PERSOALAN KEDUA
Sinar-Sinar · hlm. 85
Aku memandang hak-hak kehidupan yang sejati, lalu aku melihat: hidupku adalah sepucuk surat rabbani; ia adalah tempat telaah yang membuat dirinya dibaca oleh makhluk-makhluk berkesadaran yang menjadi saudara-saudaraku, dan yang memperkenalkan Penciptanya.
Ia juga merupakan sebuah maklumat yang memamerkan kesempurnaan-kesempurnaan Khâliq-ku.
Ia juga berarti berhias dengan sadar dengan hadiah-hadiah dan tanda-tanda kehormatan yang berharga, yang dianugerahkan bersama kehidupan oleh Zat yang menciptakan kehidupan, lalu mempersembahkan diri ke hadapan pandangan Sang Raja Yang Tiada Bandingan dalam upacara pembukaan yang berulang setiap hari, dengan penuh iman, penuh kesadaran, penuh syukur, dan penuh terima kasih.
Ia juga berarti memahami, menyaksikan, dan mengumumkan dengan kesaksian tahiat yang penuh pujian serta hadiah-hadiah tasbih yang penuh syukur, yang dipersembahkan oleh makhluk hidup yang tak terhingga kepada Khâliq mereka.
Ia juga berarti menampakkan keindahan-keindahan rububiyah Zat Yang Hayy lagi Qayyûm dengan lisan keadaan, lisan ucapan, dan lisan ubudiyah.
Maka hak-hak kehidupan yang tinggi seperti ini tidak menuntut waktu yang panjang; ia justru mengangkat kehidupan seribu derajat dan seratus derajat lebih berharga daripada hak-hak hidup yang bersifat duniawi. Demikianlah aku mengetahuinya dengan ilmul yakin, lalu aku berkata: Subhanallah! Betapa berharga dan betapa hidup iman itu; ke dalam apa pun ia masuk, ia menghidupkannya; dan satu kilau cahayanya menghidupkan kehidupan yang fana ini dengan kehidupan yang kekal, serta menghapus sifat fana yang ada di atasnya. PERSOALAN KETIGA: Aku memandang tugas-tugas fitri hidupku yang tertuju kepada Khâliq-ku dan manfaat-manfaat maknawinya, lalu aku melihat: hidupku menjadi cermin bagi Khâliq kehidupan dari tiga segi:
Segi Pertama: Hidupku, dengan kelemahan dan ketidakberdayaannya serta dengan kefakiran dan kebutuhannya, menjadi cermin bagi kudrat dan kekuatan Sang Khâliq kehidupan, serta bagi kekayaan dan rahmat-Nya.
Ya, sebagaimana derajat kelezatan makanan diketahui melalui derajat rasa lapar, tingkatan cahaya diketahui melalui tingkatan gelap, dan derajat timbangan panas diketahui melalui ukuran dingin; demikian pula, bersama kelemahan dan kefakiran yang tak terhingga di dalam hidupku, dari segi terhapusnya kebutuhanku yang tak terhingga dan tertolaknya musuh-musuhku yang tak terhingga, aku mengetahui kudrat dan rahmat Khâliq-ku yang tak terhingga; aku pun memahami dan menerima tugas bertanya, berdoa, berlindung, merendahkan diri, dan beribadah kepada-Nya.
Segi Kedua: Dengan makna-makna yang ada di dalam hidupku, seperti ilmu, kehendak, pendengaran, dan penglihatan yang bersifat juz'i, hidupku menjadi cermin bagi sifat-sifat Khâliq-ku yang menyeluruh lagi meliputi, dan bagi syuunat-Nya.
Ya, melalui banyak makna di dalam hidupku sendiri dan di dalam perbuatan-perbuatanku yang disertai kesadaran — seperti mengetahui, mendengar, melihat, berbicara, dan menghendaki — aku mengetahui dan memahami ilmu Khâliq-ku yang meliputi segala sesuatu, kehendak-Nya, sifat-sifat-Nya seperti pendengaran, penglihatan, kudrat, dan hayat, serta syuunat-Nya seperti cinta, murka, dan kasih sayang — dalam ukuran yang lebih besar sebesar perbandingan kainat ini terhadap diriku; aku membenarkannya dengan iman, dan dengan pengakuan itu aku menemukan satu lagi jalan makrifat.
Segi Ketiga: Hidupku menjadi cermin bagi asma Ilahi yang ukiran dan manifestasi-Nya terdapat di dalam hidupku.
Ya, setiap kali aku memandang hidup dan tubuhku sendiri, aku melihat ratusan macam karya, ukiran, dan seni yang menakjubkan; bersamaan dengan itu aku menyaksikan bahwa aku dipelihara dengan penuh kasih sayang. Maka dengan cahaya iman aku mengetahui bahwa Zat yang menciptakan dan menghidupkan aku itu sungguh luar biasa pemurah, penyayang, ahli seni, dan pelimpah karunia; betapa menakjubkan kekuasaan-Nya — semoga tidak keliru dalam ungkapan — betapa mahir, betapa terjaga, dan betapa cekatan Dia. Aku pun mengetahui apa sebenarnya tugas-tugas fitrah seperti tasbih, takdis, hamd, syukur, takbir, takzim, tauhid, dan tahlil; apa tujuan penciptaan; dan apa hasil kehidupan. Dan dengan ilmul yakin aku memahami sebab mengapa makhluk yang paling berharga di dalam kainat adalah kehidupan, rahasia mengapa segala sesuatu ditundukkan kepada kehidupan, hikmah mengapa pada setiap orang terdapat kerinduan fitri kepada kehidupan, serta bahwa hidupnya kehidupan adalah iman. PERSOALAN KEEMPAT: Apakah kelezatan dan kebahagiaan yang sejati dari hidupku di dunia ini? Untuk itu aku kembali memandang ayat حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَك۪يلُ ini, lalu aku melihat:
Kelezatan yang paling murni dan kebahagiaan yang paling bersih dari hidupku ini ada di dalam iman. Yakni: imanku yang pasti — bahwa aku adalah makhluk, ciptaan, milik, dan yang dididik oleh Rabb Yang Rahîm yang menciptakan dan menghidupkan aku; bahwa aku berada di bawah pandangan-Nya dan setiap saat membutuhkan-Nya; dan bahwa Dia adalah Rabb-ku sekaligus Ilah-ku, serta sangat penyayang dan pengasih kepadaku — adalah kelezatan dan kebahagiaan yang begitu memadai, begitu mencukupi, tanpa derita, dan terus-menerus, sehingga tidak dapat digambarkan. Dan dari ayat itu aku memahami betapa tepatnya ucapan اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلٰى نِعْمَةِ الْا۪يمَانِ.
Maka keempat persoalan yang berkaitan dengan hakikat kehidupan, hak-haknya, tugas-tugasnya, dan kelezatan maknawinya ini memperlihatkan bahwa:
Selama kehidupan memandang kepada Zat Yang Kekal, Yang Hayy lagi Qayyûm, dan selama iman menjadi hidup dan ruh bagi kehidupan, maka kehidupan itu menjadi kekal dan membuahkan buah-buah yang kekal. Ia pun meninggi sedemikian rupa sehingga menerima manifestasi keadaan yang kekal selamanya, dan tidak lagi memandang panjang atau pendeknya umur. Demikianlah pelajaran yang kuambil dari ayat ini; lalu dengan niat, bayangan, dan khayal, atas nama seluruh kehidupan dan seluruh makhluk hidup, aku pun mengucapkan حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَك۪يلُ.