Risale-i NurSinar-Sinar

MARTABAT CAHAYA KELIMA DARI AYAT HASBIYAH

Sinar-Sinar · hlm. 84

Pada suatu waktu pula hidupku terguncang oleh keadaan yang sangat berat. Hal itu memalingkan perhatianku kepada umur dan kehidupan, lalu aku melihat: umurku berlalu dengan berlari, dan hidupku yang telah mendekati ujungnya pun mulai padam di bawah tekanan. Padahal tugas-tugas kehidupan yang penting, keistimewaannya yang besar, dan manfaat-manfaatnya yang berharga — sebagaimana dijelaskan di dalam risalah tentang nama "Al-Hayy" — layak untuk hidup yang sangat panjang, bukan untuk padam secepat itu; demikianlah aku berpikir dengan hati yang pedih. Aku pun kembali merujuk kepada ayat حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَك۪يلُ yang menjadi guruku. Ia berkata: "Pandanglah kehidupan menurut Zat Yang Hayy lagi Qayyûm, yang telah memberikan kehidupan kepadamu!"

Aku pun memandang, lalu aku melihat: jika sisi hidupku yang menghadap kepada diriku bernilai satu, maka sisinya yang menghadap kepada Zat Yang Hayy lagi Al-Muhyî bernilai seratus. Jika hasilnya yang kembali kepadaku bernilai satu, maka hasilnya yang kembali kepada Khâliq-ku bernilai seribu. Segi yang demikian tidak menuntut waktu yang panjang, bahkan mungkin tidak menuntut waktu sama sekali; hidup sesaat saja sudah memadai. Karena hakikat ini telah dijelaskan dengan burhan-burhan di dalam risalah-risalah Risale-i Nur, maka di sini akan dipaparkan ringkasannya secara singkat dalam empat persoalan. PERSOALAN PERTAMA: Aku memandang jati diri dan hakikat kehidupan dari segi pandangannya kepada Zat Yang Hayy lagi Qayyûm, lalu aku melihat dan memahami bahwa jati diri hidupku adalah gudang kunci-kunci yang membuka khazanah asma Ilahi, peta kecil bagi ukiran-ukiran-Nya, daftar isi bagi manifestasi-Nya, ukuran dan timbangan yang halus bagi hakikat-hakikat besar kainat, serta sebuah kalimat hikmah yang tertulis, yang mengetahui dan memberitahukan, memahami dan memahamkan nama-nama Zat Yang Hayy lagi Qayyûm yang penuh makna lagi berharga. Dan hakikat kehidupan yang demikian ini memperoleh nilai seribu derajat, sehingga berlangsung satu jam saja sudah memiliki bobot sepanjang satu umur. Dari segi hubungannya dengan Zat Yang Azali, yang tidak terikat waktu, panjang dan pendeknya tidak lagi dilihat.