itu menunjukkan kepada kesempurnaan dan keindahan zat serta hakikat—tetapi kesempurnaan dan keindahan yang layak lagi selaras dengan zat dan hakikat itu.
Demikian pula, sebagaimana mustahil aktivitas yang terus-menerus di balik tabir karya-karya ini ada tanpa pelaku, dan sebagaimana nama-nama yang manifestasi serta ukiran-ukirannya terlihat oleh mata di atas ciptaan-ciptaan ini sama sekali tidak mungkin ada tanpa pemilik nama, dan sebagaimana mustahil sifat-sifat seperti kudrat dan kehendak—yang dirasakan sampai ke tingkat disaksikan langsung—ada tanpa penyandang sifat; maka seluruh karya, makhluk, dan ciptaan di kainat ini, dengan wujud mereka yang tiada terhingga banyaknya, menunjukkan secara pasti kepada wujud perbuatan Khâliq, Sang Pembuat, dan Pelaku mereka, kepada wujud asma-Nya, kepada wujud sifat-sifat-Nya, kepada wujud syuunat zatiyah-Nya, dan kepada wujud yang wajib ada bagi Zat-Nya Yang Mahasuci; demikian pula berbagai kesempurnaan, aneka keindahan, dan bermacam-macam kebagusan yang terlihat pada segenap ciptaan itu bersaksi dengan sangat jelas dan menunjukkan dengan sangat pasti kepada kesempurnaan yang tiada terhingga, keindahan yang tiada berujung, serta kebagusan yang berbeda-beda dan berada di atas seluruh kainat—yaitu kesempurnaan, keindahan, dan kebagusan milik perbuatan-perbuatan, nama-nama, sifat-sifat, syuun, dan Zat yang ada pada Sang Pembuat Dzul-Jalâl, secara khas, sesuai, dan layak bagi masing-masingnya, serta selaras dengan sifat wajib ada dan kesucian-Nya. BURHAN KEDUA memiliki lima poin: Poin Pertama: Para pemuka ahli hakikat yang berbeda dan berjauhan satu sama lain dalam kecenderungan batin dan jalan yang mereka tempuh, dengan bersandar kepada zauk dan kasyaf, beriman dan memutuskan secara ijmak lagi sepakat bahwa seluruh kebagusan dan keindahan pada segenap yang ada adalah bayangan, kilau-kilau, dan manifestasi di balik tabir dari kebagusan serta keindahan mahasuci yang berada pada Zat Yang Wâjibul Wujûd. Poin Kedua: Seluruh makhluk yang indah datang dan pergi berkafilah-kafilah tanpa pernah berhenti, menjadi fana lalu lenyap. Akan tetapi, keindahan yang tinggi dan tidak pernah berubah, yang menampakkan diri dan bermanifestasi di atas cermin-cermin itu, karena terus-menerus dalam tajallinya, menunjukkan secara pasti bahwa keindahan-keindahan itu bukanlah milik para pemilik keindahan tersebut dan bukan pula keindahan cermin-cermin itu. Melainkan, sebagaimana keindahan pancaran matahari tampak pada gelembung-gelembung di atas air yang mengalir, keindahan-keindahan itu adalah cahaya-cahaya dari sebuah keindahan yang kekal abadi. Poin Ketiga: Sebagaimana sudah terang dengan sendirinya bahwa datangnya cahaya pastilah dari yang bercahaya, pemberian wujud pastilah dari yang berwujud, pemberian karunia dari yang berkecukupan, kedermawanan dari kekayaan harta, dan pengajaran dari ilmu; demikian pula memberikan kebagusan hanya mungkin dari yang bagus, memperindah hanya dari yang indah, dan memberikan keindahan hanya dari Yang Mahaindah—tidak mungkin dari selainnya.
Maka, berdasarkan hakikat ini kami beriman bahwa seluruh keindahan yang terlihat di kainat ini datang dari Zat Yang Mahaindah, sedemikian rupa sehingga kainat yang terus-menerus berubah dan diperbarui ini, dengan segenap yang ada padanya, melalui lisan-lisan mereka yang menjadi cermin, menyifati dan memperkenalkan keindahan Zat Yang Mahaindah itu.