Risale-i NurSinar-Sinar

TINGKATAN KEEMPAT CAHAYA HASBIYAH

Sinar-Sinar · hlm. 81

Pada suatu waktu, tatkala berbagai gangguan yang mengguncang wujudku — seperti usia tua, perantauan, penyakit, dan kekalahan — bertepatan dengan saat aku dalam keadaan lalai, lalu semua itu menimbulkan kecemasan yang pedih dengan bisikan bahwa wujudku yang sangat kucintai dan kurindukan, bahkan wujud seluruh makhluk, akan lenyap sama sekali, aku kembali merujuk kepada Ayat Hasbiyah. Ia berkata: "Perhatikanlah maknaku dan pandanglah dengan teropong iman!"

Aku pun memandang, dan dengan mata iman aku melihat bahwa wujudku yang sekecil zarah ini adalah cermin bagi wujud yang tidak terhingga, sarana untuk meraih wujud-wujud yang tak terhingga melalui pengembangan yang tanpa batas, dan berkedudukan sebagai sebuah kalimat hikmah yang membuahkan banyak wujud kekal yang lebih berharga daripada dirinya sendiri; dan dengan ilmul yakin aku mengetahui bahwa, dari sisi pertaliannya kepada Allah, hidupnya sesaat saja sama berharganya dengan wujud yang abadi.

Sebab, dengan kesadaran iman aku memahami bahwa wujudku ini adalah karya, seni, dan manifestasi Wâjibul Wujûd; sehingga aku terlepas dari gelap yang tak terhingga akibat waham-waham yang liar dan dari pedihnya perpisahan serta keterpisahan yang tak berujung; lalu aku mengetahui bahwa di dalam perbuatan-perbuatan yang berkaitan dengan segala yang ada, terutama dengan makhluk hidup, terdapat pertemuan (wishâl) yang kekal di dalam perpisahan yang sementara dengan semua yang ada yang kucintai, yang dengannya aku menjalin hubungan melalui ikatan persaudaraan sebanyak jumlah asma Ilahi.

Sudah dimaklumi bahwa orang-orang yang ikatannya satu — seperti sama desanya, sama kotanya, dan sama negerinya, atau sama batalyonnya, sama komandannya, dan sama gurunya — merasakan persaudaraan yang manis dan pertemanan yang akrab. Sebaliknya, orang-orang yang tidak memiliki ikatan semacam itu tersiksa di dalam gelap yang pedih dan terus-menerus. Demikian pula, seandainya buah-buah sebatang pohon memiliki kesadaran, mereka akan merasa bahwa satu sama lain adalah saudara, pengganti, teman duduk, dan pengawas bagi yang lain. Namun, jika pohon itu tidak ada atau jika mereka dipetik darinya, masing-masing akan merasakan perpisahan sebanyak jumlah buah-buah itu.

Maka dengan iman dan dengan pertalian yang ada di dalam iman, wujudku ini pun — seperti wujud setiap mukmin — meraih cahaya-cahaya wujud yang tak terhingga tanpa perpisahan; sehingga meskipun ia sendiri pergi, karena mereka tetap tinggal di belakang, ia merasa senang seolah-olah dirinya sendiri tetap tinggal.

Di samping itu — sebagaimana telah dibuktikan secara pasti dan terperinci di dalam Surat Kedua Puluh Empat — wujud setiap makhluk hidup, terutama makhluk bernyawa, adalah bagaikan sebuah kata. Ia diucapkan dan dituliskan, lalu lenyap. Akan tetapi, sebagai ganti wujudnya sendiri, ia meninggalkan banyak wujud lain yang terhitung sebagai wujud tingkat kedua: maknanya, jati diri mitsalinya dan bentuknya, hasil-hasilnya, pahalanya jika ia diberkahi, serta hakikatnya; lalu ia masuk ke balik tabir, sebagaimana...

Demikian pula halnya wujudku ini dan wujud setiap makhluk hidup: apabila ia pergi dari wujud lahiriah, maka — jika ia makhluk bernyawa — ia meninggalkan di tempatnya sendiri ruhnya, maknanya, hakikatnya, mitsalnya, hasil-hasil duniawi dan buah-buah ukhrawi dari jati diri pribadinya, serta identitas dan rupanya, di dalam daya-daya ingat, di dalam papan-papan yang terpelihara, di dalam pita-pita film pemandangan yang kekal selamanya, dan di dalam galeri pameran ilmu azali; dan tasbih fitri yang mewakili dirinya serta membuatnya kekal, di dalam buku catatan amalnya; dan sambutan fitrinya terhadap manifestasi asma Ilahi serta terhadap segala yang dituntut oleh asma itu, dan kedudukannya sebagai cermin dalam hal wujud, di dalam lingkaran asma; dan wujud-wujud maknawi lain yang banyak seperti itu, yang lebih berharga daripada wujud lahiriahnya — semuanya ia tinggalkan di tempatnya, kemudian barulah ia pergi. Demikianlah aku mengetahuinya secara ilmul yakin.

Maka dengan iman, dengan kesadaran yang ada di dalam iman, dan dengan pertalian diri kepada Allah, wujud-wujud maknawi yang kekal dan telah disebutkan itu dapat dimiliki. Jika iman tidak ada, selain terhalang dari seluruh wujud tersebut, wujud lahiriahnya pun sia-sia baginya, seolah-olah pergi menjadi tidak ada dan hampa sama sekali.

Pada suatu waktu aku sangat menyayangkan cepatnya bunga-bunga musim semi binasa, bahkan aku mengasihani makhluk-makhluk yang lembut itu. Hakikat imani yang dijelaskan di sini memperlihatkan bahwa bunga-bunga itu di alam makna adalah benih-benih. Selain ruh yang telah kami sebutkan sebelumnya, seluruh wujud mereka itu berkedudukan laksana pohon dan bulir yang membuahkan hasil; dari segi cahaya wujud, keuntungan mereka berlipat seratus kali. Wujud lahiriah mereka tidak binasa, melainkan tersimpan. Ia pun merupakan rupa-rupa yang diperbarui dari hakikat jenisnya yang kekal. Segala yang ada pada musim semi yang lalu — daun, bunga, dan buah — adalah serupa dengan yang ada pada musim semi ini. Bedanya hanya menurut anggapan. Dan perbedaan menurut anggapan itu pun agar kalimat-kalimat hikmah, kata-kata rahmat, dan huruf-huruf kudrat ini memberikan makna yang bermacam-macam dan berbeda-beda; demikianlah aku mengetahuinya. Sebagai ganti rasa sayang itu, aku pun mengucapkan "Masya Allah, barakallah".

Maka dengan kesadaran iman dan dengan tali iman, dari segi pertalian diri kepada Sang Seniman bumi dan langit, menjadi karya seni dari seorang Seniman yang menjadikan langit dengan bintang-bintang dan bumi dengan bunga-bunga serta makhluk-makhluk yang indah, yang menghiasi keduanya, dan yang memperlihatkan ratusan mukjizat pada setiap seni yang demikian; dan menjadi buatan tangan seorang Perajin Agung yang memiliki tak terhingga

keajaiban — betapa antik dan berharganya hal itu, dan jika ia memiliki kesadaran, betapa besar ia akan berbangga dan memperoleh kemuliaan; demikianlah aku merasakannya dari kejauhan. Terlebih lagi, apabila Sang Perajin yang mukjizat-Nya tiada berhingga itu menuliskan kitab besar langit dan bumi yang begitu luas ke dalam sebuah naskah kecil seperti manusia, bahkan menjadikan manusia sebagai ringkasan pilihan lagi sempurna dari kitab itu, maka betapa besar kemuliaan, kesempurnaan, dan nilai yang akan diperoleh manusia itu; dengan iman ia menjadi tempat tampaknya semua itu, dan dengan kesadaran serta pertalian diri kepada Allah ia memiliki kemuliaan tersebut. Karena pelajaran itulah yang kuambil dari ayat ini, maka dari segi niat dan bayangan, dengan lidah seluruh yang ada aku pun mengucapkan حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَك۪يلُ.